Jumat, 26 Februari 2021

Fenomena Buzzer.

 



Waktu revolusi kebudayaan di China, semua simbol pemikiran dokrin terhadap feodalisme dihancurkan oleh rakyat jelata. Tempat ibadah yang mentereng berubah fungsi jadi tempat kegiatan sosial. Sekolah barat dihacurkan. Buku buku barat dibakar. Para cerdik pandai digiring ke kamp kerja paksa. Para tuan tanah dibunuh oleh pengadilan jalanan. Singkatnya, saat itu, kalau ada orang difitnah sebagai orang pintar soal agama, atau soal kapitalisme, itu artinya kematian baginya. 25 juta orang mati selama revolusi kebudayaan. China lama yang akrab dengan feodalisme benar benar hancur. 


Apakah Mao salah dengan revolusi yang terkesan konyol itu? pemikir barat dan orang luar jelas menyimpulkan itu adalah kebodohan yang pernah dibuat seorang pemimpin semacam Mao. Tetapi ada orang lupa. Bagaimana mungkin setelah Mao meningggal dan Deng melakukan reformasi ekonomi, China bisa bergerak cepat sekali mengejar ketertinggalan dari negara lain. Bahkan kini China memimpin perubahan dibidang sains dan ekonomi dunia. 


Sementara sekularisme yang memicu revolusi Perancis, justru jauh tertinggal dari China. Bukan itu saja. Negara yang berlandaskan agama juga sama.  Semakin terjajah secara ekonomi dan tak pernah bisa lepas dari hegemoni asing atau tidak pernah mandiri secara politik maupun sains. Lantas apa yang berbeda dari China? Ya, Sumber daya manusia yang dipersiapkan oleh Mao. Revolusi kebudayaan memang membuat ekonomi China terpuruk. Tetapi Mao berhasil membuat 90% orang China melek baca.  Saya katakan “ melek baca” karena rakyat tidak lagi terkurung dalam berpikir linier, dalam dimensi agama maupun sekularisme. 


“Mau kucing hitam atau merah yang penting bisa tankap tikus. Mau kapitalis atau sosialis, yang penting bisa produksi.” Demikian kata Deng yang terkenal itu. Apapun pemikiran itu hebat kalau bisa membuat orang mandiri dalam berproduksi untuk kehormatan diri dan keluarganya. Jadi focus rakyat China sangat sederhana. Kalau kapitalisme itu bagus untuk bersaing, ya kita pakai. Kalau sosialis komunis itu bagus untuk disitrbusi barang dan jasa, ya kita pakai. Kalau agama itu bagus untuk kita menjadi orang baik ya kita pakai. Yang baik diambil, yang buruk dibuang. Dari semua itulah lahir kebudayaan baru, yang transformatif, inovatif dan visioner.


Kehebatan China dalam memilih mana yang baik dan buruk itu, berkat budaya lateral yang dibangun selama revolusi kebudayaan. Walau selama revolusi kebudayaan para sarjana banyak yang mati, namun rakyat jelata semakin cerdas. Mereka cerdas  membaca situasi yang berkembang. Hebat memahami, memproses dan mengevaluasi setiap informasi yang datang. Jadi praktis mereka tidak bisa lagi dijadikan domba oleh tokoh agama. Tidak mudah jadi korban Ponzy. Tidak mudah jadi korban populisme. Tidak mudah jadi korban politik. 


Ektrimnya, rakyat China anggap diluar dirinya nothing. Yang ada hanya dirinya saja. “Kalau bokek, jangan salahkan siapa siapa. Itu karena saya bodoh.” Maka lahirlah masyarakat egaliter. “ Kamu pejabat, tokoh agama, profesor, emang gua pikirin. Kecuali kamu bisa buktikan karena kamu hidup saya lebih baik. Kalau engga, lebih baik menjauh dari saya. Sekaya atau sepintar apapun kamu, bukan urusan saya. “ 


Deng buktikan itu dengan fenomena kemajuan Shejiang. Sebelum liberalisasi ekonomi Deng, Hangzhou ( ibu kota provinsi Zhejiang)   adalah contoh kemampuan  kebebasan berpikir.  Daerah ini sangat sedikit sekali mendapatkan anggaran dari Pusat dan hampir tidak mungkin untuk menciptakan pertumbuhan. Namun rakyat yang ada di Zhejiang bangkit dengan kemampuan kemandirian. Apa yang terjadi kini? Hangzou menjadi kota terbaik dan paling mandiri dari segi anggaran pusat. Paling maju dari segi Sains. Dan menjadi model pengelolaan wilayah di seluruh China.

Ketidak sukaan elite politik kepada buzzer karena mereka tidak ingin ada paham egaliter yang berkembang dari adanya sosial media. Kamu tokoh agama atau politisi atawa gubernur,  emang gua pikirin. Menurut gua salah, ya gua serang. Siapapun elo. Suka suka gua. Ape loe ape loe..Seharusnya berkembangnya paham egaliter ini bisa mengubah cara berpikir tokoh agama dan  politik.  Ubahlah diri. Kalau engga, gua kasihan aja lue pada jadi bahan ketawaan orang banyak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Islam : Ranah privat dan politik

  Waktu Kekhalifah Islam di Turki yang kekuasaanya membentang dari Barat ke Timur selama 6 abad. Waktu zaman Kekhalifahan Abassiah juga sama...