Sabtu, 30 Januari 2021

SARA, dalam dimensi



Di Indonesia ini setelah ada era internet dan sosial media, semua orang begitu mudah diketahui sikap hidupnya, termasuk soal Politik. Dan itu sah saja. Apalagi kita menerapkan sistem demokrasi liberal. Selagi tidak menyinggung SARA, orang tidak dihukum karena perbedaan pemikirannya. Karenanya opini dalam hal sudut pandang menjadi ajang perang literasi. Itu bagus. Saling mencerdaskan dan mengkoreksi. Karena itu demokrasi jadi hidup dan bernilai. 


Namun kadang tanpa disadari perang literasi yang menjebaknya kemasalah SARA. Apa itu SARA?  adalah akronim dari Suku Ras Agama dan Antar golongan. SARA adalah pandangan ataupun tindakan yang didasari dengan pikiran sentimen mengenai identitas diri yang menyangkut keturunan, agama, kebangsaan atau kesukuan dan golongan. Yang digolongkan sebagai sebuah tindakan SARA adalah segala macam bentuk tindakan baik itu verbal maupun nonverbal yang didasarkan pada pandangan sentimen tentang identitas diri atau golongan.


Agar bisa paham dalam literasi. SARA dapat digolongkan menjadi tiga kategori, yakni, Pertama, Individual. Di mana tindakan SARA dilakukan oleh individu atau golongan dengan tindakan yang bersifat menyerang, melecehkan, mendiskriminasi, atau menghina golongan lainnya. Kedua, Institusional. Tindakan ini merupakan tindakan yang dilakukan oleh institusi atau pemerintah melalui aturan atau kebijakan yang bersifat diskriminatif bagi suatu golongan. Dalam hal ini negara sudah mengaturnya dalam UU HAM Ketiga, Kultural. SARA yang dikatagorikan di sini adalah tindakan penyebaran tradisi atau ide-ide yang bersifat diskriminatif antar golongan.


Masalah SARA itu sangat serius. Bisa menghancurkan persatuan dan kesatuan. Terjadinya konflik horisontal. Untuk menghindari ini ada hukum yang harus dipatuhi, yaitu UU 40/2008 tentang tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.  UU ITE mengatur tentang ujaran kebencian dan fitnah dan KUHP, UU 1/1946. Artinya ? siapapun salah besikap, masuk penjara.


Bagaimana terhindar dari ancaman pidana terhadap pelanggaran UU berkaitan dengan SARA?  Focus sajalah kepada perang literasi. Contoh ada pendapat orang di sosial media yang menurut anda salah. Ya respon dengan cerdas. Perkaya pengetahuan dalam berliterasi. Sehingga, anda bertambah cerdas, orang yang membaca bisa juga ikutan cerdas. Kuncinya? jangan focus dengan personal orang yang berbicara atau penulisnya,  tetapi focus esensi yang dia sampaikan. Mengapa ?  Secara personal orang itu dilindungi oleh UU HAM atas kebebasan berbicara dan berpendapat. 


Jadi apapun agama, suku dan ras atau golongannya, dia berhak berbicara dan berpendapat. Berbeda dengan mereka jangan liat personalnya tetapi sikapnya. Mungkin orang yang anda tuju tidak bisa menerima literasi anda. Ya engga apa apa. Toh tujuan literasi  dalam sosial media bukan terarah kepada dia saja. Tetapi kepada orang lain yang mau dicerahkan. Pada akhirnya yang menang, bukan lagi orang perorang atau golongan atau suku atau agama, tetapi akal sehat. Kebenaran menemukan jalannya sendiri.  Itulah nilai demokrasi. 


SARA dan politik.

Saya panggil Florence dengan sebutan “ Ubi” Itu mengarah kepada kulitnya yang putih. Walau dia etnis tionghoa, putihnya dia berbeda. Lebih putih. Dengan saya sebut itu, saya bersatire tentag kekurangan dia dan etnis dia. Apakah dia marah? engga. Dia juga paggil saya dengan sebutan “ padang jelek” Sebutan itu menyerang pribadi saya dan suku saya. Apakah saya tersinggung? engga. Kami menikmati perbedaan itu dan kami tetap bersahabat diatas perbedaan suku, etnis dan agama. Udah lebih 30 tahun persahabatan kami. Dari remaja sampai ubanan.


Saya bergaul dengan berbagai etnis di China. Ada teman saya orang Iran. Dia syiah. Dia sering bilang kesaya “ Enakan saya. Bisa nikah mut’ah. Udah selesai, cerai. Kasihan aja sunny harus repot punya istri banyak untuk sunah rasul. “ Saya tidak marah. Saya anggap itu perbedaan tanpa harus membuat persahabatan saya rusak. Buktinya waktu saya sholat di rumahnya, dia malah minta saya jadi Imam dan dia mak’mun.


Ada teman di China, kalau saya sehabis sholat dia candain saya “ Tadi saya barusa dapat telp dari Tuhan. Dia sibuk engga ada waktu ladenin kamu sembah dia. “ Saya senyum saja. Tetapi pernah saya travelling ke Hunnan bersama dia. Di tengah jalan darat, saya tanya tempat sholat dan buka puasa. Dia paling sibuk mendatangi rumah penduduk agar saya bisa sholat. Setelah sholat, pemilik rumah hidangkan makanan untuk saya buka puasa.


Bertahun tahun sejak sebelum kemerdekaan sampai Orla kita tidak pernah ada istilah SARA. Kejahatan SARA terbesar ya Soeharto. Dia  melakukan diskriminasi secara politik lewat uu dan aturan kepada Etnis China dan eks keluarga PKI. Tahun 1999 UU HAM dikeluarkan. Namun soal SARA jadi masalah besar. Terutama sejak ada politik identitas. Terjadi perang antara agama di Ambon. Antar suku di Jakarta. Nah barulah tahun 2008 keluar Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.


Masalah  SARA mengemuka lebih terkait dengan masalah politik. Orang indonesia itu secara personal tidak pernah pusing dengan perbedaan Suku, Agama, Ras, antar golongan. Mengapa? di masyarakat kita banyak terjadi pernikahan antar agama, suku, ras dan golongan yang berbeda. Jadi perbedaan itu hanya jadi bahan lucu lucuan saja. Bangsa ini kaya humor. Misal, saya sering ditanya oleh nitizen soal Abu janda. Saya katakan jangan benci secara personal. Focus kepada esensi tulisan dan tayangan youtube nya. Walau hanya sekali ngobrol langsung dengan Abu janda, saya tahu dia orang yang suka becanda dan engga punya bakat membenci orang secara personal.


Mas Arya ( Abu Janda)

Suatu waktu saya diminta datang pada acara dialogh forum kebangsaan. Acara diselenggarakan di Makam Pahlawan Kalibata. Sebelum acara dimulai saya diajak oleh panitia ke ruangan untuk para undangan khusus. Di dalam ruangan itu ada Mas  Sumanto al Qurtuby, Bu Sukmawati Soekarno putri, Mas Enha, Mas Eko Kuntadhi, Mas Permadi Arya ( Abu Janda). Walau sebentar bincang bincang dengan Mas Arya, saya bisa cepat tahu bahwa dia memang punya selera humor. Dia tidak punya bakat membenci siapapun. 


Beberapa postingan dan video nya sering saya terima lewat WAG. Narasi dan gaya bicaranya disesuaikan dengan target siapa yang di tuju. Misal dia berpolemik dengan Ustad Tengku Zul, dia gunakan gaya bicara orang semutera. Terkesan kasar tetapi bagi orang sumatera itu biasa saja. Dia memang kreatif sekali membuat konten. Dia militan sekali berpolemik dengan pengusung khilafah dan kaum radikalisme.


Kecintaannya kepada Jokowi itu engga becanda. Semua tahu, betapa brutalnya kebencian kaum oposisi kepada Jokowi. Dia hadapi dengan berani. Dia tulus. Kenapa saya simpulkan dia tulus? Dia bukan politisi. Bukan pimpinan ormas atau pengurus ormas islam. Dia juga tidak tergabung dalam aktifis resmi pendukung Jokowi. Dia independent. Arya sama dengan mayoritas pemilih Jokowi yang inginkan indonesia bersih dari kaum intoleran dan radikalisme.


Kini karena issue  SARA dia dilaporkan ke Polisi oleh KNPI dalam kasus “ Islam Arogan “ dan   Natalius Pigai dalam kasus rasis.  PB Ansor, NU, dan Muhammadiyah buang badan. Mereka minta Arya untuk belajar agama lagi. Bahkan ibu Susi mantan Menteri Jokowi juga minta umat islam unfollow Arya. Suka tidak suka,  kasus Arya ini ada aroma politik. Arya bukan siapa siapa. Apalah dia bila dibandingkan KNPI dan Pigai pejabat Negara anggota Komnas HAM.


Saya berharap kasus Arya ini ditempatkan dalam kuridor hukum. Ini ujian kepada Pak Sigit, Kapolri yang baru. Sebaiknya MUI, dan Ormas islam , Parpol jangan lagi bersuara atas kasus ini. Mari sama sama hormati proses hukum. Karena, ingat walau Arya bukan siapa siapa, tetapi kasus Arya sudah jadi  berita nasional. Rakyat memperhatikan kasus ini. Saya yakin Pak Jokowi ingin semua pihak menghormati proses hukum. 



Jumat, 22 Januari 2021

Pemimpin lahir karena situasi.

 



Banyak orang bilang bahwa politik itu menentukan siapa yang akan berkuasa. Saya tidak percaya. Saya tetap percaya bahwa kekuasaan itu berasal dari Tuhan. Ada prinsip philsafat yang mudah dipahami. Anda tahu? Warnanya orange. Rasanya manis. Tapi apa yang terjadi kalau anda tidak punya perasa? tidak punya mata. Masihkah jeruk itu berwarna orange dan rasanya manis.? Ya engga.  Apa artinya? orange dan manis itu hanya konsepsi dan persepsi kita saja. Sejatinya, ada pada lidah dan mata. Namun lidah dan mata, itu menterjemahkan jadi persepsi karena informasi yang ada diotak kita.  Namun, otak  atau pikiran kita bergerak tidak begitu saja. Ada kekuatan yang membuat itu terjadi. Sampai disini berhenti bahasan akal. Itulah eksistensi Tuhan.


Politik dan kekuasaan sama saja.  Waktu membuat teks proklamasi dan Hatta minta semua peserta ikut tandan tangani. Namun semua peserta rapat engga mau. Mereka serahkan kepada Soekarno Hatta yang teken. Apa pasal? Mereka engga berani. Situasi ketika teks proklamasi disusun kita dapat ancaman dari penguasa perang Jepang. Setelah itu, Soekaro jadi presiden tak tergantikan sampai ia dilengserkan lewat peristiwa G30S PKI. Andai Soekarno tidak berani teken. Mungkin kita tidak pernah merdeka. Andaikan ada yang lain ikut teken, belum tentu Soekarno jadi presiden. Tuhan ciptakan situasi, selanjutnya proses politik terjadi dengan sendirinya.


Soekarno jatuh, tetapi bandul politik bukan kepada senior TNI tetapi justru kepada Soeharto. Jenderal low grade. Tidak seperti Jenderal Nasution. Mengapa? situasi politik inginkan TNI terlibat. Saat itu orang udah muak dengan konplik politik antar golongan di era Orla. Sementara pembangunan ekonomi terabaikan. Butuh militer mempersatukan. Walau Nasution lebih senior, semua tahu bahwa Nasution Jenderal yang politisi. Engga netral. Andaikan tidak ada konplik antara golongan dan Nasution tidak masuk ke Politik , mungkin Soeharto tidak pernah jadi presiden. Yang jadi presiden adalah Nasution.


Ketika Soeharto jatuh, proses konstitusi memberikan peluang kepada Habibie sebagai presiden. Tetapi usai pemilu 1999 kehendak berlaku lain. Kekuasaan jatuh kepada Gus Dur. Mengapa ? karena kekuatan islam yang walau terpecah namun akhirnya bersatu dalam poros tengah.  Itu karena PDIP tampil sebagai pemenang Pemilu. Kekuatan politik islam punya dendam politik kepada Soekarno yang pernah bubarkan Masyumi. Andaikan yang menang Golkar dalam Pemilu, belum tentu Gus Dur jadi presiden. Andaikan PAN yang dipimpin tokoh reformasi Amin Rais yang menang pemilu,  Gus Dur tidak akan jadi presiden. Gus Dur tampil karena situasional. Sama juga bila akhirnya Megawati jadi presiden, karena situasional. Dan itu peran Tuhan.


SBY tampil sebagai pemenang pilpres langsung. Itu juga karena situasi politik akibat kegalauan kekuatan politik islam tampilnya dinasti Soekarno dipanggung kekuasaan. Itu jadi pemicu menjadikan pigur TNI sebagai Pemimpin.  Andaikan tidak ada krisis wallstreet dan indonesia masuk dalam putaran krisis anggaran dan defisit primer, tidak mungkin Jokowi dicalonkan sebagai Presiden. Andaikan situasi makro ekonomi sehat, tidak mungkin Jokowi jadi presiden. Andaikan semua elite politik punya nyali sebagi negarawan menhadapi krisis, tidak mungkin Jokowi dicalonkan sebagai presiden. 


Jadi situasi krisis itu adalah eksitensi Tuhan lahirnya pemimpin sesuai dengan tantangan zaman. Ketika pemimpin terpilih maka hukum Tuhan (sunnatullah ) berlaku. Naik karena Tuhan, jatuhpun  karena Tuhan. Sama seperti hukum gravitasi sebagia pemicu terciptanya semesta. Hidup memang berproses. Peradaban tidak dibangun dalam semalam. Baik dan buruk selalu bersanding. Semua hanya senda gurau saja. Pada akhirnya kita semua akan kembali ke Tuhan dalam keadaan telanjang. Tanpa idiologi, agama dan golongan. Hanya kita dan Tuhan saja. Paham ya sayang.

Rabu, 13 Januari 2021

Tuhan dalam perspektif cinta.


Ketika kali pertama Muhammad SAW menyampaikan risalah tentang tauhid, tidak ada benturan perbedaan dengan kaum qurais yang ada di makkah. Mengapa? masyarakat Makkah terutama kaum Yahudi dan Nasrani sudah mengetahui jauh sebelumnya konsepsi tentang Tauhid. Itu tidak ada perbedaan sebagaimana agama yang diimani Muhammad sebelum diangkat sebagai Rasul. Walau ada kaum qurais yang menyembah berhala (pagan), itupun tidak ada pertentangan dengan mereka. Karena konsepsi tentang Tuhan, tentang superioritas Tuhan tidak ada perbedaan dengan apa yang disampaikan oleh Muhammad. 


Tetapi menjadi lain ketika Nabi memperkenalkan konsepsi tentang  sosial dan  budaya atau bahasa mesranya : akhlak. Nah saat itulah terjadi benturan. Nabi memperkenalkan nilai nilai egaliter. Bahwa di hadapan Tuhan manusia itu sama, kecuali ketaqwaannya. Nabi menentang perbudakan. Nabi menghormati kaum wanita. Padahal saat itu budaya feodal sedang mengakar dalam kehidupan masarakat. Orang dihargai karena harta dan tahtanya. Orang lemah dan wanita dijadikan budak. Bahkan mereka malu kalau punya anak perempuan. Setiap pria punya istri lebih dari satu.


Walau Nabi lahir dari kaum bangsawan Qurais, namun tidak membuat beliau merasa rendah bila bersikap egaliter. Beliau membebaskan budak dan dijadikannya sebagai anggota keluarganya. Istri yang dinikahinya Chadijah lebih tua darinya. Namun rasa hormatnya kepada istrinya tidak berkurang. Selama istrinya masih hidup, beliau tidak tergoda untuk menikah lagi. Padahal budaya Arab ketika itu kehormatan pria apabila banyak memecahkan perawan wanita dan dijadikan istri.


Sikap egaliter itu menjadi bagian dari mindset agama yang beliau perkenalkan. Ketika islam mencapi puncak kejayaan, beliau menjauh dari kemewawahan dunia. Beliau menghargai demokrasi dan suka bermusawarah. Tidak memaksakan kehendak kepada siapapun termasuk yang bukan beragama islam. Mengapa ? Karena Allah memang mendidiknya begitu ( Qs al-An’am : 108). “ Aku diutus ALlah untuk mempebaiki Akhlak.” Bahwa missi beliau bukanlah mengislamkan atau memaksa orang pindah agama, tetapi memperbaiki akhlak manusia. Manusia yang egaliter. Yang besar hanya Allah.


Revolusi dan benturan kelas terjadi di dunia ini selalu berhubungan dengan perubahan akhlak atau mindset anti feodalisme yang dibungkus agama. Apakah setelah revolusi dimenangkan oleh kaum egaliter lantas orang membenci agama. Tidak!. Agama tetap diimani dalam dimensi akhlak, bukan lagi politik. Artinya agama kembali kepada prinsip ajarannya, bahwa yang besar dan benar itu hanya Tuhan. Selanjutnya eksistensi Tuhan dimanifestasikan dalam kehidupan cinta bagi semua. Agama atau idiologi bukan lagi hal esensial tetapi hanya metodelogi untuk mengaktualkan cinta itu.


***

Ada ungkapan bijak dari orang China “ Kalau kamu ingin bahagia sebentar, makanlah yang enak. Kalau kamu ingin bahagia setahun, menikahlah. Kalau kamu ingiin bahagia selamanya, dapatkanlah uang” Sekilas kalau anda perhatikan kalimat ini, terkesan orang China itu gila uang. Mentuhankan uang. Tetapi kalau anda resapi kalimat itu dengan cermat,  anda akan terkejut. Itu cara China satire tentang persepsi uang sebagai berhala. Mengapa ? Uang dicari untuk makan dan keluarga. Tetapi itu tidak membuat anda bahagia selamanya. Lantas apa artinya uang? ya tidak ada artinya uang itu. Singkatnya hidup ini fana. Tidak ada yang abadi selain Tuhan.


Dalam kehidupan ini, pemahaman agama justru menciptakan orang mudah memberhalakan apa saja. Walau agama hanya mengenal Tuhan, namun ada banyak tuhan selain Allah. Kalau kita membaca kitab suci, kita mentuhankan Nabi. Padahal dia hanya messenger. Tuhan bukan Nabi. Itu juga terjadi dalam kehidupan sosial. Tokoh agama sudah jadi berhala. Di follow oleh orang banyak tanpa ada keberanian mengkritisinya. Lebih jauh lagi, harta sudah jadi berhala pula. Batasan moral ditabrak demi harta. Tahta juga jadi berhala. Apapun dilakukan termasuk memanifulasi agama demi kekuasaan.


Lebih luas lagi, kita masuk dalam dimensi logo  atau simbol tuhan. Ia sudah menjadi produk kapitalis. Baju kalau tidak bermerek, kendaraan kalau engga mewah, rumah kalau tidak di kawasan real estate, serasa kurang iman.. Bukan itu saja. Orang dengan pakaian gamis sudah dianggap soleh dan suci. Patut di follow. Orang berpakaian modern dianggap bergengsi. Pakaianpun sudah jadi  berhala baru. Tanpa disadari kita punya fantasi tentang Tuhan baru, yaitu materialisme. Nama kitabnya kapitalisme.


Apa yang terjadi? kita semakin jadi jauh dari Tuhan Yang Maha Besar. Rumah mewah, tetapi sepi. Lebih banyak tinggal di luar rumah. Mobil mewah, yang menikmati supir. Harta dan tahta dicari seakan ingin hidup selamanya. Hasilnya harta habis untuk berobat agar terhindar dari kematian. Toh akhirnya mati juga. Banyak makan agar sehat. hasilnya malah penyakitan. Agama diagungkan. Tapi lihat perempuan seksi, emosi. Lihat patung tensi. Lihat pocong lari. Kan paradox.


Semua agama mengajarkan tentang kesederhanaan. Itu bukan sekedar penampilan. Tetapi juga dalam pikiran. Agama hebat, Bukan tokohnya, tapi pahami ajarannya. Kapitalisme hebat, bukan pemikiranya, tetapi pahami spirit berproduksinya. Rumah, pakaian, kendaraan penting , tapi pahami manfaat dan fungsinya saja. Negara hebat, bukan idiologinya tapi spirit persatuannya. Selebihnya hanya Tuhan yang maha besar dan benar. Jadikan itu awal dan akhir dalam  berpikir dan bersikap. Dan tetap istiqamah walau harus berdamai dengan realita. 


Minggu, 10 Januari 2021

Kurang literasi, kurang membaca.

 




Mengapa terjadi polarisasi di masarakat. Sehingga terbentuk front kadrun dan cebong.? tanya teman tadi sore. Saya katakan bahwa polarisasi itu terjadi karena rendahnya literasi masarakat Indonesi.  Bukan hanya soal politik, tetapi juga berkaitan soal agama, sosial dan ekonomi. Di kawasan ASEAN saja, posisi budaya literasi Indonesia berada di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Sebagai negara dengan penduduk terbanyak ke-5 di dunia, masayarakat Indonesia dianggap tidak gemar membaca, menulis, berhitung ataupun berkreasi yang menjadi ciri kuatnya tingkat budaya literasi suatu bangsa.


Masalah yang sederhana saja. Orang tidak bisa membedaka agama dan beragama. Agama itu bicara tentang pengetahuan akan Tuhan dan seperangkat syariat. Sementara beragama, berkaitan dengan pengamalan dari pengetahuan agama. Kalaulah pengetahuan dan pengamalan tidak sejalan, itu artinya beragama yang salah. Agama? engga salah. Contoh radikalisme itu, itu beragama yang salah. Agama islam sendiri tidak salah. Jadi kalau orang bicara dalam konteks beragama, engga perlu orang islam baper. Mengapa ? Karena orang memang tidak mempermasalahkan agama, tetapi beragama.


Kita juga tidak bisa bedakan politik dan idiologi. Politik adalah pengamalan idiologi. Idiologi sendiri adalah agenda bernegara dan berbangsa. Kalau ada pemilu, kita terbelah. Itu karena semua memahami politik adalah idiologi. Padahal idiologi kita adalah pancasila. Itu sudah final. Para kontestan Pemilu, mereka tidak punya agenda idiologi apapun. Kalau anda baper sehingga persepsi mereka bekerja sesuai agenda selain Pancasilla itu jelas kebodohan sendiri. Lihatlah. Usai pemilu,mereka bisa saling rangkulan. Kalau anda kecewa. Ya itu salah anda sendiri. Itu artinya korban dari kemiskinan literasi.


Sikap kita atas pembubaran HTI dan FPI berbeda. Kita anggap bahwa Jokowi hebat. Akibatnya yang pro Jokowi euforia. Yang anti Jokowi semakin benci. Engga ada yang benar. Padahal pembubaran HTI dan FPI itu karena UU. Walau awalnya usulan dari Jokowi namun tanpa persetujuan anggota DPR, itu tidak akan jadi UU. Padahal kalau FPI dan HTI patuh kepada UU, Jokowi tidak bisa bubarka mereka. Apa artinya ? Masalahnya bukan pada Jokowi tetapi ada pada UU. Terus kenapa harus euforia dan benci kepada Jokowi. Lagi lagi itu karena miskin literasi.


Kita juga kadang tidak bisa menerima perbedaan persepsi antara lembaga negara. Apalagi ada lembaga negara tidak bersikap seperti kita mau. Padahal masing masing lembaga negara itu berkerja berdasarkan UU. Mereka dibiayai oleh APBN. Kesalah pahaman ini terjadi karena miskin literasi. Kita tidak bisa membedakan politik dan Hukum. Padahal dua hal itu sesuatu berbeda. Politik adalah kerja praktis mempengaruhi kebijakan negara. Sementara UU dan Hukum adalah aturan untuk bekerjanya sistem politik yang sesuai dengan Pancasila. Siapapun yang melanggar aturan, itu bukan karena politik tetapi itu murni masalah hukum.


Kita juga tidak bisa bedakan antara investasi dan perdagangan. Akibatnya pasar modal dan mata uang, masuk ranah perdagangan.  Ada yang kalah dan menang. Padahal itu korban miskin literasi. Pasar modal itu adalah wahana investasi. Tentu kalkulasinya bukan kalkulasi dagang. Tetapi ya investasi. Anda harus kuasai detail data fundamental emiten dan nature bisnisnya dengan benar. Pasar valas, itu skema lindung atas adanya akad  investasi agar tidak dirugikan oleh kurs. Maka ada kotrak futur dan forward. Itu hedging atas kejatuhan atau penguatan kurs. Eh malah jadi spekulatif.


Terakhir, masalah privatpun kita engga bisa bedakan antara menikah dan perkawinan.  Menikah itu kontrak sosial atas dasar pemahaman agama. Menikah itu ukuranya keimanan. Bukan nafsu. Perkawinan adalah pengamalan dari nikah itu sendiri. Apa nilai dari perkawinan ? Persahabatan atas dasar cinta karena Tuhan. Sebagian besar pernikahan gagal karena buruknya persahabatan antar pasutri. It is not a lack of love, but a lack of friendship that makes unhappy marriages. Itu karena kita miskin literasi tentang menikah dan perkawinan. Ya ukurannya hanya libido alias selangkangan..Apa bedanya dengan prostitusi atau perbudakan.


Islam : Ranah privat dan politik

  Waktu Kekhalifah Islam di Turki yang kekuasaanya membentang dari Barat ke Timur selama 6 abad. Waktu zaman Kekhalifahan Abassiah juga sama...