Kamis, 14 April 2022

Dialektika yang kosong.

 





“ Mangapa orang masih banyak mempertanyakan kebenaran Islam. Apa saja dikaitkan dengan akal. Padahal iman itu tidak akan kokoh bila dasarnya akal saja. “ Kata Teman. Saya tersenyum. Karena yang ditujunya itu adalah influencer Jokowi yang cenderung membahas islam dari segi akal. Istilah akal sehat. Dianggap oleh kelompok teman ini adalah kafir. Sesat.


Pemikiran Agama berdasarkan akal itu bukan baru. Tetapi sudah berkembang lama sejak tahun 935 Masehi atau 323 Hijrah. Saat itu ada kaum yang menganut mahzab Asy’ariyah. Mahzab diperkenalkan oleh Abu Muhammad bin Kullab. Prinsipnya, dalam memahami Al-Qur'an dan hadis mengedepankan akal (rasional) di atas tekstual ayat (nash). Mereka menggunakan tiga jenis metodologi yang berbeda untuk menjelaskan akidah di dalam dakwah. Ketiga jenis metodologi ini yaitu metodologi tekstual. metodologi rasional, dan metodologi dialektika.


Metodologi tekstual meliputi kegiatan penerimaan wahyu tanpa mempermasalahkan isi dari wahyu tersebut. Metodologi rasional digunakan untuk mengaitkan antara akidah dengan pemahaman yang maksimal melalui akal. Sedangkan metodologi dialektika meliputi kegiatan diskusi dan pertukaran pikiran. Metodlogi ini ditentang habis oleh kaum Muktazilah. Kalau udah kepepet, kalah debat dengan kaum Asy’ariyah, langsung mereka sebut kafir, bid’ah, sesat. Untung dulu belum ada sosmed. Jadi ributnya engga keliatan banget.


Mahzab Muktazilah memang mengabaikan dialektika. Bagi mereka apapun soal agama, persepsi mereka tidak boleh dipertanyakan. Lucunya  mereka juga menggunakan akal secara bebas memaknai Al Quran dan hadith. Namun keyakinan kaum Muktazilah dapat dengan mudah dipatahkan oleh kaum Asy’ariyah. Dalam majelis selalu terjadi perdebatan. Lucunya dalam setiap debat kaum Asy’ariyah selalu menang. Maklum mereka menggunakan pendekatan teologi dan filsafat. Ini sering membuat pertengkaran dan mengancam persatuan umat. Saat itulahn tampil seorang ulama besar bernama Al Gazhali.


Gazhali tidak menyalahkan keduanya, tetapi juga ragu menerima keyakinan kedua belah pihak. Padahal Gazhali adalah ulama hebat dimasanya. Pada usia 20 tahun beliau sudah menguasai seluruh tafsir Al Quran dari berbagai kitab dan mengetahui hadith lebih banyak dari orang pada umumnya. Beliau dikenal sebagai ulama Genius. Dalam kebingungan itu, Gazhali bijak bersikap. “ Ah kenapa saya tidak belajar secara utuh tentang Asy’ariyah”. Gazhali tidak belajar dari bawah tetapi langsung dari pucuk. Apa itu?  filsafat yang menjadi dasar kaum Asy’ariyah bersikap.


Untuk itu Al Gazhali terjun dalam studi tentang filsafat Yunani, termasuk meguasai bahasa Yunani. Setelah dia kuasai semua hal tentang filsafat. Kemudian dia menulis sebuah buku tentang filsafat Yunani yang berjudul “ Maksud para Filsuf ( Maqashid al-Falasifah). Uraiannya tentang filsafat begitu jernih, sangat luas, bahkan ahli filsafat khusus tentang aristoteles yang membaca bukunya berkata “ Ah sekarang akhirnya aku mengerti Aristoteles.”


Kemudian Al Gazhali menulis kembali buku tentang Filsafat dan ini buku keduanya yang berjudul “Ketidak-logisan Para Filsuf “ ( Tahafut al-Falasifah ). Di sini AL Gazhali mengindentifikasi dua puluh premis yang menjadi sandara Filsafat Yunani dan Greko-Islami. Kemudian ia menggunakan  logika silogisme untuk membongkar masing masingnya. Argumen yang paling konsekuensial  adalah serangannya terhadap hukum kausalitas antara fenomena material. Al Gazhali dengan sangat terpelajar mampu menyakinkan siapapun bahwa filsafat  Yunani itu keliru.


Bebrapa Filsuf memukul balik. Ibn Rusyd ( Averroes) menulis balasan untuk buku Gazhali, tetapi itu tidak ada banyak gunanya; ketika kabut telah berlalu, Gazhali juga yang menang. Gazhali meraih penghargaan luar biasa untuk karyanya. Ia diangkat menjadi kepala Universitas Nizamiyah yang prestisius di Bagdad. Kaum mapan ortodok mengakuinya sebagai otoritas keagamaan terkemuka.


***

Tetapi apakah setelah bisa mengalahkan kaum Asy’ariyah dan meluruskan kaum Muktazilah,  merasa puas? Justru Gazhali sendiri terjebak dalam lorong gelap. Dia malah merasa bego. Dia percaya pada wahyu, dia menghormati Nabi dan Kitab, dia setia kepada syariah, tetapi tidak merasakan kehadiran Allah secara jelas. Gazhali tiba tiba mengalami krisis ruhani. Ia mengundurkan diri dari semua jabatannya. Membagi bagikan semua harta miliknya. Meninggalkan pujian dan kehormatan, termasuk semua teman temannya, dan pergi kepengasingan.


Setelah keluar dari pengasingan itu, dia menulis buku yang berjudul ‘Kimia Kebahagiaan ( Kimiyaat AL –Saadat) dan Kebangkitan Ilmu Agama ( Ihya Ulumiddin). Dia menyatakan bahwa para ulama itu benar, tetapi para Sufi lebih benar lagi. Hukum adalah Hukum dan Anda harus mengikutinya, tetapi Anda tidak bisa mencapai Allah dengan mempelajari Kitab dan beramal baik semata. Anda perlu membuka hati, dan hanya para sufi yang tahu cara membuka hati.


Tetapi jangan anda anggap bahwa sufi itu ajaran sesat atau keblinger. Justru dari dua buku yang ditulis Gazhali itu, dia blended antara teologi ortodoks dengan terekat-metode sufi untuk menyatu dengan Allah. Dia menciptakan sebuah tempat bagi mistissme dalam kerangka islam ortodoks dan dengan demikian membuat tasauf menjadi terhomat.


***

Itulah sebab menjelang usia 40 tahun, saya merasa kosong. Padahal saya lahir dari keluarga ulama. Puluhan tahun saya baca banyak kitab Islam. Mempelajari tafsir  Al Quran dari usia dini.  Saya percaya fikih dan menghormati syariah. Tetapi saya tidak mengenal Tuhan. Jiwa saya terasa kosong. Setelah membaca semua buku Al Gazhali saya sedikit tercerahkan. Akhirnya saya ikut  program mutih di Ciomas dan akhirnya mengantar saya ke Vihara di China untuk mengenal Tuhan. 


Ternyata esensi agama itu adalah Tuhan. Mendekati Tuhan itu tidak dengan teriak pakai Toa atau demo,  atau debat, tapi lewat fatakur dalam kesunyian antara kita dan Tuhan saja. Memang agama itu adalah soal privat. Karena Tuhan itu ada pada diri kita. Outputnya hanya cinta dan kasih. Apapun itu, bertengkar itu buruk, hanya omong kosong. Pastinya semakin menjauhkan anda dari Tuhan.


Level beragama.

Gimana pendapat anda soal pemahaman beragama sekarang? tanya teman seusai kasus pengeroyokan Ade Armanto. Menurut saya, walau berbeda beda pemahamannya, tidak ada yang salah. Semua benar. Tentu sesuai dengan tingkatan mereka dalam beragama. 


“Apa yang dimaksud dengan tingkatan beragama.?


“ Dalam islam itu ada empat tingkatan. Tingkat pertama, syariat. Hidayat, hakikat, dan ma’rifat.” Kata saya. Kempat tingkat itu ibarat anak tangga. Tidak bisa langsung ke ma’rifat. Harus melalui proses syariat, agar sampai pada hidaya dan kemudian mencapai hakikat dan puncaknya ma’rifat. “ Kata saya. Dia minta jelaskan secara sederhana keempat tingkat itu. 


Syariat itu, itu level orang beragama melaksanakan dasar ritual yang ditetapkan rukun islam dan rukun iman. Pada level ini orang beragama masih melihat simbol. Misal soal pakaian, tempat ibadah, dan tradisi lain remeh temeh yang dia yakinin sebagai bagian dari syariat. Mereka suka membanggakan syariat itu. Orang yang tidak patuh dengan simbol, misal tidak sholat di masjid, dianggap sesat. Tidak berjanggut, tidak pakai baju gamis dianggap bukan kaumnya. Tidak mau poligami dianggap salah.


Beragama pada level syariat ini tidak menghasilkan apapun. Itu hanya beragama pada level kulit dan simbol saja. Hanya ngerep sorga. Kadang mudah tersesatkan dengan mengkafirkan orang lain, atau terkesan kekanak kanakan. Doyan mengeluh dan menyalahkan orang lain. Sebenarnya sudah tertipu dalam beragama. Karena dirasa sudah beragama ternyata belum.  Tidak banyak orang bisa lolos level syariat itu. Biasanya terkubur karena kesombongan beragama.


Level kedua, Hidayat. Kalau tingkatan syariat dapat dilakukan dengan rendah hati.  Akhlak bertambah baik seiring keimanan bertambah kuat, maka akan sampai pada level hidayat. Nah pada level hidayat ini, orang beragama tidak lagi kepada simbol. Mereka lebih focus kepada akhlak. Lebih utamakan akhlak daripada fikih. Ogah bertengkar. Lebih memilih berdamai. Namun pada level ini kadang orang sombong. Mereka merasa pantas masuk sorga. Yang lain tidak. Nah sikap ini akan mengaburkan jalan ke hakikat.


Level ketiga, Hakikat. Kalau level hidayat dapat dilewati dengan ikhlas. Maka akan sampai pada level hakikat. Orang beragama benar benar jauh dari simbol dan material. Walau senantiasa berbuat baik namun tidak lagi menghitung pahala dan amalan. Mereka menjauh dari hiruk pikuk agama, lebih suka menyendiri. Tidak suka bertengkar soal  salah benar. Dalam dirinya hanya ada cinta  dan kasih. Nilai kemanusiaan nya tinggi sekali. Agama sudah jadi guide of life.


Level keempat. ma’rifat. Umumnya orang yang sudah beragama pada level hakikat, mereka akan selamat mencapai level ma’rifat. Apa itu ma’rifat? Dia sudah jadi pribadi yang merupakan bayang bayang Tuhan.  Yang ada hanya cinta dan kasih sayang. Dia sudah jadi pencerah manusia, tidak lagi di sekat agama, suku dan bangsa. Sifat kemanusiaan mengalahkan segala galanya. Baginya mencintai manusia adalah mencintai Tuhan itu sendiri. Kerinduannya,  hanya Tuhan. Di manapun dia berada tidak penting. Sorga atau neraka ok saja. Yang penting dia bersama Tuhan. Hanya Tuhan tujuannya, bukan yang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Dosa itu apa ?

  Sebenarnya dalam kisah para Nabi, ada pembalajaran tentang persepsi dosa dan hukum kausalitas, yang begitu saja di jungkir balikan Tuhan. ...