Minggu, 22 Desember 2019

Dibalik bela islam



Belakangan kita diributkan oleh dukungan sebagian umat islam terhadap etnis Uighur yang ada di Xinjiang, China. Yang paling gencar memprovokasi umat islam di Indonesia adalah HTi dan gerakan khilafah lainnya. Tapi ada yang kurang begitu gencar perhatian mereka, yaitu soal islam di India. Baru baru ini India meng-amandemen UU Warga Negara atau "Citizenship Amendment Bill" (CAB). Kalau UU China mengakui keberadaan Xinjiang sebagai daerah otonom Islam, namun UU India menolak keberadaan islam. Dengan UU yang baru disahkan itu, imigran muslim tidak bisa menjadi warga negara. Bahkan orang india yang muslim harus dipastikan dia pribumi. Kalau tidak, maka hak warga negara hilang. Padahal penduduk india yang muslim ada 14%. Cukup significant.

Nah pertanyaannya adalah mengapa perhatian kelompok Islam di Indonesia tidak begitu besar terhadap umat Islam di India. Sangat berbeda perhatiannya terhadap umat Islam di Xinjiang ? Untuk mejawabnya kita harus tahu sejarah tentang masuknya Islam di India. Islam masuk ke India   awalnya di zaman Khalifah 4 Sahabat Rasul. Itu dilakukan dengan cara damai. Konversi agama lokal ke  Islam berlangsung mulus tanpa paksaan namun itu pada umumnya terjadi di daerah-daerah di mana agama Buddha pernah menjadi mayoritas seperti Pakistan, Bangladesh, dan Kashmir. 

Namun di wilayah India , Srilanka, dan Maladewa, dilakukan dengan cara penaklukan. Siapa penakluk ? Adalah etnis Turki yang datang dengan pasukan besar dan akhrnya mendirikan kerajaan di India. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa penaklukan ini merupakan salah satu peristiwa paling bedarah dalam sejarah umat manusia. Lebih berdarah dibandingkan penaklukan Persia oleh Genghis Khan. Tercatat dinasti yang pernah berkuasa adalah Dinasti Ghaznawi ( 962 M sampai 1189 M. ) adalah Ghaznawi ( 962 M sampai 1189 M. ). Dinasti Ghuriyyah ( 1000 M-1215). Kesultanan Delhi ( 1206 M-1555 M.). Kekuasaan Khilafah Islam berlangsung 5 Abad. Wilayah kekuasaannya bukan hanya di India tetapi juga termasuk wilayah Xinjiang.

Sejarah kekuasan khilafah islam di India menimbulkan luka sejarah yang panjang bagi Umat Hindu. Sulit bagi mereka untuk melupakannya. Apalagi khilafah Islam di India selama berkuasa berusaha menghapus agama Hindu dari Bumi secara sistematis. Di masa kekuasaan Sultan Bengali usayn Shah ʿAlāʾ al-Dīn (tahun 1493–1519) dan Akbar yang agung (1556–1605), banyak kuil dihancurkannya agar tidak lagi menjadi tempat penyesatan aqidah Islam.  Dimasa  Khilafah  īrūz Tughluq (memerintah 1351-1888) dan Aurangzeb ( 1658-1707), menetapkan pajak yang tinggi bagi penduduk yang beragama Hindu. Upaya penindasan bagi umat hindu terus berlangsung.

Masuk abad 17, kekuasaan ditangan etnis India sendiri. Pada masa itu wilayah India terpecah menjadi enam negara. Namun Dinasti Lodi berhasil menyatukannya kembali. Ketika kekuasaan Dinasti Lodi melemah, muncullah Dinasti Mughal. Yang kemudian menjadi salah satu kerajaan Islam terbesar. Kerajaan ini menjadi penguasa muslim lokal terakhir di wilayah India. Kemudian kolonialism dari Eropa datang, yaitu Portugal, Belanda, Perancis. Hebatnya inggris, merangkul semua kolonial itu dalam perserikatan dagang India. Hal ini menimbulkan ketegangan dengan penduduk India yang islam. Muncullah gerakan jihad di tanah Hindustan. Sementara bagi umat hindu lebih memilih berjuang dengan cara tanpa kekerasan.

Inggris pun mulai memainkan politik adudomba devide et impera agar bisa memecah belah kelompok-kelompok jihad. Membenturkan orang islam asli India dengan islam keturunan Turki dan Arab. Hizb Rabithah al-Islamiyah (Muslim League) islam keturunan Arab dan Turki tampil di panggung bergandengan tangan dengan Inggris. Karena mereka dijanjikan inggris akan berkuasa terhadap India.Tapi inggris tidak memenuhi janjinya. Akhirnya pada 15 Agustus 1947, Inggris menyerahkan kekuasaan secara terpisah kepada India dan Pakistan. Khusus untuk umat islam adalah Pakistan. Akibatnya pemisahan itu terjadi eksodus 6 juta orang hindu dan Sikh ke India dan 8 juta orang Islam ke Pakistan. 

Makanya sampai sekarang Orang india non muslim tidak pernah percaya kepada orang islam, khususnya pendatang atau keturunan Arab atau Turki. Karena mereka merasakan 5 abad masa khilafah islam menjajah India. Sementara bagi umat islam, menganggap mereka berhak atas India karena mereka pernah berkuasa lima abad di India. Politik pluralis bagi India tidaklah mudah. Ini soal ancaman persatuan India sendiri. Karena sejarah islam tersebar di india lebih karena penaklukan. Berbeda dengan penyebaran Islam di Indonesia dilakukan dengan cara damai. Itu karena sebagian penyebaran islam datang dari China.

Berbeda dengan China, dimana walau Xinjiang  pernah di bawah kekuasaan Dinasti Ghaznawi dan Kesultanan Delhi, dimana etnis yang ada di Xinjiang dipaksa memeluk islam. Namun dinasti yang berkuasa di China bisa mengusir mereka dari Xinjiang. Sejak dibawah Dinasti China, kebebasan beragama di jamin. Umat islam dan umat lainnya bisa hidup berdampingan dengan damai. Sampai kini Politik pluralis bagi Cina bukan ancaman, asalkan bukan politisasi agama. Yang mengawal itu adalah idiologi totaliterian, Komunis. Sementara India negara demokrasi, sangat renta dipecah oleh politisasi agama.

Jadi kesimpulan sederhananya, bahwa gerakan umat islam di Indonesia yang membela Uighur, sebetulnya tidak ada dampak politik apapun terhadap China. China terlalu kuat untuk diobok obok asing. Tujuan bela Uighur itu adalah ulah Asing untuk menggoyang Indonesia. Karena Islam Indonesia tidak punya dendam emosional dengan India. Berbeda dengan China. Orang indonesia kalau mengingat China seakan mengingat PKI. Tidak lebih sama seperti yang dilakukan oleh Inggris terhadap umat islam di India. Yaitu membenturkan umat islam satu sama lain. Antara Islam arabian dengan islam lokal. Antara pengusung khilafah dengan NU. Tujuannya agar indonesia pecah. Seperti biasa yang berada dibalik asing adalah islam Arabian, karena mereka tidak punya ikatan dengan budaya lokal. Misi mereka adalah internationalisasi, untuk kepentingan asing. 

Jangan sampai aksi SaveUighur itu terus meluas sampai akhirnya terjadi komplik horizontal antara Islam Arabian dengan Islam Lokal. Kalau itu terjadi, Indonesia akan pecah seperti terpisahnya Pakistan dari India.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...