Sabtu, 03 Desember 2022

How Democracies Die.




Saya membaca buku How Democracies Die. Itu saya baca tahun lalu. Buku itu biasa saja. Mengapa? Karena ditulis sebagai tesis atas fenomenan kepemimpinan Trumps. Namun karena penulisnya adalah Steven Levitsky and Daniel Ziblatt, keduanya adalah profesor Harvard, terkesan sangat kaya wawasan. Mereka melengkapi tesisnya atas dasar studi terhadap kerusakan demokrasi di seluruh abad 20 da 21. Seperti pemerintahan Jenderal Augusto Pinochet di Chili , Presiden Recip Erdogan, di Turki, di Brasil, Filipina, hingga Venezuela. Buku itu memberikan arahan bagaimana menyelamatkan demokrasi dari ancaman akibat kepemimpinan yang otoriter dan sekaligus memperbaiki proses demokrasi.


Namun buku itu tidak membahas tentang demokrasi di Indonesia. Yang dijadikan contoh adalah Fenomena pemimpin 'diktator' yang menang lewat pemilu, seperti terjadi di Peru, Polandia, Turki, Rusia, Sri Lanka, dan Ukraina sebagai dasar studi. Lantas, bagaimana kematian demokrasi itu bisa terjadi? Dalam buku ini dijelaskan bahwa kematian demokrasi bisa terjadi justru ketika kaum demagog ('provokator') ekstremis dibawa masuk ke dalam arus utama perpolitikan. Mengapa ? karena mereka anti norma demokrasi.


Konteks di negara mayoritas islam, terjadi pelemahan demokrasi oleh kekuatan primordial, yang memanfaatkan politik identitas untuk memprovokasi masyarakat melawan pemerintah yang terpilih secara demokratis. Itulah yang terjadi di Indonesia. Lihatlah pidato MRS dan HTI, bagaimana mereka mentertawakan proses politik yang harus tunduk dengan UU dan hukum. Yang dikawatirkan, kalau Pemilu dimenangkan lewat politik identitas, maka yang muncul adalah pemimpin yang otoritarian theokrasi anti demokrasi.


Nah kalau terjadi pembiaran terhadap kekuatan primordial yang demagog hanya masalah waktu Indonesia akan amburadul. Itu bisa dilihat bagaimana keadaan DKI. Anies menang Pilgub lewat politik identitas. Dia hanya focus kepada golonganya dan membayar politisi agar memuluskan agendanya menyuburkan keberadaan kaum demagog.  Yang terkesan dalam konteks demokrasi adalah pembangkangan sipil.


Saya tidak menyalahkan agama sebagai penyebab melemahnya demokrasi. Agama itu suci. Yang jadi masalah ketika agama dipolitisir maka ia sangat mudah melahirkan kaum demagog. Saya lebih suka kalau ingin agama sebagai jalan perjuangan, maka tirulah jalan sufi. Yaitu jalan cinta. Berpolitik karena cinta. Hargai perbedaan. Hormati konsesus ( Hukum dan UU ) yang dibuat bersama sebagai ujud nilai akhlak. Utamakan keadilan. Tetapi keadilan yang proporsional.

Banyak orang berkata, "Dia jahat, tetapi engkau dapat menghindarinya.” Tuhan berkata kepadamu, "Dia jahat, tetapi engkau dapat mengubahnya." Caranya? Jangan berjarak tapi bersedekatlah, maafkan dan lupakan, perbaruilah. “


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Sistem atau karakter personal

  Dulu waktu saya masih remaja dagang rokok di Kaki lima. Saya dagang  depan pos polisi. Pak Made, polisi berpangkat sersan, setiap sore bel...