Rabu, 05 Oktober 2016

Memburu harta (6)

Ketika sampai di apartement Ester, waktu menunjukan pukul sepuluh malam. Ester membuka pintu dengan wajah kawatir karena melihat wajahku keruh. Aku membuka jas agar tubuhku menjadi segar. Udara terasa panas sekali walau cuaca di luar dingin. Ester pergi ke ruang minibar mengambil minuman untukku. Dia mengulurkan segelas teh hangat sebelum menyapa, “ada apa, Jak?”
“David menolak secara halus. Dia memberikan solusi baru untukku,” jawabku sembari menghempas tubuh ke sofa. Ester duduk di sampingku sambil memegang kerah bajuku, memperhatikan dengan seksama. Di wajahnya, ada raut tidak percaya. “Tadi siang dia menelephonku. Katanya, dia sangat tertarik dengan kamu, Jak. Dia ingin bermitra dengan dengan kamu. Kenapa sekarang berubah?”
“Dia ingin menjadikan aku sebagai proxy.”
“Apa itu salah?” Ester mengerutkan kening.
“Tidak salah. Tapi bukan yang aku mau untuk menyelesaikan kasus clients-ku.”
“Jaka” sapa Ester lembut. “Bolehkah aku memberi saran?” sambungnya.
“Silahkan.”
“Aku menginginkan yang terbaik untukmu. Kamu adalah sahabatku.  Kamu punya semua potensi untuk jadi orang hebat. Bahkan bisa menjadi penakluk dunia. Kamu pekerja keras dan cerdas. Mengapa kamu tolak tawaran  David?” 
“Ini bukan soal aku tapi Budiman. Soal sahabatku!”
“Lantas?” Ester tetap tidak memahami sikapku. 
“Cobalah mengerti. Budiman sahabat terbaikku. Budiman, saat ini sedang di ambang kehancuran. Hutang-hutangnya membengkak akibat krisis mata uang. Perusahaannya pun terancam di lelang.  Aku sudah menganggap Budiman sebagai saudara sendiri, bahkan lebih dari sahabat. Sekian lama kami berteman, sudah sangat banyak kebaikan yang pernah kuterima. Walau Budiman telah menjadi konglomerat namun tegur sapa dan silahturahmi diantara kami tidak pernah putus. Ini sebuah unconditional friends. Dalam segala suasana, dalam segala kondisi.
Saat malapetaka Mei 1998 menghantam, usaha Budiman limbung dengan beban hutang yang semakin membengkak terkerek perubahan kurs. Kala itu Budiman sempat berharap keadaan akan segera pulih. Tapi setahun berlalu, ternyata keadaan justru semakin memburuk. Sebagian besar perusahaannya terpaksa masuk ke dalam daftar yang diserahkan perbankan untuk Otoritas Penyelesaian Utang.
Dia pun tak menyerah. Berjuang keras demi mendapat perlindungan pemerintah berupa keringanan hutang melalui skema hair cut dan reschedulling.  Aku yakin, aku bisa membatunya. Karena aku sahabatnya yang paling mengeti dia. Aku tidak mau nasib Budiman seperti yang lain. Yang akirnya perusahaan di lelang. Kamu tahu  sebagian besar lelang itu pemenangnya bukanlah orang yang berpengalaman dalam bidang bisnis. Mereka adalah kumpulan petualang yang mendapat kepercayaan dari pihak asing. Para petualang, anggota dewan dan mereka-mereka yang merasa berjasa atas lahirnya era reformasi. Berbaur dalam pesta pora sebagai makelar dan menjual seluruh aset negara dengan harga murah kepada pihak asing.
“Ok. Aku mengerti, Ja. Tapi bagaimana dengan hidupmu? Apakah kamu tidak ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk meraih impian? Ayolah, Sayang. Jangan terlalu keras dengan dirimu sendiri. Cobalah untuk melihat kenyataan.  Saat ini adalah era untuk kamu tampil menggantikan dia.  Kamu selamatkan usahanya dan kamu ambil sahamnya. Beri dia golden share sebagai kompensasi.” Kata Ester dengan lembut.
“Terima kasih untuk kepedulianmu, Ester. Maaf, aku tetap dengan sikapku. Mohon dukung aku, Ester. Kamu kan sudah kenal aku sejak tahun 93. Sampai kini telah delapan tahun persahabatan kita, itu lebih dari cukup untuk saling memahami?” 
Ester terdiam. Dia merebahkan tubuhnya di sofa sambil memejamkan mata. Dia tidak tidur tapi berpikir tentang sesuatu entah apa. Tapi yang jelas, Ester sangat lembut memperlakukanku.  Kami jarang sekali bertengkar dengan suara keras. Bila kami sudah dihadapkan pada perbedaan, hingga tidak menemukan titik temu, maka kami akan diam untuk beberapa saat.  Berharap dengan berlalunya waktu, kami bisa menemukan kebenaran sikap  masing-masing dan memakluminya.
“Aku lelah sekali. Aku harus kembali ke hotel.”
Ester membuka matanya, ”Tidurlah di sini. Besok kita bicarakan masalah kamu. Kan besok hari libur nasional?  Tidak ada yang harus dikerjakan,” katanya lembut sambil memegang pipiku. “Aku ambilkan selimut untukmu ya?” Ester pergi beranjak dari sofa dan kembali lagi dengan selimut tebal untuku. Malam itu aku tidur di sofa.
“Good nite, Honey.” Ia mengusap wajaku dengan tersenyum.

***
Pagi harinya aku terbangun karena dikejutkan  oleh kesibukan Ester di dapur. Dia sedang memasak untuk sarapan pagi. Ketika aku sampai di  dapur dia menoleh ke arahku dengan senyum indahnya. “Good morning, Jaka. Mandilah dulu, sebentar lagi sarapan  pagimu sudah tersedia.” Aku masuk ke kamar Ester untuk menggunakan kamar mandinya. Di meja kerjanya, nampak laptop masih menyala dengan wallpaper photo kami di Bali. Aku tersenyum meliat photo itu. 
Di meja makan, Ester berceloteh, “aku ada usul! Apakah  mungkin dapat credit line dari bank di Jakarta?” 
“Engga mungkinlah. Bank mana yang  mau memberikan credit kepada Budiman? Dan lagi Indonesia sedang dilanda krisis. Financial  resource kering.” Jawabku dengan suara tertekan.
“Tapi aku dapat informasi  dari temanku di Eropa. Katanya ada perusahan  milik Jenderal mantan menantu orang nomor satu, yang  mendapatkan fasilitas kredit dari bank milik pemerintah. Kredit ini digunakan untuk mengambil alih perusahaan kertas yang juga dimiliki oleh mantan kroni penguasa itu. Cara mereka mengambil alih melalui bail out hutang di bank yang juga milik pemerintah.” 
“Bukankah pengambil alihan tidak boleh dengan skema LBO, atau pengambil alihan dengan menggunakan utang Bank? Apalagi dikaitkan dengan berutang kepada bank milik pemerintah.” Kataku
“Benar. Tapi skema yang dibuat adalah bank pemerintah hanya sebagai channeling bank atas pelepasan non cash loan dari bank di Eropa.” 
“Apa yang kamu maksud fasilitas non cash loan?“
“Fasilitas kredit dalam bentuk SBLC atau bank  garansi.”
“Jadi bagaimana settlement  dengan bank milik pemeritah?”
“Bank di Eropa mengirim SBLC kepada bank milik pemerinntah dan kemudian SBLC itu, karena sifatnya transferable, maka dapat dijual kepada pihak lain. Dalam hal ini SBLC di transfer ke singapore. Bank di Singapore mentunaikan SBLC itu untuk kepentingan bail out utang sebagai cara pengambil alihan perusahaan  yang bergerak dibidang industry kertas dan hutan tanaman industry.
“Mengapa bank di Eropa mau memberikan credit berupa Non cash loan?”
“Karena program pengambil alihan industry kertas itu punya exit strategi yang kuat dan aman. Disamping itu, bank milk pemerintah sebagai channeling bank, bersedia untuk menjamin skema ini dengan memberikan confirmation stop loss guarantee kepada bank penerbit SBLC. Jadi aman sekali.”
“Wow! Hebat sekali skema ini. Artinya kalau pihak debitur default maka resiko ditanggung oleh channeling bank. Luar biasa!”
“Tepat sekali!” Seru Ester, “bisakah ini diterapkan untuk jalan keluar penyelesaian utang Budiman?”
 “Bisa saja. Tapi, Budiman bukan jenderal, Sayang. Engga mungkin!”
“Oh begitu?” Seru Ester. “Kalau bank local tidak mungkin. Bagimana kalau kamu coba tarik kredit dari bank di Singapore?”
“Apa jaminannya?”
“SBLC.”
“Dari mana dapatkan SBLC?” 
Ester mengambil mangkuk sop ayam yang sudah kosong dari hadapanku dan mengisinya lagi. “Ah, kamu semakin membuatku bingung,” sambungku.
“Aku akan bantu kamu sediakan Standby Letter of Credit. Aku punya koneksi di Eropa yang bisa bantu itu.”
“Apa dasarnya mereka mau sediakan Standby Letter of Credit? Itu kan sama dengan jaminan cash?”
“Aku akan gunakan documen skema pembiayaan yang kamu ajukan kepada AMC itu. Feasible kok untuk dapatkan SBLC dari bank di Eropa.” 
“Aku rasa, tidak tepat menggunakan skema pembiayaanku itu. Jangka waktu SBLC hanya satu tahun sementara  exit strategiku butuh waktu lima tahun untuk secure.”
“Engga ada masalah!” Kata Ester dengan cepat.
“Aku tidak mengerti.”
“Dengar! Begini strateginya. Coba yakinkan bank di Singapore tentang rencana bisnismu itu. Yakinkan mereka bahwa creditmu akan dijamin oleh SBLC yang diterbitkan oleh first class bank di Eropa.”
“Kalau mereka sudah yakin?”
“Itu urusanku selanjutnya.”
“Apa yang akan kamu lakukan?”
“Ingat loh, Jaka. Aku ini Banker! Aku punya reputasi untuk meyakinkan perbankan agar membantumu dengan skema yang kamu ajukan.”
“Kira-kira apa?”
“Nanti sajalah,” Ester tersenyum sambil meneguk kopi.
“Kenapa tidak sekarang saja sih, kasih tahu aku?”
“Percayalah padaku, Jak. Nanti kamu akan tahu sendiri. Ok?” Ester mencubit lenganku. “Kamu selalu memaksa, ya?!”
“Ok lah. Aku percaya kamu. Dan akan selalu percaya.”
Pagi itu juga aku segara menghubungi Budiman. Ester memperhatikanku ketika kami berbicara di telephone.
Clients ku setuju untuk solusi ini. Dia punya mitra di Singapore yang bisa dapatkan credit line dengan  jaminan Standby Letter of Credit. Menurutnya, dia harus membuka Special Propose Company sebagai vehicle untuk mengajukan credit.” 
“Benarkah?” kata Ester dengan mata setengah melotot.  Dia nampak senang sekali. ”Kalau begitu, tunggu apa lagi? Lakukan segera! Pastikan dalam seminggu sudah dapat line of credit. Kalau sudah ada Comfort letter dari lender bank. Aku akan segara terbang ke London untuk deal dengan Provider Standby Letter of Credit.”
“Kamu yakin bisa?”
“Yakin!”
“Kenapa?”
“Karena aku Banker, Sayang!” Ester tersenyum.
“Hanya itu?”
“Dan karena aku peduli padamu” Ester menepuk bahuku. " Besok liburan naik kapal pesiar ya. Mau ?"
Aku mengangguk. Usai sarapan pagi kami memutuskan untuk membeli  ticket kapal pesiar berkeliling di perairan Hong Kong. Cara murah menikmati hari libur.
***
Di geladak kapal, kami duduk memandang  laut di bawah sinar bulan. Tidak ada yang kami bicarakan. Walau usia menjelang empatpuluh tahun, namun Ester masih nampak cantik. Tidak kalah dengan wanita berusia tigapuluhan. Kecerdasannya sebagai Banker di lembaga keuangan kelas dunia tidak perlu diragukan. Bagaimanapun Ester adalah sahabat yang selalu ada untukku. 
“Aku harus pulang sebelum tahun baru. Sudah hampir setahun aku di sini. Semoga solusi yang datang dari mu bisa sukses,” kataku.
“Aku akan melakukan segalanya untukmu, Ja.” 
“Thanks. Kau adalah sahabat terbaikku.” Kugenggam jemarinya. Ester memejamkan mata, membisikkan sebuah kalimat, “aku tahu betapa berat tantangan yang kamu hadapi, Ja. Kamu harus tegar, ya? Bukankah semua ini kamu lakukan demi sahabatmu?”
“Ya. dia sahabat terbaikku. Aku lakukan ini tanpa dibayar apa pun. Aku tulus. Karena ini  menyangkut perbaikan nasip ribuan buruhnya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi bila kasus ini gagal. Mungkin ke depan, arus investasi di Indonesia akan semakin sulit. Entah jadi apa masa depan negeri kita nanti, Ester!”
“Kini kenyataan yang ada setelah krisis moneter tahun 1998, tidak ada lagi yang dapat diharapkan dari negeri kita. Infrastrukur rusak dan tidak memadai untuk menampung arus investasi. Aturan dan hukum tidak konsisten. Sumber daya manusia yang rendah kualitasnya. Dan, banyak lagi kenyataan yang bila diungkap akan membuat siapapun berpikir seribu kali untuk menanamkan uangnya di Indonesia,” Kata Ester
Aku diam tanpa reaksi. Sekuat apapun usahaku, namun begitulah kenyataan yang ada di Indonesia. Ester  berusaha menyunggingkan senyum dan menggenggam jemari tanganku dengan lembut. Sekedar menguatkanku agar tegar menghadapi kenyataan.
 “Semoga Budiman sukses mendapatkan credit line?” kataku.  
Ester  menatapku sambil tersenyum. “Yah, semoga,…”
“Jak, bila gagal, pulanglah dan hadapi kenyataan ini dengan tegar. Keluargamu membutuhkan hadirmu. Jangan larut dalam kegagalan. Ingat bila satu pintu di tutup Tuhan karena rahmatnya maka akan selalu  ada dua pintu lain dengan kasih sayang Nya, Ya kan ? Kamu orang baik dan berniat baik untuk sahabatmu. Tidak ada yang salah padamu, Jak. Aku yakin Tuhan akan melindungi dan memberikan yang terbaik untukmu,” ucap Ester lagi. Aku tahu dia sedang berusaha meyakinkanku untuk tetap tegar menghadapi kenyataan bila situasi terburuk datang. Kapal pesiar yang kami tumpangi terus melaju tanpa peduli. Suara gemuruh yang ditimbulkan oleh mesin penggeraknya, sama ributnya dengan isi kepalaku. 
Menjelang dini hari kapal pesiar itu mulai merapat ke dermaga. Meninggalkan buih-buih yang pecah di perairan Hong Kong.  Gedung-gedung pencakar langit menyambut kami datang di depan sana. Sebuah kota yang sibuk, dengan manusia-manusia penuh ambisi dalam usaha menguasai dunia.
“Kembali ke hotel?” tanya Ester. Aku hanya mengangguk. “Antar aku ke apartemen, ya?” pinta Ester kemudian, sambil memagut tanganku  mesra. Aku tersenyum. Wanita memang  begitu bila ada maunya. Di dalam taksi, Ester semakin erat memagut tanganku sambil merapatkan tubuh. Dia menyandarkan kepala ke bahuku. Hong Kong di bulan Desember  hadir dengan suhu udara yang dingin. Kabut tipis turun membawa uap air yang lembab. Aku menghela nafas, memastikan diri bahwa aku masih berkesempatan hidup di dunia ini. Dengan setumpuk tanggung jawab yang harus aku hadapi dan selesaikan.
Dari dermaga, taxi yang kami tumpangi melaju ke arah Kowloon. Setelah melewati torowongan, taksi jenis limousine  itu berbelok ke arah Hongham. Mobil itu pun berhenti di Harbour Front View Horison, kawasan tinggal bergengsi di area Kowloon. Di sinilah Ester tinggal dengan segala kemewahannya sebagai seorang fund manager dengan standar gaji enam digit. 
Dari jendela apartemen, terlihat panorama Hong Kong bertabur lampu warna warni membias di permukaan laut. Dari kejauhan nampak sebuah kapal sedang melaju lambat, di hiasai lampu terang berkilauan. Aku menggumam dalam hati, tata ruang apartemen ini diatur dengan sangat mewah. Setiap titik dalam setiap sudut ruang, sangat diperhitungkan. Jendela-jendela berkaca besar diarahkan agar si penghuni apartemen bisa menikmati panorama dan keindahan laut Hong Kong. Sebuah apartement yang di desain khusus bukan hanya sebagai tempat beristirahat namun juga sebagai tempat refreshing. Dari sudut mata aku melihat Ester  tersenyum penuh arti, namun aku tak peduli. Aku hempaskan tubuhku di atas sofa yang empuk. Berharap beban malam ini pun ikut ambruk bersama tubuhku.
Sinar lampu menyelinap masuk dari balik tirai. Malam  telah bergitu tua namun kegundahan tak beranjak pergi. Aku berusaha keras untuk tetap di sofa. Senyum manisnya berputar-putar di pikiranku. Sekuat tenaga aku berusaha mengalihkan pikiran ke hal lain namun justru wajah Ester yang kian lekat berkumpul di otakku. Semakin lama semakin detail bayangan tentang dirinya. Wajah kaukasia dengan tubuh tinggi semampai dan kulit putih bersih seperti susu. Setiap kali dia tersenyum, lesungnya yang imut muncul dari kedua pipinya. Belum lagi cara bicaranya yang lembut, seolah memiliki medan magnit yang menarik setiap hati untuk mendekat. Ditambah kerlip matanya itu, dengan sorot yang kuat memancarkan keindahan pribadinya yang berbaur dengan kecerdasan luar biasa. Belum lagi saat tubuhnya yang ideal itu, melenggok berbalut lingering. Ester adalah  bentuk dari kumpulan keindahan yang terjebak dalam satu raga manusia. Setiap bagian tubuhnya memiliki peran untuk menegaskan bahwa dia adalah wanita sempurna. Duh, kenapa bayangan ini tak bisa hilang? 
Ester adalah sahabatku yang seharusnya kujaga kehormatan persahabatan ini tanpa menyentuhnya, bisik hatiku mencoba menetralisir memori tentang Ester. Aku merenungkan peperangan antara nafsu dan hatiku. Terbayang sikap Ester yang selalu berusaha dengan segala cara agar aku merasa nyaman bersamanya. Namun, setiap kali pikiranku terasa ingin menyerah, setiap kali pula hati nuraniku memenangkan pertarungan. Aku putuskan untuk kembali ke Hotel dengan pikiran segar. Siap bertarung untuk putaran berikutnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Fenomena Buzzer.

  Waktu revolusi kebudayaan di China, semua simbol pemikiran dokrin terhadap feodalisme dihancurkan oleh rakyat jelata. Tempat ibadah yang m...