Minggu, 04 November 2018

Komunitas cinta.

Bagaimanakah pengaruh rasa empati terhadap kehidupan masyarakat. ? Pertanyaan ini kadang mudah menjawabnya namun tak gampang menerapkannya. Kita begitu mudah mengumbar kata kata mengungkapkan rasa empati kita kepada seseorang. Ungkapan empati menjadi simbol peradaban kini. Semakin indah kata terungkapkan semakin berkelas seseorang itu. Media massa mendulang income iklan dari bertaburnya ungkapan empati ini. Toko bungan laku keras untuk mengunkapkan rasa empati itu.. Postcard yang indah dan unik diburu orang untuk menyampaikan sepatah kata tentang empati. SMS bertebaran dengan kata berpantun. Ya , rasa empati hanya ada dalam ruang simbol dalam untaian kata kata. Sebagian besar Anggota Dewan adalah mereka yang piawai mengungkapkan empati dalam kata kata diatas panggung. Sementara keseharian kita sangat sulit mengungkapkan empati itu dalam bentuk tindakan.

Teman saya yang memegang posisi CEO disalah satu perusahaan venture capital. Mengajarkan saya tentang empati ini. Seorang cleaning service yang ditemuinya di kuridor toilet disapanya dengan lembut. Dia berbincang bincang begitu akrabnya.Tak berapa lama dia memberikan uang dari dompetnya kepada Cleaning service itu. Terlihat hubungan begitu dekatnya tak berjarak. Hingga cleaning service itu tak sungkan untuk menyampaikan kesulitannya. Dengan sigap , CEO ini memberikan bantuan uang. “ Mereka orang kecil, Berada disudut terpencil dari hirarki organisasi. Tak banyak orang memperhatikan mereka ditempat itu. Tak ada waktu orang untuk sejenak berbicara dengan mereka. Sejenak saja kita ada waktu, kita tahu mereka punya masalah. Masalah itu tidak ruwet dan tak akan menguras dompet kita,Tak akan lebih dari biaya makan malam kita. Atau tidak lebih mahal biaya selir kita. Tapi perhatian kita ,empati kita dengan masalah mereka yang spontan , tak terhingga nilainya bagi mereka. Dan sebetulnya pada waktu bersamaan kita telah membangunkan potensi besar dalam dirinya, yaitu kesetiaan. “ Demikian kata teman saya itu.

Saya melihat tempat toiletnya selalu bersih dan terjaga dengan rapi. Membuat tamu yang menggunakan toilet itu merasa kagum. Saya sempatkan dalam seminggu kalau dijakarta, dua kali naik ojek. Selama naik ojek itu saya menikmati perbincangan dengan tukang oject. Banyak hal yang membuat kita tersentuh ketika dia berbicara tentang mahalnya harga buku anaknya sekolah.. Mahalnya ongkos kesekolah. Mahalnya kebutuhan hari hari. Kata kata itu mengalir begitu lancarnya. Dia tahu saya tidak bisa berbuat banyak. Tapi dia senang karena saya mau mendengarkannya. Ketika turun dari ojec, saya tidak pernah meminta kembalian uang atas kelebihan uang saya. Jumlahnya tak banyak tapi dikomplek saya, hampir semua tukang ojek selalu menebarkan senyum dan berebut untuk menjadikan saya sebagai pelanggan. Tanpa saya sadari saya selalu dinantikan mereka ,dan tentu mereka selalu berdoa untuk saya. Dari hal yang sepele, dengan empati yang sederhana atas nasip mereka, saya telah membangun komunitas pendoa untuk saya. Subhanallah.

Dari cerita tersebut diatas, kita bisa melihat bahwa empati itu bukanlah hanya sekedar kata kata. Banyak hal yang sepele didunia ini dapat diselesaikan dengan cepat hanya dengan sikap empati yang spontan. Berpikirlah ketika anda membeli Jas seharga Rp. 15 juta tentang orang miskin yang tak berbaju di papua sana atau di NTT. Berpikirlah ketika anda menghabiskan makan malam di restoran jepang seharga Rp. 6juta tentang orang NTT, Papua, Kalimantan, Jawa yang harus menahan lapar setiap hari dan terpaksa makan katul setiap masa paceklik. Berpikirlah ketika anda membelikan selir atau istri , jam seharga USD 100,000 atau tas bermerek seharga USD 40,000 tentang jutaan siswa gagal kuliajh karena tidak ada biaya, ada jutaan anak jalanan yang tak ada tempat tinggal. Jika anda akan korupsi atau menjual wewenang keadilan, ingatlah rakyat yang berada dipelosok desa yang murung menanti keadilan sosial.

Dengan menahan selera anda dan mulai menyapa tetangga anda yang miskin dengan bantuan spontan , memberi kepada bawahan anda tambahan gaji , memberikan tip kepada supir taksi, tukang ojek, membeli produksi dalam negeri, kerajinan rakyat, dan banyak lagi lainnya yang dapat anda lakukan secara spontan dimana saja dan kapan saja, untuk sebuah empati.Dari rasa empati ini akan lahir budaya kebersamaan. Orang miskin tidak akan terhina dengan kemiskinannya.Tidak akan kecewa dengan kemiskinannya. Mengapa ? karena mereka tidak merasa dibiarkan sendiri mengatasi masalahnya. Kemiskinan adalah fitrah tapi miskin empati adalah bencana bagi alam semesta. Perkuat empati kita kepada sesama dalam bentuk tindakan nyata walau hanya sekedar senyum dan doa. Bila ini menjadi budaya maka komunitas rahmatan lilalamin akan hadir disini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Papua, bukan KKB tapi Teroris.

Nama Papua berasal dari kata Papa-U. Nama Papua ini diberikan oleh kerajaan Tidore. Yang artinya dalam bahasa Tidore berarti tidak bergabun...