Kamis, 17 Oktober 2019

Beda Pintar dan Cerdas


Ada teman Sarjana Fisika dari PTN. Dia lulus dengan predikat terbaik. Karena itu dia dapat beasiswa melanjutkan S2 bidang Financial and banking di AS pada Universitas terkenal. Dia pun lulus denngan predikat terbaik. Setelah menamatkan pendidikan S2 nya dia berhasi mendapatkan pekerjaan sebagai analis di perusahaan investasi di Singapore. Dalam usia muda dia sudah bergaji puluhan juta rupiah. Selama 25 tahun karirnya di industri jasa keuangan terus berkembang. Pindah kerja beberapa kali dengan peningkatan gaji berlipat. Singkatnya di usia 50 tahun hidupnya sudah mapan sebagai analis.
Suatu saat kami makan siang di sebuah hotel bintang lima di Orchard Singapore. Bersama saya ada sahabat saya yang sedang menjajaki pembiayaan untuk perluasan bisnis Industri perikanannya. Sahabat saya ini wanita berusia 42 tahun. Dalam makan siang itu terjadi pembicaraan santai. Teman saya analis ini ingin lebih tahu tentang sahabat saya. Sahabat saya bercerita bahwa dia mengelola 5 unit bisnis yang terdiri dari Industri perikanan, industri tableware, industri alas kaki, industri pertanian vegetab, Industri jasa perhotelan.
“ Anda lulusan universitas mana ?Tanya teman saya sebagai analis.
“ Saya hanya tamatan SMU dan tidak pernah masuk perguruan Tinggi. “
“ Lantas bagaimana anda bisa menguasai begitu banyak pengetahuan dari industri yang berbeda. “
“ Ya sederhana saja. Ketika ada peluang, saya belajar tentang peluang itu. Bagaimana memproduksinya, mengelolanya, memasarkannya dan mendapatkan modal “
“ Darimana anda belajar ?
“ Ya dari berbagai sumber. Yang paling murah dan mudah ya baca buku. Yang lebih nyaman lagi berdiskusi dan bergaul dengan orang orang sepintar anda. Dari merekalah saya mendapatkan pengetahuan dan menjadikan peluang menghasilkan ide dan uang.”
“ Apa kuncinya kamu bisa berkembang dengan pendidikan tidak tinggi?
“ Passion. “ Jawab sahabat saya singkat.
“ Bisa jelaskan”
“ Gampang. Jalani hidup seperti permainan. Kita masih ingat bagaimana kita memperlakukan permainan pada masa bocah. Kita melakukan semuanya dengan senang, tanpa beban. Tiap detik harus fun abis! karena dalam kondisi fun, otak menghasilkan neurontransmitter yang disebut endorfin. Mirip morfin yang bisa menghilangkan rasa sakit dan menawarkan perasaan nyaman dan tenang. Dalam keadaan seperti itu maka ide-ide keren akan berebut bermunculan, dan rasa takut terhalau. Peluang pun menghasilkan uang”
“ Ya benar kamu. Dengan cara hidup seperti itu, kamu tidak dibebani keharusan jadi sarjana agar sukses. Tidak dibebani simbol intelektual agar dibilang orang pintar dan sukses. Tidak dibebani simbol spiritual agar dibilang orang suci. Setiap hari hidup jadi bebas, merdeka. Orang bebas lah yang bisa menciptakan sorga di dunia dan melakukan perubahan.” Kata teman saya analis. Dia menatap saya dengan wajah tanya.

” ini kali pertama saya menyadari bahwa orang cerdas jauh lebih baik daripada orang pintar. Sahabat kamu tidak mengetahui banyak tetapi dia bisa meng-aplikasikan pengetahuan itu di banyak bidang. Pengetahuan banyak kadang menjerat pribadi kita sehingga sulit berkembang. Kadang mematikan langkah kita. Karena begitu banyak pertimbangan dan akhirnya tidak pernah melangkah satu incipun. Merasa sudah berbuat banyak hal padahal hanya jalan di tempat.” Katanya. Saya jadi ingat Anies. Pintar tetapi tidak berbuat apa apa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Fenomena Buzzer.

  Waktu revolusi kebudayaan di China, semua simbol pemikiran dokrin terhadap feodalisme dihancurkan oleh rakyat jelata. Tempat ibadah yang m...