Minggu, 14 Juni 2020

Islam dan Komunisme


Di saat Karl Marx masih hidup , orang tidak pernah tertarik dengan pemikirannya. Bukunya baru terkenal sejak Revolusi Bolshevik , yang dikenal dengan Manifesto Komunis. Apa yang menarik adalah tujuan dari komunis dan Islam itu sama. Namun mereka berbeda dalam metodologi mencapai tujuan. Mengapa ? Marx memang terinspirasi dari kehidupan Nabi Muhammad. Hampir sebagian besar tulisan Marx berkaitan dengan komunisme itu inline dengan Islam. Marx tidak melihat Nabi sebagai orang suci. Nabi pernah kalah  dan terluka dalam perang. Berniaga sebagaimana orang pada umumnya. Mengutamakan diplomasi menghadapi mereka yang berbeda. Kadang mengalah untuk menang. Pada akhirnya berliau bisa meruntuhkan statuo quo kaum berjuis. Nabi berhasil meletakkan dasar-dasar kehidupan masyarakat tanpa kelas dan yang membedakan hanyalah ketakwaan.

Ya Marx melihat Nabi dalam konteks dialektika historis yang berhasil membentuk beliau sebagai sosok Nabi yang tunduk dengan sunnatullah.  Uraian tersebut dapat kita nikmati dalam buku Syed Ameer Ali dalam The Spirit of Islam. Sementara kaum islam melihat Nabi dari sisi berbeda. Dogma agama Islam memang dominan dalam menggiring pandangan kaum Muslim menuju satu persepsi bahwa Muhammad adalah manusia yang sudah dari asalnya suci. Umat islam tidak melihat hikmah mengapa Nabi harus berniaga, dan harus berhutang. Mengapa Nabi harus berperang, dan kalah. Sementara Marx melihat itu, dan menjadi insprasi bahwa perjuangan sosialisme adalah memerangi kaum mustakbirin ( berjuis)  atau kapitalisme. Yang diperangi  itu bukan orangnya tetapi pemikirannya, mentalnya.!

Komunis yang muncul sebagai idiologi tidak sepenuhnya mengikuti kerangka berpikir Marx. Uni Soviet sebagai pemrakarsa Idiologi komunisme menjadikan komunisme berorientasi internationalisasi. Sama dengan konsep Hizbur Tahrir, yang ingin mendirikan khilafah bagi seluruh bangsa di dunia ini.  Negara negara Arab yang berlandaskan Islam menolak konsep khilafah seperti Turki ustmani dan HT. Sementara China harus melakukan revolusi kebudayaan untuk merestrore komunisme Soviet. China menggunakan kerangka berpikir Karl Marx namun tidak menjadikannya sebagai metodologi mencapai tujuan. Metodeloginya harus sesuai dengan budaya China. itu sejalan dengan pemikiran Tan Malaka dalam bukunya , “Madilog” 

Dalam kenyataannya ada yang tida bisa berbeda, baik komunisme maupun Islam. Apa ? konsep utopia. Sesuatu yang begitu mudah terjadi. Bahwa kemakmuran itu sangat mudah dicapai asalkan menggunkan konsep Islam atau komunisme dengan “benar”. Pertanyanya “benar” itu seperti apa ? Ketika kekuasaan di tangan Islam atau Komunisme, utopia itu terus hidup dalam mimpi sosialisme. Tapi kenyataanya yang terjadi adalah lahirnya kelas bangsawan dan kelas miskin. Hebatnya hubungan antar kelas ini walau berjarak sangat jauh namun terjadi ikatan primodial yang otomatis memasung orang miskin seperti budak tanpa hak demokratis sama sekali. Inilah yang disebut dengan penjajahan pemikiran alias taglik buta. Kemenangan Inggris dan Prancis melawan dinasti Ustamani bukan karena kehebatan senjata tapi karena didukung oleh wilayah yang muak dengan keluarga dinasti yang hidup bermewah mewah. Jatuhnya Abbasiah oleh serangan Jangis Khan juga karena dukungan dari wilayah taklukan yang ingin bebas dari keluarga Abbasiah.

Ketika Mao Zedong tutup usia dan digantikan oleh Deng Xiaoping, yang pertama kali Deng berantas adalah pemikiran bahwa Komunisme adalah jalan kemenangan mencapai kemakmuran. Deng katakan kepada rakyatnya bahwa “ Bukan karena komunisme kalian makmur. Bukan karena Agama kalian makmur. BUkan karena kapitalisme kalian makmur. Bukan. Itu semua bukan tujuan tapi hanya metodelogi mencapai tujuan. Tujuan itu ada di dalam diri kalian sendiri. Kalian adalah kapten atas nasip kalian sendiri. Nasip keluarga , sahabat dan negara tergantung kepada kalian sendiri. Kuncinya adalah lepaskan semua stigma tentang komunis , agama atau apalah yang akan menjamin kemakmuran. Mulai sekarang, gunakan apa saja metodelogi untuk bergerak, melalui kerja keras memanfaatkan semua sumberdaya yang ada. Mau kucing hitam atau merah, saya tidak peduli , yang penting kalian bisa memacu produksi.” 
Deng bisa mengangkat China dari kesalahan masa lalu karena Deng mampu memerdekakan pikiran rakyat. Selagi rakyat terpasung dalam satu pemikiran yang dipaksakan oleh konsep pemikiran orang lain ; entah itu agama atau komunisme , maka selama itu rakyat hanya akan jadi budak para bangsawan atau agamawan. Jadi upaya menjadikan gerakan Islam menjadi gerakan politik itu sah saja namun bisakah pengusung gerakan itu memerdekakan pikiran pengikutnya. Ini yang sulit. Karena stigma melawan ulama itu akan di cap kafir atau musrik atau munafik yang hadiahnya neraka di akhirat, memang efektif membuat orang dungu jadi budak. Dan kekuasan yang diraih dari kaum budak memang menyenangkan. Karena demokrasi mati dan kebenaran ada pada penguasa atau ulama. Kata penguasa adalah kata Tuhan. Bukan kata rakyat, kata Tuhan. Menghina Ulama sama saja menghina Agama dan Nabi. Tak ubahnya dengan komunisme radikal. menghina presiden, di bazoka.

Di era reformasi khususnya di era Jokowi, Pancasila di tempatkan secara konsisten sesuai dengan pembukaan UUD 45. Pancasila sebagai Philosofi negara. Soal metodelogi, apakah Islam, sosialis, kapitalis , semua partai dipersilahkan memilih sebagai cara melaksanakan falsafah Pancasila. Tapi bila orientasinya berbeda dengan Pancasila, seperti PKI, dan terakhir  HTI, itu harus dilarang.  Mengapa ? karena mereka meng claim paling benar dan lainya salah. Itu tidak sesuai dengan Pancasila. Dengan itulah kemerdekaan berpikir terjadi, maka kekuatan rakyat secara sunnatullah bisa menjadi mesin pertumbuhan membangun peradaban yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...