Sabtu, 31 Agustus 2019

Dana ?

Mungkin saya termasuk orang paling takut berhutang secara pribadi. Bukan hanya sekedar takut. Sebetulnya itu ada dasarnya. Dasarnya adalah komitmen dengan istri. Bahwa saya tidak boleh berhutang untuk makan dan keperluan pribadi. Apapun itu. Makanya sejak menikah sampai kini telah 30 tahun lebih, kami memang tidak pernah berhutang untuk keperluan pribadi. Makanya kalau engga ada uang ya engga usah beli. Walau tawaran berhutang dan peluang ada, tapi tidak pernah kami lakukan. Beli rumah, kendaraan dan lainnya selalu bayar tunai.
Sejak menikah, istri tidak pernah punya credit card. Saya paksapun dia tidak mau. Sementara saya punya credit card namun menggunakan fasilitas autopay. Jadi engga pernah kena bunga dan credit card hanya alat memudahkan saya bertransaksi tanpa ada niat berhutang. Dengan begitu hidup kami sederhana, dan tak pernah terpengaruh dengan gaya hidup orang lain. Bukan kami tidak ingin seperti orang lain, tetapi kami sudah nyaman dengan sikap hidup kami yang ada sekarang. Lantas gimana dengan kehidupan saya sebagai pengusaha ? Apakah tidak berhutang. Apakah sama dengan kehidupan pribadi saya ?
Sebagai pengusaha, saya berhutang. Hutang bisnis bukan hanya tidak ditakuti , tetapi saya terlatih meng create skema berhutang untuk mengembangkan usaha. Semakin kecil modal sendiri untuk pembiayaan proyek, semakin bagus. Mengapa ? karena dengan berhutang, keputusan bisnis lebih prudential ( hati hati). Perencanan lebih teliti. Pelaksanaan lebih desiplin dan attitude bagus. Sayapun tidak pernah menggunakan uang perusahaan untuk keperluan pribadi. Tanpa sikap itu tidak ada investor yang mau kasih uang. Dan terbukti tidak ada bisnis saya yang bermasalah soal hutang. Bunga dan cicilan jalan terus. Bahkan belum jatuh tempo sudah di refinancing melalui pelepasan sebagian saham dengan capital gain.
Ketika Jokowi jadi presiden. Yang pertama dia lakukan adalah menghentikan utang untuk keperluan belanja rutin negara. ALasannya situasi ketika dia masuk istana pertama kali, memang kondisi negara dalam keadaan defisit primer. Artinya pendapatan dikurangi dengan belanja rutin hasilnya minus. Engga ada lagi sisa untuk bayar bunga dan cicilan utang. Mengapa ? karena era sebelum Jokowi, hutang digunakan untuk konsumsi dan belanja rutin, yang habis tanpa imbal hasil alias kebuang ke janban. Karena bukan diperuntukan kegiatan produksi. Sehingga tidak ada kelebihan sumber daya keuangan untuk membayar.
Di era Jokowi, belanja rutin dikurangi. Hutang produksi atau hutang fiskal diperbesar. Seperti hutang untuk alat produksi pertanian seperti Waduk , irigasi dan lain sebagainya. Pemerintah juga berhutang untuk membangun jalan dan jembatan. Bandara, Pelabuhan, Jalur kereta Api, pasar. Semua hutang itu akan menghasilkan pertumbuhan real, yang bisa membayar hutang dimasa lalu maupun yang sedang berjalan. Dengan demikin secara makro dan anggaran ( fundamental) ekonomi kita jadi sehat dan sehingga dipercaya terus berhutang untuk meng eskalasi pertumbuhan seiring meningkatknya jumlah penduduk dan angkatan kerja. Inilah yang disebut dengan financial resource. Dimana uang ngikut kemana kebijakan anda. Selalu ada uang.
Mengelola bisnis dan negara, secara prinsip sama saja. Kalau berhutang untuk keperluan konsumsi, maka itu sama saja anda menggali kuburan sendiri. Kalau anda berhutang untuk produksi ( bisnis ) dan dipercaya maka itu anda sedang membangun peradaban. Mengapa? karena kegiatan produksi melibatnya banyak ahli dan pengetahuan serta tekhnologi, juga melibatkan banyak stakeholder. Tanpa disadari, hutang untuk produksi itu menjadi berkah bagi banyak orang. Lantas gimana imbas nya dengan kehidupan pribadi pengusaha atau pemimpin ? Pengusaha atau pemimpin sejati tidak mengejar kemewahan hidup dengan standar materiliastis. Tetapi menggunakan sumber daya untuk memperkuat struktur ekonomi agar value terus meningkat dan berkembang lewat skema hutang yang lebih flexible..
Kalau orang tuduh Jokowi terus berhutang dalam konotasi negatif, itu karena dia tidak bisa membaca neraca APBN dan tidak bisa membedakan mana hutang konsumsi dan mana hutang produksi. Pengetahuan ekonomi terbatas tapi bergaya seperti pengamat ekonomi yang maha benar. Padahal kalaulah hutang Jokowi itu mengkawatirkan, tidak akan ada investor yang mau kasih pinjam walau SDA banyak. Engga mungkin rating hutang kita masuk investment grade. Contoh venezuela yang kaya SDA tapi gagal mendapatkan hutang dan akhirnya bangkrut. Jadi kalau takut berhutang untuk produksi, maka penyebabnya hanya dua, pertama, dia pemalas. Kedua, dia rakus. Ingin hidup senang tapi engga mau punya liabilities.




Jumat, 30 Agustus 2019

Kelembagaan VS emansipasi



Di China tidak ada lembaga publik selain Partai Komunis. Tidak boleh ada ormas. Termasuk ormas sosial. Singkatnya apapun tujuan ormas tidak boleh. Namun apakah masyarakat tidak boleh mengorganisir dirinya sendiri? Boleh, asalkan tidak dilembagakan. Gimana caranya ? ya melalui kebudayaan dengan sistem komunitas, ya semacan asosiasi atau paguyupan. Walau organisasi ini informal namun ada pengurusnya dan sangat dihormati oleh komunitasnya. Urusanya juga luas, bukan hanya tempat berkumpul, tetapi wahana bagi anggota untuk menyelesaikan masalah keseharian. Dari sinilah kebudayaan gotong royong senasip sepanggungan terjadi terus menerus. 

Sebagaimana halnya Koperasi. Pemerintah China tidak menempatkan gerakan Koperasi sebagai lembaga. Koperasi sama dengan bentuk usaha lain. Mereka tidak mendapatkan keistimewaan politik dari pemerintah sehingga perlu dibentuk Meteri urusan Koperasi. Tetapi justru karena itu gerakan koperasi tumbuh pesat. Mengapa ? karena koperasi bisa masuk ke semua bidang usaha. Tidak ada pembatasan aturan. Sama dengan bidang usaha lain. Dalam hal pembiayaan juga koperasi mendapatkan akses sama dengan badan Usaha lainnya. 

Hanya saja karena aturan koperasi berdasarkan anggota, maka kalau mereka ingin mengakses permodalan diluar sistem keanggotaan,  mereka atas dukungan dari asosiasi bisa membentuk proxy. Proxy itu bisa berupa PT dimana pemegang saham adalah pengurus asosiasi sendiri. Atau mereka menggunakan tangan BUMN China untuk mengakses permodalan dengan dukungan pasar dan supply dari anggota koperasi sendiri. Disini terjadi sinergi yang hebat. Antara negara dan rakyat dalam mutual simbiosis. Dengan adanya Fintec, Koperasi semakin bebas bergerak. Mereka punya portal pembiayaan, pooling fund, perdagangan, yang dikelola secara IT.  Jangkaua anggota semakin luas. 

Deng bapak ekonomi China, ketika mereformasi ekonomi, yang ditentang paling keras adalah kelembagaan gerakan rakyat. Itu sama saja memasung rakyat dari kebebasan memakmukan dirinya sendiri. Apa saja kalau sudah dilembagakan maka ia akan jadi kendaraan politik dan akhirnya rakyat jadi second class, yang pada waktu bersamaan sumber daya negara terkuras.  Koperasi tidak perlu dilembagakan karena gerakannya sudah melembaga dalam diri setiap rakyat China. Samahalnya agama, tidak perlu dilembagakan, karena agama sudah ada dihati semua rakyat.  Itu saja yang dibina, bukan dengan cara pemaksaan ala top down tetapi lewat emansipasi. 

Di Indonesia, apapun dilembagakan. Seakan Negara jadi Tuhan.  Koperasi dilembagakan. Menteri Koperasi pun dibentuk. Gerakan sosial dilembagakan , menteri Sosial dibentuk. Gerakan agama dilembagakan, Menteri agama pun dibentuk. Apa yang terjadi ? Koperasi menjadi second class dibandingkan badan usaha lain. Gerakan sosial menjadi ladang bisnis dan korupsi.   Pengurus lebih dulu makmur daripada rakyat. Agama pun menjadi wahana korupsi dan bisnis. Pengurus dan tokoh agama lebih dulu makmur daripada umat. Kebiasaan kita selalu focus kepada syariat bukan hakikat. Akibatnya semua jadi ladang bisnis alat aneksasi terhadap kebebasan individu.

Kamis, 29 Agustus 2019

Akar Masalah Perpecahan


Apa yang unik dari sebuah nama Indonesia ? Mengapa saya katakan Unik ? Indonesia adalah gabungan dari banyak suku, daerah, kepulauan, bahasa, Awalnya ia merupakan gabungan karena senasip sepananggungan akibar kolonialisme. Dalam perjalanan perjuangan melawan kolonial, gabungan itu melebur menjadi satu: Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Sejak itu nama Indonesia disepakati, sejak itu bahasa indonesia disepakati. Puncaknya ketika proklamasi, gabungan itu sudah melebur menjadi “persatuan Indonesia.” Maka berdirilah Negara Kesatuan Indonesia. Di dunia ini hanya indonesia yang punya paling banyak keberagaman namun dapat dipersatukan dalam sebuah negara.

Kekuatan Indonesia itu karena perbedaan. Benarkah? Bukan. Tapi kekuatan itu karena orang indonesia punya dasar yang kuat untuk dipersatukan dalam perbedaan. Apa dasar itu? Dasarnya adalah agama berkata dan adat memakai. Gabungan dari Agama dan adat itu menjadi kebudayaan bagi seluruh suku di Indonesia. Kehebatan bapak pendiri bangsa ini adalah mereka mampu menggunakan kekuatan itu untuk mengusir kolonial dan malahirkan sebuah negara besar yang bernama Indonesia. Tentu menyadarkan rakyat untuk sadar akan kekuatannya, akan kebudayaannya tidak mudah. Bapak bangsa kita, butuh waktu lama dalam proses edukasi, lewat pendekatan agama dan budaya. Puncaknya adalah Proklamasi.

Belanda menguasai Indonesia 350 tahun karena tahu percis akar kebudayaan itu. Makanya Belanda selalu menggunakan politik adu domba agar akar itu tecabut dari kebudayaan Indonesia. Bagaimana Belanda memecah belah bangsa ini? ya membangun ego kesukuan ( kedaerahan ) dan Agama. Selalu dalam politik devide et impera, kalau engga agama ya, kesukuan dibenturkan. Belanda berhasil membuat indonesia terpecah pecah. Indonesiapun menjadi kerajaan kecil kecil. Setelah terpecah pecah, para elite kesultanan dan kerajaan disuapi harta dan proteksi agar tetap berkuasa dan pada waktu bersamaan membiarkan Belanda menguras SDA.

Setelah Indonesia merdeka, pengaruh asing tetap ada. Mereka tetap ingin menguasai Indonesia secara tidak langsung. Yaitu melalui elite kekuasaan di Indonesia. Caranya ? Ya menggunakan lagu lama. Memprovokasi sentimen agama dan kedaerahan. Tercatat Islam pernah memberontak dua kali yaitu DI/TII. Kemudian atas dasar kesukuan ( kedaerahan ) pernah pula terjadi gerakan separatis yaitu PRRI. Gabungan Agama dan kesukuan, muncul pula gerakan separatis seperti di Aceh. Namun selalu Indonesia berhasil meredam pemberontakan itu.

Kegaduhan politik tidak bisa dipisahkan dari politik adu domba asing. Yang digunakan adalah issue kesukuan ( kedaerahan). Pada waktu bersamaan ego agama terutama Islam semakin menguat, yang membuat situasi politik sangat mudah gaduh. Karena ego agama pula, hal yang berkaitan toleransi terhadap SARA sangat mudah diledakan. Dulu Belanda menggunakan kekuatan langsung. Tetapi kini negara lain yang punya kepentingan geostrategis terhadap Indonesia ikut bermain secara tidak langsung dengan memanfaatkan elite politik oportunis untuk menjadi proxy atas nama HAM dan agama.

Sementara bagi elite politik oportunis selagi kekuatan politik tidak seimbang, dan peluang mendapatkan rente ekonomi semakin sulit, maka Issue SARA yang mengarah kepada disintegrasi akan dimainkan terus dan itu bersenggama dengan Asing untuk saling memanfaatkan dalam mencapai orgasme. Namun sejarah mencatat mereka tidak pernah mencapai orgasme. Entah kini…setelah keributan berdarah kemarin , masalah Papua sudah masuk agenda di PBB untuk dibahas. Ini engga lagi masalah dalam negeri tetapi sudah international. Jadi sangat serius. Kalau Papua lepas, sangat yakin akan di copy paste untuk daerah lain. Apalagi soal sentimen agama semakin mendapat ruang dalam politik. Maka bubarlah negeri ini.

Semoga Jokowi tetap kuat dan bisa mengatasi gejolak politik. Semoga para elite politi mantiko, menyadari resiko ulah mereka. Berhentilah main main. Taruhanya mahal sekali. Dan kita sebagai rakyat menyadari politik adu domda ini dan tetap bersatu dalam semangat persaudaraan atas dasar cinta dan kasih sayang..

***

Saya bertemu dangan politisi kemarin malam. Saya tanyakan soal peristiwa Papua yang rusuh dan rasa kawatir saya. Dia hanya tersenyum ketika mengatakan bahwa masalah Papua itu apinya tetap berasal dari Jakarta dan asapnya ada di Papua. Tinggal matikan api di jakarta, asap di Papua akan berlalu begitu saja. Saya sadar arah ucapannya. Itu artinya elite politik di jakarta yang bermain api. Tapi engga usah kawatir berlebihan. Karena sumber api mudah diketahui oleh Jokowi. Itu sababnya Jokowi keliatan tenang dengan situasi yang ada di Papua.

Masalah itu bersumber dari dua ekses. Satu ekses internal dan eksternal. Eksternal adalah ketidak sukaan AS atas konsep Indo Pacific yang diajukan oleh Indonesia. AS merasa kehilangan kendali secara politik atas Indo pacifik khususnya berkaitan dengan masalah laut china selatan. Indonesia tidak bisa menggunakan hak teritorialnya terhadap selat Malaka dg membatasi dilintasi kapal dagang asing yang mayoritas kapal dari China. Indonesia tidak bisa membuat aturan diskriminasi terhadap kapal asing. Artinya semua kapal asing bebas melintasi selat Malaka sesuai dengan aturan Indonesia. Kecuali kapal perang. Harus izin dari pemerintah Indonesia. Itupun yang berkaitan dengan besar lambung kapal dan jenis bahan bakar.

Mengapa ? Indonesia harus mengacu kepada Konvensi hukum laut 1982 dan masalah hak lintas kapal asing. Yang kemudian tanggal 31 Desember 1985 telah terbit Undang-Undang No. 17 tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Convention on the Law of the Sea (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut). Jadi tidak mungkin Indonesia harus mengikuti konsep AS tentang Indo pacific yang menjadikan Indonesia sebagai proxy AS di kawasan laut china selatan pada khususnya dan pacific pada umumnya. Soal perseteruan antara AS dan China di laut china selatan, itu bukan urusan Indonesia. Dan Indonesia tidak bisa berpihak kesalah satunya. UUD kita menjamin politik international bebas aktif.

Masalah eksternal itu tentu juga berhubungan dengan tekanan AS terhadap Indonesia berkaitan dengan kebijakan larangan ekspor mentah barang tambang mineral dan rencana revisi UU Migas yang pro kepada kepentingan nasional. Pada waktu bersamaan elite politik di jakarta memanfaatkan faktor eksternal ini untuk membonceng mendapatkan bargain politik terhadap issue nasional yang lebih menguntungkan Jokowi. Kalau bisa ya menjatuhkan Jokowi. Tetapi langkah itu mudah dibaca oleh Jokowi. Makanya dihadapi Jokowi sambil bersafari naik sepeda di Borobudur daripada mengunjungi Papua, yang justru membuat Jokowi trap bila keadaan tak terkendali setelah kunjungan ke Papua itu.

Masalah Papua akan selesai dengan elegan. AS tidak akan berbuat lebih jauh terhadap Papua. Karena secara politik resmi gedung putih menghormati sikap Jokowi. Yang ngeyel hanya elite politik AS yang jadi proxy TNC. Dan setelah ini, memastikan elite politik mantiko akan bernasif sama dengan pelaku kasus 411 dan 212, 21-22 Mey 2019.


Sabtu, 24 Agustus 2019

IT dan Social Engineering



Teman saya di China terkejut ketika mau Check in Hotel, orang hotel tidak membutuhkan deposit. Padahal temannya yang lain yang sama ikut check in diharuskan menempatkan deposit.  Keterkejutan lain adalah dia mendapatkan kemudahan aplikasi pinjaman ke bank ketika hendak menaikan plafond kreditnya. Tanpa perlu banyak negosiasi, aplikasinya langsung disetujui. Ada apa ? selidik punya selidik, dia baru tahu bahwa data tentang prilaku konsumsinya menjadi dasar analisa untuk menaikan credit rating nya, dan ini berhubungan dengan karakter. 

Apa pasal. ? data menunjukan bahwa kebiasaan dia setiap akhir minggu belanja kebutuhan hari hari bersama istri. Salah satu yang rutin dibeli adalah popok. Dia engga punya bayi. Popok itu untuk orang tuanya yang sudah sepuh dan tinggal di rumahnya. Data juga menunjukan dia hampir jarang sekali mengeluarkan uang untuk konsumsi hiburan seperti panti pijat atau KTV.  Atas dasar itulah credit rating nya naik. Analisa data menunjukan dia orang berkarakter baik. Mengapa?  Orang yang mengasuh orang tua sepuh  adalah orang baik. Menahan selera untuk hiburan yang tidak perlu, dinilai orang yang kuat mengelola EQ.  Sederhana sekali credit rating itu terbentuk.

Lantas gimana  caranya China bisa mendapatkan data tersebut ? itulah kehebatan dari IT ( information technologi ) yang sudah masuk ke aplikasi BIG Data. Apapun aktifitas anda pasti berhubungan dengan transaksi dan uang. Di  China hampir 90% transaksi sudah menggunakan aplikasi digital cash. Bahkan kalau anda belanja dengan uang tunai, penjual justru kawatir dan ragu menerima.  Karena dianggap orang aneh. Dengan sistem big data inilah analisa credit rating dapat dilakukan dengan “cepat” oleh siapa saja yang berhubungan bisnis dengan anda. Makanya teman saya itu tidak butuh deposit ketika check ini hotel. Tidak perlu negosiasi rumit dengan bank untuk dapatkan tambahan kredit.

Salah satu staff kantor saya di China, diterima tidak melalui test  panjang tetapi berdasarkan analisa data dari aktifitasnya di sosmed. Grafik attitude nya terpantau dengan cepat. Disitu akan sangat mudah melihat caranya berpikir soal keseharian, sikap mentalnya terhadap fenomena yang sedang berkembang dan lain sebagainya. Hebatnya untuk mengetahui itu tidak ruwet. Ada aplikasi yang cukup menulis nama seseorang, langsung hitungan detik karakter orang itu terbaca dengan mudah. 

Yang jadi masalah adalah kegiatan kolosal yang melibatkan banyak orang akan sangat mudah terpantau oleh pemerintah. Contoh ada gerakan buruh mau demo. Pasti mereka membutuhkan dana sumbangan dari semua anggota buruh untuk aksi itu. Mau tidak mau mereka membutuh channeling cash digital untuk mengirim uang ke serikat buruh. Nah dengan cepat uang itu di block oleh pemerintah. Aksipun gagal. Begitu juga aktifitas sosial dan politik lain yang melibatkan banyak orang, pasti akan terpantau dengan mudah oleh pemerntah. Kalau uang di block, ya apapun aksi pasti gagal.

“ Kami tidak mengeluh ketika pengawasan membuat kami aman; ketika kamera dapat memperingatkan kami akan kemacetan yang akan datang, atau melindungi kami dari kejahatan atau mengetahu credit rating agar terhindar dari penipu. Kami bahkan menyambutnya. Namun dengan sistem BIG data, tidak ada lagi privasi. Dari hari ke hari , hak privasi kami semakin terkikis. Itulah dampak dari social engineering kini melanda China. Kami tidak bisa lagi bebas.  Bagaimana dengan di Indonesia“ Kata teman di China.

“ Kami ratusan tahu lalu sudah seperti  China. Dimana saja dan kapan saja pengawasan itu terjadi. Tetapi tidak dengan IT pengawasan dilakukan.”

“ Sistem apa yang dipakai ?

“ Sistem Tuhan. Kami tahu kapan saja dan dimana saja Tuhan melihat kami. “ 

“ Ya benar juga. Apakah itu efektif ?

“ Masalahnya kebanyakan kami tidak takut dengan Tuhan.”

“ Ya.  Kami sangat takut dengan pemerintah. “ kata teman dengan wajah lesu.

“ Itulah bedanya.” 


Kalau orang takut kepada Tuhan dan sadar setiap perbuatan akan berbalas, tentu social engineering akan terjadi dengan sendirinya kearah lebih baik tanpa harus dengan IT.

Napak tilas ...

“ I love Indonesia so much,” Katamu. Kamu lanjutkan, kalau ingin mendapatkan makanan enak, datanglah ke Italia. Kalau ingin mendapatkan kedamaian, India tempatnya. Tapi kalau ingin dapatkan cinta, ya Indonesia. Kalau ingat senyum orang Indonesia ketika bersetatap dengan orang asing, rasanya peperangan yang terjadi memang suatu kebodohan manusia. 

Kamu lebih suka bicara apa adanya. Kamu tidak suka berdalih tentang apa yang terjadi. Kamu lebih suka melihat dari realita. Itulah pribadimu yang aku suka. Aku tidak terkejut. Kamu tidak pernah berubah. Suatu saat, kamu berkata ” aku ingin ulang tahunku di Jakarta,” demikian pesanmu lewat WA.  Singkat sekali, tetapi lebih dari cukup untuk alasan kamu ingin pulang ke Indonesia, setelah 30 tahun pergi dari tanah air.

Selalu, kuingat tentang detail persahabatan denganmu. Dikala menelusur kota pada malam hari. Bahkan dari gigil udara malam, dendang lagu tentangmu dapat memancing kehangatan. Kau adalah mataku. Yang kugunakan untuk menaklukan dunia. Sepanjang malam, gelap menyadurkan melankolia. Malam semakin pekat. Bebunyian yang tersisa hanya deru lenguhan orang bersenggama. Besoknya terlambat bangun. Yang melintasi malam bersama kerahasiaan tentang tujuan. Perjalananku sendiri lamat saja. Belum pernah kurasa hidup menjadi amat sepi. Hidupku datar saja namun selalu ada harapan karena  istriku selalu ada untuk ku.

Bagiku, pelan adalah keselamatan. Menekuri ketelitian. Menghindari bakhil yang celaka. Hanya mata hati yang berfungsi. Tersisa dunia hanya bagi belahan pandang menipu. Semenjak beberapa tahun lampau. Ketika passion, ku wakafkan. Karenanya tak mengenal aku kebanggaan atas credit card centurion dan palladium. Tetapi karena itu, aku bisa mendengar bulan mendengkur, di antara awan dan gedung tinggi. Bulan selalu tertidur selepas tengah malam. Bosan barangkali. Lelah juga mungkin. Tapi kau selalu mengatakan, ”bulan bukan bosan. Ketika kota hening, ketenangan akan membiusnya.” Tak setuju benar aku perihal itu. Tapi memang keheningan selalu dapat membius. Keheningan adalah jenis racun dengan wujud yang lain.

Benarlah. Kamu datang juga. Aku mendapat pesan melalui WA bahwa kamu menginap di Hotel bilangan Sudirman. Ketika kita berjalan menuju cafe hotel. Kamu sempat berwajah kawatir melihat seorang barjanggut menggunakan pakaiam gamis. Seketika kamu memeluk lenganku. 
“Ada apa ?
“ Ah tidak. Maaf. “ katanya segera melepas tangannya dari lengan saya. 
“ Saya seperti tidak menemukan Indonesia yang dulu saya kenal Senyum sudah menjadi langka. Semua orang nampak awas terhadap yang lain “
“ Kamu terlalu terpengaruh dengan berita tentang Indonesia. Engga seperti itulah. Semua masih sama. “
“ Yang beda apa ?
“ Semakin terbuka informasi , semakin terbuka persepsi orang tentang apa saja. Apalagi dengan adanya sosial media. Jadi yang beda cara orang mengungkap sikapnya. Dulu orang mengungkapkan pikiranya tanpa ada yang tahu. Sekarang orang punya corong untuk didengar”
“ Tetapi dengan mereka menyampaikan pikirannya lewat sosial media, itu membuat orang ramai tahu”
“ Mereka tidak pernah menyadari pikirannya akan berpengaruh besar terhadap orang lain. Bagi mereka itu hanya antara dia dengan gadget. Mana pernah dia terpikir bahwa dia sedang berada disebuah wahana raksasa yang menembus batas dimana jutaan orang memperhatikan sikapnya. “ 
“ Yang saya sedihkan,  mengapa pemahaman agama lebih banyak dalam konteks politik, bukan dalam narasi cinta dan kasih sayang, untuk mengajak orang damai ditengah perbedaan”
“ Emang kenapa agama dalam konteks politik?
“ Politik selalu memisahkan kelompok di tengah masyarakat. Sementara Agama mendamaikan semua orang yang berbeda. Ya kan?
“ Sebetulnya baik agama maupun politik, itu sama saja. Sama ingin membangun peradaban. Politik itu melaksanakan agenda idiologi. Walau idiologi berasal dari pikiran manusia, ia juga sebuah karunia dari Tuhan. Sama saja dengan agama yang bersumber dari kitab suci.”
“ Tapi kalau bicara idiologi, selalu menyalahkan orang yang berbeda.”
“ Salah menyalahkan itu dialektika. Biasa saja. Yang tidak benar itu adalah apabila perbedaan itu menimbulkan permusuhan dan kebencian.  Semua idiologi tidak mengajarkan permusuhan dan kebencian. Sama juga dengan agama.”
“ Lantas mengapa karena idiologi dan agama, orang bisa membenci dan memusuhi ?
“ Karena kebodohan. Kebodohan mereka dimanfaatkan oleh politisi untuk menghabisi lawannya.  “
“ Kok bisa ?
“ Baik idiologi maupun agama, selalu ada alasan untuk menyalahkan orang yang berbeda. Ada narasi yang mudah dipahami oleh orang awam, sehingga mereka menjadi militan pembela kebenaran yang dijejalkan kedalam pikirannya. Pada akhirnya mereka adalah korban dari politisi. “
“ Korban ?
“ Ya korban. Setelah kekuasaan didapat, baik politisi maupun agamawan akan duduk satu meja.  Mereka berbagi diantara mereka. Sementara rakyat sudah terlanjur terbelah dan saling memusuhi. Mereka para politisi itu tidak peduli. Kalau karena permusuhan dan kebencian itu, rakyat bertikai, itu menjadi tugas polisi menyelesaikannya. Begitula bila yang terlanjur militan, itu juga tugas polisi kalau mereka melakukan aksi teror “
“ Hmmm.” Dia mengangguk. “ Saya mengerti sekarang. Ini semua karena demokrasi. Kebebasan menyampaikan pendapat dan dewasa menerima perbedaan.” 
“ Indonesia masih belajar dalam berdemokrasi, khususnya rakyatnya. “
“Seharusnya para elite politik itu mendidik rakyat untuk dewasa berdemokrasi ?
“ Para elite itu sampai mati tidak akan pernah dewasa, kalau rakyatnya sendiri engga dewasa. “
Kami terdiam sambil asyik mendengar lantunan lagu diatas panggung yang dibawakan biduanita dari Philipina.

”Kamu ingin hadiah apa untuk ulang tahunmu?” tanyaku. Dengan tersenyum dia menatapku. “ Gandeng aku seperti di tahun 1993 berjalan di malam hari dari Senen ke Raden Saleh, Hotel Pardede!”. katanya.
“ Usia kita sudah mendekati 60 tahun, Esther. Aku engga yakin apa masih kuat jalan kaki sejauh itu. Apalagi malam hari ”
“ Ayolah, Bro, kita lakukan napak tilas seperti dulu saat terindah pernah kita alami.” katanya menarik lenganku. Aku tidak bisa menghindar. “ Kalau begitu, dari Pulman ini saja, kita ke Cikini terus ke hotel Pardede ?
“Engga mau. Dari Senen”
“ Ya udah. Kalau gitu kita pakai kendaraan ke Senen, dari sana jalan kaki ya”
“ Yup “ katanya riang. 

“ Aku ingat di tahun 1993 ketika kita ke Bali. “ kataku ketika kami mulai melakukan napak tilas berjalan kaki dari Senen ke Jalan Raden Saleh. “ aku terpesona dengan gigimu yang putih dan tertata baik sekali. Tanpa cacat. “
“ Aku ingat. Waktu itu aku pikir kamu inginkan es creamku setelah es cream kamu habis lebih dulu. Kamu tidak pernah bisa menikmati makan apapun dengan ritme yang lambat, penuh resapan kenikmatan. Memang bagimu hidup bukan untuk makan. “ 
“ Apalagi yang kamu ingat? 
”Waktu itu kamu bilang kepada ku,-- aku hanya pria kampung. Peragu dan kadang inferior, di mata orang normal seperti kau. Yang tak selalu memiliki mimpi besar seperti kamu yang ingin menguasai dunia. Menaklukan Hong kong. Bahkan selama ini, aku takut dengan kemewahan. Sepertinya aku tidak bisa menjadi predator yang rakus--. Dan aku jawab dengan tegas. Jangan, jangan pernah bicara seperti itu lagi, Bro? Suatu saat kamu akan jadi elang perkasa. Aku meliat itu dimatamu, mata elang, sayang. Benar engga ? Kini kamu sudah punya beberapa perusahaan diluar negeri. Aku tidak salah dengan keyakinanku.”
“ Bertahun-tahun aku menghadapi pasang surut. Aku sempat berpikir, jangankan jadi elang, jadi ayam jago aku tak pantas. Sementara kamu, telah jadi ayam merak di pusat keuangann dunia. Bahkan ketika aku menemuimu di Hong Kong tahun 1998, aku sedang sekarat menuju kebangkrutan.” 
“ Dan kamu bisa melewati semua itu dengan elegan. Ya kan. “ 
Kamu  semakin mengerat pagutan tanganku di lenganku.
“ Aku libur sampai minggu depan. Mau ke Yogya ke makam ibu.”
“ Mau aku temanin.?
“ Engga usah. AKu ingin sendirian aja.”
“ Yakin ?
“ Ya..”
Aku hanya tersenyum. Kami asyik ngobrol panjang lebar. Cerita soal kelakuan Wadah, dan cerita sendu tentang Lyly yang mewakafkan semua tabunganyna untuk panti Asuhan dimana dia pernah dibesarkan. Kami menikmati malam itu seperti 30 tahun lalu “ Bro, kamu tidak pernah menggodaku bahkan ketika menikmati kebersamaan di Bali diusia muda kita. Kamu tidak pernah menyentuhku. Namun karena itu persahabatan kita sangat berarti. Di usia mendekati 60 tahun, aku sendirian tapi aku tetap tidak pernah menyesal karena aku punya sahabat sepeti kamu"

Sampailah kami di Cikini. Di dekat TIM kami nongkrong di warung. Ada pengamen datang membawakan lagu “ Kenangan terindah, “. Esther meminjam gitar itu, dia menyanyikan lagu yang kini sedang in

Padamu pemilik
Hati yang tak pernah kumiliki
Yang hadir sebagai
Bagian dari kisah hidupku
Engkau aku cinta
Dengan segenap rasa di hati
Selalu 'ku mencoba

Menjadi seperti yang engkau minta
Aku tahu engkau sebenarnya tahu
Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu
Kau sembunyikan rasa cintaku
Di balik topeng persahabatanmu yang palsu
Kau jadikan aku kekasih bayangan
Untuk menemani saat kau merasa sepi
Bertahun lamanya kujalani kisah
Cinta sendiri.

Mungkin memang benar
Cinta itu tak lagi berharga
Semua percuma
Bila engkau tak punyai harta
Aku tahu engkau sebenarnya tahu
Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu
Kau sembunyikan rasa cintaku
Di balik topeng persahabatanmu yang palsu
Kau jadikan aku kekasih bayangan
Untuk menemani saat kau merasa sepi
Bertahun lamanya kujalani kisah
Cinta sendiri
Cinta sendiri

O-ho ...
Aku tahu engkau sebenarnya tahu
Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu
Kau sembunyikan rasa cintaku
Di balik topeng persahabatanmu yang palsu
Kau jadikan aku kekasih bayangan
Untuk menemani saat kau merasa sepi
Bertahun lamanya kujalani kisah
Cinta sendiri

Cinta sendiri

Saya terharu. Begitu arti sebuah persahabatan. Secara spiritual persahabatan itu sejati , selalu membuat kamu rindu dan selalu ingin jadi kanak kanak….dan saling menguatkan mimpi dan seling bergandengan tangan untuk berubah lebih baik karena waktu.

Jumat, 23 Agustus 2019

Perbedaan dalam islam

Mengapa ada perbedaan dalam islam? dan perbedaan itu terlalu dibesar besarkan? jawabannya singkat saja. Karena politik. Kalaulah umat islam itu cerdas dalam beragama, tentu tidak mudah diprovokasi sehingga terbelah. Kalaulah politik itu tidak berorientasi kepada kekuasaan, perbedaan itu engga laku dijual dan engga mungkin rame perang dalil. Pemain politik tidak ada urusan dengan kebenaran hakikat. Mereka hanya mempermainkan emosi umat yang bodoh melalui provokasi dengan dalil Al Quran dan hadith. Dari situlah muncul Mahzab. Dari situlah lahir teologi tentang agama yang berusaha menjadi jalan tengah menjembatani perbedaan itu. Namun kadang teologi pun tidak lepas dari pengaruh politik.
Betulkah ? Perbedaan itu terjadi karena setelah Nabi Wafat, kelompok dalam islam berusaha ingin menjadi penguasa. Mengapa ? karena memang Nabi tidak pernah menentukan siapa calon pemimpin setelah beliau. Jadi jangankan menentuk model negara ( khilafah ) , menentukan calon pemimpin yang pantas setelah beliau pun tidak ada wasiat. Puncak ketegangan antar golongan itu terjadi ketika proses suksesi dari Usman bin Affan ke Ali bin Abi Thalib. Sebetulnya ketegangan itu sudah terjadi sebelumnya dengan puncak terbunuhnya Usman bin Affan oleh kelompok radikal yang mengaku paling sholeh penerus Nabi.
Ketika Ali terpilih sebagai khalifah, perpecahan diantara Umat sudah masuk keperang secara fisik antara pasukan Ali bin Abi Thalib melawan para penentangnya. Perang sesama Islam. Peristiwa-peristiwa ini telah menyebabkan terkoyaknya persatuan dan kesatuan umat. Sejarah mencatat, paling tidak, dua perang besar pada masa ini, yaitu Perang Jamal dan Perang Siffin. Apakah murni karena keyakinan Al Quran dan hadith ? bukan. Terjadinya pembangkangan diantara elite karena Ali membuat para elite engga lagi menikmati kemewahan seperi era Usman. Para elite itulah yang memprovokasi umat agar membangkang dengan Ali.
Dari perselisihan ditingkat elite itulah lahir aliran keagamaan dalam Islam, seperti Syiah, Khawarij, Murjiah, Muktazilah, Asy'ariyah, Maturidiyah, Ahlussunah wal Jamaah, Jabbariyah, dan Kadariah. Jadi, aliran-aliran ini pada awalnya muncul sebagai akibat percaturan politik yang terjadi, yaitu mengenai perbedaan pandangan dalam masalah kepemimpinan dan kekuasaan (aspek sosial dan politik). Bukan niat untuk memperkuat dan meninggikan syiar islam sebagai rahmat bagi semua. Karena politik pulalah , Ali sebagai keluarga Nabi dan juga menantu Nabi, khalifah, dibunuh oleh kelompok khawarij. Setelah Khalifah baru di baiat —yang merupakan lawan politik Ali—keluarga Nabi dibantai dipandang karbala. Kejam sekali. Padahal Nabi tidak mengajarkan itu. Ini hanya politik.
Saat kini perselisihan itu dibakar lebih besar lagi. Bukan lagi soal cara merebut kekuasaan dan politik secara lokal tapi sudah international. Menguasai dunia. Gimana caranya ? menempatkan perbedaan bukan hanya soal politik tetapi lebih dari itu adalah soal keimanan. Yang dimusuhi adalah siapapun yang berbeda. Bukan hanya kalangan seagama tetapi juga berbeda Agama. Dari sinilah muncul sikap radikalisme dan terorisme atau teologi maut. Mati karena membunuh musuh agama adalah syahid. Menurut saya, mereka bukan lagi beragama islam yang mengajarkan rahmat bagi semua tetapi golongan sesat yang sengaja merusak citra islam. Mengapa ?
Sebagian orang islam memandang agama sebagai something to use but not to live. Orang berpaling kepada Tuhan, tetapi tidak berpaling dari dirinya sendiri. Agama digunakan untuk menunjang motif-motif lain: kebutuhan akan status, rasa aman atau harga diri. Orang yang beragama dengan cara ini, melaksanakan bentuk-bentuk luar dari agama. Ia puasa ,Sholat, naik haji, bahkan dikenal luas agamanya, tetapi tidak didalamnya. Imam Al-Ghazali, menyatakan bahwa beragama seperti ini adalah beragama yang ghurur (tertipu). Tertipu, karena dikira sudah beragama, ternyata belum. Dikira sudah sangat menguasai agama, ternyata tertipu.
Cara beragama seperti ini tidak akan melahirkan masyarakat yang penuh kasih sayang. Sebaliknya, kebencian, iri hati, , fitnah, merasa paling benar, masih tetap akan berlangsung. Sedangkan makna yang intrinsik, yang dianggap menunjang kesehatan jiwa dan kedamaian masyarakat, agama dipandang sebagai 'comprehensive commitment' dan 'driving integrating motive', yang mengatur seluruh hidup seseorang. Agama diterima sebagai faktor pemadu (unifying factor). Hanya dengan cara itu kita mampu menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang.

Kamis, 22 Agustus 2019

Seni Berdakwah

Karena tulisan saya kemarin di FP, ada nitizen kirim pesan lewat inbox. “ karena babo bilang tidak tahu soal sorga , saya sarankan babo baca Kitab Hadil-Arwah, penulisnya Ibnu Qayyim. Buku itu ditulis sesuai tradisi ahli hadis, sehingga mayoritas hal yang ditulisnya memiliki landasan tekstual yang cukup ketat. Sebagian besar isi kitab Hadil-Arwah itu memang berupa nukilan ayat dan hadis. “ Saya tersenyum. Saya katakan bahwa saya pernah baca buku tersebut dalam terjemahan bahasa Inggris dan Indonesia. Namun semua itu bukanlah ujud dari sorga sesungguhnya . Itu hanyalah gambaran dalam bentuk contoh perumpamaan.
Allah itu memang hebat banget mendidik manusia agar termotivasi berbuat baik. Caranya dengan menggambarkan reward yang disukai oleh nafsu. Maklum nafsu dunia itu condong menginginkan materi dan kepuasan tak ada batas. Makanya dengan janji pemenuhan nafsu tak tertandingi ala sorga , Allah tawarkan reward agar manusia menahan nafsunya di dunia demi mendapatkan yang lebih baik di akhirat/ surga. Cukup? Belum.
Untuk mengunci hati orang hanya kepada sorga, Allah beri ancaman neraka yang merupakan kebalikan dari yang diinginkan nafsu. Jadi sorga dan neraka itu bahasa propaganda ala Tuhan untuk mendidik manusia jadi baik. Namun itu kembali kepada manusia, mau ikut atau engga. Cara ini dipakai dengan efektif oleh Inyik Jambek, Ulama besar dari Minang Kabau. Sebagaimana para wali, beliau diberi kharamah oleh Allah.
Perhatikan cara Inyik jambek menarik orang berakhlak baik. Cerita nya begini, di Padang dulu sering ada pasar malam, yang menyediakan tempat berjudi. Inyik jambek mendatangi tempat judi sabung ayam. Beliau membawa ayam kecil untuk disabung di gelanggang . Semua orang menganggap beliau bodoh karena ayam aduannya pasti kalah. Karenanya tidak ada satupun penjudi menjagokan ayam aduannya. Ketika diadu, hanya dua kali pukulan , ayam lawan langsung roboh. Orang banyak terkejut. Berkali kali ayam kecil itu diadu selalu menang. Inyiak dapat uang banyak dari adu ayam itu.
Kemudian beliau mendatangi tempat judi panah bulu ayam. Kalau bisa mengenai sasaran, beliau dapat hadiah. Ini judi ala kampung. Setiap beliau melempar panah bulu ayam itu selalu kena tepat sasaran. Setiap tepat sasaran, beliau dapat hadiah. Orang ramai menyaksikan. Beliau baru berhenti setelah bandar bangkrut. Demikian kebiasaannya. Dimana ada pasar malam, beliau menjadi bintang dan ditakuti oleh bandar. Orang banyak mulai berfantasi ingin kaya raya dengan judi. Kalau kaya bisa kawin empat. Punya istri cantik. Rumah bagus. Orang pun datang kepedepokan inyiak Jambe untuk belajar. Berharap bisa dapat seperti beliau. Menang terus judi.
Bila awalnya orang belajar agama dengan fantasi ingin kaya raya dari judi, namun semakin lama, orang pun tak lagi ingin kaya dari judi. Karena orang takut akan neraka. Lebih baik tahan nafsu biar entar dapat sorga. Mereka pun jadi orang berakhlak baik. Kemudian, semakin dalam ilmu agamanya, semakin tawadhu, dan tak lagi takut neraka dan Tak pula berharap sorga. Mereka hanya ingin berusaha mendekati Allah, dengan hidup rendah hati, dan penuh ikhlas berbagi. Dengan demikian apapun profesi mereka selalu kebaikan bagi orang lain. Orang Minang merantau kemanapun, yang mereka bawa bukan sorban dan baju gamis tapi akhlak dengan etos kerja tanpa kenal menyerah. Mengaktualkan iman dalam melalui sunatullah. Engga kerja engga makan. Barugi makonyo balabo.
Berdakwah adalah seni mendidik orang, dan bukan hanya mengundang gelak orang mendengar . Karenanya diperlukan pengetahuan agama dan penguasaan teologi yang kuat sehingga tahu bagaimana mengarahkan orang tentang pemahaman agama dengan egaliter dan penuh cinta tanpa menuduh orang lain kafir, laknat, sesat hanya perbedaan paham dan pengetahuan. Apalagi memprovokasi orang jadi teroris agar masuk sorga. Itu bukan ulama, tapi provokator. Kriminal. Tugas ulama hanya menyampaikan kebenaran ilahiah, tidak ada kewajiban memaksa orang harus beriman. Hidayah itu hak Allah.
“ Tuhanku, hanya engkau tujuanku, dan hanya ridloMulah yang kucari. Limpahkan Cinta dan Ma’rifatMu kepadaku…” itulah doa seharusnya dilantunkan. Bukan berharap sorga biar bisa orgy dangan bidadari.




Sabtu, 10 Agustus 2019

Mencintai Allah hanya Allah.



Ibrahim punya istri yang cantik. Namanya Sara. Kecantikannya ini sempat membuat raja Fir’aun kepincut. Namun akhirnya Fir’aun urung menjadikan Sarah sebagai selir. Ia dipulangkan ke rumah dengan hadiah seorang budak bernama Sit Hajar. Sarah akhirnya menikah dengan Ibrahim. Dalam usia pernikahan yang lama, mereka belum juga dikarunia anak. Ibrahim tiada henti berdoa siang malam agar Allah memberinya keturunan, seorang anak yang sholeh. 

Dalam diam, Sarah memperhatikan keinginan besar Ibrahim  untuk mendapatkan keturunan. Atas dasar itulah, dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, Sarah menyarankan kepada Ibrahim untuk menikahi Hajar, budaknya. Berharap dari Hajar dapat  melahirkan keturunan. Ibrahim menerima saran dari Sarah. Benarlah, Hajar akhirnya hamil. Sarah bahagia namun juga diliputi cemburu. Bahkan semakin menjadi jadi cemburunya kepada Hajar. Ini manusiawi sekali. Wanita yang punya kekurangan akan selalu merasa cemburu kepada wanita yang punya kelebihan, apalagi bisa membahagiakan suaminya. 

Karena itulah , atas wahyu dari Allah, Ibrahim membawa Hajar menjauh dari Sara. Dalam usia kandungan untuk siap melahirkan. Allah memerintahkan agar ibrahim membawa istrinya Siti Hajar untuk ke suatu tempat di jasirah arab bernama makkah. Ini adalah tempat yang gersang penuh bukit bebatuan. Lembah yang tandus. Tiada tanda kehidupan yang mungkin ada diwilayah ini. Ketika sampai di makkah. Allah memerintahkan Ibrahim untuk meninggalkan istrinya seorang diri. Dapat dibayangkan bagaimana perasaan ibrahim sebagai manusia. Membiarkan Istri dalam keadaan hamil di tempat sunyi dan gersang ini. 

 “ Ya, abuya…jangankan rumah , satu pohonpun tidak nampak di tempat ini. Apakah engkau rela meninggalkan aku seorang diri dalam keadaan hamil ? Terdengar lirih suara sang istri.
“ Aku hanya mengikuti perintah Tuhan ku dan bertawakalah kamu kepada Nya. “ Kata Ibrahim.

Siti Hajar dapat menerima. Dia menerima dengan keyakinan akan keagungan dan kebesaran Allah. Dia menerima karena yakin akan kasih sayang Allah. Dia menerima karena Allah maha berkehendak dan tidak bersifat aniaya. Dibalik itu terdapat pembelajaran tentang kesetiaan seorang istri yang sangat agung kepada suami. Kepercayaan atas kepemimpinan dari seorang suami. Ikhlas menerima dalam duafa dan bahkan tiada cara untuk berlindung kecuali kepada Allah. Hanya Allah yang tau rahasia dari setiap takdir yang berlaku.

Dalam kesendirian di tengah padang pasir dan bebatuan yang tandus , dia berjuang untuk melahirkan sang buah hati. Ketika anak lahir, naluri sang ibu menjerit ketika tidak mampu menyusui anaknya. Air susu tidak mampu mengalir karena sang ibu tidak mendapat seteguk airpun. Kemana akan mencari air ditengah tempat yang tandus ini ?. Dalam kebingungan,  dia berlari dari satu bukit ( safa ) ke bukit yang lain ( Marwah ) ..terus berlari sambil menyebut asma Allah… Allahuakbar ..allahuakbar..walillah ilham…… 

Dalam sulit dia tidak memohon namun terus memuji kebesaran Allah. Inilah pembelajaran sejati tentang agama tauhid. Bahwa demi perintah Allah maka tiada derita. Setiap kesulitan adalah nikmat Allah. Apalah arti kesulitan dan penderitaan , pengorbanan demi menjalankan perintah Allah. Apakah kita mampu dan mempunyai keimanan seperti ini??

Allah kembali menunjukkan kebesarannya. Allah tidak akan memberikan beban apabila manusia tidak sanggup menerimanya. Inilah ujud keadilan dan kasih sayang Allah. Dari hentakan kaki mungil bayinya, muncul air bening. Mengalir membentuk anak sungai. Zam..zam..zam. Dikenallah sebagai air zamzam. Ketika anak tumbuh dewasa. Diberi nama Ismail. Gagah, Sholeh dan rupawan. Cahaya kebahagiaan bagi ibu dan bapak. Setiap perkembangan usianya menjadi butir butir kebahagiaan dalam hidup. Kebanggaan tentulah yang dirasa oleh Ibrahim dan Siti Hajar. 

Namun, Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih sang putra. Sembilan bulan dalam kebimbangan. Mencoba mencerna kebenaran perintah Allah lewat mimpi. Apakah ini benar perintah dari Allah. Kalau benar mengapa harus menyembelih anak sendiri. Berbagai pertanyaan logika muncul dalam benak Ibrahim. Namun akhirnya dia memutuskan untuk memenuhi perintah Allah. Ketika perintah Allah ini disampaikan kepada sang anak.  Ismail menjawab “ ya…Abuya..kalau itu adalah perintah Allah maka jangan ragu laksanakan “ Karena itu Ibrahim tidak ragu lagi melaksanakan perintah Allah.  Bersama istri dan anak , Ibrahim menuju bukit untuk menyembelih anaknya. Dalam perjalanan sang Iblis mencoba mempengaruhi sikap sang putra, istri dan ibrahim. Berbagai teori logika disampaikan oleh iblis untuk menghentikan niat ibrahim memenuhi perintah Allah. Tapi keluarga ini tetap kukuh dengan keimanannya. Akhirnya Allah memerintahkan Ibrahim, Siti hajar dan Ismail untuk melempar dengan batu kerikil kearah iblis sebanyak 7 kali.

Ketika hendak memotong leher ismail, keraguan datang lagi. Namun kembali Ismail  menguatkan ayahnya. Dalam sejarah Al-Tabari disebutkan bahwa Ismail berkata kepada ayahnya: ”Bila ayah baringkan aku untuk jadi kurban, telungkupkan wajahku, jangan ayah letakkan miring ke samping; sebab aku khawatir, bila ayah melihat wajahku, rasa belas akan merasuki diri ayah, dan ayah akan batal melaksanakan perintah Allah.” Ketika drama pemotongan leher sang anak dimulai maka seketika itu juga Allah mengganti dengan seekor domba. Keluarga Ibrahim berhasil melalui proses pengujian keimanan tanpa syarat.

Apa yang dialami oleh Nabi Ibrahim, juga berlaku bagi kita sebagai bentuk apa yang disebut dengan detachment - buah dari iman dan kedahsyatan. Pisau tajam itu melekat dileher si anak , tapi Aku bukan lagi subject yang bertindak. Tak ada rasa sakit, sedih , cinta, harapan, ketakutan, tak ada aku. Semuanya adalah titah-Mu. Sejenis bunuh diri yang sublime. Berkorban adalah peniadaan ganda. Meniadakan aku dan meniadakan apa yang bagian dari diriku.

Inilah pembelajaran dari agama Tauhid. Bahwa tiada yang paling dicintai didunia kecuali Allah. Kecintaan kita kepada keluarga hanya karena kita cinta kepada Allah. Apapun di dunia ini tidak ada yang lebih dicintai selain Allah. Semua yang kita miliki semata mata titipan Allah dan bila Allah menghendaki maka kita harus ikhlas untuk menyerahkannya, walau pada waktu bersamaan kita sangat membutuhkannya.

KIsah Ibrahim hidup disemua agama samawi. Walau berbeda versi namun hakikatnya sama bahwa tidak ada yang paling dicintai didunia ini selain Allah. Hidup manusia adalah perjalanan spritiual sepanjang hayat, tak lain hanyalah mengaktualkan cinta kepada Allah. Bila kita mencintai karena Allah, maka Cinta selalu bernuansa tulus, tanpa prasangka buruk kepada siapapun dan suka kepada kerukunan dalam perbedaan, gemar bergotong royong dalam semangat persatuan dan kesatuan. BIla kita mencintai karena Allah, damai di bumi diaktualkan, kemakmuran di bumi digapai dalam kebersamaan tanpa disekat oleh identitas agama,  suku dan bangsa.




Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...