Senin, 21 Maret 2022

Kembali kediri sendiri.

 


Apapun pemikiran dan pengetahuan itu kembali ke diri kita sendiri. Coba perhatikan hal sederhana. Kita tahu bahwa jeruk itu warnya kuning. Rasanya manis. Kalau dijatuhkan akan bersuara lembut. perhatikan fakta dan realita. Warna jeruk, rasa jeruk, suara jatuh jeruk, itu relaita. Tetapi bukan fakta. Warna itu ada karena mata kita. Rasa manis itu ada karena lidah kita. Suara lembut itu karena telinga kita. Faktanya tidak ada kaitannya dengan realitas jeruk sebagai sebuah konsepsi. Ilmu pengetahuan mengacaukan pemikiran kita semua. Kadang bias membuat orang makin bego. Kadang jadi ambigu membuat kita bingung.


Mengapa ? sebenarnya pemikiran itu hanya konsepsi tentang realitas. Dari konsepsi itu terbentuklah persepsi orang. Idiologi lahir dari konsepsi dan persepsi itu. Makanya saya kagum dengan bapak pendiri bangsa yang menolak menetapkan Pancasila sebagai idiologi. Justru pancasila itu dialektika dari idiologi. Itupun tidak bebas dialektikanya. Karena dicluster dan dikunci pada lima sila saja. Lima sila pun menempatkan urutan pertama pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Deadduck dah pemikiran idiologi apapun.


Pada waktu diskusi dengan jenderal China di Jilin saya sempat terkejut. “ Prinsip berpikir negara paling hebat adalah Indonesia. Lahirnya Pancasila, itu lahir dari pemikiran Tan Malaka.” Katanya. Dia pergi ke rak buku, Dia ambil salah satu buku. Ada photo Tan Malaka. “ Buku inilah yang menginspirasi para pendiri negara anda. Sehingga saat republik didirikan tidak terjebak dalam isme yang saat itu dunia sedang terbelah antara kiri dan kanan.


Indonesia didirikan bukan bertumpu kepada state welfare atau sosialisme, atas dasar kelompok masyarakat atau golongan. Bukan kontrak politik antara masyarakat dengan negara. Tetapi kontrak politik antara rakyat dengan Tuhan. Lebih radikalnya, kontrak antara rakyat dengan dirinya sendiri. Hanya ada antara manusia dengan Tuhan saja. Ini juga jadi inspirasi kami untuk mereformasi sisetm komunisme Mao.Makanya bapak Deng, pernah berkata dengan mengutip apa kata Liu Bocheng, pepatah Sichuan “ Tidak masalah mau kucing kuning atau kucing hitam, asalkan bisa menangkap tikus. “ Hidup soal pilihan. Orang bebas berpikir seperti apa yang dia mau. Engga bisa negara campuri. Engga perlu paranoid.


Karena pada akhinrya setiap orang harus bisa menghidupi dirinya sendiri dan mati sendiri sendiri juga. Tugas negara memastikan setiap orang punya kebebasan mendapatkan kesempatan untuk dirinya senndiri. Mencari rezeki mudah dan bebas dari ancaman dalam bentuk apapun. Soal materi itu kan hanya sizing saja, yang tiap orang berbeda. Ya keadilan yang proporsional.


“ Uda kenapa pelit? Tanya Yuni satu waktu. “ Karena saya menghargai kamu sebagai pribadi. Kamu harus bisa menghidupi diri kamu sendiri, dan tugas saya hanya memberikan kesempatan kamu berkembang. Kalau saya terus beri, sampai mati kamu tidak akan bisa mandiri dan pasti lost respect. Mau ?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Dosa itu apa ?

  Sebenarnya dalam kisah para Nabi, ada pembalajaran tentang persepsi dosa dan hukum kausalitas, yang begitu saja di jungkir balikan Tuhan. ...