Selasa, 06 Desember 2022

Islam di China


 

Lima tahun lalu saya mampir ke toko buku yang ada di Bandara Hong Kong. Saya terkejut karena ada terjemahan buku dalam bahasa inggeris yang di tulis oleh Wang Tai Yu, judulnya " Chinese Gleams of Sufi Light”. Buku ini disusun oleh Sachiko Murata. Murata adalah Associate Professor of Comparative Studies di State University of New York di Stony Brook. Murata juga  penulis The Tao of Islam: A Sourcebook on Gender Relationships in Islamic Thought , juga diterbitkan oleh SUNY Press. Saya langsung beli buku ini.


Sebelumnya buku yang ditulis Ulama China diterjemahkan  ke  dalam bahasa Persia. Makanya Perpustakaan Persia banyak buku karya ulama china. Murata menterjemahkannya dalam bahasa Inggris.    Sehingga sejarah 1400 tahun Islam di china dapat dipahami oleh orang barat. Sebenarnya Murata bukan hanya menterjemahkan tulisan Wang Tai Yu, tetapi juga  mempehatikan tulisan ulama besar China lain , yaitu  Liu Chih. Sehingga kalau ingin memahami bagaimana ajaran islam diterapkan oleh komunitas muslim di China buku ini utuh. Tentu tidak termasuk komunitas muslim uighur, di Xinjiang, yang dipengaruhi islam dari Afganistan dan Asia Tengah. 


Nabi Muhammad lahir di Mekah pada 570 dan wafat di Madinah tahun 632. Ketika Era Nabi, China berada di bawah Dinasti Tang yang kelak digantikan oleh Dinasti Song. Saat itu China mengalami “Zaman Keemasan” (Golden Age) karena maju pesat di berbagai bidang: pendidikan, seni, sastra, budaya, politik-pemerintahan, ekonomi, teknologi, dan lain sebagainya. Chang’an (kini Xi’an) sebagai ibu kota, menjelma menjadi kota kosmopolitan dan pusat peradaban yang masyhur kala itu. Banyak para sastrawan, sarjana, dan ilmuwan hebat lahir pada masa ini.


Bagaimana dengan sistem pemerintahan China ketika itu ? Dinasti Tang menerapkan sistem pemerintahan terbuka dimana hanya orang yang punya kapabilitas, kompetensi dan intelektualitas ( bukan KKN) yang berhak duduk di pemerintahan. Proses seleksi sangat ketat dan terbuka. Pada Dinasti Tang pula sistem clearing perdagangan imbal beli dengan jaminan emas di perkenalkan keseluruh dunia yang menjadi mitra dagangnya seperti Arab, Persia, Maroko dan Afrika Utara dan Barat lainnya melalui Jalur Sutera (Silk Road). Untung mendukung itu Dinasti Tang menyediakan ribuan kapal dan pejelajah darat yang hebat. Juga menyediakan World trade Center bernama Fan Fang, untuk menampung para pedagang dan pelayar dari Timur Tengah dan Afrika ini.


Ketika itu Jeddah yang berada di wilayah Mekah adalah pusat perdagangan dan pelayaran di Semenanjung Arabia. Kota pelabuhan ini ramai di kunjungi oleh pedagang dari berbagai belahan dunia. Melalui mereka lah Nabi mendapat cerita kehebatan peradaban China. Mungkin alasan logis mengapa Nabi sampai mengeluarkan sabda bahwa tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Kelak, setelah Rasul wafat , Khalifah Usman bin Affan, menunjuk Sa’ad bin Abi Waqash pahlawan penakluk Persia untuk memimpin delegasi kaum Muslim ke China guna menjalin persahabatan dengan Dinasi Tang. Bahkan beliau konon wafat dan dimakamkan di China. 


Saat  Saad datang ke China dan  menyebarkan islam, belum ada istilah mahzab. Jadi islam masuk ke China benar benar asli atau fresh dari oven. Tidak terkontaminasi politik.  Belum ada syiah, belum ada Sunni, belum ada wahabi dan salafi. Singkatnya islam tanpa Mahzab ulama. Kalau anda ingin orisinilitas ajaran islam memang dari China. Nah buku Wang Tai Yu, Chinese Gleams of Sufi Light, Anda bisa memahami inti ajaran islam berkaitan dengan Tauhid dan mualamah.


Wang adalah ulama dan juga intelektual islam di China abad 17. Sebelum abad 17, para ulama besar China menulis buku berisi tentang bagaimana memahami ajaran Islam. Komunitas Islam di China tumbuh seperti itu dan Wang menangkap bahaya untuk eksitensi Islam. Wang ingin menjadikan ajaran Islam bisa melahirkan transforamsi dari masyarakat yang nrimo, apatis , pesimis, korup menjadi masyarakat yang progressive, passion, berikhsan. Karena itulah dia terpanggil menulis. Dia mengubah prakonsepsi - prakonsepsi tentang peran Islam di China. 


Kehebatan Wang dalam menyapaikan ajaran islam itu, dia tidak sama sekali menghilangkan ajaran konfusian, namun dia menyebut dengan Neo Konfusian. Cara dia menyampaikan ajaran itu tidak menggunakan bahasa arab tapi menggunakan padanan bahasa yang ada pada konfusiasisme, taoisme dan budhisme. Tradisi China yang memang tidak melanggar Tauhid ya tidak dihapus atau tidak dikatakan bidaah. Dan kalaupun dinilai melanggar Tauhid maka diluruskan dengan modifikasi yang tetap tidak menghilangkan tradisi China. 


Umat islam di China melaksanakan rukun islam dan memahami konsep keimanan atas dasar rukun Iman. Prinsip keimanan : tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad itu utusan Allah. Tentu mereka tidak menyebut seperti bahasa Arab, yaitu Allah tapi dalam bahasa China seperti Chen Chu atau Tuhan sejati atau Chen-I atau Esa sejati, atau Chen Tsai atau Penguasa sejati .Ya sama seperti orang jawa menyebut Allah, gusti pangeran, dan lain sebagainya. Sementara sebutan Rasul adalah Sheng -Hsien atau orang orang arif dan berguna. Sama seperti orang jawa menyebut Rasul, Kanjeng Nabi.


Sementara ajaran islam itu mereka sebut Ch'ing- Chen Chiao atau kalau diterjemahkan ajaran yang suci dan sejati. Mereka tidak membaca AL Quran, tapi buku yang ditulis ulama China mereka baca dan pahami. Mereka tidak perlu pertanyakan apakah tafsir itu benar atau salah. Selagi tidak bertentangan dengan budaya atau tradisi mereka ya itu dianggap sudah benar.  Bagi mereka,  Agama selain bagai elang yang terbang dengan idealisme spiritual yang tinggi untuk mencapai kesempurnaan pribadi, tetapi juga membumi bagai induk ayam yang terlibat secara etis pragmatis dalam keseharian. 


Paham neo konfusian itu sebagai lampu rakyat China bagaimana mereka membangun peradaban. Mereka pekerja keras, patuh kepada orang tua, setia kawan, patuh pada negara, berpikir positip, menghindari konplik, dan suka memberi dan jujur , rendah hati dan lain sebagainya. Lantas apa sebetulnya kunci dari ajaran neo Konfusian itu? ya Akhlak.! Adalah perbuatan atas dasar karena Tuhan semata..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Sistem atau karakter personal

  Dulu waktu saya masih remaja dagang rokok di Kaki lima. Saya dagang  depan pos polisi. Pak Made, polisi berpangkat sersan, setiap sore bel...