Senin, 13 Juni 2022

Politik sandera.

 





Pada periode 2014-2019, ketua DPR didapat oleh Golkar, SN. Walau prosesnya sangat panas. Tetapi akhirnya SN lolos. Saya dengar kabar LBP terlibat membantu lobi agar SN terpilih. Tapi pertengahan 2015, SN dinyatakan melanggar etik karena menghadiri kampanye Pilpres AS bersama Fadli Zon. Kemudian Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan SN ke MKD. Ada rekaman. SN meminta saham Freeport sebesar 20 persen dan meminta jatah 49 persen saham proyek PLTA Urumuka, Papua. Dia mencatut nama Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla. Jokowi marah besar.


Posisi SN sebagai Ketua DPR resmi digantikan Ade Komarudin per 11 Januari 2016. Namun tidak sampai satu tahun, Ade Komarudin ditarik dari Pimpinan DPR pada November 2016 oleh partainya, Golkar. Posisi Ketua DPR kembali dijabat oleh SN lagi. Mengapa? sepertinya ada upaya kudeta konstitusi yang ingin menyandera Presiden lewat UU. Ada agenda besar yang ingin mereka loloskan jadi UU di DPR. Benarlah. Pada Juli 2017, SN kembali meninggalkan kursi Ketua DPR karena terjerat kasus korupsi proyek pengadaan E-KTP digantikan oleh BS.


SN sebenarnya pegang bara merah. Dia tahu tersandera tapi dia juga orang bisnis. Dia juga pegang kartu elite yang memojokannya. Dia berusaha memainkan kartunya itu. Tetapi karena begitu banyak kartu yang dia pegang. Akhirnya dia dikroyok ramai ramai. Terjadi sikap kolektif diantara elite.  Kompak habisi SN. Bahkan putrinya juga diseret ke dalam kasus. Itulah akhirnya membuat SN lemah dan menyerah. Begitulah  politik dan bisnis saling menyandera. Sulit dapatkan pemimpin yang idealis. Kecuali memang dia tidak pernah bersentuhan dengan pemerintah sebelumnya.


Politik  di Indonesia ini, selalu ingin agar Pemimpin itu adalah mereka yang terkena kasus, atau setidaknya mudah menimbulkan intrik. Makanya pada periode kedua, PDIP sebagai pimpinan koalisi berhak menentukan Cawapres. Walau Jokowi sudah meminta agar Mahfud MD sebagai Cawapres dan Megawati diam saja. Namun Last to minute. Megawati membuat keputusan bahwa cawapres adalah Ma’ruf Amin. Itu bukan berarti Mahfud MD tersandera kasus. Tetapi Megawati tentu tahu intrik yang akan timbul kalau sampai dia jadi Wapres. Dan setelah itu menunjuk Puan sebagai Ketua DPR, yang pasti tidak tersandera kasus.


Kalau mau jujur, capres yang masuk radar lembaga survey sebagian besar adalah mereka yang pernah tersangkut kasus.  Engga sulit untuk tahu apa dan siapa saja mereka itu. Silahkan google aja. Bukan berarti kasusnya sudah selesai dan aman aman saja. Kasus mereka disandera. Agar apa? kalau dia berkuasa, maka kasus itulah yang akan menjerat dia. Sehingga dia akan patuh mengikuti perintah oligarki bisnis. 


PDIP tidak perlu pusing dengan  hasil suvey menjelang pengumuman paslon Pilpres. Karena mereka sudah dapat boarding pass untuk mencalonkan sendiri tanpa perlu koalisi. Pasti calon dari PDIP adalah yang tidak tersandera kasus. Agar agenda PDIP bisa jalan tanpa tersandera pihak lain. Tapi partai lain perlu koalisi. Dan itu pasti calonnya adalah mereka yang tersandera kasus. Buruk laku, memang.


Minggu, 05 Juni 2022

Trade off

 



Trade off itu kalau diterjemahkan secara bebas dalam bahasa kampung saya, berarti tarik ulur. Contoh, anda mau kecepatan mobil tinggi, ya anda harus pastikan skill Driver hebat. Kalau engga, siap resiko kecelakaan. Kalau skill drive kurang ya kurangi kecepatan agar kecelakaan tidak terjadi.. Memberi dan menerima , itu perbuatan. Tetapi tidak semua take and give itu mendatangkan manfaat. Kadang salah satu dirugikan dan dikecewakan tanpa dapat manfaat apapun. Itu bukan trade off. Karena kalau trade off,  walau harus take and give, dia lakukan dengan smart.


Dalam ilmu menagement, kalau anda membuat keputusan. Pasti tidak mungkin sempurna. Mengapa? Anda hasus korbankan hal tertentu agar tujuan tercapai. Nah anda harus menimbang untung rugi. Mungkin saja secara quantitive lebih besar ruginya tetapi secara qualitatif menguntungkan. Silahkan tentukan pilihan. Apapun pilihan tidak ada yang sempurna. Itulah trade off.


Dalam kehidupan sehari hari. Punya istri pemberang. Itu jelas tidak nyaman. Pasti bikin pening. Tetapi karena anda menerima tanpa pernah membentak atau memukulnya,  secara kejiwaan istri merasa nyaman hidup bersama anda. Dia merasa secure. Dampaknya ? Dia akan setia dan selalu bisa menerima dan mengerti anda. Dia akan terus berkorban untuk anda. Jadi engga mungkin istri ujuk ujuk mau berkorban begitu saja, apalagi hanya karena retorika agama doang. Itulah trade off.


Tentu istri  tidak nyaman dengan kedekatan anda dengan mitra bisnis wanita anda. Wajar kan. Pasti dia kawatir suami selingkuh. Tetapi dia bisa menerima itu karena Anda serahkan semua aset atas nama dia. Itulah trade off yang terus berlangsung dari waktu ke waktu. Selalu antara istri dan suami melakukan  trade off. Tarik ulur. 


Dengan mitra bisnis juga sama. Kalau anda membuat keputusan yang akan merugikan dia, pastikan dia akan dapat manfaat lain. Sama juga. Anda bisa saja korbankan sumber daya untuk kepentingan mitra anda. Tetapi pastikan  anda dapatkan manfaat lain. Dan mitra anda mau. Kalau engga, ya untuk apa deal terjadi. Antara anda dan mitra selalu melakukan trade off. Hanya itu membuat hubungan bisa langgeng. 


Kehidupan ini tidak ada yang sempurna. Plato mengatakan satu sama dengan nol. Dua sama dengan satu. Anda tidak bisa hidup sendiri tanpa dukungan orang lain. Dan itu hanya bisa terjadi apabila keduanya punya kemauan melakukan trade off, yang terus berlangsung sepanjang usia. Yang bisa tarik ulur ( trade off ) itu hanya mereka yang cerdas. Orang bego engga bisa. Mengapa? Kegedean ego dan gaya


Standar normatif

 



Dalam kehidupan sehari hari, kita bersikap tergantung pengetahuan dan pengalaman kita sendiri. Kalau kebanyakan kita bersikap dengan standar normatif, ya wajar saja. Tetapi hukum normatif bagaimanapun tidak bisa digeneralisir. Karena pengalaman dan pengetahuan orang kan berbeda, beda pula standar normatif nya. Orang Bali melihat wanita jalan pakai sempak doang. Biasa saja. Tetapi bagi daerah lain pastilah persepsinya buruk “ Itu wanita merendahkan dirinya dan memancing sahwat pria. Dosa besar”


Makanya standar normatif itu tidak bisa dijadikan hukum. Misal, ada wanita dan pria satu kamar. Mereka bukan pasangan resmi. Pastilah dianggap sudah terjadi hal amoral. Itu persepsi bagi sebagian orang. Tetapi dalam hukum islam standarnya engga begitu. Harus ada empat orang minimal yang menyaksikan perzinahan itu. Kalau hanya melihat mereka masuk kamar. Tidak bisa hukum zina diterapkan. Dalam hukum pidana. Harus ada bukti cairan sperma di seprei. Kalau tidak ada. Tidak bisa di hukum. Orang berduan lain jenis di kamar tidak melanggar hukum. Makanya panti pijat pemerintah izinkan.


Bagi sebagian orang islam, kalau wanita tidak pakai jilbab itu persepsinya negatif. Kan tidak bisa orang di hukum tidak pakai jilbab. Bagi sebagian orang melihat pria islam menggunakan baju gamis dan wanita pakai burka. Persepsinya negatif. Mereka radikalis dan bisa saja masuk jaringan teroris. Itu saya rasakan di luar negeri sikap orang non muslim. Tetapi aparat hukum tidak bisa melarang orang mengenakan pakaian  dan pemikiran sesuai agamanya.


Begitu banyak standar normatif yang dijejalkan kepada kita. Baik dalam konteks agama ataupun konteks moral. Tanpa kecerdasaan spiritual dan intelektual, kita bisa saja jadi hakim terhadap sikap orang lain. Tanpa disadari, telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan bagi orang lain. Itu akhlak rendah. Mengapa? bisa merusak hubungan. Bisa menimpulkan fitnah. Tuduh orang lain kafir, pendosa, tidak bermoral. Padahal itu hanya persepsi anda saja sesuai standar normatif yang anda pahami.


Makanya selagi tidak merugikan anda, dan itu masalah privasi, engga usah disikapi sendiri. Kalau tak paham, diam saja. Soal benar atau tidak, itu urusan dia dengan Tuhan. Engga usah kepoan seakan ingin jadi moralis. Kalau anda merasa dirugikan, biarkan pengadilan yang memutuskan. 


Mengapa? banyak terjadi rusaknya hubungan suami istri karena persepsi dan standar normatif yang dipaksakan oleh salah satu pasangan. Rusaknya persahabatan juga karena tidak bisa bijak bersikap. Maunya standar seperti anda mau. Ya bubar lah. Kalau engga ya temannya hanya sebatas itu itu saja. Gimana bisa luas rezeki. Kalau teman terbatas. Rusaknya persatuan bangsa, karena kita memaksakan persepsi kita seperti standar kita sendiri.


How Democracies Die.

Saya membaca buku How Democracies Die. Itu saya baca tahun lalu. Buku itu biasa saja. Mengapa? Karena ditulis sebagai tesis atas fenomenan k...