Sabtu, 28 Desember 2019

Mata uang dan Emas ?



Dalam acara  25th International Conference on The Future of Asia (Nikkei Conference), Mahathir mengklaim bahwa mata uang regional berdasarkan emas akan stabil. Mata uang bersama yang baru ini nanti bisa digunakan untuk kegiatan impor dan ekspor di antara negara-negara Asia Timur. Apa alasannya? Mahathir mencatat bahwa pasar global sekarang terikat dengan dolar AS, dan ini membuat mata uang rentan terhadap manipulasi. 

Waktu berita ini muncul, saya tidak berminat untuk mengulasnya. Karena saya tahu, apa yang disampaikan oleh Mahathir tidak lebih sebagai politik pecitraan kepada khususnya umat islam. Maklum dia tetap ingin terus jadi PM tanpa ada niat memenuhi janjinya untuk menyerahkan kepada mitra koalisinya, yang didukung oleh umat Islam di Malaysia. Tapi karena ada permintaan dari nitizen, maka saya coba ulas secara singkat saja.

Kalau tujuan mahatir agar mata uang kembali ke emas, karena tidak percaya dengan AS, maka sebetulnya dia sedang berbicara atas nama AS. Mengapa ? Stok emas terbesar di dunia ada di AS. Per akhir Juni 2019, Bank Sentral AS, The Fed mencatat posisi cadangan emas sebesar 8.133,5 ton. Kalau stok emas itu di tambah dengan cadangan emas Jerman sebesar 3.367,9 ton per akhir Juni 2019, disimpan di Federal Reserved Bank ( bank central AS ). Maka bila siapapun yang menjadikan emas sebagai mata uang, akan tetap dikendalikan secara langsung oleh AS. 

Mengapa ? Ketika dollar melemah pada waktu bersamaan harga emas akan melambung naik dan ketika itulah value devisa AS berupa emas juga melambung. Ini secara tidak langsung system kekuatan ekonomi AS yang bertumpu dengan akumulasi harta ( produksi dan emas )  memang ampuh sebagai penyeimbang system mata uang ( fiat standard maupun gold standard ). Itu sebabnya walau ekonomi AS melemah, kemampuannya menarik hutang tetap tinggi dan tetap dipercaya oleh investor.

Nah, Pertanyaan berikutnya adalah apa yang terjadi bila semua orang beralih kepada emas ? Apakah US dollar ditinggalkan ? Apakah suplai  emas mencukupi?. Karena permintaan emas kian melonjak. Cina dan India, dua negara yang permintaan emasnya kini mencapai 52 persen dari total permintaan emas dunia. Di negara-negara barat, kepemilikan emas dalam bentuk reksadana memperketat pasokan emas di pasar. Di Inggris, reksadana SPDR Gold Shares (GLS) kini menyimpan 1.200 ton emas. Semakin banyak pembeli reksadana GLS dan reksadana sejenis lainnya, maka emas pun kian sedikit di pasar. Hukum permintaan berlaku, semakin dikit supply  semakin tinggi harga. Harga emas akan melambung. Siapa yang untung ? Ya Amerika serikat. Semakin kuat saja uak sam.

Jadi apa sebetulnya uang itu? untuk jawab ini saya akan analogikan dengan coin emas di China. Di China ada aturan dimana setiap warga negara dibatasi memiliki emas untuk kepentingan pribadi. Namun, pemerintah mengizinkan beli emas yang diproduksi pemerintah sendiri. Apa bedanya? Emas yang di produksi pemerintah itu bukan emas asli tapi aspal atau istilah dagangnya Tungsten. Ini adalah sejenis metal dengan tingkat kemiripan dengan emas mendekati sempurna. Biaya produksinya tak lebih 0,2 % dari harga emas asli. Jadi warna kuningnya dijamin tidak akan luntur dan bisa dipakai untuk perhiasan. 

Setiap pembelian emas Tungsten ini , pembeli akan mendapatkan sertifikat yang berbunyi " Katanya ini emas " Harganya sesuai harga pasar. Dapat dijual kembali kapan saja dengan harga emas international. Nah apa yang terjadi ? Orang menjadikan " katanya emas " itu sebagai alat investasi dan perhiasan sama dengan emas asli. Pemerintah dapat menarik dana triliunan dollar dan tak perlu takut orang akan melarikan emas itu keluar negeri karena pasti engga akan laku di luar negeri. 

Sertifikat emas ini dapat juga di jadikan jaminan hutang di bank dan dapat dipindah tangankan dengan mekanis dagang normal. Dari sistem ini , pemerintah china dapat dana murah dari publik tanpa harus pusing bayar bunga. Sementara likuiditas dari " katanya emas " ini dijamin oleh pasar. Dan pertanyaan nya adalah, dengan sistem ini apakah masih di perlukan emas asli? Tidak kan.

Lantas apa sih sebetulnya yang membuat bukan emas menjadi emas asli dan dapat menjadi alat invetasi ? karena TRUST! Pemeirntah sebagai undertaker menjamin likuiditas atas emas itu. Artinya kapanpun orang butuh uang, dia bisa dapatkan uang dengan harga pasar tanpa sedikitpun harga dikendalikan. Dan itu bukan hanya retorika dan aturan serta Hukum yang menjamin tapi memang kerna sistem terbentuk sedemikian rupa orang percaya bahwa " katanya emas " itu merupakan alat investasi yang aman dan nyaman.

Nah, gegitu juga dengan uang. Uang itu menyebutkan nominal " katanya Rp.100.000. Tapi apakah benar nilainya Rp.100.000 tidak ada yang tahu pasti ( karena marketable ), tapi kapanpun orang butuh barang maka uang itu dinilai sesuai nominalnya untuk dipertukarkan dengan barang dan jasa. Pertanyaannya, apa yang menjamin uang itu sesungguhnya ? Bukan apa apa tapi TRUST. Jadi kembali kepada trust. Makanya penting sekali menciptakan trust kepada pemerintah agar sistem berkerja dengan baik. Makanya sangat fatal apabila ada orang yang mempertanyakan legitimasi uang hanya karena lambang yang diragukan. Menjaga kepercayaan ( TRUST ) itu sangat sulit dan apabila TRUST hancur maka pemerintah akan jatuh dengan sendirinya. Mengapa ? uang akan tak bernilai apapun.

Lantas apa sebetulnya gunanya uang ? Bila sudah tahu bahwa uang itu jaminannya adalah TRUST, maka kita juga paham bahwa uang itu bukan alat investasi tapi alat untuk melaksanakan fungsi sosial. Untuk mendapatkan uang, kita ( prefessional atau pedagang.) butuh TRUST secara ekonomi,  baik karena kemampuan mendelivery jasa ( Skill ) maupun barang. Kalau anda anggap bahwa uang sebagai alat untuk memuaskan keinginan anda maka fungsi sosial uang akan jatuh dan otomatis fungsi ekonomi akan hilang karena sikap mental anda tidak menimbulkan trust. itu sebabnya oritentasi APBN kita sekarang bukan lagi konsumsi tapi produksi agar fungsi sosial uang terjelma sebagai alat membangun peradabadan dan keadilan sosla bagi semua.

Orang bahagia karena dia punya trust, bukan karena dia kaya. Kaya bisa kapanpun habis namun trust adalah sumber kekayaan yang tidak pernah habis..TRUST itu adalah AKHLAK. Itulah mata uang sesungguhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Tan Malaka melawan feodalisme dan Kapitalisme

  Mencapai tujuan kemerdekaan yang gagal. Sejarah kadang mengecoh. Ia ditulis oleh kehendak penguasa. Penulisan sejarah memang seperti menul...