Kamis, 25 Februari 2021

Berpikir linier atau lateral.

 




Kalau ada wanita cantik dekat dengan anda. Pasti orang berpikir bahwa itu berpotensi terjadi perbuatan amoral. Kalau ada wanita berpakaian terbuka atau tidak pakai jilbab, pasti ada yang berpikir wanita itu mengundang sahwat. Kalau ada orang kaya hidupnya sederhana, itu bohong. Kalau ada penguasa seperti Jokowi hidup sederhana, itu dianggap pencitraan. Kalau ada pejabat yang bersih pasti bohong. Dan banyak lagi hukum sebab akibat yang menjadi landasan orang berpikir secara linier. Sehingga kesimpulan yang dia buat terkesan normatif dan ilmiah atau logika. Karena ada bukti empiris yang mendukungnya.


Tanpa disadari karakter terbentuk lewat pemikiran linier itu. Anda tidak aka bisa memahami kalau banyak kedekatan orang dengan wanita cantik tidak berujung ke tempat tidur atau perzinaan.  Itu hanya sebatas persahabatan. Anda tidak akan paham, kalau banyak wanita berjilbab standar moralnya lebih buruk dari orang tanpa jilbab. Anda tidak akan pahami kalau banyak orang kaya hidupnya sederhana. Sulit bagi anda memahami banyak pemimpin yang hidup sederhana. Dan lain sebagainya. Dari ketidak pahaman itu tanpa disadari anda menjadi hakim terhadap orang lain. Namun pada waktu bersamaan anda membelenggu diri anda sendiri.


Dari berpikir linier ini orang cenderung jadi follower pemikiran orang lain. Yang lebih konyol lagi adalah dia menjadikan penulis atau pemikir itu sebagai panutan. Padahal antara tulisan dan penulis dua sisi yang jauh sekali berbeda. Keynes bapak Ekonomi kapitalis yang moralis, ternyata dia seorang gay. Pentolan ISIS yang mengundang orang berjihad  membelanya, justru menumpuk uang di Dubai di perbankan Ribawi. Dan menggunakan rekening itu untuk membayar bill wanita escort. 


Robert Kiyosaki, penulis Rich Dad, Poor Dad, kalah di pengadilan, dia tidak memiliki cukup uang untuk membayar denda. Itu bukan hanya kebangkrutan pribadi, melainkan juga kebangkrutan perusahaan. Hitunglah berapa juta orang terpukau dengan pribadi Robert Kiyosaki dan menjadikan bukunya sebagai referensi. Dan mereka sukses. Tetapi justru Robert Kiyosaki bankrut. Dia sendiri tidak bisa belajar dari tulisan dia. 


Saya secara pribadi lebih suka berpikir lateral. Saya tidak patuh dengan referensi sains. Saya lebih suka belajar dari pengalaman pribadi dan orang lain. Dari sanalah saya bersikap menentukan pilihan. Kalaulah saya berpikir linear, tidak sulit saya jadi sarjana. Kalaulah saya berpikir linear engga mungkin saya punya nyali berbisnis di China dan menjadikan orang China yang tidak seiman sebagai proxy. Kalau saya berpikir linear engga mungkin saya menulis bertentangan dengan pemahaman radikalisme yang penuh dokrin.


Berpikir lateral itu ciri orang bebas dan merdeka. Dia menjadi dirinya sendiri. Namun sebaik baiknya berpikir lateral tentu anda harus punya wawasan cukup dari banyak membaca, bergaul,  berpikir terbuka dan juga piknik. Walau begitu bagi orang yang berpiki linier,  anda tetap akan dicap sebagai tukang ngayal. Biarin saja. Karena  menjadi tukang ngayal jauh lebih baik daripada menjadi follower buta. Kasihan denga ibu kita yang melahirkan kita, hanya untuk jadi follower orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...