Jumat, 26 Februari 2021

Fenomena Buzzer.

 



Waktu revolusi kebudayaan di China, semua simbol pemikiran dokrin terhadap feodalisme dihancurkan oleh rakyat jelata. Tempat ibadah yang mentereng berubah fungsi jadi tempat kegiatan sosial. Sekolah barat dihacurkan. Buku buku barat dibakar. Para cerdik pandai digiring ke kamp kerja paksa. Para tuan tanah dibunuh oleh pengadilan jalanan. Singkatnya, saat itu, kalau ada orang difitnah sebagai orang pintar soal agama, atau soal kapitalisme, itu artinya kematian baginya. 25 juta orang mati selama revolusi kebudayaan. China lama yang akrab dengan feodalisme benar benar hancur. 


Apakah Mao salah dengan revolusi yang terkesan konyol itu? pemikir barat dan orang luar jelas menyimpulkan itu adalah kebodohan yang pernah dibuat seorang pemimpin semacam Mao. Tetapi ada orang lupa. Bagaimana mungkin setelah Mao meningggal dan Deng melakukan reformasi ekonomi, China bisa bergerak cepat sekali mengejar ketertinggalan dari negara lain. Bahkan kini China memimpin perubahan dibidang sains dan ekonomi dunia. 


Sementara sekularisme yang memicu revolusi Perancis, justru jauh tertinggal dari China. Bukan itu saja. Negara yang berlandaskan agama juga sama.  Semakin terjajah secara ekonomi dan tak pernah bisa lepas dari hegemoni asing atau tidak pernah mandiri secara politik maupun sains. Lantas apa yang berbeda dari China? Ya, Sumber daya manusia yang dipersiapkan oleh Mao. Revolusi kebudayaan memang membuat ekonomi China terpuruk. Tetapi Mao berhasil membuat 90% orang China melek baca.  Saya katakan “ melek baca” karena rakyat tidak lagi terkurung dalam berpikir linier, dalam dimensi agama maupun sekularisme. 


“Mau kucing hitam atau merah yang penting bisa tankap tikus. Mau kapitalis atau sosialis, yang penting bisa produksi.” Demikian kata Deng yang terkenal itu. Apapun pemikiran itu hebat kalau bisa membuat orang mandiri dalam berproduksi untuk kehormatan diri dan keluarganya. Jadi focus rakyat China sangat sederhana. Kalau kapitalisme itu bagus untuk bersaing, ya kita pakai. Kalau sosialis komunis itu bagus untuk disitrbusi barang dan jasa, ya kita pakai. Kalau agama itu bagus untuk kita menjadi orang baik ya kita pakai. Yang baik diambil, yang buruk dibuang. Dari semua itulah lahir kebudayaan baru, yang transformatif, inovatif dan visioner.


Kehebatan China dalam memilih mana yang baik dan buruk itu, berkat budaya lateral yang dibangun selama revolusi kebudayaan. Walau selama revolusi kebudayaan para sarjana banyak yang mati, namun rakyat jelata semakin cerdas. Mereka cerdas  membaca situasi yang berkembang. Hebat memahami, memproses dan mengevaluasi setiap informasi yang datang. Jadi praktis mereka tidak bisa lagi dijadikan domba oleh tokoh agama. Tidak mudah jadi korban Ponzy. Tidak mudah jadi korban populisme. Tidak mudah jadi korban politik. 


Ektrimnya, rakyat China anggap diluar dirinya nothing. Yang ada hanya dirinya saja. “Kalau bokek, jangan salahkan siapa siapa. Itu karena saya bodoh.” Maka lahirlah masyarakat egaliter. “ Kamu pejabat, tokoh agama, profesor, emang gua pikirin. Kecuali kamu bisa buktikan karena kamu hidup saya lebih baik. Kalau engga, lebih baik menjauh dari saya. Sekaya atau sepintar apapun kamu, bukan urusan saya. “ 


Deng buktikan itu dengan fenomena kemajuan Shejiang. Sebelum liberalisasi ekonomi Deng, Hangzhou ( ibu kota provinsi Zhejiang)   adalah contoh kemampuan  kebebasan berpikir.  Daerah ini sangat sedikit sekali mendapatkan anggaran dari Pusat dan hampir tidak mungkin untuk menciptakan pertumbuhan. Namun rakyat yang ada di Zhejiang bangkit dengan kemampuan kemandirian. Apa yang terjadi kini? Hangzou menjadi kota terbaik dan paling mandiri dari segi anggaran pusat. Paling maju dari segi Sains. Dan menjadi model pengelolaan wilayah di seluruh China.

Ketidak sukaan elite politik kepada buzzer karena mereka tidak ingin ada paham egaliter yang berkembang dari adanya sosial media. Kamu tokoh agama atau politisi atawa gubernur,  emang gua pikirin. Menurut gua salah, ya gua serang. Siapapun elo. Suka suka gua. Ape loe ape loe..Seharusnya berkembangnya paham egaliter ini bisa mengubah cara berpikir tokoh agama dan  politik.  Ubahlah diri. Kalau engga, gua kasihan aja lue pada jadi bahan ketawaan orang banyak.

Kamis, 25 Februari 2021

Berpikir linier atau lateral.

 




Kalau ada wanita cantik dekat dengan anda. Pasti orang berpikir bahwa itu berpotensi terjadi perbuatan amoral. Kalau ada wanita berpakaian terbuka atau tidak pakai jilbab, pasti ada yang berpikir wanita itu mengundang sahwat. Kalau ada orang kaya hidupnya sederhana, itu bohong. Kalau ada penguasa seperti Jokowi hidup sederhana, itu dianggap pencitraan. Kalau ada pejabat yang bersih pasti bohong. Dan banyak lagi hukum sebab akibat yang menjadi landasan orang berpikir secara linier. Sehingga kesimpulan yang dia buat terkesan normatif dan ilmiah atau logika. Karena ada bukti empiris yang mendukungnya.


Tanpa disadari karakter terbentuk lewat pemikiran linier itu. Anda tidak aka bisa memahami kalau banyak kedekatan orang dengan wanita cantik tidak berujung ke tempat tidur atau perzinaan.  Itu hanya sebatas persahabatan. Anda tidak akan paham, kalau banyak wanita berjilbab standar moralnya lebih buruk dari orang tanpa jilbab. Anda tidak akan pahami kalau banyak orang kaya hidupnya sederhana. Sulit bagi anda memahami banyak pemimpin yang hidup sederhana. Dan lain sebagainya. Dari ketidak pahaman itu tanpa disadari anda menjadi hakim terhadap orang lain. Namun pada waktu bersamaan anda membelenggu diri anda sendiri.


Dari berpikir linier ini orang cenderung jadi follower pemikiran orang lain. Yang lebih konyol lagi adalah dia menjadikan penulis atau pemikir itu sebagai panutan. Padahal antara tulisan dan penulis dua sisi yang jauh sekali berbeda. Keynes bapak Ekonomi kapitalis yang moralis, ternyata dia seorang gay. Pentolan ISIS yang mengundang orang berjihad  membelanya, justru menumpuk uang di Dubai di perbankan Ribawi. Dan menggunakan rekening itu untuk membayar bill wanita escort. 


Robert Kiyosaki, penulis Rich Dad, Poor Dad, kalah di pengadilan, dia tidak memiliki cukup uang untuk membayar denda. Itu bukan hanya kebangkrutan pribadi, melainkan juga kebangkrutan perusahaan. Hitunglah berapa juta orang terpukau dengan pribadi Robert Kiyosaki dan menjadikan bukunya sebagai referensi. Dan mereka sukses. Tetapi justru Robert Kiyosaki bankrut. Dia sendiri tidak bisa belajar dari tulisan dia. 


Saya secara pribadi lebih suka berpikir lateral. Saya tidak patuh dengan referensi sains. Saya lebih suka belajar dari pengalaman pribadi dan orang lain. Dari sanalah saya bersikap menentukan pilihan. Kalaulah saya berpikir linear, tidak sulit saya jadi sarjana. Kalaulah saya berpikir linear engga mungkin saya punya nyali berbisnis di China dan menjadikan orang China yang tidak seiman sebagai proxy. Kalau saya berpikir linear engga mungkin saya menulis bertentangan dengan pemahaman radikalisme yang penuh dokrin.


Berpikir lateral itu ciri orang bebas dan merdeka. Dia menjadi dirinya sendiri. Namun sebaik baiknya berpikir lateral tentu anda harus punya wawasan cukup dari banyak membaca, bergaul,  berpikir terbuka dan juga piknik. Walau begitu bagi orang yang berpiki linier,  anda tetap akan dicap sebagai tukang ngayal. Biarin saja. Karena  menjadi tukang ngayal jauh lebih baik daripada menjadi follower buta. Kasihan denga ibu kita yang melahirkan kita, hanya untuk jadi follower orang lain.

Minggu, 21 Februari 2021

Politik Menuju 2024

 




Pendahuluan

Sebelumnya babo sudah menulis di Blog tentang “ Pemikiran Yahudi Bapak Bangsa.” dan satu lagi “ Indonesia di bawah hegemoni AS’. Dua tulisan di blog ini saling terkait sebenarnya. Mengapa sampai AS ingin mengusai Indonesia, itu karena pemikiran yang berlandaskan kepada humanisme, namun sebetulnya pemikiran  tentang penguasaan sumber daya ekonomi Global tanpa disekat oleh politik. Dengan demikian secara sederhana dapat disimpulkan bahwa kalau kita bicara tentang AS bukan dalam arti itu sebuah Negara. Tetapi itu adalah keuatan konglemarasi financial, yang kebetulan markasnya ada di AS. 


Saya tidak akan bertele dengan teori konspirasi. Pasti jadi ruang debat. Saya hanya berpatokan kepada hukum besi. Bahwa Politic follow money. Money butuh sumber daya ekonomi. Dan sumber daya ekonomi butuh politik untuk melegitimasinya. Sederhana ? Ya. Tapi tidak ada yang lebih serius di dunia ini selain uang. Gerakan agama atau sosial di era sekarang. Tidak akan terjadi tanpa uang. Sampai disini paham ya.


Kemerdekaan Politik.

Sjahrir adalah putra minang. Dia orangnya kecil. Tetapi nyalinya besar. Bukan sekedar nyali seperti preman. Nyalinya terukur sekali. Dia terpelajar. Lulus Master di Belanda. Kalau Soekarno dan Hatta berjuang diatas permukaan secara resmi mewakili kaum pergerakan. Tapi Sjahrir bergerak di bawah tanah.  Para teman teman Sjahrir adalah kaum kiri.  Seperti Chaerul Saleh, Sukarni, Aidit dan lain lain. Sejak era Belanda, Jepang berkuasa , mereka ini diburu oleh aparat hukum namun mereka selalu bisa lolos. Setelah proklamasi mereka juga jadi provokator menciptakan sosial terhadap kesultanan di Kalimantan dan Sumatera yang tidak mau bergabung dengan NKRI.


Sepulang Soekarno dan Hatta dari Vietnam bertemu dengan pemimpin militer tertinggi Jepang untuk kawasan Asia Tenggara, Marsekal Terauchi. Sjahrir datang menemui Sokarno dan Hatta. Terjadi perdebatan keras antara Soekarno dengan Sjahrir.  Saat itu Soekarno menolak untuk memproklamirkan Kemerdekaan. Sjahrir berujar keras menyudutkan Soekarno” Bung Pengecut”. 


Wikana dan Darwis yang ikut dalam rapat itu sempat mengeluarkan Golok. Saat itu juga Soekarno marah besar. "Inilah leherku, saudara boleh membunuh saya sekarang juga. Saya tidak bisa melepas tanggung jawab saya sebagai Ketua PPKI. Karena itu, saya akan tanyakan kepada wakil-wakil PPKI besok.”  Tapi Hatta bisa menengahi pertengkaran itu. Sjahrir akhirnya diam. Namun bukan berarti Sjahrir menerima alasan Hatta. 


Kekecewaan Sjahrir dengan Soekarno dan Hatta, disampaikannya kepada teman temannya, Chairul Saleh, Djohar Nur, Kusnandar, Subadio, Subianto, Margono, Wikrana, Armansjah, Sukarni, Jusuf Kunto, Singgih, dr. Muwardi dari Barisan Pelopor, dan lainnya.  Setelah itu Sjahrir pulang. Keesokannya, tepat pada pukul 04.30 dini hari tanggal 16 Agustus 1945, para pemuda itu bergerak. Mereka datangi rumah Soekarno dan Hatta. Sukarno bersama Fatmawati dan putra sulungnya, Guntur, serta Hatta dibawa mereka ke Rengasdengklok, kemudian ditempatkan di rumah seorang warga keturunan Tionghoa bernama Jiauw Ki Song. 


Sjahrir dengar kabar, teman temanya menculik Soekarno-Hatta. Sjahrir marah besar. “ Tolol kalian semua. Dua orang itu tidak bisa diancam dengan kekerasan. Bahkan seluruh pemuda di Indonesia tidak cukup untuk menekan mereka. “ Soekarno dipulangkan ke rumah. Besoknya tanggal 17 agustus, Soekarno dalam keadaan sakit malaria, dipaksa oleh para pemuda memproklamirkan kemerdekaan.” Nah kita sudah merdeka. Revolusi baru saja dimulai. “ Kata Soekarno lirih usai membacakan Proklamasi dan kembali ke kamar tidur.


Setelah proklamasi, perlawanan rakyat digerakan oleh jaringan pemuda militan se-nusantara. Aksi merebut senjata Jepang terjadi meluas. Seluruh elemen rakyat bergabung dalam komando perang. Menolak segala campur asing. Berkali kali terjadi perjanjian damai yang diawasi badan PBB. Apapun isi perjajian itu, rakyat pasti menolak apabila ada syarat menyertakan Belanda dan terpecahnya Indonesia.  Penolakan rakyat itu benar benar massive. Praktis pemerintah tidak punya reputasi dihadapan PBB. Butuh 5 tahun setelah proklamasi barulah ada pengakuan resmi international tentang kedaulatan Indonesia. Tapi 5 tahun terberat dengan korban nyawa tak terbilang.


Negeri ini diproklamirkan oleh bapak Bangsa. Tapi diperjuangkan oleh generasi pemberani yang sadar akan nilai nilai kehormatan yang harus dibela, walau nyawa taruhannya. Setelah itu sejarah mencatat. Sjahrir di penjara dan para pemuda pelopor yang tadinya berjuang, disingkirkan dari percaturan politik. Setelah itu,  Politik jadi pangalima. Oligarki politik terjadi. Bisik bisik dengan asing terjadi begitu mesranya. Tampa disadari hutan, tanah kita 90% dikuasai oleh pemodal asing.


Kini era reformasi. Mari kita lawan oligarki politik yang mengusung mereka yang terindikasi proxy asing. Tidak perlu pertaruhkan nyawa. Cukup datang ke bilik suara. Jangan pilih mereka.  Pilih yang pro rakyat saja. Andaikan semua capres/cawapres, tidak sesuai kehendak kita. Jangan pilih . Kalau diatas 50% suara gagal dengan jumlah pemilih diatas 50% maka dipastikan Presiden terpilih tidak legitimate secara hukum international. Kita pemilik negeri ini. Jangan gadaikan masa depan kepada oligarki politik pro asing. Lawan!


Peta Kekuatan Partai.

Nah mari kita lihat peta kekuatan partai sekarang. Akan ada tiga peluang capres . 1 PDIP. 2. Golkar  3 Poros tengah. 


PDIP.

PDIP tetap butuh 1 partai lagi untuk bisa lolos presidential threshold. Nah disinilah akan terjadi proses dinamika politik. Teman koalisi bisa saja bergain kepada PDIP. Kemungkinan besar PDIP akan berkoalisi dengan Gerindra.


Golkar.

Kalau Geridra berkoalisi dengan PDIP maka Golkar akan menarik NASDEM. Dua partai ini sudah memenuhi ambang batas untuk mencalonkan Capres /wapres.


Poros Tengah.

Poros Tengah adalah gabungan dari partai Islam, yaitu PKB ( 9,69%), PKS ( 8,21%), PPP ( 4,52%), PAN ( 6,84%). Total suara Poros Tengah ini lebih dari cukup untuk memenuhi syarat presidential threshold.


Namun untuk bisa terbangunnya koalisi diperlukan komunikasi politik yang hebat.  Itu perlu tokoh berkelas nasional. Yang ada sekarang adalah SBY dan JK. Untuk tahu peta kemampuan dua tokoh ini, mari kita lihat profil dua tokoh ini,


SBY punya jalur komunikasi yang bagus dengan kekuatan Poros Tengah. Itu sudah dibuktikan Era SBY berkuasa. Dia mendapat dukungan dari semua partai islam, termasuk PKS. Bagaimana dengan Golkar dan Nasdem? Kalau mereka ikut gabung ke koalisi bentukan SBY, jelas mereka jadi pelengkap saja. SBY akan menarik GN untuk jadi financial resource. Biaya logistik  Pemilu 2024 aman. Maklum GN didukung Konglomerat. Tentu Golkar engga mau. Maka wajar saja bila Golkar dan Nasdem juga mau lead terbetuknya koalisi, nah disinilah peran JK yang juga fungsionaris Golkar.


JK, bagaimanapun dia adalah tokoh Golkar yang berada dibalik terbentuknya kepengurusan Golkar dibawah Airlangga sekarang. Sebetulnya koalisi Golkar dan Nasdem sudah cukup memenuhi ambang batas. Kalau mau tambah sedikit, gandeng Hanura selesai. Golkar dan Nasdem berharap pengaruh JK di poros tengah bisa memperkuat koalisi Golkar. Karena selain SBY, JK juga sangat besar pengaruhnya di poros tengah. Kalau Golkar mampu menarik koalisi Poros Tengah maka kemungkinan kontestan hanya dua, yaitu PDIP dan Golkar. PDIP terancam. Tetapi kalau JK atau SBY tidak bisa menarik koalisi Poros Tengah maka akan ada tiga kontestan yaitu PDIP, Golkar dan Poros tengah. Kemungkinan besar PDIP menang.


***

Potensi Jawa dalam Pilpres

Untuk mengukur kekuatan real rakyat. Maka kita harus berdasarkan data. Kalau berkaca pada data tahun 2019. Jumlah pemilih yang sah sebanyak 156 juta. Yang memilih Jokowi 55,5 % dan PS 44,50 %. Selisihnya hanya 10%. Dari data pemilih kedua kontestan ini kita bisa dengan mudah memetakan basis suara. Yang memilih PS umumnya anti panti dengan PDIP, dan kecenderungan secara emosional terhadap islam. Sementara pemilih Jokowi karena faktor Jawa. Jumlah pemilh Jawa ( Jawa Barat, Jateng, Jatim ) itu mencapai 50% dari total pemilih nasional. Kunci penentu kemenangan Jokowi ada di Jawa Timur dan Jawa Tengah.


Jadi kalau  ada calon dari Jawa Tengah atau Jawa Timur jelas sangat berpotensi menang. Nah PDIP punya Ganjar dan Risma. Dua calon ini punya track record kinerja terbaik. Mereka juga dicintai oleh rakyat Jawa Tengah dan Jatim. Untuk provinsi lain, mesin partai PDIP bisa mengimbangi dengan kemampuan menarik suara, seperti Jawa Barat ada 40%. Banten 39% dan Jakarta PDIP juara menguasai suara diatas 50%. Daerah lain, tidak significant. Secara nasional suaranya hanya kecil. Kemenangan daerah luar jawa tidak menentukan kemenangan Pilpres.


Dibandingkan Ganjar dan Risma, Prabowo kurang Jawa. Karena PS tidak asli Jawa. Ibunya berasal dari Philipina ( atau Manado?). Hubungan emosional tidak begitu melekat bagi pemilih Jawa. Emil juga yang orang sunda sangat sulit mendapat dukungan. Anies lahir di Jawa Barat dan besar di Yogya. Namun keluarganya berasal dari Yaman. Calon lain sulit untuk bisa masuk radar capres. Karena hanya dikenal sebagai pejabat /PATI atau pengusaha. Tetapi tract record kepemimpinanya rendah. Kalau dipaksa akan bernasip sama  dengan PS dan SU yang gagal dalam Pilpres 2019.


Berdasarkan peta kekuatan pemilih di Indonesia, kemungkinan besar calon PDIP lagi yang akan menang. Itu dengan syarat kontestan ada tiga. PDIP tidak mencalonkan Puan dan PS. Karena Puan bukan asli Jawa. Ayahnya Minang lahir di Palembang. Neneknya berasal dari Bengkulu. 


Analisan data tersebut lebih mendekati realitas daripada teori politik dengan beragam strategi. Mengapa ? orang datang kebilik suara hanya 5 menit. Selesai. Engga perlu tinggi analisanya. Apalagi alasan emosional sudah terbentuk, teori apapun engga laku.


***

Kemungkin keterlibatan Asing

Saya bisa maklum bila tahun menjelang 2024 intrik politik semakin kencang. Walau dipermukaan keliatan tenang. Namun dibawah arusnya sangat kencang sekali. Lebih kencang dari retorika dan pidato MRS. Mengapa? ini soal pertarungan politik untuk menentukan peta kekuatan paska Jokowi. Kalau pertarungan itu dalam kuridor konstitusi sebagai aturan main. Tidak ada masalah. Tetapi dalam politik, konstitusi juga adalah transaksional. Dalam proses itulah terjadi tarik menarik antar faksi. Adu kuat posisi tawar dalam kebijakan menentukan arah bandul politik.


Harus diakui sejak adanya Pandemi sekarang ini. Indonesia memang masih tergolong negara dengan ekonomi terbaik nomor lima didunia. Tapi karena besarnya mesin ekonomi, tentu besar juga fuel diperlukan. Yang jadi masalah Indonesia adalah kekuatan APBN ditopang oleh likuiditas pasar uang. Tahun 2021 ini pemerintah menghadapi soal likuiditas APBN karena BI menolak meneruskan burder sharing untuk membiayai defisit fiskal. BI pasti punya alasan kuat secara UU. 


Namun alasan ini juga tidak terjadi tanpa dukungan politik di DPR. Situasi ini membuat Jokowi tersudut. Bargin position melemah. Bayangkan, kalau tidak ada solusi karena Jokowi ngotot, APBN akan bolong. Amanah UU No. 1/2020 atas tanggung jawab terhadap Pandemi bisa berbalik mengancam posisi presiden. Karena engga ada uang dan dianggap gagal.  Disamping masalah likuiditas APBN. Sampai sekarang kekuatan BI menahan laju rupiah berkat dukungan dari the Fed lewat fasilitas Repo Line. Tanpa itu, rupiah kapan saja bisa dihajar oleh hedger pasar uang. Kalau rupiah terjun bebas, presiden bisa jatuh.


Di tengah situasi pasar uang mengering, defisit fiskal, ancaman hutang BUMN yang besar, harapan tertuju kepada LPI. Lagi lagi LPI itu kekuatannya berkat dukungan dari IDFC, AS bersama sekutunya. Tampa keterlibatan IDFC and Co sebagai investor LPI ,maka Indonesia menghadapi ancaman gagal bayar utang BUMN dan investasi infrastruktur akan stuck yang bisa berujung kepada anjloknya PDB. Indonesia akan menghadapi ancaman spiral crisis. Bukan karena engga ada aset tetapi engga ada cash.


Itulah sebabnya tahun lalu sikap Indonesia terhadap AS berubah. Tidak segarang awal Jokowi berkuasa. Pak LBP berkali kali datang ke Washinton bertemu dengan Trumps. Kapal perang AS bisa leluasa masuk perairan indonesia dengan alasan numpang lewat. Padahal itu cara AS menekan Indonesia  agar menerima draft kerjasama pertahanan di LCS, untuk menghadapi UU baru Cina berkaitan LCS. Kerjasama permanen itu hanya soal waktu. Pasti terjadi. Samahalnya kehendak AS agar kekuatan politk memberikan dukungan kepada proxynya di Indonesia jadi presiden tahun 2024, yang diantaranya adalah Anies.


Serara sistem kita sedang diobok obok AS dan itu karena sistem kita lemah menghadapi pendemi dan krisis ekonomi sekaligus. Itu semua karena biangnya adalah ketergantungan kita kepada pasar uang dan tidak bisa mandiri 100%. Para elite itu berpikir sederhana. Mereka tidak mau ambil resiko terlalu besar. Yang penting bagi mereka kekuasan tetap aman dan pesta terus terjadi. Siapa yang mau jadi presiden terserah bohir aja. Mereka siap mendukung. 


Situasi ini hanya satu yang bisa menyelamatkan? apa itu? Bila rakyat bersatu memilih orang baik jadi presiden. Lawan oligarki politik itu dengan semangat persatuan. Kenalilah peta politk tahun 2024 dengan cerdas. Kenalilah siapa itu proxy asing dan siapa itu benar benar proxy rakyat.

Minggu, 07 Februari 2021

Pak Kwik yang saya hormati

 



Semoga pak Kwik masih ingat tahun 2000 bapak termasuk team creator mengubah sistem APBN kita dari T accont ke I account. Ini standard Government Finance Statistic. Uang tidak lagi berarti money tapi finance atau dana. Uang bukan lagi politik dalam konsesus bisik bisik seperti era Soeharto. Tetapi ia sudah menjadi standard dunia , yang bisa di ukur dan dianalisa oleh siapapun. Jadi lebih transfarance. Kita sudah say goodbye dengan sistem ekonomi jadul. Kita masuk era demokratisasi ekonomi secara real. Bukankah itu yang selalu bapak dengungkan di era awal reformasi.  Itu buah karya PDIP sebagai partai pemenang pemilu 1999. 


Saya mengulang ingatan tentang mindset uang ( money )  era Orba. Money dasarnya adalah kebijakan moneter pemerintah. Bank sentral hanya sebagai kasir.  Karena uang berasal dari kebijakan negara maka cara mensuplai uang pun diatur oleh negara. Gimana caranya ? Lewat project program melalui APBN dan perbankan. Peran pemerintah benar benar sebagai penyedia dana. Gimana kalau bank tidak cukup uang? ya negara pinjam uang ke Negara lain atau lembaga multilateral. Gimana kalau engga cukup juga dan engga ada yang beri utang? Ya pemerintah cetak uang. Jadi dalam pengertian ini, uang dalah juga politik negara. Kontrol pasar tidak ada. Apalagi rakyat tidak punya hak kotrol. Sehingga KKN adalah juga bagian dari politik uang demi melancarkan rezim.


Dengan adanya financial engineering yang berkembang ditahun 90an dan mencapai puncaknya tahun tahun 2000an, khususnya setelah adanya lberalisasi pasar uang dan investasi dalam kuridor WTO, maka munculah istilah finance. Apa itu finance ? Dana itu bukan hanya uang. Tetapi juga termasuk kemampuan berhutang lewat pasar uang seperti penerbitan SUN atau SBN atau Global bond. Gampang? Ya engga.  Kemampuan berhutang itu diukur dari fundamental ekonomi yang terkait dengan indikator rasio utang terhadap PDB. Tingkat premium CDS, jumlah devisa negara, dll. Artinya bukan lagi politik ukurannya. Tetapi benar benar pasar. 


Artinya, semakin sehat fundamental ekonomi negara semakin besar kemampuan mendapatkan utang dan tentu semakin kuat dia secara financial. Gimana bayar bunga dan cicilan utang. Apakah negara harus jual aset atau mengandalkan pendapatan pajak rakyat. Ya engga perlu. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara, pemerintah bisa menerbitkan SUN untuk bayar utang dan bunga. Dan dalam kondisi keuangan negara sehat, negara bisa melakukan refinancing. Jadi itu hanya permainan akuntasi negara. Debit dan kredit saja. Yang penting utang bukan untuk konsumsi tapi investasi dan produksi.


Memang kurangnya literasi keuangan, sekarang banyak orang berpikir uang adalah money bukan dana atau finance. Berhutang berarti memindahkan atau menggadaikan aset negara dengan cash 70% dari harga pasar. Artinya kalau anda pinjam uang ke bank 100 harus punya colateral 130%. Makanya hutang jadi hantu menakutkan. Hutang jadi paranoid. Sarjana takut berhutang. Ya karena mindset tidak berubah. Padahal dunia sudah berubah. Maafkan saya kalau ada kata yang salah. Salam hormat saya untuk bapak. Doa saya selalu untuk bapak.

Islam : Ranah privat dan politik

  Waktu Kekhalifah Islam di Turki yang kekuasaanya membentang dari Barat ke Timur selama 6 abad. Waktu zaman Kekhalifahan Abassiah juga sama...