Kamis, 04 Maret 2021

Perjuangan membela kaum tertindas.

 




Tan Malaka lahir di Nagari Pandam Gadang, Gunuang Omeh, Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, 2 Juni 1897. Ayahnya pegawai kesehatan hindia Belanda. Dari kecil ayahnya sudah meliat bakat kejeniusan dari putranya. Usia ABG Tan sudah bisa bahasa Arab. Hafidz Al Quran. Menguasai tafsir Al Quran. Dia otodidak sejati. Karena kercerdasanya itu dia berkesempatan sekolah bagi kalangan bangsawan, Kweekschool, Bukittinggi. Mungkin kecerdasan dan sopan santunya, membuat Syarifah murid wanita satu satunya di kelasnya  kesengsem dengannya. Tamat Sekolah dia dapat beasiswa ke Balanda. Sebelum berangkat dia menyampaikan niatnya kepada kedua orang tuanya untuk melamar Syarifah. Tetapi orang tuanya mengancam. Menikah dengan wanita pilihannya akan kehilangan gelar Datuk Tan Malaka.  Tan urungkan niatnya demi menghormati kedua orang tuanya. 


Pada tahun 1912 ia berangkat ke Belanda. Di Belanda, ia masuk Sekolah Guru Haarlem. Ia menonjol dalam ilmu pasti. Dia juga tertarik membaca buku tentang militer, politik, terutama terinspirasi terhadap Revolusi Rusia (1917). Minatnya terhadap buah pikiran Marx dan Engels semakin besar. Ia kerap mengikuti berbagai pembicaraan politik kaum kiri di Amsterdam, juga diskusi terbuka antara Sneevliet dan Suwardi tentang "Kecenderungan Nasionalis dan Sosialis dalam Pergerakan Nasional Hindia”.  Namun Tan menegaskan, “ Sumber yang saya peroleh dari agama islam inilah sumber yang hidup dalam diri saya…. Meskipun berbagai angin taufan pengaruh dari derasnya pemikiran dan berbagai kejadian di Eropa mengaduk aduk, menyeret sampai menghilirkan saya ke perisitiwa 1917 minat saya terhadap Islam terus hidup..kejiwaannya masih tersimpan dalam subconscious “ 


Tan terus berkomunikasi via surat dengan Syarifah.  Kerinduannya ditumpahkan dalam surat. Namun pada akhirnya Syarifah memutuskan menerima pinangan dari seorang  Bupati Cianjur RAA Wiranatakusumah. Tan bisa sangat memaklumi, Syarifah tidak mungkin terus menanti dia. Siapalah dia? Pria miskin yang terlalu banyak impian.  Mungkin saat itu Tan sadar dia dikalahkan oleh feodalisme. Tapi bagaimanapun dia harus berdamai dengan takdir. Tan Malaka kembali ke Indonesia pada November 1919. Bekerja di sebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan antara buruh pekerja dan tuan Belanda di tempat itu semakin memantapkan langkah Tan untuk memperjuangkan nasib kaum tertindas. 


Mulai 1920-an ia menulis banyak artikel politik. Dengan sangat terpelajar dia mengkritisi sistem Soviet dan parlementer pada sistem monarky. Tulisannya dimuat di majalah Soeara Ra’Jat. Tokoh Komunis Samaun pergi Rusia. Tahun 1921, Tan terpilih sebagai ketua Partai Komunis Indonesia (PKI). Ia mengembangkan cabang PKI di daerah dan mengecam pemerintahan kolonial yang menindas para buruh. Ia ditangkap karena terlibat dalam aksi pemogokan para buruh perkebunan (1922).  Tapi dengan cerdik Tan minta diasingkan ke Belanda. Di depan pengadilan Den Haag pada 1928 Tan meyampaikan pledoi yang sangat cemerlang. Pledoinya berjudul 'Naar de Republiek Indonesia' (Menuju Indonesia Merdeka). Pledoinya dibukukan. Tulisannya menjadi inspirasi Moh Hatta yang melahirkan  'Indonesia Vrije' (Indonesia Merdeka) , kemudian Soekarno dengan 'Indonesia Menggugat' pada 1933. 


Setelah itu Tan dekat dengan gadis Belanda, Fenny Struijvenberg. Hubungan sempat dekat. Tapi tidak lama di Belanda ia pergi ke Moskwa, Rusia (1922). Sejak itu Tan buron. Ia diburu oleh agen negara imperialis seperti Inggris, Belanda dan Amerika. Bahkan Jepang pun memburunya. Dalam Pelarian Tan diangkat sebagai wakil Komunis Internasional (Komintern) Asia Tenggara. Ia menulis buku mengenai Indonesia. Hasilnya buku berjudul Indonezija: ejo mesto na proboezjdajoesjtjemsja Vostoke (Indonesia dan empatinya di timur yang sedang bangkit). Hubungannya percintaannya dengan Fenny Struijvenberg tak ada ujung pangkalnya.


Dalam pelarian di Manila, Filipina pada 1927, di bawah nama samaran Elias Fuentes, Tan sempat jatuh cinta pada seorang perempuan. Kabarnya perempuan itu anak seorang petinggi universitas di sana. Hubungan mereka terputus karena Tan ditangkap intelijen Amerika, diadili di Pengadilan Manila dan divonis deportasi keluar dari Filipina. Namun tak bisa meloloskan diri dari penjara. Ia pergi ke Tiongkok. Dia menggunakan nama samaran, Ong Soong Lee.  Saat menetap di Xiamen itulah Tan bertemu seorang gadis Amoy berusia 17 tahun berinisial “AP”. Tapi hubungan kandas.


Dari Tiongkok, Tan menuju Malaya, kemudian menetap di Singapura. Di wilayah jajahan Inggris itu Tan menggunakan nama Hasan Gozali dan bekerja sebagai guru pada sebuah sekolah. Tak jelas apakah dia kembali menjalin hubungan cinta di sana. Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, Tan melihat ada kesempatan untuk pulang.  Dia hidup secara rahasia selama Jepang berkuasa. Antara 1942-1943, ia menulis buku Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang menyuguhkan cara berpikir baru untuk memerangi cara berpikir lama (dipengaruhi tahayul atau mistik yang menyebabkan orang menyerah secara total kepada alam). Pemikiran dialektisnya terlihat dari sikapnya yang mempertentangkan golongan tua (Sukarno-Hatta) dengan golongan muda (pemuda pejuang). Ia sinis terhadap golongan tua yang mau bekerja sama dengan penjajah, sekaligus ujung tombak perjuangan. Saat itu dia dapat kabar. Syarifah sudah bercerai. Punya anak lima. Melalui temanya dia diatur bertemu dengan syarifah. Namun Syarifah menolak pinangan Tan. 


Sahabatnya  Ahmad Soebardjo mengenalkan dia dengan ponakannya, Paramita Abdurrachman. Hubungan sempat dekat.   Bahkan berencana untuk menikah. Namun Tan semakin sibuk ditengah gelombang Revolusi. Paska proklamasi kemerdekaan, Indonesia dalam status quo secara hukum international. Pengakuan kemerdekaan butuh proses pembuktian tekad antara kehendak kaum republikan dan kerajaan yang masih diakui eksistensi hukumnya. Revolusi pun meledak tak  terhindarkan. Saat itu kaum pergerakan terdiri dari tiga. Kaum nasionalis- Sosialis, komunis dan Islam. Kebetulan nasionalis lebih didukung kaum feodal dan tentara pelajar. Sehingga mereka punya legitimasi berdiplomasi dengan Belanda dan sekutu.


Di tengah arus revolusi bau amis darah itu, perundingan legitimasi Indonesia diadakan. Perjanjian Linggarjati yang ditandatangani pada 25 Maret 1947. Delegasi yang terlibat adalah Soetan Sjahrir, A.K. Gani, Amir Sjarifuddin, Soesanto Tirtoprodjo, Mohammad Roem, dan Ali Boediardjo. Mereka didominasi oleh kelompok sosialis dan nasionalis. Karena tidak menghasilkan pengakuan utuh NKRI tapi hanya sebagian saja. Tan Malaka menarik Soedirman dalam satu barisan menentang perjanjian itu.  Pada bulan Januari 1946 di Purwokerto. Diadakan pertemuan dengan panglima besar Sudirman.


Pada pertemuan itu yang hadir adalah pimpinan pusat Partai Sosialis, Partai Kominis Indonesia, Serindo, Masjoemi, Partai Boeroeh Indonesia, Partai Revolosioner Indonesia (Parindo), Organisasi-organisasi pemuda dan pejuanh Pasindo, Barisan Pemberontakan Rakjat Indonesia, Badan Kongres Pemoeda Repoeblik Indonesia, Hizbullah, Gerakan Pemoeda Islam Indonesia (GPII). Hadir pula perwakilan Angkatan Moeda Repoeblik Indonesia, Kebaktian Rakjat Indonesia Soelawesi (KRIS), Pemuda Republik Indonesia Soematra, Federasi Perempuan Persatoean Wanita Indonesia (Perwari), tentara dan orang-orang dari semua lapisan rakyat. Tan Malaka menggagasnya untuk melawan kapitalisme dan penjajahan.


Keduanya memiliki banyak banyak kesamaan, selain sama memiliki latar belakang sebagai pengajar, keras kepala demi kemerdekaan 100% yang diinginkan Tan adalah juga yang diimpikan Soedirman. Sejak pertama bertemu di Purwokerto, berlanjut pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Maka terbentuklah front Tan Malaka- Soedirman menentang berdamai dengan Belanda. Disisi lain ada front Sjahrir-Sjarifuddin, Soekarno- Hatta yang tidak bisa menerima sikap Tan Malaka- Soedirman. 


Singkatnya sejak perundingan Linggarjati, Renville, tidak pernah settle. Selalu dikacaukan oleh sikap Tan Malaka- Soedirman. Tan membakar semangat rakyat diakar rumput untuk terus kobarkan api revolusi. Soedirman gunakan Tentara rakyat untuk lakukan perang grilya. Sementara sahabat Amir Sjarifuddin, Muso terpengaruh dengan Tan Malaka untuk melawan Sjahrir. Pemberontakan PKI meletus di Madiun. Sjahrir melihat Tan Malaka adalah duri dalam daging yang membuat perjanjian damai dengan Belanda gagal. Yang memancing Belanda melakukan aksi militernya. Membuat Sjahrir dan Soekarno serta lainnya ditangkap. 


Karenanya menjelang Konferensi Meja Bundar. Atas perintah Sjahrir, Tan Malaka ditangkap.  Akhirnya dieksekusi 21 Februari 1949. Tuduhan sebagai dalang atas peristiwa kudeta terhadap pemerintah. Cintanya dengan Paramita Abdurrachman diakhiri oleh ajalnya. Tan tidak pernah bisa jatuh cinta dalam arti sesungguhnya dengan wanita lain kecuali kepada Syarifah. Dia paham Syarifah menikah karena kuatnya budaya feodal. Dia tersingkir tetapi dia tidak menyerah kalah. Saatnya Tuhan mempertemukan dia kembali dengan Syarifah yang sudah janda. Niat menikahi dia utarakan. Tapi Syarifah menolak. Tan dikalahkan oleh takdirnya. Sama halnya sebegitu kuat dan besarnya cintanya kepada Indonesia tetapi justru tentara membunuhnya. Dia dikalahkan oleh takdir. Kasih Tan  di dunia memang tak sampai, tapi dia sampai kepada Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang.


Setelah itu pada tanggal 27 desember 1949  KMB terlaksana. Pengakuan kedaulatan Indonesia yang bersyarat.  Sementara Soedirman harus selalu menjunjung sumpah setia seorang prajurit negara. Setahun setelah Tan Malaka meninggal, Soedirman menemui ajalnya ditempat tidur. Bukan di medan tempur. Karena sakit TBC. Setelah KMB, Belanda berkurang hegemoninya. AS masuk dalam politik perang dingin berhadapan dengan USSR di Indonesia. Sementara PKI dan Islam tetap tidak menerima isi perjanjian KMB. PKI provokasi Soekarno agar hengkang dari PBB dan membentuk Non Blok. Namun kelompok Islam, anggap PKI dan nasionalis sama saja. Sama sama condong kepada neocolonialism. 


Kelompok Nasionalis condong ke barat dan AS. PKI condong ke Rusia dan Beijing. Namun akhirnya elite Islam bersama kelompok sosialis terpaksa meminta bantuan AS untuk menjatuhkan Soekarno yang dekat dengan PKI. Itu lebih baik daripada digilas oleh PKI.  Namun upaya kelompok Islam dan sosialis gagal berhadapan dengan Soekarno.  Akhirnya AS menggunakan perwira TNI untuk menghabisi PKI dan sekaligus menjatuhkan Soekarno. G30S PKI meledak sebagai jalan menuntaskan skenario intelijen menempatkan Soeharto sebagai presiden. Soeharto berkuasa. PKI dimutilasi. Gerakan Islam di bonsai. 32 tahun era Orba, AS mengendalikan Indonesia. SDA kita  habis. Daya rusaknya lebih besar dari 350 tahun dijajah oleh Belanda.


Tan bukan Komunis seperti ajaran Karl Marx. Dia hanya menggunakan komunis sebagai metodelogi bersiasat berjuang membela kaum tertindas. Dia bukan anti Tuhan. Dia putra minangkabau. Yang membumikan " Adat basandi sara, sara basandi kitabullah. Dia pejuang kaum tertindas. Menginginkan Indonesia merdeka dalam arti sesungguhnya tanpa campur tangan asing. Reformasi menjatuhkan Soeharto dengan memalukan. " Ingatlah bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi.”  Kata Tan tahun 1932. Gerakan reformasi adalah suara Tan di abad 21.


Sejarah kadang mengecoh. Ia ditulis oleh kehendak penguasa. Penulisan sejarah memang seperti menulis diatas kanvas. Indah natural belum tentu dipahami. Kadang lukisan apstrak lebih bernilai untuk tempat orang berimajinasi dalam pikiran masing masing. Terlepas daripada itu sejarah tetaplah ujud catatan kelemahan manusia yang tak bisa jujur dengan dirinya sendiri. Memaksa kita untuk bisa berdamai dengan kenyataan hari ini dan menatap masa depan dengan berani. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...