Sabtu, 23 April 2022

Kekuasaan dan agama, itu omong kosong

 




Presiden dipilih langsung oleh rakyat berdaulat. Agar Legitimasinya kuat. Tidak bisa digugat, oleh parleman jalanan dan para  pengkianat. Masalahnya, setelah itu kekuasaan terdistribusi. Maka terbentuklah oligarki yang terkooptasi. Sehingga tidak tahu lagi siapa penting pegang posisi. Semua saling mengawasi. Apa yang terjadi ? kebijakan negara jadi tidak efektif. Terhambat oleh birokrasi menjepit. Melahirkan mindset korupsi. Agenda kemakmuran jadi terdegradasi.


Sementara, begitu banyak omong kosong. Hukum pun jadi macan ompong. Tajam ke bawah kolong. Tumpul keatas menambrak ruang kosong. Demokrasi hanya sebatas prosedur formil. Orang bebas bicara namun hasilnya nihil. Atas nama konstitusi katanya. Kekuasaan boleh dikritik tapi tidak bisa ditanya. Namun begitulah sistem yang berlaku. Menjadi takdir kita untuk bersatu. Tanpa tersekat oleh agama dan suku. Untuk Indonesia yang satu.


Kita paham arti perjuangan dan perubahan. Yang harus kita lalui tanpa kehilangan harapan. Mungkin saja rakyat terlupakan. Setidaknya para elite hidup dalam kenikmatan. Dengan begitu, mereka bisa berpikir tenang. Untuk berdamai utamakan negeri tenang. Agar stabilitas politik lahir dari kekuasan yang imbang. Mau gimana lagi?. Melawan dengan revolusi kita juga yang rugi. Kalau chaos terjadi para elite dan konlomerat bisa kapan saja pergi. Tinggal kehancuran yang akan sulit bangkit lagi.


Banyak contoh negeri hancur bukan karena perang. Tapi karena rakyat yang berang. Hidup tak lagi lapang. Mencari rezeki sulit berkembang. Hilang akal sehat. Yang ada mengumpat. Kesal kepada elite atas janji yang disemai. Namun tak kunjung tunai. Mungkin harapan terlalu banyak. Kepada presiden yang tak bisa berbuat banyak. Akibat dijegal oleh elite politik bermuka minyak. Membuat rakyat semakin muak.


Kemana kita hendak berlabuh? Setiap hari kita mengeluh. Seperti kerbau melenguh. Kapan kah sampai ke penatian yang teduh. Untuk kita mengusap peluh dan membeningkan keruh..


***



Dulu ada kisah negeri bernama Utopia. Semua begitu mudah jadi nyata. Politik itu mengatur banyak orang. Tidak mungkin memuaskan semua orang. Karena itu negara diperlukan. Agar kemiskinan melahirkan kemakmuran. Begitu cerita utopia disematkan. Sebuah narasi membuat kita tercerahkan. Kitapun berela hati masuk bilik suara pemilu. Untuk sebuah halu. Begitulah sejak dulu. Dengung demokrasi bertalu talu. Setelah pemilu janji tak tunai. Bukan salah pemimpin tapi rakyat yang lemah. Berharap bantuan tunai. Akhirnya subsidi jadi politik populis citra di hadapan orang ramai.


Sistem birokrasi kita kadang juga keren. Menteri tidak tahu ulah Dirjen. Yang membuat kebijakan migor dicoleng. Oleh konspirasi pengusaha bersama aparat yang pura pura meleng. Hukum positip hanya melihat perbuatan, siapa yang melakukan. Selagi bukti tidak didapatkan. Menteri dibebaskan, yang lain dikorbankan. Lebih jauh lagi kita percaya kebenaran. Bahwa pemerintah selalu dibenarkan. Demi konstitusi diselamatkan. Jangan sampai diributkan.


Korupsi APBN itu korupsi tradisional. Kini lebih canggih dari keadaan normal. RUU jadi transaksional. Dilakukan secara genial. Sehingga semua nampak baik. Faktanya harga terus naik. Inflasi merangkak naik. Membuat rakyat jelata teracam tercekik. Oligarki politik terlalu kuat untuk diusik. Mereka tidak suka politik yang berisik. Karena itu semua hal diselesaikan secara bisik bisik. Begitulah membuat rakyat garang mengkritik. Bersuara atas nama demokratik. Namun suara mereka ditelan angin malam. Seakan beada ditempat kelam.


Kadang kita kesal. Politik negeri ini masih bernuansa feodal. Para elite hanya kumpulan pemimpin abal abal. Tak punya hati dan otak bebal. Di kepalanya hanya tentang uang yang hapal. Selebihnya diabaikan. Merasa kita semua adalah beban. Padahal pajak ini dan itu kita tunaikan. Masih juga dianggap kurang beperan. Mau gimana lagi.


Sebuah negeri adalah sebuah upaya yang dikayuh tanpa lelah. Yang penting kita jangan terbelah. Mencintai negeri tanpa lelah. Tetap bersatu walau merasa kalah. Itu lebih baik daripada bangsa kita pecah. Tetaplah menanti mentari pagi bersinar cerah. Selalu ada harapan kepada Tuhan kita  pasrah.


***

Sebuah negeri yang dirahmati Tuhan. Ada 741.991 Masjid dan Musolla didirikan. Semua dimaksud untuk meninggikan Tuhan. Tidak ada tuhan selain Tuhan. Setiap hari setiap lima waktu sholat harus ditegakan. Kewajiban sholat tidak bisa diabaikan. Karena apapun alasan. Begitu Tuhan diagungkan. Maka jadilah masjid sebagai simbol persatuan. Yang dibina oleh para ustad dan ulama panutan. Mengajak orang lebih baik sholat dari pada tiduran.Untuk mencapai kemenangan.


Waktu berlalu, zaman berganti. Namun dunia semakin tidak ditapaki. Hidup semakin jauh dari dirahmati. Kemakmuran menjadi jauh untuk didekati. Orang semakin mudah saling mengkafirkan. Apapun disikapi berlebihan. Suka menyalahkan. Merasa paling benaran. Tanpa disadari. Agama sudah dipagari. Oleh politik indentitas. Merasa apapun tanpa syariat tidak pantas. Masjidpun bukan lagi tempat mendidik. Sudah jadi ajang mengkritik. Untuk jadi corong panggung politik.


Agama sebagai hal yang privat. Masjid tempat orang bermunajat. Sudah tidak lagi sakral. Agama ramai disaat pemilu digelar. Narasi penuh dengan pesan keberpihakan. Tidak lagi mencermikan kedamaian. Kebencian kepada mereka yang berbeda sudah biasa saja. Orang lain dikafirkan. Atas nama syariat, orang berbeda dianggap sesat. Tanpa terasa agama jadi riuh. Tempat orang berkeluh. Yang berbeda dianggap musuh. Entah kemana syiar Rasul yang awalnya teduh.


Ketika syariat jadi yang utama. Ketulusan menjauh untuk berderma. Ibadah sosial jadi narasi bisnis dunia. Bukan lagi jadi aksi kepentingan semua. Tapi hanya untuk kepetingan mereka yang menggalang dana. Berderet di trotoar melapalkan al Quran. Merasa Tuhan sangat dimuliakan. Padahal Tuhan hanya suka didekati oleh mereka yang berkorban. Cinta kepada mereka yang miskin terlupakan. Dengan derma harta dan kepedulian.


Akal sehat tak lagi dipakai dalam beribadah. Ingin meraih segala sesuatu dengan cara mudah. Lupa hidup adalah perjuangan akal sehat. Tidak keras kerja, rezeki sulit didapat. Begitu alam bermaklumat. Bukan salah Tuhan tidak berpihak ke umat. Tetapi umat yang gagal menjadikan agama sebagai rahmat.

Senin, 18 April 2022

Cara China membangun..

 



China punya aturan enam hal soal harta. Pertama, orang tempatkan uangnya di bank kena pajak. Kalau tiga tahun uang disimpan begitu saja. Ya habis dimakan pajak. Tetapi kalau uang itu dipakai untuk instrument investasi diluar bank akan bebas pajak. Kecuali atas keuntungan saja. Dengan demikian uang tidak menumpuk di bank dan bank focus sebagai agent pembangunan yang hidup dari fee, bukan dari rente. Ya, kamu tidak mau berbagi lewat investasi, ya negara bantu bagikan. 


Kedua, orang dilarang punya emas diatas ditentukan negara. Sebagai gantinya negara menjual emas aspal ( Tungsten). Ini metal mendakati emas. Warna sama dengan emas. BIaya produksinya hanya 0,2% dari emas. Namun dihargai sama dengan emas. Investasi pada emas semacam ini bebas pajak. Dapat diperjual belikan secara bebas sesuai harga emas asli.  Dengan skema ini, negara dapat berhutang kepada rakyat  tanpa bunga.


Ketiga, pajak progressive. China menerapkan pajak kekayaan yang bersifat progressive. Semakin banyak kepemilikan pribadi, seperti rumah, kendaraan, dan lain lain semakin besar pajaknya. Akibatnya orang malas untuk menumpuk harta pribadi. Mereka lebih suka menginvestasikan uang agar bebas pajak. Dengan demikian mereka dapatkan kebebasan financial. Dan negara dapatkan likuiditas untuk pembangunan. Swasta juga dapat likuditas untk proyek.


Keempat, kurs dan statisitik. China adalah negara yang tidak pernah publikasi indikator ekonominya secara resmi. Jadi orang menduga duga saja. Terutama soal kurs, orang buta. Suka suka pemerintah aja menetapkan kurs. Apa yang terjadi? uang tidak jadi komoditi yang bisa jadi spekulasi. Sehingga negara bisa kendalikan makro dan mikro ekonomi secara bebas untuk kemajuan negara.


Kelima, pengendalian uang beredar bagi PNS. China melarang PNS makan di restoran mewah. Bagi pngusaha restoran yang mengizinkan akan kena ban. Pembelian diatas 10,000 yuan harus ada KTP. Bagi toko yang melanggar dicabut izinnya. Akibatnya PNS sudah sulit korupsi ? mau belanja kemana.? Mau simpan dimana ? Keluar negeri?  China menerapkan cross border ketat. 


Nah, terakhir dalam jangka panjang pemerintah akan terapkan uang digital, sehingga tidak ada lagi rakyat bisa menyembunyikan uang dan hartanya. Semua pasti kena pajak, pasti terukur semua. Dan pasti mudah pemerintah menambah dan mengurangi uang beredar tanpa terdeteksi. Makro ekonomi jadi aman.


***

Egaliter

Ada aturan di china sejak tahun 2013. Setiap perusahaan dilarang menerima pegawai karana alasan almamater, suku atau ijazah keserjanaan. Khusus posisi profesional seperti akuntan, lawyer, harus ada surat keterangan kompetensi dari lembaga negara. Itupun tidak mencantum apakah dia sarjana atau tidak. Untuk dokter dan para medis, harus mengikuti jenjang akademis, jalur herbal atau umum.


Apa yang terjadi akibat adanya aturan baru itu? Pertama, pemerintah meng legitimasi pendidikan ketrampilan luar sekolah. Yang lulus kursus akan dapat surat pengakuan dari  lembaga negara. Sehingga dia qualified ikut berkompetisi dapatkan lapangan pekerjaan profesional. Di china dapatkan tenaga terampil operator mesin moulding circuit board komputer mudah sekali. Cukup hubungi pusat pelatihan. Seminggu sudah datang pelamar berkompetisi. 


Kedua, setiap perusahaan diwajibkan menyediakan dana pelatihan bagi karyawan. Bisa dari dalam atau di training atas biaya perusahaan. Khusus perusahaan yang jumlah karyawan dibawah 100, biaya pelatihan ditanggung negara. Semua supply chain pabrik kelas UKM dibina negara termasuk memberi pelatihan agar mereka qualified menjadi rekanan pabrik besar. 


Ketiga, ukuran pembayaran upah dan gaji berfokus kepada kompetensi dan kinerja. Bukan akreditasi pendidikan atau kursus atau almamater. Proses peningkatan karir cepat sekali. Karena yang dinilai output. Seorang pekerja dengan UMR 3000 yuan/ bulan untuk output produksi 100 IPhone/ hari , dalam setahun bisa dapat upah 6000 yuan/ bulan karena output nya meningkat 200 IPhone/ hari. 


Keempat, lahirnya masyarakat egaliter, yang tidak disekat oleh suku, agama atau almamater. Semua orang sama, yang membedakannya hanyalah kinerja.  Di china anak petani miskin atau keluarga tidak mampu berhak bermimpi jadi orang hebat. Kerena peluang bagi semua. 


Dengan program tersebut diatas, walau keliatan sederhana namun sudah menyelesaikan hambatan pemerintah menyediakan kampus untuk semua lulusan SMU. Maklum china hanya mampu menyediakan kursi 2% di universitas bagi semua lulusan SMU. Setidaknya program itu, menghapus feodalisme akademis ditengah masyarakat. Yang ada adalah seni berkompetisi di lahan yang sama dan dilakukan dengan semangat kebersamaan.

Kamis, 14 April 2022

Dialektika yang kosong.

 





“ Mangapa orang masih banyak mempertanyakan kebenaran Islam. Apa saja dikaitkan dengan akal. Padahal iman itu tidak akan kokoh bila dasarnya akal saja. “ Kata Teman. Saya tersenyum. Karena yang ditujunya itu adalah influencer Jokowi yang cenderung membahas islam dari segi akal. Istilah akal sehat. Dianggap oleh kelompok teman ini adalah kafir. Sesat.


Pemikiran Agama berdasarkan akal itu bukan baru. Tetapi sudah berkembang lama sejak tahun 935 Masehi atau 323 Hijrah. Saat itu ada kaum yang menganut mahzab Asy’ariyah. Mahzab diperkenalkan oleh Abu Muhammad bin Kullab. Prinsipnya, dalam memahami Al-Qur'an dan hadis mengedepankan akal (rasional) di atas tekstual ayat (nash). Mereka menggunakan tiga jenis metodologi yang berbeda untuk menjelaskan akidah di dalam dakwah. Ketiga jenis metodologi ini yaitu metodologi tekstual. metodologi rasional, dan metodologi dialektika.


Metodologi tekstual meliputi kegiatan penerimaan wahyu tanpa mempermasalahkan isi dari wahyu tersebut. Metodologi rasional digunakan untuk mengaitkan antara akidah dengan pemahaman yang maksimal melalui akal. Sedangkan metodologi dialektika meliputi kegiatan diskusi dan pertukaran pikiran. Metodlogi ini ditentang habis oleh kaum Muktazilah. Kalau udah kepepet, kalah debat dengan kaum Asy’ariyah, langsung mereka sebut kafir, bid’ah, sesat. Untung dulu belum ada sosmed. Jadi ributnya engga keliatan banget.


Mahzab Muktazilah memang mengabaikan dialektika. Bagi mereka apapun soal agama, persepsi mereka tidak boleh dipertanyakan. Lucunya  mereka juga menggunakan akal secara bebas memaknai Al Quran dan hadith. Namun keyakinan kaum Muktazilah dapat dengan mudah dipatahkan oleh kaum Asy’ariyah. Dalam majelis selalu terjadi perdebatan. Lucunya dalam setiap debat kaum Asy’ariyah selalu menang. Maklum mereka menggunakan pendekatan teologi dan filsafat. Ini sering membuat pertengkaran dan mengancam persatuan umat. Saat itulahn tampil seorang ulama besar bernama Al Gazhali.


Gazhali tidak menyalahkan keduanya, tetapi juga ragu menerima keyakinan kedua belah pihak. Padahal Gazhali adalah ulama hebat dimasanya. Pada usia 20 tahun beliau sudah menguasai seluruh tafsir Al Quran dari berbagai kitab dan mengetahui hadith lebih banyak dari orang pada umumnya. Beliau dikenal sebagai ulama Genius. Dalam kebingungan itu, Gazhali bijak bersikap. “ Ah kenapa saya tidak belajar secara utuh tentang Asy’ariyah”. Gazhali tidak belajar dari bawah tetapi langsung dari pucuk. Apa itu?  filsafat yang menjadi dasar kaum Asy’ariyah bersikap.


Untuk itu Al Gazhali terjun dalam studi tentang filsafat Yunani, termasuk meguasai bahasa Yunani. Setelah dia kuasai semua hal tentang filsafat. Kemudian dia menulis sebuah buku tentang filsafat Yunani yang berjudul “ Maksud para Filsuf ( Maqashid al-Falasifah). Uraiannya tentang filsafat begitu jernih, sangat luas, bahkan ahli filsafat khusus tentang aristoteles yang membaca bukunya berkata “ Ah sekarang akhirnya aku mengerti Aristoteles.”


Kemudian Al Gazhali menulis kembali buku tentang Filsafat dan ini buku keduanya yang berjudul “Ketidak-logisan Para Filsuf “ ( Tahafut al-Falasifah ). Di sini AL Gazhali mengindentifikasi dua puluh premis yang menjadi sandara Filsafat Yunani dan Greko-Islami. Kemudian ia menggunakan  logika silogisme untuk membongkar masing masingnya. Argumen yang paling konsekuensial  adalah serangannya terhadap hukum kausalitas antara fenomena material. Al Gazhali dengan sangat terpelajar mampu menyakinkan siapapun bahwa filsafat  Yunani itu keliru.


Bebrapa Filsuf memukul balik. Ibn Rusyd ( Averroes) menulis balasan untuk buku Gazhali, tetapi itu tidak ada banyak gunanya; ketika kabut telah berlalu, Gazhali juga yang menang. Gazhali meraih penghargaan luar biasa untuk karyanya. Ia diangkat menjadi kepala Universitas Nizamiyah yang prestisius di Bagdad. Kaum mapan ortodok mengakuinya sebagai otoritas keagamaan terkemuka.


***

Tetapi apakah setelah bisa mengalahkan kaum Asy’ariyah dan meluruskan kaum Muktazilah,  merasa puas? Justru Gazhali sendiri terjebak dalam lorong gelap. Dia malah merasa bego. Dia percaya pada wahyu, dia menghormati Nabi dan Kitab, dia setia kepada syariah, tetapi tidak merasakan kehadiran Allah secara jelas. Gazhali tiba tiba mengalami krisis ruhani. Ia mengundurkan diri dari semua jabatannya. Membagi bagikan semua harta miliknya. Meninggalkan pujian dan kehormatan, termasuk semua teman temannya, dan pergi kepengasingan.


Setelah keluar dari pengasingan itu, dia menulis buku yang berjudul ‘Kimia Kebahagiaan ( Kimiyaat AL –Saadat) dan Kebangkitan Ilmu Agama ( Ihya Ulumiddin). Dia menyatakan bahwa para ulama itu benar, tetapi para Sufi lebih benar lagi. Hukum adalah Hukum dan Anda harus mengikutinya, tetapi Anda tidak bisa mencapai Allah dengan mempelajari Kitab dan beramal baik semata. Anda perlu membuka hati, dan hanya para sufi yang tahu cara membuka hati.


Tetapi jangan anda anggap bahwa sufi itu ajaran sesat atau keblinger. Justru dari dua buku yang ditulis Gazhali itu, dia blended antara teologi ortodoks dengan terekat-metode sufi untuk menyatu dengan Allah. Dia menciptakan sebuah tempat bagi mistissme dalam kerangka islam ortodoks dan dengan demikian membuat tasauf menjadi terhomat.


***

Itulah sebab menjelang usia 40 tahun, saya merasa kosong. Padahal saya lahir dari keluarga ulama. Puluhan tahun saya baca banyak kitab Islam. Mempelajari tafsir  Al Quran dari usia dini.  Saya percaya fikih dan menghormati syariah. Tetapi saya tidak mengenal Tuhan. Jiwa saya terasa kosong. Setelah membaca semua buku Al Gazhali saya sedikit tercerahkan. Akhirnya saya ikut  program mutih di Ciomas dan akhirnya mengantar saya ke Vihara di China untuk mengenal Tuhan. 


Ternyata esensi agama itu adalah Tuhan. Mendekati Tuhan itu tidak dengan teriak pakai Toa atau demo,  atau debat, tapi lewat fatakur dalam kesunyian antara kita dan Tuhan saja. Memang agama itu adalah soal privat. Karena Tuhan itu ada pada diri kita. Outputnya hanya cinta dan kasih. Apapun itu, bertengkar itu buruk, hanya omong kosong. Pastinya semakin menjauhkan anda dari Tuhan.


Level beragama.

Gimana pendapat anda soal pemahaman beragama sekarang? tanya teman seusai kasus pengeroyokan Ade Armanto. Menurut saya, walau berbeda beda pemahamannya, tidak ada yang salah. Semua benar. Tentu sesuai dengan tingkatan mereka dalam beragama. 


“Apa yang dimaksud dengan tingkatan beragama.?


“ Dalam islam itu ada empat tingkatan. Tingkat pertama, syariat. Hidayat, hakikat, dan ma’rifat.” Kata saya. Kempat tingkat itu ibarat anak tangga. Tidak bisa langsung ke ma’rifat. Harus melalui proses syariat, agar sampai pada hidaya dan kemudian mencapai hakikat dan puncaknya ma’rifat. “ Kata saya. Dia minta jelaskan secara sederhana keempat tingkat itu. 


Syariat itu, itu level orang beragama melaksanakan dasar ritual yang ditetapkan rukun islam dan rukun iman. Pada level ini orang beragama masih melihat simbol. Misal soal pakaian, tempat ibadah, dan tradisi lain remeh temeh yang dia yakinin sebagai bagian dari syariat. Mereka suka membanggakan syariat itu. Orang yang tidak patuh dengan simbol, misal tidak sholat di masjid, dianggap sesat. Tidak berjanggut, tidak pakai baju gamis dianggap bukan kaumnya. Tidak mau poligami dianggap salah.


Beragama pada level syariat ini tidak menghasilkan apapun. Itu hanya beragama pada level kulit dan simbol saja. Hanya ngerep sorga. Kadang mudah tersesatkan dengan mengkafirkan orang lain, atau terkesan kekanak kanakan. Doyan mengeluh dan menyalahkan orang lain. Sebenarnya sudah tertipu dalam beragama. Karena dirasa sudah beragama ternyata belum.  Tidak banyak orang bisa lolos level syariat itu. Biasanya terkubur karena kesombongan beragama.


Level kedua, Hidayat. Kalau tingkatan syariat dapat dilakukan dengan rendah hati.  Akhlak bertambah baik seiring keimanan bertambah kuat, maka akan sampai pada level hidayat. Nah pada level hidayat ini, orang beragama tidak lagi kepada simbol. Mereka lebih focus kepada akhlak. Lebih utamakan akhlak daripada fikih. Ogah bertengkar. Lebih memilih berdamai. Namun pada level ini kadang orang sombong. Mereka merasa pantas masuk sorga. Yang lain tidak. Nah sikap ini akan mengaburkan jalan ke hakikat.


Level ketiga, Hakikat. Kalau level hidayat dapat dilewati dengan ikhlas. Maka akan sampai pada level hakikat. Orang beragama benar benar jauh dari simbol dan material. Walau senantiasa berbuat baik namun tidak lagi menghitung pahala dan amalan. Mereka menjauh dari hiruk pikuk agama, lebih suka menyendiri. Tidak suka bertengkar soal  salah benar. Dalam dirinya hanya ada cinta  dan kasih. Nilai kemanusiaan nya tinggi sekali. Agama sudah jadi guide of life.


Level keempat. ma’rifat. Umumnya orang yang sudah beragama pada level hakikat, mereka akan selamat mencapai level ma’rifat. Apa itu ma’rifat? Dia sudah jadi pribadi yang merupakan bayang bayang Tuhan.  Yang ada hanya cinta dan kasih sayang. Dia sudah jadi pencerah manusia, tidak lagi di sekat agama, suku dan bangsa. Sifat kemanusiaan mengalahkan segala galanya. Baginya mencintai manusia adalah mencintai Tuhan itu sendiri. Kerinduannya,  hanya Tuhan. Di manapun dia berada tidak penting. Sorga atau neraka ok saja. Yang penting dia bersama Tuhan. Hanya Tuhan tujuannya, bukan yang lain.

Minggu, 03 April 2022

Soft power vs hard power


 


“ Uda, mau tanya? Chatt Yuni 


“ Ya tanya aja”


“ Yuni baca buku tentang politi. Judulnya The New Politics of National Security. Bagus tapi tetap engga paham. “


“Oh itu buku yang ditulis oleh Michael E. O'Hanlon. Untuk paham kamu harus baca juga buku, The Future of Power. Ditulis oleh Joseph Nye, yang juga menulis buku, Soft Power: The Means To Success In World Politics. Baca buku itu. Kamu akan paham.”


“ Uda jelasin aja. Kalau uda jelasin apa saja jadi mudah dipahami. Entar kalau baca lebih enak. Apa bedanya hard power dengan soft power “


“ Gini ya. Katakanlah pria  bertemu wanita di jalan di tempat gelap. Dia tabrak wanita itu untuk memuaskan libidonya. Ada dua kemungkinan terjadi. Pertama wanita itu teriak. Orang lain mendengar dan dia akan jadi bulan bulanan orang banyak. Berujung masuk penjara. Kedua, dia tidak akan mendapatkan kehangatan cinta dengan cara memperkosa. Kecuali hanya memuaskan libido barang sejenak. Mungkin hanya sekian detik saja.


Lain kasus. Pria bertemu dengan wanita di tempat gelap. Dia tegur dengan sopan. Kemudian dilindungi melewati gelap itu sampai ke tempat terang. Diapun kenalan dengan wanita itu  dan saling berjanji untuk tetap berhubungan. Lain hari dia  bertemu lagi dengan wanita itu dalam suasana santai. Lain waktu, hubungan semakin akrab. Saling berbagi pengalaman. Saling mencoba memahami. Akhirnya saling check in hotel, pergi ketempat tidur dalam suana hangat penuh cinta dan pasti tidak terburu buru seperti orang memperkosa.


Perhatikan dari dua contoh diatas. Tujuan sama. Tempat lobang sama. Tetapi proses berbeda. Yang satu melalui paksaan. Memang mudah dapatkan libido tetapi resiko sangat besar. Manfaat hanya sebatas libido saja. Tetapi lewat keramah tamahan dan keakraban, itu berposes menjadi saling percaya dan akhirnya jatuh cinta. Libido tersalurkan, kehormatan didapat, kepuasan pasti dirasakan. Dua hal itu dalam politik disebut dengan hard power seperti diktator atau tirani atau politik identitas atas nama agama dan satu lagi soft power melalui process demokrasi atau social engineering. Paham”


“ Eh analogi sepeti ini paham banget nget nget. Jempol udaku. Makin kangen nih”

“ Ya udah ya. Lanjutin baca bukunya. “


Jumat, 01 April 2022

Berpikir bebas


 


Ada teman berkata kepada saya. “ Bagaimana kita bisa dihargai. Kalau presiden saja bahasa inggrisnya jelek, alumni lokal, tidak dari luar negeri. Jauh kelas dibandingkan dengan Anies yang tamatan AS. Apalagi bahasa inggrisnya kereeeen” Saya diam saja. Ogah saya tanggapi. Mengapa?  karena saya sendiri hanya tamatan SMA. Bahasa inggris saya juga jelek. Tidak bisa hilang aksen minang.


Orang Indonsia itu puritan dan haus akan aktualisasi. Mereka puritan dihadapan orang asing. Puritan? Merasa rendah kalau ada orang bahasa inggris. Apalagi kalau orang bicara menggunakan istilah inggris. Dalam hal beragama juga sama. Mudah silau kalau ustad mengutip firman Allah dan Hadith pakai bahasa arab. Tak ubahnya para sarjana yang cepat membuat orang terpukau kalau dia bicara di seminar mengutip kata ahli sesuai buku yang dia baca.


Lucunya, kalangan terpelajar haus akan pengakuan publik. Mereka selalu mencantumkan gelar akademisnya pada kartu nama. Sikap dan cara dia bicara tidak ada kaitannya dengan kinerja dia. Itu hanya cara dia mendapatkan pengakuan orang lain bahwa dia berkelas. Soal salah atau benar, yang pasti dia benar dan kita salah. Dan kita yang puritan, percaya saja. Dari sikap ini, yang pintar semakin bego. Yang bego semakin dungu. Dan kita tidak berubah dari waktu ke waktu.


“ Kamu selalu berpikri out of the box “ Kata Wenny kepada saya ketika saya membuat keputusan tidak tertarik berbisnis IT berbasis market place. Tetapi IT sebagai tools untuk business process dengan platform cluster. Terbukti sistem market place menjadi bagian ekosistem mendukung sistem cluster. Yang berkembang cluster. Sementara market place terpuruk karena kehabisan darah bakar uang untuk panetrasi pasar.


Ketika orang sibuk membangun konlomerasi. Menguasai dari hulu ke hilir secara integrasi. Saya justru sibuk membangun holding berbasis supply chain. Terbukti ketika hilir pasarnya menyusut dan hulu kelangkaan sumber daya, saya yang ditengah sebagai supply chain mendapatkan keuntungan dari ketidak seimbangan itu. Saya aman saja. Mengapa? karena supply chain berbisnis berbasis kreatifitas dan inovasi.


“ Saya tidak paham apa itu out of the box. Saya hanya tamatan SMA. Engga paham saya standar akademis. Saya hanya berpikir sederhana saja. Andaikan saya berbisnis karena follower orang lain. Mengikuti standar barat atau AS, mungkin saya dengan mudah dilindas zaman. Karena dasar saya memang miskin. Tidak punya apa apa kecuali sempak dan akal doang.” Kata saya.


Wenny tertawa. “ Tapi, karena itu kamu seksi dan menggemaskan. Kadang lucu, karena aneh.” Kata Wenny.


“Aneh ? Kata saya berkerut kening.


“ Ingat engga. Dulu saya trap kamu ikut lomba buka kutang wanita di Guangzhou. Kamu perlu waktu 5 menit buka kutang wanita. Sementara yang lain hanya butuh waktu 30 detik. Kamu jadi bahan tertawa penonton” Kata WEnny.


“ Makan saja saya disiapkan oleh istri. Tinggal suap doang. Apalagi soal buka kutang dan sempak. Saya tidak paham. Wanita manjakan pria, menjaga pria dan itu budaya Indonesia. Saya bangga sebagai pria Indonesia . Apalagi lihat istri mandi sebelum tidur dan tidur tanpa underwear” Kata saya. Wenny bersemu merah wajahnya. " Saya catat itu" Katanya.


Dosa itu apa ?

  Sebenarnya dalam kisah para Nabi, ada pembalajaran tentang persepsi dosa dan hukum kausalitas, yang begitu saja di jungkir balikan Tuhan. ...