Minggu, 15 Desember 2019

Kalau Jokowi ingin meninggalkan legacy..


Pagi itu belum begitu banyak tamu Bank. Para pegawai baru saja memulai kerja. Segerombolan orang datang menyerbu ke sebuah Bank. Mereka membawa senjata mesin. Pegawai bank tidak bisa berbuat banyak. Apalagi ketika salah satu Satpam tertembak tepat di keningnya oleh senjata berperedam perampok itu. Semua diam mencekam, penuh rasa takut. Gerombolan itu bekerja sangat profesional. Hanya butuh waktu 10 menit mereka berhasil menguras isi brangkas dan safety box yang ada di basement gedung Bank itu. Polisi baru datang setelah 10 meniat Perampok itu berlalu.

Polisi dan detektif memeriska TKP. Mereka tidak bisa mendapatkan gambaran wajah perampok dari petugas bank. Karena semua menggunakan masker. Semua mereka berkomunikasi menggunakan gerak tangan seperti orang tuna wicara. CCTV hanya melihat 2 menit Video perampokan itu. Setelah itu CCTV itu tidak berpungsi. Polisi menduga bahwa perampokan ini direncanakan dengan baik. Sangat detil.

Sorenya, pejabat bank tampil di TV dengan wajah lesu ketika diwawancarai. “ Dapat dipasikan, jumlah uang berhasil dirampok mencapai USD 36 juta. Itu belum termasuk barang yang ada di safety box yang jumlahnya kami tidak tahu“ kata pejabat bank itu ketika ditanya berapa kerugian akibat perampokan itu.

Para perampok yang berhasil melarikan diri dan bersembunyi, nampak saling tatap. Mereka menuduh pejabat bank itu berbohong. Karena jumlah uang dirampok hanya USD 500,000. Tapi apa hendak dikata. Mereka tidak bisa protes.
“ Mengapa mereka berbohong ? Kata salah satu mereka.
“ Karena sebetulnya perampok sebenarnya adalah pejabat bank itu. Kita hanyalah kumpulan pencuri yang bodoh. “
“ Ya mengapa ?
“ Eh begooo. “ teriak pimpinan perampok itu. “ Mereka punya jabatan, dan kita tidak, Jelas saja mereka lebih pintar dan mudah merampok daripada kita yang bego.”

Cerita di atas hidup dikalangan fund manager. Bagaimana mereka menggambarkan jatuhnya bursa. Dan akhirnya berimbas kepada krisis moneter, yang berujung kepada krisis perbankan. Mungkin hanya satu dua bank saja yang collapse, tetapi ketika kepanikan bursa terjadi, yang lain berlomba lomba mengumunkan kerugian besar akibat pasar uang dan modal yang ambruk. Pejabat pemerintah pun berusaha membangun narasi ancaman sistemik dan karenanya perlu bailout ( talangan).

Perhatikan yang delisting di bursa wallstreet hanyalah lehman brother. Kerugian mencapai USD 800 juta. Tetapi bailout selama 5 tahun mencapai USD 800 miliar atau 10 kali dari kerugian sebenarnya. 9 kali jumlah talangan itu adalah distribusi perampokan dari semua level otoritas AS. Kasus Century juga begitu. Bailout yang disetujui Menkeu hanya Rp. 1,3 triliun, tetapi dana yang keluar mencapai Rp. 6,7 triliun. Selisihnya itu adalah distribusi perampokan oleh elite politik dan pejabat bank. Robert Tantular sudah bebas sekarang.

Ada pengusaha yang utangnya segunung dan nilai sahamnya tinggal gocap di bursa, tetapi dia dan keluarganya punya “trust fund “ yang dikelola oleh Fund manager yang bisa menjamin hidup dia dan keluarganya 7 keturunan. Padahal dia bisa gunakan trust fund itu untuk bayar utang, tetapi dia tidak lakukan. Andaikan dia bangkrut, dia dan keluarganya tetap aman 7 keturunan. Utang itu akan menjadi resiko bank, yang tentunya resiko negara. Ada juga pengusaha besar yang berkali kali kena skandal pengelola dana pensiunan milik publik tetapi aman saja, bahkan terkenal sebagai filantropi yang bijak.

Jiwasraya tekor puluhan triliun. Bumiputera juga tekor puluhan triliun. Yang disalahkan OJK tidak melaksanakan fungsi pengawasan. Kalau tidak di bailout, maka reputasi OJK akan runtuh dan orang tidak lagi percaya denga produk investasi. KS terjerat hutang puluhan triliun. Garuda juga sama. Mereka berhutang dengan jaminan bank dalam negeri. Sementara beberapa bank dalam negeri terancam kridit macet debitur kebun sawit dan tambang batubara. Alasan harga sawit dan batubara jatuh. Negara dipaksa memberikan solusi dengan alasan politik. Kalau tidak akan berdampak sistemik. Cerita lama akan berulang lagi. Bailout secara langsung atau tidak langsung akan dilakukan. Kalaupun ada yang disalahkan dan masuk penjara, itu hanya dikorbankan. Pelaku sebenarnya tetap tidak tersentuh.

Apa yang hendak saya sampaikan dari analogi cerita diatas? tak lain adalah bahwa orang kaya itu akan semakin kaya. Apapun yang terjadi. Apakah mereka yang kaya itu peduli kepada anda yang kurang berharta. ? Tidak!. Karena mereka sudah bayar pajak. Dan lagi mereka tahu bahwa kekayaan mereka hanya segelintir dari kekayaan yang diperoleh oleh pejabat dari semua tingkatan. 5 tahun anggota DPR, menghabiskan anggaran Rp. 30,6 triliun. TKI memasukan devisa ke negara Rp. 156 triliun setahun. DPR semakin kaya dan TKI tetap miskin. Lantas apa penyebabnya ? Sistem. Maka sistem yang harus diubah.

Lima tahun kekuasaan sebelumnya memang melelahkan. Kerja keras siang malam untuk mengangkat batang terendam. Itu sebabnya di periode kedua Jokowi ini , seyogianya kalau Jokowi ingin berakhir dengan meninggalkan legacy maka harus focus kepada perbaikan sistem itu. Saya berharap RUU Omnibus law segera disahkan DPR dan setelah itu gas full pak…Kami akan kawal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Fenomena Buzzer.

  Waktu revolusi kebudayaan di China, semua simbol pemikiran dokrin terhadap feodalisme dihancurkan oleh rakyat jelata. Tempat ibadah yang m...