Sabtu, 22 Februari 2020

Aleppo...

Yerevan
“ Jadi, gimana dengan rencanamu meninggalkan Armenia?" Mary bertanya, sambil tersenyum. Setelah sekian waktu di Yerevan, walau berat hati namun saya harus pulang ke Tanah Air.  Mary, adalah pengungsi Suriah-Armenia. Usianya mungkin belum empat puluh. Saya tak ingin tanya usianya. Mungkin engga sopan bertanya tentang usia kepada wanita. Dia bekerja di cafe. Yang saya suka dari cafe itu penganan Khachapuri, kue keju berbentuk segitiga. Ketika itu sedang memasuki musim semi. Patung Bunda Armenia dari tembaga, di atas pusat kota seakan menatap dengan ketidakpedulian bisu. Dari kejauhan, menembus kabut, bayangannya menyerupai salib. Seperti biasa kami akan asyik dalam obrolan ringan.

"Di Suriah aku punya mobil," katanya. “ Bagus. Tapi aku tidak mampu membeli suku cadang, orang Suriah punya cara mengakali agar kendaraan tetap jalan” Sambungnya dengan senyum tertahan getir.

"Sekarang," dia memalingkan wajah kesamping. Menghentikan kata katanya. Lama terdiam. Aku maklum. “ Aku ingin kembali ke Suriah. Tidak ada yang bisa dilakukan di sini."  Katanya. 

georgia
“ Aku akan meninggalkan Armenia,"  kataku pada Mary. " Rencana ke Georgia, ke Tbilisi, dan kemudian terbang Beijing." Apakah dia pernah ke Beijing ? Tentu tidak. Dia hanya ingin kembali ke Suriah.

“Teman-teman saya memberi tahu saya ada masjid di Georgia. Setelah semuanya…” Kembali dia terdiam. Seakan membayangkan  pembunuhan di Suriah bersamaan dengan lantunan azan. “  Saya tidak tahan mereka, saya tidak tahan dengan suara mereka, saya tidak tahan azan. Itu trauma yang panjang dalam hidup saya. "

" Sebagian besar Muslim di Georgia, itu adalah etnik Azeri. " Kataku.

"Apa bedanya?" dia bertanya, secara retoris. “Anda tahu, ada Mujahidin dari Azerbaijan di Suriah, yang membunuh orang Armenia. Ada Mujahidin dari Chechnya di luar sana, membunuh orang-orang Kristen. Mereka menyebut diri mereka Muslim, tetapi mereka tidak berbicara soal cinta dan kasih sayang. Mereka monster "

Dia minta izin pergi sebentar dari hadapan saya. Tak berapa lama dia datang membawa penganan diatas nampan. Beberapa kue-kue berbentuk telur, diisi sayuran dari minyak mendidih. Saya  mencicipi penganan itu. Memang enak. Tapi saya lupa nama penganan itu. Oh ya. Hummus. Kata Mary. Itu penganan orang kristen Armenia. 

“ Enak sekali," Kata saya.

"Orang Arab, dia datang dari padang pasir. Si Turki, ia berasal dari Asia Tengah, nomaden, dan apa yang mereka miliki? Yogurt? Susu? Keju, mungkin? “ katanya menimpali. 

Ada pengunjung cafe yang berisik. Mungkin mereka mabuk. Mereka berkali kali memanggil. Mary menggumamkan beberapa kata-kata kotor dan mencondongkan tubuh ke arahku. Dia sedang bersamaku. Para pemabuk itu terdiam sambil meneruskan celoteh tak jelas.

Anatolia
"Apakah kamu tahu apa arti Anatolia, Ana dolu?" 

“ Saya tidak tahu, apa itu? .” Kataku.

“ Itu artinya seorang wanita dengan payudara besar. Ana berarti ibu dalam bahasa Turki ”

"Seperti itu." Katanya menunjuk ke salah satu pengunjung cafe, wanita Turki yang berpayudara besar. Dia tertawa. 

"Tapi ketika orang Turki itu menginvasi armenia, mereka suka wanita armenia, walau tak berpayudara besar . Tapi mereka bangga menyebut kami Anatolia. Munafik mungkin ya.”

Tentu saja itu absurd. 

Dia mengerutkan alisnya dan mengangkat kedua tanganya mengusap rambutnya. Mungkin dia ingin pastikan di hadapanku, payudaranya tidak besar. 

“Saya punya teman, teman Armenia, yang nama keluarganya adalah Zeytun-oğlu, nama keluarga Turki! Dia seharusnya menjadi Tuan Zeytunyan. Zeytunyan. " Kataku.

Dia mengangkat bahu, menatap kosong, dan kemudian menangkupkan wajahnya di tangannya, “ Bunuh kami, katanya, " tapi jangan injak martabat kami. Jangan ganti nama kami” Lanjutnya terkesan ada marah kalau bicara tentang orang Turki.

Saya berusaha tetap netral, di hadapan Mary. Apapun, itu hanya politik, yang kadang membelah ras, mengiris kemanusiaan, dan menumpahkan airmata dan darah. Tak peduli walau itu dilakukan dengan atas nama Tuhan sekalipun. Saya cerita kepada Mary bahwa saya punya beberapa teman Iran, Mary tersenyum, atau tepatnya menyeringai. Menurutnya, dia tidak peduli orang itu etnisnya apa. Tetapi kalau mengetahui mereka muslim, sulit baginya untuk melupakan kekejaman. " Tapi untuk orang Eropa saya bisa berdamai. Mereka moderat dan agama benar benar masalah privat."

Tatarstan
"Dan bagaimana dengan Tatar di Krimea?" tanya saya. “Mereka bisa dianggap pro-Eropa, paling tidak karena anti-Rusia.”

"Bagaimana bisa seorang Tatar mencintai Eropa?" Tanyanya, dengan cara menjawab. ‘Dia pro… Tataristan, Tataria. Atau Turki. Atau Mongolia ... “ Sambungnya.  Saya hanya tersenyum. Saya pernah di Tatarstan

Kassab
Beberapa waktu kemudian setelah saya meninggalkan Armenia.  Kassab di Suriah Barat Laut, dekat perbatasan dengan Provinsi Hatay Turki, telah diserang oleh pemberontak. Pertempuran di Kassab telah menyebabkan orang-orang Armenia melarikan diri. Presiden Armenia Serzh Sargsyan berterima kasih kepada pemerintah Suriah atas upayanya untuk melindungi minoritas Armenia, ia tidak secara langsung menanggapi tuduhan keterlibatan Turki dalam serangan itu. Banyak tinta telah digunakan dalam spekulasi tentang nasib kota ini. Membayangkan peristiwa genosida Armenia era Dinasti Turki Ottoman, yang dilakukan militer Turki.

Kashatagh
Sejarah belum berpihak pada orang-orang Armenia. Saya ingat percakapan dengan seorang Armenia yang dipulangkan di Yerevan. Pengungsi Suriah-Armenia telah dimukimkan kembali oleh pemerintah Armenia di wilayah Kashatagh yang dihuni dan disengketakan di Republik Nagorno-Karabakh yang tidak dikenal. Banyak dari mereka berasal dari Qamishli di timur laut Suriah. Mereka adalah petani, dan karenanya cocok untuk kehidupan desa di Karabakh. Saya heran. Bagaimana pemerintah Armenia bisa sedemikian sinis sehingga memukimkan kembali pengungsi ke zona yang berpotensi diserang? "Sinis, mungkin ', kata teman saya," tetapi Karabakh belum berperang. Memang ya berpotensi diserang. ”

Mary adalah seorang Aleppine; kehidupan kota cocok untuknya. 

“ Bila keadaan sudah damai. Suatu hari, aku ingin kembali ke Aleppo, dan menyediakan waktu hanya untukmu “ Katanya. Di bawah rezim Bashaar, memang kelompok minoritas terlindungi dengan baik. Suriah menjadi kosmopolitan yang damai. Sangat berbeda dengan kelompok jihadis yang menteror semua penduduk yang berbeda dengan mereka. 

Aleppo
Tahun 2003 saya ke Aleppo. Tepatnya sudah lebih 15 tahun berlalu. Ketika bom dan peluru belum berterbangan. Ketika kaum jihadis belum hadir mencari sorga.  Mengingat Aleppo membangkitkan kenangan yang sulit dijelaskan. Langit nan berwarna zamrud. Bila malam datang, cahaya neon dari menara ratusan masjid memancarkan warna hijau, menyejukan mata. Aleppo kota yang damai, tempat bertemu pedagang dari berbagai negeri. Rakyatnya makmur karena kota hidup dari perdagangan yang bersahaja namun penuh gairah.

Aleppo, tidak seperti Damaskus sebagai ibukota Suriah. Aleppo adalah kota kuno yang penuh energi dan vitalitas. Terasa agung dibandingkan Damaskus. Keagungan itu tercermin dari sejarah panjang ribuan tahun. Aleppo sebagai Hub perdagangan yang terhubung dengan kota kota besar di Timur Tengah yang membentang dari Mediterania sampai ke China. Ia merupakan bagian dari jalur sutera yang penting menghubungkan barat dan timur. Ya Aleppo adalah kota kosmopolitan dan bernuansa global.

Sepanjang sejarahnya, berbagai macam orang pindah ke Aleppo. Kota ini memiliki banyak identitas etnis dan agama yang memengaruhi kehidupan sehari-harinya. Aleppo adalah inti kosmopolitan di Suriah, rumah dari beragam tradisi. Secara etnis, Aleppo adalah Arab, Armenia, Kurdi, Sirkasia, Turki, dan Syria. Secara agama, itu Sunni dan Syiah Muslim, Kristen, Ismaili, Alawit, dan Yahudi. Orang-orang ini membawa ribuan kerajinan tangan yang diwariskan kepada mereka selama ribuan tahun. Aleppo mendapat manfaat dari pengetahuan mereka.

Aleppo adalah kota yang terdiri dari pedagang dan creator terampil, berbakat dalam pekerjaan kayu dan logam, pemintalan tekstil, pembuatan sabun, dan kuliner. Aleppo adalah pusaran dan derasnya kemanusiaan, berkumpul di satu kota Timur Tengah. Aleppo adalah pusat kota yang penuh sejarah. Komunitas yang selalu ceria dan selera berkelas. Kalau anda ingin memberi hadiah terindah untuk kekasih anda, maka taplak meja sutera itu adalah pilihan tepat. Tidak ada tempat lain yang membiasa membuat seindah pengrajin Aloppo. Kenangan kuliner selama di sana, madu, zaitun, dan Kabab al-Karaz  sulit dilupakan. Betapa tidak. Kabab al-Karaz, itu hidangan yang dibuat dengan saus asam ceri. Momen kebahagiaan yang sempurna. Menikmati Kabab al-Karaz menikmati keramahan khas Aleppo, resep kosmopolitanisme perpaduan budaya barat dan timur. Hidangan yang beragam seperti kotanya, meminjam dari tradisi memasak Yahudi, Muslim, dan Kristen.  Rasanya? , tidak manis atau pedas, sangat selaras.

Saya tidak bisa mengerti bagaimana kota kosmpolitan sepeti Aleppo bisa hancur karena sekterian dan panatisme agama. Tahun 2014 saya masuk Damaskus untuk tugas kemanusiaan. Dari teman , saya dapat cerita, yang menyibak tabir kehancuran Aleppo dan kota suriah lainnya. Itu bermula dari invasi yang dilakukan AS terhadap Irak. Dari sanalah propaganda jihadis mengumandang untuk mengusir AS dari Baghdad. Suara propaganda jihadis berkumandang dari Masjid ke Masjid. Lambat namun pasti polarisasi di tengah masyarakat terjadi. Khas dari orang Suriah kebanyakan memang tidak peduli dengan slogan jihadis itu. Mereka yang rasional memilih diam di tengah progaganda jihadis itu.

Kemenangan Bashar AL Assad dalam pemilu demokratis ternyata sebagai awal tampilnya gerakan jihadis melawan pemerintah. Rasa tidak puas terhadap hasil pemilu yang didorong oleh pengaruh sekterian dan radikalisme, membuat situasi kacau. “ mereka yang menentang pemerintah itu hanya segelintir saja. Namun segelintir itu sangat agresif. Sementara yang mayoritas memilih diam. Dari yang sedikit itu mengundang jihadis dari berbagai negara untuk bergabung. Maka Suriah tadinya hub perdagangan, berubah mejadi hub terorisme. Semua alasan agama. tetapi mereka sendiri tidak punya landasan yang kuat bicara agama ketika agama melahirkan kebencian atasnama sekterian.”

Setelah perang selama 6 tahun, kota kota di Suriah sudah sepenuhnya dikuasai oleh pemerintah Suriah. Keadaan berangsur angsur normal.  Yang nampak adalah puing puing kehancuran dan airmata yang tak pernah kering akibat sesal yang tak berujung. “ Andaikan kami dari awal peduli, peduli kepada persatuan dan kesatuan, sekterian dan radikalisme itu tidak mungkin membuat orang tua, anak , ibu kami harus jadi korban oleh perang yang tak rasional. Semua sudah terjadi. Kami harus belajar dari masalalu, dan melihat kedepan dengan penuh percaya diri. “ Kata Mary dari Ankara via email kepada saya. Dia termasuk pengungsi yang berniat pulang ke Aleppo. Dia mengungsi karena menghindari dari kekejaman ISIS yang membantai dan menjadikan budak non muslim.

Idlib
Apa masa depan Suriah? Rakyat Suriah yang harus menjawabnya? Orang Aleppo, juga kerabatnya di Damaskus, Homs, Hama, Idlib, Dera'a, dan Deir ez-Zor, yang harus menjawab.  Mereka dari Sunni, Alawit, Kristen (Arab, Asyur, Armenia), Kurdi, Ismailiyah, Druze, dan Syiah, mereka yang harus menjawab pertanyaan ini. Jawaban mereka untuk pertanyaan-pertanyaan ini akan jauh menentukan masa depan Timur Tengah.

Suriah adalah pelajaran mahal bagi Indonesia. Dimanapun kita berada, apapun agama dan golongan kita, kitalah yang menentukan masa depan anak cucu kita. Apakah kita harus kalah dengan segelintir orang yang tak henti meniupkan kebencian atas nama sekterian dan fundamentalis agama? Suriah hancur karena mayoritas lebih memilih diam, dan segelintir orang yang militan mampu menghancurkan segala galanya yang telah dibangun ribuan tahun.

Kemarin dapat kabar bandara Aleppo sudah kembali di buka setelah sekian tahun ditutup  “I will miss you,” kata Mary dalam emailnya. “Whenever you come back, I am sure we will meet again. I will be right here.”. Membayangkan Mary , orang yang moderat dan kadang masabodoh dengan keadaan sekitarnya, namun saya yakin dia dan juga rakyat Suriah lainnya pasti mendapatkan pelajaran dari 6 tahun terburuk dalam hidup mereka. Semoga kita juga belajar dari Suriah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...