Sabtu, 19 Maret 2022

Mari focus kepada diri sendiri






Hampir semua konglomerat di Indonesia punya ratusan anak perusahaan. Tetapi perusahaan itu semua berada secara langsung atau tidak langsung di bawah satu holding Company yang terdaftar di Singapore, Hong kong  atau offshore. Mengapa ? pertama alasan lebih mudah menyamarkan kepemilikan. Jadi mereka bisa terhindar dari pajak berganda. Banyak bank kelas dunia yang bisa atur layering uang mereka tanpa tersentuh pajak dan negara. 


Kedua, mereka lebih mudah mendapatkan sumber pendanaan melalui anak perusahaan yang IPO. Kemudian value saham anak perusahaan itu akan meningkatkan portfoilio holding untuk lakukan leverage lewat sumber dana global. Artinya secara hukum semua sumber daya anak perusahaan juga sudah digadaikan secara global, Sementara mereka sudah dapat uang didepan. Apapun yang terjadi pada anak perusahaan, mereka sudah dapat cuan lebih dulu.


Misal, katakanlah presiden berganti. Dia nasionalisasi perusahaan yang menguasai SDA. Apakah para konglomerat itu rugi? Tidak. Karena mereka sudat dapat capital gain di depan dan leverage melalui pasar uang di Eropa dan AS. Yang korban adalah pasar uang global. Apa negara lain diam saja? Ya pasti mereka akan lakukan aksi sanksi ekonomi. Seperti yang terjadi di Venezuela. Kalau Indoesia kena sanksi ekonomi, hanya 45 hari langsung collapse. Lah 80% devisa milik swasta yang kapan saja bisa di blok oleh AS dan Eropa. Bubar indonesia.


Mengapa saya sampaikan hal ini. Bukan nakuti atau pesimis atas situasi ekonomi negara. Tetapi mengajak anda semua melek situasi. Bukan hanya Indonesia, negara di seluruh dunia sudah terjebak dengan pasar uang dunia. Kita tidak sekuat RUsia, atau China yang punya kemandirian dari segi produksi. Negeri ini, peniti aja kita masih impor. Baju yang kita kenakan, 80%  berasal dari impor. Semua barang modern berasal dari luar. Artinya kita harus realistis. Hadapi realita dengan kerja keras,  bukan omongan dan mengeluh diperkeras.


Tidak ada istilah terlambat. Mari mulai sekarang focus kepada kemandirian ekonomi. Jauhkan diri dari drama politik omong kosong. Para elite itu tidak punya agenda besar, kecuali besarkan pribadi dan partai  mereka saja. Mereka tahu idealisme Pancasila sudah di dalam sempak saat SBN hanya laku apabila di underwrite oleh banker asing dan kopi di starbuck lebih nikmat dari pada kopi jongkok

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Capres dari Jokowi?

  Suka tidak suka, Jokowi berusaha lead dalam proses suksesi presiden mendatang. Tentu bermaksud agar presiden berikutnya punya visi sama de...