Jumat, 26 Maret 2021

Ketika reformasi

 




Setelah reformasi dimulai  pada pemilu 1999, saya sempat makan sate di Blora dengan mentor saya orang China. “ Kalau reformasi masih menerima para pejabat dan politisi era Soeharto, yakinlah tidak akan ada reformasi. Karena mereka itu akan terus jadi kerikil dalam sepatu. Akan selalu mempersulit pembaharuan. Mengapa ? Mengubah mindset statusquo engga gampang. Mereka racun peradaban. Lebih buruk dari sampah. “‘Katanya. Kelak kita tahu. China juga bisa berkembang pesat karena berhasil memotong satu generasi lewat revolusi kebudayaan.


Saya sempat termenung. Faktanya Golkar tetap mendapatkan suara pada pemilu 1999. Terbukti Golkar juga mastermind dibalik lengsernya Gus Dur. Kemudian tahun 2004 SBY jadi presiden yang juga perwira era Orba. Dia menggilas PDIP yang lahir dari rahim reformasi. Setelah Golkar beranak pinak  jumlah suara mereka di DPR jauh lebih banyak dari partai yang lahir era reformasi.


Surat  Ho Chi Minh yang mengkritik Sukarno yang lebih memilih mengerjakan kembali birokrat didikan Belanda setelah Indonesia merdeka. 


“ Kalau mempekerjakan kembali birokrat didikan Belanda maka negara tuan tidak merdeka sepenuhnya! “ Tanya Paman HO. Kelak kita tahu. Vietnam bisa berkembang pesat setelah perang panjang.


“ Kalau tak mempekerjakan lagi birokrat itu maka Indonesia kehilangan "mesin negara" alias roda pemerintahan tak bisa bergerak. “ kata Soekarno. Kelak kita tahu  yang menggilas Soekarno adalah Soeharto yang mantan Perwira KNIL ( Belanda ). Setelah itu kita masuk perangkap Barat dalam skema hutang.


Sikap revolusioner memang tidak lahir dari kaum terpelajar dengan mindset feodal. PKI dan Islam sebenarnya dua golongan yang menolak masuk BPUPKI. Alasannya ? BPUPKI bentukan Jepang. Kemudian PKI  juga menolak dalam setiap perundingan dengan Belanda baik Roem and Royen, Renville, KMB. Bagi PKI merdeka harus clean dari pengaruh asing. Ada sebuah kutipan dari Tan Malaka bahwa bangsa ini harus menang perang secara total dengan cara menolak taktik berunding. Kata-katanya begini:  Tuan rumah tak akan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya! Dengan kata lain, perang total adalah pilihan terbaik.


Lihatlah faktanya kini. Menjelang berakhir kekuasan Jokowi, ada wacana untuk kembali menarik peran AS dalam pembangunan ekonomi. Dengan presiden yang diendorse AS. Dan ide itu datang pasti engga jauh dari partai alumni orde baru bersama partai berbendera Islam yang lebih sekular daripada sekular. Artinya sampai sekarang sulit bagi kita untuk lepas dari hegemoni asing. Sejarah penjajahan akrab bagi rakyat karena elite tidak pernah berubah dari sejak era kolonial. Itu semua karena mental rakus elit yang ingin hidup senang dari kekuasaan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...