Jumat, 23 Desember 2022

Politik identitas.

 




Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan supaya tidak ada lagi politik identitas dan agama dalam kontestasi politik 2024. Sebelum kita bersikap atas masalah yang ada. Maka kita harus pahami dulu apa itu Politik identitas. Definisi ini harus dipahami bersama agar diskusi bisa berkembang. Identitas itu bukan hanya soal agama, bisa saja suku, bangsa, idiologi dan lain lain. Kesukuan yang berlebihan. Hanya orang jawa yang pantas jadi presiden, itu udah Politik identitas. Pemikiran eklusif. Anda memuja pasar bebas, itu sudah termasuk Politik identitas. Anda memuja hidup bebas dan individidualisme, itu juga udah Politik indentitas.


Setelah jatuhnya Unisoviet tahun 1991 maka saat itu adalah kemenangan demokrasi liberal. Tahun 1992, Francis Fukuyama menulis dalam bukunya, The End of History and the Last Man. Sejak itu banyak buku yang memuat pemikiran demokrasi liberal. Kalau The End of History merayakan kemenangan demokrasi liberal atas alternatif, buku baru Fukuyama Identity: The Demand for Dignity and the Politics of Resentment, berfokus pada ancaman terhadap sistem saat ini.


Kebebasan dan kesetaraan adalah jargon utama demokrasi liberal.  Sementara politik Identitas adalah masalah serius menghambat demokrasi liberal. Politik Identitas itu bukan hanya soal agama tetapi juga nasionalisme. Ingat lirik lagu Jhon lenon “ imagine” Yang jadi persoalan di tengah gebyar demokrasi saat ini, produk hukum yang dilahirkan oleh lembaga negara justru melahirkan kebudayaan baru berupa racun bagi pembangunan peradaban. Apa itu ? Individualisme.  Makanya tidak aneh bila politik lama bangkit lagi. Identitas kolektif, yang seringkali eksklusif secara agresif, kini mengancam demokrasi. Hal itu wajar saja. Dalam dialektika Hegel jika Anda mau, tetapi dua kekuatan, individualisme sekuler dan komunitarianisme yang kuat, tampaknya tidak dapat dipisahkan. Karena keduanya adalah paradox pemikiran. Nah kalau satu sama lain dipertentangkan, negeri ini akan hancur pecah. 


Para pendiri negara Indonesia dari awal sudah membaca tanda tanda akan ada resiko bagi NKRI kalau menggunakan  politik identitas, baik kebangsaan maupun agama. Makanya bapak pendiri bangsa, membuang jauh jauh konsep politik kebangsaan dan agama. Kalau masalah idiologi dijadikan perdebatan diatara mereka, maka sampai kini Indonesia tidak akan merdeka. Makanya lahirlah Pancasila. Pancasila bukan idiologi tetapi landasan berpikir saja (Falsafah).Mengapa ? kemerdekaan itu sejatinya adalah kemerdekaan berpikir.  Nah selagi landasan berpikir berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan, musyawarah dan keadilan sosial, ya silahkan berbeda  aliran. Tidak ada masalah soal perbedaan, NKRI akan tetap kokoh. Karena esensi dari Pancasila itu sebenarnya adalah politik persatuan atas dasar perbedaan.  


Jadi apa masalahnya ?


Andaikan demokrasi  melahirkan keadilan ekonomi, tidak ada polusi individualisme, mungkin lain cerita.  Misal Mayoritas penduduk indonesia adalah etnis jawa yang beragama islam. Mayoritas orang jawa makmur. Itu bagus. Tetapi yang jadi masalah faktanya mayoritas sumber daya nasional  dikuasai etnis china yang minoritas. Disitulah yang membuat jargon  demokrasi dianggap omong kosong bagi mereka yang berpolitik Identitas. Selagi sila ke lima tidak dirasakan oleh mayoritas rakyat.  Individualisme  meracuni nilai nilai gotong royong, maka politik identitas itu tidak bisa dihilangkan. Apalagi kita tidak bisa melarang Politik Identitas karena memang kita tidak punya menifesto idiologi. RUU Haluan Idiologi Pancasila (BHP) ditolak DPR. 


“ Perdebatan di sosial media soal kebangsaan dan Agama, sudah sangat brutal dan cenderung mengarah kepada polarisasi. Kalau kita masih mempermasalahkan Politik identitas ( nasionalisme dan Agama), maka sebenarnya kita sekarang berada pada puncak kegagalan pembangunan politik. “ kata teman. Menurut saya, disinilah peran Partai Politik melakukan pendidikan politik kepada rakyat. Mereka harus mencerahkan program jangka pendek dan jangka panjang  pembangunan nasional. Sehingga perasaan tidak adil itu bisa diredam dan tidak menimbulkan polarisasi yang semakin melebar.


Ini masalah politik. Sebenarnya dalam konteks demokrasi tidak perlu bicara lagi soal Politik identitas. Karena ukurannya adalah hukum dan UU. Orang tidak dihukum karena pemikirannya, tetapi orang dihukum karena tindakannya. Nah mengapa ada istilah politik identitas dimunculkan ke permukaan? ya karena ada pihak akan merasa kalah dalam hal narasi atau kehilangan narasi dalam berkompetisi. Ini engga ada kaitannya dengan narasi agama atau pluralis. Tetapi soal reputasi partai. Kalau memang Partai itu punya reputasi hebat di hadapan rakyat. Engga perlu takut dan kawatir dengan narasi agama atau identitas. 


Fukuyama mengakhiri bukunya dengan serangkaian rekomendasi singkat tentang cara mengatasi bahaya politik identitas. Sama seperti mereka dapat digunakan untuk memecah belah, solusinya adalah menciptakan identitas yang luas dan inklusif untuk menyatukan orang. Ya samakan dengan pemikiran bapak pendiri bangsa kita, yaitu Pancasila! Kalau yakin dengan Pancasila, stop bicara kanan dan kiri. Semua perbedaan itu adalah rahmat, bukan yang perlu dikawatirkan. Kawal aja pemilu dengan baik. TNI dan POLRI optimalkan tugasnya menjaga pemilu tertip dan damai. Itu masalah politik saja. Hanya ada saat akan pemilu. Tapi itu hanya narasi, tidak akan mengancam polarisasi selagi hukum tegak


***


Saya tidak pernah berhenti kagum kepada bapak pendiri bangsa ini. “ Kita bukan negara kebangsaan. Bukan pula negara yang berdiri dengan konsep idiologi. Apalagi agama. Tapi negara yang menghormati kebebasan berpikir diatas prinsip lima saja, Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah dan Keadilan. “ Saya yakin bapak pendiri bangsa ini adalah mereka orang yang jago dalam hal literasi dan punya kemampuan berpikir  secara substansi dan membahasnya secara holistik.


Lucunya setelah Indonesia merdeka. Kbebasan berpikir itu mulai tergerus sedikit demi sedikit. Era Soekarno, kebebasan berpikir dipasung oleh idiologi sekular, nasionalis, komunis, sosialis dan agama. Terus aja bertengkar engga jelas. Akhirnya bubar tuh Orla. Apa yang dipertengkarkan semua omong kosong. Nyatanya revolusi yang menimbulkan chaos bau amis darah, bukan karena yang dipertengkarkan tetapi karena bokek. Beli beras antri, BBM langka, uang tidak bernilai.


Soeharto berkuasa, lagi lagi kebebasan berpikir semakin barbar dipasung. Orang yang berbeda pendapat dicap dengan stigma Komunis atau PKI. Kaum agamawan dicap dengan stigma tidak Pancasilais. Tidak ada pertengkaran. 32 tahun penuh senyap politik. Akhirnya dalam keheningan perbedaan pemikiran itu, Orba jatuh sendiri. Jatuh karena bokek. Kurs terjun bebas karena Devisa minus, inflasi meroket, moneter , rupiah tidak bernilai.


Nah zaman reformasi, terjadi amandement UUD 45 secara luas. Tanpa disadari kita masuk dalam ruang identitas dalam dimensi baru yang dilegitimasi konstitusi. Apa itu? Kebebasan pasar. Bukan kebebasan pemikiran. Karena dalam kebebasan pasar itu ada regulated yang memberikan hak kepada kapital berkuasa. Kita masuk dalam politik identitas kapitalisme. Dikawal dengan sistem demokrasi. One man vote. Individualisme yang tidak punya hak privasi dihadapan KUHP.


Masuk era IT, dan sosial media, bukannya kebebasan berpikir berkembang, malah dipasung oleh opini sempit bagulindan dengan hate speech ujaran kebencian. Polarisasi terjadi. Bukan duel pemikiran tentang hal yang substansi. Saling mengkerdilkan satu sama lain.  Yang sekularis sinis dengan agamais. Agamais juga sinis kepada sekularis. Satu sama lain saling adu teori dan dalil dengan narasi saling menyudutkan. Satu sama lain merasa paling benar dan soheh.


Diatas pertengkaran dan omong kosong tanpa jeda itu. Sejak era Orla, Orba, Reformasi, ada yang tidak berubah. Etnis China sang saudara tua, yang minoritas, tetaplah berkuasa atas mayoritas sumber daya negeri ini. Mengapa? hanya mereka yang ogah ikut omong kosong. Mereka focus cari cuan. Walau mereka tidak bersuara di mimbar seminar dan panggung politik, tetapi mindset terbuka. Siapa yang makmur? ya mereka. Mereka yang menghargai kebebasan berpikir dalam dimensi hidup dan pribadinya.


Yakinlah kalau hidup ada selalu mengkawatirkan di luar diri anda, maka anda akan berusaha jadi follower tokoh dan influencer dan anda tidak akan jadi apa apa, kecuali sampah peradaban. Omongan diluar yang provokasi anda itu juga sampah. Camkan itu. Nah, Jadilah diri sendiri dan focus kepada kemandirian akal atas dasar prinsip Ketuhanan, Kemanusiaa, Persatuan, musyawarah dan Keadilan. Anda akan baik baik saja. Kini dan di sini.

Selasa, 13 Desember 2022

Tafsir kontemporer


 

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil (an lâ tuqsithǔ) terhadap hak-hak perempuan yatim (bila kamu mengawininya), maka kawinlah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi; dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil (an lâ ta’dilǔ), kama (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” Q.S. an-Nisa’/4:3.  Semua umat islam paham akan ayat poligami itu.  Selalu ada pertentangan tentang ayat ini. Ada yang menganggap poligami itu merendahkan wantia. Ada juga bersikukuh bahwa ayat itu sebagai cara bertaqwa kepada Allah.  Perbedaan pandangan yang kadang radikal itu sebenarnya berangkat dari perbedaan tafsir Ayat itu sendiri. 


Saya mau membahas tentang tafsir kontemporer. Semua sepakat bahwa Al-Qur’an al-Karim sebagai wahyu Allah yang diturunkan terakhir bagi umat manusia menempati posisi sangat penting sebagai salah satu pilar epistemologi Islam. Karena dari Al-Qur’an-lah seluruh struktur, aspek, pandangan, tujuan dan hukum Islam bersumber dan disandarkan. Maka dari itu, upaya-upaya untuk menggali dan memahami nilai-nilai al-Qur’an dilakukan secara terus menerus sejak generasi pertama umat ini dan tidak pernah berhenti sehingga menghasilkan literatur yang sangat luar biasa berlimpah, terutama jika dibandingkan apa yang dilakukan terhadap kitab suci agama lain manapun. Peradaban berkembang, semakin mempertajam metodelogi penafsiran kitab suci.


Menarik membahas pemikiran seorang Muhammad Syahrūr al-Dayyub. Ia sebenarnya insinyur dan doktor dalam spesialisasi Mekanika Pertanahan dan Fondasi. Namun sejak sekolah dasar sampai SMU dia sekolah agama. Jadi dia punya dasar kuat belajar mandiri tentang Al quran dan hadith. Ia tidak menggunakan metode tafsir yang bertumpu kepada asbabun nuzul. Dia menafsirkan Al Quran lewat epistemologi Islami yang dieksplorasi dari teks-teks al-Kitab. Ia kemudian menawarkan konsep epistemologi dialektika, sebagai paradigma dalam memahami Islam.  Memang kekosongan epistemilogi Islami dalam bentuknya yang modern menyebabkan terpecahnya pemikiran umat Islam, fanatisme golongan, dan berlindung pada pemikiran masa lalu, yang mudah sekali menuduh orang yang berbeda kafir atau bid’ah.


Dalam hal Poligami, mari kita perhatikan pendapat Syahrur dalam magnum opus-nya al-Kitâb wa-al-Qur’ân : Qirâ’ah mu’âsyirah berpendapat bahwa poligami bukan sekedar ajaran Islam tentang poligami, bukan sekedar hak atau keleluasaan seorang suami untuk beristri lebih dari satu, akan tetapi yang lebih esensial dari itu adalah pemeliharaan anak-anak yatim. Artinya istri kedua, ketiga dan keempat seharusnya adalah Janda beranak yang miskin. Bukan perawan. Perlakuan adil itu bukan kepada istri istri tetapi kepada anak anak dari janda miskin itu. Perlakuannya sama dengan anak kandung sendiri.


Syahrur juga menafsirkan Al Quran dengan metode  hermeneutika hukum dari aspek filologi dengan prinsip antisinonimitas. Metode itu menggambarkan bahwa setiap istilah di dalam Al Quran punya makna yang tidak identik. Dari sini dia bisa menemukan definisi zina. Apa itu ? aitu hubungan intim disebut zina bila dipertontonkan ke publik. Bila hubungan intim dilakukan di ruang privat, berlandaskan suka sama suka, keduanya sudah dewasa, tidak ada penipuan, dan niatnya tulus maka tidak bisa disebut zina. Maka hubungan intim tersebut halal. Pernikahan yang dilembagakan dan dilegitimasi, tapi dilakukan dengan keterpaksaan karena berbagai sebab, dan kadang menipu, itu tetap saja zina.


Walau tafsir Muhammad syahrur dengan metode sains yang rumit, namun di Indonesia itu tidak diakui sebagai sebuah tafsir dan disikapi dengan sinis dan kritis. Sikap kritis para pengkiritik memang beragam. Sebagian kritik berisi hujatan-hujatan kasar dan kata-kata kotor serta cacian terhadapnya, bahkan sebagian pengkritik mengatakan bahwa Syahrūr merupakan bagian dari zionis dan telah menjadi kafir hanya karena dia mengemukakan pokok-pokok pikirannya dan menafsirkan ulang ayat-ayat al-qur’an. Namun, mayoritas pengkritik semacam ini tidak memberikan argumentasi-argumentasi ilmiah yang cukup kuat. Kritik semacam ini bisa dijumpai misalnya, dalam karya Syaikh Ramdhan al-Buthi (al-Khalfiyyah al-Yahudiyyah li Syi’ar Qira’ah Mu’asyirah), yang diterbitkan pada 1990 di jurnal Nahj al-Islam , dan dalam karyanya Khalid bi ‘Abdurrahman al-‘Akk yang berjudul al-furqan wa al-Qur’an.


Sementara Syahrur menjawab kritik itu dengan sangat terpelajar dan sesuai dengan kaidah ilmiah, yang dia tuangkan dalam bukunya “ Ta’liq ala al-Kutub wa al-Maqalat wa al-Rudud allati Shudirat Haula “al-Kitab wa al-Qur’an Qira’ah Mu’ashirah”. Dan juga dalam buku keduanya Dirasat Islamiyah Mu’ashirah fi al-daulah wa al-Mujtama’. Syahrūr adalah benar-benar seorang “kontekstualis” sejati yang meyakini keharusan perubahan penafsiran dan pemahaman terhdap ajaran Islam. Perubahan ini menuntut kebebasan atau keterbukaan epistemologi tanpa harus terkungkung oleh turāts walaupun berasal dari generasi pertama umat ini, ataupun sesuatu yang telah disepakati sebagai sebuah hasil kesepakatan ulama (ijmā’).


Yang paling mengerti arti sebuah teks Al-Quran tentu hanya Allah. Namun tak seorang pun bisa meminta penjelasan langsung kepada Allah. Nabi sebagai saksi dan messenger udah lama tiada. Kini para ulama hebat selalu mengakhiri tafsirnya dengan kalimat Wallahu Alam Bissawab. “ Hanya Allah yang tahu. Kami sih hanya menduga benar. Jadi dimungkinkan untuk ditulis dan dibaca lebih dari satu macam makna. Ya biarkan sajalah. Yang penting jangan bertengkar karena perbedaan. Karena apapun itu, kebenaran itu milik Allah. Sementara bertengkar itu pasti dosa dan tidak disukai Allah.

Selasa, 06 Desember 2022

Islam di China


 

Lima tahun lalu saya mampir ke toko buku yang ada di Bandara Hong Kong. Saya terkejut karena ada terjemahan buku dalam bahasa inggeris yang di tulis oleh Wang Tai Yu, judulnya " Chinese Gleams of Sufi Light”. Buku ini disusun oleh Sachiko Murata. Murata adalah Associate Professor of Comparative Studies di State University of New York di Stony Brook. Murata juga  penulis The Tao of Islam: A Sourcebook on Gender Relationships in Islamic Thought , juga diterbitkan oleh SUNY Press. Saya langsung beli buku ini.


Sebelumnya buku yang ditulis Ulama China diterjemahkan  ke  dalam bahasa Persia. Makanya Perpustakaan Persia banyak buku karya ulama china. Murata menterjemahkannya dalam bahasa Inggris.    Sehingga sejarah 1400 tahun Islam di china dapat dipahami oleh orang barat. Sebenarnya Murata bukan hanya menterjemahkan tulisan Wang Tai Yu, tetapi juga  mempehatikan tulisan ulama besar China lain , yaitu  Liu Chih. Sehingga kalau ingin memahami bagaimana ajaran islam diterapkan oleh komunitas muslim di China buku ini utuh. Tentu tidak termasuk komunitas muslim uighur, di Xinjiang, yang dipengaruhi islam dari Afganistan dan Asia Tengah. 


Nabi Muhammad lahir di Mekah pada 570 dan wafat di Madinah tahun 632. Ketika Era Nabi, China berada di bawah Dinasti Tang yang kelak digantikan oleh Dinasti Song. Saat itu China mengalami “Zaman Keemasan” (Golden Age) karena maju pesat di berbagai bidang: pendidikan, seni, sastra, budaya, politik-pemerintahan, ekonomi, teknologi, dan lain sebagainya. Chang’an (kini Xi’an) sebagai ibu kota, menjelma menjadi kota kosmopolitan dan pusat peradaban yang masyhur kala itu. Banyak para sastrawan, sarjana, dan ilmuwan hebat lahir pada masa ini.


Bagaimana dengan sistem pemerintahan China ketika itu ? Dinasti Tang menerapkan sistem pemerintahan terbuka dimana hanya orang yang punya kapabilitas, kompetensi dan intelektualitas ( bukan KKN) yang berhak duduk di pemerintahan. Proses seleksi sangat ketat dan terbuka. Pada Dinasti Tang pula sistem clearing perdagangan imbal beli dengan jaminan emas di perkenalkan keseluruh dunia yang menjadi mitra dagangnya seperti Arab, Persia, Maroko dan Afrika Utara dan Barat lainnya melalui Jalur Sutera (Silk Road). Untung mendukung itu Dinasti Tang menyediakan ribuan kapal dan pejelajah darat yang hebat. Juga menyediakan World trade Center bernama Fan Fang, untuk menampung para pedagang dan pelayar dari Timur Tengah dan Afrika ini.


Ketika itu Jeddah yang berada di wilayah Mekah adalah pusat perdagangan dan pelayaran di Semenanjung Arabia. Kota pelabuhan ini ramai di kunjungi oleh pedagang dari berbagai belahan dunia. Melalui mereka lah Nabi mendapat cerita kehebatan peradaban China. Mungkin alasan logis mengapa Nabi sampai mengeluarkan sabda bahwa tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Kelak, setelah Rasul wafat , Khalifah Usman bin Affan, menunjuk Sa’ad bin Abi Waqash pahlawan penakluk Persia untuk memimpin delegasi kaum Muslim ke China guna menjalin persahabatan dengan Dinasi Tang. Bahkan beliau konon wafat dan dimakamkan di China. 


Saat  Saad datang ke China dan  menyebarkan islam, belum ada istilah mahzab. Jadi islam masuk ke China benar benar asli atau fresh dari oven. Tidak terkontaminasi politik.  Belum ada syiah, belum ada Sunni, belum ada wahabi dan salafi. Singkatnya islam tanpa Mahzab ulama. Kalau anda ingin orisinilitas ajaran islam memang dari China. Nah buku Wang Tai Yu, Chinese Gleams of Sufi Light, Anda bisa memahami inti ajaran islam berkaitan dengan Tauhid dan mualamah.


Wang adalah ulama dan juga intelektual islam di China abad 17. Sebelum abad 17, para ulama besar China menulis buku berisi tentang bagaimana memahami ajaran Islam. Komunitas Islam di China tumbuh seperti itu dan Wang menangkap bahaya untuk eksitensi Islam. Wang ingin menjadikan ajaran Islam bisa melahirkan transforamsi dari masyarakat yang nrimo, apatis , pesimis, korup menjadi masyarakat yang progressive, passion, berikhsan. Karena itulah dia terpanggil menulis. Dia mengubah prakonsepsi - prakonsepsi tentang peran Islam di China. 


Kehebatan Wang dalam menyapaikan ajaran islam itu, dia tidak sama sekali menghilangkan ajaran konfusian, namun dia menyebut dengan Neo Konfusian. Cara dia menyampaikan ajaran itu tidak menggunakan bahasa arab tapi menggunakan padanan bahasa yang ada pada konfusiasisme, taoisme dan budhisme. Tradisi China yang memang tidak melanggar Tauhid ya tidak dihapus atau tidak dikatakan bidaah. Dan kalaupun dinilai melanggar Tauhid maka diluruskan dengan modifikasi yang tetap tidak menghilangkan tradisi China. 


Umat islam di China melaksanakan rukun islam dan memahami konsep keimanan atas dasar rukun Iman. Prinsip keimanan : tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad itu utusan Allah. Tentu mereka tidak menyebut seperti bahasa Arab, yaitu Allah tapi dalam bahasa China seperti Chen Chu atau Tuhan sejati atau Chen-I atau Esa sejati, atau Chen Tsai atau Penguasa sejati .Ya sama seperti orang jawa menyebut Allah, gusti pangeran, dan lain sebagainya. Sementara sebutan Rasul adalah Sheng -Hsien atau orang orang arif dan berguna. Sama seperti orang jawa menyebut Rasul, Kanjeng Nabi.


Sementara ajaran islam itu mereka sebut Ch'ing- Chen Chiao atau kalau diterjemahkan ajaran yang suci dan sejati. Mereka tidak membaca AL Quran, tapi buku yang ditulis ulama China mereka baca dan pahami. Mereka tidak perlu pertanyakan apakah tafsir itu benar atau salah. Selagi tidak bertentangan dengan budaya atau tradisi mereka ya itu dianggap sudah benar.  Bagi mereka,  Agama selain bagai elang yang terbang dengan idealisme spiritual yang tinggi untuk mencapai kesempurnaan pribadi, tetapi juga membumi bagai induk ayam yang terlibat secara etis pragmatis dalam keseharian. 


Paham neo konfusian itu sebagai lampu rakyat China bagaimana mereka membangun peradaban. Mereka pekerja keras, patuh kepada orang tua, setia kawan, patuh pada negara, berpikir positip, menghindari konplik, dan suka memberi dan jujur , rendah hati dan lain sebagainya. Lantas apa sebetulnya kunci dari ajaran neo Konfusian itu? ya Akhlak.! Adalah perbuatan atas dasar karena Tuhan semata..

Senin, 05 Desember 2022

Dialektika Kapitalisme.

 



Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan ketidakpastian ekonomi di global saat ini memiliki pola berbeda berbeda dibanding sebelumnya. Ketidakpastian yang terjadi sekarang ini menurutnya, semakin cepat berubah. Jokowi saat berpidato di Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI) Rabu (30/11/2022). “ Oleh sebab itu 2023 betul-betul kita harus waspada saya setuju harus optimis tapi harus tetap hati-hati dan waspada. Yang pertama itu ekspor Indonesia tahun ini tahun lalu melompat jauh tapi hati-hati tahun depan bisa turun,” Itulah ekonomi pasar. 


Betapa bebasnya pasar sehingga negara tidak berdaya untuk bersikap. Kecuali menanti apa yang terjadi , untuk dipikirkan apa solusi. Sebagaimana dijelaskan oleh Rainer Zitelmann dalam The Power of Capitalism. Kapitalisme bukanlah masalah, tetapi solusi. Tapi tidak bagi Jacob Soll sang prefesor ekonomi, dalam karyanya,  Free Market: The History of an Idea. Soll menyalahkan pemerintah sebagai sumber masalah kegagalan kapitalisme.  Saya tidak sepenuhnya sependapat dengan Soll.  


Mungkin Soll, terinspirasi dengan Paul Baran dan Paul Sweezy dalam Monopoly Capital ( 1966). Merekam apa yang terjadi di AS. Meskipun menampilkan dirinya sebagai negara demokrasi terkemuka di dunia, tetap saja plutokratis. Pemilu diakuisisi oleh  “uang gelap” yang berasal dari pundi-pundi korporasi dan invisible miliarder. Misal dalam pemerintahan Trump, mengikuti tradisi yang sudah lama ada, 72 persen anggota kabinet berasal dari korporat, sementara yang lain diambil dari militer dan politisi karir. Ya sama seperti di Indonesia, sebagian menteri adalah miliarder atau politisi proxy korporat.


Di tengah ancaman resesi dan krisis yang melanda Eropa dan AS sekarang , John Bellamy Foster menganalisanya dalam Capitalism Has Failed—What Next? (2019). Kurang dari dua dekade memasuki abad ke-21, terlihat jelas bahwa kapitalisme telah gagal sebagai sebuah sistem sosial. Dunia terperosok dalam stagnasi ekonomi, finansialisasi, dan ketimpangan paling ekstrem dalam sejarah manusia, disertai dengan pengangguran massal dan setengah pengangguran, kerawanan, kemiskinan, kelaparan, hasil dan kehidupan yang sia-sia, dan apa yang pada saat ini hanya dapat disebut ekologi planet " “death spiral.”


Revolusi digital, kemajuan teknologi terbesar di zaman kini, telah dengan cepat bermutasi dari janji free speech dan free production menjadi cara baru pengawasan, kontrol, dan pengurangan populasi pekerja. Institusi demokrasi rapuh, berada di titik kehancuran, Sementara fasisme dan adikalisme bangkit. Ya, kapitalisme selalu punya hope seperti invisible hand dari Adam Smith. Faktanya hope di depan mata adalah paradox. Barisan belakang  dari sistem kapitalis, kembali bergerak, bersama dengan patriarki, rasisme, neokolonialisme, radikalisme dan perang.


Soll dan John Bellamy Foster lupa akan Adam Smith  dalam “ The Theory of Moral Sentiments" (1759) and "An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations" (1776).  Salah memahami Capitalism and Freedom" dari Bapak Neoliberal Milton Friedman. Kalau pemerintah salah mengadopsi prinsip moral kapitalisme, itu ada benarnya. Ini masalah moral  dan kepentingan. Yang kadang karena kepentingan politik pragmatis,  prinsip ekonomi kapitalisme terdistorsi. Teori tidak salah. Sama halnya agama tidak salah. Yang salah pemeluk agama. 


Sejak negeri ini didirikan, Indonesia sudah punya konsep ekonomi yang sesuai dengan falsafah, pandangan dan pola hidup masyarakat Indonesia. Bahwa munculnya istilah demokrasi ekonomi, ekonomi kerakyatan dan konsep koperasi yang kemudian disebut sebagai “Soko Guru” perekonomian rakyat dinilai menjadi solusi yang patut dan sesuai diterapkan di Indonesia yang bersandarkan pada Pancasila. Itulah nilai nilai lama kita dan kita lupa, makanya kita selalu risau dengan pengaruh external.  Melihat keluar tersesatkan. Melihat kedalam tercerahkan.


***


Pernah tahun 2011 saya sedang di Singapore untuk urusan bisnis. Di sebuah club exclusive. Mata saya terarah kesalah satu sudut ruangan. Ada 5 orang sedang bersantai ditemani wanita cantik. Wajah yang tidak asing bagi saya. Mereka para politisi dan pengusaha. Walau saya tidak akrab dengan mereka namun mereka mengenal saya. Kebetulan lagi salah satu dari mereka itu sahabat dekat saya, yang juga pengusaha besar. Saya menghampiri table mereka untuk sekedar menyapa. 


Sahabat saya berbisik “ In cewek dua artis dan 3 lagi model dari Moscow. Kamu kenal yang artis itu ? Saya menggeleng. Memang saya engga kenal. Artis yang sangat saya kenal adalah Cristina Hakim, Selebihnya engga jelas. “ gimana kalau gabung sama kita ? katanya. Tetapi saya menolak halus.


Yang membuat saya terkejut adalah salah satu politisi itu adalah orang yang sangat agamais dan karir nya sedang melesat hebat. Belakangan 5 orang yang tahun 2011 saya temui di Singapore itu. Satu demi satu masuk bui karena kasus korupsi dan suap. yang pengusaha masuk bui karena menyuap. Yang politisi masuk bui karena disuap. 


Banyak orang ingin karir melesat dan harta banyak sehingga menghalalkan segala cara termasuk korup. Namun semua itu seperti membangun istana pasir di pinggir pantai. Yang kapan saja bisa hancur. Akhirnya menjadikannya pecundang. Memang dashyat sekali dampak dari kelakuan korupsi atau harta yang didapat dari cara salah itu. Uang haram itu lebih dahsyat daya rusaknya terhadap otak dan hati. Riset yang di lakukan terhadap prilaku pemain bursa di Wallstreet , para fund manager dan dealer sebagian besar otaknya rusak karena keracunan narkoba, gila sex ,pesta sex dan lain sebagainya. Umumnya rumah tangga hancur dan kehidupan dengan orang tua tidak harmonis. Mereka bagaikan ayam merak, berada di istana gading. 


Betapa tidak. Dari harta haram itu akan berlanjut kepada sikap mental yang mudah menghalalkan apa saja termasuk memanjakan hidup di tempat maksiat. Hal yang tabu menjadi permissive.Hal yang terlarang menjadi biasa saja. Lambat laut orang tidak tahu lagi batasan moral yang patut dan tidak patut. Sementara rasa malu terkikis dengan sikap hidupnya yang plamboyan. Gemar memamerkan apa saja sebagai aktualisasi diri yang tak pernah sudah. Apakah prilaku seperti itu membuat peradaban lebih baik? Kejatuhan wall street lebih disebabkan oleh mental para pemain yang rusak. Dan ini menjalar ke bidang lain. Seperti ungkapan dari Jeffrey T. Kuhner , kolumnis dari The Washington Times, yang dalam kolom nya mengomentasi bahwa krisis ekonomi terjadi karena krisis moral di AS dan solusinya adalah perbaikan mental dan spiritual!.


Kamu boleh tersingkir tapi itu bukan karena kamu buruk, itu karena lingkungan kamu yang buruk. Kamu boleh bangkrut dalam bisnis dan karir. Itu biasa. Kalah menang itu biasa. Miskin kaya itu biasa. Tapi jalan Tuhan adalah segala galanya. Karenanya jangan pernah spiritual kamu bangkrut. Karena,kalau kamu bangkrut secara spiritual kamu tidak akan pernah bangkit lagi. Jadi jagalah spiritual. Caranya ? bertemanlah dengan orang baik yang bisa menuntunmu ke cahaya dan ke mata air. Bertemanlah dengan orang yang karenanya membuat kamu rendah hati dan lapang hati.



Sabtu, 03 Desember 2022

How Democracies Die.




Saya membaca buku How Democracies Die. Itu saya baca tahun lalu. Buku itu biasa saja. Mengapa? Karena ditulis sebagai tesis atas fenomenan kepemimpinan Trumps. Namun karena penulisnya adalah Steven Levitsky and Daniel Ziblatt, keduanya adalah profesor Harvard, terkesan sangat kaya wawasan. Mereka melengkapi tesisnya atas dasar studi terhadap kerusakan demokrasi di seluruh abad 20 da 21. Seperti pemerintahan Jenderal Augusto Pinochet di Chili , Presiden Recip Erdogan, di Turki, di Brasil, Filipina, hingga Venezuela. Buku itu memberikan arahan bagaimana menyelamatkan demokrasi dari ancaman akibat kepemimpinan yang otoriter dan sekaligus memperbaiki proses demokrasi.


Menurut  Levitsky dan Ziblatt ancaman terbesar bagi demokrasi kontemporer adalah erosi norma. Norma adalah aturan dan konvensi tak terucapkan yang menyatukan demokrasi. Misal, anda sadar saat membuat kebijakan selama anda berkuasa, itu tidak menguntungkan dalam jangka panjang. Tapi bermanfaat bagi kepentingan anda. Anda bisa terima itu. Karena anda mana mikir soal jangka panjang. Anda hanya mikir selama periode kekuasaan anda saja. Nah saat anda akan turun, anda kawatirkan yang menggantikan anda menolak kepentingan anda. Sama seperti dulu  saat anda berkuasa memperlakukan dia


Padahal seharusnya kan anda membuka peluang siapapun yang berpotensi menggantikan anda, sehingga dia akan baik kepada Anda setelah turun. Jelas tidak semua orang di showbiz hidup dengan aturan itu. Namun dalam politik, saat ini, sepertinya hampir tidak ada yang melakukannya. Menolak melanjutkan apa yang telah dilakukan pendahulunya. Hebatnya, penolakan itu atas nama UU dan aturan. Masabodo konsekuensinya. 


Levitsky dan Ziblatt ingin melepaskan diri dari gagasan bahwa selama tatanan konstitusional utuh, demokrasi akan baik-baik saja. Mereka sangat curiga terhadap keyakinan naif bahwa politisi menyimpang dapat "ditahan" oleh lembaga Yudikatif yang kuat. Mereka menunjukkan bahwa sejarah AS dipenuhi dengan contoh-contoh perilaku politik yang konstitusional tapi tidak demokratis. Rezim rasis di Amerika selatan selama paruh pertama abad ke-20 didukung oleh serangkaian norma yang membuat hak suara Afrika-Amerika yang diperoleh dengan susah payah menjadi tidak berarti. Konstitusi dibonsai oleh prilaku premanisme brutal dan intimidasi yang tidak tahu malu, sementara para anggota parlemen duduk diam. 


Dua norma utama yang menurut Levitsky dan Ziblatt mendukung demokrasi adalah mutual toleration dan institutional forbearance.  Mereka memiliki arti yang sama: resisting the temptation to take every cheap shot going.  Di sinilah peran Trump. Ada banyak kata yang mungkin menggambarkan gaya politiknya tetapi toleransi dan kesabaran tidak termasuk di dalamnya. Trump memperlakukan kepresidenan sebagai platform yang dirancang untuk menyelesaikan masalah pribadi. Dia tampaknya hampir seluruhnya kurang dalam kontrol impulsif, namun tanpa kontrol impulsif tidak akan ada demokrasi yang langgeng. Akibatnya, di AS justru presiden sendiri yang menghancurkan norma itu.. 


Levitsky dan Ziblatt tidak menganggap Trump berarti kematian demokrasi AS. Apa yang mereka takutkan adalah apa yang akan Trump tinggalkan. Sikap saling tidak percaya dan curiga atas dasar intoleran. Levitsky dan Ziblatt menyebutnya " democracy without guardrails": kompetisi yang tidak cerdas terkesan culas. Seberapa buruk itu bisa terjadi? Buku ini hanya mentelaah sejarah kepemimpinan demokrasi di seluruh dunia, dan menemukan pola yang sama berulang. Orang kuat abad 21 tidak mengubah konstitusi dan menggantinya dengan tank di jalanan. Tetapi mempermainkan konstitusi atas nama demokrasi. 


Dengan  santai berkata “kalau DPR/MPR setuju presiden tiga periode atau diperpanjang ya itulah demokrasi. Bahkan wacana soal itu dianggap sah dalam demokrasi. Padahal mereka sendiri yang mendorong terjadinya wacana itu. Hipokrit kelas murahan. Mengapa? itu akan lain kalau datang dari lawan yang bertentangan dengan kekuasaannya. " Ah itu anti demokrasi. Anti konstitusi." Katanya dengan nada seperti orang terpelajar.


Sama halnya dengan Putin. Yang mempermainkan konstitusi dengan jabatan PM setelah habis periode kepresidenannya, dan setelah itu kembali lagi jadi presiden. Juga sama dengan Xijinping. Demi musuh bersama kepada AS, memungkinkan konstitusi diubah, tidak ada batasan kekuasaan presiden.. Erdoğan di Turki, Orbán di Hongaria, Maduro di Venezuela, Modi di India (untuk menyebutkan beberapa saja) juga sama. Yang memalukan sifat  mereka mencemooh, merendahkan mereka yang mengkritik, dan mempertanyakan legitimasi dari setiap suara yang bertentangan dengan mereka. Padahal demokrasi mati tanpa dialektika.


Karena putus asa melawan oligarchi politik, partai-partai arus utama , bisa begitu saja bersekutu dengan partai agama yang mengusung identitas. Itu yang terjadi misalnya di Belgia pada tahun 1930-an, ketika fasisme dikalahkan oleh kesediaan partai Katolik  ( politik agama/identitas ) berkoalisi dengan kaum liberal. Di Chili, Pinochet akhirnya dikalahkan pada tahun 1989 oleh koalisi Partai agama dan sosialis,  Demokrat Kristen dan Sosialis, yang  katanya berkomitmen bersama untuk melestarikan demokrasi. 


Kelangsungan demokrasi membutuhkan politisi yang bersedia menempatkan stabilitas jangka panjang di atas keuntungan jangka pendek dan siap untuk mengakui bahwa apa yang terjadi akan terjadi.


Jumat, 02 Desember 2022

Tiga lembaga mengatur dunia.

 


Di blog about business saya sudah menulis tentang “  indonesia kalah di WTO. “ Saran saya walau kita kalah di panel WTO, Dispute Settlement Body. Ya biarin aja. Engga usah panik. Presiden kan hanya melaksanakan amanah UU Minerba. Walau kita kalah ditingkat banding, ya biarin aja. Toh pemerintah tidak bisa mengubah UU minerba tanpa persetujuan DPR. Tolong juga, kalau Presidennya jagoan, jangan sampai DPR nya ayam sayur. UU Minerba diubah sesuai maunya WTO.

***

Buku Unholy Trinity: The IMF, World Bank and WTO , ditulis oleh Richard Peet dan timnya : Beate Born, Mia Davis, Kendra Fehrer, Matthew Feinstein, “Steve Feldman,” Sahar Rahman Khan, Mazen Labban, Kristin McArdle, Ciro Marcano, Lisa Meierotto, Daniel Niles, Thomas Ponniah, Marion C. Schmidt, Guido Schwarz , Josephine Shagwert, Michael P. Staton, dan Samuel Stratton. Sebagai referensi tentang IMF, WB, WTO,  buku ini lumayan memadai. Karena diulas dari faktor sejarah berdirinya, idealisme nya dan sampai eksistensi dalam mempengaruhi terbentuknya tetanan dunia baru setelah perang dunia kedua.  Anda akan diajak berwisata ke masa lalu untuk memahami latar belakang lahirnya idea dan paradox dari adanya Globalisme dan neoliberalisme. 


Dari liberalisme ke Keynesianisme - neoliberalisme, hegemoni dan wacana kebijakan, kontra-hegemoni. Juga sejarah Bretton Woods - munculnya rezim ekonomi global - konteks politik-ekonomi, wacana ekonomi, AS - dari isolasi ke hegemoni global, konferensi, ratifikasi, formalisasi dominasi. Faktanya  bahwa ketiga lembaga tersebut memainkan peran yang sangat berbeda dari idealisme awal berdirinya.


Idealisme nya bahwa Bank Dunia beroperasi seperti bank yang menawarkan pinjaman dan hibah kepada negara-negara berkembang. Tujuannya adalah untuk mengurangi kemiskinan dunia. Tujuan IMF adalah stabilitas sistem moneter dan keuangan dunia. Berbeda dengan bank dunia yang juga banyak bekerja sama dengan negara maju, ia adalah bagian dari sistem PBB. Kedua organisasi ini berkaitan dengan kepentingan AS. Kantor pusatnya aja berdekatan di Washington DC.  


WTO  memang berbeda dengan badan PBB lainnya. WTO secara teknis bukan bagian dari PBB, dan merupakan salah satu dari banyak organisasi multilateral yang berbasis di Jenewa, seperti WHO, Kongres Meteorologi Dunia, dll. WTO awalnya adalah GATT ( General agreement on tarrifs and trade).   Sebagai organisasi perdagangan dunia, fokusnya pada perdagangan, walau belakangan berkembang ke sektor pariwisata dan investment. Di bawah naungannya, negara-negara anggota menegosiasikan kesepakatan dalam rangka  mendukung program globalisasi .


Satu kesamaan antara Bank Dunia, IMF, dan WTO adalah bahwa mereka memiliki negara anggota yang kira-kira sama. Mereka juga mengumpulkan data dan statistik serta menerbitkan laporan ekonomi yang harus dipercaya dan valid sebagai dasar membuat kebijakan negara.  Ketiga lembaga itu di isi oleh para ahli berbagai disiplin ilmu, terutama ekonomi. Mereka dibayar mahal dengan anggaran melimpah. Tujuanya adalah melahirkan pemikiran dan ide-ide yang berwawasan, menggunakan jenis representasi simbolik tertentu- yang bahkan istilah Gramscian 'akal sehat' tidak cukup-.


Buku Super Imperialisme, the economic strategy of America empire oleh Max Blumenthal , Ben Norton , Michael Hudson menyebutkan  bagaimana Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional diciptakan sebagai sarana untuk memaksakan struktur anti-pemerintah neoliberal di dunia untuk mencegah negara lain mengatur industri mereka atau mengatur pertanian mereka. Fungsi Bank Dunia pada dasarnya adalah membuat negara-negara Dunia Ketiga, Global South, bergantung pada Amerika Serikat untuk pasokan makanannya, dengan hanya membiayai ekspor pertanian, mengekspor tanaman perkebunan, bukan menanam makanan mereka sendiri.

Fungsi IMF adalah menggunakan leverage utang untuk memaksa negara-negara lain memaksakan penghematan pada populasi mereka, dan pada dasarnya mengatakan kami akan mengontrol pemerintah yang Anda miliki, karena jika pemerintah Anda melakukan sesuatu yang tidak disukai pejabat Amerika Serikat, kami Anda hanya akan merampok mata uang Anda, memaksakan penghematan pada Anda, dan Anda akan tersingkir dari kekuasaan.

Sehingga setiap wacana, gagasan dari ketiga lembaga itu memaksa negara anggota bersikap NATO ( No Alternatif To Objection),  engga ada pilihan untuk menolak. Memang  penjajahah lewat pemikiran yang sistematis dan kelembagaan. Kenapa kita takut dan harus patuh? Kita negara berdaulat kok.  Lawan! 

Harga beras negara lain ?

  “ Bro, Pak Jokowi bilang harga beras semua negara juga naik..” kata Albert. Saat itu saya sedang bersama Lina di cafe. Saya perhatikan Lin...