Sabtu, 20 Juni 2020

Siapa Arsitek Politik Indonesia?

Sebelum Jepang masuk tahun 1942, di Nusantara ini sudah ada kerajaan atau kesultanan. Keberadaan mereka di bawah koloni Belanda. Awalnya kehadiran PMA ( VOC) dilegitimasi oleh kerajaan atau kesultanan yang ada di Nusantara. Dari abad 17 dan 18, Belanda merupakan republik. Kemudian Belanda dijajah oleh Prancis, di bawah Napoleon. Ketika Belanda merdeka dari Prancis dan mendirikan sistem monarki, VOC bankrut dan diserahkan kepada Belanda. Belanda resmi menjadikan nusantara sebagai koloninya tahun 1813. Itupun tidak semua wiilayah yang jadi koloni Belanda. Aceh hanya jadi koloni Belanda selama 38 tahun dan Bali selama 36 tahun. Yang sampai 340 tahun jadi koloni Belanda hanya Maluku dan Banten/Jakarta.  

Selama 340 tahun Belanda di Indonesia lebih kepada kepentingan bisnis dan kebetulan para keluarga kerajaan dan bangsawan memberikan dukungan secara langsung. Ya mutual simbiosis. Kadang kerajaan membutuhkan perlindungan dari Belanda atas serangan dari kerajaan lain. Atau Belanda ikut membantu proses suksesi pengeran, yang kadang berujung perang saudara. Ya seni adudomba agar hanya pengeran yang loyal ke Belanda saja yang naik tahta. Situasi inilah yang membuat kaum terpelajar geram. Mereka bukan hanya tidak suka dengan Belanda tetapi juga tidak suka dengan kaum bangsawan dan kerajaan yang berkolaborasi dengan Belanda, yang membuat rakyat semakin miskin

Lantas siapa dan bagaimana sampai muncul gerakan persatuan Indonesia, bukan persatuan para kerajaan atau kesultanan di Nusantara ini? Sebetulnya gerakan itu diawali oleh Gerakan Sarekat Islam dari seorang HOS Tjokroaminoto.  Sementara Tjokroaminoto sendiri terinspirasi oleh paham pembaharuan islam dari KH Ahmad Dahlan ( Pendiri Muhammadiah)  dan Kh Hashim Ashari ( pendiri NU). Bahwa Islam bukan hanya urusan ritual tapi juga harus bertanggung jawab melakukan perubahan politik untuk tegaknya kalimah Allah. Sementara KH Ahmad Dahlan dan Kh Hashim Ashari  terinspirasi oleh guru mereka yang sama yaitu  Syaikh Ahmad Khathib Al-Minangkabawi Rahimahullah. Ia adalah seorang ulama Indonesia asal Minangkabau. Ia lahir di Koto Tuo, Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Jadi kalau boleh disimpulkan, arsitek pembaharu politik di Indonesia adalahSyaikh Ahmad Khathib Al-Minangkabawi.

HOS Tjokroaminoto punya rumah kos yang menampung para pelajar dari luar kota. Diantara pemuda yang ngekos itu adalah Sukarno, Alimin, Musso, Suherman Kartosuwiryo, dan Soemaoen. Selama ngekos itu mereka sering mendengar diskusi antara Tjokro dengan tokoh nasional seperti KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Ashari, KH Mas Mansyur. Dari diskusi ini para pemuda itu tahu bagaimana menggunakan politik sebagai alat mencapai kesejahteraan rakyat. Mereka belajar tentang bentuk-bentuk modern pergerakan seperti pengorganisasian massa dan perlunya menulis di media. Mereka juga belajar bagaimana berorasi mempengaruhi massa dari atas panggung. Setiap hari diantara mereka sering terlibat diskusi cerdas.Saya membayangkan diskusi tiga pemuda itu waktu ngekos di Rumah Tjokro, tentu seru sekali. Karena mereka satu guru dan motivator politik tapi dengan tingkat kecerdasan sama dan semangat juga sama.

Dari tempat kos di rumah Tjokroaminoto itulah lahir tiga golongan dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Satu, gerakan Darul Islam oleh seorang Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Yang sampai sekarang basis pengikutnya masih kuat di Aceh, Sulawesi, Jawa Barat. Kedua, gerakan Komunis oleh pemikiran seorang Samaoen, Musso. Yang kini ajarannya dinyatakan terlarang oleh UU. Ketiga, sosio-nasionalisme dari pemikiran seorang Soekarno. Hebatnya ketika menghadapi Belanda mereka kompak. Bahkan Tjokroaminoto sendiri di era Kolonial pernah aktif dalam PKI. Dalam perkembangannya Seokarno sendiri pernah menggabungkan pemikiran tiga sahabatnya itu dalam front nasional bernama NASAKOM. Tetapi kemudian mereka bertiga itu berpisah jalan. 

Saya juga membayangkan gimana perasaan Soekarno ketika memerintahkan eksekusi mati untuk Kartosoewirjo karena menjadi tokoh pemberontakan DII/TII dan memerintahkan Tentara menembak mati Musso karena pemeberontakan PKI di Madiun. Mereka semua sahabat dekat Soekarno. Menurut cerita, waktu teken perintah eksekusi mati untuk Kartosoewirjo, Soekarno menangis. Saya juga yakin, kalau yang jadi Presiden adalah Kartosoewirjo, mungkin akan melakukan hal yang sama, yaitu mengeksekusi Soekarno dan Muso. Atau kalau Muso yang jadi Presiden, Soekarno dan Kartosoewirjo pastilah juga dibunuh.

Pertanyaannya adalah mengapa mereka bertiga itu sampai terbelah pemikirannya? Kalau anda belajar teologi Islam, memang sudut pandang Darul Islam atau khilafah, komunis, sosio-nasionalisme, punya dalil yang kuat dalam Islam.  Itu sebabnya tiga golongan ini tidak protes waktu dicetuskan falsafah negara Indonesia itu Pancasila. Walau sejarah paska kemerdekaan mencatat, Darul Islam atau Khilafah atau NI sudah terlarang, dan Komunis juga terlarang. Namun pemikiran mereka tidak pernah hilang. Mau bukti? liat aja soal RUU Haluan Indiologi Pancasila, dua golongan itu yang ribut duluan. Mengapa? hanya dengan Pancasila pemikiran mereka tetap hidup. Kalau ada Haluan idiologi Pancasila, maka tamatlah mereka, dan yang menang adalah sosio-nasionalisme.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...