Kamis, 27 Februari 2020

Serpihan kisah


Memanusiakan mereka.

Lima tahun lalu.
Yuni menemui saya bersama dengan Nungki. Saya melihat kening Nungki lebam. Dari wajahnya nampak dia kehilangan semangat hidup. Dia terus menunduk ketika menghadap saya, dengan tersedu sedu dia berkata kepada saya “ abang, saya dipaksa suami saya untuk melayani relasinya. Saya capek abang..” 
Saya menatap kearah Yuni untuk minta penjelasan.
“ Uda, dia menikah udah 17 tahun. Sekarang dia punya anak ABG. Sejak dua tahun lalu suaminya paksa dia melayani relasinya. “
“ Mengapa begitu ? Kata saya bingung.
“ Sejak suaminya kena PHK, kemudian terjun bisnis. Saat itulah Nungki di paksa oleh suaminya melayani relasi suaminya. “
“ Gimana nasip Nungki , abang ? “ kata Nungki terus menangis. 
Saya terdiam lama. Melihat keadaan Nungki membuat saya terenyuh. Malang sekali nasipnya,, Saya teringat dia datang ke rumah singgah saya karena tidak tahan dipukuli prema mucikari. Saya membantunya keluar dari cengkraman mucikari. Dia tinggal di rumah singgah sampai sembuh secara phisik maupun mental. Diapun saya kursuskan menjahit dan design. Tetapi otaknya lemah. Untunglah ada pria yang datang melamarnya. Nungki diboyong dari rumah singgah. Saya ikut bahagia. Kini setelah 17 tahun dalam usia diatas 40 dia harus menderita lagi dari pria yang dia harap untuk tempat berlindung dimasa tuanya.
Saya minta Yuni, bayar pengacara untuk laporkan suami Nung ke Polisi karena KDRT dan sekaligus urus perceraiannya. “ Kamu mau bercerai ?
“ Ya abang. Mau. " Nungki terus menangis " Saya udah tidak tahan, abang." katanya tersedu sedu.
“ Ya udah. Soal anak kamu, biar Yuni yang atur biaya pendidikannya. Kamu harus sabar ya Nung. Sabar. Kamu bisa buka kantin di pabrik Yuni. Itu bisa bantu penghasilan untuk kamu.” Kata saya ketika itu. Nungki sujud di kaki saya sambil menangis “ terimakasih abang … Nung terus merepotkan abang.” Saya menarik bahunya agar dia berdiri “ Kamu jaga kesehatan. Jangan tinggalkan sholat. Itulah yang akan menolong kamu. Ya sayang”
“ Ya abang. “

Kemarin…
Yuni bertemu saya di cafe. 
“ Uda, ada yang mau ketemu Uda. “
“ Siapa ?
“ Nungki “ Kata Yuni dengan tersenyum.
‘ OH ada apa ?
“ Putranya udah lulus di UGM. 
“ Ya ada apa dia mau ketemu saya ?
“ Boleh engga ?
“ Ya ya. mana dia ?
Yuni keluar dari cafe. Tak berapa lama nampak Nungki melangkah ke arah table saya bersama Yuni. Disampingnya ada anak muda.
“ Bud, ini om Jaka. “ Kata Nungki sambil melirik kearah anak muda.
“ Bunda, janji akan kenalkan kamu dengan malaikat Bunda. inilah dia. Berterimakasihlah kamu, nak seumur hidup kepadanya. ? Kata Nungki dengan air mata berlinang. Anak muda itu langsung menyalami saya seraya mencium punggung tangan saya. Saya merangkulnya “ Jangan berterimakasih kepada Om, terimakasih kepada Tuhan. Jaga ibu kamu, sekarang kamulah malaikat ibu kamu. Paham ya “
Anak muda itu menangis dalam pelukan saya. “ Ya. Om. Budiman janji akan jaga bunda selama lamanya. Akan bahagiakan bunda dimasa tuanya.”
Yuni nampak berlinang air mata menyaksikan suasana itu.
Setelah Nungki pergi “ Dari 8 orang adik asuh Uda, empat yang tidak beruntung hidupnya tapi kita berhasil membantu mereka. Semua anak mereka jadi sarjana. Tiga kerja di lingkungan perusahaan kita dan terakhir ini anak Nungki rencana akan yuni tempatkan di perusahaan kita di Medan.”
Saya menghela nafas.
“ Uda, misi Yuni jaga adik asik asuh uda, selesai sudah hari ini.”
“ Terimaksih Yun. Terimakasih. ”

***
Tahun 1990an sebagai pengusaha muda saya sering keluar masuk tempat hiburan malam untuk menjamu relasi saya dari luar negeri. Maklum mereka adalah buyer saya dan juga cukong yang ikhlas kasih saya modal. Setiap di KTV saya berusaha membuat relasi saya nyaman namun saya sendiri tidak terlibat dengan keasyikan layanan pramuria, PL. Kadang di sela sela keasyikan di room KTV itu saya gunakan untuk menasehati PL yang mendampingi saya, agar mereka bertobat. Lambat laun saya berpikir kalau saya bisa menasehati tapi tidak bisa memberikan solusi. Lantas apa gunanya nasehat itu.? Karena pernah saya dengar dari mereka ingin bertobat tapi tidak tahu bagaimana caranya ?

Suatu saat ada teman banker nawarkan lelang terbatas rumah yang disita karena gagal bayar. Harganya murah karena sertifikat bermasalah. Lokasinya di Rawa mangun. Saya beli rumah itu tanpa mikir apapun. Rumah itu saya jadikan rumah singgah bagi PL yang mau tobat. Mengapa saya beri nama Rumah Singgah? karena saya tidak mau rumah itu jadi tempat permanen atau semacam tempat rehabilitasi. Saya ingin mereka jadikan rumah itu hanya transit mereka menuju dunia normal. Kebetulan ada teman yang engga punya uang bayar kontrakan, saya tawarkan dia tinggal dirumah itu sekaligus sebagai bapak dan ibu asuh terhadap anak anak PL yang tinggal dirumah itu.

BIaya makan mereka saya tanggung. BIaya pendidikan kursus trampilan untuk yang tidak punya ijazah SMU saya tanggung. Yang mau kuliah, saya tanggung. Lambat laun jumlah penghuni rumah singgah mencapai 18 orang. Saya batasi sampai sebanyak itu saja. Karena saya tidak mungkin menanggung semua mereka yang bermasalah. Setidaknya dengan kemampuan saya, saya bisa berbuat walau kecil. Selebihnya saya berserah diri kepada Tuhan. Sehari hari yang urus anak anak mantan PL itu adalah pengurus , sementara saya sendiri tidak pernah datang ke rumah singgah itu karena kesibukan saya sendiri.

Apakah sulit saya menanggung mereka ? tidak. Ada saja teman yang berempati membantu biaya bulanan itu. “ Kamu menghabiskkan uang lebih 10 juta untuk 4 jam di KTV tapi kalau uang sebanyak itu kamu gunakan membantu rumah singgah, itu sudah bisa menghidupi mereka sebulan, Dan kamu telah berperan memberi cahaya bagi mereka yang sedang dalam gelap. “ BIasanya setelah itu mereka bisa disadarkan dan ikut membantu biaya bulanan .Tahun 2004 ke 18 orang itu keluar semua dari rumah singgah. Rumah singgah itu saya sewakan ke orang lain.

Dari Yuni saya tahu bahwa para alumni 18 orang itu, semua sukses menjalani hidupnya sebagai wanita terhormat. Tentu usia mereka kini tidak muda lagi. Ada yang bersuamikan Banker, ada jadi pengusaha Bunga, ada yang jadi pengusaha EO, ada yang jadi pengusaha agent kurir international, ada yang jadi pedagang pasar di daerah, ada yang bersuamikan insinyur tambang dan kini hidup damai di luar negeri. Bahka ada yang jadi istri ketiga ustadz kondang tahun 90an. Ada yang punya usaha konveksi. Sebagian besar mereka mendapaktan jodoh yang hebat dan ada juga yang masih sendiri, atau jadi single parent.

Kenangan tahun lalu teringat ketika bertemu dengan mereka. Bersama sama mereka mendoakan saya, membuat saya berlinang airmata. Mengapa ? karena mereka mendokan saya dengan air mata berlinang. Doa yang tulus tanpa bertepi. Betapa besar sekali arti pemberian saya bagi mereka, namun tentu jauh lebih besar rasa syukur mereka kepada Allah…Berkali kali saya kena penyakit berat dan selalu sembuh dengan cara mujizat tanpa operasi dan harus di opname. Berkali kali saya terpuruk dalam urusan yang tak tertanggungkan secara akal sehat, namun selalu lolos dengan kemudahan dari Allah. Mungkin itu berkat salah satu doa mereka untuk saya. Mereka para PSK itu memang salah dan berdosa. Tidak bisa dihadapi dengan dakwah dan hujatan bernada ancaman neraka. Mereka hanya lupa bahwa Tuhan mencintai mereka. Dan tugas kita mewakili Tuhan untuk menyampaikan pesan cinta itu. Lewat berbagi dengan tulus setulusnya..itu aja. Selebihnya urusan Tuhan.
Kau menuntunku ke mata air
Aku sendiri, ketika itu sedang berada dalam satu fase yang sangat genting dalam hidupku. Boleh kubilang ketika itu hidupku tak punya arah sama sekali. Benar bahwa aku baru saja memulai bisnis di zuhai. Sesuatu yang baru dari dunia yang baru sama sekali. Dunia yang dulu kutekunin berakhir karena krismon akibat negara salah urus moneter. Kutinggalkan semua harapan di Indonesia dan mencoba nasip di negeri dengan 1,8 miliar penduduk. Aneh dan beresiko. 

Satu demi satu sahabat pergi meninggalkanku. Hanya istri yang memberikan semangat untuk berani hijrah. Meyakinkanku bahwa semua hal di rumah akan baik baik saja selama aku berjuang di rantau. “ Jangan ragu melangkah. Anak anak butuh hero. Dan itu hanya kamu. “ Singkat pesan istriku namun pesan itu membuat aku punya prinsip sekali melangkah no way return. Kemungkinan gagal lebih besar daripa sukses. Apalagi dengan bekal uang tak seberapa. Hanya cukup untuk bertahan hidup tak lebih 3 bulan. Itupun aku harus bersiasat agar tidak kena overstay visa dinegeri orang. Aku tahu banyak lelaki berlari dari masalahnya. Dan tidak bagiku. Aku harus mencari jalan untuk menyelesaikan masalah walau itu hanya setitik noktah yang tak bermakna. Melangkah keluar adalah takdir bagi seorang laki laki. 

Masih segar dalam ingatanku pertemuan kita yang pertama di Wanchai tempat dimana banyak orang asing sama sepertiku menenggelamkan dirinya dengan minuman dan harapan. Dibalik Gedung cafe itu , ada Financial Center tempat harapan menang dan tentu kalah digelar oleh bursa yang bukan 24 jam. Di sebuah cafe itulah kita bertemu. Aku harus berterima kasih kepada Mark sahabatku orang Swiss itu. Karena kalau tidak dari dia manapula aku tahu cara efektif mendapatkan network di kota kosmopolitan Hong kong ini.  Aku tidak merasa asing di lingkungan itu. Karena di Jakarta aku sudah terbiasa. Namun melihat wanita di cafe yang tak jelas mana hoker dan tidak. Itu yang membuat aku bingung. Aku lebih memilih untuk focus dengan teman teman Mark yang dikenalkan kepadaku. Kamu datang ke tableku. Alasannya hanya karena aku orang asia di tengah para bule sahabatku. Kamu tertarik kenalan. 

Aku masih ingat, kamu menjerit histeria dan memelukku ketika pertama kali tahu bahwa aku dari Indonesia. Ya, Indonesia, kamu sangat mencintai negeri itu. Entah mengapa, banyak orang yang pernah ke Indonesia, akan jatuh cinta dengan negeri itu. Dan bukan cinta sembarang cinta, tetapi cinta mati yang sangat mendalam. ”I love Indonesia so much,” katamu.

Dan sejak itu kita jadi sering bertemu. Aku tahu kamu berkarir di sebuah perusahaan investasi yang khusus mengelola dana private. Mungkin karena kesamaan pengetahuan kita jadi akrab. Kuhormati kamu karena tidak minum alkhol karena aku juga tidak, Tapi apa peduliku. Mungkin saja kamu sedang berusaha ramah terhadapku. Hidup ini, katamu, yang diperlukan adalah semangat untuk memulai dan tahu dari mana memulainya dan tahu pula kapan harus keluar. Itu orang cerdas. Aku bersimpati akan sikap hidupmu. Dalam dunia keuangan, katamu orang kadang tidak butuh terlalu pintar tapi kehebatan merebut hati orang lain untuk dipercaya, itulah yang penting. Selanjutnya banyak hal dapat sinergikan dalam posisi equal. 

Sejak itu kita semakin sering bersama. Sekadar minum bir. Nonton film. Main bowling. Sekadar menyapa MSN messenger. Atau saling mendengarkan keluhan masing-masing. Aku takkan pernah lupa ketika suatu malam kamu datang mengetok kamarku dengan wajah yang amburadul seperti lalu lintas Jakarta dan mengajakku keluar.

Sepanjang perjalanan ke kawasan Central , oh ya kita selalu jalan kaki dari Time Square Hong Kong, kecuali pernah satu kali kita nongkrong di Wanchai  ketika aku membawamu pakai taksi dari Exelso hotel pada malam menjelang subuh itu, kamu bercerita tentang tasmu yang hilang. Kartu-kartumu yang ada di dalamnya. Kartu kredit, kacamata, serta HP-mu dengan stiker gambar yang sangat kamu sayangi. Beberapa hari kemudian kita mencoba mencarinya. Karena ada orang yang mengirim e-mail padamu dan mengatakan bahwa ia menemukan Tas mu. Kita ke sana, sebuah apartemen di kawasan Aberdeen. Agak kaget pada awalnya. Karena kamu berjanji dengan seorang perempuan, tetapi yang menerima kita malam itu adalah seorang lelaki yang mengaku sebagai pacarnya. ”I don’t believe that man,” katamu begitu kita meninggalkan rumah itu. Agak aneh memang karena orang itu tidak menyebutkan di mana dia menemukan tasmu. Dia bilang dia lupa karena ketika itu lagi mabuk. Apa boleh buat, kita sama-sama tidak percaya pada orang itu. Tetapi, tidak ada alasan yang cukup untuk menyatakan kecurigaan padanya.

Entah berapa bar yang sudah kita singgahi di seputaran Wanchai, aku sudah tidak ingat. Atau Bar Spicy. Aku suka suasana di sana. Senang karena tidak sebesar bar-bar di seputaran Wanchai, ada ruang bebas merokok sepuasnya diteras , dan tentu saja tertawa. Aku senang kalau kamu senang, katamu suatu ketika. Dan aku pun demikian. Tak masalah, meski aku yakin kalau ada orang yang mendengarkan kita, kadang-kadang pasti akan merasa janggal. Bagaimana tidak janggal, ketika aku tanya kamu bagaimana rasa bir gratis pada gelas besar yang kamu dapat dari bartender sebagai hadiah ulang tahunmu itu, kamu menjawabnya dengan sendawa dan menyambungnya sesaat kemudian, ”That’s all my answer”. Ha-ha-ha… orang-orang bule tidak suka dengan sendawa. Mereka menganggap itu tidak sopan. Tetapi, kita tertawa sambil salah satu telapak tangan kita beradu di udara.

Kamu suka sekali musik dan berdansa. Aku, sebenarnya tidak terlalu familiar dengan suasana itu. Tetapi, kamu begitu sabar. Menata gerakanku yang menurutku tidak selaras sama sekali. Atau, persisnya aku mengikuti iramamu saja. Aku bisa bilang begitu karena ketika kamu memegang tanganku, aku hanya membiarkanmu saja menariknya ke sana kemari.
”I’m a cow,” kataku suatu ketika soal selera musik dan dansaku.
”No, do not say that, you are not a cow,” balasmu
“”Yeah.., following another cow.”
”What? Ha-ha-ha….”

Harus kuakui memang, untuk urusan berdansa dan bernyanyi, aku memang idiot dan hampir-hampir tak punya ide soal gerakan apa yang akan kulakukan. Mungkin aku harus ngambil kursus salsa suatu saat. Sementara ini tidak masalah, semuanya berjalan lancar pada malam itu. Kita bergoyang sampai larut. Meskipun sebenarnya beberapa kali aku hanya duduk dengan birku dan merokok sambil tersenyum-senyum melihatmu yang bergoyang lepas mengikuti irama musik.

”I’m a girl baby, I’m a girl baby,” katamu salah tingkah ketika aku memergokimu sedang berkaca di dinding bar sambil mengibas-ngibaskan rambutmu. Aha.., aku tambah tersenyum melihatmu begitu. Itu momen belum tentu datang seratus tahun sekali. Sayang sekali aku tak bisa melihat rona wajahmu ketika itu karena lampu bar yang remang-remang. Jadi aku cuma bisa menebak-nebak saja. Dan tentu saja aku takkan menceritakan seperti apa wajahmu dalam tebakanku. Yang jelas, malam itu aura perempuanmu benar-benar keluar. Jauh dari penampilanmu di hari-hari biasa yang sedikit tomboi.

Malam semakin larut. Dan kita merasa lapar. Seperti biasa, titik berikutnya adalah penjual makanan  India, kebab yang buka 24 jam. Biasanya kita makan lebih banyak diam. Tetapi, malam itu kamu terus berceloteh. Sementara aku tak banyak bicara. Mungkin karena aku lapar, atau juga mungkin karena aku memang serius makan. Dari sana kita pindah ke East Tsim Sham Shui di kawasan Kowloon. Aku pikir waktu itu sudah sekitar pukul 3 pagi. Menghabiskan sebatang rokok  di kursi panjang. Begitu rapat kita duduk karena memang pagi semakin dingin di pinggir dermaga. Apalagi kalau tiba-tiba ada angin. Meski tak kencang, tapi bagiku itu sangat menyiksa. Dinginnya terasa sampai ke tulang.

Perjalanan pulang ke Causeway bay penuh dengan tawa. Tidak ada hujan, tidak ada badai, tetapi kita bersedekat. Satu dua orang melihat dan mendengarkan teriakan kita, kemudian sambil tersenyum mereka berlalu. Beberapa orang yang kita teriaki pagi itu sama sekali tidak menoleh, mungkin mereka sudah sering melihat pemandangan seperti kita Ketika kita melihat dua orang laki-laki hitam berdansa di tengah jalan mengikuti gerakan cahaya lampu bergerak yang datang dari salah satu puncak bangunan di sekitarnya. Barangkali kata-kata bermakna sama diucapkan diam-diam oleh orang-orang yang kita teriaki pagi itu. Tidak ada urusan. Kita tetap tertawa. Apalagi setelah kamu bilang bahwa kamu hampir percaya bahwa matahari sedang mengintip. Aku menghentikan taksi untuk kembali ke Exelsior hotel. Kamu melambaikan tangan. Besok sorenya kita bertemu kembali. Kamu mendengarkan semua rencanaku. Dengan dukungan network yang kamu punyai membuka jalan bagiku mendapatkan harapan.

Berawal ketika aku mendapatkan kontrak ekspor Garmen atas pesanan dari Mondial group di Spanyol. Kamu yang memperkenalkan aku dengan jaringan supply chain di Shenzhen  untuk aku dapat melakuan proses produksi melalui pabrikan yang kubayar sesuai jumlah produksi. Engga bisa dibayangkan itu terjadi di Indonesia. Bagaimana mungkin, tanpa pabrik tapi aku bisa memanfaatkan semua sumber daya bisnis di China untuk bertidak sebagai eksportir pabrikan. Berbulan bulan berlalu, usahaku berkembang. Bukan hanya garmen tapi juga sampai kepada electronic. Dengan cara yang sama. Hanya modal market dan kontrak aku bisa memanfaatkan semua suplai chain China. Tahun kedua aku sudah merencanakan membangun pabrik Garmen dan Electronic. Kemudian tahun tahun berikutnya aku masuk dalam bisnis private equity dengan specialis LBO. Itu semua tidak akan terjadi tanpa dukunganmu yang luar biasa. Dari membantuku mendirikan perusahaan, mendapatkan network, sampai mendapatkan dana untuk biaya operasional.

***
Datang SMS “When the world is ready to fall on your little shoulders, And when you're feeling lonely and small, You need somebody there ..” Aku tersenyum. Kamu selalu begitu bila ingin bertemu denganku. Petikan lagu you are only lonely adalah ciri khasmu untuk mengingatkanku bahwa aku tidak sendirian. Setelah kesibukan dalam bisnis ku, kita  tidak sering bertemu. Namun blla bertemu ,kamu pendengar yang baik dan tahu menempatkan diri secara pantas dihadapanku. Karenanya aku juga menjaganya dengan baik. Persahabatan kita terjalin dengan baik walau tanpa sex. Kamu selalu ada untuk ku dalam situasi apapun walau aku sendiri kadang tidak punya waktu cukup banyak untuk kebersamaan denganmu.”I realize between us.. I understand you my dear brother…Bagaimanapun aku berusaha selalu untukmu.

Suatu hari kamu menghubungiku via telp. Kebetulan aku lagi di Bankok. Dengan terisak kamu mengabarkan bahwa kamu terjebak dengan shark loan karena harus menolong orang tuamu sakit. Selama ini kamu berusaha tidak menceritakan keadaanmu karena kawatir aku mengkawirkanmu. Namun kini kamu  tidak sanggup lagi mengatasinya. Hidup sebagai single parent bertahun tahun tidak mudah tentunya. Kamu berniat menjual Ginjalmu sebagai solusi. Dengan lembut aku katakan bahwa kamu  akan baik baik saja. Kita akan mengatasinya sama sama.

Kamu sudah tidak lagi bekerja karena memikirkan hutang yang tidak mungkin kamu bayar dengan gajimu. Kamu memikirkan anakmu. Aku menunggu sikapmu meminta namun kamu tetap tidak pernah meminta. Ingin aku menolongmu seketika. Namun tak satupun kata kamu meminta ku mengasihanimu. Kamu berusaha nampak tegar. Menurutmu kebersamaan denganku lebih dari cukup untuk kamu merasa nyaman bahwa kamu tidak sendirian. Kamu  akan baik baik saja, demikian kesan yang kamu sampaikannya ketika bertemu.

Teringat awal aku merintis usaha, pengorbananmu membantuku menghadapi peliknya berhadapan dengan lembaga keuangan di Hong Kong dan tanpa lelah kamu  berusaha meyakinkan banyak pihak agar mendukungku. Menurutmu apa yang kamu lakukan semua itu tulus sebagai sahabat. Tapi kini, aku tidak mengerti mengapa kamu terkesan tidak menginginkan aku menolongngmu.Apakah persahabatan selama ini tidak memungkinkan aku peduli denganmu. Apalagi kini kamu tidak punya penghasilan dengan beban anak yang harus ditanggung.  Belum lagi hutang yang harus dibayar.

Akhirnya aku dapat berdamai dengan diriku sendiri. Bagaimanapun prnsipmu dapat aku hargai. Bahwa sudah sifatmu tidak ingin meminta, kecuali memberi. Dan itu sudah dibuktikan selama bersahabat denganku. Aku mengundangmu makan malam untuk sebuah solusi. Dengan hati hati aku katakan bahwa aku punya peluang bisnis untuk trade financing transaksi Batu bara. Bahwa ada sebagian buyer China tidak selalu accepted beli batubara dari Indonesia dengan LC.Mereka hanya mau bayar lewat TT setelah barang sampai dipelabuhan pembeli. Sementara sebagian seller dari Indonesia tidak nyaman menjual batubara tanpa LC. Nah tugasmu adalah sebagai payment gate way dan settlement agent. Busines nya solution provider. Menawarkan solusi keterbatasan dan hambatan antara pembeli dan penjual. Aku tahu bahwa kamu punya pengalaman dan network dengan lembaga keuangan di Hong Kong.

Dengan airmata berlinang kamu menatapku .Aku  tahu kamu terharu dengan tawaranku. Secepatnya aku remas jemarimu untuk menentramkan batinmu bahwa aku peduli denganmu dan berharap kamu mengerti sikapku. Sehingga kamu  tidak perlu sungkan lagi terhadapku.. Keesokannya aku membantumu mendirikan perusahaan dan dengan setengah manja kamu  minta aku bersama sama denganmu sebagai pemegang saham. Aku menyetor modal awal agar kamu  dapat menjalankan rencana bisnismu. Kamu  berjanji akan bekerja keras dan tidak akan mengecewakanku..

Selama tahun tahun perjuangan mengembangkan bisnis itu kamu sudah jarang bertemu denganku  kecuali kirim email atau bicara lewat skype. BIla betemu kadang kamu nampak murung karena tidak punya waktu cukup kebersamaan denganku.Dengan tegas aku katakan bahwa aku akan baik baik saja. Kamu  tidak perlu merasa bersalah.Kebahagiaanku  adalah bila kamu dapat berhasil melewati hidup yang tidak ramah ini. Berkat kerja keras, kamu  sudah bisa membayar hutangmu.Dua tahun kemudian kamu  berhasil mengirim putramu melanjutkan pendidikan ke Universitas di Canada. Hidupmu sudah mapan. 

Satu saat pada makan malam , dengan airmata berlinang kamu berkata bahwa aku telah melakukan banyak hal untukmu. Sementara kamu merasa tidak pernah melakukan apapun untuk ku. Rasanya kamu tidak pantas mendapatkan kehormatan ini. Dengan tersenyum aku katakan bahwa kamu adalah sahabatku yang harus kujaga, dan kamu sudah membuktikannya bagaimana kamu selalu menjagaku. Bukan soal siapa memanfaatkan siapa, tapi memang persahabatan ini berkah yang sangat luar biasa bagiku. Di negeri orang aku seorang diri. Tidak ada keluarga dan tidak ada sahabat. Hanya kamu sahabat yang dikirim Tuhan ujntuk menuntunku dalam hijrah mendapat rezeki Tuhan. Usai makam malam kita keluar dari restoran menyusuri jalan. Aku membuka jas agar kamu kenakan untuk menahan dingin malam di musim semi itu dan kamu merapatkan tubuhmu agar aku merasa hangat. Selalu dalam setiap moment kita saling menjaga dan memberi tanpa perlu bertanya ...itulah sahabat…tak terasa sudah 12 tahun persahabatan kita..

Kesempatan kedua.

Lama aku memperhatikan wajah wanita yang ada dalam lampiran CV lamaran kerja. Keliatanya sangat keibuan. Cantik. Usia 38 tahun. Namun dari wajahnya ada pancaran keteguhan dan semangat. Data test dan wawancara,  semua mendukung untuk posisi sebagai head of investment strategy. 

“ Pak Miss Ng sudah datang.” kata sektretarisku di kantor Holding di Hong Kong.
“ Ya. Masuk aja.”
Tak berapa lama, seorang wanita bermata sipit masuk kamar kerjaku. Dia membungkukan tumbuhnya sebagai tanda hormat. Keliatan dia lebih tinggi dari yang tertera di CV 170 cm.   Tidak kurus namun juga tidak gemuk. Proporsional.  Aku menerima uluran tangannya untuk berjabat tangan. Aku menuntunnya ke sofa.

“ Miss Ng, apa pendapat anda tentang bisnis IT ?Kataku sekedar ingin tahu wawasannya.

“ Maksud ada softaware atau hardware ?

“ Hardware. “

“ Terminal atau network “ Katanya. Aku terpesona dengan caranya bertanya sebelum menjawab. Ciri khas profesional.

“ Network. “

“ Satelite atau fibre optic ?

“ Fibre optic “

“ Saat sekarang sedang terjadi kelebihan kapasitas dimana mana. Tetapi kelebihan itu pada jalur padat. Di jalur yang tidak padat masih besar peluangnya. Tetapi tidak banyak investor mau terlibat. Karena return yang rendah dan investasi yang mahal.”

“ Kalau kita ingin ekspansi ke jaringan, apa idea anda ?

“ Sebaiknya masuk ke jalur yang tidak padat namun prospek jangka panjangnya bagus.” katanya. Diapun menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana meminimize resiko dan meningkatkan value. Setelah pertemuan itu , aku membuat keputusan dia diterima sebagai head of investment strategy di Holding. Dia bertanggung jawab langsung kepada Business development and investment director.

Sebulan kemudian, aku bertemu lagi dengan dia dalam rapat Komite investasi. Dia tampil mempresentasikan rencana akuisisi perusahaan yang mengelola jaringan fiber optic antar benua. Aku perhatikan, dia dihajar habis habisan oleh team business development dalam rapat itu. Namun dia bisa menghadapi dengan tenang. Semua jawabannya rasional dan didukung data yang kuat. Lagi lagi aku membuat keputusan. Mendukung starteginya. Bahkan aku menunjuk dia sebagai ketua team negosiasi dan akuisisi. Selanjutnya aku dapat laporan mingguan setiap progress yang berhasil dicapainya dalam proses negosiasi dan fund raising. Dia memang pemimpin yang baik dan negosiator hebat. Walau dia orang China tapi bahasa inggrisnya sempurna sekali. Pernah iseng iseng aku telp dia jam 1 pagi, itu artinya jam 2 pagi di Hong Kong. Dia terima dengan nada suara fresh. Artinya dia memang focus kerja, 24 jam !

Enam bulan kemudian, aku dapat laporan dari Direktur pengembangan bisnis Holding. Bahwa semua data yang ada pada CV Ng falsu. Dia bukan lulusan dari China Europe International Business School (CEIBS)  di Shanghai. Dia juga tidak pernah kuliah di London. Pengalaman kerja dan referesinnya juga semua falsu. Bagian  HRD minta maaf kepadaku, karena kelalaian ini. Tetapi bagaimanapun SOP test sudah dilakukan dengan benar. Hanya Ng lebih hebat memalsukan datanya. 

" Namun faktanya proses negosiasi akuisisi yang dia pimpin berhasil dengan baik. Termasuk proses penggalangan dana juga berhasil. Minggu depan akan ada seremonial penandatanganan financial closing sebagai tanda selesainya semua proses akuisisi. Apakah itu tidak cukup untuk memaafkan dia ? Kataku mencoba melihat dari sisi positif.

“ Tetapi bagaimanapun, kebohongan yang dia buat adalah kriminal. Kita tidak bisa menerima orang bekerja atas dasar kebohongan. Apapun prestasinya.” kata direkturku. 

Aku hanya diam. Aku bisa memaklumi sikap perusahaan. Namun aku tidak bisa membuat keputusan dengan cepat. Bagaimanapun aku tahu Ng sudah bekerja keras dan membuktikan kinerjanya dengan luar biasa. 

“ Beri waktu dia sampai menandatangani financial clossing. Selama itu jangan pernah diungkapkan kasus ini kepada siapapun.” Kataku.

Tetapi tiga hari kemudian aku dapat email dari Ng “ Saya harus berkata jujur kepada anda. Bahwa  saya telah melakukan pemalsuan semua data tentang pribadi saya. Tetapi apa yang saya lakukan semua selama 6 bulan belakangan ini bukanlah palsu. Itu real. Kita berhasil mendapatkan deal terbaik dalam akuisisi jaringan fibre optik antar benua dan juga mendapatkan solusi pembiayaannya. Saya tadi bekerja sebagai analis investasi di Shanghai. Kemudian saya terlibat dalam team akuisisi. Selama 6 tahun saya bekerja keras. Sementara anggota team, bahkan atasan saya lebih banyak menghabiskan waktunya di club. 

Semua proses akuisisi dan sampai menjual kembali perusahaan, berkat kerja keras saya.  Tetapi apa yang saya dapat.? tidak ada. Kesuksesan hanya bagi mereka yang bertitel MBA dan ekonom. Sementara saya memang hanya tamat SMU di Wuhan. Tidak ada penghargaan apapun. Bahkan saya tidak mendapat undangan ketika acara peresmian keberhasilan perusahaan melakukan deal terbaik dalam akuisisi. Sangat menyedihkan. Itu sebabnya saya  membuat data palsu agar bisa diterima bekerja sesuai dengan kompetensi saya. 

Tapi kini saya menyadari bahwa saya salah. Apapun namanya kebohongan tetaplah kebohongan. Apapun hasilnya pasti paradox. Sebaiknya saya menjadi diri saya sendiri. Berusaha berdamai dengan kenyataan. Tidak perlu memalsukan CV agar mendapatkan posisi. Selama enam bulan bekerja dengan anda,  setiap pagi saya bangun, saya berkata kepada diri saya sendiri bahwa saya harus akhiri kebohongan ini. Saya berdoa agar semua tangggung jawab atas penugasan saya dapat saya lakukan dengan baik dan pada waktu bersamaan saya punya kesempatan untuk berkata jujur. Maafkan saya. Dengan ini saya mengundurkan diri.” 

Saya membalas emailnya dengan cepat “ Anda bekerja karena keputusan saya, dan itu setelah saya bertemu dengan anda. Saya berharap kalau anda ingin berhenti kerja, andapun sampaikan langsung dengan saya. Tidak bisa via email.  Lusa saya tunggu di KL. Anda bisa terbang dari Hong Kong ke KL hari ini. Saya tunggu. “

Benarlah. Kami bertemu di sebuah cafe di KL di kawasan convention center. 

“Anda tadi bekerja di Shanghai dengan Choi ? Kataku.
“ hmm ya. “ Katanya gugup “ Bagaimana anda tahu?
“ Anda saya panggil karena saya dapat referensi dari Choi. “
“ Artinya dari awal anda tahu saya berbohong dengan CV saya.”
“ Tentu. Anda bisa bohongi staf saya. Tetapi tidak bisa bohongi saya.”
" Tetapi mengapa anda tidak beri tahu dari awal bahwa CV saya palsu?
" Saya focus kepada visi dan knowledge anda. Makanya saya ingin dengar langsung kemampuan dan wawasan anda dalam strategi investasi. Dan terbukti memang hebat. Makanya saya memberi anda kesempatan. "
“ Maafkan saya pak..” katanya menunduk malu.
“ Saya maklum. Saya terima pengunduran diri anda sebagai head of investment strategy di Holding. Karena anda akan menjadi partner saya, sebagai director dan sekaligus proxy saya untuk rencana ekspansi bisnis berikutnya."
“ Anda memberi saya jabatan sebagai direktur ? Mengapa ?Katanya terkejut
“ Kalau anda tidak mengakui kesalahan anda. Pasti saya harus menerima usulan dari HRD untuk pecat anda. Tetapi ketika anda mengakui dengan alasan yang masuk akal, disitulah nilai anda langsung naik di hadapan saya. Dan saya punya kewajiiban memberikan anda kesempatan kedua, untuk menjadi orang jujur. Banyak orang punya titel hebat, tetapi tidak banyak yang mau mengakui kesalahanya dan meminta maaf. Bisnis tidak berkembang dengan titel dan almamater kampus hebat, tetapi dari orang yang mau bekerja keras dan mau bersikap jujur. “ kataku seraya menatap matanya. Aku tetap berhias senyum untuk membuat dia rilek.
“ Bagaimana? 
“ Terimakasih pak. “ Katanya.
Aku menjulurkan tangan menjabatnya tapi dia langsung memelukku. Wanita memang begitu. “ Saya berjanji akan bekerja keras untuk anda. “ katanya terisak seraya melepaskan pelukannya.. 
“ Dari kecil saya sudah yatim. Dibesarkan oleh orang tua asuh dan akhirnya di tempatkan di panti asuhan. Sepanjang hidup saya merasa diperlakukan tidak adil hanya karena saya tidak masuk universitas. Tetapi saya belajar keras secara otodidak. Saya hanya ingin bekerja dan orang membayar saya tidak kecewa. Saya tidak butuh jabatan sebetulnya. Saya hanya butuh respect atas kerja keras saya. Itu saja.” Katanya berlinang.

Seusai bertemu dengan Ng saya langsung kembali ke Jakarta. Setiap kesalahan pasti ada alasan.  Setiap kesalahan harus ada ruang maaf. Setiap kejujuran harus dihormati. Saya merasa lega, karena telah membuka jalan Ng untuk kesempatan keduanya. ***

Pria  itu, malaikatku

“ Kamu kan boss. Punya perusahaan. Mengapa penampilan kamu terlalu sederhana. Apa susahnya sih bagi kamu beli tas hermes. Engga akan berkurang harta kamu. “ Kata temanku Fitri. Aku hanya tersenyum. Ingat sudah lebih 10 tahun menjanda, tak ada satupun pria tertarik kepadaku. Padahal aku engga jelek amat. Ayahku orang jerman dan ibuku Jawa Solo. Kebayangkan gimana wajahku. Tetapi karena lingkungan pergaulanku orang berkelas, tentu ukuran mereka dari aksesoris yang ada.

Aku melamunkan seorang pria,  yang kini aku hanya tahu namanya dari Facebook. Padahal 7 tahun lalu aku pernah bertemu dengannya dalam situasi coincident. Tapi pertemuan itu telah mengubah hidupku dan memperbaiki sikapku sampai kini. Kalau ingat kali pertama bertemu dengannya, aku selalu menyesal. Menyesal karena sikapku yang tidak ramah dan merendahkannya. Karenanya,  sampai kini walau begitu besar keinginan untuk bertemu, aku selalu kawatir akan salah lagi. Biarlah dia hadir dalam imajinasiku. Apalagi lewat tulisannya di facebook , semakin menyadarkan aku bahwa dia memang tidak terjangkau olehku. 

***

Di tengah guyuran hujan lebat, aku berhasil masuk ke dalam Mall Plaza Indonesia. Janji bertemu dengan Rian di Cafe yang ada di Mall ini. Rian berjanji akan memberikan pekerjaan untukku. Dia sahabatku waktu kuliah di Pert, Australia. Sudah tiga bulan  aku di PHK oleh perusahaan PH. Sejak itu kehidupan ekonomiku sebagai single parent murat marit. Apalagi mantan suamiku tidak peduli dengan biaya kedua anaknya yang kini jadi bebanku. Ketika aku masuk cafe, Rian belum datang. Dia memang bilang akan datang agak terlambat. Aku memilih tempat di Table Bar. Kawatir pesan table khusus karena bingung darimana bayarnya kalau ternyata Rian tidak jadi datang. Di table Bar lebih aman. Pesan secangkir juice seharga Rp. 85.000, tidak ada masalah. Dengan itu aku bisa tenang menanti Rian datang.

Setelah 30 menit berlalu, aku dapat WA dari Rian “ Maaf Wik, aku engga bisa datang. Mendadak istriku minta diantar ke dokter. Maaf ya. Nanti kita atur lagi pertemuan.” begitu pesannya. Aku menghela napas panjang.  Sebetulnya aku bukan hanya perlu kerjaan tetapi juga perlu utangan dari Rian. Benar benar hari ini di dompetku uang hanya Rp.100.000. Bayar minuman , kembaliannya tidak cukup bayar gojec pulang. Di luar hujan semakin deras. Aku membayangkan kedua putriku tentu ketakutan dengar suara petir menggelegar. Biasanya kalau mendengar suara petir mereka akan memelukku.  Terbayang rumah kontrakan yang belum dibayar. Sudah tiga kali pemilik kontrakan datang dan mengancam akan mengusirku. Uang pendaftaran sekolah putri sulungku belum ada. Kalau gagal dapatkan uang  malam ini, terpaksa putriku harus menunda  masuk sekolah tahun depan. 

“ Oh Tuhan, mengapa sesulit ini hidup yang kurasakan. Kemana aku harus minta tolong. Beri jalanku untuk setitik cahaya agar bisa keluar dari kelam.” Doaku dalam kesendirian. 

“ Anda sendirian? kata seorang pria duduk di sebelahku. Keliatan ramah sekali. Aku melirik usianya mungkin 40an atau setidaknya 50 tahun. Dari penampilannya keliatan tidak bonafide. Jam tangan tidak ada. Rokoknya bukan cigar. Rokok orang kampung, Gudang Garam. Kacamatanya seharga tidak lebih Rp. 2 juta. Aku kenal betul semua aksesoris orang. Maklum pekerjaanku sebagai art director iklan yang menguasai detail life style hidup orang.

“ Ya. “ Jawabku sekenanya. Mengapa orang ini terus bertanya. Apa  dia pikir aku wanita  murahan yang sedang cari mangsa di cafe. 

“ Oh kalau gitu anda mau pulang sekarang?

“ Ya tapi di luar hujan deras. “ Kataku acuh.

“ Kerja dimana ?

“ Ngangur. “

“ Punya anak?

“ Punya.” Kataku ketus. Aku lagi banyak masalah mengapa pria ini banyak tanya. Apakah dia tidak bisa membiarkan aku sendirian. Tapi dengan sikapku yang acuh itu,  dia tahu diri. Dia tidak lagi bertanya.

Gadgetku bergetar. Aku melirik ada panggilan dari Rian. “ Wik, kamu udah pulang “ katanya di seberang.
“ Masih ketahan di Cafe. Hujan deras. “
“ Kalau begitu nanti habis antar istri ke dokter aku mampir ke PI.” 
“ Duh terimaksih Rian. Aku tunggu ya.” Kataku penuh harapan.

Benarlah tak lebih sejam menanti Rian sudah ada di cafe itu. Kami memilih table untuk makan malam. 

‘ Wik kamu kenal, kan dengan Pak Bimo?

“ Oh Pak Bimo yang pernah jadi client aku untuk iklan dan buat CP?

“ Ya. Betul’

“ Ada apa?

“ Dia suka kamu. “

“ Maksud kamu?

“ Dia minta kamu jadi asisten pribadinya. “

“ Aku orang art director. Mana paham aku kerjaan asisten pribadi.”

“ Maksudnya temani pak Bimo keluar negeri.”

“ Apa? Kataku setengah berteriak.

“ Jangan tersinggung, wik. Bayarannya mahal. Dia berani kasih Rp. 25 juta untuk temani dia ke luar negeri.  Hanya tiga hari saja.”

“ Kamu suruh aku jual diri.”

“ Bukan. Tepatnya kerjasama. Dia janji mau kasih aku kerjaan banyak untuk buat iklan produknya. Nah kamu nanti bisa kerja sama aku. Kita bagi saham sama rata. “

Aku mulai terpikir. Ini hanya taktik bisnis untuk dapatkan clients kakap, bahkan paus. Tapi bagaimanapun aku tetap harus menjual kehormatanku. Bukan tidak mungkin nanti aku akan terus dimanfaatkan oleh Rian dan Pak Bimo. Bimo menginginkan kepuasan sek dariku. Rian inginkan keuntungan dari bisnis dengan Bimo. Walau aku dapat saham dan keuntungan yang sama, tetapi secara moral kehormatanku tergadaikan dan predikat  sarjana lulusan luar negeri tidak bernilai. Serendah itukah aku? apakah karena kemiskinan orang boleh terpaksa melacur? Lantas untuk apa aku sekolah tinggi kalau hanya jadi pecundang.

Entah mengapa aku tidak lagi melihat Rian sebagai sahabatku, tetapi predator yang mehalalkan segala cara untuk bisnis. Termasuk mengorbankan aku sebagai sahabatnya.

“ Maaf Rian, aku harus menolak. “ Kataku keras. 
“ Oh ya udah. Tolong utang kamu dibayar Wik. Soalnya aku butuh uang. Udah lebih tiga bulan perusahaanku engga dapat bayaran dari clients. Maklum lagi resesi. Cash flow clients lagi sulit, akupun jadi ikut sulit “

“ Kamu kan tahu aku lagi nganggur. Gimana mau bayar “ 

“ Ya utang tetap utang kan Wik. Kamu ada peluang tetapi kamu tolak. Jadi gimana?

Aku ingin marah besar kepada Rian. Mengapa dia berbeda dari dulu yang aku kenal waktu kuliah. “ Baik! beri aku waktu seminggu. Aku akan bayar.” kataku keras dan berlalu dari hadapannya. Aku  membayar bill aku sendiri. 

Di luar cafe hujan deras. Aku berdiri depan Starbucks. Tapi yang membuat darahku hampir berhenti adalah aku melihat pria yang aku kenal tadi di Bar sedang berjalan bersama pak Bimo kearah lobi Mall. Mereka berdua akrab sekali.  Bagaimana mungkin orang yang penampilannya lusuh tetapi bisa berteman dengan Pak Bimo. Pria itu melirik kearahku tetapi Pak Bimo tidak melihatku.

Pria itu mendekatiku, sementara Pak Bimo terus melangkah ke arah lobi. “ Anda mau pulang” 
“ Ya Pak. “
“ Itu pak Bimo ya.” Kataku sambil menunjuk ke arah pak Bimo.
“ Oh ya, dia direktur saya. Mari saya kenalkan.” Kata pria itu seraya memanggil Pak Bimo yang segera menoleh ke belakang. Pak Bimo menatapku denga terkejut.
“ Kenalkan teman saya “ kata pria itu kepada Pak Bimo, menyebut aku sebagai temannya. 
“ Oh saya udah kenal lama, pak, Dia kan wiwik”
“ Wah dunia kecil ya.” katanya.
Setelah bicara sebentar, " Pak saya ambil kendaraan. Bapak tunggu di sini aja." Kata Pak Bimo kepada pria itu.

 Tetapi entah mengapa aku punya keberanian untuk minta ongkos taksi dari pria itu. Itupun setelah Pak Bimo tidak ada.  “ Pak, maaf. Saya engga ada uang bayar taksi. Maaf pak. “ kataku terlontar begitu saja. Aku tak bisa menahan airmataku jatuh. Aku berusaha menahan tangis. Ini kali seumur hidupku begitu tak berdaya.
Pria itu terkejut namun dengan cepat dia mengeluarkan uang dari tas selempangnya.“ Maaf, saya engga  ada uang rupiah. Kamu terima aja ini. Bisa ditukar di money changer di basement.” Kata pria itu. Aku melirik uang dalam genggamanku. Itu pasti lebih dari 5 lembar pecahan USD 100. Benar. Ada 10 lembar. Artinya dia memberiku USD 1000. Entah mengapa uang itu pas untuk bayar kontrakan rumah yang nunggak 3 bulan dan uang pendaftaran sekolah putriku.
“ Maaf Pak, ini uangnya terlalu banyak. Saya hanya butuh taksi. “
“ Pakai saja uang itu.”
Dengan berat aku menyerahkan lagi uang itu kepadanya. Dia sempat tertegun ketika menerima kembali uang itu.
Dia mengeluarkan lagi uang dari kantongnya. “ Apakah ini cukup? katanya menyerahkan dua lembar Rp 100.000. Aku mengangguk “ Saya janji akan membayar uang ini pak. Pasti, Demi kedua anak saya.” kataku. Pria itu hanya tersenyum dan berlalu ketika kendaraan sudah sampai depan lobi.

***
Keesokannya Rian telp aku “ Wik, ada kabar bagus. Kamu bisa kerja langsung dengan aku. Pak Bimo mau kasih order dan dia  tidak minta kamu temanin dia keluar negeri. “
“ Aku ogah kerja sama kamu.”
“ Please Wik…kita kan teman’
“ Kamu bukan sahabatku. “ kataku ingat peristiwa tadi malam.
“ Please Wik. Pak Bimo hanya mau kasih order asalkan kamu kerja sama aku”
“ Pak Bimo?
“ Ya. Pak Bimo”
“ Kenapa dia berubah pikiran?
“ Engga tahu aku..”

Kini sejak kali pertama bertemu pria itu, sudah 7 tahun lebih aku tidak pernah  bertemu dengan pria itu lagi. Berkali kali aku datang ke cafe itu tetapi tidak pernah bertemu. Dan aku juga tidak punya keberanian bertanya dengan Pak Bimo tentang pria itu. Yang jelas usaha PH ku bersama Rian terus berkembang. Pak Bimo juga kenalkan dengan beberapa perusahaan yang berpotensi jadi clientku. Yang pasti sejak itu cara bersikapku juga berubah. Aku lebih rendah hati dan lebih punya rasa hormat kepada siapapun tanpa melihat penampilannya. Siapapun dia adalah manusia, dan setiap manusia bisa saja ia dikirim Tuhan sebagai malaikat penolong kita di tengah prahara ya kan. Dan yang lebih penting lagi adalah dalam kondisi berada dalam kesulitan, bahkan dalam kondisi tak tertanggungkan tetaplah jaga kehormatan. Dalam hidup ini yang kita perjuangkan adalah kehormatan. Kalau kehormatan tidak ada, tentu tidak ada makna hidup sesungguhnya yang harus kita perjuangkan. Semoga cerpenku, ini dimuatnya di blog. Setidaknya aku tahu bahwa dia mengingatku dan dia memang malaikatku.

Pulang…

Di pinggir jalan dia berdiri. Malam dan gerimis menemaninya. Dia berusaha menyembunyikan tubuhnya digelap pinggir selokan. Ketika Lampu menyinari dirinya, dia berusaha menghindari cahaya itu. Namun ketika kendaraan melambat maka dia tahu bagaimana harus bergaya. Tubuhnya akan nampak utuh oleh cahaya dari lampu mobil.

" Terlalu tua" terdengar suara dari dalam kendaraan. Kendaraan itu berlalu begitu saja. Dia hanya mematung melihat kendaraan pergi. Harapan pun pergi untuk bisa bayar sewa kos.

Jam berlalu dan malam menuju pagi. Tak terhitung kendaraan mampir dan pergi meninggalkan dia sendirian. Dari jauh nampak bayangan langkah mendekatinya. Seorang pria lusuh. Dia tidak takut. Dia sudah biasa hidup di dunia malam. Resiko di pukul dan diperas tak terbilang sudah dia rasakan. Ini apalagi? Dia hanya diam dan siap siap.

" Mbak ...? Kata pria lusuh itu.
" Saya butuh Rp 250 Ribu."
" Aku hanya ada uang Rp 50.000 hasil tadi ngamen. Ambillah "i
" Engga ah. Uang segitu bisa apa?
“ Ini uang halal loh. Ayo lah..."
" Ogah ah..sana pergi" Dia ketus.

Pria lusuh itu pergi. Dia kembali sendiri dan berdiri menjajakan dirinya. Tak terasa waktu berlalu. Suara azan menggema. Subuh datang dan dia belum menghasilkan satupun deal dengan pelanggan. Dia sadar bahwa usianya semakin menua. Pesaing datang silih berganti usia belasan. Sementara dia , usianya sudah kepala empat. Dulu dia percaya pekerjaan ini hanya sementara namun akhirnya dia tidak tahu arti sementara. Karena dia tak lagi menghitung hari. Hidup dilaluinya seakan dia tidak akan beranjak pergi. Benar , dia tetap ditempatnya namun waktu memanggal rezekinya dan kini dia merasa sendiri dengan harga yang sulit untuk di jual... 

Dia sendiri dalam sepi.

Dia langkahkan kakinya menyusuri trotoar. Hujan sudah lama reda. Lampu merkuri menyinari tubuhnya yang seakan menyembunyikan Gincu diwajahnya yang memudar. Pria lusuh itu nampak lagi. Pria itu duduk setengah merebahkan dirinya di halte bus. Dia tatap pria itu. Mata pria itu terbuka sedikit kearahnya.
" Mbak..."
" Aku ..
" Ada apa?”
" Dari tadi siang aku belum makan. Aku lapar. Mau pulang bingung karena takut ditagih ibu kos”

Pria lusuh itu membuka matanya lebar lebar. Ia membuka dompet nya dan menyerahkan uang pecahan 5000 sebanyak 10 lembar. 

" Ambil lah " kata pria itu menyerahkan uang itu kepadanya.
" Di mana kita akan melakukannya"
" Melakukan apa ? 
" bukankah kamu mau membeli tubuh saya?"
" Tidak.! "
" Jadi udah gitu aja ? "
" Ya. Pergilah ..saya mau sholat di masjid itu" kata pria lusuh itu menunjuk kearah mesjid besar yang ada diujung jalan.

Dia menjauh dari pria itu. Bertahun tahun dia bertemu dengan banyak pria perlente dan semua superior dengan uang di tangan. Semua hanya transaksi yang menempatkannya sebagai pemuas nafsu. Uang yang dikumpulkan entah mengapa habis begitu saja tanpa ada bekas. Kini dia menua dan terlupakan. Tapi pria lusuh itu memberi tanpa membeli dan meminta dia pergi.

Mentari pagi mulai nampak di upuk. Cahaya merasuk kedalam sanubarinya. " Di tengah aku sendiri dan terbuang bagaikan sampah , ada seorang pria lusuh memberiku uang. Pria itu telah memberi makna bagi hidupku. Selalu ada cahaya di tengah gelap bahkan di tempat yang tak ada noktah cahaya sekalipun. Selalu ada cahaya. Selalu ada harapan. Aku harus pulang. Kembali kepada Tuhan ku. Walau tanpa uang , tanpa rupa... Aku harus pulang.



Berkat  Corona...
Awalnya kami bahagia. Aku mengenal istriku sebagai gadis yang menyenangkan. Sungguh setiap kali aku melihat lesung pipitnya kala ia tersenyum, oh, Tuhan, aku merindukan saat-saat itu lagi. Saat ia tak henti-hentinya bicara dan terus bicara dari jok belakang vespa biruku kala kami menuju pantai menikmati rona senja. Senja selalu merona serupa wajahnya yang menyimpan malu karena rayuan mautku. Dan, di pengujung tenggelamnya matahari itu aku mencium bibirnya yang semanis madu. Sungguh tak ada yang lebih menyenangkan selain kenangan, begitu pun sebaliknya, tak ada yang lebih menyedihkan selain kenangan. Aku jadi ingin menangis. Boleh, kan, laki-laki menangis? Kau pernah menangis?

Aku sering menangis akhir- akhir ini. Tapi, aku bersyukur karena Tuhan menciptakan kenangan. Maksudku Tuhan memberikan kenangan dalam bentuk kertas putih karena bagaimana pun juga kitalah yang mengisi kenangan itu. Aku bersyukur karena kertas putih itu. Hanya itu kan yang bisa kita ziarahi setelah kita tak bisa kembali lagi pada sebuah kenyataan? Maafkan kesentimentilanku, kawan. Tapi, bukankah setiap manusia lebih dari sekali bersikap seperti itu? Aku tak ragu lagi tentang hal itu. Bagaimana denganmu? Kau punya istri cantik seperti istriku?

Istriku itu cantik, kawan, aku yakin jauh lebih cantik dari istrimu. Rambutnya tidak lurus, tapi keriting mendekati ikal, ia terlihat menyenangkan dan anggun dengan rambut seperti itu meskipun aku tahu ia tetap cantik dengan rambut lurus seperti yang kulihat saat rambutnya masih basah seusai mandi. Bau tubuhnya yang harum mengundangku untuk mendekatinya lalu berbisik di telinganya bahwa betapa terkejutnya aku setelah menyadari menikahi seorang bidadari. Tak butuh waktu lama untuk membuat handuk yang melilit tubuhnya terlepas dan kami saling memagut dan menggapai satu sama lain.

Istriku sekarang berusia 38. Masih cantik. Walau pulang kerja dia nampak lelah namun riasan dan kecerahan wajahnya tidak berkurang. Tapi, sejujurnya ia adalah perempuan tercantik yang pernah kukenal sampai hari ini. Sewaktu kami masih pengantin baru ia tidak langsung mencuci muka, kau tahu, ia langsung memelukku. Saat seperti itu tak pernah kami sadari bahwa kami sedang bahagia. Sering kali tak ada percakapan, hanya kepalanya yang bersandar, tapi tak diragukan lagi, itu masa-masa paling bahagia bagi kami. Aku membayangkan kami akan selalu begitu hingga rambut kami memutih dan saling merasakan betapa kulit kami yang bersentuhan terasa bagai daun-daun kering. Tapi kenyataan berkata lain. Bagaimana dengan kenyataanmu? Apakah kau masih bahagia, kawan?

Sejak Bisnis freight forwarder-ku bangkrut. Kami sudah jarang mengucapkan selamat pagi saat bangun. Kebiasaan lupa itu berlanjut ketika istriku memutuskan untuk melamar pekerjaan sebagai marketing executive perusahaan property.  Sejak itu dia semakin sibuk, dan memang ada hasilnya. Dia sukses sebagai seorang marketing. Hidup kami berubah, tetapi hubungan kami juga berubah. Tidak ada lagi kehangatan seperti awal awal berumah tangga.

***
Adrenalinku berpacu cepat. Jantungku berdetak dengan irama tak beraturan. Istriku berjalan bermesraan dengan seorang pria tepat di depanku. Aku kenal pria itu. Atasannya di kantor.  Sebetulnya aku ingin masuk kembali ke dalam kendaraan di gedung  parkir itu sebuah hotel. Tetapi aku urungkan. Aku berdiri mematung menyaksikan pemandangan di hadapanku. Baru jantungku kembali normal setelah mereka masuk ke kuridor lift Hotel. Saat ini, aku sudah terlampau marah. Panasnya mendidihkan semua cairan di tubuhku. Aku sangat marah. Apa yang harus aku lakukan? melabrak dia bersama pria itu? Bukankah dia telah mengkhianati pernikahan kami. Menodai statusnya sebagai seorang ibu. Ya apa salahku sehingga dia tega mengkhianatiku.  Mungkin lagi-lagi aku harus marah pada diriku sendiri yang tidak pernah dengan benar memperhatikan istriku sendiri. Membiarkannya bekerja tak mengenal waktu mencapai karir hebat. . Oh… Aku kehilangan kata-kata. Tiba-tiba aku merasa begitu lelah.

Pernahkah kau menunggui orang yang kau cintai menikmati kebersamaannya di hotel dan merasa kau akan gila bila terus berada di lobi hotel menanti dia keluar dalam kelelahan bersama pria. Bagimu udara terasa pengap dan nafasmu sesak. Hatimu hancur detik demi detik berlalu. Setiap detik sangat menyakitkan. Aku sudah tidak tahan. Sebaiknya aku pergi meninggalkan hotel itu. Sebuah catatan yang akan abadi dalam hidupku bahwa aku menyesal pernah menikah dengan seorang wanita pembohong, yang hanya mencintai dirinya sendiri. Tapi aku tidak punya alasan untuk menceraikannya. Kalau aku tanya soal hubungan dengan pria itu, dia pasti punya banyak alasan. Dia lebih pintar dariku soal merangkai kata kata.   Setidaknya dia bisa berkata,

 “ Dari mana rumah, kendaraan, dan segala isi rumah ini? Dari mana uang kita piknik ke luar negeri setiap tahun? Dari mana? Kamu? No. Itu semua dariku, dari kerja kerasku. Tapi aku tidak pernah menepuk dada. Aku tahu, bahwa aku seorang istri yang bagaimanapun harus menghormati suami. Patuh kepada suami. Kalau memang kamu tidak izinkan aku bekerja, ya aku tinggal di rumah. Pastikan harta yang ada tidak berkurang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karena sudah lebih 3 tahun setelah bangkrut kamu tidak pernah bangkit lagi.”. 

Itulah yang membuatku kawatir untuk mempermasalahkan apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Tapi sejak itu semua menjadi berbeda. Kami, bahkan, jarang bicara kecuali  seperlunya saja. Aku tak ragu lagi untuk berkata bahwa kami bukan lagi dua jiwa yang dipersatukan Tuhan. Meski kami tidur masih dalam satu ranjang, sebenarnya di antara kami, yang mungkin bagimu hanya berjarak sejengkal, terdapat tembok kokoh yang menghalangi kami untuk saling menatap dan bertanya bagaimana kabarmu hari ini. Salah satu dari kami akan pergi tidur lebih dulu sedangkan yang lainnya pura-pura menonton acara televisi atau membaca koran selama satu atau dua jam hingga merasa yakin salah satu dari kami sudah tertidur pulas. Hujan memang telah lama tak lagi turun di ranjang kami. Bagaimana dengan ranjangmu? Apakah istrimu masih menggairahkanmu?

Bagi istriku, rumah tangga hanyalah status, dan kenikmatan didapatnya di luar rumah. Sementara aku menikmati bisnis process di luar rumah. Kami serumah tapi kehidupan kami ada di luar rumah.

***
Telah hampir 10 hari kami berdua terpaksa tinggal di Rumah. Itu karena himbauan dari pemerintah untuk social distancing agar penyebaran virus corona tidak terjadi meluas.  Dari hari pertama staying at home, biasa saja. Hari kedua juga begitu, Ketiga juga begitu. Tapi masuk hari keempat, entah mengapa kami mulai saling bertatap  namun cepat mengelak.  Kebersamaan dalam kesendirian itu sangat menyakitkan. Lantas apa arti semua ini, kalau toh nyatanya kami bukan saja takut tertular tetapi juga takut akan kematian akibat virus corona itu. 


“ Mas" seru istriku. Aku terkejut. Dia bicara dengan raut wajah berbeda. Sepertinya dia ingin bicara, membunuh sepi di rumah. "
" Ada apa ? 

" Saya bingung. Karena begitu banyak pendapat ahli yang saya baca. Apalagi kalau sudah berargumen dengan contoh kasus kematian akibat Covid 19. Apapun argumen mereka sangat masuk akal dan menakutkan.  Gimana saya menyikapi ini. ?

“ Siapapun boleh bicara, apakah dia ahli soal virus, ahli molokuler,  atau dokter atau apalah. Tetapi faktanya belum ada satupun ahli  di dunia ini yang bisa menemukan vaksin COVID 19. Artinya, mereka hanya berasumsi dengan pengetahuan yang terbatas. Kan bego kalau kamu terprovokasi dengan omongan mereka. Soal kematian adalah kisah lama dan terus berlangsung di dunia ini. Mengapa harus ditakuti? 

“ Tapi Mas, Covid 19 ini memang mengerikan. Liat aja di Italia, China dan tempat lainnya.”

“ Mengerikan itu karena persepsi kamu yang terbentuk akibat semua orang membicarakan Covid19. Angka kematian akibat flue jauh lebih besar. Angka kematian akibat rokok jauh lebih besar. Angka kematin di jalan jauh lebih besar. Mengapa itu tidak mengerikan? karena tidak semua orang membicarakannya. Pahamm ya.” 

“ Bagaimana dengan larangan ditempat keramaian dan social distancing? Apakah itu tidak  meindikasikan sesuatu yang berbahaya ?

“ Itu hanya pedoman agar tidak mengakibatkan penularan. Itu juga bagian dari social engineering. "

" Mengapa? 

"Karena setiap orang itu berpotesi ada virus di dalam tubuhnya. Bisa virus apa saja. Masalahnya tidak semua orang merasakan keberadaan virus dalam dirinya , tergantung imun tubuhnya. Apa jadinya kalau kebetulan virus yang ada pada kita,  menular keorang lain yang langsung aktif karena imunnya tidak kuat. Kan buruk jadinya.  Hal ini kita bisa belajar dari orang Jepang. Mereka tidak melakukan langkah social distancing seperti negara lain. Orang tetap bekerja di kantor. Stasiun masih ramai. Jalanan masih ramai. Mengapa? karena mereka punya budaya hidup bersih dan terbiasa menjaga kesehatan orang lain dengan menggunakan masker ditempat keramaian.  Kalau kita baru ramai setelah ramai dibicarakan Covid19 tetapi di Jepang itu sudah jadi tradisi keseharian mereka. Mereka juga engga punya budaya salaman atau saling hug atau kiss. Tetapi membungkukan tubuh sebagai tanda hormat. Itu juga cara efektif tidak menularkan virus kepada orang lain."

" Jadi memang sebaiknya pedoman yang dianjurkan pemerintah itu dituruti. Setidaknya kita ambil bagian dari social engineering. Bagaimana hidup bersih dan menjaga kesehatan diri dan orang lain. Karena setiap orang berpotensi sebagai pembawa virus.” Kata istriku tersenyum. Baru kali ini kulihat dia memberikan senyum terindah seperti awal menikah.

“ Apakah setelah wabah Covid19 ini selesai, orang bisa bebas lagi.” kata istriku.


“ Tidak ada istilah selesai. Karena virus tidak mati. Kalau orang bisa sembuh, itu bukan berarti dia kebal. Mungkin akan ada lagi virus virus lain. Kuncinya adalah social engineering. Bukan hanya hidup bersih tetapi bagaimana kita bisa peduli kepada orang lain. Bukan hanya peduli terhadap penyebaran virus tetapi juga sikap hidup berbagi. Kemiskinan adalah sumber masalah dari semua masalah. Yang paling mengerikan adalah timbulnya wabah  bagi simiskin yang tidak teratasi dan ini tentu berdampak bagi siapa saja termasuk orang kaya. Kalau kita tidak berusaha mengurangi gap kaya miskin, maka kita sebenarnya menciptakan hidup penuh resiko di planet bumi ini."

Dia tersenyum. Suasana sepertinya penuh kebun bunga. Aku menyesal mengapa kami membiarkan waktu terbuang bertahun tahun hanya karena merasa direndahkan. Padahal setiap tindakan pasti ada alasannya. Dalam situasi sekarang kami berjarak dengan semua kesenangan di luar rumah. Yang ada hanya kami berdua. Ternyata kesenangan yang ada di luar rumah mengabur dan menjadi menakutkan akibat virus corona. Tempat teraman ternyata adalah di dalam rumah. Tempat seharusnya kami belajar untuk mencintai satu sama lain. Belajar untuk berdamai dengan kenyataan. Belajar dari ketidak sempurnaan kami sebagai manusia. Belajar dari rasa kawatir dan ketakutan. Belajar dari arti sebuah kematian yang pasti terjadi.

Entah mengapa di suatu malam, istriku berkata sebelum tidur. “ Besok aku akan mengirim surat pengunduran diri dari perusahaan. Aku ingin tinggal di rumah saja. Rian sudah remaja. Dia butuh aku.  Boleh ? 

Aku terkejut. Kata terakhir walau singkat, “ boleh” menegaskan bahwa aku masih suami dan penguasa tunggal di rumah. Dia masih menghormati status sakralku di hadapa Tuhan. 
“ Usahaku masih merintis. Entah gimana kelanjutannya setelah wabah virus corona ini berlalu.” Kataku sekenanya. Tapi itu juga kelemahanku yang terbiasa mengeluh di hadapan istri.
“ Kita akan hadapi bersama. Aku punya tabungan. Kita akan baik baik saja. “ Katanya. Aku meremas jemarinya, dan tersenyum. Aku tidak akan bertanya tentang hubungannya dengan atasannya. Dan akupun tidak perlu cerita perselingkuhanku dengan relasi bisnisku. Yang jelas kami merasa bersalah, bertahun tahun kami tidak lagi saling sentuh. Jasad kami di ranjang yang sama namun jiwa kami ada di luar rumah. Berkat corona, berkat staying at home, kami bisa memaknai arti kebersamaan, yang memang harus diperjuangkan dan berkorban apa saja untuk itu. ***

Sebuah teori.


Saya bertemu dengan dia dalam suasana santai. Walau Jakarta mencekam. Karena ada himbauan pemerintah agar orang lebih baik tinggal di rumah untuk terhindar dari penyebaran virus corona. Himbauan ini bagian dari gerakan menjaga jarak sosial atau  social distance , yang katanya efektif menghindari penyebaran Covid 19.

“ Virus itu diciptakan oleh AS. “ Katanya. 

“ Kamu sedang berteori? Kataku tersenyum. Saya termasuk orang tidak pernah percaya dengan teori konspirasi. Namun saya percaya politik penuh dengan konspirasi. Sebuah cara persekongkolan sekelompok orang dalam merencanakan sebuah kejahatan yang dilakukan dengan rapi dan sangat dirahasiakan. 

“ Saya mencoba melakukan desk research terhadap COVID 19 ini.  Sekedar untuk mengetahui darimana asalnya dan mengapa bisa muncul, dan akhirnya menjadi berita heboh yang mencekam.”

“Wow hebat kamu.”

“ Dalam dunia yang serba terbuka saat sekarang ini, adalah konyol kalau kita bergantung dengan berita media utama..” 

“ Ok lah Apa yang kamu ketahui ? Aku mau dengar”

“ Yang pasti Virus itu bukan berasal dari China.”

“ Jadi, dari mana?

“ Satu satunya Lab yang punya sample Virus hidup dengan lima jenis GEN adalah Bio-Lab militer AS di Fort Detrick, Maryland. Itu sangat mungkin tercipta virus baru. Sementara Lab Wuhan di China hanya punya satu sample jenis virus, yang tak mungkin bisa melahirkan varietas virus baru. “

“ Ok. Bagimana kamu bisa simpulkan itu ? Kata saya mengerutkan kening.

“ Itu yang ngomong ahli epidemiologi dan farmakologis Jepang dan Taiwan. Mereka bilang coronavirus baru berasal di AS. “

“ Gimana mereka sampai ngomong seperti itu?

“ Itu berdasarkan fakta. Pada agustus 2019, dokter dari Taiwan mencatat. Ada pasien di AS menderita pusing dan sesak napas. Dia menulis laporan kepada kepada pejabat AS. Bahwa penyebab kematian pasien itu diduga karena virus corona. Tetapi peringatan itu diabaikan oleh pejabat Amerika. “

“ Terus…”

“ Pada bulan September 2019, Warga Jepang di Hawai terinfeksi virus corona. Padahal dia belum pernah ke China. Artinya infeksi ini terjadi di AS jauh sebelum  terjadi wabah di Wuhan. Berdasarkan data agustus 2019, kematian pasien akibat virus itu sekitar 10 ribu orang di 22 negara bagian AS. “

“ Loh katanya yang saya baca dari media massa itu flue Amerika yang menyerang perokok Vaping”

“ Itu ulah propaganda dari konglomerasi Pabrik Rokok. Mereka gunakan tangan American Medical Association untuk membunuh bisnis Vaping, dengan mengatakan bahwa penyebab kematian adalah aktifitas vaping dari rokok elektrik. Sehingga bisnis rokok konvensional tetap primodana.”

“ Yang aku tahu dari media massa, kan sebelum peristiwa kematian pasien itu, CDC , Centers for Disease Control and Prevention telah menghentikan  bio-lab Militer AS di Fort Detrick, Maryland, karena tidak adanya perlindungan terhadap kebocoran patogen.” Kataku mencoba membantah hubungan Bio Lab dengan keberadaan virus itu.

“ Nah itu semakin memperkuat teori. Bisa jadi memang CDC sudah mengetahui terjadi kebocoran Lab itu. Makanya mereka tutup. Untuk cuci tangan.”

“ Ok lah. Tetapi aku masih belum bisa menerima teori kamu itu”

“ Selanjutnya, kamu perhatikan. Pada bulan oktober 2019, di media massa China, ada berita tentang Pertandingan militer dunia atau  the World Military Games. Lima atlit dari 200 atlit AS yang ikut dalam WMG dirawat di Ruma sakit di Wuhan.”

“ Apa penyakitnya? 

“ Terinfeksi virus. Tapi apa jenis virusnya, waktu itu belum diketahui kepastiannya. Event ini berakhir, tepat 2 minggu sebelum kasus Wuhan merebak. Atau tepatnya awal november 2019. Nah anehnya, pada waktu event WMG digelar, juga berlangsung event 201 di John Hopkins Center for Health Security di kampus Institut John Hopkins yang terletak di Baltimore, Maryland AS. Ajang 201 tersebut disokong penuh oleh Bill and Melinda Gates Foundation, Big Pharma (GAVI) dan nggak ketinggalan World Economic Forum (WEF). Pada acara itu, diadakan simulasi latihan pandemi tingkat tinggi yang diberi kode nCov-2019.  Padahal ketika itu istilah dan kode NCov-2019 belum ada. Bagaimana mereka tahu? Simulasi tersebut menghasilkan 65 juta total kematian di seluruh dunia dan membuat pasar keuangan internasional ambles sekitar 15%.”

“ Sedikit paham. Tapi belum bisa masuk ke nalar saya”

“ OK. Dari media massa saya membaca artikel yang ditulis oleh  Daniel Lucey, seorang ahli penyakit menular di Universitas Georgetown di Washington. Ia mengatakan dalam sebuah artikel di majalah Science bahwa manusia terinfeksi pertama kali bukan di Wuhan tetapi tempat lain. Tetapi ada juga yang bilang pada pada tanggal 18 september. Yang pasti bukan berasal dari pasar seafood di Wuhan. “

“ Terus…” Saya mulai penasaran.

“ Makalah dari Daniel Lucey itu diperkuat oleh peneliti China dari China academy science. Dalam artikelnya  menyampaikan rincian tentang 41 pasien pertama yang dirawat di rumah sakit. Mereka positip terinfeksi apa yang disebut dengan  novel coronavirus 2019 (2019-nCoV). Pertama kali, pasien jatuh sakit pada 1 Desember 2019 dan tidak memiliki hubungan dengan pasar seafood. Data mereka juga menunjukkan bahwa, secara total, 13 dari 41 kasus tidak pernah ke pasar seafood.”

“ Apa artinya? 

“ Walau sebagian besar memang punya catatan berkunjung ke pasar Seafood, tetapi itu menunjukan penyebaran virus terjadi sebelum desember. Pastinya bulan november 2019 atau lebih awal.”

“ Masih belum memuaskan teori kamu” Kata saya.

“ Nih ada lagi laporan dari Kristian Andersen ahli biologi evolusi di Scripps Research Institute yang telah menganalisis urutan 2019-nCoV untuk mencoba memperjelas asal muasal virus corona. Dia mengatakan skenario yang masuk akal adalah orang yang terinfeksi membawa virus ke pasar seafood. Jelas ya. Jangan dibalik. Bukan seafood sebagai penyebar tetapi manusia. Menurut artikel Science, pada 25 januari 2020, Andersen memposting di situs web penelitian virologi tentang analisisnya terhadap 27 genom 2019-nCoV. Dia menyimpulkan kelahiran Covid 2019 itu pada tanggal  1 Oktober 2019. " 

“ Kalau dilihat dari urutan acara World Military Games pada tanggal 18-27 Oktober, bisa jadi memang Covid 2019 itu sudah ada pada lima pasien atlit AS.  Dari sanalah awal penyebaran. Pasien nol Covid 2019 itu adalah kelima pasien asal AS itu di China. Setelah itu ada hari raya imlek di China. Di mana terjadi eksodus besar besaran orang kota ke desa untuk merayakan imlek di kampung halamannya. Kerumunan orang banyak tak bisa dihindari. Intelijen  China cepat mengatahui akan serangan Covid 2019 itu. China tidak mau ambil resiko terjadi penyebaran virus corona meluas. Apalagi di saat musim dingin. Dengan cepat pemerintah China lockdown kota Wuhan.” Kataku mencoba merangkai semua argumennya. 

“ Cobalah bayangkan. Andaikan China terlambat mengantisipasi itu, diperkirakan 16 juta orang mati di Wuhan. Itu lebih dahsyat dari bomb Atom Nagasaki Hirosima. Yang akhirnya memaksa Jepang takluk dalam perang dunia kedua. Kemungkinan kalau China gagal dalam perang melawan Covid 2019, China akan bernasip sama dengan Jepang. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Justru dengan adanya wabah ini, dunia tahu  siapa itu AS dan siapa itu China. Kini kebenaran menemukan jalannya sendiri“ Katanya.

“ Bagaimana dengan Virus yang menyerang Iran dan Italia?

“ Saya baca dari internet. Christian Drosten memposting urutan genetik dari coronavirus pada 28 Februari. Dia mengingatkan akan ada penyebaran virus ke seluruh dunia. Pada media online GISAID, dia membagikan informasi lebih dari 350 sekuens genom. Artinya jenis corona virus itu bukan hanya satu yang ada di Wuhan saja tapi ada 350 lainnya yang sudah tersebar di seluruh dunia. Seperti halnya orang menuduh bahwa wabah virus Corona yang ada di Italia berasal dari China. Padahal menurut analisa ahli, itu berasal dari pasien di Munich, ibukota Bavaria. Mengapa? gonom Covid 19 yang ada di Italian itu sama dengan virus yang ditemukan pada pasien di Munic jauh sebelumnya atau sekitar desember 2019. Dicurigai penyebarannya ketika ada acara besar di Munich yang memungkinkan terjadi kerumunan massa seperti acara tablik akbar di Malaysia.


Tetapi banyak negara tidak seperti China yang sangat teliti terhadap penyakit pasien. Sehingga cepat mengetahui ada wabah virus yang menyerang, semacam coronavirus atau sindrom pernapasan. Andaikan China tidak bereaksi luar biasa, tidak concern terhadap munculnya wabah, mungkin orang tidak akan mengetahui apa itu virus corona. Karena dampak yang ditimbulkan tidak jauh beda dengan penyakit lainnya."

" Mengapa?

" Virus itu hanya merusak sistem pernapasan. Itu sudah ada obatnya dan bisa disembuhkan seperti kasus flu. Kalau imune kita kuat, itu sembuh dengan sendirinya.  Namun dampaknya bisa fatal bila pasien punya penyakit diabetes, jatung atau dalam kondisi imun rendah sekali. Biasanya diumumkan kematiannya bukan karena virus tetapi karena jantung atau infeksi paru atau diabetes.

Hasil penelitian membuktikan bahwa varietas genom virus di Iran dan Italia, setelah diurutkan, ternyata tidak memiliki kesamaan dari varietas yang menginfeksi China. Artinya itu berasal dari tempat lain. Nah ini menyimpulkan bahwa penyebaran virus di luar China bukan berasal dari China. Ini semakin membuktikan bahwa Virus Covide 19 itu memang di create oleh manusia melalui rekayasa di Lab. Itu hanya mungkin AS. Karena hanya AS satu satunya negara yang punya varietas lengkap virus untuk menciptakan satu varietas baru.” 

“ Tapi berita media massa sangat bias “ Kataku.

“ Memang benar. Bukan hanya Covid 2019, MERS awalnya diyakini berasal dari seorang pasien di Arab Saudi pada Juni 2012, tetapi kemudian riset membuktikan MERS itu berasal dari Yordania kali pertama terkena virus pada bulan april tahun yang sama. Artinya kan bukan dari Arab tetapi dari Yordan. Jadi kita harus hati hati membaca berita resmi. Bahwa media Barat selalu begitu bersemangat untuk memberitakan seperti kasus SARS, MERS, dan ZIKA, yang semuanya terbukti salah. Sama halnya, media Barat membanjiri berita berbulan-bulan tentang virus COVID-19 yang berasal dari pasar makanan laut Wuhan, yang disebabkan oleh orang yang makan kelelawar dan hewan liar. Semua ini terbukti salah.”

" Wah dengan informasi itu, apa yang dapat kamu sikapi?

" Ini bagian dari rangkaian perang dagang. Sejarah perang dunia kedua berawal dari perang dagang juga. Saling embargo satu sama lain. Akhirnya perang phisik tak terelakan. Kini mungkin orang engga mau lagi perang phisik. Karena ongkosnya mahal. Tetapi dengan sains, orang bisa membunuh banyak orang tanpa ada kerusakan. Ya menggunakan virus atau bakter." 

“ Kalau benar AS yang menciptakan, mengapa Virus itu juga menyerang sekutu AS seperti Eropa, Korea Selatan, Jepang, Taiwan, Singapore, Arab dan lain lain, termasuk Indonesia?

“ AS meliat fenomena perang dagang dimana para sekutunya tidak sepenuhnya mendukungnya menghadapi China. Misal, kedekatan Arab dengan China dalam proyek jalur sutera, belum lagi bantuan China kepada Italia dalam menyelesaikan krisis gagal bayar utang,  investasi korea dan jepang yang sangat besar di China, Indonesia dalam kasus laut China selatan yang terkesan tidak berpihak kepada AS. Iran, yang semakin garang dengan AS, dan ancaman bagi agenda AS memecah belas Irak. Semua ada alasan yang mudah ditebak dan ditelusuri.”

“ Untuk apa ?

“ Untuk apa ?  bagi masyarakat modern, kematian akibat wabah itu jaun lebih menakutkan daripada perang phisik.  Apalagi dalam sistem demokrasi, kepanikan sangat rentan menciptakan chaos sosial. Dalam pasar serba terbuka, kepanikan sangat mudah menciptakan chaos market. Lihatlah fakta sekarang. Semua bursa berjatuhan mengancam mata uang dan index. Setiap kepala negara harus secepat mungkin mengatasi wabah itu atau mereka jatuh.”

“ Loh AS juga terancam kepanikan akibat virus corona?

“ Itu juga bagian dari rangkaian elite AS memaksa publik AS menerima strategi AS dalam memenangkan perang semesta lewat ekonomi dan tekhnologi. Ingat engga kasus Pear Harbour dulu, yang seakan sengaja membiarkan penerbang termpur Jepang masuk wilayah AS untuk menghabisis pangkalan perang AS di Hawai. Dari situlah legitimasi politik tercipta agar AS masuk dalam perang dunia ketiga.” Katanya berteori.

“ OK lah, kan sudah terbukti agenda AS menghancurkan China gagal, terus gimana dengan sekutunya. Kan mereka tidak sekuat Cina menghadapi wabah virus corona?

“ AS punya solusi di tengah kepanikan itu.”

“ Apa itu? 

“ Tergantung sekutu AS. Apakah mereka masih commit dengan Konsesus Washington paska jatuhnya Lehman tahun 2008. Kalau commit, masalah virus corona ini akan selesai cepat. Setelah itu,  situasi  akan di bawah kendali AS untuk memenangkan perang dengan China dan menguasai dunia”

“ Oh i see. Saya bisa mengerti tapi sulit bisa menerima kalau benar itu bagian dari agenda AS. Terlalu mahal ongkosnya bagi kemanusiaan “

“ Politik mana pernah berpikir tentang korban kemanusiaan” katanya cepat. 

Saya termenung. Semoga dunia baik baik saja. Diatas kehendak manusia ingin menciptakan kerusakan di muka bumi ini, ada Tuhan yang pasti akan menjaganya. Apapun itu, manusia sedang melewati takdirnya. Pada akhirnya kita sedang memasuki phase besar, untuk menerima pesan cinta Tuhan. Bahwa kebenaran itu akan mencari jalannya walau prosesnya memang pahit. ***


Ketika Tuhan menguji..

Hidupku menjanda. Akan tetapi, aku masih bisa hidup berkecukupan dalam arti tidak tergantung siapa siapa, bisa makan tiga kali sehari, punya apartement mewah, kendaraan. Tadinya waktu aku masih punya suami, hidupku seperti ayam merak. Tinggal di istana megah namun serba terkurung dalam batasan suamiku sendiri.  Dia bebas pergi kemana saja karena alasan bisnis. Mungkin saja dia selingkuh dengan banyak wanita. Tetapi itu hak dia, dan kewajibanku untuk menerima. Tapi bagaimanapun aku terima hidupku dengan suka cita. Suami kuhormati agar aku dapat ridho Tuhan. Dua anakku kurawat dengan sepenuh cinta. Para pembentu kuperlakukan dengan semanusiawi mungkin. Kujaga perasaannya walau mereka hamba sahaya.

Dari uang pemberian suami yang tak pernah kurang, aku berderma kepada orang lain yang kesusahan. Ikut dalam yayasan amal menyantuni orang miskin dan yatim. Kehidupanku begitu sempurna. Setidaknya itu menurut orang lain. Punya suami yang penyayang. Anak anak yang cerdas dan berbudi baik. Teman teman yang sangat peduli dan menghormatiku. Kehidupan sosial yang sangat menyenangkan. Itulah aku. Karenanya setiap detik helaan napasku, adalah rasa syukur kepada Tuhan. 

Namun sebanyak rasa syukur kepada Tuhan, mungkin tidak cukup bagi Tuhan. Tuhan tidak melihat retorika syukur tetapi ingin pembuktian apakah aku benar benar bersyukur. Suatu waktu yang tak pernah aku lupakan. Aku terjatuh di kamar mandi. Bukan karena stroke tetapi tergelincir, tepatnya. Punggungku terhentak ke closet. Aku terkapar dan tak bisa bangkit lagi. Walau aku berusaha tetap saja kekuatan tulang punggungku tidak mampu menopang tubuhku.  Masuk rumah sakit. Sebulan lebih di rumah sakit, punggungku tak bisa lagi membuat tubuhku berdiri. Akupun lumpuh. Hidupku mulai bergantung kepada orang lain. Apapun tergantung orang lain.

Dua tahun dalam pembaringan kelumpuhan. Suamiku jatuh bangkrut dan dia tidak ingin pulang lagi ke rumah. Mungkin dia tidak sanggup lagi hidup bersamaku yang lumpuh atau dia tak bisa pulang karena takut di kejar hutang atau apalah. Tetapi aku bisa terima. Dia tidak salah dan tentu ada alasan mengapa dia tinggalkan aku , istrinya yang sedang sakit.  Tapi aku masih beruntung, kedua anakku masih ada. Namun itu tidak bertahan lama.  Satu demi satu anakku diambil oleh keluarga besar suamiku. Alasannya mau disekolahkan.  Dalam keadaan sakit tak berdaya, aku kehilangan suami, anak dan harta. 

Aku tetap bersabar dan bersyukur. Karena bagaimanapun Tuhan mengirim malaikat untuk menolong anak anaku. Soal aku? Itu urusan Tuhan.  Teman temanku di Yayasan mengirim aku ke dinas sosial untuk masuk pusat perawatan orang terlantar. Akupun terasingkan dari lingkunganku. Sahabatku yang dulu selalu aku bantu, justru kini mereka mengirimku ke panti sosial. Aku tidak kecewa. Aku bersyukur karena mereka peduli akan hidupku yang terlantar. Kalau mereka tidak bisa membatu, tentu ada alasan. Itu harus aku maklumi agar rasa syukurku kepada Tuhan tidak berkurang. 

Suatu saat kamu datang ke Panti, kamu minta aku memohon kepada Tuhan agar Tuhan menolongku. “ Karena hanya Tuhan satu satunya yang tersisa yang kamu punya di dunia ini. Bukankah selama ini kamu hidup di jalan Tuhan. Tentu Tuhan akan mengabulkan permintaanmu”. Begitu katamu. Tetapi aku menolak. Bukan karena aku sombong dan merasa paling kuat. Tetapi aku malu kepada Tuhan. Betapa nikmat pemberian Tuhan jauh lebih banyak kudapat selama ini. Kalau kini hidupku tidak seperti dulu, itu bukan berarti Tuhan membenciku, tetapi Tuhan sedang memberiku yang terindah. Apa itu. Sabar. Tuhan berkata, bahwa sabar itu cara terbaik mendekatiNYA. Apakah ada yang lebih indah selain dekat kepada Tuhan? aku bukan menikmati cobaan ini tetapi aku berusaha mengambil hikmah dari hidupku.

Pada batas tak tertanggungkan, karena petugas sosial sepertinya sudah bosan dengan keadaanku yang lumpuh, mereka juga sudah tidak lagi ramah. Saat itu aku merasa sangat dekat kepada Tuhan. Aku tersenyum dalam  ketidak berdayaan, sakit dan terasingkan. Entah mengapa tengah malam aku terjaga. Aku melihat cahaya yang mendorongku melangkah. Petugas panti takjub melihatku bisa melangkah dan berjalan seperti orang biasa. Apalagi melihatku  pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, dan sholat. 

Keesokannya aku minta izin untuk keluar dari panti. Mereka mendoakan agar aku baik baik saja.  Aku datangi keluarga suamiku, tetapi anak anakku tidak ingin dekat lagi denganku. Mereka sudah nyaman dengan hidupnya.  Aku datangi Yayasan yang dulu tempat kubergiat, tetapi mereka tak lagi tertarik mengajakku bergabung.  Saat itu usiaku mendekati 40 tahun. Hanya satu orang yang bersedia menampungku. Ia adalah mantan Supir keluargaku. Hidupnya memang miskin. Menanggung satu istri dan 2 anak. Tapi dia merasa tidak terbebani walau pekerjaannya hanya sebagai supir taksi. Namun aku tidak ingin membebani hidupnya. Aku sehat dan bisa melangkah. Yang bisa aku lakukan, harus aku lakukan untuk hidupku, untuk syukurku kepada Tuhan.

Aku diterima bekerja. Hanya sebagai sales freelance. Hanya itu yang lapangan pekerjaan yang bisa kudapat. Hampir sebulan tak ada satupun deal terjadi. Saat itu aku tidak mengeluh. Pekerja pemula selalu begitu. Butuh waktu untuk belajar. Yang aku kawatirkan rasa bersalah karena membebeni orang yang hidupya dalam kemiskinan. Rasa bersalah itulah yang membuat aku semakin dekat kepada Tuhan.

Ketika aku mendatangi salah satu target market potensial, aku mendengar sang boss sedang marah marah kepada Stafnya karena belum bisa memindahkan barang limbah pabrik dari gudang. Limbah itu berupa potongan hasil guntingan pakaian. Salah satu staf itu meminta aku segera pergi. Karena pasti boss nya menolak untuk terima tamu. Tapi entah mengapa aku tidak surut sebelum diusir oleh boss itu. Setelah melihat keadaan reda dikamar kerja boss itu, aku masuk.
“ ada apa kamu? Bentak sang boss.
“ saya mau tawarkan alat pembersih ruangan . Mungkin akan membantu membersihkan pabrik anda” Akupun menyerahkan brosur kepada sang boss. Namun Sang boss melempar brosur itu ke tong sampah. “ Gini aja, saya akan beli kalau kamu bisa pindahkan limbah di gudang pabrik saya. Bisa ?

Aku terdiam. Aku tidak melihat aku direndahkan. Aku justru melihat ini peluang dan harapan. Karena ada boss besar putus asa dan meminta aku memberikan solusi. Ini Deal bagus.
 “ beri saya waktu. Saya akan lakukan” Kataku serta merta.
“ Ya udah, cepatlah. Sekarang pergi kamu! “ kata sang bisa dengan suara keras.

Aku keluar ruangan dengan bingung. Apa yang harus aku lakukan? Ketika keluar dari kantor itu, Satpam menyapaku. “ gimana? Udah ketemu dengan boss saya”
“ Udah. Dia marah. Tapi saya ada peluang”
“ Peluang? Apa?
“ Dia akan beli alat pembersih ruangan yang saya tawarkan kalau saya bisa mengangkut limbah pabrik”

Satpam itu memintaku mendekat, dengan berbisik “ ada yang minat dengan limbah itu. Tapi terdiri dari beberapa orang pengrajin keset kaki. Kalau mereka beli sendiri sendiri engga mampu. Kalau kamu bisa koordinir mereka, tentu bisa habis itu limbah di gudang. Dan bukan engga mungkin setiap limbah terkumpul akan terus mereka terima.”
“ Mengapa tidak diusulkan kepada boss?
“ Siapa yang berani. Dia maunya cepat dan praktis aja”
“ Ok tunjukan alamatnya, saya akan datangi pengrajin itu”

Setelah itu aku mendatangi alamat pengrajin keset. Aku mendatangi satu persatu pengrajin. Semua mau terima. Dan hebatnya para pengrajin itu berani membeli dengan harga bagus. Akupun mendatangi pengusaha angkutan. Aku butuh jasa angkutan namun dibayar dari hasil penjualan barang yang diangkut. Namun kebanyakan menolak. Aku tidak menyerah. Setelah mendatangi beberapa perusahaan angkutan, ada yang minat mengambil peluang yang aku tawarkan. Akhirnya aku berhasil mengosongkan gudang limbah itu. Boss pabrik senang. Aku tidak dapat fee dari boss pabrik. Tapi Boss pabrik setuju membeli alat pembersih ruangan. Dari penjualan limbah itu akupun tidak dapat untung. Niatku hanya bagaimana mendapatkan Deal menjual barang pembersih ruangan. Namun Deal itu di bawah target perusahaan. Aku tetap diberhentikan. Aku kehilangan pekerjaan.

Akhir bulan pengrajin memintaku kembali mengirim limbah. Aku datangi boss pabrik itu kembali. Aku katakan dengan jujur bahwa aku tidak lagi bekerja. Aku hanya ingin membantu pengrajin. Boss itu dengan senang hati memberiku limbah. Dari kerjaan itu aku pabrik memberiku upah. Aku juga dapat keuntungan dari penjualan limbah kepada pengrajin. Selanjutnya hiduku berubah. Ekonomi membaik dan aku tidak lagi menumpang di rumah orang. Aku tinggal di apartement. Itu hanya berselang 3 bulan setelah aku keluar dari panti Sosial. Tuhan berbuat sesukanya. Itu kuyakini seyakin aku melewati takdirku.

Setahun setelah itu boss pabrik yang duda tanpa anak jatuh cinta kepadaku. Kamipun menikah. Empat bulan setelah acara pernikaha yang spektakuler, suamiku meninggal karena kecelakaan. Semua hartanya jatuh kepadaku. Dan aku kini jadi boss melanjutkan usaha suami. Di usia menua, mendekati 50 tahun, hidupku menjanda, anakku telah kembali kepadaku. Kehidupan kembali normal, dan aku tetap hidup di jalan Tuhan tanpa dendam apapun kepada mereka yang mengabaikan hidupku ketika aku terpuruk.  Karena ini bukanlah antara aku dengan mereka tetapi antara aku dengan Tuhan, untuk menguji keimananku dan rasa syukurku. Itu aja. Pahamkan Jeli..


Narasi kerinduan.


“ Lue harus bisa menghayati kesedihan seorang Ibu. Apa susahnya , lue kan cewek. “ kataku kesal ketika melihat Wina membacakan monolog. Udah berulang rulang kali namun tetap tidak seperti yang aku mau sebagai penulis monolog itu.
“ Gua memang cewek tetapi gua bukan emak emak, bego luh. “ katanya ngambek.
“ Ya setidaknya dalam diri elo ada cinta ibu, yang bisa memahami perasaan seorang ibu.” Kataku balik kesel. 
“ Capek gua, dari kemarin lue  salahin gua terus” 
“ Ya memang salah. Mau dipuji? Lu yang bego” 
Wina menangis. Masuk ke kamarnya. Ibunya dengan tersenyum mengatakan agar aku pulang aja. “Wina sedang ngambek. Nak Ale pulang aja. Maafin Wina ya Nak. “  Kata ibunya. Aku pulang. 

Keesokannya di sekolah, Guru pembimbing bertanya “ Win gimana latihan baca cerpennya? Tulisan Ale bagus sekali. Ibu yakin kamu cocok sekali membacakan cerpen itu. Pasti kelas kita juara nanti.”  
Wina menatapku dengan cemberut. 
“ Memang kenapa ? Ada apa Ale?  “ kata Guru pembimbing
“ Engga ada apa apa bu.” Kataku melirik ke Wina sambil tersenyum.  Guru pembimbing berlalu dari hadapan kami. 
“ Gua  tunggu lue di rumah gua. “ kata Wina, itu artinya dia tidak lagi ngambek.

“ Cerpen gua itu sebetulnya hanya pendek aja.  Ini soal Tejo si anak semata wayang pergi merantau. Terus engga pulang pulang. Ibunya kangen banget. Tejo engga pernah pulang. Karena Tejo meninggal di rantau. Akhirnya ibunya meninggal dalan kerinduan kepada anaknya. Gitu aja.” Kataku  ketika mulai latihan membaca.

“ Gua tahu itu. Engga usah ulang ulang terus. Tapi yang panjang itu narasi elo menggambarkan perasaan ibunya Tejo. Itu yang sulit gua pahami. Gimana gua bisa paham soal perasaan seorang ibu? Kita kan masih anak SMP. Gimana sih lue tahu segala soal perasaan seorang ibu? 

“ Ya susah kalau elo tanya ke gua. Itu hak gua sebagai penulis. Tugas lue ya ikuti mau gua aja dech. Berkali kali gua ajarin lue cara membacanya, setiap paragrap dengan mimik dan intonasi. Tetapi gimanapun itu tidak menyatu dengan tulisan gua. Karena gua cowok. Lue kan cewek , pasti tahu memaknai cerita itu dan tahu gimana mengungkapkan perasaan pada setiap paragraf.”  kataku berusaha mencerahkan.  Namun tetap gagal. Aku berusaha sabar. Masih ada waktu seminggu lagi. Moga Wina bisa menghayati tulisan cerpenku.  Akupun tak mau lagi paksa dia seperi aku mau. 

Namun ketika saatnya lomba baca cerpen, aku sempat merinding. Terutama disaat paragraf perpisahan Tejo dengan ibunya di stasiun kereta, Wina menangis. Benar benar menangis. Apalagi ketika Tejo tidak pulang pulang, sementara sahabatnya sudah pulang. Wina mengis terisak isak membaca setiap narasi yang menggambarkan suasana hati ibu Tejo. Sudah bisa ditebak. Para hadirin yang menonton lomba itu, termasuk juri ikut berlinang air mata.  Wina juara 1.

Tamat SMP kami berpisah. Karena SMA kami berbeda. Kalau ada waktu senggang Wina pergi ke pasar bersama orang tuanya, dia sempatkan mampir ke tempat aku jualan kaki lima di pojok pasar. Dia menyapaku. Memang pulang sekolah aku dagang untuk biaya sekolah. Tamat SMA, aku pergi merantau. Kami tidak lagi berkomunikasi. 

***
Tanpa disadari kadang kita terjebak dengan emosi bukan karena kita melihat, tetapi bisa juga yang tidak terlihat. Namun ia selalu hadir dalam pikiran kita lewat tulisan dan pesan. Itulah dunia maya, yang tahun 2000a era yahoo messenger dan MSN, membuat dunia menjadi sangat dekat tanpa batas. Sebagaimana perkenalanku lewat yahoo messenger dengan seorang wanita. Belakangan aku tahu dia bekerja sebagai TKW di Hong Kong. Kalaulah dia hanya PM untuk omong kosong pasti aku reject.  Yang membuat aku tertarik, wawasannya luas. Terbukti dalam diskusi dia bisa memahami hal yang rumit dan mengimbangi ku sebagai trader pasar uang. Namanyapun di Yahoo messenger bukan nama alias. Tetapi nama asli. Rere Astuti. Itu tahun 2006.

Setiap malam dia PM saya terlebih dahulu, dan selalu diawali dengan ucapan Assalamualaikum, dan tak lupa, “ Bapak sibuk? Kalau aku tidak jawab, dia sabar menanti. Dia akan signed out bila aku juga signed out. Tetapi dia tahu, yahoo messenger ku tetap nyala sampai dini hari. Usai rehat bursa, aku sempatkan chating santai. Kadang menarik, dan tulisanku sangat cepat. Dia membalas dengan kesan yang memang dia memahami apa yang aku bicarakan. Begitulah perkenalan lewat dunia maya itu berlangsung setengah tahun. Kami tidak pernah tertarik untuk saling bertemu. 

Suatu saat yang tak pernah aku lupa dia mengatakan dalam chat " saya ingin merubah nasip saya. Tadinya saya berpikir dengan bekerja di luar negeri bisa mengubah nasip saya. Tapi kini saya yakin sekembali dari hong kong , nasib saya tidak akan berubah. Saya ingin dekat denga ibu dan anak saya" 

“ Hidup ini soal pilihan dan setiap pilihan tidak ada yang sempurna. Masalahnya bisakah kita berdamai dengan ketidak sempurnaan itu.”

“ Benar pak. Kuncinya adalah  sabar dan sholat” 

“ Kamu masih muda, masih banyak pilihan, teruslah berimprovisasi untuk yang terbaik bagi hidup kamu, passion kamu” 

“Saya punya obsesi , mau buka usaha kuliner lewat produksi. Saya pintar masak kue. Dan saya ingin buat kue yang laris di hong kong dengan kreasi tersendiri, dan mungkin lebih enak. Tapi gaya menagement nya akan saya tiru Hong Kong.  Cake itu akan jadi penganan bukan sekedar makan tetapi gaya, dan ciri khas kotaku. Tapi saya engga ada modal untuk memulai. Gaji sebagai TKW habis untuk biaya anak dan orang tuaku di kampung. Mungkinkah bapak bisa kasih saya pinjaman modal.” Katanya lewat Chat.

Kesimpulannya dia butuh bantuan permodalan untuk membuka usaha yang dia yakini bisa mengubah nasipnya. Karena dia sangat yakin akan keahliannya,yang selama ini tidak dimanfaatkan. Dia tidak mau membuang umurnya hanya sebagai ART. Bila pulang ke tanah air tidak ingin kembali ke Hong Kong. Aku tidak menanggapi dengan memberikan solusi tapi berharap dia bersabar untuk menjalani hidup ini. Setelah dialogh itu, setiap hari dia PM aku.  Namun aku jawab sehari setelahnya atau kadang aku jawab rapel di hari minggu dengan jawaban singkat. Keadaan ini terus berlangsung sampai akhirnya dia pulang ke indonesia.

Suatu saat aku makan malam dengan relasi dari korea dan China. Malam itu aku membayar bill HKD 35,000. Entah mengapa aku teringat dengan dia. Dia hanya butuh uang sebanyak bill yang aku bayar itu, dan itu bisa mengubah impian jadi realita. Sementara bagiku uang sebanyak itu hanya habis tiga jam dalam kebersamaan dengan relasi. Hidup memang tidak adil, tetapi aku tidak ingin menjadi bagian dari ketidak adilan. Setidaknya aku harus mulai peduli, walau itu tidak rasional dalam kacamata bisnis. 

" walau bapak tidak pernah bertemu dengan saya..saya doakan bapak agar sehat selalu dan dimudahkan rezekinya sehingga saya punya harapan walau harapan itu tipis sekali namun saya tetap berprasangka baik bahwa Allah akan mudahkan saya..” Saya membayangkan. Kalaulah dia berniat ingin memperdayaku, tidak mungkin dia bisa bertahan hampir setahun dalam pengharapan.  Obsesinya menembuh batas rasional untuk tak henti berharap satu langkah pasti yang akan memberinya kesempatan lebih baik, menjadi lebih baik.

Sesampai di kamar, di depan komputer nampak tanda kedap kedip. Ternyata PM dari dia. Selalu dia awali dengan assalamualaikum. Apakah bapak sehat ? Langsung aku tanya nomor rekeningnya bahwa aku akan bantu proposal dia. Aku tidak perlu penjelasan lagi karena sudah cukup hampir setahun aku mendengar alasan dari dia.  Keesokan paginya saya kirim uang ke rekeningnya. 

Sempat aku berkata kepada diri sendiri " mungkin saya bodoh memberi uang kepada orang yang saya kenal hanya di dunia maya. Tapi saya tetap berprasangka baik bahwa dia memang membutuhkan bantuan dari saya dan Tuhan menggiringnya kepada saya karena doanya siang dan malam..”

Malamnya dia PM dengan ucapan terimakasih dan berjanji akan mengembalikan uang itu secepatnya. Dia dan  anaknya akan berdoa untuk kebaikanku. Setelah itu PM nya sudah tidak pernah lagi muncul di sudut komputerku. Walau terbersit rasa curiga namun aku tetap yakin aku berbuat baik karena Tuhan, cukuplah Tuhan tempat kembali semua perbuatan..

***
Tahun 2009 aku dapat email dari dia bahwa dia ingin bertemu langsung denganku. Dia datang ke Hongkong khusus untuk bertemu dengan ku. Aku balas emailnya. “ Saya undang kamu makan malam. Saya pesan tempat di restoran kawasan East Tsim Sha Sui, Kowloon karena tidak jauh dari apartment saya. Mungkin saya datang agak telat, tapi kamu tunggu saja. Cukup menyebutkan nama saya, petugas kafe akan menyediakan table untuk kamu. Karena saya sudah booking. “ jawabku dalam email. 

Ketika mau masuk restoran, di lobi aku melihat wanita sedang bermain dengan Balita. Aku tidak bisa lupa wajah wanita itu. 
“ Wina…” Seruku. 
Wanita itu menoleh ke arahku. “Ale..” teriak dalam keterkejutan. 
“ Benarkah elo le ? Ale…ale..” katanya seraya memelukku.
“ Ya gua, Win. Lu sehat ya “ 
“ Gua sehat. Lu engga berubah, Ale…” Katanya seraya menyentuh kedua pipiku. 
“ Ada apa kamu ke Hong Kong ? tanyaku.
“ Aku temanin anakku, sekalian jaga cucuku. Katanya dia mau meeting dengan relasinya.” 
“ Oh ya..Jadi kamu udah punya cucu ?
“ Ya. “ katanya tersenyum cerah.
“ Kamu ?
“ Belum” kataku. 
“ Udah berapa anak ?
“ Dua.  Suami lu gimana ?
“ Kami sudah bercerai sudah lama sekali. Gua single parent. Sekarang gua jadi momong cucu aja” Kata Wina.
“ Ya udah. Nanti kita sambung lagi ya bicaranya. Gua ketemu dengan tamu gua dulu. Hanya 15 menit. Jangan kemana mana.” kataku. Wina mengangguk.

Ketika aku masuk kafe, aku menyebut table atas namaku. Pelayan mengantarku ke table, yang sudah ada wanita duduk.  Cantik dan sangat ramah.
“ Pak Ale ya ?
“ Ya. “
Lama dia menatapku, dan akhirnya airmatanya berlinang. 
“ Ternyata inilah malaikatku. Terimakasih pak. Terimakasih. “ Katanya. Dengan airmata berinang dia bercerita bahwa nasipnya berubah berkat modal yang aku beri. Kini dia punya karyawan 8 orang. Dia juga meminta maaf karena lama tidak lagi berkomunikasi denganku namun doanya selalu ada untuk-ku.  Ketika dia mengembalikan uang yang pernah dia pinjam, aku menolak halus. Aku berharap dia bisa mengembangkan usahanya.   Sejenak kemudian, aku meliat matanya tertuju ke arah pintu masuk.  Nampak dia  melambaikan tangannya. “ Pak saya ingin kenalkan ibu dan anak saya.” katanya. 

Ketika aku menoleh kebelakang, nampak Wina melangkah ke arah kami bersama Balita. 
“ Itu ibu dan anak kamu?
“ Ya. “ Katanya.
“ Loh, Re, ini loh relasi kamu ? Kata Wina ketika sudab sampai di table
“ Ya Ma.” Wina dan putrinya saling pandang beberapa detik.
“ Berkat pak Ale yang bantu ma, sehingga aku tidak perlu lagi kembali ke Hong Kong jadi TKW, dan waktuku lebih banyak bersama mama dan anak ku.”  Kata putrinya.
“ Ale…?? ” Wina menatapku lama. Aku menanti suasana hatinya dalam keterkejutan mereda “ Lue ingat aja ya soal cerpen keriduan ibu Tejo ya. “katanya memukul lembut dadaku. Wina menangis. Aku memeluknya seraya tersenyum kepada putrinya. “ Ya dan kamu membacakannya dengan sangat luar biasa, ya kan Win.”
“ Terimakasih Ale, udah mengembalikan ReRe kepadaku, dan aku tidak perlu mengkawatirkan lagi ReRe karena sekarang kami selalu bersama. Berkat kamu, aku tidak sampai bernasip sama dengan ibu Tejo, kan.” katanya tersenyum. 
“ Siapa Tejo Ma. “ Tanya putrinya bingung.
Aku dan Wina hanya tersenyum” Engga perlu kamu tahu. Itu kisah lama, kisa waktu masih SMP. Masih jadi monyet" Kata Wina ***

Selamat tinggal Ben,...

Hidup, barangkali, memang seperti orang melukis dan kenangan. Sebelum toresan kuas di atas kanvas terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi, benarkah ini memang lukisan terkakhir, jika Weni sebenarnya tahu masih bisa ada lukisan lain dan lainnya. Itulah yang menggelisahkannya, karena ia tahu segalanya tak pernah lagi sama. Setiap detik adalah proses evolusi. Itu karena Tuhan mendesign semesta ini dari sebuah kreatifitas yang maha Agung. 

“ Semesta ini hasil kreatifitas Tuhan, Wen”  Beni mengatakan seperti itu. Dia terkejut. “ Bukankah segala sesuatu Tuhan yang ciptakan? 

Namun, Beni dengan bijak menjelaskan “ dalam prosesnya terjadi inovasi terus menerus, dan itu dilakukan oleh alam sendiri, bukan oleh Tuhan. Bingungkan?. 

Dia mengangguk.

“ Jangan buru buru saya dicap mengecilkan Tuhan. Tuhan itu Maha Agung. Ini hanya soal Persepsi. Pesepsi ini penting untuk diluruskan agar kita bisa menjadi bagian dari alam semesta ini untuk menjadi sebaik baiknya kreatifitas Tuhan. Untuk lebih jelasnya, kita pahami dulu apa itu kreatifitas dan apa itu inovasi.  Kreatifitas adalah ide yang bersifat imajiner. Artinya masih berupa rumus, namun tidak bisa diukur. Yang tahu mengapa ide itu datang dan apa tujuannya, ya hanya sang kreator yang paham. Sementara inovasi datang dari adanya kreatifitas itu dan bisa terukur. Inovasi adalah buah penciptaan manusia, ia wilayah Alam.

Masih bingung? Contoh ilmu gerak dari adanya energi listrik. Itu kreatifitas. Namun kalau karena adanya listrik,  lantas tercipta beragam benda modern. Itu adalah buah dari inovasi yang terus berkembang secara evolusi dari waktu ke waktu. Stephan Hawking, pernah mengatakan"Saat orang bertanya apakah Tuhan menciptakan alam semesta, saya mengatakan bahwa pertanyaan itu tak masuk akal. Waktu tak eksis sebelum big bang, jadi tak ada waktu bagi Tuhan untuk menciptakan semesta.” Kreatifitas Tuhan adalah hukum alam atau sunnatullah. Dengan adanya hukum alam seperti gravitasi, alam semesta bisa mencipta dirinya sendiri. Itu proses inovasi yang terus menerus sebagai bagian dari proses fisika. 

Jadi jangan tersinggung. Dengan memahami antara kreatifitas dan proses inovasi, maka kita bisa mengetahui dengan pasti mana wilayah Tuhan dan mana wilayah kita sebagai manusia, yang merupakan bagian dari semesta. Dengan begitu kita akan mengetahui jalan pikiran Tuhan. Apa jalan pikiran Tuhan? Sistem yang teratur dan tertip seakan semua berjalan diatas fungsinya masing masing seperti kalau kita melihat sekawanan burung terbang membentuk formasi indah di angkasa. Siapa yang mengatur formasi burung itu terbang? Itulah sistem dan itulah buah dari keteraturan. Sama seperti hubungan antar manusia, antar makhluk. Pernikahan itu adalah proses inovasi, tetapi mencintai adalah sunantullah. Mencintai itu manusiawi, tetapi pernikahan adalah penyerahan diri terhadap buah kreatifitas Tuhan.

Tuhan menjamin semua makhluk mendapatkan rezeki. Itu sunatullah. Tetapi Tuhan tidak mengirim makanan ke sangkar burung. Burung harus terbang menggunakan sayapnya agar dapat menjangkau makanannya. Tuhan tidak mengirim uang ke ATM anda, tetapi Tuhan memberikan akal dan tenaga agar anda bisa mendatangkan uang ke ATM. Itu sunatulllah. Jadi engga mungkin hanya berzikir dan berdoa tanpa akal dan tenaga rezeki datang begitu saja. 

Mengapa orang harus bekerja dan menggunakan akalnya ? Pekerjaan memberimu arti dan tujuan, hidup tak akan berarti tanpanya. Tetapi bukankah bekerja penuh kelelahan dan resiko?. Benar. Dengan kelelahan dan resiko itu, anda bisa tahu arti sebuah proses, dan karenanya tentu paham arti bersyukur dan mencintai. Dengan syukur dan cinta, anda tidak lagi melihat keujung kaki anda tetapi melihat ke Bintang, melihat ke Tuhan. Makanya semakin maju peradaban suatu bangsa semakin tinggi nilai spiritualnya dan semakin dekat dia ke Tuhan.

Kadang kalau ingat pembicaraan itu, membuat Weni semakin kagum akan Ben. Kesukaan kepada pria yang realisitis dan cerdas memang lumrah bagi kebanyakan wanita. Dulu, ketika dia masih mengenakan seragam putih abu-abu. Saat senyumnya masih seranum mangga muda. Dengan rambut tergerai hingga di atas buah dada. Saat itu Beni yakin: ia tak mungkin bisa bahagia tanpa Weni. ”Aku akan selalu mencintaimu, kekasihku….” Kata-kata itu kini terasa lebih sendu dari lagu yang dilantunkan penyanyi itu. I just called to say I love you….

Tapi mengapa bukan sendu lagu itu yang Beni katakan dulu? Ketika segala kemungkinan masih berpintu? Mestinya saat itu Beni tak membiarkan Weni pergi. Waktu bisa mengubah dunia, tetapi waktu tak bisa mengubah perasaannya. Kenangannya. Itulah yang membuatnya selalu kembali ke kafe dimana mereka terakhir bertemu. Kafe yang seungguhnya telah banyak berubah. Meja dan kursinya tak lagi sama. Tetapi, segalanya masih terasa sama dalam kenangannya. Ya, selalu ke kafe ini ia kembali. Untuk gelas soda ketiga yang bisa menjadi keempat dan kelima. Seperti malam-malam kemarin, barangkali gelas soda ini pun hanya akan menjadi gelas soda yang sia-sia jika yang ditunggu tidak juga tiba.

”Besok kita ketemu, di kafe kita dulu….” Kata Beni
Weni tak percaya bahwa Ben akhirnya meneleponnya.
”Kok diam….”
”Hmmm.”
”Bisa kita ketemu?”
”Ya.”
”Tunggu aku,” Beni terdengar berharap. ”Meski aku tak yakin bisa menemuimu.”

Tiba-tiba saja Weni berharap kali ini takdir sedikit berbaik hati padanya: semoga saja suaminya mendadak kena ayan atau terserang amnesia, hingga Beni yang masih dicintainya itu tak merasa cemas menemuinya. Menemui? Apakah arti kata ini? Yang sangat sederhana, menemui adalah berjumpa. Tapi untuk apa? Hanya untuk sebuah kenangan, atau adakah yang masih berharga dari narasi masa lalu itu? Masa yang harusnya mereka jangkau dulu. Dulu, ketika Weni masih remaja. Saat senyumnya masih seranum mangga muda. Dengan rambut tergerai hingga di atas dada. Ketika ia yakin, ia tak mungkin bahagia tanpa diri Beni.

Ah, Weni jadi teringat pada percakapan-percakapan itu. Percakapan di antara rasa gemetar dan malu-malu.

“ Kita bertemu, dan kita tentu masing masing punya masa lalu. Tetapi ketika menikah nanti, kita akan menjadi produk masa depan. Yang lalu hanya tinggal catatan. “ kata Weni.

“ Maukah kamu berdamai dengan kenyataan, bahwa proses masa depan itu belum tentu seperti kamu mau. Karena kita tidak hidup dalam dimensi pikiran kita, tetapi dalam dimensi pikiran Tuhan. Memahami itu,  kita dipaksa bersabar akan sebuah proses yang terus berlanjut sepanjang usia. “ Ben menimpali.

“ Bukankah Tuhan berkata, sabarlah dan sholatlah? Sabar lebih dulu dipahami sebelum kita diharuskan melaksanakan Sholat”  Kata Weni.

” Ya sabar itu semudah mengucapkan, namun tidak banyak orang menyadari bahwa sabar itu adalah kepatuhan akan sebuah proses sunatullah. Kadang orang percaya kepada Tuhan, tapi tidak percaya kepada hukum ketetapan Allah. Naif sekali ya Wen.”

“ Kadang sunatullah, itu menghadapkan orang dengan dilema. Baik menurut akal tetapi tidak sesuai dengan kehendak hati. Sesuai dengan kehendak hati, tetapi tidak sesuai menurut akal.” Weni tersenyum, karena dia sendiri tidak akan pernah bisa memahami kalau dilema itu terjadi.

“ Dan karena itu, manusia harus memilih. “ Kata Ben cepat.

Weni mengangguk. “ Dan tidak ada satupun pilihan yang sempurna.“ 

Aku selalu membayangkan, apapun pilihan, kamu akan tetap yang utama” Kata Ben. Ben tersenyum, kemudian mencium Weni pelan. 

”Tapi bukankah kamu mengatakan kita hidup dalam dimensi pikiran Tuhan, bukan pikiran kita .” Kata Weni.

”Hahaha,” Ben tertawa renyah. ”Benar, tetapi Tuhan maha pengasih lagi penyayang, dimensi pikiranNya akan sama seperti dimensi pikiran kita” 

”Lalu apa yang akan kamu lakukan bila pikiran kamu tidak seperti pikiran Tuhan?

”Aku akan protes kepada Tuhan.”

Weni tertawa. Dadanya yang membusung terguncang. Memang lucu, apalagi melihat Ben nampak lugu ketika dia merasa tidak berdaya. Dada yang kini tetap membusung walau sudah dua anak menyusuinya. Dada yang masih Ben rindu. Dada yang sarat kenangan. Dada yang akan terlihat mengilap diterpa sinar bulan.

”Aku akan protes kepada Tuhan….” Weni masih ingat keluguan Ben. Ia selalu membayangkan itu. Sampai kini pun masih terus membayangkannya. Itulah yang membuatnya masih betah menunggu meski gelas soda ketiga sudah tandas. Selalu terasa menyenangkan membayangkan Ben tiba-tiba muncul di pintu kafe, membuat Weni selalu betah menunggu meski penyanyi itu telah terdengar membosankan menyanyikan lagu-lagu yang ia pesan.

Weni hendak melambai pada pelayan kafe, ingin kembali memesan segelas bir, ketika dilihatnya wajah Ben ada dimana mana. Kemudian bayangan itu bergerak ke sekitar panggung. Di sekitar kafe yang ingar bingar namun terasa murung. Murung menapak geliat lidah pada tiap jeda tubuhnya. Murung mengharap tiap geliat di liat tubuhnya mengada. Lagi. Di sini. Menjadi nanti.

Adakah itu hanya belaka imajinasinya? Penyanyi terus menyanyi dengan suara yang bagai muncul dari kehampaan. Gelas birnya sudah tidak berbusa. Hanya kuning yang diam.  Kuning di gelas birnya mati. Sementara kuning di luar birnya gemerlapan. Hidup. Ia jadi teringat pada percakapan mereka dulu. Dua hari sebelum dia memilih hidupnya sendiri. Setelah 5 tahun  dalam kebersamaan.

”Aku menyukai Bir seperti aku menyukai kehidupan” Weni berkata, setelah kebersamaan yang panjang. ”Warna bir selalu mengingatkanku pada cahaya. Dan cahaya selalu mengingatkanku kepadamu.”
”Kenapa?”
”Karena di dalam matamu seperti ada energi cahaya yang besar. Aku selalu membayangkan ribuan watt cahaya itu berhamburan keluar dari matamu setiap kau merindukanku.”
”Tapi aku tak pernah merindukanmu.”  Ben tersenyum.
”Bohong….”Weni menyentak.
”Aku tak pernah membohongimu. Kamu yang selalu membohongiku.”

Weni memandang nanar. Seolah tidak yakin apa yang ia dengar salah atau benar. Bohong baginya adalah dusta yang direncanakan. Sementara apa yang ia lakukan adalah pilihan. Dan pilihan hanyalah satu logika yang terpaksa harus diseragamkan. Oleh banyak orang. Olehnya….

”Tidak. Aku tidak bohong.” Weni menegaskan.

”Semakin kau bilang kalau kau tidak bohong, semakin aku tahu kalau kamu berbohong.” Ben tersenyum hambar.

Weni tak menjawab. Tapi bergegas memeluk Ben. Begitulah selalu, bila ia merasa bersalah karena telah membohongi Ben. Seolah pelukan bisa menyembunyikan kebohongannya. Tapi ia tak bohong kalau ia bilang mencintai Ben. Ia hanya selalu merasa gugup setiap kali nada suaranya terdengar mulai mendesaknya. Karena Ben tahu, pada akhirnya, setelah percakapan, Weni pasti akan bertanya: ”Apakah kau akan menikahiku?”

Ben menyukai. Tapi, sungguh, ia tak pernah yakin apakah ia menyukai pernikahan. Kemudian ia berteka-teki: ” Mencintai adalah sunatullah, tetapi menikah adalah proses inovasi agar manusia berevolusi, dan berbiak. Itu buah kreatifitas Tuhan, yang  mana proses penciptaannya melibatkan peran manusia. Tentu ada pilihan dari sekedar mencintai. ?” 

Weni menggelengkan kepala. Tak mengerti! Seperti ia tak pernah meminta perpisahan yang getir.
”Aku mencintaimu, tapi rasanya aku tak mungkin bahagia bila menikah denganmu….” Kata Ben suatu waktu.

Hidup pada akhirnya memang pilihan masing-masing. Kesunyian masing-masing. Sama seperti kematian. Semua akan mati karena itulah hukuman yang sejak lahir sudah manusia emban. Tapi manusia tetap bisa memilih cara untuk mati. Dengan cara wajar ataupun bunuh diri. Dengan usia atau cinta. Dengan kalah atau menang?

”Aku memilih menikah dengannya, karena aku tahu, hidup akan menjadi lebih mudah dan gampang ketimbang aku menikah denganmu.” Itulah yang diucapkan Ben dulu, di kafe ini, saat mereka terakhir bertemu.

”Jangan hubungi aku!” kata Ben. Lalu dia mencium Weni. Lama. Bagi Weni, itu pasti terjadi. Ben telah menentukan pilihan. Barangkali, segalanya akan menjadi mudah bila saat itu diakhiri dengan pertengkaran seperti kisah dalam sinetron murahan. Misal: dia menamparnya sebelum pergi. Memaki-maki, ”Kamu memang laki-laki bajingan!” Atau kata-kata sejenis yang penuh kemarahan. Bukan sebuah ciuman yang tak mungkin ia lupakan.

Kemudian, pada saat Ben tahu, bahwa pada akhirnya Weni, perempuan yang paling ia cintai itu menentukan pilihan menikah dengan pria bukan dirinya, pada saat itulah ia menyadari ia tak menang. Pada saat itulah ia berharap… dia tergeragap bangun, memandang ke arah istrinya tertidur pulas disampingnya. Tetapi semua sudah terlambat. 

Dan kini, seperti malam-malam kemarin, Weni ada di kafe kenangan ini. Kafe yang harum bir. Kafe yang mengantarkannya pada sebuah ciuman panjang di bibir. Kafe yang selalu membuatnya meneguk kenangan. Hidup, barangkali, memang seperti segelas Bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima? Ini gelas bir keenam!

Dan ia masih menunggu. Ia melirik ke arah penyanyi itu, yang masih saja menyanyi dengan suara sendu. Ia melihat pelayan itu sudah setengah mengantuk. Tinggal ia seorang di kafe. Barangkali, bila ia bukan pelanggan yang setiap malam berkunjung, pasti pelayan itu sudah mengusirnya dengan halus. Sudah malam, sudah tak ada lagi waktu buat meneguk kenangan.

Pada gelas kedelapan, akhirnya ia bangkit, lalu memanggil pelayan dan membayar harga delapan gelas kenangan yang sudah direguknya habis. Ya, malam pun hampir habis. Sudah tak ada waktu lagi buat kenangan. Sudah tidak ada kenangan dalam gelas bir kedelapan. Setiap kenangan, pada akhirnya punya akhir bukan? Inilah terakhir kali aku ke kafe ini, batinnya. Besok aku tak akan kembali. Kemudian ia beranjak pergi.
***

Malam makin mengendap. Tamu terakhir sudah pergi. Diam dan setengah mengantuk, para pelayan kafe membereskan kursi. Bartender merapikan gelas-gelas yang bergelantungan. Sebentar lagi penjaga malam akan menutup pintu. Pada saat itulah dia sangat mencintai suaminya. Ini kali dia merasakan cinta dan syukur sekaligus. Ben memang mencintainya tetapi Ben, bukan bagian dari kreatifitas Tuhan untuk dia berevolusi dan berbiak.  Mencintai adalah sunatullah, tetapi menikah adalah kerendahan hati menerima proses kreatifitas Tuhan. Selamat tinggal Ben. 

Nuri...

Tahun 1999
Di jalan Mh Thamrin , tepatnya di gedung Sarinah. Ketika itu jam 2 dini hari. Saya baru saja usai mengajak tamu asing makan di restoran Mc Donald. Ketika akan sampai dipelataran parkir nampak di luar pagar ada gadis kecil ( mungkin usianya tak lebih 9 tahun ) sedang ditarik tangannya secara paksa oleh pria perkasa. Saya tertegun melihat pemandangan ini. Karena gadis kecil itu dua kali terjatuh ketika berusaha melepaskan diri dari pagutan pria perkasa. Di belakangnya ada seorang wanita dewasa memandangi keadaan itu dengan tatapan kosong. Tak banyak orang yang melihat peristiwa itu. Tamu saya langsung beraksi untuk memberikan pertolongan kepada wanita itu. Sayapun secara replek membantu.

“ Ada apa ini ?“ Kata saya
“ Lo jangan ikut campur !! “ teriak pria berorot itu dengan muka garang. Sementara gadis kecil itu terus berontak tapi tidak ada air mata kecuali matanya memancarkan rasa takut teramat sangat. Naluri kemanusiaan saya bangkit “ Anda tidak lepaskan, anda harus berhadapan dengan kami “ kata saya sambil memandang tamu saya. Karena tamu saya bertubuh besar, membuat sedikit nyali pria itu mengendur. Kesempatan ini saya gunakan untuk menarik gadis kecil itu. Pria itu langsung berjalan menjauhi kami dengan tatapan penuh amarah .

Gadis kecil itu menatap saya dengan tatapan kosong penuh takut sambil melirik kearah pria itu berlalu dari hadapannya.
“ Terimakasih Pak..” Kata wanita dewasa yang segera menarik gadis kecil itu dari saya “ Itu tadi preman jalanan. Dia memang sering datang kemari untuk meminta uang kepada kami yang mangkal di sini. Minggu lalu saya tak bisa kasih uang tapi anak saya dibawanya pergi. Saya tidak tahu apa yang dilakukan pria itu tapi setelah itu anak saya sangat tekut bila bertemu pria itu”
“ Ini anak Ibu ?“
“ ya pak..
“ Dimana suami ibu ?
“ Di senen pak.. “

Setelah berpikir sejenak akhirnya saya memutuskan untuk mengantarnya kepada suaminya “ Tidak usah pak. Kami tidak punya rumah. Saya dan suami saya tidak tentu dimana harus tidur. Kami hidup di jalanan. Saya pemulung dan anak saya mengamen, juga suami saya pemulung “

Saya terhenyak. Di depan saya ada dua orang wanita. Lemah dan teramat lemah. Anaknya adalah generasi masa depan bangsa dan orang tuanya adalah generasi yang gagal dimanusiakan oleh negara. Akankah kelak , nasip anaknya akan sama dengan orang tuannya. Tak banyak yang dapat saya katakan untuk membantunya kecuali berdoa dan memberi sedikit uang untuk dia bertahan, entah sampai kapan.

Ketika saya keluar dari pelataran parkir, saya melihat gadis kecil itu kembali dalam keadaan yang sama. Berusaha melepaskan diri dari cengkaraman wanita dewasa itu. Tapi kini dia meraung. Sayapun mengarahkan kendaraan kearah mereka. Ketika saya turun, wanita dewasa itu berlari meninggalkan gadis kecil itu sendirian. Nampak gadis kecil itu terduduk di jalan setengah membungkuk. Betapa terkejutnya saya , tangan gadis kecil itu berdarah. Segera saya gendong gadis kcil itu ke dalam kendaraan untuk membawanya kerumah sakit. Didalam kendaraan gadis kecil itu badannya menggigil dikecam rasa takut. Matanya meredup dan tubuhnya menyender kejok kendaraan. Tamu saya menatap dengan air mata berlinang..

‘ Kenapa kamu tidak mau ikut dengan ibumu ? tanya saya dengan lembut kepada gadis kecil ini.
“ Dia bukan ibu saya..bukan…” Katanya lirih. Saya terhentak. Bagaimana mungkin seorang ibu yang dapat berkata begitu manisnya untuk dipercaya sebagai pelindung tapi ternyata tak lebih rubah yang juga pemangsa manusia yang lemah. Tak ada bedanya pria dewasa yang berbadan kokoh tadi.
“ jadi ..ibu kamu dimana , nak “
‘ Saya tidak tahu…”

Kembali saya terhenyak. Anak seusia ini harus menanggung kerasnya kehidupan disebuah negeri yang akrab dengan musim semi, yang di kelilingi oleh kekayaan alam melimpah, yang berbudaya dalam didikan agama samawi. Akankah anak ini mengerti semua apa yang ada disekelilingnya. Akankah …bila setiap hari keamanannya terancam oleh wajah wajah bertopeng malaikat namun berhati iblis. Kemana dia harus berlindung dan siapakah yang harus bertanggung jawab dengan ini semua. Ada lebih 300.000 anak jalan seperti ini di Jakarta. Nasipnya mereka tak jauh beda. Terancam dan terexplotaisi oleh orang orang dewasa yang perkasa…

Sepulang dari Rumah sakit, anak ini baru kami ketahui nama lengkapnya adalah NURI. Tiga hari di opname anak ini sehat kembali. Tamu saya berkebangsaan Amerika berbulat hati untuk mengadobsi anak ini.

Tahun 2009
Di Bandara , di terminal kedatangan saya lihat dari kejauhan nampak Tom berjalan kearah saya. Di sampingnya nampak istrinya dengan dua orang gadis belia. Dua duanya adalah wanita. Namun satu berkulit coklat dan satunya lagi berkulit putih. Yang berkulit coklat berlari kencang kearah saya “ I miss you so much..uncle..” sambil memeluk saya erat . Nampak Tom tersenyum dan istrinya menatap haru. Memang sejak Nuri tinggal bersama Tom, kami sering video call lewat skype.  Nuri selalu ikut dalam video call tersebut.

“ Nur , diterima di Harvard. Dia cerdas sekali. Selalu rangking terbaik di sekolah.” Kata Tom.
“ Ketika kami menanyakan hadiah apa yang dia inginkan atas diterimanya di Harvard, maka dia memilih untuk mengunjugin Jakarta. “ Kata istri Tom.
“ Kamu cinta Indonesia, sayang “ tanyaku sambil tersenyum
“ Ya Om” Nur berkata dengan mata memerah seakan menahan tangis. Dia mungkin merindukan teman temannya yang entah bagaimana nasip mereka. 

***
Mengingat Nur mengingatkan saya kepada anak anak terlantar di jalanan yang kini menurut data 2019, masih ada 12.000 anak terlantar yang tinggal di jalanan. Mereka korban dari orang tua yang gagal. Tetapi jauh lebih gagal negara dalam menjaga mereka. Mengapa Negara lebih pedui kepada anak Ex ISIS yang dididik untuk menjadi monster, sementara anak jalanan tidak terpikirkan seperti negara memikirkan anak anak ex kombatan ISIS. Ketika cinta by conditional, maka politik pun menampilkan drama kepedulian kepada anak, dan itu anak Ex Kombatan ISIS. Sikap hipokrit politik memang menyedihkan.

Kemanusiaan
Aku duduk di ruang tunggu menjelang boarding di Bandara Soekarno-Hatta ketika waktu hampir melewati tengah malam. Tiba-tiba saja aku menyesali kenapa terlalu cepat tiba di situ. Seharusnya aku buang waktu dulu di koridor sambil melongok apa saja yang bisa kulihat. Ketika kuingat tak satu pun toko-toko di situ yang masih buka ketika aku lewat tadi, aku merasa benar sudah duduk di situ. Ya, tengah malam, banyak orang yang sudah terlelap. Akhirnya kutelan juga kegelisahan sambil melahap berita malam di pesawat TV, siapa tahu ada berita yang menjelaskan apa yang terjadi.
Aku sebenarnya tak menangkap benar apa yang diberitakan meski mataku terpaku ke layar kaca. Yang kulihat adalah acara TVone, wajah tua dan suara serak serak basah Pak Karni. Kadang aku tersenyum mendengar perdebatan omong kosong itu. Pak Karni memang sengaja merancang acara untuk ajang debat omong kosong, dan tentu menarik bagi orang yang otaknya sebesar kacang mede. Tetapi setidaknya dari acara TVone itu, aku bisa tahu betapa menyedihkan pemikiran kaum intoleran karena  pengaruh fundamentalis agama. Mengapa aku bilang menyedihkan. Karena di zaman di mana orang berbaur tanpa disekat SARA, eh ini ada orang terbelenggu kebebasannya berpikir karena dokrin politisasi agama. Tidak ada kemerdekaan yang asasi kecuali kebebasan berpikir. Mereka yang terbelenggu pemikirannya itu, mereka belum merdeka dalam arti sesungguhnya
Tiba-tiba seorang ibu melintas di hadapanku. Ia membungkuk sedikit untuk meminta izin lewat di hadapanku karena kakiku yang selonjor menghalangi jalan. Ia duduk terhalang satu kursi di samping kiri tempat dudukku. Aku meliriknya: seorang wanita etnis Tionghoa. Walau usianya bukan muda lagi, tetapi, kencantikannya memang oke punya. Tubuhnya langsing, indah. Tak kuteruskan mereka-reka bagaimana masa remajanya. 
Sesudah itu segerombolan orang tiba. Mereka begitu membeludak bak air bah, seolah-olah mereka tadi tertahan di pintu gerbang, lalu barusan seorang petugas memberi jalan. Berbagai bahasa terdengar tak kupahami. Hanya aku dan beberapa orang saja yang orang Indonesia. Kebanyakan orang china yang mau pulang kampung. Mereka menyebar dan mencari tempat duduk. Memang tujuanku adalah Beijing.
Seorang balita mendadak berlari ke depan dan melintas di hadapanku. Lalu mengamati apa saja yang dia suka. Ibunya membiarkannya. Ia tak terlalu sipit. China. Laki-laki. Si wanita di sampingku meliriknya. Ia tampak gemas kepada anak itu. Aku menangkap senyum wanita itu. Ia mencari sesuatu di tasnya, mengeluarkan handphone-nya, lalu memencet serangkaian nomor.
“Anita, Ibu membangunkanmu, ya?” Bahasa Indonesianya membuat aku meliriknya. “Ibu meneleponmu karena ingat Ivan. Dia sudah tidur?” Terdiam sebentar. Aku yakin ia sedang mendengar sahutan dari seberang.
“Di sini ada anak sebesar Ivan, besarnya sama dan mirip banget wajahnya. Dia di hadapan Ibu sekarang. Makanya Ibu jadi ingat Ivan,” katanya lagi.
Ia mendengar sahutan lagi dari seberang.
“Ibu lagi di ruang tunggu, sebentar lagi boarding. Sudah, ya!”
Ia mengemasi telepon selulernya. Aku melihat dengan sudut mata ia memasukkan handphone-nya ke dalam tas tangan. Wanita ini tak membawa tas besar. Aku yakin bawaannya sudah masuk bagasi pesawat.
Aku pindah duduk ke samping kiri hingga tepat berada di sebelah kanannya.
“Saya pikir ibu orang China. Maaf tadi saya menguping.”
Aku tak menyangka kalau dia tak terkejut.
“Saya bicara dengan anak saya. Melihat anak itu jadi ingat cucu,” ujarnya dengan tata bahasa yang bagus sambil menunjuk anak kecil dengan lirikan matanya. Senyumnya mengalir tulus.
“Usia berapa?”
“Sebesar itu, dua tahun.”
“Sedang lucu-lucunya.”
“Ya.”
“Tinggal di mana ?”
“Jakarta. Bilangan PIK”
“Kapan terakhir ke Beijing?”
“Sudah lama sekali. Saya sudah sulit membayangkannya. Terakhir waktu bulan madu kedua pernikahan kami."
“ Ada apa ke Beijing ?
“ Lihat anak saya yang bungsu kuliah di sana. Tadi papanya yang sering liat, tetapi sejak tahun lalu, papanya meninggal. Saya harus menjenguknya kalau kangen. Anda ?” Katanya.
“Hanya bisnis trip. ”
“Hanya ke Beiing?”
“Tidak. Dari Beijing langsung ke Hong Kong. “
“ Oh. Saya lagi bingung.”
“ Kenapa ?
“ Saya tidak mungkin tinggal di apartemen anak saya yang berukuran kecil dan bersama dengan temannya. Sementara saya belum ada hotel. Saya sudah mencoba registrasi melalui internet. Tak satu pun berhasil. Semua penuh. Rupanya acara Olipiade Beijing mendatangkan berkah bagi bisnis wisata. Tetapi kerinduan kepada anak membuat saya nekat juga. Moga anak saya bisa dapatkan kamar hotel untuk saya.”
“Anda bisa tinggal di Paninsula Hotel Beijing.” kataku menawarkan.
“Terlalu mahal dan apa mungkin masih ada kamar ?
“ Pakai kamar saya. Saya punya time share di hotel itu. Jadi ibu bisa tinggal disana sesuka ibu“
“ Tapi anda?
“ Saya tidak nginap. Saya pakai kamar hotel hanya untuk madi. Setelah itu rapat, dan malamnya terus ke Hong Kong. “
“ Anda pengusaha?
“ Ya. “
“ Tentu tidak mudah menjadi istri pengusaha. “ 
Pembicaraan kami terpotong oleh suara petugas yang mengumumkan penumpang agar segera masuk pesawat.
“Mengapa ibu bertanya seperti itu?” Aku memberanikan diri bertanya balik.
Ia tersenyum. “Itu pengalaman yang tak mungkin saya lupakan ketika suami saya belum meninggal. Waktu kebersamaan yang kurang dan kadang paranoia tidak pernah bisa hilang. Berat sekali melawan sepi dan paranoia.  Kalau ingat saya marah marah kedia. Padahal dia baru sampai dari business trip yang melelahkan. Tetapi suami saya sangat sabar dengan sikap saya. Setelah dia meninggal, rasa bersalah tidak pernah hilang. Kini, doa saya kepada almarhum suami tidak pernah putus. ” katanya, lalu bangkit.
Para penumpang masuk ke koridor yang menghubungkan ruang tunggu dengan pintu pesawat. Dimulai dari keluarga si balita. Aku tak sempat mengikuti ibu tadi. Tak tahu juga namanya. Sayang, harapanku untuk bisa duduk berdampingan di pesawat juga tak kesampaian. Aku di cabin business class dan dia economy class.
Sampai di Beijing Capital International Airport, kami turun. Keluar dari gate imigrasi, aku berusaha mencari ibu itu tadi. Tak berapa lama nampak dia melambaikan tangan. 
“ Ibu di jemput ?
“ Ya. Anak yang jemput”
“ Kalau begitu, nanti ajak anaknya ke hotel paninsula. Ini kartu nama saya. Tinggal berikan kartu nama saya, petugas reservasi akan memberikan kunci kamar ke ibu”
***
Sampai di hotel jam 11 pagi. Aku mandi dan ganti pakaian. Turun ke lobi sudah ada staf kantor menantiku. Kami pergi ke tempat meeting. Meeting berlangsung sampai sore hari. Usai meeting aku diantar ke Bandara lagi untuk ke Hong Kong. Aku baru menyadari ternyata aku belum makan siang. Ada niat mau makan di Bandara tetapi waktu boarding sudah mepet sekali. Aku putuskan langsung boarding. Waktu itu aku merasa asam lambungku mulai bergolak. Kepalaku agak pusing. Tetapi aku berusaha menenangkan diri dengan membaca. Di dalam pesawat, pramugari memberi aku minuman welcome drik. Wine. Saat itulah kepalaku semakin pusing.
Ketika pesawat take off, aku merasa dunia berputar dan pandanganku mulai kabur. Setelah itu aku tidak sadarkan diri. Ketika aku sadar di sampingku ada wanita . Dia tersenyum. “ Syukurlah anda sudah siuman.” katanya seraya memanggil pramugari. 
“ Tadi anda sempat tidak sadarkan diri. Tetapi untunglah di samping anda ada wanita itu. Dia dokter. Dia menuntun kami memberikan pertolongan kepada anda. Menurutnya anda akan baik baik saja. “Kata pramugari.
“ Terimakasih” kataku melirik wanita itu.
“ Anda terlalu lelah dan perut anda kosong. Dengan memberikan air panas dan sedikit garam, itu bisa membuat perut anda nyaman, dan aliran darah kembali normal seperti biasa. “ Katanya.

Wanita di samping aku duduk ini, usianya sama dengan wanita yang tadi aku temui di Bandara Soeta. Tapi dia orang Korea. Kebaikan spontan yang kita beri ternyata selalu berbalas kebaikan spontan juga. Memberi dengan ikhlas selalu berbalas, tak penting etnis atau agamanya. Bukankah kemanusiaan menjebol batas etnis dan agama. Semua karena Tuhan dan kembali kepada Tuhan, tentunya.
Mencintai dan berkorban

Kalau kamu tanya apakah pernikahan itu harus dengan Cinta?  bagiku itu belum tentu. Aku tidak mengerti apa itu cinta. Setidaknya itu yang kupahami terhadap Ayumi. Pertemuan kami tidak direncanakan. Waktu itu tahun 1983 dia sebagai Customer Manager dan aku sebagai Salesman di perusahaan Jepang yang meng-ageni bahan kimia. Usia kami bertaut 4 tahun. Ketika itu usiaku 20 tahun, dan dia 24 tahun. Bahasa indonesianya bagus. Kebetulan dia sedang menyelesaikan studi sastra Indonesia di Universitas. 

Awalnya kedekatan antara kami, karena dia sering ke tempat kos ku untuk membahas sastra. Lambat laun entah kenapa aku tidak sungkan lagi dengan dia walau dia atasanku di kantor. Suatu waktu yang tidak direncanakan terjadi. Empat bulan setelah itu dia hamil. Aku memutuskan untuk menikahinya. Setahun setelah dia melahirkan anak perempuan, dia kembali ke Jepang membawa bayiku. Kepergiannya sangat mendadak. Ketika itu aku sedang di luar kota untuk urusan bisnis. Sekembali dari luar kota, kudapati hanya surat ucapan maaf, dan dia beralasan kepergiannya demi cintanya padaku.

Ketika itu aku dalam keadaan merintis hidup untuk tegak berdiri. Aku tidak punya cara untuk mencarinya. Apalagi ke Tokyo. Aku hanya bisa menyesali. Empat tahun kemudian, setelah ekonomiku mapan, sebagai pengusaha. Selama 4 tahun itu aku tidak pernah berkirim surat. Bahkan aku sudah menikah lagi. Apakah aku melupakannya ? tentu tidak. Kebetulan ketika aku ada urusan bisnis ke Tokyo, aku sempatkan untuk mencarinya.  Tidak sulit menemukan alamatnya. Karena data dari kantor tempat dia kerja, cukup jelas. Dia tamak terkejut dengan kedatanganku di rumah orang tuannya. Kulihat ada anak Balita sedang bermain di teras rumah.  Dia membungkukan tumbuhnya, sebagai tanda hormat. 

Ada keinginanku untuk marah ketika itu.Namun melihat wajahnya yang tampak pasrah, aku jadi kasihan.  Aku mendekati Balita itu. Menggedongnya. Tak ada nampak Balita itu merasa asing  kepadaku. Dia tenang dalam pelukanku. 

“ Kamu ganti namanya?

“ Tidak. Tetap Emi.”

Kami terdiam lama. Seperti kehilangan kata kata.

“ Aku..” Katanya memecah keheningan. “ Aku sudah urus di kedutaan tentang Warga negara Emi, dia tetap WNI. Aku bawa akta kelahariannya dari Jakarta. Sekali lagi maafkan aku “

“ Kamu bekerja di mana?

“ Aku tidak bekerja tetap. Emi butuh perhatianku. Tetapi aku bekerja dari rumah, jadi penulis kolom di Majalah.” Katanya dengan tetap menundukan wajah di hadapanku.

“ Mulai sekarang aku akan menanggung biaya hidup Emi. “ Kataku.  Dia terdiam. “ Kami akan baik baik saja. Engga usah merepotkan kamu.” Katanya.

“ Merepotkan? kamu bicara apa ? Kamu masuk dalam hidup saya, dan kini kamu bicara seperti itu, seperti tidak bersalah dengan keadaan Emi? Kataku dengan nada tinggi. Dia tertunduk. “ maafkan aku, maafkan aku. Bukan itu maksudku..” Katanya terputus.

“ Jadi apa ? Kamu pikir segampang itu urusannya. Pergi dari hidupku dan membawa anakku.”

“ Maafkan ku.” Dia menangis. 

“ Mana rekening bank kamu.? 

Dia terdiam. Akhirnya masuk ke dalam kamar, memberikan buku tabungan. “ Ini nomor rekeningku. Jangan marahi aku, Angga. Maafkan aku.” katanya terisak.

“ Ok. aku catat nomor rekening kamu. Dan pastikan setiap tiga bulan kamu buat laporan perkembangan Emi. Paham?  Dia mengangguk seraya membungkukan tubuhnya.

“ Dan ingat, setelah Emi tamat SMU kembalikan kepadaku. Setuju?

Dia mengangguk tanpa berani menatapku. 

Sebelum kembali ke Jakarta, aku menitipkan uang USD 25,000 ke Ayumi. “ Pakai uang ini untuk membayar selama 4 tahun kamu mengurus Emi.” Kataku. Dia sempat ingin menolak, Tetapi Mi tidak pernah punya keberanian melawanku.

Dia hanya menunduk, dan melirik ketika aku mencium Emi berkali kali. “ Boleh aku photo” katanya menunjuk photo polaraid di dalam tasnya. Aku mengangguk. Dia tersenyum haru ketika usai mengambil photoku bersama Emi. 

Aku menyerahkan kembali Emi ke Ayumi” Jaga dia baik baik. Kamu juga jaga kesehatan “ Kataku.

Dia mengangguk. 

“ Oh ya, kalau kamu menikah, tolong kabari aku.”

“ Angga, aku tidak akan meikah lagi. Never. Emi adalah cintaku, dan itu sudah cukup bagiku. Engga perlu apa apa lagi. Sekali lagi, maafkan aku.” 

***

“ Angga, Emi sudah tamat SMU. Aku harus kirim ke mana Emi” Kata Ayumi via Yahoo messenger tahun 2002. Aku sempat terdiam. Bingung harus bagaimana. Ini soal masa depan Emi. Di mana dia akan tinggal kalau bersamaku. Tetapi bagaimanapun dia adalah putriku, yang setiap awal tahun aku kirimi uang untuk biaya hidup dan sekolahnya selama setahun. Jadi kalau dihitung dalam rentang 15 tahun, ada 15 kali aku kirimi uang. Walau aku sering ke Tokyo tapi aku tidak pernah sempatkan untuk menjenguknya. Tetapi setiap tiga bulan, Mi selalu kirim surat perkembangan putriku.

“ Mi, apakah dia mengenalku? terakhir aku bertemunya waktu dia masih balita. “ Kataku bingung.

“ Aku hanya mengikuti keinginanmu dulu agar Emi kembali kepadamu setelah tamat SMU. Apakah rencannya berubah?

“ Eh..engga. Engga berubah. “ aku tergagap. Tapi aku berusaha tenang. “  Ya udah. Kirim ke Hong Kong. Aku sedang di Hong kong” kataku sekenanya. 

“ Baik. Besok dia akan terbang ke Hong kong. Kamu jemput ya di Bandara”

“Loh kamu engga antar. “

“ Maaf, engga. “

“ Kenapa ?

“ Apa harus ? 

“ Eh engga. Ya udah. Aku tunggu di Bandara. Pastikan skedul terbangnya. “

“ Ya. Pastikan kamu jemput. “

“ Tentu.” 

***

Sesuai jadwal aku sudah di Bandara Hong Kong 15 menit sebelum pesawat mendarat. Tidak ada laporan delay. Tetapi sudah lebih 20 menit sejak pesawat mendarat, Emi belum nampak keluar dari kuridor kedatangan. Aku sempat cemas.  Padahal aku sudah bawa poster memperkenalkan namaku. Kawatir Emi lupa wajahku.

“ Papa…” terdengar panggilan dari arah samping. Aku menoleh. Nampak olehku gadis cantik. Lebih tinggi dariku. Mungkin 170 cm. Dia tersenyum cerah ke arahku.

. “ Emi.? Seruku. Dia mengangguk dan tersenyum. Matanya seakan tenggelam dalam senyuman itu. Aku merentangkan kedua tanganku. Tanpa ragu Emi merangkulku. Erat sekali. “ Aku kangen pa” Katanya halus. Aku sempat terkejut.. Bagaimana dia bisa bahasa indonesia.?

“ Kamu udah besar, Emi. Tinggi lagi.” kataku membalai kepalanya. Dia tersenyum. 

“ Kamu bisa bahasa indonesia.? kataku.

“ Ayumi ajarin aku. Katanya, aku tidak akan bertemu dengan ayahku kalau tidak bisa bahasa indonesia.” 

“ Oh. Bagaimana kamu bisa kenal wajah papa, Kan ini kali kita ketemu sejak kamu balita…?kataku melongok. Emi memberikan photoku dan dia waktu baliita. " Photo ini selalu ada di dompetku. Setiap pagi bangun tidur, photo ini aku liat. Berkali kali photo ini di reproduksi oleh Ayumi. Agar aku selalu bisa melihat wajah Papa. " Katanya. Membuat aku terharu.

“ Aku kangen papa.” katanya dengan airmata berlinang.

Aku rangkul dia kembali. “ Ya sekarang kamu sudah sama papa. Mari kita pulang” 

Aku membawa Emi tinggal di Apartemenku di Hong Kong. Aku masih bingung memikirkan masa depan Emi. Dimana dia harus tinggal. Sementara aku tidak menetap di Hong Kong. Dia bagian masalaluku yang tidak mungkin aku bahas dengan istriku. Ini tetap menjadi catatan gelap masa laluku. Tetapi dia tetap putriku, tanggung jawab dunia akhirat. Sampai di apartemnet. Emi dengan manja melihat kamarnya. Aku memang mempersiapkan kedatangannya dengan baik.

Keesokannya, waktu sarapan pagi…

" Papa dimana ibuku ?Kata Emi

Aku terkejut.

" Mengapa kamu bertanya seperti itu? “

" Karena Ayumi bilang bahwa aku punya ibu. Dimana dia ?

“ Ayumi engga cerita.?

Dia menggeleng penuh tanda tanya.

Aku tak bisa menjawab. Aku pergi ke dalam kamar. Aku segera telp Ayumi.

“ Mengapa Emi tanya soal ibunya. Bukankah kamu ibunya?

“ Kalau dia tahu aku ibunya, dia tidak akan mau berpisah denganku. Jadi selama ini aku cerita bahwa aku ibu asuhnya”

“ Mengapa ? Aku tetap tidak bisa percaya.

“ Emi milikmu, Angga. dan kamu membayar semua kebutuhannya termasuk jasa saya merawat dia." 

“ Berapapun bayaran tidak akan cukup dibandingkan cinta yang kamu berikan untuk Emi selama  membesarkannya” 

Ayumi hanya diam. Aku tahu dia pasti menangis. Aku membayangkan betapa berat bagi Ayumi harus berbohong demi menuntaskan tanggung jawabnya agar dia bisa mengirim Emi kepadaku. 

“ Maafkan aku, Angga”

“ Ya udah. Nanti aku selesaikan masalah ini. “Kataku kembali ke meja makan. “ Ibumu ada dihatimu selalu.Yakinlah. “Kataku membelai kepada Emi.

“ Boleh saya anggap Ayumi ibu kandungku.?

“ Tentu boleh sekali.”

Suasana hening. Begitu banyak kekakuan terjadi dihadapan putriku sendiri. Entahlah. Inikah harga yang harus kubayar karena tidak pernah dekat dengan dia.

“ Gimana dengan rencana sekolah mu.” Kataku

Emi memperlihatkan surat panggilan dari Universitas. “ Ke London. Cambridge university ? Seruku.

Emi mengangguk. 

“ Kamu terima? 

Emi mengangguk.  “ Boleh kan Papa? katanya dengan nada kawatir.

“ Tentu boleh. Papa bangga sekali. Papa akan siapkan biaya kamu ke London, dan juga tempat tinggal kamu.” 

Emi langsung berdiri dari tempat duduknya dan merangkulku. Dia senang sekali. “ Tetapi aku ingin Ayumi juga ikut aku, tinggal bersamaku ke London. Boleh kan Papa.”

“ Boleh. Mengapa ?

" Ayumi selalu bercerita betapa dia bangga aku punya ayah yang selalu mencintaiku dan dia harus menjagaku dengan segenap cintanya agar dia bisa melaksanakan tugasnya dengan baik dan menyerahkan aku kepada Papa setelah tamat SMU. Karena itu izinkan aku memanggilnya ibu dan menemaniku”

“ Kamu udah gede, kan harus mandiri, sayang”

“ Dari kecil aku selalu dijaga Ayumi. Aku belum siap berjauhan dengan Ayumi.” Wajahnya nampak mendung. Aku luluh. Ternyata cintanya kepada Ayumi tertanam begitu kokoh walau dia tahu bahwa Ayumi bukan ibu kandungnya.

“Ya. Udah. Boleh. Ayumi akan ikut kamu. Ayah akan siapkan segala galanya. Apalagi?

" Setelah aku tamat kuliah dan bekerja, boleh Ayumi  tinggal bersamaku."

" Boleh , tapi mengapa ?

" Aku ingin merawatnya seperti dia merawatku sedari kecil. Boleh ya Papa?.."

' Boleh !" aku memeluk Emi dengan erat. Biarlah waktu nanti akan bercerita. Ada saatnya nanti aku akan cerita bahwa Ayumi adalah ibu kandungnya sendiri. 

***
Tahun 2007. Hong Kong. Kami jalan kaki menyusuri pinggir dermaga di  pagi hari. “ Emi,  sudah sarjana ,sebentar lagi akan menikah. itu pasti. “ Kata Ayumi.

“ Ya, Dia sudah cerita soal pacarnya” Kataku. Mengajak Ayumi duduk di korsi taman menghadap dermaga. 

“ Tidak terasa telah 24 tahun kebersamaan kita. Itu terhitung sejak kali pertama aku mengenal kamu.” Katanya. Dia menatapku dari samping. Wajahnya nampak menua. Kami saling bertatap.

“ Angga..” katanya menyentuh pipiku dengan kedua telapak tangannya. “ Kamu adalah pria yang pertama dan terakhir dalam hidupku. Selama bertahun tahu kehadiran Emi melengkapi hidupku. Seakan kamu selalu hadir bersamaku. Dalam diri Emi ada kamu, dan itu selalu membayang dalam setiap aku memandang Emi. Kututup jendela hatiku dari semua pria. Mungkin aku bisa mencintai orang lain, tetapi tidak akan pernah sesempurna aku mencintai Emi dan kamu, Angga.”

“ Tapi mengapa dulu kamu tinggalkan aku ?

Ayumi terdiam. Dia melepas kedua telapak tangannya dari pipiku. 

“ Aku tahu pernikahan kita tidak direncanakan. Aku tahu kamu ketika itu belum siap. Dan kamu tidak mencintaiku dengan sesungguhnya. Aku memang salah. Tapi jauh lebih salah bila aku membebanimu dengan hidupku dan Emi. Apalagi ketika itu kamu masih sangat muda sekali”

“ Dan kamu pergi tanpa bersalah karena itu?

“ Aku tidak sanggup mengucapkan goodbye bila harus menatapmu, Angga. Tapi aku harus pergi. Jangan tanya bagaimana perasaan hatiku ketika harus berpisah dengan orang yang aku cintai. Berat sekali, Angga. “ Yaumi menangis.  Aku bisa memakluminya. Aku tahu Mi sangat mencintaiku.

“ Dan mengapa akhirnya kamu mencariku dan Emi? tanyanya.

“ Kamu engga bisa bayangkan bagaimana rasanya menjadi utuh sebagai seorang pria. Itu kurasakan ketika kamu melahirkan Emi. Itu kali pertama dalam hidup aku merasa sangat diandalkan oleh Tuhan untuk mendidik seorang anak manusia. Aku merasakan menjadi pria itu bukan hanya berkah tetapi juga kehormatan ketika kita bisa diandalkan sebagai ayah dan suami. Itu sebabnya aku bekerja keras siang malam dan berdoa kepada Tuhan agar aku dapat kesempatan bertemu dengan putriku, dan tentu kamu”

Yaumi terdiam. Dia menatap arah dermaga.. Pandanganya jauh. Seakan ingin menggapai ujung langit. “ Sampai kini kamu selalu ada disaat aku dan Emi membutuhkan. Semua masalah Emi kamu selesaikan dengan sempurna. Tetapi mengapa kamu tidak ingin dekat dengan Emi?  katanya tanpa menatapku. Seakan dia tidak siap menerima jawabanku.

“ Aku ingin Emi lebih dekat kepadamu. Dan aku ingin Emi jadi tongkatmu di masa tuamu. Itulah harapanku sesungguhnya kepada  Emi.”

“ Hanya aku alasannya.?

" Ya. Kalau Emi mencintaimu dan menjagamu hidupnya aka selamat. Tuhan akan menjaganya. Itulah keyakinanku, dan juga harapanku untuk putriku" 

" Aku maklum walau kamu kurang kebersamaan dengan kami, namun dengan perbuatanmu aku merasakan cintamu begitu sempurna.”

“ Aku mencintai mu dan Emi karena Tuhan, Mi. Kita bertemu karena Tuhan dan berpisahpun karena Tuhan. Dan akhirnya kita tetap saling menjaga juga karena Tuhan, ya kan” 

Ayumi merebahkan kepalanya di dadaku. “ Terimakasih Angga. Malam kemarin luar biasa sekali. Aku bisa rasakan , cintamu tidak pernah berkurang sedikitpun." Katanya dengan tersenyum malu, wajah merona. Teringat dulu sebelum kami menikah, ketika aku sakit, Mi lah yang merawatku. Ketika dia pergi tanpa pamit, dia tinggalkan uang di dalam lemari kamar. Itu uang tabungannya selama bekerja. Dia tahu betul impianku untuk mendiri tapi terkendala modal. Dia tahu betul aku tidak nyaman dengan pekerjaanku sebagai salesmen. Dia ingin aku sukses dalam bisnis tanpa harus dibebani dia dan Emi. Ya, bagaimanapun itu sudah masa lalu. Ayumi sudah membuktikan cintanya kepadaku dan aku bersyukur mendapatkan wanita yang benar benar mencintaiku, dan selama hidupnya berkorban untuk itu.   “ Terimakasih sudah mendidik Emi , menjaga Emi dengan baik dan luar biasa.” hanya itu yang dapatkan kukatakan. 

“ Hari ini aku kembali ke Tokio bersama Emi. Bulan depan, Emi akan kembali ke London. Dia dapat kerjaan di sana.” 

“ Jaga diri kamu baik baik. Terimakasih,Mi “ 

Ayumi menatapku dan memelukku erat seakan tidak  ingin berpisah denganku. Pagi di dermaga itu begitu sunyi.  Suara kapal melenguh tanda akan lepas dari dermaga menuju samudra. Ya sebentar lagi Mi dan Emi akan pergi dariku, untuk menjalani hidupnya tanpa aku...namun doaku akan selalu ada untuk mereka berdua..


Anak yang sholeha


“ Tadi pagi dia masih sehat. Tak kurang apapun. Tapi kini dia telah tiada. “ Kata anggota keluarganya ketika aku datang menjenguk di rumah duka. Memang sangat mengejutkan. Semua Para sesepuh adat, alim ulama, dan karib kerabat yang berdatangan, semua terkejut. Mereka memasang wajah duka. Merekalah tadinya yang ketiban rezeki melimpah ketika Pilkada, dan memenangkan Rahmat dalam Plkada. Itu karena pak Rahmat sangat peduli dengan para tokoh itu. Memberi mereka uang dan hadiah. 

“ Kamu udah tahu? kata teman berbisik kepadaku. 
“ Apaan ? 
“ Pak Rahmat meninggal di hotel. Padahal sejam sebelumnya dia meresmikan peletakan batu pertama proyek pembangunan masjid. Itu sesuai janjinya waktu pilkada. “
“ Ngapain dia di hotel ? 
“ Engga tahulah aku. Yang jelas , jasadnya ditemui dalam keadaan mengenaskan. Lidah terjulur hingga dagu dan mata terbelalak serupa orang mati setelah gantung diri. “
“ Kata dokter apa penyebabnya ?
“ Tak tahu aku. Mungkin narkoba ya. Overdosis.”
“ Ah jangan pula kau berprasangka buruk. Dia itu orang sholeh”
“ Ya maafkan aku. Bisa jadi jantung ya.”
“ Ah sudahlah. Engga usah berprasangka macam macam. Nanti terdengar pula sama anggota keluarganya. Jadi ribut. Kita doakan saja semoga arwah beliau diterima di sisi Tuhan.” 

Mata orang banyak tertuju kepada wanita yang baru turun dari taksi. Itu putri Pak Bupati. Namanya Arum. Waktu dia datang, Jenazah ayahnya sudah rampung dikafani, tak lama lagi akan segera disembahyangkan, sebelum diusung ke pemakaman. Raut muka perempuan itu tampak murung dan kecewa. Sebab, sudah tak mungkin lagi ia melepaskan tali pengebat kain kafan sekadar memberi kecupan di kening ayahnya, sebagai ciuman yang terakhir sebelum jenazah itu dikuburkan.

“Jadi pejabat ndak usah terlalu jujur,!” begitu kelakar almarhum ayahnya dua tahun lalu. Saat aku sedang di rumah Pak Bupati untuk urusan Pilkada. Sesaat sebelum Arum berangkat ke Mellbourne, menyelesaikan program doktor, bidang ilmu politik.

“Maksud ayah ?”

“Lihatlah jalan umum kampung kita! Persis seperti kubangan kerbau. Rusak parah dan sudah tak layak tempuh.”

“  Nah, mumpung ayah sedang memegang jabatan bupati, ndak ada salahnya ayah membuat proyek pelebaran jalan. Bila perlu diaspal beton sekalian!” jelas Arum, “Hitung-hitung proyek itu dapat menunjukkan rasa terima kasih ayah pada rakyat yang memiliih”

“ Waktu pilkada memang Ayah butuh rakyat. Mereka butuh janji. Tetapi setelah menjabat Ayah butuh DPRD. Mereka engga butuh janji tertunaikan. Mereka hanya ingin berbagi uang APBD. Apapun proyek, yang utama berbagi dulu. Sisanya baru untuk proyek.”

“Ah Ayah. Tak ada salahnya utamakan rakyat. Perbaiki insfrastruktur jalan,  perbaiki pasar rakyat.  Kalau itu dibangun, ekonomi juga akan tumbuh cepat, ayah. Pajak akan bertambah, uang APBD akan meningkat. Pada akhirnya semua happy.”

“Itu hanya ada di bangku kuliah kamu.  Dalam politik kadang kita perlu keadaan kumuh dan miskin. Agar rakyat semakin tergatung kepada pemerintah dan partai. Nanti waktu Pilkada mudah dibohongi. Kalau mereka makmur, mereka pasti pintar. Tak bisa lagi dibohongi. Engga mudah lagi dapatkan korsi anggota dewan dan Bupati.” Kata Pak Rahmat sambil melirik kearahku dengan tersenyum.

“ Tapi jabatan itu adalah amanah Tuhan, Ayah. “

“ Dalam kehidupan nyata engga begitu sayang. Kalau itu yang ayah lakukan, semua anggota DPRD akan memusuhi ayah, termasuk para ulama, ketua adat dan lainnya. Lihat contoh Guberur DKI si kafir itu. Dia jujur, tetapi dijatuhkan, didemo jutaan orang. Amanah itu bukan kepada rakyat tetapi kepada mereka yang bantu ayah jadi bupati, paham kamu.” 

“ Kalau tidak ada kinerja yang berarti selama ayah jadi bupati. Lantas ayah mau dikenang sebagai apa setelah mati?. Kata Arum. Menurutku itu kata kata yang sangat bijak bagi orang terpelajar dan anak yang sholeh. Tetapi tidak ditanggapi serius oleh Rahmad

Pak Rahmat berpendidikan tinggi. Namun prestasinya tidak ada yang bisa dibanggakan sebelum dia jadi Bupati. BIasa saja. Tetapi dia memang pandai bicara. Para ulama dan tokoh masyarakat dia dekati dengan janji macam macam. Jaringannya luas. Mungkin waktunya lebih banyak sibuk diluar kerjaannya sebagai pejabat kota. Tapi sayang dia bukan orang partai. Aku mendekatinya untuk dicalonkan sebagai Bupati. Waktu itu dia sangat antusias. 

“ Kalau kau bisa sediakan uang mahar ke partai, sekian miliar. BIsa kasih uang sekian miliar untuk tokoh agama dan adat. BIsa kasih uang sekian miliar untuk tokoh pemuda dan buruh. Aku pastikan kita bisa menang mudah. “ Kata Pak Rahmat. Memang uang sebanyak itu tidak ada arti kalau memang dia bisa menang dan meloloskan rencana boss ku di jakarta dapatkan konsesi alih fungsi  hutan lindung untuk tambang emas. Aku percaya akses jaringan primordial Rahmat. Semua mengenal dia.

Ketika aku mendatangi Partai agar mengusung Rahmat, mereka senang dengan uang yang aku janjikan. Soal mahar engga ada masalah. Tetapi partai tetap ingin kepastian memang Rahmat punya elektabilitas tinggi. Karena partai tidak mau mengusung untuk kalah. Itu bukan masalah. Konsultan survey untuk menentukan rating elektabilitas bisa dibayar. Hasil survey memang memuaskan partai untuk mengusung Rahmat. Maka resmilah Rahmat sebagai Calon Bupati. Aku menyerahkan  uang sekaligus. Tentu tidak dengan transfer tetapi dengan uang tunai, dalam mata uang dollar. 

Tetapi setelah Rahmat memenangkan Pilkada, dia selalu berkilah untuk menepati janjinya. “ Kita harus pastikan tidak melanggar AMDAL. Kita harus pastikan tidak ada pelanggaran hukum baik tingkat Provinsi maupun Pusat.  Sebelum itu ada kepastian, saya tidak bisa mengeluarkan rekomendasi konsesi alih fungsi lahan hutan lindung.” Bah, dasar politisi. Engga bisa dipegang omongannya. Rasanya aku ingin pukul jidatnya dengan botol. Tetapi aku berusaha bersabar. Uang yang dia terima dan jabatan yang dia dapat  tidak membuat dia bisa dibeli. Dia terlalu cinta dengan jabatan dan reputasinya.

Setelah dua tahun menanti sabar. akhirnya aku menyerah. Udah engga tahan ditekan oleh boss di Jakarta.  Apalagi semua network  politik ku di partai dan DPRD kandas. Semua berpihak kepada Rahmat. 
“ Maaf boss. Saya gagal “ Kataku dengan wajah murung.
“ Ah santai saja. Engga usah terlalu kawatir. Sekarang kamu cari kelemahan dia.’
“ Engga ada kelemahan dia. Uang dan jabatan tidak bisa membeli dia.”
“ Kalau gitu kasih dia  perempuan.”
“ Dia orang sholeh. “
“ Justru karena itu kasih dia wanita sholeh”
“ Istrinya lebih sholeh.”
“ Cantik ?
“ Engga juga.”
“ Kalau gitu, kasih dia yang sholeh dan cantik.”
“ Oh baru kepikiran boss. Benar juga.”
“ Lakukan itu. Soal uang engga ada masalah “ 

Pada satu kesempatan , Rahmat ada tugas ke jakarta. Aku mendampinginya. AKu sudah atur pertemuan dia dengan wanita yang akan jadi umpan.  Benarlah. Umpan itu dimakan begitu saja. Setelah itu hubungan mereka semakin dekat. Rahmat semakin kasmaran dengan wanita itu.  Tiga bulan kemudian, mereka menikah sirih di Jakarta. Aku belikan apartement untuk wanita itu. Selanjutnya tugasku adalah memaksa wanita itu membujuk Rahmat agar meloloskan keinginanku mendapatkan rekomendasi lahan. Tetapi tetap saja ada alasan Rahmat untuk menolak. Aku engga menyerah. Wanita itu aku jejali terus dengan uang dan perhiasan. Agar dia merasa berhutang. 

Rahmat akhirnya luluh dan setuju memberikan rekomendasi setelah aku setuju mengeluarkan donasi membangun masjid. Rencananya keesokannya setelah peletakan batu pertama pembangunan masjid , rahmat akan menyerahkan surat rekomendasi kepadaku. Kami janjian di hotel yang sudah aku siapkan untuk istri sirihnya yang khusus datang dari Jakarta. Tetapi sejam setelah rahmat di kamar, istri sirih nya dengan wajah pucat menemuiku di lobi hotel. “ Bang, bapak meninggal “  Kata istri sirihnya dengan wajah pucat. Itu membuat aku terkejut. 
“ Tapi surat nya sudah kamu terima.” Kataku cepat. Itu yang penting bagi ku. Soal Rahmat mati engga penting amat.
“ Udah. Ini suratnya Dia teken dua hari lalu.Jadi giman bang. Aku takut” Kata istri sirihnya seraya menyerahkan surat itu. Aku langsung masukan kedalam tas.
“ Tenang saja. Kamu pergi saja ke bandara. Langsung pulang ke Jakarta, selanjutnya urusanku.”
“ Makasih Bang. “ Kata istri sirihnya bergegas pergi.

Aku telp Polisi untuk evakuasi Jasad Rahmad. Hasik pemeriksaan dokter Rahmat meninggal karena overdosis obat kuat. Di meja baca, ada jamu khusus obat jantung. Ternyata Rahmad mengidap penyakit jantung udah lama. Namun dia tidak pernah periksa ke dokter. Polisi bisa aku ajak damai. Sehingga rahasia istri sirih Rahmat tidak sampai muncul di publik. Kehormatannya di depan keluarga tetap bagus. Keluargapun dapat menerima kematian Rahmad. Tapi yang sangat berduka adalah Arum. ingat kata kata Arum dulu, “  Kalau tidak ada kinerja yang berarti selama ayah jadi bupati. Lantas ayah mau dikenang sebagai apa setelah mati?. Yang jelas setelah setahun Rahmat meninggal, hutan lindung sudah berubah fungsi untuk tambang emas. Hutan hancur dan lingkungan rusak. Rakyat tetap miskin.


Ternyata cinta Itu berbalas.

“ Jangan sampai engga datang ya. “ Kata teman SMA ku waktu di kampung. Pesan itu disampaikan via BBM. Ketika itu aku sedang di luar negeri. Sebetulnya aku malas untuk reunian. Semua teman SMA ku melanjutkan pendidikan sampai Universitas. Sementara aku tidak. Pasti mereka akan bertanya” Kuliah di mana ? Sudah S2?  Dimana S2 nya.? Kalau itu ditanya, aku harus bilang apa. Toh dari sejak SMA aku memang bukan anak yang masuk hitungan mereka. Aku dari keluarga miskin dan otak pas pasan. Sudah pasti mereka tahu aku, keadaanku, dan pertanyaan itu seakan hanya ingin mempertegas bahwa aku berbeda dengan mereka. Aku bukan generasi first class. 

Tapi entah mengapa aku sempatkan juga datang. Itu karena dalam pesan singkat tertera “ Bunga, datang loh dari Palembang. Dia kangen kamu katanya “ Benarkah? apakah ini hanya dagelan saja. Aku yakin tidak ada yang tahu kalau dulu waktu SMA aku sering mencuri pandang kepada Bunga. Aku menaruh hati dan cukup puas sampai pada perasaan. Tanpa ada keberanian untuk menyampaikan perasaanku. Rahasia perasaanku tersimpan rapat. Tak ada yang tahu. Mengapa sampai ada pesan seperti itu. Menyebut nama Bunga? Ah mungkin kebetulan saja. Tapi ini mendorongku untuk datang reunian. 

Sampai di Jakarta, aku langsung terbang ke kotaku tempat reunian. Aku sempat telp sahabat SMA ku untuk memastikan aku sudah di Bandara menuju Kotaku. Dia senang sekali. Setiba aku di kotaku, aku sengaja tidak memberi tahu orang tuaku. Aku memilih tinggal di Hotel. Rencana keesokan harinya aku kembali ke Jakarta. Keluar dari gate bandara, seseorang berjalan menghampiriku. Wajanya berbalut senyum. Wanita berkerudung. Aku membalas senyum seadanya. 

“ Bimo ya? Katanya bertanya kearahku. 
“ Ya..” aku masih bingung. Siapa wanita ini.
“ Duh lupa ya. Aku Bunga.” Katanya. Itu seperti geledek di siang bolong. Benarkah ini Bunga. Mengapa sekarang dia berbeda?. Oh ya , dia pakai jilbab. Muslimah kah dia? 
“ Keren kamu Bimo” katanya membuyarkan lamunanku. “ Makin gagah dibandingkan waktu SMA. Aku yakin kamu pria terkeren di reunian nanti” Katanya
“ Ah engga juga. Ini kebetulan aja aku pakai jas. Maklum aku dari luar negeri langsung ke mari. Aku tetap seperti dulu yang kamu kenal” 
“ Engga. Kamu berubah total. Benar benar berubah. Kulit kamu engga lagi keling. Udah putihan. Kaya china kamu”
“ Bisa aja kamu.”
“ Eh benar. Kokoh ku mungkin lebih gelap dari kulit kamu”
“ Loh katanya kamu di Palembang.” 
“ Ya. Tadi pagi datang. Aku sengaja jemput kamu. Aku kangen kamu Bimo. Kamu engga kangen? “ Katanya yang membuat aku terkejut. Mengapa dia berbeda sekarang. Dulu dia sangat berjarak dengan aku.
“ 20 tahun kita engga bertemu. Kamu sudah punya anak berapa ? kataku mengalihkan pembicaraan. Dia terdiam lama.  Ada mendung di wajahnya.
“ Aku tidak pernah menikah, dan tidak pernah punya pacar.”
“ Kenapa ? Kataku terkejut.
“ ya engga ada jodoh. Mau gimana lagi.”
“ Jangan begitulah. Kamu itu cantik. Pintar dan keluargamu orang kaya. Engga mungkin engga ada pria yang mendekati kamu.”
“ Faktanya ya aku sampai sekarang masih jomblo. Udah ah bicara soal keluarga. Kan ini acara reunian. Engga ada hubungan dengan keluarga. Kita bertemu tentang kita yang remaja dulu pernah bersama sama. Ya kan.”  Katanya. Aku mengangguk.

***
Setelah reunian itu, tiga bulan kemudian aku dapat telp dari Bunga. Bahwa dia sudah pindah di Jakarta. Perusahaannya memindahkan dia ke Kantor Pusat. Berharap bertemu denganku. Kami bertemu disebuah cafe pada sore hari. 

“ Aku punya rahasia yang harus aku sampaikan. Mohon aku dimaafkan.” katanya.
“ Rahasia apa sih. Ngomong apa Dan lagi emang kamu pernah ada salah denganku. “ Kataku tersenyum.
“Ingat engga waktu SMA kamu menulis cerpen untuk lomba tingkat sekolah. “
“ Ya ya aku ingat. Tapi engga jadi aku ikut lomba. Cerpenku ditolak oleh guru bahasa. Kalau engga salah, ibu guru bilang tuisanku tata bahasanya banyak salah. Juga penulisan kalimat kata penghubung dan kata keterangan, salah semua. Terus gimana kamu bisa tahu cerpe aku itu ?
“ Rudi yang kasih ke aku sambil mengolok ngolok kamu. Katanya dia dapat dari kamu.”
“ Entah aku lupa.”
“ Tetapi setelah aku baca, tulisan itu bagus sekali. Makanya aku kirim cerpen kamu ke majalah remaja untuk lomba menulis. Itu bukan karena aku plagiat tetapi aku engga terima kamu diolok olok oleh teman. Aku ingin buktikan tulisan kamu bagus. Soal tata bahasa aku perbaiki sendiri. Terbukti kemudian cerpen kamu dapat penghargaan dari majalah sebagai cerpen remaja terbaik tentang spiritual.”
“ Oya aku ingat. Pernah ditempel di majalah dinding sekolah. Penghargaan itu atas nama kamu.”
“ Terus kenapa kamu engga protes?
“ Aku malah senang. Karena aku lihat kamu bahagia sekali dengan ucapan selamat dari teman teman.
“ Begitu? mengapa ?
“ Aku naksir berat sama kamu. Tetapi itu dulu. Aku malu untuk menyampaikannya. Aku sadar diri. Aku dari keluarga miskin, dan kamu orang kaya”
“ Ih segitunya pikiran kamu.” 
“ Faktanya memang begitu.”
 " Sekarang here i am" katanya. Dia tersenyum dengan wajah merona
" Sekarang semakin jauh untuk kugapai. You are too perfect. " 
" So...." 
“ Jadi engga perlu minta maaf soal cerpen itu. Justru itu kenangan terindah bagiku. pernah membuat orang yang aku cintai bahagia.”

Setelah itu apabila aku sedang di Jakarta, aku menyempatkan untuk bertemu dengannya. Dia teman ngobrol yang sangat mengasyikan. Entah mengapa kadang kalau sedang gundah karena masalah bisnis, ,aku telp dia. Dengan sabar dia menerima telpku. Kadang tengah malam, dia tidak merasa terganggu menerima telpku.

Begitu besar perhatiannya kepadaku namun aku tetap mengganggap dia ayam merak yang engga mungkin berdekat dengaku yang ayam kampung. Hubunganku dengan dia tetaplah sebagai sebuah persahabatan. Tetapi bagiku indah sekali. Kadang, ada keraguan untuk telp dia bila aku sedang di luar negeri. Namun entah mengapa seketika ada SMS masuk dari dia. Selalu mengingatkan aku untuk menjaga kesehatan. Cukup tidur dan istirahat.

Suatu waktu ketika aku di kantor di Luar negeri,  aku dapat telp dari dia. Kami bicara sekitar 15 menit. Aku terpaksa sudahi telp karena ada jadwal meeting. Berjanji akan telp kembali. “ Engga usah, Bimo. Utamakan kerjaan kamu. Yang penting jangan lupa  istirahat. Ya.” Katanya. Sejam setelah aku keluar dari kantor, aku dapat telp dari seseorang. “ Nak Bimo, Bunga dipanggil Tuhan.” terdengar suara wanita menahan tangis.
“ Ah yang benar, bu. Baru sejam lalu dia telp saya.”
“ Ya itu kami tahu. Kami semua mendengar dia telp Nak Bimo.”
“ Maaf, anda siapa ?
“ Saya mamanya.” 
Aku terduduk lemas di kantor. Segera aku berangkat ke Airport untuk terbang ke Jakarta. Dari keluarganya aku tahu ternyata Bunga mengidap kanker sudah 3 tahun. Mengapa dia tidak pernah cerita bahwa dia sedang sekarat. Mengapa?  

Keluarganya memberikan surat kepadaku.  “ Bunga, titip surat ini untuk kamu “ kata mamanya.
Aku segera membuka surat itu. Airmataku jatuh. Dalam surat itu dia menulis singkat sekali. “ Aku berdoa kepada Tuhan agar jemputlah aku pulang setelah aku bertemu dengan cintaku. Cinta pertamaku.  Aku tahu Tuhan tidak pernah salah menitipkan perasaan cinta kepada manusia. I do love you, Bimo. You take care my dear..” 

Suatu hari di Changsa

Petugas business center mengirim guide untuk aku berkunjung  ke Mao monumen. Guide itu seorang wanita dengan tinggi di perkirakan diatas 170 cm. Dia mengenakan Baju putih, kerah berenda dan dipadu dengan rok diatas lutut warna merah. Dia kenalkan namanya, Lyly. Kalau saja matahari musim panas sedang berbaik hati, rok tipisnya tentu menerawang pula. Bagiku dia tidak lebih wajah lain dari China sekarang. Kalah dan menang. Komunisme memang telah terkubur secara culture kesehariaan di China. Ia hanya tinggal simbol seperti patung Mao itu dari sekian banyak monumen yang dibangun di China. Walau sebetulnya kematian Mao, komunis juga ikut mati. Namun para elite politik tak ingin komunis kehilangam simbol.  Bagiku, pesan yang disampaikan oleh monumen itu bukanlah simbol keagungan Komunisme. Tapi simbol yang pernah membuat pemimpin china menawarkan kebohongan berongkos mahal. Seolah menyediakan anak tangga untuk naik menggapai kejayaan, tapi sejatinya adalah parade prosesi kematian kemanusiaan.

Sepekan menyusuri Changsa cukup untuk menemukan betapa masa lalu, termasuk yang baru saja lewat, beroleh tempat penting. Monumen, mural, artefak museum, teater mutakhir, seni rupa beramai-ramai mengabadikannya dengan saksama. Sepertinya, ada kerja kolektif untuk menjaga ingatan. Semacam saling mengajak waspada. Jakarta adalah lain cerita. Uang dihamburkan untuk lampu-lampu hias, air mancur, patung-patung pahlawan palsu dan monumen-monumen nirmakna. Ketika Changsa dikepung ingatan, Jakarta terkubur kepalsuan dan lupa. Dia tetap mematung menerawang di sana. Di pelataran monumen yang luas dan memanjang sungai Xiang , jarak aku dan dia , mau tak mau, dekat belaka.

”Apakah orang inni semua seperti kamu ?”  Katanya. Orang china menyebut indonesia dengan sebutan Inni. Entah mengapa. Mungkin lidah mereka tidak bisa melafalkan secara utuh Indonesia.
” Mengapa kamu tanyakan itu.?”
”Mengherankan juga. Ada yang suka monumen ini, apalagi dari Indonesia.” Batas antara seringai dan senyummu menyembul dari balik payung jingga. Gigimu putih berkilau.
”Memang jelek secara artistik dan arsitektural. Tapi aku suka pesan yang dibawanya. Ajakan waspada pada kembalinya kebrutalan masa lalu. Menjaga ingatan. Melawan lupa.”
”Hmmm….”
”Ada apa dengan orang Indonesia ?”
”Saya suka orang Indonesia karena mereka punya akal sehat dan berani melawan komunis.”
”Wow! Tahu dari mana kamu ? pernah ke Indonesia.
“ Itu yang saya tahu dari buku bacaan dan saya menyimpukan rakyat Indonesia cukup cerdas dan berani bersikap. Suatu saat saya ingin berkunjung ke Indonesia.
”Sekarang giliranku yang mesti heran kalau begitu. Kenapa kau harus bekerja sebagai Guide. Kamu cantik dan tentu tidak sulit dapatkan kerjaan lebih baik ?” Aku menyergah, mengubah posisi.
”Di China orang hidup berkompetisi dan mengambil resiko. Kami tidak ada waktu berpikir dan bertanya mengapa. Kalau ada kesempatan hari ini ya gunakan. Aku butuh kerjaan dan makan.”
Senyap menyergap senja Changsa. Gerimis mulai mereda. Langit merah di sungai Xiang memanggil-manggil malam.
***
Perjumpaan kedua kita adalah pada senja bergerimis berikutnya. Angin tak mau mengajak berkawan. Udara musim panas Changsa pun sedikit mendingin.
”Boleh aku sedikit mendekatimu?”
Permintaanmu tiba-tiba. Dan mustahil kutolak.
”Aku ingin bunuh diri.” Kau pecah sunyi dengan cara yang sama sekali tak kuduga.
”Hah!? Maksudmu?”
”Kurang jelaskah itu? Atau bahasa Inggrisku kurang bagus di telingamu?
”No. No. Inggrismu sempurna. Aku mendengar. Tapi….”
”Ya. Aku sedang berpikir untuk bunuh diri….”
”Bagiku tak masuk akal.”
”Maksudmu?”
”Kau begitu muda. Ranum. Cantik. Cerdas. Dunia membentang luas di depanmu. Di sekelilingmu, perubahan berdentum-dentum. China-mu begitu bergairah. Kau hidup persis di tengah contoh sukses Asia da barat yang terpuruk. Masa depan menunggumu. Tinggal kau jemput. Kau dikepung musim semi daya hidup. Bagaimana mungkin kau justru ingin melangkah ke arah sebaliknya.”
”Oh… Begitukah kami dari kejauhan? Kau terlalu romantis. Kau pikir kematian komunisme adalah berita baik seluruhnya? Setelah komunisme mati, perubahan menghasilkan para penikmat sekaligus korban. Celakanya, aku menjadi yang kedua, korban! ”
”OK. Sorry untuk kenaifanku. Aku siap menjadi pendengar.”
”Ceritaku akan panjang. Ayo kita ke hotelmu saja. Keberatan kutemani dengan cerita panjangku?”
”No. Sama sekali tak keberatan.” Tentu aku menggeleng. Begitu baikkah Tuhan padaku senja ini?
***
Di luar, para pelancong hiruk-pikuk lalu lalang. Suara-suara beragam bahasa dunia menerobos masuk melalui jendela kamar hotel yang kita biarkan lebar terbuka. Seperti suara ribuan lebah yang pandai berganti dendang.

Ceritamu panjang. Lirih. Dan kelabu.

”Aku anak  bungsu dari 4 bersaudara. Dulu  di bawah kekuasaan komunis Mao, hidup menjadi begitu rutin. Ayah dan Ibuku menjadikan kegiatan membuat anak sebagai selingan menantang. Anak demi anak lahir begitu saja. Setiap tahun satu. Berderet-deret seperti pagar. Komunisme memang memanjakan. Negara menyediakan apa saja, mulai sabun mandi hingga roti, dengan tak ada lebih pada seseorang dibanding yang lain. Di bawah komunisme, orangtuaku dan siapa pun tak dibiasakan apalagi didesak untuk berkompetisi. Segalanya tersedia tanpa perlu upaya berlebih. Tapi itulah, hidup kami menjadi manja. Tidak menjadi kaya, tapi dalam kesehajaan yang terpelihara. Hidup terasa mudah belaka sampai kemudian Mao wafat dan seakan komunis juga ikut terkubur bersamanya. Keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Reformasi Deng  memaksa kami untuk berkompetisi. Negara tak lagi jadi penyantun, tapi membiarkan kami saling sikut untuk bertahan dan saling berebut hidup yang lebih baik.”

Suara-suara bising beragam bahasa dunia yang menyelinap dari balik jendela terbuka mulai perlahan menyenyap. Malam makin sepuh. Kubayangkan, para turis yang mulai letih telah memenjarakan dirinya di kamar-kamar hotel atau menyerbu panti-panti pijat dan klub-klub malam untuk menukarkan penat dengan keletihan yang lebih menyenangkan. Suaramu masih benderang, ceritamu seolah tak berujung, sementara ujung malam beringsut mendekat.

”Ibuku yang terlampau tua di hadapan kapitalisme, tersingkir dan tak lagi terpakai sebagai pejabat di kecamatan. Ayahku terkena program rasionalisasi Deng, yang memangkas lebih separuh PNS  tanpa diberi uang pensiun. Di berhentikan begitu saja. Kakak-kakakku sibuk dengan urusan masing-masing. Hidup yang keras membikin mereka tak lagi saling peduli satu sama lain. Aku terjepit dalam ketiadaan pilihan sampai sebuah tawaran yang begitu manis datang begitu saja dua tahun lalu. Sebuah biro penyalur tenaga kerja menawariku bekerja sebagai pramusaji di Malayasia.”

Kau terdiam. Menunduk. Matamu segera menjadi telaga. Dua sudut bendungan di sisi luar pangkal hidungmu makin tak mampu menahan air telagamu yang membanjir. Air matamu berjatuhan tanpa tercegah. Lalu suaramu menyendat pada pangkal cerita yang rupanya segera tiba.

”Aku ditipu. Aku dijual ke sebuah tempat prostitusi di Bukit Bintan dan Genting. Garis nasib yang kelam mesti kuterima tanpa daya. Badanku remuk dihantam kerja jahanam itu. Kemanusiaanku terbunuh oleh rutinitas itu. Membuka pintu kamar, membiarkan diperlakukan sebagai binatang, memunguti uang yang dilempar begitu saja ke atas tempat tidur sambil mendengar pintu ditutup dan suara sepatu lelaki di lantai menjauh hingga hilang ditelan lobi berkarpet. Badanku hancur, tapi hatiku lebih hancur. Kemanusiaanku makin hari makin tak bersisa. Benar-benar binasa.”

Air matamu membasahi bahuku. Dingin. Kita diterkam senyap yang tiba-tiba menjadi asing.
”Untunglah aku akhirnya bisa melepaskan diri dari enam bulan terpanjang dalam hidupku itu. Kabur dari  Kualalumpur, kembali pulang. Tapi hidup tetap tak bersahabat. Akhirnya kuulang pekerjaan yang sama di sini. Kali ini atas kemauanku. Persisnya, karena aku tak punya pilihan lain. Hingga sampailah aku menjadi guide dari biro tour. Ya… aku ingin bunuh diri. Rasanya aku sanggup menghadapi hidup yang berat dan keras, tapi tidak hidup yang terasa hambar seperti ini….” Sesenggukanmu mengeras. Sebuah cara pilu mengakhiri cerita panjangmu.

***

Senja bergerimis. Langit di atas Bandara Internasional Changsa tersapu terlalu banyak kelabu. Birunya seperti malu-malu. Enggan memperlihatkan diri. Kau mematung menopang dua matamu yang nanar. Lagi-lagi bertelaga. Aku nyaris kaku ketika kau bisikkan kata-kata itu….

”Terima kasih banyak Bro. Untuk pertama kali dalam waktu yang sangat panjang, aku sanggup berbagi dan menangis. Kupikir air mataku sudah habis di Malaysia.” Suaramu parau. Aku mengusap-usap lembut punggungmu. 

”Keep in touch ya...” Kataku  seraya berjalan menuju ruang tunggu pesawat yang akan membawaku ke Hong Kong,  seperti memasuki lorong panjang yang asing. Kita menjauh, tapi suaramu seperti makin keras memanggil-manggil. Sosokmu hilang tertelan kelokan menuju ruang tunggu pesawat.

Seorang pria bule tersenyum duduk di sampingku.  “ Tahun 1998 saya datang ke China" kata pria bule itu. "Saya tidak suka orang china. Mereka kasar. Tidak tertip. Sikap yang tertutup.  Tapi kini mereka ambil hampir  semua asset kami.” sambungnya, entah apa maksudnya. Wajahnya nampak muram. Sambil menggeleng gelengkan kepala “ Bagaimana mungkin, masyarakat yang tertutup akhinrya bisa jadi kekuatan ekonomi dunia. Dari bank, telekomunikasi , property, dan lain lain orang china kuasai. Itu hanya dua puluh tahun baru kami sadari. Kini negeri kami berhutang lebih dari separuh anggaran kami. “ Kata Bule touris dar Amerika. Saya hanya tersenyum dan tak bergairah untuk menemaninya ngobrol sampai nunggu boarding

Ruang tunggu yang ramai tiba-tiba terasa begitu senyap. Di belakangku, terhalang berlapis-lapis dinding, di bawah gerimis senja Changsa seorang perempuan China sedang menangisi nasipnya. Nun di depanku, dipeluk malam Jakarta, orang orang masih sibuk bicara soal anti china, anti komunis, bersatu karena Sunnah. Masih sibuk dengan politik populis. Masih sibuk membangun mimpi utopia. Padahal bukan idiologi atau etnis atau agama penyebab kemakmuran dan kemiskinan. Bukan. Tapi karena mental hebat yang bisa membuat orang bisa berguna bagi orang lain. Karena mental buruk yang membuat orang jadi beban sosial. Karena mental juga orang bisa bertahan dari kehidupan yang memang apa boleh buat tidak ramah, dan cacat atau tersingkir begitu saja dalam amarah dan mimpi utopia. So Change your attitude and success will follow you.

Babo dan kaki.

Di Lapau Mak Siti, seperti biasa kami berkumpul selepas Isya. Sekedar menanti kantuk. Biasanya jam 10 malam kami akan segera angkat kaki. Kecuali ada yang nantangi main ceki.

“ Menurut kau, dari organ tubuh kita, bagian mana yang paling penting “ Tanya Samad.

“ Semua penting. Semua ciptaan Allah “ Jawab Sabri.

“ Bodoh kau. Kutanya mana yang penting. Kau jawab semua penting. Dasar kau memang seumur hidup tak bisa bedakan mana yang penting dan mana yang bukan “

“ Heh Samad, kenapa kau bilang begitu? jaga bicara kau. Aku lebih tua dari kau. Paham kau” kat Sabri sewot.

“ Eha, Kemarin kau utamakan pergi pengajian di surau tetangga desa. Sementara sawah kau yang harusnya dapat giliran air kau abaikan. Sampai pagi orang lain yang menikmati jatah air kau. Besok besok seperti biasa panen kau lebih buruk dari kami. Tapi kau bilang itu kehendak Tuhan. Anehnya keorang orang kau bilang kami tidak adil. Kau pandai menghibur diri atas nama Alla. Pandai menyalahkan orang lain atas nama Allah. Padahal kau memang pemalas. Lebih utamakan ikut pengajian guru Nando yang punya istri lebih dari satu tapi hidupya tak lebih menumpang dari santunan orang lain.”

“ Heh..panjang sekali kau ceramahi aku. Aku bukan kau, Samad. Hidup kau memang hanya dunia dan urusan akhirat tak penting bagi kau. Semoga Allah memberikan hidayah kau”

“ Kudoakan semoga Allah membukankan pikiranmu sehingga cerdas bersikap dalam hidup. “

“ Kau pikir aku tidak cerdas ?

“ Tanah dan ladang kau lebih luas dari kami. Tapi kami punya motor. Di rumah kami ada antena parabola. Kami semua sekolah. Sementara keluarga kau malahan anak di perbanyak. Satupun engga ada yang sekolah sampai kekota. Orang tua kau suruh kalian banyak mengaji tapi kau tak di ajarkan bagaimana bisa mandiri. “

“ ya ya sudahlah. Kenapa pula kalian bertengkar.Engga akan sudah itu urusannya. Sekarang aku jawab pertanyaan Samad. Yang penting diantara organ tubuh kita adalah Kaki.” kataku.

“ Coba kau jelaskan mengapa kaki “ tanya Samad.

“ Kau ingat si Masri ?

“ Ya, ingat. Kamanakan si Dulah.”

“ Betul. Tadi dia miskin di kampung tapi karena ringan kakinya sampai dia di jawa. Sekarang dia kaya raya sebagai pedagang. Bahkan sudah pula pergi haji. Semua kamanakan dan orang kampung yang datang ke kota di bantunya modal. “ Kataku.

“ Ah itu riya. Dan lagi orang orang itu tidak dibantu tapi dipekerjakannya agar dia semakin kaya.”

“ Bukan riya tapi berbagi kesempatan. Dia pekerjakan oran agar orang punya rasa hormat dibantu. Pahamkau, Sabri.” Kata Samad lagi.

“ Kalau menolong karena ALlah tak perlulah berharap apapun” Kata Sabri sengit.

“ Hanya orang dungu dan tak punya rasa malu kalau badan sehat dan kuat mau diberi begitu saja. Jangan kau bawa bawa nama Allah kalau alasan itu halal mengemis bagimu.”

“ Aku tidak pernah mengemis. “ Kata Sabri dengan nada keras.

“ Kalau kau tak berharap kepada manusia dan hanya kepada Allah tak akan keluar dari mulut kau mengeluh sepanjang hari. Penat aku mendengar kau terus mengeluh dilapau, bahkan di surau.” Kata samad.

“ Baiknya aku pulang. Tak pantas aku bersama kalian yang munafik dan kafir.” Kata Sabri. Sebelum pergi Sabri berkata kepada Mak Siti 

“ Dia yang bayar minum kopi ku “ Menunjuk kearah Samad.

“ Kau bilang aku kafir dan munafik tapi minum kopi kau minta perai. Kantong ku ternyata tak ikut haram bagimu ya Sabri.”

Sabri hanya tersenyum kecut. Mereka bersahabat sedari kecil dan canda dalam satire mewarnai pergaulan mereka.

***
Babo (Kakek) ku pernah mengajak ku masuk kedalam kebun dan terus melangkah mendaki bukit. Sampailah di pinggir hutan tak bertuan.” Kita sampai disini karena kaki pemberian Tuhan. Karena kaki kita melihat begitu besarnya tumbuhan berjejer. Didalamnya ada binatang . Ada kehidupan, Tentu ada rezeki. Kau sebagai pria minang, jangan kau beratkan melangkah. Ringangkan kaki untuk melangkah kemana saja kau suka. Bumi ini terlalu luas untuk hanya dipahami oleh Babo yang hanya pandai mengaji. NIkmat Allah itu tidak akan kau rasakan dengan menghafal Al Quran dan mendengar apa kata guru di surau. NIkmat Allah itu hanya kau rasakan apabila kau gunakan kakimu melangkah. Sekali kau ragu melangkah maka yang tampak hanya kampung halamanmu. Dan itu hanya masa lalu yang tak akan membuatmu menjadi apa apa.”

Aku hanya manggut manggut. Karena entah yang keberapa kali kudengar Babo bicara seperti itu. Tapi Babo tidak pernah mengajak ku sampai kedalam hutan. Ketika kutanyakan itu, “ Nanti bila kau sudah dewasa, pergilah merantau ke negeri orang. Carilah ilmu dan pengalaman darimanapun sumbernya. Setelah itu pulanglah kemari, Masuklah ke hutan itu dengan ilmu dan pengalaman. Kelak kau akan berguna sebaik baiknya dirimu bagi orang lain.” demikian pituah Babo.

***
Tahun berganti , aku melanjutkan SMA di kecamatan. Kudengar banyak pria minang pulang kekampung tidak menerobos hutan tapi mereka datang dengan pakaian Guru mengaji. Ada sorban dan janggut. Setiap di surau yang terdengar kutukan dan hujatan kepada pemerintah. Kutukan kepada wanita minang yang hanya pakai baju kurung tanpa jilbab. Lambat laun orang kampung semakin kurang minat merantau. Karena mendengar kotbah di Surau bahwa di kota tempat maksimat bekulindan. Semakin banyak orang menjauh dari Surau. Hanya masalah waktu azab Allah akan datang. Neraka semua bagi mereka. Kita lebih baik hidup miskin di kampung daripada di kota jad calon penghuni neraka. Cerita orang kampung yang sukses dirantau tak lagi mewarnai setiap pembicaraan di lapau. Tak ada lagi motivasi anak muda untuk merantau. Yang ada hanyalah rasa takut. Takut masuk neraka.

Ketika liburan sekolah aku kembali ke kampung. Kudapati Babo sudah jarang bicara. Tak lagi mengajakku wisata ke pinggir hutan. Babo hanya kadang memperhatikan aku kalau sedang belajar di ruang tengah rumah. Kadang dia mengelus kepalaku ketika sedang membaca buku “ Rajin rajinlah kau belajar. Namun sehebat apapun kamu dikampung, kau belum akan berguna. Merantau akan menjadikan kau seorang pria sejati. Yang tentu berguna bagi orang kampung” Kata Babo. Kulihat wajah tuanya nampak semakin tua. Dan aku bertekad setelah tampat SMA akan merantau.

Benarlah, setamat SMA aku merantau. Sahabatku Samad ikut aku merantau walau dia hanya tamat SMP. Sabri tetap di kampung. Dia bahkan mendoakan agar kami dapat hidayah. Kami hanya mengaminkan. Namum ketika mengantar kami ke terminal bus , dia nampak sedih berpisah dengan kami sahabat masa kecilnya.

***
Tak terasa sudah 15 tahun aku merantau. Aku sudah jadi pengusaha yang mengageni produk impor. Telapak kakiku bukan hanya menginjak tanah Jawa tapi sudah pernah menginjak negeri China, Korea, Jepang, bahkan Eropa. Aku sudah menikah sesuai pilihan orang tua. Istriku adalah anak Mak Tuo-ku sendiri. Orang minang menyebut aku kembali ke Bako. Atau menikah dengan keluarga ayah. Selama 15 tahun, baru sekali aku pulang ke kampung, itupun ketika mendengar kabar bahwa aku sudah di tunangankan dengan keponakan ayah. Sementara Samad pergi merantau ke Sulawesi. Dia sukses sebagai pengusaha ekspedisi laut. Kami pernah bertemu waktu melaksanan rukun islam ke lima di tanah makkah. Dia juga sama tak rindu untuk pulang kampung. Apalagi semua saudara dan orang tuanya sudah ikut dengan dia di rantau.

“ Aku tak merasa itu kampung yang pernah kita tinggalin. Suasana kampung tak lagi seperti dulu. Canda tawa teman sepermainan tak terasa hangat lagi ketika orang orang berbaju gaya padri dengan janggut dan jidat hitam semakin banyak di kampung. Entah darimana mereka itu mendapatkan ajaran. Adat sudah lama di punggungi. Surau tak lagi diisi kisah hikmah agar hidup berakal mati beriman. Tapi surau sudah jadi tempat dokrin bahwa akhirat lebih penting dan sorga adalah pilihan hidup. Hidup di dunia tidak penting.” demikian alasan Samad. Aku hanya mengangguk dalam miris.

***
Dan, suatu waktu aku dapat kabar dari pak Tuo bahwa di kampung ku sekarang banyak sekali pekerja dari jawa berdatangan. Tapi mereka tidak menetap. Mereka hanya melewati kampung kami dengan kendaraan truk besar menuju pinggir hutan. Alat berat berdatangan. Semua pohon direbahkan, Bukit di ledakan. Akar kayu dibakar menimbulkan asap menghitam menutupi pandangan dijalan kampung. Memang jalan kampung di perbaiki. Diaspal. Kantor lurah di perbaiki. Surau diperbesar menjadi ukuran masjid yang megah. Rumah guru dan iman masjid di rombak seperti rumah orang kota. Para pemuka kampung tanpa bekerja tapi hidup senang dengan rumah berantena parabola, termasuk salah satunya Sabri.

Hutan itu telah menjelma menjadi kebun sawit dan ditengah tengahnya ada perkampungan orang jawa, yang tak pernah menyatu dengan warga kampung kami. Konon katanya orang jawa dapat tanah gratis 2 hektar dan jaminan makan selama pohon sawit belum menghasilkan. Tapi selama itu mereka harus bekerja keras agar pohon sawit terawat baik. Sementara penduduk kampung kami semakin muram dan semakin pemarah kepada pemerintah. Tapi para pemuka masyarakat dan tokoh agama mereka hidup senang tanpa harus kerja keras. Orang kampung bilang itu kharamah orang suci yang rezekinya bisa datang darimana saja…sebetulnya itu donasi dari simata sipit juragan kebun.

”Kau tahu apa sebenarnya yang membuat orang kampung kita kalah sama pendatang dari jawa ?”Kata ku suatu waktu kepada Samad ketika bertemu dengannya di Singapore.

Samad menggeleng.

”Karena mereka tak lagi menggunakan kakinya. Setiap hari pikiran dan fantasinya kepada sorga dan takut neraka. Akibatnya mereka engga kemana mana. Kakinya bengkak dan malas melangkah. Hilang akal sehat dan tentu hilang semangat menaklukan dunia untuk mencapai kesempurnaan iman dihadapan Allah. Bukan salah bundo mengandung buruk surat tangan sendiri. Bukan salah aseng mendapatkan kebun besar karena kita malas melangkah dan berbuat”

Samad diam, hanya terpana. Sebenarnya, aku tak begitu yakin apakah memang perlu menyimpulkan seperti ini kepada Anda hingga cerita tentang Babo dan kaki punya versi lain. Karena belakangan memang aku tak bisa membangun kampungku tapi di kampung lain aku mencetak kebun Pisang di provisi lain di Yunnan, China dan Samad juga berhasil mencetak kebun coklat di sulawesi. Bumi ini luas dan milik Allah dan itu hanya untuk orang berlmu dan mau bekerja keras menghadang resiko dan kelelahan.***

Kamu bidadariku selamanya.

Pada suatu kesempatan seorangs sahabat datang ke saya bahwa dia berniat untuk mencari penghasilan tambahan. Karena pekerjaannya di hotel tidak penuh waktu. Walau honornya cukup untuk biaya hidup sebulan dengan satu istri dan satu anak, namun dia ingin berbuat lebih, untuk membahagiakan keluarganya. Rencana usaha yang di ajukan bukanlah yang rumit. Hanya sederhana. Jadi subkontraktor galian kabel. Saya memberi dukungan pembiayaan hanya satu SPK. Dia berjanji akan segera mengembalikan. Saya doakan semoga dia sukses.

Beberapa bulan kemudian, saya dapat kabar dari istrinya bahwa dia sudah meninggal karena kanker paru paru. Ketika ada kesempatan saya berkunjung ke rumah duka. Istrinya menyambut saya dengan air mata sembab. Telah sebulan suaminya meninggal namun airmatanya belum juga kering. Istrinya bercerita bahwa betapa dia sangat menyesal atas sikap kasarnya kepada suaminya selama ini. Dia selalu marah tidak jelas kepada suaminya karena penghasilan tidak lebih dari cukup untuk memenuhi keinginannya. Dia acap merendahkan suaminya. Bahkan jarang memasak untuk suaminya kalau sedang kesal. Namun suaminya tidak pernah marah dan tetap sabar menghadapinya.

Beberapa bulan belakangan ini , menurutnya, dia semakin marah kepada suaminya. Karena sering pulang telat, kadang sampai larut malam.Kalau di tanya suaminya hanya diam saja. Dia semakin kesal dan menuduh suaminya selingkuh. Bahkan dia sampai merendahkan suaminya dengan kata kata yang kasar. Kerja keras sebagai alasannya suaminya ternyata tidak membuahkan hasil apapun. HIdup tetap sulit dan kebutuhan yang terus bertambah, tidak pernah tuntaskan oleh suaminya. Dia bosan dengan kehidupan rumah tangganya. Karenanya dia malas melakukan pekerjaan rumah tangga. Suaminya selalu bila pulang larut malam, membawa makanan dan bila pagi sempatkan mencuci pakaian. Walau pagi tanpa sarapan suaminya tetap semangat kerja. dia tetap dengan sikap membosankan.

Dan ketika suaminya meninggal ,dia baru sadar apa yang telah di lakukan suaminya untuk dia. Dalam buku harian itu tertulis dengan jelas semua alasan dari balik semua kerja keras suaminya. Dia menyerahkan buku harian itu dan saya membaca hanya sepenggal kalimat " Setiap hari aku kerja keras agar bisa membelikan kamu rumah mungil. Aku mencintaimu dan tidak tahu lagi harus bagaimana untuk membahagiankanmu,sayang. Usaha yang kukerjakan beberapa bulan ini ada untung. Namun Tuhan beri aku penyakit. Keuntungan itu habis untuk berobat. Maafkan aku sayang. Tolong ambil uang di tabunganku dan bayarlah hutang itu kepada sahabatku. Karena aku tidak mau terhalang masuk sorga hanya karena hutang. Semoga kelak kita bertemu kembali di sorga dan kamu adalah bidadariku selamanya..”

Seya menolak halus pembayaran hutang itu. Saya katakan, sebetulnya ketika saya memberikan bantuan modal, tidak pernah saya berpikir untuk meminta kembali uang itu. Saat itu juga saya sudah ikhlaskan. Karena uang itu dipakai modal tidak untuk memperkaya dirinya tapi hanya satu ikhtiar untuk mendapatkan uang muka rumah murah sederhana. dan itu memang tanggung jawab seorang suami kepada keluarganya. Saya meninggalkan rumah duka dengan haru. Semoga arwah sahabat saya di terima di sisiNya dengan sebaik baiknya rahmat Allah, dan bagi keluarganya dapat di beri kesabaran untuk melanjutkan hidup dalam dekapan illahi…selalu.

mencintai bukan hanya mengucapkannya dengan kata kata indah tapi bagaimana memahami sikapnya dan mempercayainya dengan penuh prasangka baik dan terus mendoakan, dan berkorban untuk itu.

Ikhlas…

Namanya Iwan. Usianya bertaut 4 tahun dari ku. Iwan terlahir tanpa ayah. Mengapa aku bilang tanpa ayah? Karena usia Balita, ibunya datang ke kampung dari kota. Dia dititipkan dengan neneknya. Setelah itu ibunya pergi dan tak pernah kembali lagi. Usia 10 tahun, neneknya meninggal. Tidak ada lagi yang mengurus Iwan. Dia sebatang kara. Orang kampung juga tidak peduli dengan dia. Tetapi Iwan tetap bisa hidup mandiri. Kadang kalau pulang sekolah, aku melihat Iwan sedang bekerja di gudang Kopi dekat pasar. Dia memilah milah biji kopi. Dia dapat upah dari pekerjaan itu. Iwan biasanya kembali kerumah menjelang sore.

Iwan tinggal seorang diri di rumah peninggalan neneknya. Dia pandai memasak walau masak ala kadarnya. Jarang sekali meliat Iwan berkumpul dengan teman sebayanya. Waktunya lebih banyak bekerja di Gudang Kopi. Mungkin karena kaki iwan yang sebelah kiri agak kecil. Dia berjalan miring sebelah. Itu sebabnya aku sering mendengar Iwan di olok olok oleh teman sebayanya. Dia tidak pernah sekolah. Namun dia bisa membaca dan berhitung. Neneknya yang mengajarinya.

Mengapa aku cerita tentang Iwan. Menjelang remaja, walau keadaan miskin dan cacat namun tidak menghalangi niat Iwan untuk mencintai Marjiah, anak Tuan Datuk pemilk Gudang Kopi. Aku tahu betul, bagaimana Iwan sangat perhatian kepada Marjiah. Pernah aku melihat Iwan di hujat oleh Marjiah di hadapan teman temannya, Hanya karena Iwan datang ke sekolah membawakan payung. Itupun karena disuruh oleh Ayah Marjiah. Aku tahu, Marjiah malu di hadapan teman temannya.

Setamat SMU, aku pergi ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas. Marjiah juga pergi ke Jakarta. Aku hanya pulang setahun sekali waktu liburan. Saat aku pulang liburan. Aku mendengar kabar bahwa Ayah Marjiah sudah meninggal. Belakangan ibu Marjiah menikah lagi dengan pria yang lebih muda. Marjiah tetap tinggal di Jakarta menyelesaikan pendidikannya. Tahun kedua, aku pulang, kudapatin Ibu Marjiah gila. Semua harta peninggalan suaminya habis dibawa pergi oleh suaminya. Saat itu Marjiah terpaksa pulang kampung untuk merawat ibunya.

Menurut cerita ibuku, “Sempat dua bulan Ibunya Marjiah di pasung. Karena tidak ada uang untuk membawanya ke rumah sakit Jiwa. Suatu waktu, Iwan datang ke kampung. Entah siapa yang mengabarinya. Entah mengapa, seminggu kemudian Marjiah kembali ke Jakarta. Ibunya ikut Iwan ke kota untuk berobat dan tinggal dengan Iwan”
“ Iwan! “ kataku terkejut.
“ Ya Iwan. Bahkan biaya Marjiah selama di Jakarta ditanggung oleh Iwan.” kata Ibu.
“ Dari mana iwan dapat uang? apa kerjanya “ Tanyaku.
“ Iwan sudah jadi pedagang hasil hutan. Tadinya setiap hari dia pergi ke hutan. Mengambil getah gaharu dan getah mata kucing. Kemudian, lama lama dia jadi pengumpul. Diapun pindah ke kota” Kata ibu, itu sebabnya aku tidak tahu. Karena tidak pernah lagi melihat iwan di kampung.

Tahun ke empat aku pulang. Aku dapat cerita dari ibu, 
“ Bulan lalu, Marjiah pulang kampung membawa Bayi. Orang kampung geger. Tapi Iwan datang kerumah Marjiah. Entah apa yang dibicarakan. Tetapi yang jelas setelah bertemu Iwan, bayi itu dibawa Iwan ke kota. Keesokanya Marjiah kembali ke Jakarta.”
“ Jadi iwan merawat Ibunya Marjiah yang gila dan Bayi nya? 
“ Benar. Tapi ibunya sudah sembuh dan masih menumpang hidup dengan Iwan. Padahal keluarga besar Ibunya Marjiah banyak yang mampu. Tapi mereka tidak peduli” Kata ibu.

Tamat Universitas, aku bekerja di Jakarta. Aku pulang kampung dengan kendaraan sendiri. Dalam perjalanan aku mampir di restoran. Aku melihat ada orang masuk ke restoran dengan berjalan miring. “ Bang Wan.” teriakku. Aku segera menghampirinya. 
“ Eh kau Yung. Dimana kau tinggal sekarang ? kata Iwan seraya memelukku.
“ Di Jakarta Bang. “
“ Wah hebat. Udah Insinyur kau ya. Kerja di jakarta pula.” Katanya dengan wajah kagum.
“ Biasalah Bang. Baru belajar bekerja. Abang gimana?
“ Ya apalah aku. Orang kampung. ya beginilah.” khasnya yang selalu merendah. Ketika kami sedang asyik bicara ada anak Balita berlari dari luar langsung masuk ke restoran dan menghambur dalam pelukan Iwan. “ ayah’ Terdengar balita itu memanggil Iwan.
Balita cantik itu mirip Marjiah. Aku tak sanggup bertanya siapa ibunya.
“ Kau pernah bertemu dengan Marjiah di Jakarta? Kata Iwan.
“ Engga pernah, bang”
“ Udah empat tahun dia tidak pernah pulang. Telp tidak pernah diangkat. Surat tidak pernah dibalas. Semoga dia baik baik saja. “
“ Gimana dengan Mak Nur “ Maksudku ibunya Marjiah.
Marilah ke sebelah. Rumahku di sebelah. Katanya menarik lenganku. 
“ Sebentar bang. AKu bayar dulu makanannya.
“ Tak perlu kau bayar, Restoran ini punya ku.” 
“ Oh..”
Di sebelah restoran itu ada Ruko dua lantai. Lantai bawah tempat usaha pengumpul hasil hutan, termasuk jual sarang burung walet. Iwan mengajak ku ke lantai dua. Aku melihat di dekat jendela ada sofa. Disitu aku melihat Mak Nur. Wajahnya nampak murung. Tak ada reaksi apapun ketika aku menyalaminya “begitulah dia. Setiap malam dia teriak teriak dengan isyakan tangis menyebut nyebut nama Marjiah. Setelah itu, dia akan tertidur.
“ Abang tinggal bersama Mak Nur disini ?

“ Tidak.Aku tinggal di belakang bersama Anak ini “ katanya seraya mendekap erat Balita itu .
“ Yung” Seru Iwan. Dia terhenti seakan berpikir sesuatu. Kemudian. “ Kalau kau bertemu Marjiah di Jakarta. Suruhlah dia pulang. Aku tidak pernah memaksanya mencintaiku. Dengan segala bantuanku kepadanya dan ibunya, juga anaknya, tidak ada niatku memaksanya jadi istriku. Aku hanya berharap menjadi bagian dari keluarganya. Kalaupun itu dia tidak mau, tak apa. Pulanglah. Rawat ibunya dan besarkan anaknya. Aku akan tetap membantu sampai dia punya suami sesuai pilihannya.“

“Abang mulia sekali hatinya.”

“Sedari kecil aku tidak pernah melihat ibu dan ayahku. Sebelum meninggal Ayah Marjiah berpesan kepadaku untuk menjaga Marjiah dan ibunya. Itu aku ingat betul. Aku terharu. Siapalah aku ini?. Anak sebatang kara. yang miskin. Mengapa sampai Ayah Marjiah berpesan seperti itu? Aku yakin, pesan Ayah Marjiah adalah pesan cinta dari Tuhan kepadaku. Ternyata walau aku tidak punya orang tua tetapi saat itu Tuhan memberi tahuku, aku punya kesempatan untuk menjadi anak yang berbakti dan kakak yang melindungi adik perempuannya. Tahukah kamu?, Yung, tanggung jawab kepada ibu, adik perempuan itu seumur hidup. Itulah jihad sesungguhnya. Begitu agama mendidik kita. “

Iwan terdiam, "Setiap malam aku berdoa kepada Allah, agar dengan segala keikhlasanku kepada Marjiah, ibunya, Anaknya, bisa meringankan dosa ibu dan ayahku, yang entah dimana kini. Dan berharap kalau mereka masih hidup, Tuhan pertemukan aku dengan mereka, untuk kuberbakti sepanjang hayat dikandung badan." Iwan nampak berlinang air mata. Saya terharu karenanya.

Sesampai di rumah, aku cerita kepada ibu tentang pertemuanku dengan Iwan. “Iwan itu lahir dari ayah yang tidak jelas. Ibunya pergi entah kemana. Dia cacat sejak lahir. Karena akhlaknya baik, walau dia tidak pernah sekolah, cacat, namun tidak menghalanginya untuk sukses sebagai pedagang. Tahu mengapa? Iwan tidak pernah dendam dengan masa lalunya dan tidak membenci wanita yang telah menghinanya. Semua dia balas dengan cinta, maka kebaikan yang datang, rezekinya pun lapang.'" Demikian kata ibu.***

Bukan penakluk tetapi pemain.

Aku terima pesan lewat text message “ Jangan lupa telp aku kalau ada trip ke Dubai. Aku ingin bicara tentang hubunganku dengan Abi. “ Katanya. Aku pastikan akan datang ke Dubai dari Hong Kong. Shakespeare and Co Al Zorah cafe adalah tempat pavorit yang biasa kita ketemu. Setidaknya inilah tempat kali pertama kita bertemu. Memang belum lama waktu yang kita lalui bersama. Tapi itu sudah cukup untuk membuat kita seperti teman lama yang tiba-tiba bertemu secara tak sengaja di tempat yang tak pernah direncanakan. Sebelum bertemu, Aku tahu lelaki yang kamu panggil Abi karena perbedaan usia membuatmu lebih sesuai menjadi anaknya. Dia adalah atasanmu di sebuah perusahaan trading di Dubai. Dia memperlakukanmu seperti anak, meskipun sudah memiliki empat anak perempuan di rumahnya di Abudabi.

Abi memanjakanmu dengan semua kelebihan yang dimilikinya. Kalau ada tanggal merah terutama di akhir pekan, dia mengajakmu berlibur ke London, Paris, Swiss. Namun Abi berjanji akan membawamu ke Bali nanti. “Aku akan membawamu ke Bali. Katahnya itu sorga kecil di dunia,” kata Abi kepadamu dan aku mendengarkannya dari bibirmu. Kamu pun bahagia, setidaknya sampai saat itu.

Abi memberikan semua yang tidak kamu dapatkan di rumah. Sebagai balasannya kamu memberikan semua yang kamu miliki termasuk kehormatanmu. “Abi akan menjadi suamiku. Aku tak peduli jadi istri kedua, itu hanya masalah angka. Aku ingin memiliki anak dari Abi.”

“ Abi telah memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. “ Katamu ketika kita bertemu kembali. Aku berusaha untuk menentramkan hatimu dengan meremas jemarimu.

“ Sebaiknya kamu kembali ke Kiev. Mungkin aku bisa bantu kamu cari pekerjaan baru” Kataku. Dia memelukku. Kami bersediam. Aku bisa merasakan kesedihanmu karena kehilangan impian.

“ Benar kata kamu. Hanya masalah waktu itu akan terjadi. “

“ Apa maksudmu ?

“ Abi terpaksa melepaskan aku karena perusahaan tradingnya yang biasa melayani kontrak dengan perusahaan minyak terpaksa tutup. Penyebabnya harga minyak terus jatuh. Ini bukan hanya terjadi pada Abi, juga terjadi bagi banyak perusahaan yang berafiliasi dengan business minyak. Tahun ini di perkirakan ada 1 juta ekspatriat angkat kaki dari Saudi. Karena perusahaan tidak mampu lagi membayar gaji mereka. Entah apa yang akan terjadi dengan Saudi berikutnya. Masalahnya mereka tidak terbiasa di tantang dengan masalah besar. Mereka biasa hidup manja. Menganggap berkah minyak akan terus terjadi selamanya sampai hari kiamat.” Katamu.

“ Bukankah, Saudi telah mengeluarkan rencana transformasi nasional yang di kenal dengan VISI 2030. Ini langkah hebat untuk merampingkan birokrasi, meningkatkan investasi swasta, mengurangi pengangguran dan tentu untuk mengurangi ketergantung anggaran nasional dari minyak” Kataku.

“ Benar. Tapi aku tidak yakin Kerajaan Arab serius mau melakukan Visi 2030 itu. Berita media massa tidak seperti yang sebenarnya terjadi. “

“ Apa yang sebenarnya terjadi “ Kataku mengerutkan kening. Kamupun mulai bercerita banyak hal tentang kedekatan Abi dengan elite Politik di Saudi. Dari mu kutahu semua hal tentang Abi dan bisnis networknya. Singkatnya semua mitra strategis Abi tidak lagi tertarik berbisnis dengan Abi. Ini masalah peluang bisnis minyak yang memang tidak lagi glamour seperti sebelumnya. Saudi akan focus kepada ekonomi wisata dan industri. Era Minyak akan closed file. Itu masalah waktu. Pasti terjadi.

“ Cobalah kamu bayangkan. Mental bangsa Arab ini sulit dipahami oleh kita yang terbiasa menyelesaikan masalah dengan kreatifitas. Apalagi bagi kita yang terbiasa menghadapi tantangan dengan keterbatasan sumber daya. Itu semakin sulit kita pahami. Abi itu sangat baik. Dia tidak nampak stress setiap hari padahal bisnisnya miliaran dollar. Waktunya sepertiga habis dengan sholat dan kumpul dengan teman temannya. Sepertiga lagi pesta atau memanjakan diri. Sepertiganya lagi dia tidur. Hampir semua orang kaya Arab ya seperti Abi itu. Mereka sangat percaya keberkahan rezeki itu karena rahmat Tuhan yang sengaja memanjakan mereka di Dunia. Hanya karena mereka percaya sebagai pewaris sunnah Rasul.

Aku rasa inilah yang sebetulnya sebagai proses kutukan kepada generasi Saudi berikutnya. Kekayaan SDA berupa minya membuat mereka menjadi generasi lemah. Padahal kehidupan era sekarang penuh dengan kompetisi karena sumber daya semakin terbatas dan penduduk dunia terus bertambah.” Katamu dengan panjang lebar. Aku mencoba memahaminya. Mungkin kamu sedang berada dalam situasi harus berpikir melihat gelombang laut menerpamu. Kapal oleng. Karena Abi meninggalkanmu.

Malam itu pertemuan kita usai setelah menjelang dini hari. Aku mengantar kamu sampai pintu apartemen. “ kapan rencana pulang ke Hong Kong ? Katamu. Aku hanya mengangkat bahu karena tidak tahu pasti kapan urusanku selesai di Dubai. Seperti biasa, dengan halus aku menolak untuk kopi yang kamu tawarkan. Karena harus segera kembali ke hotel.

***
Pria itu berkepala botak dengan setelan jas mahal. Hidungnya agak besar. Berusia diatas 50 tahun. Namanya Abdul. “ Saya sudah buka harga melalui agent saya. Apakah kamu bisa terima.” Katanya. Saya hanya tersenyum seraya merekam wajahnya” Saya tidak ada waktu. Saya ingin cut loss segera. Mungkin menikmati hidup dengan rezeki tersisa lebih baik daripada pusing memikirkan ketidak pastian ekonomi. Masa depan sulit diramalkan. “ Katanya dengan bahasa inggeris sempurna.

“ Saya hanya akan menilai real asset seperti kapal dan bunker yang ada di Nanning, Turki dan Ukraina. Selebihnya tidak ada nilai. “

“ Tapi reputasi perusahaan saya sebagia trader kelas dunia dan pengalaman puluhan tahun, apakah itu tidak ada nilainya”

“ Saya tidak dalam posisi membeli reputasi dan pengalaman perusahaan anda, Saya hanya butuh assetnya. Due diligent 2 bulan, kita financial clossing. Bisa di terima?

Pria botak itu nampak menahan nafas dengan tatapan mata elang menghujam kearahku. Aku hanya tersenyum dengan perasaan rilex dalam suasana nyaman Palm Jumeriah Frond O hotel.
“ Baik. Deal ! “ Kata pria botak itu. Aku berdiri segera menyalaminya. 

“ Saya pastikan besok kita selesaikan Master purchase agreement dengan sekalian good fund sebagai jaminan proses transaksi akan selesai sesuai jadwal. “ Kataku dan dia menyambut hangat walau nampak tersirat di wajahnya tak ikhlas dengan deal ini. Aku mengajak pria itu ke restoran yang telah disiapkan oleh petugas Hotel. Tentu santapan malam berkelas sekalian merayakan deal yang memuaskan.

***
Sebelum kembali ke Hongkong, Kamu menghubungiku kembali. “ Apakah mungkin kita bisa bertemu lagi ? Aku segera mengiyakan. Tentu tempatnya adalah Cafe dimana kami biasa bertemu. Sambil menanti jam kedatangnya , aku melamun jauh sejak perkenalan dengan kamu. Dari mu aku mendapatkan informasi banyak hal tentang Abdul, sang Abi.

Kamu datang juga dengan senyum menawan. Dengan ringan tubuhmu menghempas ke sofa empuk di sampingku. Terasa lembut aroma Parfume mewah dari tubuhmu. “ Tadi Abi sempat telp aku. Katanya dia tidak bisa memberi apapun karena dia menjual perusahaan dengan rugi. Deal dengan investor sudah terjadi hari ini. “

“ Oh Ya. Apakah dia cerita soal deal itu ?

“ Tidak. Abi hanya bilang investornya dari Indonesia.”

“ Oh ok.”

“ Menurut Abi keadaan di Saudi sekarang nampak tenang namun bagaikan api dalam sekam. Apalagi devisa terus tergerus. Difisit anggaran semakin besar. Hutang semakin besar digali demi visi Saudi ke depan. Entahlah, ika agenda reformasi gagal untuk mencapai tujuannya, cerita lama berulang. Naik dan kemudian jatuh, hilang di telan sejarah.”

“ Dan akan selalu ada solusi dari Tuhan. Tidak perlu terlalu kawatir karena setiap perubahan itu tandanya kehidupan masih terus berlanjut. Hanya keadaan yang berubah, substansinya tetap sama. Orang cerdas yang selamat dan yang bodoh terjerambab.“ Kataku.

Kamu merebahkan kepalamu ke bahuku. “ Tuhan memberikan cobaan dalam bentuk apa saja. Ada dengan kekurangan dan ada juga dengan kelebihan. Tapi apapun itu kalau kita tidak bisa mengambil hikmah disetiap cobaan itu maka cobaan itu akan jadi kutukan. Rakyat dan Elite saudi harus menyadari kekeliruan mereka selama ini. Dimana kemelimpahan pendapatan dari minyak tidak digunakan mereka untuk mandiri di bidang tekhnologi yang bisa merubah peradaban lebih baik. Kemanjaan mereka membuat mereka terlena dan lupa bahwa setiap pesta pasti ada akhirnya. Dan perubahan adalah keniscayaan. Saatnya mereka harus berdamai dengan kenyataan dan mulailah jadikan cobaan itu sebagai awal untuk berubah dengan etos kerja hebat seperti rakya China, disiplin seperti Jepang dan cerdas seperti Eropa dan Amerika. Bukankah agama seharusnya membuat orang hebat, bukannya hidup dalam kemalasan dan menganggap kemelimpahan sumber daya alam itu gratis tanpa pertanggungan jawab dari Tuhan “ Katamu.

Kubelai kepalamu seraya berkata “ Dan kamu juga harus menyadarinya. Ambil hikmah pertemuan denga Abi. Kemelimpahan harta dan uang didapat dengan cara mudah itu, bagaimanapun salah. Abi bukanlah financial resource mu.Tapi sikap hidup positiplah yang menjadi satu satunya berkah bahwa Tuhan ciptakan kamu begitu istimewa. Pulanglah ke Kiev. ”

***
Kiev musim dingin, kamu datang menemuiku di hotel. “ Terimakasih. Aku kembali kerja di Dubai. Rencana tahun 2017. Di tempat yang sama. Aku ingat semua nasehat kamu. Kerja keras dan kerja cerdas. “ 
Ketika melangkah menyusuri trotoar, kamu mencubit lenganku “ ternyata kamu yang ambil alih perusahaan Abi. “ 
“ Maafkan aku. Terimakasih untuk bantuannya. Informasi dari kamu sangat membantu aku memenangkan deal dengan dia. “
“ Dari awal aku sudah curiga terhadap kamu. Dan kecurigaan ku terbukti bahwa kamu bukan penakluk wanita tapi pemain yang pandai memanfaatkan wanita dan uang untuk kekuasaan..” 
“ Apa yang membuat kamu benar benar curiga”
“ Kamu tidak pernah terpancing untuk meniduriku. Padahal aku sangat ingin. Tapi aku harus akui, kamu memang pemain watak dan tahu membuat wanita begitu percaya kepadamu. Dan ternyata semua itu hanya bisnis bagimu “ Katamu mencubit lenganku. Malam di Kiev terasa dingin sekali dan aku selalu rindu untuk pulang.***

 Mama.

Mama masih saja berusaha membujukku untuk pulang. Padahal jelas-jelas aku sudah mengatakan kepadanya kemarin bahwa Natal tahun ini aku tak pulang. Ya. Pulang. Rumah mama adalah rumah untuk pulang. Aku dibesarkan olehnya tampa Papa.

”Sudah lima tahun kamu ndak pulang Wid. Tahun ini kamu harus ada.,” kata mama kemarin lewat telepon. Aku tidak mengiyakan. Tidak pula menolak. Aku hanya meminta Mama untuk meneleponku lagi keesokan harinya, dengan alasan aku harus meminta izin bosku untuk bisa cuti.

”Mama akan telepon kamu besok sore ya. Jangan lupa,” tegas mama. Mama memang tipe orang yang suka mendesak.

Sedari SLA aku tinggal di Asrama Advent Singapore. Tamat SLA aku melanjutkan pendidikan ke Ingris. Tamat kuliah, aku dapat pekerjaan sebagai analis investasi di Shanghai. Sejak SLA aku hanya bertemu mama setahun sekali. Itu hanya waktu natal. Walau jarak dekat Jakarta Singapor namun liburan aku lebih suka dengan teman temanku. Itu karena sikap mama yang paranoid. Selalu memaksakan kehendak seperti dia mau. Dihadapan mama, aku tetap bayinya yang selalu dia kawatirkan. Dan lagi mama sibuk dengan bisnisnya. Mamapun jarang sekali menjengukku di Asrama. Telp pun jarang sekali. Kalaupun telp singkat dan keras mengingatkan ku agar hati hati bergaul. Tidak boleh lupa ke Gereja. berdoa sebelum tidur.

Sebetulnya aku ingin kuliah di Jakarta dekat dengan mama dan teman SD ku. Tetapi Mama mendesakku untuk ambil kuliah di Amerika atau Inggris. Menurutku, itu karena mama engga mau direpotkan olehku. Mungkin baginya semakin aku jauh darinya semakin nyaman hidupnya. Ketika aku memutuskan pindah ke Shanghai karena dapat kerjaan disana, mama engga keberatan. Tidak ada niat mama agar aku membantunya mengembangkan usahanya. Kadang aku berpikir, benarkah aku anak kandung mama. Lantas siapa ayahku ? Dari kecil aku tidak pernah mengenal ayah. Photo keluarga tidak ada. Kalau kutanya, mama hanya jawab bahwa ayahku sudah meninggal. Tetapi dimana makamnya? Tidak tahu.

Mama selalu curiga dengan semua pria yang mampir dalam hidupku. Makanya aku malas untuk curhat soal pacarku. Kalau kini usia sudah hampir 30 aku belum menikah, mama juga engga peduli kalau anak gadisnya menjomblo.

“ Jam berapa kamu berangkat dari Shanghai. Dengan pesawat apa? “ Tanya mama sore harinya. Dia tidak butuh alasanku. Dia berhak menentukan seperti dia mau. Itulah mama. Seperti biasanya aku hanya menjawab singkat “ Ya ma. “
“ Nenek mu dari Medan, besok udah sampai Jakarta. Kamu harus sudah ada sebelum natal. Paham!”
“ Ya ma.”

Akhirnya aku memutuskan untuk pulang tepat pada malam Natal. Mama terlihat kesal karena aku melewatkan misa malam Natal di gereja. Aku memang sengaja karena aku tidak berminat bertemu dengan orang-orang yang mungkin masih mengenalku jika aku misa bersama Mama di gereja ”Padahal tadi aku bertemu dengan teman-teman masa kecilmu dulu, lho. Mereka sudah berkeluarga dan punya anak,” kata Mama sambil menata piring di meja untuk makan malam. Aku hanya mengangguk malas.

Sejak aku tiba di rumah Mama, aku memilih diam. Apalagi ketika bertemu mama. Satu satunya kebahagian adalah kehadiran nenek di rumah. Usia nenek belum 70 tahun. Tetapi wawasan nenek dan bijaknya jauh sekali bila dibandingkan mama. Padahal nenek hanya ibu rumah tangga. Tidak sekolah tinggi seperti Mama.

Kami berada satu meja. Ada mama, aku dan nenek. Walau usia mama mendekati 50 tahun namun kencantikannya tidak berkurang. Seperti usia 30 tahunan. Bentuk wajah oriental dan hidung yang agak mancung. Sorot matanya tajam namun teduh.

Pembicaraan kami lebih banyak tentang rencana Mama yang mau mendirikan pusat pengolahan ikan di Vietnam. Kemudian aku lebih sibuk menjawab pertanyaan nenek soal kerjaanku, kehidupanku di Shanghai. Tak lupa nenek tanyakan kapan aku menikah. Apakah sudah ada pacar. Aku berusaha menjawab sekenanya, dan seraya melirik mama yang tampak tidak berkesan atas obrolanku dengan nenek.

Tengah malam aku terbangun. Entah mimpi apa yang membangunkanku, aku sudah lupa. Yang jelas aku terbangun dengan perasaan hampa. Kuputuskan keluar kamar untuk mengambil air minum. Tenggorokanku terasa kering. Di dapur, aku melihat setitik cahaya di teras taman belakang. Aku bergegas ke sana dan melihat Mama tengah duduk sambil mengisap rokok.

”Wid,” ujar Mama sambil menawarkan rokok kepadaku.
Aku menggeleng.
”Tak bisa tidur atau terbangun?” tanyanya.
”Terbangun.”
Agak lama keheningan menguasai kami berdua. Akhirnya mama yang pertama mengeluarkan suara saat rokoknya habis.
” Tadi mama dengar obrolan kemu dengan Nenek, Serius. pacar kamu ingin menikahi kamu?”
” Ya ma. “
“ Jadi kamu akan menetap di China, jadi warga negara China?
“ Engga ma. Calonku orang indonesia. Orang jawa tulen. Dia punya bisnis di Jakarta. “
“ Oh kamu kenal dia udah lama ?”
“ Sejak kuliah ma.Kami satu jurusan di Cambridge”
Mama terdiam. Kami pun saling bersediam. Hening.
“ Ma..” seruku dengan lembut. Terdengar suaraku sayup sayup. Aku kawatir Mama akan marah kalau kulanjutkan pembicaraan soal Papa. AKu tidak ingin merusak suasana natal. Tapi aku harus bicara sekarang. Kapan lagi bisa bertemu dengan mama.
“ Ya ada apa ? kamu mau bicara apa ? ngomong aja”
“ Ma, aku sudah engga anak anak lagi. Sebentar lagi aku mau menikah. Bolehkah aku tahu siapa papa.? Please. Apapun tentang papa, aku siap merimanya. “

Mama menatapku lama. Tidak ada kesan seperti biasanya, dengan raut wajah marah. Pandangan mama lain sekali sekarang. Nampak sejuk dan penuh keibuan. Selang beberapa detik, mama menangis. Aku memeluk mama. Akhirnya mama masuk kamar tanpa ada pembicaraan lebih lanjut. Aku merasa bersalah. Baru kali ini aku merasakan punya seorang ibu yang tatapannya sangat mencintaiku.

Tak berapa lama, mama keluar dari kamar. Mama menyerahkan photo seorang pria. “ Inilah papa kamu. “ kata mama. Aku perhatikan papa ku ganteng sekali. Tapi dia bukan etnis Tiongkhoa. Itu sebabanya wajah ku tidak begitu oriental. Aku sudah curiga dari awal.

”Mama belum siap memiliki kamu. Sementara Papa menginginkanmu sebelum kami menikah. Ketika akhirnya mama hamil, Kakek dan nenekmu menolak. Kedua orang papa kamu juga menolak. Karena beda budaya dan agama. Akhirnya untuk menutup malu, Mama dinikahkan dengan pria lain pilihan kakek. Tetapi setelah kamu lahir, Mama bercerai.”

“ Jadi aku lahir bukan dari perkawinan mama yang sah?.

“ Ya itu sebabnya semua photo pernikahan mama bakar. Agar kamu tidak mengenal pria yang pernah menikahi mama. Maafkan mama, ya sayang ”

“ Sekarang Papa di mana?

“ Papa kamu sakit setelah mama menikah dengan pria lain. Mama bisa maklum akan keadaan sakitnya itu. Karena tidak mudah bagi dia menerima kenyataan harus berpisah dengan mama. Saat kamu lahir, dia tahu, bahwa bayi itu miliknya. Darah dagingnya. Mama tahu Papa mu mencintaimu sebesar dia mencinta mama. Usia kamu dua tahun, papa kamu meninggal. Kalau ingat papa kamu, semakin membuat mama sesak dengan perhatian dan cintanya yang begitu sempurna. Membuat mama merasa bersalah dari waktu ke waktu karena mama tak pernah bisa mencintainya sebesar itu.

Sebelum meninggal papa mu berpesan agar mama menjagamu. Itu sebabnya mama jadikan dirimu sebagai pengganti cinta mama ke papa. Mama engga mau gagal mendidik kamu. Itu sebabnya mama selalu kawatirkan kamu dan mengirim kamu ke sekolah terbaik di luar negeri. Berat sekali berjauhan dengan mu sayang. Tapi demi yang terbaik untuk kamu, mama ikhlas dalam kesendirian. Kini jangan ragu dengan pria pilhanmu. Menikahlan karena Tuhan, tidak penting apa agamanya. Dihadapan Tuhan kita sama, apapun agamanya”

Aku memeluk mama. Kami berpelukan dalam waktu lama. Air mata kami membuktikan bahwa kami tidak akan terpisahkan. itu semua berkat pria, papa yang selalu hidup dalam diri mama, untuk mencintaiku sepanjang usia.

Bertemu kembali


Sebagian pengunjung kafe yang memperhatikannya, beranggapan dia tidak sedang menanti siapa siapa. Setelah helaan nafas panjang , dia akan berdiri dan berlalu setelah menempatkan uang di meja untuk bayar Bill. Itulah kebiasaannya yang selalu nampak biasa saja. Karena segalanya dianggap sama saja sebelum sang pria yang dinantinya benar benar hadir didepannya. Kenangan tentang pria itu membuat hidupnya tak pernah berubah. Segalanya nampak indah seperti ketika pria itu menciumnya untuk pertama kali dulu.

Dulu, ketika dia masih mengenakan seragam SPG parfum di mall Shanghai. Senyumnya masih ringan seringan SPG merayu konsumen. Rambut tergerai hingga di atas buah dada. “ aku suka menatap buah dadamu. Seperti rembulan yang indah sekali. Impianku ada di sana. Cintaku ada di sana. Karenanya aku tak pernah bisa berpisah denganmu. “ Kata pria itu. Membuat dia melambung ke langit ke Tujuh. Kemudian, ciuman demi ciuman menghujam setiap lekuk tubuhnya. Dia merasa melayang ke udara. Mencoba menggapai ujung langit dalam denguhan napas tak berujung. Pria itu sangat tahu menjadikannya wanita yang begitu sempurna. Tahu bagaimana memanjankan wanita dalam setiap hentakannya, yang membuat dia tak henti mendesah. Semua berakhir begitu indah. 

Mestinya saat itu ia tak membiarkan pria itu pergi. Tak membiarkan pria bergegas meninggalkan kafe ini untuk memburu pesawat kembali ke negerinya. Ada sesal yang tak bertepi bila ingat itu. Tapi semua sudah terjadi dan dia tetap percaya pria itu akan kembali walau tak tahu kapan saatnya muncul di depan pintu Cafe sebagaimana janji pria itu.

Itulah yang membuatnya selalu kembali ke kafe ini. Tempat janji diikrarkan. ”Aku akan kembali dan bila itu terjadi maka Cafe inilah tempat janji kita bertemu kembali." Kata kekasihnya.

Setelah bulan berganti dan tahun berganti untuk dua kali musim panas datang, pria itu tidak juga datang. Ribuan e-mail dia kirim tak berbalas. Telp tak terjawab. Ia mulai meragukan semua tentang pria itu. Tapi bayi yang lahir dari percintaan mereka adalah kekuatan yang membuat dia harus bertahan. " Aku tidak menjual diriku kepada manusia karena cinta tapi aku menjual diriku kepada Tuhan. Pernikahan itu syah di hadapan Tuhan. Tentu kekuatan Tuhah melalui bayi itu akan membawa pria itu kembali kepadanya.

Tapi kapan ?

”Apakah Anda seorang diri? Kata seorang pria pengunjung Cafe yang berusaha nampak ramah.
”Ya"
”Boleh traktir Anda minum?
”Tidak perlu. Karena saya sedang menanti seseorang" katanya. Mungkin ini jawaban yang kesekian ratus kepada setiap pria yang mencoba menggodanya.

Entah mengapa setiap dia digoda pria, dia selalu berdoa kepada Tuhan agar pria yang dinantinya muncul di depan pintu Cafe itu. Lambat laun dia tidak lagi merindukan pria itu. Dia hanya ingin bertemu dengan pria yang pernah berjanji untuk menemuinya, untuk bayi yang sedang dikandungnya.

Menemui? Apakah arti kata ini? Yang sangat sederhana, menemui adalah berjumpa. Tapi untuk apa? Hanya untuk sebuah kenangan, atau adakah yang masih berharga dari ciuman, sentuhan, desahan? Itu sudah masa lalu itu? Apakah sebuah kenangan ada arti bagi pria itu sehingga ia bisa kembali untuk mengulang kisah lama? Ah, ia jadi teringat pada percakapan-percakapan itu. Percakapan di antara ciuman-ciuman yang terasa gemetar dan malu-malu.

”Aku selalu membayangkan, bila nanti kamu pergi aku akan selalu duduk sendirian di malam bulan purnama sambil membayangkan dirimu sedang melakukan hal yang sama. Saat itu aku akan meminta kepada Tuhan agar kamu kembali kepada ku. Karana tahukah kamu? Betapa aku sangat mencintaimu. Walau seribu bulan berlalu cintaku tak akan pernah padam. " katanya. Pria itu memeluknya.

" Karena Tuhan kita akan selalu bersama walau apapun Prahara dan tembok yang memisahkan kita “

Dia tersenyum, kemudian mencium pelan. ”Tapi aku tak mau mati dulu.”

”Kalau begitu, biar aku yang mati dulu. Dan aku akan menjadi bulan, yang setiap malam purnama menatap mu ….”

”Hahaha,” dia tertawa renyah. ”Lalu apa yang akan kamu lakukan bila telah menjadi bulan?”

”Aku akan menyinari malam mu untuk melihat setiap sudut Tubuhmu yang putih bersih. Walau anak sudah lahir dari rahimmu, Dadamu tetap membusung dan selalu kurindu dalam malam malam panjang bersedekat. Dada yang akan terlihat mengilap ketika kena cahaya bulan hinggap di atasnya”

Ia bersenandung sambil membuka satu per satu kancing seragam. Dia memejam. Ia seperti melihat cahaya bulan yang perlahan keluar dari kelopak matanya yang terpejam. Seperti ada seberkas cahaya bulan di keningnya, di pipinya, di hidungnya, di bibirnya, di mana-mana. Kamar penuh cahaya bulan. Dada itu tenggelam dalam desahan angin malam yang tak terdefinisikan. Ia selalu membayangkan itu. Sampai kini pun masih terus membayangkannya. Itulah yang membuatnya masih betah menunggu meski  berlama lama.

Ia hendak menutup bill. Namun seperti halilintar meledak di depannya. Pria yang dinantinya  sudah ada di pintu kafe. Mendadak seluruh detak jantungnya berhenti. Walau kafe yang ingar bingar penuh sesak. Ia terpukau bersetatap dengan pria itu yang nampak murung dengan geliat lidah pada tiap jeda tubuhnya.

" Wan Ning" akhirnya keluar juga suara lembut dari mulut pria itu. Dia tetap mematung. " Its me.." kata pria itu. Apakah ini hanya belaka imajinasinya? Penyanyi terus menyanyi dengan suara yang bagai muncul dari kehampaan. Dan kafe yang ingar ini makin terasa murung. Tiba-tiba ia menyaksikan cahaya bulan muncul dari balik keremangan, memenuhi panggung. Hingga panggung menjadi gemerlapan oleh pendar cahaya bulan yang temaram keperakan.

Ia jadi teringat pada setahun lalu dimana dia terpaksa menjual anak bayinya kepada Agent agar diadopsi sama keluarga mampu. Karena telah tiga tahun hidupnya semakin sulit dan dia ingin melanjutkan hidupnya di kota besar.

" mengapa kamu tega melepas anak ini? Kata Agent.

"Aku terjerat hutang. Karena biaya hidup yang besar sementara aku tidak punya waktu cukup untuk bekerja keras menghidupi anak ini. "
"Memang sangat sulit hidup di kota besar seperti Shanghai. Dan anak ini harus berpisah dari mu. Dimana ayahnya?
Dia hanya menggeleng lambat dalam duka terkubur dihati terdalamnya
"Anak ini milik Tuhan. Tentu Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk bayi ini. Yang jelas bersamaku , bayi ini tidak akan punya masa depan. Biarkan Tuhan menentukan takdirnya " katanya dengan berurai airmata.

Pria itu menyentuh jemarinya. Itu menyadarkannya bahwa dia tidak sedang bermimpi. Benar, pria itu memeluk eratnya. Dia tetap mematung tanpa membalas pelukan. Dia tidak ingin pertemuan ini hanya mimpi.

" Akhirnya kamu datang juga." Katanya lirih." Aku kehabisan harapan kepadamu tapi aku tidak pernah kehilangan harapan kepada Tuhan.”

" Dan Tuhan juga akhirnya mengantarkan aku kembali ke mari, dan menepati janjiku untuk bertemu di Cafe ini.”

" Apakah benar ?

" Benar Wang Ni. Empat bulan lalu aku bersama istriku mengadopsi bayi. Melalui Agent di Beijing kami dipersilahkan untuk memilih dari puluhan bayi yang ditawarkan. Aku dan istriku memilih bayi perempuan yang cantik. Entah mengapa sejak pertama kali aku gendong, bayi itu yang tadinya menangis segera tenang. Lambat kemudian dia tertidur dalam dekapan ku.”

" Jadi kamu kembali ke negeri kamu untuk menikah dengan wanita lain.? katanya dengan tetap tenang tanpa perlu harus menangis lagi. Airmatanya sudah lama kering.

" Maafkan aku, wang Ni." Kata pria itu dengan wajah sesal" Dan kini aku sudah bercerai”

" Semudah itukah?

" Tidak mudah. Masalahnya ternyata ketika kami ingin mendapatkan certifikat adopsi atas bayi itu, aku diharuskan untuk test DNA agar jelas bahwa anak itu bukan anak biologis ku. Tapi..." kata pria itu terhenti seakan tersekat tenggorokannya.

" Tapi apa?

" Hasil test DNA terbukti bayi itu adalah anak biologisku. Inilah kekuasaan Tuhan. Ada ribuan bayi ditawarkan tapi kami memilih satu dan ternyata yang aku pilih adalah putriku sendiri. Karena itu, istriku minta cerai karena dia tak ingin mengecewakan wanita yang telah mengorbankan cintanya untukku”

Wanita itu sekarang menangis. Entah dari mana airmata itu datang. Yang pasti penyebabnya ketika seorang perawat masuk kedalam Cafe membawa bayi perempuan dan berlari memeluknya sambil berteriak " Mama…"

Dipeluknya bayi usia 3 tahun itu dengan sepenuhnya cintanya" mama janji sayang. Apapun yang terjadi kita akan selalu bersama sama”

Pria itu merangkul wanita itu yang sedang memeluk bayi itu dalam isakan tangis. "aku dan bayi ini adalah titipan Tuhan untukmu. Dan kini Tuhan kembalikan kepadamu setalah sejenak diambilNya. Bukan karena Tuhan membencimu, tapi karana Tuhan sedang menguji keimananmu. Apakah kamu mencintai Tuhan ataukah kamu mencintai manusia”

Cafe itu sudah mulai lengang. Mereka bertiga melangkah keluar. Pria itu menggendong balita itu yang terlelap dalam nyaman. Ketika itu musim semi di Shanghai. " kamu tidak bertanya mengapa sampai aku menikah dan melupakanmu bertahun tahun bersama anakmu “

" Han, hidup adalah soal pilihan. Sehebat apapun kita memilih namun Tuhan punya rencana sendiri. Aku tidak perlu alasanmu. Karena semua kehendak Tuhan. Bertemu karana Tuhan dan berpisah pun karena Tuhan. Siapalah kita yang merasa berhak menentukan apa yang kita mau. Sementara tak ada manusia yang bisa menolak kematian. “

" Ya Wan Ni”


" Kini kita berkumpul kembali dan bagiku ini adalah berkah dan juga cobaan sekaligus agar aku semakin dekat kepada Tuhan. Pahamkan sayang”***

Mandeh

Tanpa di rencanakan mandeh mengabarkan bahwa dia sudah di bandara untuk terbang ke Jakarta. Dalam dua jam dia sudah sampai " jemput mandeh di bandara ya nak" demikian pesan singkatnya lewat WA. Mandeh walau usianya sudah diatas 70 namun bukanlah mandeh yang puritan. Mandeh melek tekhnology dan mudah beradaptasi dengan lingkungan. Namun mandeh tetap dengan prinsip hidupnya yang mandiri. Tak pernah mau merepotkan anak dan cucu.

" jangan kau bilang sama Adi kalau mandeh datang. Nanti iba hati pula dia kalau mandeh tidak lebih dulu kerumahnya." Kata mandeh.
Adi adalah kakak tertuaku. Hidupnya memang tidak beruntung. Tak pernah masuk perguruan tinggi. Usahanya hanya pedagang kecil di pasar tradisional. Namun kami semua adiknya menghormatinya. Walau dia paling tidak beruntung hidupnya di bandingkan kami namun dia tidak pernah menyusahkan kami. Bahkan selalu menolak bila di bantu. Berkat Uda Adi , Uda Burhan bisa selesaikan kuliah dan bekerja sebagai PNS. Uda Burhan membantu Uni Linda kuliah sampai selesai. Uni Linda bekerja di BUMN dan membiayai ku selesai kuliah. Aku terjun sebagai pengusaha. Terakhir si Mulyadi, aku bantu selesai kuliah dan sekarang jadi dosen.

Kami adik beradik saling tolong menolong sejak abak meninggal. Semua berkat didikan mandeh yang berhasil menjadikan Uda Adi sebagai pemimpin kami setelah abak meninggal. Biaya hidup mandeh sepenuhnya di tanggung Uda Adi. Mande lebih leluasa meminta kepada Uda Adi. Pergi haji pun mandeh bersama Uda adi. Tentu uda adi yang menanggung biayanya. Entah mengapa kami tak peduli dengan segala beban yang di tanggung Uda Adi.

" Mengapa kalian berdiam diri soal si Burhan ? Apa kalian pikir mandeh sudah pikun. " rasanya jantung ku berhenti berdetak. Bagaimana mandeh bisa tahu kasus Uda Burhan. Mungkin karana mandeh melek tekhnology dan aktif di sosmed. Semuanya mandeh tahu karena berita soal Uda Burhan sudah tersebar kamana mana.

" Ya aku kurang paham urusannya mandeh”

" Jangan pula kau pura pura. Kau sama saja dengan dia. Usaha kau berkembang karena bantuan dia sebagai pejabat" Tuh kan kena jeb deh aku. Mati aku..benar benar aku tidak berhadapan dengan ibu yang tua tapi ini mandeh ku .Intelek dan tegar.
Aku hanya diam. Memang usahaku berkembang karena proyek dari instansi Uda Burhan. Jalanan macet terasa ratusan tahun sebelum sampai di rumah Uda Burhan. Gadget ku bergetar. Kulihat di layar tertulis nama istriku.

" Ya mah. mandeh sudah bersama papa. Mau bicara dengan mandeh ?

Aku menyerahkan Gadget kepada mandeh. " Si Dina mau bicara, mandeh”

" Ya Ananda. Nanti selepas dari rumah Uda Burhan kau, mandeh akan mampir kerumah. Gimana kabar cucu cucu mandeh ?

Tak berapa lama mandeh berbicara dengan istriku dan kemudian menyerahkan Gadget kepadaku.

" Mengapa kau biarkan si Dina terus bekerja ? Kurang apa kalian ? Rumah besar. Kendaraan ada empat. Belum lagi vila dan apartemen. Sementara kedua anak kalian di suruh tinggal di luar negeri. Ayam saja tidak begitu lakunya dengan anak anaknya. “

" Si Dina itu S3 mandeh. Sayang ilmunya tak dipakai? Anak anak sekolah di luar negeri biar dapat pendidikan terbaik”

" Entahlah Nak... Mandeh orang kampung nak. Mandeh hanya tahu seharusnya istri dirumah kalau suami mampu mencukupi kebutuhan dan tugasnya menjaga rumah dan anak. Lain halnya kalau suami tidak mampu. Kau lebih dari mampu. Kedua anakmu perempuan tak elok anak gadis jauh dari orang tuanya”

Aku hanya diam.

" Uni kau tahu mandeh datang ?

" Tahu. Dia menanti mandeh di rumah uda Burhan. “

Mandeh terdiam. Pandangannya tertuju ke jalanan. Tapi aku tahu banyak yang dipikirkannya. Mandeh tidak pernah henti berpikir dan ikut memberikan bimbingan ditengah setiap masalah kami.

Ketika sampai di rumah Uda Burhan. Nampak uni Linda menyambut mandeh didepan pagar sambil memeluk mandeh dan membawa tas mandeh masuk kedalam rumah. Di ruang tamu nampak Uda Burhan duduk dengan wajah layu menatap jendela kearah taman yang asri dirumahnya. Aku duduk dilantai bersila. Uni Linda duduk disamping Uda Burhan. istri Uda Burhan duduk di samping mandeh.

" Apa yang terjadi sesungguhnya nak? Kata mandeh memecah keheningan.

" Aku hanya melaksanakan perintah pimpinan mandeh. Kini aku di korbankan.." Kata Uda Burhan dengan suara lirih.

" Seharusnya kau tidak patuh kepada pimpinan tapi patuh kepada UU dan aturan. Negeri ini tidak dimiliki oleh pimpinanmu tapi oleh rakyat. Rakyat mengamanahkan mu melaksanakan tugas sesuai aturan. Paham kau Nak?Negeri ini merdeka dengan jumlah suhada tak terbilang. Kakek kau ikut menyabung nyawa melawan penjajah agar aku dan kau juga cucumu bisa merasakan nikmat merdeka. Negeri ini merdeka karena rahmat Allah. Kini kau kotori itu dengan buruk lakumu. Tak malu kau dengan cucumu?

" Tapi mandeh. Kalau tak patuh dengan pemimpin aku akan tersingkir”

" Nak. Mengapa kau sangat takut kehilangan jabatan bila kau merasa benar.Jalan Tuhan itu tidak mudah, anakku.Kau harus istiqamah agar pertolongan Tuhan sampai kepadamu.”

" Tidak sesederhana itu mandeh.. Ini politik “

" Mandeh hanya orang kampung. Tidak sepintar kau. Mandeh hanya tau kalau jabatan itu milik Tuhan dan kepada Tuhanlah berharap. Bukan kepada pimpinan. “

" Ya mandeh ... " kata uda Burhan dengan lirih.

Mandeh meliat kearah kami satu persatu.

" Kau, Linda. " kata mandeh menatap Uni Linda " Kau sibuk terus dengan karier mu. Kadang di Eropa, kadang di Amerika. Kau lupa bahwa kau istri dan ibu dari anak anakmu. Apa yang kau cari nak. Sholat pun kau acap tinggal. Pakaianmu seperti anak muda. Padahal kau tidak muda lagi. Tidak takut kau akan mati kapanpun. Apa bekal mu nak untuk di bawa pulang ke Tuhan”

Uni Linda hanya diam.

" Kau, " kata mandeh menatapku" Kau selalu sibuk. Istrimu sibuk. Udah kaya kalian. Tapi sampai kini belum terpikir mau pergi haji. Istrimu sibuk dengan Karir nya. Anak gadis mu kau kirim ke luar negeri. Orang tua macam apa kalian?. Tak takut kau dengan tanggung jawab amanah sebagai orang tua ,sebagai suami di hadapan Allah nanti ?

Aku hanya diam.

" Si Mulyadi juga tak ubahnya dengan kalian. Sibuk terus. Dia dosen tapi waktunya lebih banyak di luar. Tak malu dia dengan jabatannya sebagai dosen? Udah kepala tiga umurnya belum juga menikah”

Kami semua terdiam. Tak berapa lama Mandeh berdiri dari duduknya.

" Uda kalian si Adi, tak sekolah tinggi seperti kalian tapi kau Burhan di biayainya sampai selesai jadi sarjana. Uda kalian tak punya rumah mewah seperti kalian, tapi dia yang membawa mandeh ke makkah. Dia tidak punya HP sehebat kalian tapi dia yang setiap hari menelphone mandeh. Dia tidak sekaya kalian, tapi dia tak pernah barang seharipun terlambat mengirim uang belanja bulanan untuk mandeh di kampung. Mandeh tak pernah menuntut balas kepada kalian anakku. Tapi akhlak yang baik selalu bersumber dari rezeki yang halal. Jernih di hulu akan jernih di hilir.Sehingga kalian pandai bersyukur dan selalu mendekat kepada Allah , tak ragu berbakti kepada orang tua, “.

Kami semua terdiam.

"Hati mandeh senang bila meliat kehidupan Uda Adi kalian. Dia santun dan mandiri. Rajin sholat dan berbakti dengan mandeh. Lihatlah hidupnya sekarang, walau tak kaya tapi semua anak anaknya berbakti pula dengan dia. Tak ada beban rasa kawatir mau di penjara seperti kau Burhan. Dia lebih baik dari kalian.”

Kami semua terdiam..

" Entahlah anakku... Mandeh tak henti berharap dalam doa agar kalian berubah karena mandeh sadar nak , hidayah itu hak Allah. Mandeh akan terus mendoakan kalian siang malam…"

Mandeh menatapku " Sekarang antarkan mandeh ke rumah Uda kalian. Mandeh mau menginap di rumahnya. Besok biar dia yang antar mandeh ke Bandara. Sekali lagi mandeh berharap kepada kalian. Kalau kalian sayang dengan mandeh...Sholatlah..jangan tinggalkan sholat agar doa mandeh untuk kalian di dengar Allah.***

Rubuhnya adat.

“ Assalamualaikum “ terdengar suara Uni Ana diseberang.
“ Uni ada Bang Man? 
“ Dia ke masjid sholat Maghrib. Ada apa Li?
“ Bang Amsar masuk rumah sakit. Keliatannya gawat”
“ Ya Allah. Sakit apa?
" Belum tahu sakitnya apa.
“ Ya ya nanti uni kabarkan ke Bang Man.”
“ Assalamu'alaikum " cepat saja aku akhiri telp
“ Waalaikum salam.
Benarlah tak berapa lama telp selularku bergetar “ Li, Ada apa dengan bang Amsar?
“ Tadi sehabis sholat Lohor terjatuh di toko nya. “
“ Sekarang bagaimana keadaannya ?
“ Masih di rumah sakit, bang. Abang cepatlah datang. Ini Li sedang di jalan sama Uda.”
“ Ya tapi Bang Man ada kegiatan di Masjid sehabis Isya. “ 
“ Abang..dulukanlah datang ke rumah sakit. Mandeh sudah Li kabarin. Sekarang sudah di bandara untuk terbang ke Jakarta. “
“ Tapi engga semudah itu meninggalkan jamaah Li.” 
“ Ah Abang. Ya udahlah suka suka abang ajalah.”
“ Nanti sehabis acara di masjid Bang Man akan datang ke Rumah sakit.”
“ Ya udah.”
Aku hanya menghela nafas panjang. Nampak di sebelah Uda Adi, memandang keluar jendela kendaraan. Nampak dia paham betul kelakuan Bang Man. 
“ Sudah kau hubungi, si Tias ?
“ Malas aku telp dia. “
“ Telp lah. Dia adik laki laki kau. “
Kalaulah bukan suami yang suruh tak mau aku telp Tias. 
“ Hallo “ Terdengar suara di seberang 
“ Aku hanya mau kabarin Bang Amsar sakit keras. Sekarang di rumah sakit.Datang lah.”
“ Ya Allah, sakit apa ?
“ Tak tahu aku. Cepatlah kau datang”
“ Ya Uni. Tapi aku sudah di Bandara mau ke luar negeri.“ 
“ Tak bisa kau tunda pergi ke Luar negeri.”
“ Tak bisa Uni. Ini sudah di jadwalkan dari minggu lalu. Minggu depan aku sudah pulang. Aku segera ke rumah sakit. Aku doakan semoga Bang Amsar sehat sehat saja.”

Sesampai di Rumah Sakit , nampak semua putra putri Bang Amsar sudah kumpul. Uni Mar tambak tabah mendampingi Bang Amsar yang belum juga sadarkan diri. Menurut Uni Mar, keadaan bang Amsar tak menentu. Penyakitnya karena gula darahnya tinggi sekali dan karena itu penyebab stroke. Selepas Isya, Bunda sudah datang di rumah sakit bersama Paman Datuk. Nampak tak sekalipun Bunda melepaskan tanganya menggenggam jemari Bang Amsar. Aku tahu Bunda berdoa kepada Allah untuk bang Amsar. Kadang nampak Bunda sedang membisikan sesuatu ke telinga Bang Amsar. Paman berdiri di unjuran tempat tidur sambil memperhatikan keadaan Bang Amsar. Paman bersedih. Selang beberapa lama setelah kedatangan Bunda, telah berlaku takdir untuk Bang Amsar. Dia di panggil pulang oleh Allah. Bunda berlinang air mata namun tak terdengar maratap. Putra putri Bang Amsar nampak tabah walau tak bisa menyembunyikan duka mereka.

Paman bersegera memeluk Putri Bang Amsar yang nampak terkulai lemah “ Upik sabar ya sayang. ini sudah kehendak Allah. Mulai sekarang , Upi akan jadi tanggung jawab Babo”. Putra bang Amsar kupeluk agar dia tetap tenang walau aku sendiri tak bisa menyembunyikan rasa kehilangan kakak tersayangku. Kakak yang bertanggung jawab terhadap ku sejak Abak meninggal. Dia tanggung biaya pendidikanku sampai jadi sarjana. Dia pula yang mengurus perkawinanku. Setiap ada masalah, Bang Amsar selalu ada untukku. Beda sekali dengan Bang Man dan Tias.

***
Seusai Sholat Maghrib, kami berkumpul di ruang tamu. Bang Man datang bersama anak dan istrinya. Tias juga datang bersama istri dan anak anaknya. Aku datang bersama Uda Adi dan anak anaku. Putra putri Almarhum Bang Amsar duduk di samping Bunda. Uni Mar masih belum bisa menghilangkan dukanya walau telah seminggu kepergiaan Bang Amsar. Seakan airmatanya tak pernah kering. Selalu berlinang airmatanya bila ingat Bang Amsar. Aku memeluk bahu Uni Mar agar tetap kuat. Hari ini kami berkumpul untuk membicarakan soal masa depan ponakan kami.

“ Paman kumpulkan kalian karena ini menyangkut ponakan kalian. Abang kalian tidak meninggalkan warisan berlebih kecuali hanya toko di pasar tradisional itu. Si Yudi sekarang masih kuliah. Si Murni tahun depan akan kuliah. Sekarang di keluarga besar kita kau , Herman yang tertua. Bagaimana pendapat kau ? “ Kata paman sambil pandangan ke pada kami semua.

“ Paman, Kehidupan ekonomi ku tak mampu menanggung biaya mereka. Penghidupanku hanya dari guru mengaji dan pengurus Masjid. Ekonomi keluagaku ditopan oleh istriku yang berdagang buku buku agama di halaman Masjid. Jadi maafkan aku paman. “ Kata Bang Man.

Paman menatap seksama Bang Man yang berusaha menyembunyikan wajahnya dengan menunduk. 

“ Baiklah. Paman paham. Bagaimana dengan kau Tias.”

Tias sebetulnya ingin mengucapkan sesuatu namun mata takutnya terpancar ketika menatap wajah istrinya. Akhirnya dia tertunduk wajah juga. 

“ Maaf paman. “ Kata istri Tias. “ Bukankah Almarhum Bang Amsar punya warisan rumah dan toko. Kami rasa itu lebih dari cukup. Nanti kalau ada kurang, kami akan bantu sebisanya. “

Paman seakan tak pedulikan kata kata istri Tias “ Bicaralah kau Tias. Sudah hilang sifat laki laki minang kau ? Berubah gadang sarawa kau ? Kata paman tegas.

Tias hanya diam. 

Paman mengalihkan pandangan ke arah Bunda. Seakan minta Bunda bicara. 

“ Anakku. Dari kecil Mandeh dan Abak kalian membesarkan kalian dengan cinta. Kami bukan orang kaya. Abak kalian hanya pengawai rendahan di kabupaten. Namun dari kecil kami tanamkan kepada kalian untuk saling mengasihi. Yang tua menjaga yang kecil, Yang kecil menaruh hormat kepada kakaknya. Tapi entahlah karena zaman keadaan berubah. Melihat kehidupan kau Tias, Herman, mandeh sedih. Kalian di besarkan oleh didikan agama dan adat yang kental. Tapi kini kalian bukan lagi putra minang dan bukan orang beragama yang beradat. “ Kata Bunda dengan suara datar.

“ Mandeh..” Kata Bang Herman. “ Saya berhenti bekerja di Bank karena ingin mewakafkan ilmu agama yang ku pelajari dari guru. HIdupku tak sekaya Bang Amsar dan Tias. Tapi aku berjihad karena Allah. Kita harus berjuang agar tegaknya syariah di negeri ini “ Sambung Bang Herman.

“ Herman. Mandeh tidak melarang kamu belajar ilmu Agama. Mandeh senang. Tapi sebaik baiknya jihad Nak adalah apabila yang wajib telah kamu penuhi. Pastikan terlebih dahulu rumah tangga mu aman secara materi. Jangan kau bebani istrimu dengan pekerjaan yang seharusnya itu menjadi tanggung jawabmu. Apalagi kau mampu berbuat lebih dengan tenaga dan pendidikanmu. Setelah aman keluargamu, maka bantulah orang terdekatmu dengan hartamu, dengan ilmu yang kamu punya. Bantu mereka berdiri dan melangkah dan tercerahkan. Kalau masih ada lebih harta itu, bantulah tetanggamu, anak yatim dan piatu. Bantu mereka sebisa kamu lakukan. Tapi ini, kau mengaku berjihad tapi hidupmu ditopang oleh istrimu dan berharap orang lain menyumbang setiap dakwah mu. Kau berjuang ingin mengubah negeri ini bersyariah tapi menjadikan dirimu lebih baik saja tidak mampu. Yang kau lakukan benar benar bukan sifat pria minang. Kau beragama tapi tak beradat. “

“ Aku sadar Mandeh. Tapi untuk bisa seperti yang mandeh sampaikan itu, perlu harta tidak sedikit. Perlu waktu banyak, Kapan lagi ada waktu aku mengurus umat ?

“ Kau tak perlu berlaku seperti Allah. Seakan tanpa kau , urusan umat terbengkelai, Yang urus umat itu, ya Allah. Hidayah itu dari Allah, bukan karena kamu orang bertambah baik dan sholeh. Negeri ini sudah merdeka dan sebagian besar pendiri negara adalah Ulama besar di zamannya. Mengapa pula kau mau ubah? Kalaulah memang kehendak Allah negeri ini bersyariah, mengapa tidak dari awal saja negeri ini negara Islam ? Bukannya Pancasila. Jangan kau menggantang asap. Hidup dalam angan angan adalah dosa besar. Itu tipu daya iblis, anakku. Tirulah Bang Amsar. Dia sangat taat beragama namun dia perkerja keras. Dia tidak kaya seperti Tias, tapi dia urus si LIli sampai jadi sarjana dan menikahpun dia tanggung. Anakmu pun sekolah dia bantu, Tetangganya yang miskin di bantunya. Walau tak ada uang berlebih namun seminggu sekali dia sempatkan diri mendatangi setiap kios di pasar dimana tromol amal untuk anak Panti Asuhan ditempatkan. Walau Bang Amsar mu meninggal tak berharta berlebih, mandeh yakin Allah akan menjaga keselamatan Anak anaknya. Karena kebaikan yang ditebar akan berbuah kini atau besok, kepada kita atau kepada keturunan kita. Paham kau ?

Bang Man terdiam. Tak sanggup dia memandang wajah Mandeh.

“ Kau, Tias ? Mata Mandeh di arahkan kepada Martias, adikku. “ Entahlah bagaimana mandeh harus katakan kepadamu Nak. Kau kejar harta dan tengggelamkan hidupmu hanya untuk keluargamu. Kau tak peduli dengan keluarga besarmu. Kalau kepada keluarga saja kau berhitung bagaimana kau bisa ikhlas membantu orang lain ? Tirulah Bang Amsar kau, Dia tidak kaya tapi dia tanggung biaya kau sampai jadi Sarjana. Padahal Nak, adat kita mendidik, anak di pangku , ponakan dibimbing, orang kampung di patenggangkan. Berkali kali Mandeh memohon agar kau jangan tinggalkan sholat tapi kau abaikan dengan alasan sibuk. Kau berdalih dengan akalmu bahwa Allah akan maklum akan kesibukanmu mengurus pabrik yang menampung ribuan pekerja. Itu bagimu juga amal ibadah. Bagaimana kau bisa mengakui Islam kalau sholat tak kau lakukan. Harta telah membuatmu menjau dari agama dan melupakan adat. Kau bukan lagi putra minang. Bukan.“

Tias hanya diam, Dia memang tak berdaya dengan istrinya karena posisinya diperusahaan hanya melanjutkan warisan dari mertuanya. Tapi benar kata bunda, Tias tak bisa menegakan agama di rumah tangganya bahwa istri harus patuh kepada suami. Itu semua karena karena takut melangkahi hak istrinya. Bang Man, tak bisa bersuara sama sekali. Dia sadar bahwa cara hidupnya selama ini lebih mementingkan akhirat tanpi di bumi dia tidak berpijak. Dengan alasan dakwah dia tidak merasa malu mendapatkan uang santunan dari umatnya. Dan bermimpi suatu saat jadi ustad selebritis yang kaya dari berdakwah.. Bagiku mereka tidak pernah mencintai siapapun, Mereka hanya mencintai dirinya sendiri. Tias mengutamakan istri karena kawatir kehilangan posisi sebagai dirut perusahaan. Bang Man, mengutamakan dakwah nya karena berharap santunan dan takut masuk nereka. ya benar kata paman dan Mandeh, mereka bukan pria minang.

“ Baiklah..” terdengar suara paman dengan bergetar. “ Paman akan ambil alih tanggung jawab kedua anak abang Amsar kalian. Dan Paman juga akan ambil alih menjaga ibu kalian. Ini bukan soal apa. Tapi hanya menegakan agama kita. Adat bersandi sara, sara bersendikan kitabullah.. Agama berkata , adat mamemakai. “ Kata paman sambil berdiri. Segera kupeluk Mandeh yang sampai menitikan airmata ketika pama usai berbicara. Di peluk Mande kedua cucunya dengan mengusap kepala mereka satu persatu. Penuh cinta dan penuh kasih seperti dulu beliau membesarkan kami…

“ Entahlah anakku…Mungkin zaman telah mengubah jalan kalian. Adat di hapus karena agama dan agama terhapus karena harta. Semoga ALlah membukakan jalan kebenaran untuk kalian. Agar kalian bukan hanya beriman tapi juga karena akhlak kalian, hidup kalian paling banyak manafaatnya bagi orang lain. Doa mandeh akan selalu untuk kalian…***

Uni dimadu.

Uni diam saja. Hanya memandang. Lurus. Kosong, jauh. Lebih-lebih kalau duduk depan jendela. Angin kadang memburai-burai rambutnya sampai masai, namun Uni bergeming. Matanya terus menerawang ke cakrawala. Wajahnya tambah putih, kian lesi. Tidak jarang air matanya merambat sepanjang pipi. ”Uni ! Uni !” adik-adik mengimbau, berlari mendekati, memeluk, serta menarik-narik tangannya. Uni tak hirau. Tetapi ibu terus bicara. Ibu bilang kami juga harus sering bicara dengan Uni , menyeru namanya. ”Tapi Uni diam saja,” kata adik-adik. ”Seperti tak mendengar.”

”Uni mendengar,” ujar ibu. ”Dia sayang sekali kepada kalian.”

”Mengapa uni tidak menyahut?” adik terkecil bertanya kepada Uni Ros.

” Uni sedang malas bicara,” jawab Uni Ros. ”Ajaklah terus berkata-kata.”

”Malas bicara, seperti kalau aku ngambek?”

”Ya. Begitu.”

Sambil lambat-lambat menyisir rambut uni yang sepinggang ibu berucap, ”Ai, ai, harum dan bagus sekali rambutmu, Nak. Ikal. Legam. Ah, tidak elok kita terus mengenang yang sudah-sudah sampai rambut tak terurus. Itu, paman dan bibimu tiba, Nak. Salamilah paman dan bibimu.” Uni tetap tidak beringsut. Sudah lama uni serupa patung hidup. Sejak dia di pulangkan oleh suaminya , karena Uni tidak mau dimadu untuk kesekian kalinya. Suaminya guru mengaji dan juga acap diundang orang berdakwah. Pada waktu suaminya minta izin menikah untuk kali pertama, Uni bisa menerima karena Uni belum juga hamil setelah dua tahun menikah.

Tapi ketika suaminya minta izin menikah untuk ketiga kalinya Uni tidak menjawab apapun. Suaminya tetap melangsungkan pernikahan. Dan ketika suaminya menikah untuk keempat kalinya, Uni berontak dengan suara kencang sekali. Setelah itu Uni tidak lagi bicara. Dia menutup rapat mulutnya. Mungkin karena itu suaminya memulangkan Uni ke rumah kami.
”Baru kemarin aku baru bisa berangkat,” kata Paman Adi seperti minta maaf. ”Aku sibuk sekali. Banyak rapat bisnis yang harus aku lakukan.”

” Harus tunggu anak anak untuk jaga rumah. Baru bisa kemari. Maklum kami hanya berdua saja dirumah ” istri paman menambahkan.

”Paham aku itu,” balas ibu mengangguk, lalu menoleh kepada Uni. ”Begitu keadaannya, lihatlah.”

Istri Paman Adi menghampiri uni. ”Tapi mau dia makan, Uni?

”Mau. Disuapi.”

”Disuapi?” Bibi senyum memeluk bahu Uni. ”Disuapi engkau Meriani, anak rancak? Eh, kenapa keningnya ini?” Senyum bibi tiba-tiba lenyap.

”Tempo hari dia benturkan ke kaca rias,” sahut ibu. ”Tapi tidak dalam. Sudah kering sekarang.”

”Kenapa bisa begitu Nak!” Seru Bibi. “ Tengoklah, Bang!” Kata bibi kepada Paman. Bibi merebahkan kepala Uni di dadanya. Membelai-belai rambut dekat luka. ”Masih rajin engkau mengaji, Meri? Nanti mengaji, ya. Bibi ingin mendengarmu mengaji. Pamanmu juga.” Tidak berjawab. Hanya bulu mata lentik Uni mengerjap-ngerjap. Kemudian air  matanya membersit lambat-lambat, bagai rembesan pada panci rusak.

”Lepaskan, Nak. Tumpahkan terus. Menangislah keras-keras!” ujar bibi masih tersenyum. Kakak terisak. Bahunya bergerak-gerak. Adik-adik dan Uni Ros berlarian mendekat. ”Uni! Uni...! Mereka rangkul tangan dan tubuh Uni . Uni tersedu-sedu dalam pelukan bibi.

”Maulud Nabi kemarin sudah tak disuruh orang dia mengaji,” kata ibu seperti berbisik kepada Paman Adi.

”Buya Nawawi juga tidak menyuruh?”

”Dia tetap. Sengaja buya tua itu kemari. ’Siapa pula anak gadis sefasih engkau mengaji Meri, ia bilang. Mengajilah saat maulud, sebagai biasa’. Tapi yang muda-muda menolak. Sekarang orang-orang muda berkuasa di surau. Katanya, tak ingin menerima istri durhaka kepada suami”

Paman Adi melempar pandang ke luar rumah. Sebuah bendi lewat di muka rumah, penumpangnya tak menengok. Paman kembali melihat ibu. ”Sebaiknya Uni ikut denganku ke jakarta ,” dia bilang.
”Bagaimana aku bisa pindah, Adi ? " jawab ibu. ”Rumah ini peninggalan Uda Amsar kau. Aku ingin membesarkan anak anak dirumah yang Uda kau dapat dari kerja kerasnya. Aku akan menjaga hartanya dan bekerja keras membesarkan konveksi yang diwariskan Uda kau”

” Uni masih muda. Menikahlah lagi”

" Sudah kepala lima usiaku. Tak terpikirkan bagiku untuk menikah lagi. Bagiku anak anak adalah tugas yang harus aku tuntaskan. Ini amanah dari Uda kau sebelum meninggal. Eh siapa pula yang mau menikahi ku…”

" Uni aku hanya ingin menghindarkan Uni dari fitnah. Di kampung ini orang mudah sekali bergunjing walau sumber berita fitnah belaka. Aku sebagai adik pria Uni harus bertanggung jawab terhadap kehormatan Uni.Kalau uni tak ingin menikah lagi, Ikutlah dengan Ku ke jakarta. Ajak keempat anak anak Uni. Tinggal dirumah ku. Kami dirumah hanya berdua saja. Kedua anak kami kan sekolah di luar negeri”

”Tak mau aku. Uni tahu kau sangat peduli dengan Uni. Tapi Uni akan baik baik saja. Yang penting sering seringlah telp Uni ya dan  tengokin uni Ya. “

Paman terdiam lama. Menyulut rokok. Melihat pula ke luar. Orang-orang tetap lewat di muka rumah, tak menengok. Hanya melirik sedan yang disewa paman di bandara sedang Parkir di halaman.Akhirnya paman berkata " Kalau begitu biarlah Meri ikut aku ke jakarta. Biar aku yang urus dia. Semoga dia bisa tenang disana dan bisa semangat lagi hidupnya untuk memulai hidup baru. Bolehkah Uni”

" Baguslah kalau itu keputusan kau Adi. Uni hanya turut saja. Kau pamannya kau lebih berhak atas kemenakan kau”

”Sstt!” ucap bibi perlahan. Mengejutkan kami. "Tidur.” Berbisik pula pada adik-adik, ”Ambil bantal, selimut!” Lalu dia rebahkan kepala Uni hati-hati. Dia luruskan kakinya. Diselimuti.

Saat tidur begitu muka uni persis bayi. Bersih. Polos. Tak sedikit pun tersisa galau yang mendera: Ayah meninggal , diceraikan suami, diasingkan orang Kampung. Padahal, sebelumnya Uni periang, terkadang terdengar menyanyi di kamar mandi: tak ’kan lari gunung dikejar/ hasrat hati rasa berdebar…. Atau diajaknya adik-adik, aku, Uni Ros berdoa, supaya ayah dilapangkan kuburnya dan kelak kami bisa berkumpul lagi di sorga.

Lalu tiba suatu hari karena status istri tertua dari tiga istri, suaminya kembali minta izin menikah keempat, serupa badai Dan suaminya itu muncul di suatu petang, berwajah dingin memulangkan cincin kepada ibu. Tetapi, mantan suaminya maupun keluarganya selalu lewat di depan rumah dengan dagu terangkat pongah, saat uni mulai terbiasa duduk di muka jendela. Kemudian mantan suaminya itu memang tidak terlihat lagi. Kata orang ia sudah tinggal dirumah istri keempatnya di kampung sebelah. Sementara Uni semakin betah di muka jendela, menatap kejauhan tak berbatas.

”Sudah ke mana-mana kuobati,” kata ibu, memandang paman serta bibi penuh harap. ”Belum juga ia berubah. Ada kira-kira dokter di Jakarta dapat menangani?”

”Ada!” Paman dan bibi menjawab serempak. ”Tenanglah Uni,” lanjut bibi.

”Kalau perlu kami bawa ke dokter di luar negeri. Sesekali akan kubawa pula dia umrah. Biar terbuka pikirannya”

”Kukhawatirkan justru Uni,” ulang Paman Adi. ”Ikutlah ke Jakarta!”
”Tak perlu khawatir, Adi" balas ibu. Sambil mengelus kepala paman ”Tidak semua orang jahat di kampung ini. ”

Uni terus tidur di beranda, tak bergerak-gerak seperti bayi. Napasnya lunak. Kulitnya bersih. Putih. Apa gerangan terlintas di pikirannya sehingga mukanya begitu bersih dan tenang? Apakah dalam tidurnya dia bertemu ayah? Di antara kami uni paling dekat dengan ayah. Barangkali karena perempuan, putri sulung; tapi tangannya campin pula, terampil-cekatan menangani rumah. Ayah bangga dengannya, berharap uni jadi guru tamat IAIN. Sedangkan Uni Ros diharapkan menjadi dokter”.

”Kakek-nenek kalian guru. Mestinya ayah juga. Tetapi malah jadi pengusaha konveksi. "Ayah tertawa suatu ketika. ”Syukur ada uni kalian, ya?” Kami mengangguk, turut bangga walaupun uni waktu itu baru kelas satu Sekolah Guru Atas.”

" Ayah, aku ingin punya suami seperti Ayah. Walau tak gagah rupa tapi ayah sangat sayang ke bunda dan kami. Tak seperti Angku Jafar yang kaya itu , yang punya istri empat. Tak suka aku lihat gayanya" Kata Uni.

" Apa maksud mu soal si Jafar?

" Bolehkah aku tahu pendapat ayah soal poligami " kata Uni tanpa rasa sungkan. Dan ayah memang mendidik kami sangat demokratis. Apalagi antara ayah dan Uni dekat sekali. Uni sangat manja kepada ayah.

" Pria boleh berpoligami selama dibutuhkan untuk menjaga dan mengelola harta anak yatim dari perempuan-perempuan yang ditinggal suaminya. Itupun dengan syarat wanita itu sebatang kara. Tidak punya kakak laki laki atau adik laki laki, Tidak punya paman dan ayah. Tapi jarang pria menikah lagi karena niatnya melindungi perempuan yang ditinggal mati suaminya demi menjaga harta dan memelihara anak yatim. Umumnya pria menikah lagi dengan perawan atau karena kecantikan wanita. Lebih karena nafsu rendah. Kedua, pernikahan itu harus ADIL. Adil disini bukan soal nafkah lahiriah tapi soal batin, dalam hal perasaan, emosi, cinta, kasih sayang.”

" Oh betapa ketatnya Allah memberikan syarat poligami bagi laki-laki. Jadi benar secara syar’i poligami itu bukan hal mudah bagi laki-laki, bahkan tidak mungkin. “

" Benar anakku. Coba baca Annisa ayat 129 “walan tastati’u anta’dilu baina annisa walau harastum,” kamu tidak akan bisa berbuat adil di antara istri-istrimu kalaupun kamu sangat ingin melakukan hal itu. Nabi Muhammad mengatakan “Barang siapa yang mengawini dua perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil kepada keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan terputus.” Masya Allah, ayah tidak mau terjadi seperti sabda Rasul itu. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa poligami bisa diharamkan ketika calon suami tahu dirinya tidak akan bisa memenuhi hak-hak istri, apalagi sampai menyakiti dan mencelakakannya.”

Uni sangat tercerahkan dengan pitutuah ayah itu. Kelak setelah Uni menikah , Uni selalu unggul dalam debat dengan suaminya yang meminta izin menikah lagi. Tapi entah mengapa semakin Uni paham dalil soal poligami semakin menjadi jadi gila kelakuan suaminya. Tak penting Uni setuju atau tidak, suaminya tetap menikah dengan seringai srigalanya

”Rencanaku besok kembali,” ucap Paman Adi . ”Kubawa Meri sekalian. Jaga diri Uni baik baik. Kalau ada apa apa telp aku. Si Burhan kalau tamat SLTP suruh dia ke jakarta biar aku urus pula dia.”

Ibu mengangguk-angguk. Ibu bernapas lega. Besoknya, Uni dibawa paman dan istrinya. Ibu menangis. Kami juga. Rumah jadi lengang—lengang sekali. Uni telah pergi. Tidak lagi berada di tengah-tengah kami. Dekat kami. Tapi, setidaknya mantan suaminya takkan lagi bisa tersenyum mengejek melihat Uni lagi termenung di depan jendela, memandang gunung ataupun kejauhan tiada batas. Tidak dapat lagi dia atau keluarganya mengangkat dagu dengan pongah bila lewat di muka rumah kami.

Di era sekarang , akal memperluas cakrawala, dan hati memperkaya Sukma. Sorga itu janji Tuhan namun cinta Tuhan yang utama. Bukan banyak ritual agama yang dituju tapi ikhlas yang utama .Uni telah bersikap dengan ilmunya dan hatinya menerima dengan berat namun ia berusaha ikhlas. Suaminyapun telah bersikap dengan ilmunya namun bertindak dengan nafsunya. Kami dibesarkan oleh ayah yang taat beragama namun rendah hati dalam beriman. Dan keperkasaannya sebagai pria tidak ditunjukkan kemampuannya menikahi banyak wanita tapi mendidik anak dan istri dengan teladan akhlak mulia. Paman Adi pengusaha hebat namun adat dan agama tetap menjadi bagian hidupnya. Anak dipangkunya, kemanakan dilindunginya dan saudara perempuan dijaganya dari fitnah...***

Sundari.

Sundari namanya. Orang kampung mengenal dia sebagai wanita yang lincah. Walau tidak begitu cantik namun senyumnya membuat kebanyakan pemuda kampung acap melirik diam diam kearahnya. Sundari memang mudah sekali akrab dengan siapapun. Namun dalam usia delapan tahun, Ayahnya meninggal. Diapun yatim karena. Dua tahun kemudian, ibunyapun meninggal. Maka tinggallah Sundari seorang diri. Kalaupun ada sanak family namun kehidupan mereka tak cukup mampu dibebani oleh Sundari. Salah satu penduduk kampung juragan kaya berbaik hati untuk menolongnya. Sundari pun tinggal sama keluarga itu. Demikianlah sekilas yang kukenal tentang Sundari. Selebihnya aku tidak tahu lagi. Karena aku keburu berangkat kekota untuk meneruskan kuliah.

Usiaku dengan Sundari terpaut empat tahun. Jadi ketika dia masih kelas 1 SMP aku sudah menamatkan SLA. Aku memang jarang pulang kampung. Dalam lima tahun kuliah ke dokteran di kota baru dua kali pulang. Itupun ketika mau susun skripsi dan mendapat kabar ayah sakit. Ketika aku pulang baru kutahu dari Bunda bahwa Sundari dalam usia 17 tahun, belum tamat SLA sudah diambil sebagai istri oleh juragan kaya.

Sebelumnya juragan kaya itu adalah ayah angkatnya. Namun ketika istri juragan itu meninggal Sundari-pun dijadikan istri. Mungkin diam diam, juragan kaya itu menaruh hati kepada Sundari. Aku tidak banyak komentar ketika Bunda cerita soal Sundari. Namun yang membuatku miris adalah Sundari diperlakukan seperti pembantu rumah tangga oleh anak anak juragan itu yang sebagian mereka sudah besar besar. Bahkan ada yang seusia Sundari.

Berjalannya waktu, setelah menamatkan kedokteran, aku diterima untuk bekerja. Ditempatkan di Puskesmas dikecamatan. Kebetulan tak begitu jauh dari kampungku. Hanya 2 jam perjalanan dengan bus ke kampungku. Walau ada rumah dinas disediakan dekat puskemas namun aku memilih untuk setiap libur pulang kekampung. Sejak itulah aku mengenal lebih banyak tentang Sundari.

Setelah juragan kaya itu meninggal, Tak berapa lama setelah itu, Sundari menikah.. Diapun hamil. Namun setelah itu suaminya mengusirnya keluar dari rumah. Tak berapa lama setelah itu diapun menikah lagi. Hamil dan punya anak. Seperti sebelumnya, diapun diusir oleh suaminya.. Tinggalah Sundari dengan beban dua anak. Dia tinggal dirumah gubuk dipinggir kampung. Untuk menopang hidupnya dia bekerja dipabrik bata.

Siang itu , aku hendak pulang kerumah untuk makan siang. Karena rumahku tepat berada di sebelah Puskesmas. Ketika tepat di pintu keluar, aku melihat di ruang tunggu Sundari sedang terduduk lemas. Matanya redup dan wajahnya pucat. Dua anaknya ada di sampingnya.

” Sun ” Sapaku.
Dia membuka matanya dengan lemah. ” Eh, Mas..aku mau berobat...”
”Ya sudah masuk kedalam. Biar aku periksa ” Aku membimbingnya ke dalam ruang pemeriksaan. Setelah kuperiksa, ternyata Sundari hamil. Kupandang wajahnya dengan seksama. Siapa yang telah menghamilinya? Padahal dia tidak ada suami. Semua sudah bercerai.
” Sun, kamu hamil ” Kataku dengan hati hati sambil tersenyum
” Ya, Mas..” Nampak air matanya berlinang.
” Jaga kesehatan kamu , ya. Itu yang penting”
” Ya Mas…”

Tak banyak yang bisa kukatakan. Aku hanya terenyuh dengan keadaan Sundari. Apalagi melihat kedua anaknya yang masih kecil kecil. Pikiranku masih kepada Sundari walau dia sudah lama pergi. Entah kenapa , aku melihat sosok ketegaran di balik tubuhnya yang rapuh, matanya yang redup kelelahan dalam derita. Ya, aku tahu pasti bahwa Sundari sangat menderita. Dulu bersuami dan punya anak tapi kini hamil tak jelas siapa suaminya. Lantas bagaimana ini bisa terjadi? Apakah Sundari melacurkan diri ? Atau ada orang lain yang memperkosanya ?

Entah bagaimana cerita , hanya seminggu setelah pemeriksaan di puskesmas , cerita tentang Sundari hamil beredar keseluruh kampung. Jadi pembicaraan ibu ibu di pasar atau di sawah. Yang anehnya tak ada satupun yang tahu siapa yang telah menghamili Sundari. Makanya para ibu mulai kawatir bila salah satu dari suami mereka adalah yang menghamili Sundari. Tak ada satupun tetua kampung ataupun para ibu ibu yang berani bertanya langsung kepada Sundari tentang siapa yang telah menghamilinya. Namun , yang pasti Sundari semakin terisolasi dari pergaulan di kampung. Dia dicemoohkan oleh orang banyak. Namun dia tetap sabar. Senyumnya menatap siapapun tak pernah kering. Walau perutnya semakin membesar.

Aku mencoba untuk mencari tahu tentang keadaan Sundari. Ketika libur aku pulang kampung. Kudatangi Rumah Sundari dengan membawa vitamin. Sebetulnya keluargaku melarang keras. Alasan aib berkunjung kerumah janda yang hamil. Tapi aku tidak peduli. Karena alasan kemanusiaan. Tidak ada salahnya dokter untuk mengunjungi pasiennya, diminta ataupun tidak. Apalagi Sundari hidup dalam kemiskinan.

” Sun, ini aku bawakan vitamin untuk kamu makan.” Kataku ketika berada di depan pintu rumahnya. Ketika itu siang hari. Sun masih dalam keadaan memakai mukena. Aku terkejut. Bayanganku bahwa dia melacurkan diri ,adalah tidak mungkin. Dia mempersilahkan aku masuk.
” Engga usah repot repot mas. Aku baik baik aja kok. ” Wajahnya menunduk.
” Ya ini vitamin bagus untuk kesehatan kamu yang lagi hamil”
” Terimakasih Mas,”
Tak tahu harus bicara apa lagi. Namun entah kenapa aku berkata ” Sun, siapa ayah dari cabang bayi yang ada didalam rahim kamu ? Maaf sebelumnya ”

Sundari hanya diam dan kemudian airmata mengalir di balik tubir kelopak matanya. Dia berkata ” Saya miskin, saya tak berdaya., tapi inilah cobaan yang harus saya terima. Saya tahu orang kampung membenci saya dengan keadaan saya ini.” .Sekonyong konyong anak laki lakinya yang masih kecil datang mendekatinya. Anak itu merangkulnya dengan erat. Tak ada kata kata yang keluar. Namun nampak anak itu ingin melindungi ibunya dari segala nestapa. Aku mendekati anak itu. Kubelai kepala anak itu namun dengan cepat anak itu mengelak. Matanya merah menatapku.

” Ada apa? Kataku. Tak ada jawaban apapun dari anak itu.
” Mas...ini rahasia mohon jangan dibuka kepada siapapun. Kalau Mas mau tahu siapa anak dari bayi dalam kandungan ini. Itulah si Somad, anak juragan. Dia memperkosa saya. Kejadian itu disaksikan oleh anak laki laki saya. Makanya ketika anak saya melihat pria dewasa dekat saya, dia ketakutan...”
” Mengapa kamu tidak lapor polisi ? Tanyaku
” Somad itu preman. Dia mengancam akan membunuh anak anak saya kalau saya lapor dan lagi setelah kejadian itu Somad pergi entah kemana. Belakangan diketahui Somad meninggal ditembak polisi karena melarikan diri ketika hendak ditangkap. ”
” Mengapa kamu tidak beritahu kepada orang kampung hal yang sebenarnya ? Mengapa harus dirahasiakan ?
”Juragan sudah seperti orang tua kandung bagi saya. Ketika aku terlunta lunta sebagai yatim piatu, juraganlah yang menampung saya. Dia bersama istrinya merawatku dengan tulus walaupun anak anaknya tidak menyukaiku. Setelah istrinya meninggal dia menikahi ku, itupun karena dia ingin melindungiku dari ulah anak anaknya. Buktinya dia tidak pernah menyentuhku. Aku terima kebaikannya dengan tak pernah berhenti berterima kasih. Apapun pekerjaan dirumah , aku kerjakan. Aku tidak tahu kalau juragan cepat sekali menyusul istrinya. Aku hanya berjanji pada diriku sendiri untuk menjaga kehormatan keluarganya sebisa kulakukan.Itulah sebabnya aku tidak mau membuka aib ini. ”
” Bukankah setelah juragan meniggal kamu mendapatkan suami. Kenapa begitu cepatnya mereka menceraikan kamu tanpa memberi apapun.”
” Dua kali aku bersuami. Itupun karena ulah anak anak juragan sebagai cara mereka membayar hutang yang ditinggalkan juragan”
” Oh...”
” Dan terakhir anak tertuanya memperkosaku ...” Sundari menangis. Namun dia tetap mendekap anaknya di pangkuannya. Curahan kasih sayang kepada anak anaknya tak pernah lekang walau dia sadar kehadiran anak anak itu karena hasil penidasan dan pemerkosaan.
” Ya, Sun...berat sekali cobaan hidup kamu. Yatim piatu, teraniaya, terbebani sepanjang hayat mu...”
” Dengan semua ini membuatku semakin dekat kepada Allah. ”
” Mengapa ? ”
” Mereka yang telah menzolimiku adalah ladang ibadah bagiku untuk bersabar menerimanya. Karena itulah aku begitu mencintai anak anakku . Sebagaimana Allah juga mencintaiku…”

***
Setelah Sun melahirkan, dia kembali bekerja di pabrik Bata. Belakangan aku tahu orang kampung mulai membicarakan keadaan Sun, yang katanya jadi piaran encek encek pemilik pabrik bata itu. Maklum pemilik pabrik itu duda tua dan tidak punya anak. Sun dan anak anaknya tinggal di paviliun rumah pemilik pabrik bata itu. Ternyata ketika aku datang ke rumah itu untuk mengobati pemilik pabrik itu, aku baru tahu bahwa Sun merawat orang tua itu. Belakangan aku tahu pemilik pabrik bata itu kembali ke Taiwan. Dia ingin mati dekat dengan keluarga besarnya. Pabrik di hibahkan kepada Sun. Setelah itu nasip Sun berubah. Usaha pabrik bata terus meningkat. Kini anak anaknya semuanya Sarjana, ikut mengembangkan bisnis ibunya.***

Limited Edition...

Tidak ada yang istimewa bila aku bercerita tentang suamiku. Dia seperti suami kebanyakan. Menurut yang kurasa selama  pergaulan dengannya bahwa dia adalah suami yang bertanggung jawab, mencintai keluarga, walau kadang terkesan tidak setia.  Soal tanggung jawab maka secara materi aku bisa katakan dia termasuk suami yang segelintir. Maklum saja sebagai pengusaha dia bisa memberikan apa saja kebutuhanku. Pakaian bagus, rumah bagus , liburan keluar negeri, kendaran, perhiasan, dan ATM yang selalu penuh. Namun dalam bentuk lain, suamiku sama dengan suami suami lainnya. Tak ada yang terlalu istimewa kecuali memang dia pekerja keras dan mencintai bisnisnya selain aku dan anak anaknya. 

Kadang dengan segala kesibukannya , aku sempat mempertanyakan kesetiaannya namun dia menjawab  “Bahwa sebenarnya kesetiaan itu bukan diukur apakah seseorang berkhianat atau tidak, melainkan apakah ia kembali lagi atau tidak.” Kata-kata itu mungkin menghibur bagi wanita lain tapi tidak bagiku. Ini seperti ejekan yang menyakitkan. Apalagi ketika dia melanjutkan dengan kata kata ‘ Sebagaimana kematian adalah bagian dari kehidupan, demikian juga patah hati atau sakit hati adalah bagian yang sama dengan jatuh cinta. Kalau kamu pernah mengalami sakit hati, cintamu akan menjadi sempurna.”

Dengan tangkas aku membalas kata katanya. “Mungkin akan sempurna kalau aku patah hati dengan lelaki lain, misalnya. Bukan dengan suami sendiri” Ku ingin tahu apa reaksinya. Apakah dia tersinggung soal kata kataku ini. Dia hanya tersenyum.  “Sebetulnya sama saja. Hanya saja sebutan suamiku, menunjukkan kepemilikanmu, jadinya terasa lebih menyakitkan.”

Sedih kan.!

Ketika awal berumah tangga adalah saat awal yang berat hidup bersama pria yang berstatus suami namun mempunya cinta selain aku.  Perhatiannya kepada bisnisnya melebihi segala galanya. Dunianya adalah bisnisnya. Oh, ada lagi rival ku selain bisnisnya, yaitu ibunya. Didunia ini hanya satu yang bisa menghentikan langkahnya untuk pergi rapat bisnis maha penting yaitu ibunya. Tak ada yang dia takuti selain Tuhan dan ibunya. Aku sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi dengan suamiku bila ibunya meninggal dijemput Tuhan. Mungkin separuh atau sepertiga jiwanya juga ikut mati. 

Dalam hal lain , dia merasa bangga dengan keperkasaanya menerjang gelombang,  diatas kelelahan ku berpacu birahi menuju puncak. Untuk hal ini aku senang tapi bukan segala galanya.

“Dalam pikiran lelaki, hubungan seks adalah bentuk cinta. Makin perkasa dia, membuktikan ia makin mencintai. Suami berkewajiban men-delivery kepuasaan batin kepada istrinya, sama halya dia harus bekerja keras untuk men-delivery kepuasaan lahir bagi istrinya.. ” Katanya satu ketika. Bagiku itu tak lain menunjukkan keegoanya sebagai penakluk. Dia pikir apakah urusan tempat tidur disamakan dengan bisnisnya yang harus selalu tampil unggul.  Bagiku semua itu omong kosong. Hanya mitos. Wanita tidak menjadikan ukuran keperkasaan laki laki sebagai dasar menilai seorang laki laki. Bukan. Bagi wanita adalah sentuhan walau hanya sesaat namun dilakukan dengan penghargaan yang tinggi , itu lebih dari cukup.  

Kukatakan kepadanya bahwa akan ada waktunya nanti ketika daya seksual melemah atau habis, cinta memisahkan diri dengan nafsu seksual. Ketika itu cinta tak perlu dibuktikan dengan hubungan seksual. Nafsu seks bisa mati dan berhenti, tapi cinta bisa terus jalan sendiri.  Artinya kalau setelah daya seks melemah, tapi masih bisa betah bersama-sama, itu artinya masih cinta. Saat seperti itu akan datang dengan sendirinya, tak perlu dipaksa, sebagaimana usia. Tanpa kecuali semua bertambah tua, juga dunia. Dia tertawa terbahak bahak. " Bagiku Sex hanya option, bukan segala galanya. Kita akan selalu bersama sama walau tanpa sex. Insya Allah." katanya berargumen

Ya sudahlah, Dia dengan dirinya dan aku bagian dari dirinya, perhiasannya. pakaiannya. Naif sekali.  Dan kini, ia punya hobi baru yang membuatnya mabuk seakan sedang jatuh cinta lagi. Apa itu ? Dia gemar menulis. Menulis apa saja. Bahkan sudah pula bukunya diterbitkan oleh penerbit terkenal. Sepulang kerja di rumah, waktunya di habiskan di depan computer menulis. Entah apalagi yang hendak dia capai dari kecintaannya menulis. Yang pasti tidak ada uang yang dia dapat dari kegemarannya yang baru ini. Padahal selama ini yang menjadi standarnya bahwa apapun kalau tidak ada uang yang didapat , engga usah di kerjakan, apalagi di paksakan berbuat. Hidup tidak ramah dan semua harus bayar. Yang mau gratis harus siap di jadikan duafa dan dipermalukan oleh diri sendiri. 

“Bagaimana abang bisa jatuh cinta dengan menulis "

“Seperti yang selama ini terjadi,” katanya menjelaskan. “Begitu banyak peristiwa berlalu, tapi apakah semua orang memahami perisitawa itu dengan benar. Apakah mereka mendapatkan hikmah? Tidak semua. Tanggung jawab kaum terpelajar adalah mencatat peristiwa itu agar orang membacanya dan mendapatkan hikmah”

“Menulis itu tidak ada gunanya sama sekali. Abang hanya memuaskan ego abang saja.,” kataku.

“Salah, Bukan soal ego tapi soal tangung jawab..”

“ Dan abang menikmati rasa tanggung jawab itu  ? 

“ Aku hanya senang melakukannya. Aku senang. Karena baru kali ini rasa tanggung jawabku membebaskan aku dari rasa inginkan uang, pujian, harapan dan apalah “

“ Jadi abang senang dengan tanggung jawab seperti itu ? Kenapa engga dari dulu dulu. Sekarang abang udah engga muda lagi. Apa tidak sebaiknya gunakan waktu yang terbatas ini untuk hal lain yang menyenangkan" 

“Kesenangan tak akan pernah bisa dikalahkan oleh waktu. Justru kesenangan menang dengan waktu. Walau hanya sejenak , kesenangan makin bermutu. Ingat itu.”

Dan lagi menurutnya “ Aku merasakan bahwa sebetulnya kehidupan manusia ini adalah episode tentang kelemahannya terhadap ruang dan waktu. Ini sudah takdirnya dan dia berdamai dengan takdirnya. Walau manusia terisolasi akan ruang dan waktu namun dia mungkin lebih bahagia bila dia menyadari kelemahannya..”

“Sama denganku.” kataku

“Juga ibuku.” Jawabnya cepat.

“ Mungkinkah abang akan menikah lagi suatu saat?”

“Mungkin, karena semua lelaki mempunyai bakat untuk itu. Tapi secara praktis tak akan menyenangkan. Di dunia ini, satu-satunya standar moral yang aneh dan disepakati di seluruh dunia adalah moral dalam lembaga perkawinan. Bayangkan, semua transaksi sekarang selalu bayar dimuka dan orang akan mendapatkan apa yang dia mau. Dalam perkawinan pembayaran dan ikatan berlangsung selamanya. Kalaulah bukanlah karena Tuhan, lembaga perkawinan adalah kontrak moral yang paling dungu. Itu sebabnya Allah mengatakan silahkan poligami asalkan kamu bisa berlaku adil, sementara Allah mengatakan sendiri bahwa manusia tidak akan pernah bisa berlaku adil. Hanya pria dungu yang tidak paham bahwa izin poligami itu bukanlah free will tapi by tight condition dan mungkin mission impossible. Paham kamu.." 

“Berarti abang  menyesali perkawinan?”

“Satu-satunya yang kusesali dalam hidup ini adalah karena aku tak bisa menyesali apa yang terjadi. Aku bahkan tak mampu menyesali kenapa aku tak dilahirkan di tempat yang paling aku sukai, tempat yang ada sungainya dengan empat musim, lalu aku bisa bermain bola salju ketika salju turun.  Menyesal adalah hasil dari pikiran, dari nalar.  Dan nalar bahkan tak bisa menjelaskan hal yang paling sederhana tentang cinta. Jadi ikhlas melewati hidup adalah cara mudah untuk bahagia."

" Ya,  karena cinta ?

" Ketahuilah oleh kamu, sebesar apapun cinta pria atau wanita kepada selain Tuhan bukanlah cinta yang aman. Mengapa ? Tuhan tidak pernah cemburu. Tuhan tidak pernah meminta. Tuhan selalu memberi. Kedua orang tua kita juga sama, sama  sama cinta dalam arti memberi, tanpa cemburu dan ikhlas berkorban. Cinta aman. Itu sebabnya aku begitu hormat dan sayang kepada ibuku. Karena ibuku adalah cinta amanku, bayang bayang Tuhan..."

“Benarkah semata-mata karena rasa aman yang membedakan cinta sesungguhnya ?” tanyaku.

“Ya. Sesungguhnya cinta selain kepada Tuhan hanya ada dalam pembesaran di pikiran, di perasaan. Cinta tak akan selesai dirumuskan dengan pemikiran. Cinta aman tidak akan kamu peroleh dari anak, cucu, menantu, suami atau istri, harta atau jabatan. Seseorang hanya memiliki satu cinta, yaitu Tuhan , yang bagaikan air sungai, bisa mengalir ke mana-mana, membelok ke selatan atau ke utara, tapi sebenarnya satu arus saja, menuju Tuhan.

“Ketika aku memutuskan untuk melamarmu menjadi istriku maka  itulah keberanian, itulah anugerah Allah. Keberanian, karena banyak cinta diutarakan tanpa keberanian menikah. Anugerah, karena itu hadiah besar dari Tuhan. Semua itulah harga yang kita bayar sepanjang usia berbagi rasa, merawat, memanjakan dan dimanjakan. Kita tak akan merasa aman, merasa tentram, hanya dengan menyewa, membeli atau memandangi. Paham, kan. Aku bisa saja mengagumi keindahan ikan berenang didalam aquarium. Memandangi wanita cantik berbikini melenggok dipinggir kolam renang.  Menyewa escort jelita untuk acara business dinner dengan relasiku. Bisa.! Tapi aku tidak merasakan cinta aman. Aku hanya bisa memandangnya. Tapi… kamu adalah takdirku yang dianugerahkan Allah yang bukan hanya kupandangi tapi memang kamu amanah terindah dari pemberi Cinta, Tuhan.” 

Dan akhirnya aku sadar bahwa aku harus bersyukur memiliki suamiku sebagai anugerah dari Allah walau kadang terkesan seperti ikan yang berenang didalam aquarium , ada kebebasan namun terhalang oleh dinding tebal dalam bentuk budaya dan agama yang mengharuskan aku selalu menjaga kehormatan suamiku dalam kondisi apapun. Menghindari fitnah ketika suamiku sedang tidak ada dirumah. Menjaga dan merawat semua yang di amanahkannya dan menantinya ketika dia pulang , untukku dan semua karena Tuhan tentunya..

"Bagaimana sikapmu sebetulnya terhadap aku, suamimu ? Katanya dengan nada lucu.

" Abang memang bukan pria sempurna tapi ya limited edition".

Berlabuh...

Musim dingin di Hong Kong. Tapi tidak ada salju. Kalau di Jilin, sungai dan laut menjelma daratan es. Kereta membeku. Bandara membeku. Saya dan dia tidak pernah satu sikap. Entah mengapa? dia selalu mengkawatirkan setiap langkah saya. Sepertinya dia ingin jadi malaikat untuk diri saya. Sebetulnya saya risih. Mengapa dia terlalu mengkawatirkan saya. Kadang sangking kawatirnya terkesan panarnoid. Saya tidak pernah mau berdebat dengannya. Sekedar mendengar argumennya yang basi. 

“ Kamu terlalu ambisi. Terlalu berani ambil resiko. Sampai kapan kamu akan begini terus.? usia kamu tidak muda lagi. Udah dech. Nikmati saja yang ada. “ Katanya seperti hujan turun dari langit dengan petir menggelegar.

Walau sudah bersahabat lebih dari tiga dasawarsa , dia selalu punya alasan untuk senantiasa mengkawatirkan saya dan kadang merendahkan saya. Tetapi okelah itu hak dia. Tentu cobaan bagi saya punya sahabat yang langka seperti dia. Di dinding apartement nya ada lukisan pastel. Abstrak. Komposisi warnanya hitam dan putih. Lukisan itu saya beli di Dafen, Shenzhen. Saya hadiahkan untuk dia. Karena dia pernah memberi hadiah ulang tahun istri saya sebuah perhiasan berlogo shio saya. “ saya berharap istri kamu menjadi hadiah terindah dari Tuhan. Jaga dia selalu.” katanya.

Malamnya sehabis dinner dengan relasi, dia datang “ Apakah kamu bebas sekarang? Gimana kalau kita ke cafe di Tshim Tsha Sui East. Pinggir laut.” Katanya. Seperti biasa saya tidak pernah bisa menolak walau sebetulnya saya malas. 
“ Nim Nam.? “ Katanya menawarkan minuman. Saya hanya mengangguk. Udara semakin dingin di malam hari.
“ Bro “ Serunya. Saya menatapnya. Siap menyediakan kuping untuk menjadi pendengar. “ Berkali kali aku terjaga dari tidurku , selalu pertanyaan sama hinggap di kepalaku. Mengapa aku terlalu bodoh setelah mengumpulkan harta, kini aku menua dalam kesendirian dan putus asa. Lantas untuk apa uang sebanyak ini? Aku lelah, saudaraku. Hal yang tak pernah aku mampu lakukan adalah menyesali keputusan yang telah aku ambil. Tapi itu dulu ketika aku selalu bergairah menghadang resiko untuk mengumpulkan uang demi uang. Tapi menyesali kebodohan adalah soal lain. Karena aku tidak pernah berbuat bodoh. Kalau aku bodoh mana pula aku bisa sekaya ini. Ya kan. Kali ini aku benar benar menyesal.

Ingat engga setelah krismon kamu mentertawakan aku yang hendak pensiun untuk menikmati uang hasil kerja keras berpuluh tahun. Ketika itu aku tahu kamu mentertawakan ketidak-mungkinan terjadi. Mengingat sifatku yang tak henti bergerak menciptakan peluang , mengejar peluang dan menguasai peluang. Semua demi berdirinya pabrik , property , kebun agar menjadi sumber uang yang terus mengalir tiada henti. Mungkin saja tidak semua menghasilkan laba namun dari beragam business itu menghasilkan pendapatan lain. Apa itu? Hutang yang mudah kugali. Dari bank, private investor sangat berharap aku hutangi agar aku memberi penghasilan kepada mereka. Dari hutang yang tak terbayar menghasilkan hutang baru dan terus berlanjut. Sehingga aku sendiri tidak tahu mengapa orang begitu bodoh memberiku pinjaman. Tapi aku selalu kekurangan uang.

Aku mampu membayar hutang dengan berbagai skema. Tentu semua itu karena aku punya asset produktif untuk di leverage. Sehingga selalu ada solusi untuk bayar utang dan ekspansi. Akhirnya aku mundur juga dari bisnis. Kita sempat berdebat panjang ketika itu. Aku mentertawakan argumen kamu karena keputusanku mundur dari bisnis. Kamu tahu, setelah aku jual semua sahamku, aku dapat uang lebih dari cukup untuk hidup 7 keturunan. Setelah membagi sekian persen uang kepada keluargaku, akupun bebas.

Tapi apa yang terjadi kemudian? Semua keluargaku sudah jarang bersapa denganku karena mereka semua sibuk dengan bisnisnya. Para sahabat sudah jarang mau bertemu denganku karena sibuk dan lagi tidak ada bisnis yang bisa dibahas. Para pegiat sosial juga sudah jarang datang kepadaku karena mereka tahu aku tidak lagi punya usaha dan tidak patut dimintai sumbangan. Lambat laun aku merasa diasingkan. Atau mungkin mereka tidak ingin mengganggu kenteramanku bersama uang triliunan di bank.

Aku ingat nasehatmu dulu bahwa uang hanya penting bagi orang miskin. Dan ketika orang sudah punya uang berlebih, lambat laut persepsi tentang uang semakin berkurang pentingnya. Tak lagi bergairah beli baju batik seharga Rp. 15 juta. Atau sewa escort sekelas artis sekali kencan seharga Rp 50 juta atau beli mobil balap seharga miliaran. Tak lagi bangga bila dipuji. Tidak merasa rendah bila di hina dan difitnah. Kita semakin tidak takut ambil resiko bisnis. Semakin engga takut teken hutang berapapun. Itu semua karena kita melakukan kegiatan produktif dan terus begerak. Jiwa kita kuat dan phisik kita tahan banting. Kita sesungguhnya kaya walau uang selalu kurang. Tapi setelah kita berhenti dari bisnis dan hidup dari deposito maka saat itulah kita tahu bahwa uang ternyata kutukan. Uang menjadi penting dan kita jadi sangat miskin. KIta baru menyadari setelah semua nilai kita sebagai makluk sosial tak lagi di akui orang lain.

Orang china berkata, kalau ingin bahagia sebentar maka carilah pekerjaan. Kalau ingin bahagia setahun maka carilah uang. Tapi kalau ingin bahagia selamanya maka ciptakan bisnis dan berilah pekerjaan untuk orang lain. Memberi uang hanya membuat orang lain malas. Tapi memberi orang lain pekerjaan, kita membangun harapan dan masa depan. Muliakan? Itulah yang membuat hidup kita bergairah. Nah itulah kebodohan yang kusesali. Sumber kebahagiaanku adalah bisnis yang kubangun tapi itupula yang aku tinggalkan. Semua karena uang. Uang pula sumber kutukan yang membuat aku menangis di tempat sepi. Kering di tengah hujan deras dan lapar diatas tumpukan uang. Kini satu demi satu penyakit datang, semakin aku merasa aku kalah, mati hanya masalah waktu dan nothing.." katanya seraya menengguk minumannya. Saya masih setia mendengar.

“ Tomy bilang ke aku bahwa kamu berhasil akuisisi Perusahaanya. Aku pikir kamu sudah pensiun jadi srigala sejak tahun 2013. Ternyata setelah 5 tahun bersemedi kamu berhasil melakukan akuisisi diatas prestasi yang pernah kamu lakukan sebelumnya. Nilainya gigantik, Dan hebatnya kamu lakukan itu ditengah situasi pasar uang lagi lesu. Kali ini saya harus katakan, kamu benar. Usia kita tidak jauh beda. Namun kamu nampak lebih muda dari saya. Dan kamu sehat. Ya memang hidup tidak boleh berhenti untuk berbuat. “ Katanya

Saya perhatikan wajahnya. Saya tidak tahu mau bicara apa lagi. Semua sudah dia sampaikan. Bertahun tahun saya bersabar dengan sahabat saya ini. Kini dia mengakui bahwa dia salah dengan sikapnya terhadap saya. Bagi saya bisnis bukan soal uang tetapi soal tantangan. Hidup menjadi bergirah kalau orang punya tantangan. Mungkin dengan tantangan yang ada kita harus menempuh resiko. Kadang jatuh dan terluka. Namun dengan itu kita tahu bersyukur dan rendah hati. Paham artinya mencintai dan berbagi. Sementara ketika kita merasa nyaman dengan uang di tangan, maka saat itulah kita tidak merasa aman. Setidaknya kini dia menyadari itu. Bagaimanapun ini soal pilihan. Dia sudah menentukan pilihannya. Tugasnya menerima itu. Sifat ikhlas lah yang akan membantunya melewati sisa hidupnya.

Kami mengakiri pertemuan itu. Hidup bukan apa yang kita dapat tetapi apa yang kita beri. Bukan apa yang kita pelajari tetapi apa yang kita ajarkan. Bukan apa yang kita pikirkan tetapi apa yang kita lakukan. Malam dingin menggigit Hong Kong. Dari jauh nampak kapal berjalan malas mendekat dermaga untuk berlabuh. Semua orang pasti akan berlabuh dan selesai. Semua yang ada akan tinggal kenangan belaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...