Minggu, 05 Juni 2022

Standar normatif

 



Dalam kehidupan sehari hari, kita bersikap tergantung pengetahuan dan pengalaman kita sendiri. Kalau kebanyakan kita bersikap dengan standar normatif, ya wajar saja. Tetapi hukum normatif bagaimanapun tidak bisa digeneralisir. Karena pengalaman dan pengetahuan orang kan berbeda, beda pula standar normatif nya. Orang Bali melihat wanita jalan pakai sempak doang. Biasa saja. Tetapi bagi daerah lain pastilah persepsinya buruk “ Itu wanita merendahkan dirinya dan memancing sahwat pria. Dosa besar”


Makanya standar normatif itu tidak bisa dijadikan hukum. Misal, ada wanita dan pria satu kamar. Mereka bukan pasangan resmi. Pastilah dianggap sudah terjadi hal amoral. Itu persepsi bagi sebagian orang. Tetapi dalam hukum islam standarnya engga begitu. Harus ada empat orang minimal yang menyaksikan perzinahan itu. Kalau hanya melihat mereka masuk kamar. Tidak bisa hukum zina diterapkan. Dalam hukum pidana. Harus ada bukti cairan sperma di seprei. Kalau tidak ada. Tidak bisa di hukum. Orang berduan lain jenis di kamar tidak melanggar hukum. Makanya panti pijat pemerintah izinkan.


Bagi sebagian orang islam, kalau wanita tidak pakai jilbab itu persepsinya negatif. Kan tidak bisa orang di hukum tidak pakai jilbab. Bagi sebagian orang melihat pria islam menggunakan baju gamis dan wanita pakai burka. Persepsinya negatif. Mereka radikalis dan bisa saja masuk jaringan teroris. Itu saya rasakan di luar negeri sikap orang non muslim. Tetapi aparat hukum tidak bisa melarang orang mengenakan pakaian  dan pemikiran sesuai agamanya.


Begitu banyak standar normatif yang dijejalkan kepada kita. Baik dalam konteks agama ataupun konteks moral. Tanpa kecerdasaan spiritual dan intelektual, kita bisa saja jadi hakim terhadap sikap orang lain. Tanpa disadari, telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan bagi orang lain. Itu akhlak rendah. Mengapa? bisa merusak hubungan. Bisa menimpulkan fitnah. Tuduh orang lain kafir, pendosa, tidak bermoral. Padahal itu hanya persepsi anda saja sesuai standar normatif yang anda pahami.


Makanya selagi tidak merugikan anda, dan itu masalah privasi, engga usah disikapi sendiri. Kalau tak paham, diam saja. Soal benar atau tidak, itu urusan dia dengan Tuhan. Engga usah kepoan seakan ingin jadi moralis. Kalau anda merasa dirugikan, biarkan pengadilan yang memutuskan. 


Mengapa? banyak terjadi rusaknya hubungan suami istri karena persepsi dan standar normatif yang dipaksakan oleh salah satu pasangan. Rusaknya persahabatan juga karena tidak bisa bijak bersikap. Maunya standar seperti anda mau. Ya bubar lah. Kalau engga ya temannya hanya sebatas itu itu saja. Gimana bisa luas rezeki. Kalau teman terbatas. Rusaknya persatuan bangsa, karena kita memaksakan persepsi kita seperti standar kita sendiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

How Democracies Die.

Saya membaca buku How Democracies Die. Itu saya baca tahun lalu. Buku itu biasa saja. Mengapa? Karena ditulis sebagai tesis atas fenomenan k...