Sabtu, 03 Desember 2022

How Democracies Die.




Saya membaca buku How Democracies Die. Itu saya baca tahun lalu. Buku itu biasa saja. Mengapa? Karena ditulis sebagai tesis atas fenomenan kepemimpinan Trumps. Namun karena penulisnya adalah Steven Levitsky and Daniel Ziblatt, keduanya adalah profesor Harvard, terkesan sangat kaya wawasan. Mereka melengkapi tesisnya atas dasar studi terhadap kerusakan demokrasi di seluruh abad 20 da 21. Seperti pemerintahan Jenderal Augusto Pinochet di Chili , Presiden Recip Erdogan, di Turki, di Brasil, Filipina, hingga Venezuela. Buku itu memberikan arahan bagaimana menyelamatkan demokrasi dari ancaman akibat kepemimpinan yang otoriter dan sekaligus memperbaiki proses demokrasi.


Namun buku itu tidak membahas tentang demokrasi di Indonesia. Yang dijadikan contoh adalah Fenomena pemimpin 'diktator' yang menang lewat pemilu, seperti terjadi di Peru, Polandia, Turki, Rusia, Sri Lanka, dan Ukraina sebagai dasar studi. Lantas, bagaimana kematian demokrasi itu bisa terjadi? Dalam buku ini dijelaskan bahwa kematian demokrasi bisa terjadi justru ketika kaum demagog ('provokator') ekstremis dibawa masuk ke dalam arus utama perpolitikan. Mengapa ? karena mereka anti norma demokrasi.


Konteks di negara mayoritas islam, terjadi pelemahan demokrasi oleh kekuatan primordial, yang memanfaatkan politik identitas untuk memprovokasi masyarakat melawan pemerintah yang terpilih secara demokratis. Itulah yang terjadi di Indonesia. Lihatlah pidato MRS dan HTI, bagaimana mereka mentertawakan proses politik yang harus tunduk dengan UU dan hukum. Yang dikawatirkan, kalau Pemilu dimenangkan lewat politik identitas, maka yang muncul adalah pemimpin yang otoritarian theokrasi anti demokrasi.


Nah kalau terjadi pembiaran terhadap kekuatan primordial yang demagog hanya masalah waktu Indonesia akan amburadul. Itu bisa dilihat bagaimana keadaan DKI. Anies menang Pilgub lewat politik identitas. Dia hanya focus kepada golonganya dan membayar politisi agar memuluskan agendanya menyuburkan keberadaan kaum demagog.  Yang terkesan dalam konteks demokrasi adalah pembangkangan sipil.


Saya tidak menyalahkan agama sebagai penyebab melemahnya demokrasi. Agama itu suci. Yang jadi masalah ketika agama dipolitisir maka ia sangat mudah melahirkan kaum demagog. Saya lebih suka kalau ingin agama sebagai jalan perjuangan, maka tirulah jalan sufi. Yaitu jalan cinta. Berpolitik karena cinta. Hargai perbedaan. Hormati konsesus ( Hukum dan UU ) yang dibuat bersama sebagai ujud nilai akhlak. Utamakan keadilan. Tetapi keadilan yang proporsional.

Banyak orang berkata, "Dia jahat, tetapi engkau dapat menghindarinya.” Tuhan berkata kepadamu, "Dia jahat, tetapi engkau dapat mengubahnya." Caranya? Jangan berjarak tapi bersedekatlah, maafkan dan lupakan, perbaruilah. “


Jumat, 02 Desember 2022

Tiga lembaga mengatur dunia.

 


Di blog about business saya sudah menulis tentang “  indonesia kalah di WTO. “ Saran saya walau kita kalah di panel WTO, Dispute Settlement Body. Ya biarin aja. Engga usah panik. Presiden kan hanya melaksanakan amanah UU Minerba. Walau kita kalah ditingkat banding, ya biarin aja. Toh pemerintah tidak bisa mengubah UU minerba tanpa persetujuan DPR. Tolong juga, kalau Presidennya jagoan, jangan sampai DPR nya ayam sayur. UU Minerba diubah sesuai maunya WTO.

***

Buku Unholy Trinity: The IMF, World Bank and WTO , ditulis oleh Richard Peet dan timnya : Beate Born, Mia Davis, Kendra Fehrer, Matthew Feinstein, “Steve Feldman,” Sahar Rahman Khan, Mazen Labban, Kristin McArdle, Ciro Marcano, Lisa Meierotto, Daniel Niles, Thomas Ponniah, Marion C. Schmidt, Guido Schwarz , Josephine Shagwert, Michael P. Staton, dan Samuel Stratton. Sebagai referensi tentang IMF, WB, WTO,  buku ini lumayan memadai. Karena diulas dari faktor sejarah berdirinya, idealisme nya dan sampai eksistensi dalam mempengaruhi terbentuknya tetanan dunia baru setelah perang dunia kedua.  Anda akan diajak berwisata ke masa lalu untuk memahami latar belakang lahirnya idea dan paradox dari adanya Globalisme dan neoliberalisme. 


Dari liberalisme ke Keynesianisme - neoliberalisme, hegemoni dan wacana kebijakan, kontra-hegemoni. Juga sejarah Bretton Woods - munculnya rezim ekonomi global - konteks politik-ekonomi, wacana ekonomi, AS - dari isolasi ke hegemoni global, konferensi, ratifikasi, formalisasi dominasi. Faktanya  bahwa ketiga lembaga tersebut memainkan peran yang sangat berbeda dari idealisme awal berdirinya.


Idealisme nya bahwa Bank Dunia beroperasi seperti bank yang menawarkan pinjaman dan hibah kepada negara-negara berkembang. Tujuannya adalah untuk mengurangi kemiskinan dunia. Tujuan IMF adalah stabilitas sistem moneter dan keuangan dunia. Berbeda dengan bank dunia yang juga banyak bekerja sama dengan negara maju, ia adalah bagian dari sistem PBB. Kedua organisasi ini berkaitan dengan kepentingan AS. Kantor pusatnya aja berdekatan di Washington DC.  


WTO  memang berbeda dengan badan PBB lainnya. WTO secara teknis bukan bagian dari PBB, dan merupakan salah satu dari banyak organisasi multilateral yang berbasis di Jenewa, seperti WHO, Kongres Meteorologi Dunia, dll. WTO awalnya adalah GATT ( General agreement on tarrifs and trade).   Sebagai organisasi perdagangan dunia, fokusnya pada perdagangan, walau belakangan berkembang ke sektor pariwisata dan investment. Di bawah naungannya, negara-negara anggota menegosiasikan kesepakatan dalam rangka  mendukung program globalisasi .


Satu kesamaan antara Bank Dunia, IMF, dan WTO adalah bahwa mereka memiliki negara anggota yang kira-kira sama. Mereka juga mengumpulkan data dan statistik serta menerbitkan laporan ekonomi yang harus dipercaya dan valid sebagai dasar membuat kebijakan negara.  Ketiga lembaga itu di isi oleh para ahli berbagai disiplin ilmu, terutama ekonomi. Mereka dibayar mahal dengan anggaran melimpah. Tujuanya adalah melahirkan pemikiran dan ide-ide yang berwawasan, menggunakan jenis representasi simbolik tertentu- yang bahkan istilah Gramscian 'akal sehat' tidak cukup-.


Sehingga setiap wacana, gagasan dari ketiga lembaga itu memaksa negara anggota bersikap NATO ( No Alternatif To Objection),  engga ada pilihan untuk menolak. Memang  penjajahah lewat pemikiran yang sistematis dan kelembagaan. Kenapa kita takut dan harus patuh? Kita negara berdaulat kok.  Lawan! 

Kamis, 01 Desember 2022

Politik identitas ?

 




Bapak pendiri bangsa kita sebagian besar adalah tokoh agama dan agamais. Baik dari golongan islam maupun non islam. Namun mayoritas dari tokoh islam, seperti Ki Bagus Hadikusumo , Kasman Singodimedjo, Abdul Kahar Muzakir  KH. Masjkur, KH. Abdul Wahid Hasyim, Agus Salim, Muhammad Hatta, dan lain lain. Mereka bukan kaleng kaleng atau hanya sekedar ulama pada satu mahzhab saja. Mereka intelektual yang memahami semua hal idiologi kontemporer. Mereka sangat menguasai semua referensi hubungan antara agama dan negara. 


Kalau sampai akhirnya mereka berlabuh kepada Pancasila, itulah buah karya jenial yang menembus ruang dan waktu. Bahwa negara Indonesia tidak didirikan berdasarkan idiologi sekular seperti Komunisme, sosialisme, kapitalisme, fasisme dan lain sebagainya. Tetapi berdiri diatas teologi islam. Relasi antara agama dan Negara  dalam konteks ketuhanan, keadilan, persatuan, musawarah, kemanusiaan, dilihat dari perspetif Islam. Nah dengan Pancasila, sebenarnya para pendiri negara kita bukan hanya mempersatukan yang berbeda agama tapi juga mempersatukan umat islam yang berbeda aliran.


Nazih Ayubi dalam bukunya Political Islam,Religion and Politics in the Arab World, berusaha merekam Politik islam dalam konteks Dunia Arab. Kita bisa menemukan ruh dari Pancasila.  Lahirnya  golongan dalam islam, Partisipatif, Kondisionalis, dan Penolak ( islam fundamentalisme, radikalisme)’ dalam sistem demokrasi, seperti yang digambarkan oleh Kamran Bokhari & Farid Senzai dalam buku Political Islam in the Age of Democratization, tidak lain  disebabkan oleh kegagalan memahami islam dan Politik. 


Sejalan dengan itu , Jocelyne Cesari, dalam bukunya What is Political Islam? juga mengindikasikan adanya kegagalan memahami politik dan islam. Rekamanya atas ketidakpuasan yang ditimbulkan oleh partai-partai Islam di berbagai negara pasca revolusi Iran pada tahun 1979 dan kegagalan revolusi Arab Spring yang di Mesir pada tahun 2013,  telah menyebabkan politik Islam meredup. “ Dunia sedang menyaksikan kegagalan Islam politik. Bahwa kita hidup di era pasca-Islamis, dengan relevansi Islam politik yang menurun. “ Kata Olivier Roy pengamat Harvard.


Cesari, memaparkan analisis struktural dan historis Islam politik sejalan dengan argumen Ayubi tentang hubungan historis antara Islam dan politik sebagai upaya konsesus bersama lahirnya konstitusi. Sama seperti pemikiran NU, bahwa politik itu adalah kebudayaan. Politik itu masalah muamalah. Kata Nabi, “ Antum a'lamu bi umuri dunyakum, Kalian lebih mengerti dengan urusan dunia kalian.” Antara agama dan budaya saling melengkapi, bukan saling menghabisi. Ya sama dengan Pancasila.


Nah akhirnya sampailah kita pada kesimpulan ala pedagang sempak. Bahwa berdasarkan prinsip teologi islam, tidak ada alasan untuk kesalahpahaman terhadap sistem negara apapun. Politik hanya metodelogi mencapai tujuan kesempurnaan iman di hadapan Tuhan, bukan tujuan. Sama halnya dengan Pancasila. Jadi politik identitas itu memang pemikiran gagal dan terbelakang.

Kamis, 10 November 2022

Gemar Membaca

 



Sejak remaja saya sudah gemar membaca. Mentor saya membaca adalah ibu saya sendiri. Saya termasuk anak yang lemah otak. Berkat kesabaran ibu saya, saya bisa mengerti pentingnya membaca dan yang lebih penting lagi, ibu saya bisa memotifasi saya untuk gemar membaca. Caranya gimana ?


Pertama, waktu anak anak saya diberi ibu saya buku komik dari kumpulan cerita andersen. Awalnya suka lihat gambarnya dan akhirnya suka membaca. Dari hobi baca komik ini, masuk ABG saya mulai tertarik baca novel remaja. Saya mulai  suka baca cerita bersambung di koran. Itu setiap hari saya tunggu. Dengan itu saya jadi biasa dan gemar membaca.


Kedua, nah ketika SMA saya sudah mulai gemar membaca novel fiksi. Tetapi saya sulit memahami. Usai baca novel saya tidak punya kesan apapun. Ibu saya nasehati saya “ novel fiksi sains  itu diambil dari ilmu pengetahuan. Kamu harus pahami prinsip dasar pengetahuan itu. Misal soal kehidupan ruang angkasa. Kamu harus pahami apa itu luar angkasa, apa itu energi,  apa itu ruang dan apa itu waktu. Itu aja.  Caranya? Baca buku fisika dasar. Disitu kamu paham prinsip ilmu itu untuk menghidupkan suasana emosi kamu saat membaca novel fiksi sains. Cobalah. Pasti asik. Benar. Ternyata dengan saya tahu prinsip sains nya, membaca novel fiksi jadi lebih bergairah. Nah prinsip ini membuat saya sadar bahwa sesuatu itu menarik minat karena kita punya dasar pengetahuan. Kalau engga, buku tebal jadi membosankan. Samahalnya, walau semua orang suka uang tapi kan tidak semua orang punya dasar pengetahuan tentang uang. Makanya wajar kalau tulisan tentang ekonomi dan bisnis saya kurang diminati nitizen.


Ketiga, saat SMA saya suka baca buku agama koleksi punya ibu saya. Tetapi saya bingung memahaminya. Disamping sebagian besar tulisan Arab gundul, dan penyampaiannya sangat rumit. Ibu saya mencerahkan saya. Kalau kamu ingin tahu sumber ilmu, kamu harus kuasai bahasa asal sumber ilmu itu. Bahasa adalah obor kamu berjalan ditempat gelap. Nah kalau kamu paham bahasa maka prinsip membaca harus dipahami. Kamu harus tahu kerangka berpikir. Semua penulis mengikuti prinsip itu. Apa itu ? Ya kamu harus bisa bedakan apa itu ajaran tauhid dan apa itu dalil atau teologi. Agama apapun punya prinsip seperti itu. Kalau kamu tidak bisa bedakan apa itu tauhid dan teologi. Kamu akan terjebak dalam kebingungan. Tauhid itu berdasarkan wahyu. Itu tidak bisa didebat. Di debat ya iman rusak. Tapi dalil? Itu adalah teori atau tafsir. Itu belum tentu benar. Karena bagaimanapun, dalil tetaplah opini manusia yang bisa saja salah. Dan opini berkembang karena waktu dan zaman. Jadi engga perlu diimani tapi cukup dipahami saja untuk memperkuat iman.


Nah atas dasar tiga hal tersebut  membaca menjadi hal yang mengasikan.  Saya tercerahkan. Dari pemahaman sederhana tentang definisi uang, saya bisa kuasi ilmu financial engineering. Dari definisi hukum permintaan penawaran, membuat saya mudah memahami makro ekonomi. Dari pengetahuan dasar sosiologi, saya bisa memahami ilmu politik dan rekayasa sosial. Dari pemahaman dasar agama, saya bisa cerdas belajar ilmu beragama.  Dari pemahaman ilmu filsafat, semua ilmu mudah saya cerna. Sedikitnya setiap minggu saya tamat membaca satu buku


Rabu, 09 November 2022

Ilusi uang




Everything you know about the Great Recession is wrong. It wasn’t caused by greedy bankers or by deregulation, not by a housing bubble, and not even by the Federal Reserve’s easy money policy, which wasn’t easy.  Itu yang tersirat pada buku Scott Sumner yang berjudul The Money Illusion: Market Monetarism, the Great Recession, and the Future of Monetary Policy.


Dia mengklaim bahwa sistem pasar aset ( saham dan obligasi ) yang ada sekarang sudah established dan efisien. So, crash pasar saham tidak menyebabkan resesi; gelembung perumahan di tahun 2000-an bukanlah gelembung perumahan. Wajar saja kalau Summer tidak punya teman banyak. Umumnya ekonom juga berpikir politis, dan selalu ada excuse terhadap setiap krisis. Dari tulisannya saya perhatikan bahwa dia penganut mahzab hukum demand and supply.


Tapi yang jelas dia bukan Keynesian yang berhaluan kiri secara eksklusif dengan fokus pada gov spending, atau seorang penganut supply uang yang condong ke kanan yang berfokus pada crowding out atau disinsentif pemerintah untuk bekerja. Tepatnya dia penganut Keynesian Baru dan hipotesis pasar yang efisien (Chicago School) dan secara pragmatis membangun teorinya dengan kedua komponen tersebut.


Skandal Lehman berdampak luas terjadinya krisis financial. Perbankan terseret gagal bayar utang. Negara juga terancam gagal bayar utang. Solusinya ? negara memompa uang berbungan murah ke pasar lewat kebjakan QE. Apa yang terjadi? pasar modal yang bubble. Uang mengalir ke sektor moneter lewat pasar uang dan modal. Justru paradox terhadap pertumbuhan itu sendiri. Mengapa ? pelonggaran moneter bukan solusi. Akar masalahnya ada pada imbalance economy, ketimpangan antar sektor real dan moneter. Jadi solusinya ? reformasi lembaga non bank dan perbankan.


Para ekonom sepakat bahwa untuk memerangi inflasi adalah dengan kenaikan suku bunga. Itu cara efektik menarik uang beredar agar tercapai keseimbangan baru. Faktanya apa yang terjadi dengan kebijakan itu ? Orang males investasi dan konsumsi karena suku bunga tinggi. Yang punya uang mending deposito aja. Yang mau utang bank, nanti saja. Paradox terhada pertumbuhan !Mengapa ? Penyebabnya adalah kegagalan mendistribusikan uang untuk terjadinya proses produksi dan jasa secara adil. Jadi solusinya adalah reformasi sektor produksi dan jasa agar lebih adil dan massive. 


Sebenarnya semua teori ekonomi baik yang klasik maupun modern, tidak ada yang salah. Sama halnya tidak ada agama yang salah. Lantas apanya yang salah? Ya salah adalah pelaksana teori itu. Dari perspektif saya pedagang sempak, Summer sebenarnya ingin mengatakan secara vulgar “ Uang itu ilusi. Yang fakta adalah produksi dan setelah itu berbagilah lewat sistem ekonomi dengan . semangat sinergi dan kolaborasi. Persepsi semacam itulah yang ingin disampaikan summer dalam bukunya.


Entah butuh beberapa dekade bagi ekonomi untuk belajar dari masa lalu, dari kehancuran pasar saham dan kegagalan bank,  merosotnya PDB akibat resesi. Bahwa akar malasah dari semua hal tentang ekonomi, rakus ! Solusinya berhentilah rakus.


Jumat, 04 November 2022

Demokrasi : Hanya sekedar Komoditas.

 




Democracy for Sale: Dark Money and Dirty Politics, by Peter Geoghegan, published by Head of Zeus. Menurut buku ini. Selalu alasan pembenaran pentingnya demokrasi adalah agar tidak terulang lagi kekuasaan seperti Hitler, Mussolini, Stalin. Mereka adalah Icon kegagalan kekuasaan anti demokrasi. Kebetulan AS sebagai pemenang perang dunia kedua. Memaksakan agar demokrasi sebagai jalan menuju era baru dunia yang damai dan menghormati kebebasan. Namun yang jadi masalah setelah sekian dekade. Terbukti Demokrasi memang tidak pernah mundur namun gagal maju. 


Mengapa ?


Jawabannya, ada tiga. 


Pertama. Peran korporat dalam sistem politik sangat dominan menentukan arah bandul. Maklum korporat  lewat pajak menanggung  anggaran nasional lebih dari 80%. Walau korporat  hanya segelintir namun ia menanggung beban sosial dan ekonomi negara. Itu  sudah berlangsung sejak tahun 1970.  Sulit membantah bahwa oligarki bisnis itu kukunya mencengkeram batang leher elite. 


Kedua. Peran uang haram atau uang gelap atau uang rente yang masuk kedalam sistem politik. Panetrasi uang rente ini luar biasa sehingga membuat demokrasi hanya sebatas prosedur formal saja. Kenyataannya pemerintah bekerja untuk kepentingan rente saja. Yang  miris, uang rente itu sulit dilacak pajaknya. Mereka dilindungi oleh elite politik.


Ketiga. Transformasi media massa ke  ekosistem informasi yang terstruktur sehingga informasi bisa di-create sesuai kehendak modal dan pasar.  Akibatnya kebenaran yang menjadi nilai nilai demokrasi tidak menjadi bagian dari proses pendidikan politik. Makanya jangan kaget bila orang yang tak jelas reputasinya bisa jadi anggota DPR dan kepala daerah. Bahkan jenderal gagal engga malu untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Dan selalu ada yang pilih.


Tiga hal tesebut diatas, juga ditulis oleh Lawrence Lessig dalam bukunya, Republic, Lost, dan Dark Money. Lessig menjelaskan bagaimana sekelompok miliarder telah membentuk dan memutarbalikkan politik Amerika. Dan di Inggris, studi penting Martin Moore, Democracy Hacked , menunjukkan bagaimana, hanya dalam satu siklus pemilu, pemerintah otoriter, elit kaya, dan peretas pinggiran menemukan cara untuk mempermainkan pemilu, melewati proses demokrasi, dan mengubah jejaring sosial menjadi medan perang.


Buku ini tidak berbasis teori kuat. Landasan berpikirnya lebih kepada telaah fakta. Jadi lebih tepatnya laporan kompulsif bagaimana praktek demokrasi yang ganas dan culas. Sehingga banyak UU tidak lagi dibuat sesuai dengan nilai nilai demokrasi tentang keadilan. Rakyat kehilangan kecerdasan politik akibat informasi yang bias. 


Media massa  menjadi virus yang ganas menyesatkan orang berpikir. Sosial media membuat orang lonely ditengah keramaian dan jadi budak influencer yang mengemas konten ambigu. Selalu membesar besarkan hal omong kosong seperti idiologi dan agama. Sangat sedikit membahas silent skandal dari kalangan korporat dan elite poltiik. Ogah membahas mind corruption.  Padahal silent skandal dan mind corruption ini lebih jahat dari teroris. Karena ia semakin memperlemah pemerintah dalam melaksanakan fungsi  sosial dan keadilan. Dampak buruknya sangat sistematis. Jadi, demokrasi itu paradox . Anti persatuan dan mudah terpolarisasi namun rakyat yang kritis tak berdaya berhadapan dengan tuduh anti demokrasi


Misteri modal

 




Adalah buku karya dari Hernando de Soto. Ia Ekonom Peru. Tulisannya dipengaruhi oleh  kapitalisme dan neoliberal dari Milton Friedman, Friedrich Haye, Bruno Leoni. Dia sebenarnya mencoba membela kapitalisme secara sosialisme. Tak hendak mencela kapitalisme tapi mengajak orang memahami kapitalisme sebagai sebuah value demokrasi terhadap keadilan bagi semua. Itu sebabnya dia mendirikan the Institute for Liberty and Democracy.


Saya tidak terpelajar namun De Soto bisa memberikan cahaya kepada saya yang hanya tamatan SMA tentang misteri “ kok ada perbedaan kaya dan miskin” Dia membantu saya menyibak rahasia tentang modal. Dan dia menjadikan saya bisa memahami bagaimana harus survival dan berhenti mengeluh atas keadaan saya yang miskin dan orang lain yang kaya. Buku Mystery of capital ini seakan menjadi cahaya terang melewati lorong sunyi. 


Oh ternyata, modal dalam dimensi kapitalisme, bukan sekedar kepemilikan atau property tetapi value. Value itu di create oleh Negara lewat legitimasi. Dari legitimasi inilah harta akan beranak pinak berkembang tanpa batas. Sehingga siapa yang bisa menguasai legitimasi negara atas modal maka dia semakin cepat berkembang. Siapa yang tidak memahami peran legitimasi negara, maka dia akan tersingkir dan terlupapakan oleh modal.


Dahulu kala harta adalah sebidang tanah dan kumpulan ternak. Dari harta itu orang hidup menghidupi dirinya. Namun belakangan karena manusia semakin bertambah dan kebutuhan semakin meningkat maka kompetisi terbentuk. Harta tidak lagi diartikan ujud phisiknya. Tapi harta telah berubah menjadi selembar document yang dilegitimasi oleh negara. Selembar dokumen itu berkembang menjadi derivative asset bila dilampirkan dengan seperangkat izin ini dan itu.


Kemudian bila dokumen itu dilampirkan dalam project feasibility study maka jadilah ia akses meraih modal. Bukan dijual tapi digadaikan. Uang itu berputar untuk kegiatan ekonomi dan menghasilkan laba untuk kemudian digunakan membeli harta lagi. Ini disebut dengan nilai reproduksi capital atau project derivative value. Harta tidak lagi berdasarkan harga perolehan tapi nilainya menjadi imajiner tergantung future dari financial analysis.


Maka jadilah Harta dalam lembaran dokumen bernama Saham ( stock). Negara semakin memberikan akses kepada harta itu untuk berkembang tak ternilai melalui pasar modal. Bukan hanya di lantai bursa, tapi juga dipasar uang. Dokument Saham dijual sebagian dan sebagian lagi digadaikan dalam bentuk REPO maupun penerbitan obligasi. Disamping itu akses permodalan conventional lewat bank terus digali agar harta terus berlipat lewat penguasaan kegiatan ekonomi dari hulu sampai ke hilir.


Kapital dapat mereproduksi dirinya sendiri. Bahwa harta bukanlah ujudnya tapi apa yang tertulis. Dan lebih dalam lagi adalah harta adalah value. Itu hanya mungkin dapat dicapai apabila dalam bentuk dokumen perizinan ini dan itu. Inilah akar masalah kenapa terjadi perbedaan antara negara modern dan negara terbelakang. Perbedaan antara orang kaya dan orang miskin. Adalah perbedaan mendapatkan akses perizinan. Mind corruption, menjadikan perizinan untuk memperkaya diri. Akses hanya bisa didapat oleh mereka yang mampu menyuap? Itulah sumber dari ketidak adilan terhadap sumber daya.


How Democracies Die.

Saya membaca buku How Democracies Die. Itu saya baca tahun lalu. Buku itu biasa saja. Mengapa? Karena ditulis sebagai tesis atas fenomenan k...