Sabtu, 24 Agustus 2019

Napak tilas ...

“ I love Indonesia so much,” Katamu. Kamu lanjutkan, kalau ingin mendapatkan makanan enak, datanglah ke Italia. Kalau ingin mendapatkan kedamaian, India tempatnya. Tapi kalau ingin dapatkan cinta, ya Indonesia. Kalau ingat senyum orang Indonesia ketika bersetatap dengan orang asing, rasanya peperangan yang terjadi memang suatu kebodohan manusia. 

Kamu lebih suka bicara apa adanya. Kamu tidak suka berdalih tentang apa yang terjadi. Kamu lebih suka melihat dari realita. Itulah pribadimu yang aku suka. Aku tidak terkejut. Kamu tidak pernah berubah. Suatu saat, kamu berkata ” aku ingin ulang tahunku di Jakarta,” demikian pesanmu lewat WA.  Singkat sekali, tetapi lebih dari cukup untuk alasan kamu ingin pulang ke Indonesia, setelah 30 tahun pergi dari tanah air.

Selalu, kuingat tentang detail persahabatan denganmu. Dikala menelusur kota pada malam hari. Bahkan dari gigil udara malam, dendang lagu tentangmu dapat memancing kehangatan. Kau adalah mataku. Yang kugunakan untuk menaklukan dunia. Sepanjang malam, gelap menyadurkan melankolia. Malam semakin pekat. Bebunyian yang tersisa hanya deru lenguhan orang bersenggama. Besoknya terlambat bangun. Yang melintasi malam bersama kerahasiaan tentang tujuan. Perjalananku sendiri lamat saja. Belum pernah kurasa hidup menjadi amat sepi. Hidupku datar saja namun selalu ada harapan karena  istriku selalu ada untuk ku.

Bagiku, pelan adalah keselamatan. Menekuri ketelitian. Menghindari bakhil yang celaka. Hanya mata hati yang berfungsi. Tersisa dunia hanya bagi belahan pandang menipu. Semenjak beberapa tahun lampau. Ketika passion, ku wakafkan. Karenanya tak mengenal aku kebanggaan atas credit card centurion dan palladium. Tetapi karena itu, aku bisa mendengar bulan mendengkur, di antara awan dan gedung tinggi. Bulan selalu tertidur selepas tengah malam. Bosan barangkali. Lelah juga mungkin. Tapi kau selalu mengatakan, ”bulan bukan bosan. Ketika kota hening, ketenangan akan membiusnya.” Tak setuju benar aku perihal itu. Tapi memang keheningan selalu dapat membius. Keheningan adalah jenis racun dengan wujud yang lain.

Benarlah. Kamu datang juga. Aku mendapat pesan melalui WA bahwa kamu menginap di Hotel bilangan Sudirman. Ketika kita berjalan menuju cafe hotel. Kamu sempat berwajah kawatir melihat seorang barjanggut menggunakan pakaiam gamis. Seketika kamu memeluk lenganku. 
“Ada apa ?
“ Ah tidak. Maaf. “ katanya segera melepas tangannya dari lengan saya. 
“ Saya seperti tidak menemukan Indonesia yang dulu saya kenal Senyum sudah menjadi langka. Semua orang nampak awas terhadap yang lain “
“ Kamu terlalu terpengaruh dengan berita tentang Indonesia. Engga seperti itulah. Semua masih sama. “
“ Yang beda apa ?
“ Semakin terbuka informasi , semakin terbuka persepsi orang tentang apa saja. Apalagi dengan adanya sosial media. Jadi yang beda cara orang mengungkap sikapnya. Dulu orang mengungkapkan pikiranya tanpa ada yang tahu. Sekarang orang punya corong untuk didengar”
“ Tetapi dengan mereka menyampaikan pikirannya lewat sosial media, itu membuat orang ramai tahu”
“ Mereka tidak pernah menyadari pikirannya akan berpengaruh besar terhadap orang lain. Bagi mereka itu hanya antara dia dengan gadget. Mana pernah dia terpikir bahwa dia sedang berada disebuah wahana raksasa yang menembus batas dimana jutaan orang memperhatikan sikapnya. “ 
“ Yang saya sedihkan,  mengapa pemahaman agama lebih banyak dalam konteks politik, bukan dalam narasi cinta dan kasih sayang, untuk mengajak orang damai ditengah perbedaan”
“ Emang kenapa agama dalam konteks politik?
“ Politik selalu memisahkan kelompok di tengah masyarakat. Sementara Agama mendamaikan semua orang yang berbeda. Ya kan?
“ Sebetulnya baik agama maupun politik, itu sama saja. Sama ingin membangun peradaban. Politik itu melaksanakan agenda idiologi. Walau idiologi berasal dari pikiran manusia, ia juga sebuah karunia dari Tuhan. Sama saja dengan agama yang bersumber dari kitab suci.”
“ Tapi kalau bicara idiologi, selalu menyalahkan orang yang berbeda.”
“ Salah menyalahkan itu dialektika. Biasa saja. Yang tidak benar itu adalah apabila perbedaan itu menimbulkan permusuhan dan kebencian.  Semua idiologi tidak mengajarkan permusuhan dan kebencian. Sama juga dengan agama.”
“ Lantas mengapa karena idiologi dan agama, orang bisa membenci dan memusuhi ?
“ Karena kebodohan. Kebodohan mereka dimanfaatkan oleh politisi untuk menghabisi lawannya.  “
“ Kok bisa ?
“ Baik idiologi maupun agama, selalu ada alasan untuk menyalahkan orang yang berbeda. Ada narasi yang mudah dipahami oleh orang awam, sehingga mereka menjadi militan pembela kebenaran yang dijejalkan kedalam pikirannya. Pada akhirnya mereka adalah korban dari politisi. “
“ Korban ?
“ Ya korban. Setelah kekuasaan didapat, baik politisi maupun agamawan akan duduk satu meja.  Mereka berbagi diantara mereka. Sementara rakyat sudah terlanjur terbelah dan saling memusuhi. Mereka para politisi itu tidak peduli. Kalau karena permusuhan dan kebencian itu, rakyat bertikai, itu menjadi tugas polisi menyelesaikannya. Begitula bila yang terlanjur militan, itu juga tugas polisi kalau mereka melakukan aksi teror “
“ Hmmm.” Dia mengangguk. “ Saya mengerti sekarang. Ini semua karena demokrasi. Kebebasan menyampaikan pendapat dan dewasa menerima perbedaan.” 
“ Indonesia masih belajar dalam berdemokrasi, khususnya rakyatnya. “
“Seharusnya para elite politik itu mendidik rakyat untuk dewasa berdemokrasi ?
“ Para elite itu sampai mati tidak akan pernah dewasa, kalau rakyatnya sendiri engga dewasa. “
Kami terdiam sambil asyik mendengar lantunan lagu diatas panggung yang dibawakan biduanita dari Philipina.

”Kamu ingin hadiah apa untuk ulang tahunmu?” tanyaku. Dengan tersenyum dia menatapku. “ Gandeng aku seperti di tahun 1993 berjalan di malam hari dari Senen ke Raden Saleh, Hotel Pardede!”. katanya.
“ Usia kita sudah mendekati 60 tahun, Esther. Aku engga yakin apa masih kuat jalan kaki sejauh itu. Apalagi malam hari ”
“ Ayolah, Bro, kita lakukan napak tilas seperti dulu saat terindah pernah kita alami.” katanya menarik lenganku. Aku tidak bisa menghindar. “ Kalau begitu, dari Pulman ini saja, kita ke Cikini terus ke hotel Pardede ?
“Engga mau. Dari Senen”
“ Ya udah. Kalau gitu kita pakai kendaraan ke Senen, dari sana jalan kaki ya”
“ Yup “ katanya riang. 

“ Aku ingat di tahun 1993 ketika kita ke Bali. “ kataku ketika kami mulai melakukan napak tilas berjalan kaki dari Senen ke Jalan Raden Saleh. “ aku terpesona dengan gigimu yang putih dan tertata baik sekali. Tanpa cacat. “
“ Aku ingat. Waktu itu aku pikir kamu inginkan es creamku setelah es cream kamu habis lebih dulu. Kamu tidak pernah bisa menikmati makan apapun dengan ritme yang lambat, penuh resapan kenikmatan. Memang bagimu hidup bukan untuk makan. “ 
“ Apalagi yang kamu ingat? 
”Waktu itu kamu bilang kepada ku,-- aku hanya pria kampung. Peragu dan kadang inferior, di mata orang normal seperti kau. Yang tak selalu memiliki mimpi besar seperti kamu yang ingin menguasai dunia. Menaklukan Hong kong. Bahkan selama ini, aku takut dengan kemewahan. Sepertinya aku tidak bisa menjadi predator yang rakus--. Dan aku jawab dengan tegas. Jangan, jangan pernah bicara seperti itu lagi, Bro? Suatu saat kamu akan jadi elang perkasa. Aku meliat itu dimatamu, mata elang, sayang. Benar engga ? Kini kamu sudah punya beberapa perusahaan diluar negeri. Aku tidak salah dengan keyakinanku.”
“ Bertahun-tahun aku menghadapi pasang surut. Aku sempat berpikir, jangankan jadi elang, jadi ayam jago aku tak pantas. Sementara kamu, telah jadi ayam merak di pusat keuangann dunia. Bahkan ketika aku menemuimu di Hong Kong tahun 1998, aku sedang sekarat menuju kebangkrutan.” 
“ Dan kamu bisa melewati semua itu dengan elegan. Ya kan. “ 
Kamu  semakin mengerat pagutan tanganku di lenganku.
“ Aku libur sampai minggu depan. Mau ke Yogya ke makam ibu.”
“ Mau aku temanin.?
“ Engga usah. AKu ingin sendirian aja.”
“ Yakin ?
“ Ya..”
Aku hanya tersenyum. Kami asyik ngobrol panjang lebar. Cerita soal kelakuan Wadah, dan cerita sendu tentang Lyly yang mewakafkan semua tabunganyna untuk panti Asuhan dimana dia pernah dibesarkan. Kami menikmati malam itu seperti 30 tahun lalu “ Bro, kamu tidak pernah menggodaku bahkan ketika menikmati kebersamaan di Bali diusia muda kita. Kamu tidak pernah menyentuhku. Namun karena itu persahabatan kita sangat berarti. Di usia mendekati 60 tahun, aku sendirian tapi aku tetap tidak pernah menyesal karena aku punya sahabat sepeti kamu"

Sampailah kami di Cikini. Di dekat TIM kami nongkrong di warung. Ada pengamen datang membawakan lagu “ Kenangan terindah, “. Esther meminjam gitar itu, dia menyanyikan lagu yang kini sedang in

Padamu pemilik
Hati yang tak pernah kumiliki
Yang hadir sebagai
Bagian dari kisah hidupku
Engkau aku cinta
Dengan segenap rasa di hati
Selalu 'ku mencoba

Menjadi seperti yang engkau minta
Aku tahu engkau sebenarnya tahu
Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu
Kau sembunyikan rasa cintaku
Di balik topeng persahabatanmu yang palsu
Kau jadikan aku kekasih bayangan
Untuk menemani saat kau merasa sepi
Bertahun lamanya kujalani kisah
Cinta sendiri.

Mungkin memang benar
Cinta itu tak lagi berharga
Semua percuma
Bila engkau tak punyai harta
Aku tahu engkau sebenarnya tahu
Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu
Kau sembunyikan rasa cintaku
Di balik topeng persahabatanmu yang palsu
Kau jadikan aku kekasih bayangan
Untuk menemani saat kau merasa sepi
Bertahun lamanya kujalani kisah
Cinta sendiri
Cinta sendiri

O-ho ...
Aku tahu engkau sebenarnya tahu
Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu
Kau sembunyikan rasa cintaku
Di balik topeng persahabatanmu yang palsu
Kau jadikan aku kekasih bayangan
Untuk menemani saat kau merasa sepi
Bertahun lamanya kujalani kisah
Cinta sendiri

Cinta sendiri

Saya terharu. Begitu arti sebuah persahabatan. Secara spiritual persahabatan itu sejati , selalu membuat kamu rindu dan selalu ingin jadi kanak kanak….dan saling menguatkan mimpi dan seling bergandengan tangan untuk berubah lebih baik karena waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Islam : Ranah privat dan politik

  Waktu Kekhalifah Islam di Turki yang kekuasaanya membentang dari Barat ke Timur selama 6 abad. Waktu zaman Kekhalifahan Abassiah juga sama...