Rabu, 21 November 2018

Prabowo blunder

Capres Prabowo Subianto memaparkan data yang menyebut 55 persen rakyat Indonesia mengalami functionally illiterate. Ia mengaku sedih saat tahu hampir setengah rakyat mengalami kemampuan terbatas dalam membaca. Dalam hal ini Prabowo ada benarnya. Data World Bank, 55 persen Indonesia functionally illiterate. Apa itu functionally illiterate? Itu bukan buta hurup. Bukan engga bisa baca. Tetapi daya nalar dan kritisnya lemah dalam membaca. Saya mengalami sendiri. Betapa kalau saya menulis ada sebagian mempertanyakan dan mengkritisi tokoh dan latar belakang tulisan itu. Bahkan ada yang berfantasi itu adalah kisah hidup pribadi saya. Padahal jelas diberi judul “ Another Story “ . Ada yang komen tanpa buka link tulisan saya yang ada di blog. Ini contoh sederhana buta baca literal. Atau nalarnya buta terhadap kontektual atas text yang ada.

Perkembangan ilmu dan teknologi ditandai dengan banyaknya informasi yang dapat dijumpai dalam berbagai media, baik secara tertulis maupun secara lisan. Untuk dapat menyerap informasi secara tertulis, dibutuhkan kemampuan membaca yang memadai oleh setiap orang. Tanpa kemampuan membaca yang memadai, seseorang akan sulit mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi tersebut. Kemampuan membaca merupakan keterampilan yang sangat vital dalam masyarakat modern dalam rangka menerima informasi. Jadi membaca itu bukan hanya tahu hurup tetapi punya kemampuan menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keempat aspek itulah kriteria mengukur orang bisa membaca menurut world bank.

Membaca merupakan kemampuan yang harus dimiliki setiap orang, karena sifatnya fungsional, baik untuk melanjutkan studi maupun untuk terjun ke masyarakat. Kemampuan membaca bagi setiap orang tak ubahnya sebagai kunci pembuka gudang ilmu pengetahuan. Dengan kunci itu mereka akan menghayati dunia perkembangan ilmu, dan akan mampu mengambil manfaat dari berbagai ilmu itu, sehingga jalan hidupnya lapang dan sukses. Untuk kebutuhan terjun ke masyarakat, kemampuan membaca bagi seseorang tak ubahnya sebagai mikroskop yang membantu mereka mengkaji berbagai peristiwa kehidupan secara akurat, teliti dan seksama. Dengan demikian, jelas bahwa membaca mempunyai peranan yang penting dalam segala aspek kehidupan.

Mengapa sebagian besar rakyat Indonesia rendah kemampuan membaca? pertama, karena metode pendidikan hafalan. Kita dari sekolah dasar dipaksa menghapal oleh guru. Prestasi kita diukur dari kemampuan menghafal. Kedua, karena lingkungan keluarga dan sekolah mendidik kita tidak kritis dan dipaksa percaya pada satu sudut pandang. Sedikit berbeda , dibilang kafir, haram, murtad, munafik, dan banyak istilah lain yang membuat hilang daya kritis yang otomatis membuat kita buta hurup membaca secara terpelajar. Makanya ada benarnya data dari world bank bahwa 55% rakyat indonesia itu bego dalam membaca dan itu dibuktikan dengan kemenangan Anies atas Ahok yang 58%.

Masyarakat yang lemah dalam kemampuan membaca sangat mudah dibohongi, sangat mudah kemakan hoax, sangat mudah kena tipu Umroh murah dari First Travel dan penggandaan uang. Mengapa ? begitu banyak informasi beredar sekarang. Ada Wiki yang menyediakan perpustaan tanpa bayar. Ada google yang memudahkan mencari informasi dengan cepat. Tapi anehnya orang gagal berumah tangga dan gagal jadi jenderal dipercaya nyapres. Orang yang engga jelas agamanya, direstui ulama untuk jadi pemimpin. Orang yang labil dalam bersikap dipuja sebagai orang yang tegas hanya karena liat dia pakai seragam baret merah. Itu semua terjadi karena sebagian besar rakyat indonesia buta hurup secara intelek. Lemah otak dan lemah mental untuk bisa membedakan fiksi dan fakta.

***

Mungkin anda sering mendengar profesional dan kesannya profesional itu adalah bayaran. Definisi profesional itu adalah pekerjaan yang dilakukan dengan keahlian namun dilaksanakan dengan mematuhi standard etika dan moral. Jadi, profesional itu melekat dengan etika dan moral. Itu sebabnya profesional berhubungan dengan nilai nilai seperti passion, jujur, kreatif, inovasi dan lain sebagainya. Saya pernah berada ditengah tengah tawuran antar gangster di sebuah caffe di China. Mereka menggunakan golok untuk menghabis lawannya.Tetapi tidak ada satupun pengunjung yang bukan jadi target yang kena bacokan. Mengapa ? mereka itu para profesioanal. Mereka taat dengan standar bahwa mereka hanya menghabisi musuhnya , bukan orang lain yang tidak ada kaitannya dengan mereka.

Direktur BUMN China bunuh diri ketika mengetahui hasil audit membuktikan proyek pembangunan jembatan dan terowong bawah laut antara Hong Kong- Macao- Zuhai mencemari lingkungan. Mengapa dia sampai bunuh diri ? ya karena sikap profesional. Dia seorang insinyur dan juga dirut BUMN Kontruksi yang dapat kepercayaan dari negara membangun proyek fenomenal namun gagal mengikuti standar moral. Kalaupun dia tidak punya passion sebagai profesional, dia tidak akan sampai bunuh diri. Sama halnya ,banyak kita dengar pejabat jepang yang memilih bunuh diri ketika dia gagal atau mengundurkan diri dari jabatannya katika terbongkar skandal sex. Orang punya rasa malu karena dia masih menjunjung tinggi moral.

Saya pernah demam ketika dalam pesawat. saya berusaha untuk menahan deman itu dengan berusaha untuk tidur sambil menutup diri saya dengan selimut. Beberapa menit kemudian, terasa oleh saya selimut disibak dan tangan halus menyentuh kening saya. Seorang pramugari tersenyum dan mengatakan bahwa saya deman dan dia akan memberikan obat untuk saya. Tak berapa lama , dia sudah datang dengan obat parasetanol. Dia tetap tersenyum sambil menyerahkan obat berserta segelas air putih. Selama dalam penerbangan itu, saya hitung ada empat kali dia datang ke seat saya untuk memastikan keadaan saya baik baik saja. Memang parasetamol obat yang efektif meredam panas. Tak lupa pramugari itu menyarankan agar saya cukup istirahat. Itulah contoh profesional.

Nah lawannya dari profesional adalah amatir. Yaitu pekerjaan yang sama sama membutuhkan skill namun tidak ada standar etika dan moral yang harus ditaati. Mengapa ? pekerjaan amatir exist tanpa nilai nilai. Hanya sekedar jadi pelengkap. Seorang Gubernur yang bekerja tanpa prestasi berarti dan tidak punya malu menggunakan retorika berkelit dari kegagalannya. itu sikap mental amatir. Pejabat yang ketangkep KPK tetapi masih sempat tersenyum dihadapan wartawan. Itu amatir. Pekerja yang nampak rajin kalau diawasi itu mental amatir. Lawyer yang mau dibayar ala kadarnya namun dalam prakteknya memeras clients itu, mental amatir. Singkatnya amatir itu pekerjaan tanpa nilai dan moral. Hanya sebuah transaksional.

Di era sekarang dan kedepan orang yang bisa sukses bukan orang bertitel sarjana tetapi adalah kaum profesional seperti seniman, dokter, lawyer, programer/software developer, arsitek, product designer, konsultan, creative director, pengrajin, fotografer, writer, driver, termasuk enterpreneur. Kehadiran mereka karena tuntutan zaman yang memang membutuhkan demand profesi itu. Jadi, tidak elok Pak Prabowo merendahkan profesi tukang ojek online. Apalagi mindset dan paradigma bisnis taksi online adalah profesionalitas. Para driver itu adalah profesional. Dibayar karena jobnya, bukan karena jabatannya. Apabila mereka tidak punya standar moral engga ada orang mau jadi pelanggannya. Ingat pak ..negara besar bukan karena banyak PNS dan buruh tetapi karena banyaknya kaum profesional. Kecuali anda mau mendirikan negara khilafah atau komunis ala Korea Utara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...