Jumat, 26 Februari 2021

Fenomena Buzzer.

 



Waktu revolusi kebudayaan di China, semua simbol pemikiran dokrin terhadap feodalisme dihancurkan oleh rakyat jelata. Tempat ibadah yang mentereng berubah fungsi jadi tempat kegiatan sosial. Sekolah barat dihacurkan. Buku buku barat dibakar. Para cerdik pandai digiring ke kamp kerja paksa. Para tuan tanah dibunuh oleh pengadilan jalanan. Singkatnya, saat itu, kalau ada orang difitnah sebagai orang pintar soal agama, atau soal kapitalisme, itu artinya kematian baginya. 25 juta orang mati selama revolusi kebudayaan. China lama yang akrab dengan feodalisme benar benar hancur. 


Apakah Mao salah dengan revolusi yang terkesan konyol itu? pemikir barat dan orang luar jelas menyimpulkan itu adalah kebodohan yang pernah dibuat seorang pemimpin semacam Mao. Tetapi ada orang lupa. Bagaimana mungkin setelah Mao meningggal dan Deng melakukan reformasi ekonomi, China bisa bergerak cepat sekali mengejar ketertinggalan dari negara lain. Bahkan kini China memimpin perubahan dibidang sains dan ekonomi dunia. 


Sementara sekularisme yang memicu revolusi Perancis, justru jauh tertinggal dari China. Bukan itu saja. Negara yang berlandaskan agama juga sama.  Semakin terjajah secara ekonomi dan tak pernah bisa lepas dari hegemoni asing atau tidak pernah mandiri secara politik maupun sains. Lantas apa yang berbeda dari China? Ya, Sumber daya manusia yang dipersiapkan oleh Mao. Revolusi kebudayaan memang membuat ekonomi China terpuruk. Tetapi Mao berhasil membuat 90% orang China melek baca.  Saya katakan “ melek baca” karena rakyat tidak lagi terkurung dalam berpikir linier, dalam dimensi agama maupun sekularisme. 


“Mau kucing hitam atau merah yang penting bisa tankap tikus. Mau kapitalis atau sosialis, yang penting bisa produksi.” Demikian kata Deng yang terkenal itu. Apapun pemikiran itu hebat kalau bisa membuat orang mandiri dalam berproduksi untuk kehormatan diri dan keluarganya. Jadi focus rakyat China sangat sederhana. Kalau kapitalisme itu bagus untuk bersaing, ya kita pakai. Kalau sosialis komunis itu bagus untuk disitrbusi barang dan jasa, ya kita pakai. Kalau agama itu bagus untuk kita menjadi orang baik ya kita pakai. Yang baik diambil, yang buruk dibuang. Dari semua itulah lahir kebudayaan baru, yang transformatif, inovatif dan visioner.


Kehebatan China dalam memilih mana yang baik dan buruk itu, berkat budaya lateral yang dibangun selama revolusi kebudayaan. Walau selama revolusi kebudayaan para sarjana banyak yang mati, namun rakyat jelata semakin cerdas. Mereka cerdas  membaca situasi yang berkembang. Hebat memahami, memproses dan mengevaluasi setiap informasi yang datang. Jadi praktis mereka tidak bisa lagi dijadikan domba oleh tokoh agama. Tidak mudah jadi korban Ponzy. Tidak mudah jadi korban populisme. Tidak mudah jadi korban politik. 


Ektrimnya, rakyat China anggap diluar dirinya nothing. Yang ada hanya dirinya saja. “Kalau bokek, jangan salahkan siapa siapa. Itu karena saya bodoh.” Maka lahirlah masyarakat egaliter. “ Kamu pejabat, tokoh agama, profesor, emang gua pikirin. Kecuali kamu bisa buktikan karena kamu hidup saya lebih baik. Kalau engga, lebih baik menjauh dari saya. Sekaya atau sepintar apapun kamu, bukan urusan saya. “ 


Deng buktikan itu dengan fenomena kemajuan Shejiang. Sebelum liberalisasi ekonomi Deng, Hangzhou ( ibu kota provinsi Zhejiang)   adalah contoh kemampuan  kebebasan berpikir.  Daerah ini sangat sedikit sekali mendapatkan anggaran dari Pusat dan hampir tidak mungkin untuk menciptakan pertumbuhan. Namun rakyat yang ada di Zhejiang bangkit dengan kemampuan kemandirian. Apa yang terjadi kini? Hangzou menjadi kota terbaik dan paling mandiri dari segi anggaran pusat. Paling maju dari segi Sains. Dan menjadi model pengelolaan wilayah di seluruh China.

Ketidak sukaan elite politik kepada buzzer karena mereka tidak ingin ada paham egaliter yang berkembang dari adanya sosial media. Kamu tokoh agama atau politisi atawa gubernur,  emang gua pikirin. Menurut gua salah, ya gua serang. Siapapun elo. Suka suka gua. Ape loe ape loe..Seharusnya berkembangnya paham egaliter ini bisa mengubah cara berpikir tokoh agama dan  politik.  Ubahlah diri. Kalau engga, gua kasihan aja lue pada jadi bahan ketawaan orang banyak.

Kamis, 25 Februari 2021

Berpikir linier atau lateral.

 




Kalau ada wanita cantik dekat dengan anda. Pasti orang berpikir bahwa itu berpotensi terjadi perbuatan amoral. Kalau ada wanita berpakaian terbuka atau tidak pakai jilbab, pasti ada yang berpikir wanita itu mengundang sahwat. Kalau ada orang kaya hidupnya sederhana, itu bohong. Kalau ada penguasa seperti Jokowi hidup sederhana, itu dianggap pencitraan. Kalau ada pejabat yang bersih pasti bohong. Dan banyak lagi hukum sebab akibat yang menjadi landasan orang berpikir secara linier. Sehingga kesimpulan yang dia buat terkesan normatif dan ilmiah atau logika. Karena ada bukti empiris yang mendukungnya.


Tanpa disadari karakter terbentuk lewat pemikiran linier itu. Anda tidak aka bisa memahami kalau banyak kedekatan orang dengan wanita cantik tidak berujung ke tempat tidur atau perzinaan.  Itu hanya sebatas persahabatan. Anda tidak akan paham, kalau banyak wanita berjilbab standar moralnya lebih buruk dari orang tanpa jilbab. Anda tidak akan pahami kalau banyak orang kaya hidupnya sederhana. Sulit bagi anda memahami banyak pemimpin yang hidup sederhana. Dan lain sebagainya. Dari ketidak pahaman itu tanpa disadari anda menjadi hakim terhadap orang lain. Namun pada waktu bersamaan anda membelenggu diri anda sendiri.


Dari berpikir linier ini orang cenderung jadi follower pemikiran orang lain. Yang lebih konyol lagi adalah dia menjadikan penulis atau pemikir itu sebagai panutan. Padahal antara tulisan dan penulis dua sisi yang jauh sekali berbeda. Keynes bapak Ekonomi kapitalis yang moralis, ternyata dia seorang gay. Pentolan ISIS yang mengundang orang berjihad  membelanya, justru menumpuk uang di Dubai di perbankan Ribawi. Dan menggunakan rekening itu untuk membayar bill wanita escort. 


Robert Kiyosaki, penulis Rich Dad, Poor Dad, kalah di pengadilan, dia tidak memiliki cukup uang untuk membayar denda. Itu bukan hanya kebangkrutan pribadi, melainkan juga kebangkrutan perusahaan. Hitunglah berapa juta orang terpukau dengan pribadi Robert Kiyosaki dan menjadikan bukunya sebagai referensi. Dan mereka sukses. Tetapi justru Robert Kiyosaki bankrut. Dia sendiri tidak bisa belajar dari tulisan dia. 


Saya secara pribadi lebih suka berpikir lateral. Saya tidak patuh dengan referensi sains. Saya lebih suka belajar dari pengalaman pribadi dan orang lain. Dari sanalah saya bersikap menentukan pilihan. Kalaulah saya berpikir linear, tidak sulit saya jadi sarjana. Kalaulah saya berpikir linear engga mungkin saya punya nyali berbisnis di China dan menjadikan orang China yang tidak seiman sebagai proxy. Kalau saya berpikir linear engga mungkin saya menulis bertentangan dengan pemahaman radikalisme yang penuh dokrin.


Berpikir lateral itu ciri orang bebas dan merdeka. Dia menjadi dirinya sendiri. Namun sebaik baiknya berpikir lateral tentu anda harus punya wawasan cukup dari banyak membaca, bergaul,  berpikir terbuka dan juga piknik. Walau begitu bagi orang yang berpiki linier,  anda tetap akan dicap sebagai tukang ngayal. Biarin saja. Karena  menjadi tukang ngayal jauh lebih baik daripada menjadi follower buta. Kasihan denga ibu kita yang melahirkan kita, hanya untuk jadi follower orang lain.

Minggu, 21 Februari 2021

Politik Menuju 2024

 




Sjahrir adalah putra minang. Dia orangnya kecil. Tetapi nyalinya besar. Bukan sekedar nyali seperti preman. Nyalinya terukur sekali. Dia terpelajar. Lulus Master di Belanda. Kalau Soekarno dan Hatta berjuang diatas permukaan secara resmi mewakili kaum pergerakan. Tapi Sjahrir bergerak di bawah tanah.  Para teman teman Sjahrir adalah kaum kiri.  Seperti Chaerul Saleh, Sukarni, Aidit dan lain lain. Sejak era Belanda, Jepang berkuasa , mereka ini diburu oleh aparat hukum namun mereka selalu bisa lolos. Setelah proklamasi mereka juga jadi provokator menciptakan sosial terhadap kesultanan di Kalimantan dan Sumatera yang tidak mau bergabung dengan NKRI.


Sepulang Soekarno dan Hatta dari Vietnam bertemu dengan pemimpin militer tertinggi Jepang untuk kawasan Asia Tenggara, Marsekal Terauchi. Sjahrir datang menemui Sokarno dan Hatta. Terjadi perdebatan keras antara Soekarno dengan Sjahrir.  Saat itu Soekarno menolak untuk memproklamirkan Kemerdekaan. Sjahrir berujar keras menyudutkan Soekarno” Bung Pengecut”. 


Wikana dan Darwis yang ikut dalam rapat itu sempat mengeluarkan Golok. Saat itu juga Soekarno marah besar. "Inilah leherku, saudara boleh membunuh saya sekarang juga. Saya tidak bisa melepas tanggung jawab saya sebagai Ketua PPKI. Karena itu, saya akan tanyakan kepada wakil-wakil PPKI besok.”  Tapi Hatta bisa menengahi pertengkaran itu. Sjahrir akhirnya diam. Namun bukan berarti Sjahrir menerima alasan Hatta. 


Kekecewaan Sjahrir dengan Soekarno dan Hatta, disampaikannya kepada teman temannya, Chairul Saleh, Djohar Nur, Kusnandar, Subadio, Subianto, Margono, Wikrana, Armansjah, Sukarni, Jusuf Kunto, Singgih, dr. Muwardi dari Barisan Pelopor, dan lainnya.  Setelah itu Sjahrir pulang. Keesokannya, tepat pada pukul 04.30 dini hari tanggal 16 Agustus 1945, para pemuda itu bergerak. Mereka datangi rumah Soekarno dan Hatta. Sukarno bersama Fatmawati dan putra sulungnya, Guntur, serta Hatta dibawa mereka ke Rengasdengklok, kemudian ditempatkan di rumah seorang warga keturunan Tionghoa bernama Jiauw Ki Song. 


Sjahrir dengar kabar, teman temanya menculik Soekarno-Hatta. Sjahrir marah besar. “ Tolol kalian semua. Dua orang itu tidak bisa diancam dengan kekerasan. Bahkan seluruh pemuda di Indonesia tidak cukup untuk menekan mereka. “ Soekarno dipulangkan ke rumah. Besoknya tanggal 17 agustus, Soekarno dalam keadaan sakit malaria, dipaksa oleh para pemuda memproklamirkan kemerdekaan.” Nah kita sudah merdeka. Revolusi baru saja dimulai. “ Kata Soekarno lirih usai membacakan Proklamasi dan kembali ke kamar tidur.


Setelah proklamasi, perlawanan rakyat digerakan oleh jaringan pemuda militan se-nusantara. Aksi merebut senjata Jepang terjadi meluas. Seluruh elemen rakyat bergabung dalam komando perang. Menolak segala campur asing. Berkali kali terjadi perjanjian damai yang diawasi badan PBB. Apapun isi perjajian itu, rakyat pasti menolak apabila ada syarat menyertakan Belanda dan terpecahnya Indonesia.  Penolakan rakyat itu benar benar massive. Praktis pemerintah tidak punya reputasi dihadapan PBB. Butuh 5 tahun setelah proklamasi barulah ada pengakuan resmi international tentang kedaulatan Indonesia. Tapi 5 tahun terberat dengan korban nyawa tak terbilang.


Negeri ini diproklamirkan oleh bapak Bangsa. Tapi diperjuangkan oleh generasi pemberani yang sadar akan nilai nilai kehormatan yang harus dibela, walau nyawa taruhannya. Setelah itu sejarah mencatat. Sjahrir di penjara dan para pemuda pelopor yang tadinya berjuang, disingkirkan dari percaturan politik. Setelah itu,  Politik jadi pangalima. Oligarki politik terjadi. Bisik bisik dengan asing terjadi begitu mesranya. Tampa disadari hutan, tanah kita 90% dikuasai oleh pemodal asing.


Kini era reformasi. Mari kita lawan oligarki politik yang mengusung mereka yang terindikasi proxy asing. Tidak perlu pertaruhkan nyawa. Cukup datang ke bilik suara. Jangan pilih mereka.  Pilih yang pro rakyat saja. Andaikan semua capres/cawapres, tidak sesuai kehendak kita. Jangan pilih . Kalau diatas 50% suara gagal dengan jumlah pemilih diatas 50% maka dipastikan Presiden terpilih tidak legitimate secara hukum international. Kita pemilik negeri ini. Jangan gadaikan masa depan kepada oligarki politik pro asing. Lawan!


***

Sebelumnya babo sudah menulis di Blog tentang “ Pemikiran Yahudi Bapak Bangsa.” dan satu lagi “ Indonesia di bawah hegemoni AS’. Dua tulisan di blog ini saling terkait sebenarnya. Mengapa sampai AS ingin mengusai Indonesia, itu karena pemikiran yang berlandaskan kepada humanisme, namun sebetulnya pemikiran  tentang penguasaan sumber daya ekonomi Global tanpa disekat oleh politik. Dengan demikian secara sederhana dapat disimpulkan bahwa kalau kita bicara tentang AS bukan dalam arti itu sebuah Negara. Tetapi itu adalah keuatan konglemarasi financial, yang kebetulan markasnya ada di AS. 


Saya tidak akan bertele dengan teori konspirasi. Pasti jadi ruang debat. Saya hanya berpatokan kepada hukum besi. Bahwa Politic follow money. Money butuh sumber daya ekonomi. Dan sumber daya ekonomi butuh politik untuk melegitimasinya. Sederhana ? Ya. Tapi tidak ada yang lebih serius di dunia ini selain uang. Gerakan agama atau sosial di era sekarang. Tidak akan terjadi tanpa uang. Sampai disini paham ya.


Kembali kepada topik bahasan soal siapa capres 2024. Saya kelompokan tiga. Mengapa saya katakan kelompok? Karena mereka itu tidak berdiri sendiri. Ada partai pendukung yang akan menghelanya. Kelompok Pertama adalah Anies Baswedan. Kedua, Ridwan Kamil. Tiga, Sandi atau Eric Tohir atau Lufty. Tiga kelompok ini di rekomendasi oleh AS. Jadi semua partai menjadikan ini sebagai referensi kalau ingin aman. Tinggal sekarang diantara partai elus elus capres tersebut agar jadi bagian memenangkan pemilu.


Nah mari kita lihat peta kekuatan partai sekarang. Akan ada tiga peluang capres . 1 dari PDIP dan 2 Gerindra dan 3 Poros tengah. Poros Tengah inilah yang akan ditarik oleh PD. PD butuh 12,23 % dukungan korsi di DPR agar lolos presidential threshold (ambang batas suara yang bisa ikut nyapres). Dari mana dapatkan kursi itu ? Dari PKS ( 8,21%) dan PPP ( 4,52%). Dari dua partai itu PD sudah dapat ticket maju Capres. Tinggal cari siapa capres/wapresnya. Kemungkinan adalah Anies Basweda yang diambil.


PDIP tetap butuh 1 partai lagi untuk mendukung agar bisa lolos presidential threshold. Nah disinilah akan terjadi proses dinamika politik. Golkar, Nasdem, PKB jelas ingin bergain kepada PDIP. Mereka inginkan Wakil presiden. BIsa jadi Golkar dan PKB, inginkan Presiden. Kalau engga, mereka bisa nyebrang ke PD atau ke Gerindra. Pilihan yang mudah bagi PDIP adalah PAN. Nah kalau tidak ada titik temu, bisa jadi juga PAN dan Nasdem bergabung ke PD. Kalau koalisi terjadi. Kemungkinan PDIP akan mencalonkan Ganjar/Ridwan Kamil/ Sandi/Anies Baswedan.


Namun poros tengah ( PKS, PKB PAN, PPP) itu tidak mudah ditaklukan. Baik oleh PD maupun PDIP. Saat sekarang politisi senior yang masih dipercaya oleh mereka adalah JK. Kalau JK bersikap, Golkar kemungkinan akan ikut JK. Masalahnya apakah SBY bisa yakinkan JK atau Megawati bisa yakinkan JK? Siapa yang bisa yakinkan JK, dialah yang berpeluang maju dan dapat dipastikan Gerindra ( Prabowo) gagal maju. Karena kurang kuota presidential threshold. Nah apakah JK mau bantu gratis ? ya enggalah. Jadi calon hanya ada dua. Dari PDIP dan PD. Kembali Pilpres tahun 2004 terulang.


Jadi Pilpres tahun 2024 kemungkinan akan terjadi all US Man. Gimanapun kartu dikocok oleh Partai,  tetap aja nama Anies muncul. Harapan saya tinggal kepada PDIP. Kalau PDIP bisa mencalonkan sendiri kadernya tanpa nama yang terkait dengan rekomendasi AS, saya akan berada digaris depan mendukung dan berdoa. Tapi sampai sekarang Bu Mega diam saja. Jadi tidak tahu sikap PDIP sebenarnya.


***

Saya bisa maklum bila tahun menjelang 2024 intrik politik semakin kencang. Walau dipermukaan keliatan tenang. Namun dibawah arusnya sangat kencang sekali. Lebih kencang dari retorika dan pidato MRS. Mengapa? ini soal pertarungan politik untuk menentukan peta kekuatan paska Jokowi. Kalau pertarungan itu dalam kuridur konstitusi sebagai aturan main. Tidak ada masalah. Tetapi dalam politik, konstitusi juga adalah transaksional. Dalam proses itulah terjadi tarik menarik antar faksi. Adu kuat posisi tawar dalam kebijakan menentukan arah bandul politik.


Harus diakui sejak adanya Pandemi sekarang ini. Indonesia memang masih tergolong negara dengan ekonomi terbaik nomor lima didunia. Tapi karena besarnya mesin ekonomi, tentu besar juga fuel diperlukan. Yang jadi masalah Indonesia adalah kekuatan APBN ditopang oleh likuiditas pasar uang. Tahun 2021 ini pemerintah menghadapi soal likuiditas APBN karena BI menolak meneruskan burder sharing untuk membiayai defisit fiskal. BI pasti punya alasan kuat secara UU. 


Namun alasan ini juga tidak terjadi tanpa dukungan politik di DPR. Situasi ini membuat Jokowi tersudut. Bargin position melemah. Bayangkan, kalau tidak ada solusi karena Jokowi ngotot, APBN akan bolong. Amanah UU No. 1/2020 atas tanggung jawab terhadap Pandemi bisa berbalik mengancam posisi presiden. Karena engga ada uang dan dianggap gagal.  Disamping masalah likuiditas APBN. Sampai sekarang kekuatan BI menahan laju rupiah berkat dukungan dari the Fed lewat fasilitas Repo Line. Tanpa itu, rupiah kapan saja bisa dihajar oleh hedger pasar uang. Kalau rupiah terjun bebas, presiden bisa jatuh.


Di tengah situasi pasar uang mengering, defisit fiskal, ancaman hutang BUMN yang besar, harapan tertuju kepada LPI. Lagi lagi LPI itu kekuatannya berkat dukungan dari IDFC, AS bersama sekutunya. Tampa keterlibatan IDFC and Co sebagai investor LPI ,maka Indonesia menghadapi ancaman gagal bayar utang BUMN dan investasi infrastruktur akan stuck yang bisa berujung kepada anjloknya PDB. Indonesia akan menghadapi ancaman spiral crisis. Bukan karena engga ada aset tetapi engga ada cash.


Itulah sebabnya tahun lalu sikap Indonesia terhadap AS berubah. Tidak segarang awal Jokowi berkuasa. Pak LBP berkali kali datang ke Washinton bertemu dengan Trumps. Kapal perang AS bisa leluasa masuk perairan indonesia dengan alasan numpang lewat. Padahal itu cara AS menekan Indonesia  agar menerima draft kerjasama pertahanan di LCS, untuk menghadapi UU baru Cina berkaitan LCS. Kerjasama permanen itu hanya soal waktu. Pasti terjadi. Samahalnya kehendak AS agar kekuatan politk memberikan dukungan kepada proxynya di Indonesia jadi presiden tahun 2024, yang diantaranya adalah Anies.


Serara sistem kita sedang diobok obok AS dan itu karena sistem kita lemah menghadapi pendemi dan krisis ekonomi sekaligus. Itu semua karena biangnya adalah ketergantungan kita kepada pasar uang dan tidak bisa mandiri 100%. Para elite itu berpikir sederhana. Mereka tidak mau ambil resiko terlalu besar. Yang penting bagi mereka kekuasan tetap aman dan pesta terus terjadi.   Siapa yang mau jadi presiden terserah bohir aja. Mereka siap mendukung. 


Situasi ini hanya satu yang bisa menyelamatkan? apa itu? Bila rakyat bersatu memilih orang baik jadi presiden. Lawan oligarki politik itu dengan semangat persatuan. Kenalilah peta politk tahun 2024 dengan cerdas. Kenalilah siapa itu proxy asing dan siapa itu benar benar proxy rakyat. Semoga paham ya sayang

Minggu, 07 Februari 2021

Pak Kwik yang saya hormati

 



Semoga pak Kwik masih ingat tahun 2000 bapak termasuk team creator mengubah sistem APBN kita dari T accont ke I account. Ini standard Government Finance Statistic. Uang tidak lagi berarti money tapi finance atau dana. Uang bukan lagi politik dalam konsesus bisik bisik seperti era Soeharto. Tetapi ia sudah menjadi standard dunia , yang bisa di ukur dan dianalisa oleh siapapun. Jadi lebih transfarance. Kita sudah say goodbye dengan sistem ekonomi jadul. Kita masuk era demokratisasi ekonomi secara real. Bukankah itu yang selalu bapak dengungkan di era awal reformasi.  Itu buah karya PDIP sebagai partai pemenang pemilu 1999. 


Saya mengulang ingatan tentang mindset uang ( money )  era Orba. Money dasarnya adalah kebijakan moneter pemerintah. Bank sentral hanya sebagai kasir.  Karena uang berasal dari kebijakan negara maka cara mensuplai uang pun diatur oleh negara. Gimana caranya ? Lewat project program melalui APBN dan perbankan. Peran pemerintah benar benar sebagai penyedia dana. Gimana kalau bank tidak cukup uang? ya negara pinjam uang ke Negara lain atau lembaga multilateral. Gimana kalau engga cukup juga dan engga ada yang beri utang? Ya pemerintah cetak uang. Jadi dalam pengertian ini, uang dalah juga politik negara. Kontrol pasar tidak ada. Apalagi rakyat tidak punya hak kotrol. Sehingga KKN adalah juga bagian dari politik uang demi melancarkan rezim.


Dengan adanya financial engineering yang berkembang ditahun 90an dan mencapai puncaknya tahun tahun 2000an, khususnya setelah adanya lberalisasi pasar uang dan investasi dalam kuridor WTO, maka munculah istilah finance. Apa itu finance ? Dana itu bukan hanya uang. Tetapi juga termasuk kemampuan berhutang lewat pasar uang seperti penerbitan SUN atau SBN atau Global bond. Gampang? Ya engga.  Kemampuan berhutang itu diukur dari fundamental ekonomi yang terkait dengan indikator rasio utang terhadap PDB. Tingkat premium CDS, jumlah devisa negara, dll. Artinya bukan lagi politik ukurannya. Tetapi benar benar pasar. 


Artinya, semakin sehat fundamental ekonomi negara semakin besar kemampuan mendapatkan utang dan tentu semakin kuat dia secara financial. Gimana bayar bunga dan cicilan utang. Apakah negara harus jual aset atau mengandalkan pendapatan pajak rakyat. Ya engga perlu. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara, pemerintah bisa menerbitkan SUN untuk bayar utang dan bunga. Dan dalam kondisi keuangan negara sehat, negara bisa melakukan refinancing. Jadi itu hanya permainan akuntasi negara. Debit dan kredit saja. Yang penting utang bukan untuk konsumsi tapi investasi dan produksi.


Memang kurangnya literasi keuangan, sekarang banyak orang berpikir uang adalah money bukan dana atau finance. Berhutang berarti memindahkan atau menggadaikan aset negara dengan cash 70% dari harga pasar. Artinya kalau anda pinjam uang ke bank 100 harus punya colateral 130%. Makanya hutang jadi hantu menakutkan. Hutang jadi paranoid. Sarjana takut berhutang. Ya karena mindset tidak berubah. Padahal dunia sudah berubah. Maafkan saya kalau ada kata yang salah. Salam hormat saya untuk bapak. Doa saya selalu untuk bapak.

Sabtu, 30 Januari 2021

SARA, dalam dimensi



Di Indonesia ini setelah ada era internet dan sosial media, semua orang begitu mudah diketahui sikap hidupnya, termasuk soal Politik. Dan itu sah saja. Apalagi kita menerapkan sistem demokrasi liberal. Selagi tidak menyinggung SARA, orang tidak dihukum karena perbedaan pemikirannya. Karenanya opini dalam hal sudut pandang menjadi ajang perang literasi. Itu bagus. Saling mencerdaskan dan mengkoreksi. Karena itu demokrasi jadi hidup dan bernilai. 


Namun kadang tanpa disadari perang literasi yang menjebaknya kemasalah SARA. Apa itu SARA?  adalah akronim dari Suku Ras Agama dan Antar golongan. SARA adalah pandangan ataupun tindakan yang didasari dengan pikiran sentimen mengenai identitas diri yang menyangkut keturunan, agama, kebangsaan atau kesukuan dan golongan. Yang digolongkan sebagai sebuah tindakan SARA adalah segala macam bentuk tindakan baik itu verbal maupun nonverbal yang didasarkan pada pandangan sentimen tentang identitas diri atau golongan.


Agar bisa paham dalam literasi. SARA dapat digolongkan menjadi tiga kategori, yakni, Pertama, Individual. Di mana tindakan SARA dilakukan oleh individu atau golongan dengan tindakan yang bersifat menyerang, melecehkan, mendiskriminasi, atau menghina golongan lainnya. Kedua, Institusional. Tindakan ini merupakan tindakan yang dilakukan oleh institusi atau pemerintah melalui aturan atau kebijakan yang bersifat diskriminatif bagi suatu golongan. Dalam hal ini negara sudah mengaturnya dalam UU HAM Ketiga, Kultural. SARA yang dikatagorikan di sini adalah tindakan penyebaran tradisi atau ide-ide yang bersifat diskriminatif antar golongan.


Masalah SARA itu sangat serius. Bisa menghancurkan persatuan dan kesatuan. Terjadinya konflik horisontal. Untuk menghindari ini ada hukum yang harus dipatuhi, yaitu UU 40/2008 tentang tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.  UU ITE mengatur tentang ujaran kebencian dan fitnah dan KUHP, UU 1/1946. Artinya ? siapapun salah besikap, masuk penjara.


Bagaimana terhindar dari ancaman pidana terhadap pelanggaran UU berkaitan dengan SARA?  Focus sajalah kepada perang literasi. Contoh ada pendapat orang di sosial media yang menurut anda salah. Ya respon dengan cerdas. Perkaya pengetahuan dalam berliterasi. Sehingga, anda bertambah cerdas, orang yang membaca bisa juga ikutan cerdas. Kuncinya? jangan focus dengan personal orang yang berbicara atau penulisnya,  tetapi focus esensi yang dia sampaikan. Mengapa ?  Secara personal orang itu dilindungi oleh UU HAM atas kebebasan berbicara dan berpendapat. 


Jadi apapun agama, suku dan ras atau golongannya, dia berhak berbicara dan berpendapat. Berbeda dengan mereka jangan liat personalnya tetapi sikapnya. Mungkin orang yang anda tuju tidak bisa menerima literasi anda. Ya engga apa apa. Toh tujuan literasi  dalam sosial media bukan terarah kepada dia saja. Tetapi kepada orang lain yang mau dicerahkan. Pada akhirnya yang menang, bukan lagi orang perorang atau golongan atau suku atau agama, tetapi akal sehat. Kebenaran menemukan jalannya sendiri.  Itulah nilai demokrasi. 


SARA dan politik.

Saya panggil Florence dengan sebutan “ Ubi” Itu mengarah kepada kulitnya yang putih. Walau dia etnis tionghoa, putihnya dia berbeda. Lebih putih. Dengan saya sebut itu, saya bersatire tentag kekurangan dia dan etnis dia. Apakah dia marah? engga. Dia juga paggil saya dengan sebutan “ padang jelek” Sebutan itu menyerang pribadi saya dan suku saya. Apakah saya tersinggung? engga. Kami menikmati perbedaan itu dan kami tetap bersahabat diatas perbedaan suku, etnis dan agama. Udah lebih 30 tahun persahabatan kami. Dari remaja sampai ubanan.


Saya bergaul dengan berbagai etnis di China. Ada teman saya orang Iran. Dia syiah. Dia sering bilang kesaya “ Enakan saya. Bisa nikah mut’ah. Udah selesai, cerai. Kasihan aja sunny harus repot punya istri banyak untuk sunah rasul. “ Saya tidak marah. Saya anggap itu perbedaan tanpa harus membuat persahabatan saya rusak. Buktinya waktu saya sholat di rumahnya, dia malah minta saya jadi Imam dan dia mak’mun.


Ada teman di China, kalau saya sehabis sholat dia candain saya “ Tadi saya barusa dapat telp dari Tuhan. Dia sibuk engga ada waktu ladenin kamu sembah dia. “ Saya senyum saja. Tetapi pernah saya travelling ke Hunnan bersama dia. Di tengah jalan darat, saya tanya tempat sholat dan buka puasa. Dia paling sibuk mendatangi rumah penduduk agar saya bisa sholat. Setelah sholat, pemilik rumah hidangkan makanan untuk saya buka puasa.


Bertahun tahun sejak sebelum kemerdekaan sampai Orla kita tidak pernah ada istilah SARA. Kejahatan SARA terbesar ya Soeharto. Dia  melakukan diskriminasi secara politik lewat uu dan aturan kepada Etnis China dan eks keluarga PKI. Tahun 1999 UU HAM dikeluarkan. Namun soal SARA jadi masalah besar. Terutama sejak ada politik identitas. Terjadi perang antara agama di Ambon. Antar suku di Jakarta. Nah barulah tahun 2008 keluar Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.


Masalah  SARA mengemuka lebih terkait dengan masalah politik. Orang indonesia itu secara personal tidak pernah pusing dengan perbedaan Suku, Agama, Ras, antar golongan. Mengapa? di masyarakat kita banyak terjadi pernikahan antar agama, suku, ras dan golongan yang berbeda. Jadi perbedaan itu hanya jadi bahan lucu lucuan saja. Bangsa ini kaya humor. Misal, saya sering ditanya oleh nitizen soal Abu janda. Saya katakan jangan benci secara personal. Focus kepada esensi tulisan dan tayangan youtube nya. Walau hanya sekali ngobrol langsung dengan Abu janda, saya tahu dia orang yang suka becanda dan engga punya bakat membenci orang secara personal.


Mas Arya ( Abu Janda)

Suatu waktu saya diminta datang pada acara dialogh forum kebangsaan. Acara diselenggarakan di Makam Pahlawan Kalibata. Sebelum acara dimulai saya diajak oleh panitia ke ruangan untuk para undangan khusus. Di dalam ruangan itu ada Mas  Sumanto al Qurtuby, Bu Sukmawati Soekarno putri, Mas Enha, Mas Eko Kuntadhi, Mas Permadi Arya ( Abu Janda). Walau sebentar bincang bincang dengan Mas Arya, saya bisa cepat tahu bahwa dia memang punya selera humor. Dia tidak punya bakat membenci siapapun. 


Beberapa postingan dan video nya sering saya terima lewat WAG. Narasi dan gaya bicaranya disesuaikan dengan target siapa yang di tuju. Misal dia berpolemik dengan Ustad Tengku Zul, dia gunakan gaya bicara orang semutera. Terkesan kasar tetapi bagi orang sumatera itu biasa saja. Dia memang kreatif sekali membuat konten. Dia militan sekali berpolemik dengan pengusung khilafah dan kaum radikalisme.


Kecintaannya kepada Jokowi itu engga becanda. Semua tahu, betapa brutalnya kebencian kaum oposisi kepada Jokowi. Dia hadapi dengan berani. Dia tulus. Kenapa saya simpulkan dia tulus? Dia bukan politisi. Bukan pimpinan ormas atau pengurus ormas islam. Dia juga tidak tergabung dalam aktifis resmi pendukung Jokowi. Dia independent. Arya sama dengan mayoritas pemilih Jokowi yang inginkan indonesia bersih dari kaum intoleran dan radikalisme.


Kini karena issue  SARA dia dilaporkan ke Polisi oleh KNPI dalam kasus “ Islam Arogan “ dan   Natalius Pigai dalam kasus rasis.  PB Ansor, NU, dan Muhammadiyah buang badan. Mereka minta Arya untuk belajar agama lagi. Bahkan ibu Susi mantan Menteri Jokowi juga minta umat islam unfollow Arya. Suka tidak suka,  kasus Arya ini ada aroma politik. Arya bukan siapa siapa. Apalah dia bila dibandingkan KNPI dan Pigai pejabat Negara anggota Komnas HAM.


Saya berharap kasus Arya ini ditempatkan dalam kuridor hukum. Ini ujian kepada Pak Sigit, Kapolri yang baru. Sebaiknya MUI, dan Ormas islam , Parpol jangan lagi bersuara atas kasus ini. Mari sama sama hormati proses hukum. Karena, ingat walau Arya bukan siapa siapa, tetapi kasus Arya sudah jadi  berita nasional. Rakyat memperhatikan kasus ini. Saya yakin Pak Jokowi ingin semua pihak menghormati proses hukum. 



Jumat, 22 Januari 2021

Pemimpin lahir karena situasi.

 



Banyak orang bilang bahwa politik itu menentukan siapa yang akan berkuasa. Saya tidak percaya. Saya tetap percaya bahwa kekuasaan itu berasal dari Tuhan. Ada prinsip philsafat yang mudah dipahami. Anda tahu? Warnanya orange. Rasanya manis. Tapi apa yang terjadi kalau anda tidak punya perasa? tidak punya mata. Masihkah jeruk itu berwarna orange dan rasanya manis.? Ya engga.  Apa artinya? orange dan manis itu hanya konsepsi dan persepsi kita saja. Sejatinya, ada pada lidah dan mata. Namun lidah dan mata, itu menterjemahkan jadi persepsi karena informasi yang ada diotak kita.  Namun, otak  atau pikiran kita bergerak tidak begitu saja. Ada kekuatan yang membuat itu terjadi. Sampai disini berhenti bahasan akal. Itulah eksistensi Tuhan.


Politik dan kekuasaan sama saja.  Waktu membuat teks proklamasi dan Hatta minta semua peserta ikut tandan tangani. Namun semua peserta rapat engga mau. Mereka serahkan kepada Soekarno Hatta yang teken. Apa pasal? Mereka engga berani. Situasi ketika teks proklamasi disusun kita dapat ancaman dari penguasa perang Jepang. Setelah itu, Soekaro jadi presiden tak tergantikan sampai ia dilengserkan lewat peristiwa G30S PKI. Andai Soekarno tidak berani teken. Mungkin kita tidak pernah merdeka. Andaikan ada yang lain ikut teken, belum tentu Soekarno jadi presiden. Tuhan ciptakan situasi, selanjutnya proses politik terjadi dengan sendirinya.


Soekarno jatuh, tetapi bandul politik bukan kepada senior TNI tetapi justru kepada Soeharto. Jenderal low grade. Tidak seperti Jenderal Nasution. Mengapa? situasi politik inginkan TNI terlibat. Saat itu orang udah muak dengan konplik politik antar golongan di era Orla. Sementara pembangunan ekonomi terabaikan. Butuh militer mempersatukan. Walau Nasution lebih senior, semua tahu bahwa Nasution Jenderal yang politisi. Engga netral. Andaikan tidak ada konplik antara golongan dan Nasution tidak masuk ke Politik , mungkin Soeharto tidak pernah jadi presiden. Yang jadi presiden adalah Nasution.


Ketika Soeharto jatuh, proses konstitusi memberikan peluang kepada Habibie sebagai presiden. Tetapi usai pemilu 1999 kehendak berlaku lain. Kekuasaan jatuh kepada Gus Dur. Mengapa ? karena kekuatan islam yang walau terpecah namun akhirnya bersatu dalam poros tengah.  Itu karena PDIP tampil sebagai pemenang Pemilu. Kekuatan politik islam punya dendam politik kepada Soekarno yang pernah bubarkan Masyumi. Andaikan yang menang Golkar dalam Pemilu, belum tentu Gus Dur jadi presiden. Andaikan PAN yang dipimpin tokoh reformasi Amin Rais yang menang pemilu,  Gus Dur tidak akan jadi presiden. Gus Dur tampil karena situasional. Sama juga bila akhirnya Megawati jadi presiden, karena situasional. Dan itu peran Tuhan.


SBY tampil sebagai pemenang pilpres langsung. Itu juga karena situasi politik akibat kegalauan kekuatan politik islam tampilnya dinasti Soekarno dipanggung kekuasaan. Itu jadi pemicu menjadikan pigur TNI sebagai Pemimpin.  Andaikan tidak ada krisis wallstreet dan indonesia masuk dalam putaran krisis anggaran dan defisit primer, tidak mungkin Jokowi dicalonkan sebagai Presiden. Andaikan situasi makro ekonomi sehat, tidak mungkin Jokowi jadi presiden. Andaikan semua elite politik punya nyali sebagi negarawan menhadapi krisis, tidak mungkin Jokowi dicalonkan sebagai presiden. 


Jadi situasi krisis itu adalah eksitensi Tuhan lahirnya pemimpin sesuai dengan tantangan zaman. Ketika pemimpin terpilih maka hukum Tuhan (sunnatullah ) berlaku. Naik karena Tuhan, jatuhpun  karena Tuhan. Sama seperti hukum gravitasi sebagia pemicu terciptanya semesta. Hidup memang berproses. Peradaban tidak dibangun dalam semalam. Baik dan buruk selalu bersanding. Semua hanya senda gurau saja. Pada akhirnya kita semua akan kembali ke Tuhan dalam keadaan telanjang. Tanpa idiologi, agama dan golongan. Hanya kita dan Tuhan saja. Paham ya sayang.

Rabu, 13 Januari 2021

Tuhan dalam perspektif cinta.


Ketika kali pertama Muhammad SAW menyampaikan risalah tentang tauhid, tidak ada benturan perbedaan dengan kaum qurais yang ada di makkah. Mengapa? masyarakat Makkah terutama kaum Yahudi dan Nasrani sudah mengetahui jauh sebelumnya konsepsi tentang Tauhid. Itu tidak ada perbedaan sebagaimana agama yang diimani Muhammad sebelum diangkat sebagai Rasul. Walau ada kaum qurais yang menyembah berhala (pagan), itupun tidak ada pertentangan dengan mereka. Karena konsepsi tentang Tuhan, tentang superioritas Tuhan tidak ada perbedaan dengan apa yang disampaikan oleh Muhammad. 


Tetapi menjadi lain ketika Nabi memperkenalkan konsepsi tentang  sosial dan  budaya atau bahasa mesranya : akhlak. Nah saat itulah terjadi benturan. Nabi memperkenalkan nilai nilai egaliter. Bahwa di hadapan Tuhan manusia itu sama, kecuali ketaqwaannya. Nabi menentang perbudakan. Nabi menghormati kaum wanita. Padahal saat itu budaya feodal sedang mengakar dalam kehidupan masarakat. Orang dihargai karena harta dan tahtanya. Orang lemah dan wanita dijadikan budak. Bahkan mereka malu kalau punya anak perempuan. Setiap pria punya istri lebih dari satu.


Walau Nabi lahir dari kaum bangsawan Qurais, namun tidak membuat beliau merasa rendah bila bersikap egaliter. Beliau membebaskan budak dan dijadikannya sebagai anggota keluarganya. Istri yang dinikahinya Chadijah lebih tua darinya. Namun rasa hormatnya kepada istrinya tidak berkurang. Selama istrinya masih hidup, beliau tidak tergoda untuk menikah lagi. Padahal budaya Arab ketika itu kehormatan pria apabila banyak memecahkan perawan wanita dan dijadikan istri.


Sikap egaliter itu menjadi bagian dari mindset agama yang beliau perkenalkan. Ketika islam mencapi puncak kejayaan, beliau menjauh dari kemewawahan dunia. Beliau menghargai demokrasi dan suka bermusawarah. Tidak memaksakan kehendak kepada siapapun termasuk yang bukan beragama islam. Mengapa ? Karena Allah memang mendidiknya begitu ( Qs al-An’am : 108). “ Aku diutus ALlah untuk mempebaiki Akhlak.” Bahwa missi beliau bukanlah mengislamkan atau memaksa orang pindah agama, tetapi memperbaiki akhlak manusia. Manusia yang egaliter. Yang besar hanya Allah.


Revolusi dan benturan kelas terjadi di dunia ini selalu berhubungan dengan perubahan akhlak atau mindset anti feodalisme yang dibungkus agama. Apakah setelah revolusi dimenangkan oleh kaum egaliter lantas orang membenci agama. Tidak!. Agama tetap diimani dalam dimensi akhlak, bukan lagi politik. Artinya agama kembali kepada prinsip ajarannya, bahwa yang besar dan benar itu hanya Tuhan. Selanjutnya eksistensi Tuhan dimanifestasikan dalam kehidupan cinta bagi semua. Agama atau idiologi bukan lagi hal esensial tetapi hanya metodelogi untuk mengaktualkan cinta itu.


***

Ada ungkapan bijak dari orang China “ Kalau kamu ingin bahagia sebentar, makanlah yang enak. Kalau kamu ingin bahagia setahun, menikahlah. Kalau kamu ingiin bahagia selamanya, dapatkanlah uang” Sekilas kalau anda perhatikan kalimat ini, terkesan orang China itu gila uang. Mentuhankan uang. Tetapi kalau anda resapi kalimat itu dengan cermat,  anda akan terkejut. Itu cara China satire tentang persepsi uang sebagai berhala. Mengapa ? Uang dicari untuk makan dan keluarga. Tetapi itu tidak membuat anda bahagia selamanya. Lantas apa artinya uang? ya tidak ada artinya uang itu. Singkatnya hidup ini fana. Tidak ada yang abadi selain Tuhan.


Dalam kehidupan ini, pemahaman agama justru menciptakan orang mudah memberhalakan apa saja. Walau agama hanya mengenal Tuhan, namun ada banyak tuhan selain Allah. Kalau kita membaca kitab suci, kita mentuhankan Nabi. Padahal dia hanya messenger. Tuhan bukan Nabi. Itu juga terjadi dalam kehidupan sosial. Tokoh agama sudah jadi berhala. Di follow oleh orang banyak tanpa ada keberanian mengkritisinya. Lebih jauh lagi, harta sudah jadi berhala pula. Batasan moral ditabrak demi harta. Tahta juga jadi berhala. Apapun dilakukan termasuk memanifulasi agama demi kekuasaan.


Lebih luas lagi, kita masuk dalam dimensi logo  atau simbol tuhan. Ia sudah menjadi produk kapitalis. Baju kalau tidak bermerek, kendaraan kalau engga mewah, rumah kalau tidak di kawasan real estate, serasa kurang iman.. Bukan itu saja. Orang dengan pakaian gamis sudah dianggap soleh dan suci. Patut di follow. Orang berpakaian modern dianggap bergengsi. Pakaianpun sudah jadi  berhala baru. Tanpa disadari kita punya fantasi tentang Tuhan baru, yaitu materialisme. Nama kitabnya kapitalisme.


Apa yang terjadi? kita semakin jadi jauh dari Tuhan Yang Maha Besar. Rumah mewah, tetapi sepi. Lebih banyak tinggal di luar rumah. Mobil mewah, yang menikmati supir. Harta dan tahta dicari seakan ingin hidup selamanya. Hasilnya harta habis untuk berobat agar terhindar dari kematian. Toh akhirnya mati juga. Banyak makan agar sehat. hasilnya malah penyakitan. Agama diagungkan. Tapi lihat perempuan seksi, emosi. Lihat patung tensi. Lihat pocong lari. Kan paradox.


Semua agama mengajarkan tentang kesederhanaan. Itu bukan sekedar penampilan. Tetapi juga dalam pikiran. Agama hebat, Bukan tokohnya, tapi pahami ajarannya. Kapitalisme hebat, bukan pemikiranya, tetapi pahami spirit berproduksinya. Rumah, pakaian, kendaraan penting , tapi pahami manfaat dan fungsinya saja. Negara hebat, bukan idiologinya tapi spirit persatuannya. Selebihnya hanya Tuhan yang maha besar dan benar. Jadikan itu awal dan akhir dalam  berpikir dan bersikap. Dan tetap istiqamah walau harus berdamai dengan realita. 


Fenomena Buzzer.

  Waktu revolusi kebudayaan di China, semua simbol pemikiran dokrin terhadap feodalisme dihancurkan oleh rakyat jelata. Tempat ibadah yang m...