Sabtu, 01 Oktober 2016

Memburu harta (2)


Di sebuah areal perkebunan yang amat luas, aku menginap di pesangrahan karyawan. Usai sholat Subuh aku keluar dari kamar, berjalan kaki menuju sebuah desa. Aku berjalan kurang lebih selama setengah jam. Cukup jauh untuk ukuran jalan kaki. Aku ingin melihat-lihat pemandangan. Juga bercengkrama dan memperhatikan kehidupan mereka, para warga yang berada di desa di luar area perkebunan.
Desa masih berkabut walau azan Subuh sudah lama berlalu. Langkah para buruh perkebunan, belum juga terdengar. Mungkin mereka masih bermalas-malasan di balik selimut. Mengurung diri di dalam rumahnya masing-masing. Sama seperti mentari yang  malu-malu, mengintip dari balik timbunan kabut. Alam dan geliat kehidupan warga, seolah pernah berikrar, memundurkan mentari untuk memulai hari. Aku termenung menikmati segala keheningan yang lengang. Sambil beberapa kali menghirup udara segar  pegunungan, sebagai sarana detox untuk paru-paruku yang selama ini penuh oleh polusi di Jakarta.
Ada perasaan ganjil yang aku rasakan. Sepertinya ada yang aneh di desa ini. Tak henti aku bertanya dalam hati, ada apa gerangan dengan desa ini? Kehidupan sebuah desa yang seharusnya ramai, bersemangat dan penuh wajah sumringah, kini nampak murung. Mentari, kabut bahkan dedaunan perkebunan seolah ikut bermuram durja. Sepertinya mereka sedang berempati pada para petani. Inilah potret sebuah desa yang sengaja diciptakan untuk menampung warga kelas teri dari Jawa. Kumpulan manusia malas yang tersingkir dari kampung halamannya sendiri. Tergerus dan terpaksa menyingkir demi percepatan pembangunan. Mereka harus rela di kirim ke pulau lain untuk mengukuti program transmigrasi. Sebuah kata yang tampak modern namun menjerumuskan. Tujuannya untuk mengurangi penduduk dari wilayah padat ke wilayah jarang. Solusi instan dan cerdas. Namun pola pikir instan ini yang membuat segalanya jadi kacau.
Alih-alih memberdayakan wilayah mati, yang terjadi justru penyebaran semangat kemiskinan dan genetika pecundang ke wilayah lain. Pemalaskah mereka? Tidak! Mereka bukan pemalas. Buktinya mereka rela pergi dari kampung halaman. Mereka juga pekerja yang cerdas. Sekali lagi, mereka cerdas! Buktinya mereka  menolak bertani karena hasilnya tidak lebih baik dari pada menjadi kuli. “Kalau benar pemerintah ingin mereka giat bertani, sudah seharusnya pemerintah juga menjamin harga jual panen mereka, bukan?” Kata sebagian orang mencoba mematahkan teori kemiskinan mainstream. 
Perlahan-lahan pagi bergulir, merangkak menjemput siang. Aku masih berjalan seorang diri menyusuri jalan-jalan setaapak. Dari kejauhan nampak sebuah warung kopi yang penuh oleh pengunjung. Mereka adalah kumpulan para kuli dan buruh tani. Warung kopi adalah tempat mereka bergabung membunuh hari. Masa bodoh dengan waktu. Di warung kopi mereka asik main domino, berkelakar dan bertukar cerita dengan beragam obrolan kosong. Ada juga yang hanya diam, larut menyaksikan keasikan orang-orang pinggiran. Khusyuk menikmati kopi hangat. Para kuli dan buruh tani itu menciptakan surga sendiri, di warung kopi!
Memangnya ada surga  lain, selain warung kopi? Tempat di mana kami menemukan sebuah keluarga yang di bangun atas dasar kesamaan nasib. Tempat kami kembali bertemu untuk mengumpulkan cerita tentang kejenuhan hidup. Bukankah surga dapat di bangun di mana saja dan di huni oleh siapa saja? Pikir mereka praktis.
Mereka memilih jadi kuli sama seperti nenek moyang mereka dulu yang terjajah. Memilih nasib menjadi wong cilik adalah lebih baik, lebih nyaman dan aman dari pada membebani pikiran dengan hal-hal rumit. Menjadi kuli dan buruh tani juga pilihan untuk menjauhkan diri dari godaan berbuat buruk. Setidaknya menjadi kuli atau buruh tani jauh lebih baik daripada menjadi  pencuri atau koruptor. Mereka percaya itu. Meski mereka juga sadar, bahwa status mereka sangat rendah dibandingkan yang lain. Hanya sedikit lebih baik di atas budak. Itu pun karena perbudakan sudah dihapuskan secara nama. Meski prakteknya masih sering terlihat dan terasa. 
Pun mereka tak peduli dan tak perlu tahu soal menyoal perbudakan itu. Waktu mereka terlalu berharga untuk memahami dan mengerti tentang status juga tentang kedudukan. Sebutan kuli atau buruh sudah sangat cukup memberi mereka kepercayaan diri. Bukankah kuli dan buruh tani jauh lebih baik daripada seorang gelandangan atau pengangguran? Jadi, tidak ada alasan apa pun untuk merasa rendah diri.
Ini adalah negeri kuli. Di setiap sudut kota, di kampung-kampung, di mana pun, jabatan kuli menyesaki rumah penduduk di sana-sini. Tidak percaya? Ribuan kuli kita di negeri jiran  adalah akibat melimpah ruahnya jumlah kuli di negeri ini. Dan mereka, yang kini duduk di warung kopi, tidak sudi jadi kuli di negeri orang. Mereka seolah tak menghiraukan kawannya yang dengan semangat membara bersusah payah untuk bisa jadi kuli di negeri orang. Sesekali mereka hanya mencibir, "kalian tak malu jadi kuli di negeri orang?" 
Masa lalu telah membuang mereka. Kini mereka tak punya pilihan. Dengan hati lapang mereka berusaha untuk  terlihat wajar dan menerima masa lalu sebagai sebuah keputusan yang tak salah. Di telikung nasib, ditransmigrasikan dan akirnya kini menjadi kuli perkebunan. Mereka sengaja membuang jauh ingatan masa lampau. Seperti seseorang yang membuang sauh ke dasar laut. Bahkan kalau perlu, melarung dan membiarkannya hilang ditelan ombak. Orang tua, kakak, adik, abang, saudara-mara adalah wajah-wajah yang tak seharusnya hidup dalam ingatan mereka saat ini. Sebab kehadiran wajah-wajah itu hanya akan membuat kebebasan hidup mereka jadi terkekang dan penuh beban. Hanya akan menegaskan kembali rasa kehilangan dan kekalahan. Ini memuakkan!
Sama memuakkannya dengan wajah kampung-kampung tempat kelahiran mereka di tanah Jawa. Kampung yang membuat penghuninya merasa terbuang. Merasa tak punya nilai. Anak-anak yang terlahir dari sana adalah anak-anak yang menderita, ketakutan dan trauma akan masa depan. Anak-anak yang setiap subuh bertelanjang dada, bermain congkak  di bawah asuhan beruk-beruk  di hutan karet. Anak-anak yang pandai memanjat batang kelapa melebihi tupai. Anak-anak yang tahan berendam dalam lumpur gambut di akar-akar bakau untuk berburu ketam  atau siput. Anak-anak yang tiba-tiba tumbuh oleh seleksi alam dan kini siap dipekerjakan sebagai kuli. Atau menjadi anak buah tongkang yang berlayar dalam gelap ke negeri orang.
Hal-hal memuakkan inilah yang kini harus mereka tanggung. Mereka tertawa terbahak-bahak menertewakan kekalahan. Menertawakan segerombolan masyarakat yang tak punya masa depan. Masa bodoh dengan pecundang! Pekik mereka berusaha melepaskan masa lalu. Dan mereka pun terkekeh, seperti seseorang yang baru saja mencebur ke sungai dan meninggalkan karung berat di punggungnya. Lalu berendam dan bermandi air kebahagiaan.
Aku masih duduk di warung kopi memperhatikan dengan seksama keadaan sekitar. Sebuah warung kopi  yang sebenarnya terlalu jauh untuk layak disebut sebuah warung. Abu rokok bertebaran di sekeliling lantai. Bercampur ludah di sana-sini. Ludah yang di keluarkan bersama umpatan memuakkan yang mereka buang di tanah itu. 
Satu per satu para kuli datang ke sini. Mereka seperti memiliki waktu khusus untuk sepakat bertemu, berkumpul di warung kopi. Dengan sigap dan terlatih, mereka menggelar pesta judi kelas kampung. Membanting angka-angka keberuntungan. Beragam jenis minuman alkohol murahan pun jadi taruhan. Kata-kata yang membaur adalah lintasan-lintasan pikiran yang tak santun. Ruwet. Seronok. Jorok. Jauh dari norma dan tata krama.
Bagi para kuli, hari-hari begitu mudah terlewati dan kehilangan makna. Warung kopi di pinggir kebun sawit ini seolah menjadi pereguk kegalauan dan harapan.  Dan membiarkan sesuatu yang buruk itu berlalu begitu saja. 
Hidup seorang kuli adalah hidup yang terbatas. Mereka tak terlalu berkeinginan untuk merespons sesuatu yang sedang bergerak di luar mereka. BBM, korupsi, asap hutan, demonstrasi, amuk massa, tawuran antar suku, penculikan, pembunuhan, kemiskinan dan segala macamnya sudah terlampau akrab di telinga mereka. Mereka tak ambil pusing dengan permasalahan dunia karena hidup sudah teramat pusing. Dan kini tak ada urusan selain menghitung keberuntungan dari meja judi. Urusan di luar diri mereka adalah urusan di dunia lain. Mencampurinya hanya akan membuat mereka tak bisa bebas berpikir tentang bagaimana memenangkan taruhan saat bermain di meja judi. Dan tentu, tak bisa membuat mereka bebas tertawa.
Kemudian aku melangkah keluar. Meninggalkan kedai kopi dan meneruskan perjalanan ke tempat lain. Dalam dandanan yang tidak formal, tentu tak ada satu pun dari mereka yang mengenalku. Aku pun bebas menyusuri kehidupan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kehidupan yang tak pernah ditemukan dalam seminar atau laporan dari para ahli ekonomi.
Di suatu rumah yang kulewati terdengar suara berteriak. Keterkejutan memaksaku untuk mendekat. Lelaki penghuni rumah tak mempedulikan kehadiranku. Begitu pula dengan wanita yang berusaha melepaskan pukulan dengan  kayu besar di tangan.
“Bangsat ya, kamu! Udah miskin, engga tahu diri. Gaji mingguan yang tak seberapa, kamu habiskan di meja judi dan melacur. Ini anak yang akan lahir mau diapain?!” Teriak wanita itu sambil mengarahkan kayu  kepada seorang pria di depannya. 
Dengan tangkas lelaki itu menangkis lalu melepaskan kepalan tangan hitamnya ke dagu si wanita. Pukulan telak mengenai dagunya dan wanita itu jatuh terjerembab. Dengan santai, pria legam itu berlalu  tanpa mepedulikan wanita  yang mungkin saja tengah pingsan.
Sekelompok pemuda kekar menghadang langkah pria itu di ujung jalan. Aku tak begitu paham apa yang selanjutnya terjadi. Yang pasti, sekilas kemudian pria itu sudah menjadi bulan-bulanan dan tersungkur ke tanah setelah para pemuda kekar selesai menghajarnya.
“Awas, ya! Kalau sampai minggu depan kamu masih menempati rumah itu, maka nyawamu sebagai gantinya. Segera lunasi hutangmu!” Kata salah seorang pemuda yang nampak parlente. Berwajah khas orang kota.
Aku tak ingin terlalu lama menyaksikan peristiwa demi peristiwa. Sebaiknya aku terus melangkah dan menjauh dari tempat itu. Aku pun sampai di rumah lain di pinggir kebun, yang sebenarnya tak layak disebut rumah. Bagiku gubuk yang ada di hadapanku ini  tak lebih dari kandang kambing. Namun disinilah sebuah keluarga tinggal. Mereka adalah sepasang suami istri dan dua orang anak gadisnya. Keduanya masih terlalu muda dengan wajah yang nampak dipaksa dewasa. Inilah potret kehidupan lain yang juga sulit kumengerti. 
Dengan ramah, mereka  mempersilahkan aku masuk. Di dalam aku tak melihat perabot apa pun kecuali sebuah dipan reot dan suasana rumah yang kotor. Ketika mereka menghidangkan minuman, ada perasaan sungkan untuk meminumnya. Aku mencium masih ada aroma sabun yang melekat pada gelas. Mungkin mereka tidak mencuci dengan bersih. Maklum, air bersih memang tidak mudah di sini.
“Saya akan pindah kerja. Penghasilan sebagai kuli kebun di sini tak banyak yang bisa diharapkan,” kata sang suami.
“Mau kerja di mana?” Tanyaku.
“Saya akan melamar jadi TKI ke tanah Jiran. Katanya penghasilan di sana cukup baik. Banyak teman yang kembali membawa uang banyak dan bahkan dapat membeli kebun. Sementara di sini, tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Kita bekerja karena tidak ada pekerjaan lain dan terpaksa menerima gaji sedikit yang tidak cukup untuk menutup kebutuhan harian. Terpaksa hidup kekurangan tanpa masa depan. Semua kami lakukan dengan terpaksa walau juga tidak ada yang memaksa. Mungkin nasib yang memaksa kami untuk menerima kenyataan, tidak dimanusiakan oleh bangsa sendiri. Untuk itu saya berkeinginan merantau saja. Gaji sebagai kuli di negeri orang cukup membuat kita dihargai sebagai manusia,” kata pria kurus itu bersemangat.
Sementara sang istri hanya diam dan menunduk pasrah. Dia tak kuasa menahan mimpi sang suami yang menggebu. Raut wajahnya terlihat sangat tertekan. Seakan dia ingin cepat-cepat keluar dari masalah yang melilit keluarganya. Kukira dia terlalu risau karena sebentar lagi suaminya akan pergi jauh dan mereka tidak akan berjumpa untuk beberapa lama. Tapi kenapa harus risau bila kepergian suaminya akan membawa perubahan besar bagi keluarga? Ternyata dugaanku keliru. Dan kekeliruanku terjawab ketika beberapa saat kemudian, ada suara mobil mendekat dan berhenti tepat di depan rumah. 
Seorang pria keluar dari dalam mobil yang langsung di sambut dengan antusias oleh sang suami. Sedang sang istri hanya bisa menggigit bibirnya  dan segera masuk ke dalam kamar, meninggalkan suami yang asyik bicara di luar dengan pria kota itu. Tak berapa lama istrinya keluar lagi bersama dua orang anak gadisnya. Pria itu lalu menuntun kedua gadis,  masuk ke dalam mobil sambil di iringi senyum srigala. Senyum yang licik dan culas. Sang suami hanya menyipitkan mata ketika mobil itu bergerak menjauh, membawa kedua putrinya dari tempat tinggal mereka.
“Suami saya butuh uang untuk mengurus segala sesuatunya demi bekerja di tanah Jiran. Pria itulah yang memberi pinjaman uang kepada suami saya. Kedua anak gadis kami akan berkerja dengan pria itu untuk membayar hutang kami,” hanya itu yang keluar dari mulut sang istri ketika kembali masuk dan menemuiku. 
Aku mengerti betul arti ‘bekerja’ di sini. Namun apa yang bisa dilakukan oleh sepasang suami istri itu? Tak ada yang bisa dijadikan jaminan oleh keluarga yang tak punya kejelasan masa depan, kecuali anak gadisnya. 
Besok sang suami akan pergi meninggalkan dirinya dalam kesendirian. Habis sudah harapan wanita paruh baya itu. Dia harus merelakan kepergian suaminya untuk menjadi kuli di negeri orang dan anak gadisnya menjadi pelacur di negerinya sendiri. Tragis!
Aku kembali ke wisma perkebunan menjelang sore dengan perasaan kacau. Budiman sahabatku, pemilik perkebunan ini menyambut kehadiranku dengan senyum lebar dan bertanya, “dari mana saja kamu?” Aku ingin menjawab pertanyaanya namun lidahku terasa kelu.

***
Musim penghujan terlambat datang tahun ini. Setiap hari, hujan  dinanti dalam doa. Di malam hari, hanya ada petir melintas tanpa suara. Harapan membuncah menunggu saat hujan tiba. Namun kembali mentari pagi terbit dengan terik. Petir semalam hanya mengejek, tertawa sinis mempermainkan desa ini dan penduduknya. Hari-hari merayap tak terkira panasnya. Bahkan setiap tarikan napas adalah sebuah kerja keras. Setiap gerakan adalah sebuah perjuangan. Setiap malam penuh cucuran keringat membanjiri badan. Hingga malam dan siang hanya berbeda pada warna alam. Selebihnya panas, kering dan gersang.
Subuh mulai menjelang. Di masjid, sang muazin memanggil setiap orang yang beriman untuk lebih baik sholat dari pada tidur. Suaranya mengalun merdu menembus telinga, membuatku terjaga. Usai sholat Subuh aku mencoba mengintip dari balik jendela kamar. Kulihat beberapa orang berseliweran tanpa tenaga pada jalanan sepi. Melangkah gontai penuh keterpaksaan. Semata hanya karena alasan perut, mereka keluar menuju tugas rutin dan nrimo  menjadi kuli berupah murah. Baru kali ini aku bangun tidur dengan perasaan bersalah. Merasa tak pernah berbuat apapun dalam hidupku. Padahal di depan mataku, begitu luas Tuhan membentangkan ladang ibadah untuk siapa saja yang beriman dan mau berjihad meninggikan kalimat Allah.
Berulang kali rezim berganti namun keadaan tak pernah berubah. Pertanyaan ini mungkin hampir lelah digaungkan jutaan orang. Pertanyaan yang selalu di ungkap dalam desahan napas memohon belas kasihan. Tapi Tuhan tak pernah datang untuk memberikan mukjizat. Hanya bencana yang datang silih berganti dikirim-Nya. Banyak orang kemudian bertanya di manakah Tuhan, sang Maha Adil itu? Mengapa derita datang silih berganti dan kezaliman terus berlanjut? Sebuah pertanyaan bertalu-talu dalam kepala manusia yang semakin terjepit dalam keadaan serba susah. Sebuah pertanyaan yang seakan tak pernah menemukan jawaban. Hanya menyisakan perasaan ambigu yang tak berkesudahan.
Aku dapat memahami  semua situasi dan keresahan ini. Segala rententan pertanyaan yang semakin lama semakin menjadi usang tak terjawab. Sebagaimana aku pun terus bertanya tanpa henti. Namun aku terus mencoba berpikir untuk menemukan jawaban sederhana. Dalam hati aku berujar, seharusnya ini bukan pertanyaan yang di tujukan kepada Tuhan. Tapi lebih kepada budaya manusia Indonesia sendiri. Tuhan tidak pernah dan tidak layak dipertanyakan. Bukankah Dia adalah Tuhan, yang tak pernah henti mengalirkan rahmat dan nikmat-Nya lewat napas kita? Dalam gerakan detak jantung kita? Dan dalam semburat listrik di otak kita? Tapi manusia. Ya, manusialah yang seharusnya ditanya. Mengapa kau tolak dan terus menolak rahmat dari Tuhanmu? Beginilah seharusnya kita bertanya.

Agama adalah sebuah dogma dan ajaran yang mengatur segala hal tentang kehidupan. Tentu tak ada yang perlu diragukan sebagai sebuah keyakinan spiritual. Hanya yang dipahami olehku, bahwa sejarah masuknya Islam ke Indonesia memang dekat dengan budaya mistik Hindu yang masih lekat dalam keseharian. Budaya mistik itu menjadi adat turun-temurun. 

Ketika Barat mulai berangsur menikmati terang benderangnya hidup dengan ilmu pengetahuan, umat Islam justru terbuai  dengan sufisme berlebihan dan segala hal yang berbau mistik.  Larut dalam romantisme surga yang hidup di tengah rakyat miskin. Akibatnya hilang fakta, realita, akal sehat, kerja keras dan kemajuan. Kini yang terbentuk adalah masyarakat yang nrimo dengan nasib dan merasa cukup dengan surga di akhirat. Etos kerja dan kewirausahaan menjadi luntur. Yang tersisa adalah budaya jongos yang lemah dan menerima nasib untuk terus diperbudak. Mangan ora mangan sing penting kumpul, makan tidak makan yang penting kumpul! Begitu falsafah hidup mereka. 
Para santri menghabiskan hari-hari mereka dengan sebanyak mungkin duduk berzikir. Tentu saja tujuannya agar semakin banyak pahala di dapat. Tapi pada waktu bersamaan, mereka juga membiarkan kolonialisme memperbudak dan menguras sumber daya alam mereka. Terbuai dengan ibadah formal dan melupakan dunia sebagai tempat mereka berjuang dan bekerja. Sejarah dan budaya menggiring umat berhenti pada satu titik. Hingga akhirnya identitas Islam dan umatnya sebagai agen pembaharu peradaban tak kunjung terwujud. Umat Islam di Indonesia hanyalah kumpulan manusia tanpa nilai karena akidahnya sudah tercemar dan terbuai dalam hiruk pikuk keseharian dunia mereka.
Realitanya, aku pun tak bisa menyalahkan Budiman yang terpaksa membayar buruh dengan upah murah. Karena sistem yang terbangun memang tak menyisakan ruang untuk kesejahteraan rakyat, khususnya kaum buruh dan tani. Berharap pada kesolidan umat pun jauh panggang dari api. Sejarah mencatat, pergerakan umat Islam dari sejak dahulu hanya dimanfaatkan kaum intelektual untuk memperindah legitimasi kekuasaan mereka. Tidak kurang dan tidak lebih! Tak satu pun dari mereka yang benar-benar menggunakan Islam sebagai inti pembangun peradaban. Itulah yang selama ini kupahami.
Padahal begitu jelas, bahwa komunitas Islam saat ini adalah hidden power yang setiap saat bisa bangkit. Pertanyaan sederhana, adakah kekuatan spiritual agama atau ideologi di bumi ini yang bisa menggiring jutaan orang ke satu tempat, tanpa bisa dimengerti manfaatnya secara langsung oleh akal? Jumlah segitu pun sedikit karena masih dibatasi oleh kuota dan ragam persoalan lainnya. Andaikan di hitung dari niat semata, maka dipastikan hampir 100% umatnya, bertekad untuk bisa datang ke tempat tersebut. Itulah potensi luar biasa ideologi ini: Islam. Itulah Islam dalam simbol-simbol spektakuler di tengah lautan manusia yang datang dari segala penjuru dunia, dalam menunaikan ibadah haji. 
Bagi orang yang hidup dalam paham materialistis dan sekular, tentu akan merasa sangat sulit memahami ini. Datang ke sana, mengorbankan tidak sedikit uang. Meninggalkan sanak saudara. Berdesak-desakan, bahkan ada resiko maut yang lebih besar. Tanpa manfaat, tanpa keuntungan materi. Dan tanpa kegiatan yang masuk akal. Mengapa? Yang tersisa hanya pertanyaan yang semakin lama semakin panjang untuk bisa dijawab. Tapi satu yang tak dapat di sangkal adalah: bahwa di sana ada sebuah kekuatan. Hidden power yang luar biasa besar! 
Mungkin yang dapat menandingi hanyalah partai komunis dalam acara peringatan revolusi kebudayaan. Namun itu pun datang bukan karena kesadaran untuk berbaris rapi, tapi karena paksaan system dan kediktatoran penguasa.
Andai saja kekuatan spiritual tadi dapat bangkit dalam konteks barisan komunitas ekonomi, maka dapat dipastikan umat Islam akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar dan terkuat di dunia. Tidak salah lagi. Seharusnya, pun tidak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk bangkit. Islam mempunyai konsep yang jelas tentang ekonomi. Konsep ini mengharamkan riba.  Artinya Islam melarang keras kegiatan mendapatkan laba dengan orang lain yang justru mengambil resiko dari ketidak pastian masa depan. Adapun yang dibenarkan dalam Islam adalah: laba dan hasil harus diperoleh dari proses kerja keras dan kebersamaan menghadapi ketidak-pastian masa depan. Inilah makna yang tersirat dari konsep ekonomi islami.
Islam melarang orang menanamkan modalnya untuk suatu kegiatan investasi  yang tidak ada produknya namun menjanjikan keuntungan di masa depan. Artinya kegiatan spekulasi  mata uang, derivative business  surat berharga, future trading dan  index  adalah tidak dibenarkan. Dengan demikian tidak mungkin akan terjadi akumulasi modal berputar untuk tujuan yang mubazir. Yaitu tujuan yang tidak berproduksi dan tidak menghasilkan barang atau jasa.
Selain itu, Islam juga menghendaki adanya perputaran dan pemerataan sejahtera. Kekayaan harus terdistribusi dalam sistem kolektif. Ada keharusan setiap orang dewasa yang mempunyai penghasilan melebihi batas yang ditentukan, harus menyerahkan sebagian kekayaannya untuk mereka yang kurang beruntung.
Dengan konsep ini, jelas bahwa misi Islam adalah produktifitas oleh komunitas yang mendapat akses sama untuk mendapatkan kemakmuran. Hal ini juga diamini oleh Pemerintah Cina dengan partai komunisnya. Mereka meniru konsep ini secara utuh dan bahkan lebih radikal. Orang kaya di Cina tidak mungkin mengharapkan uangnya bertambah lewat tabungan atau deposito. Atau mendapatkan laba dari usaha spekulasi dari perubahan kurs atau suku bunga. Karena bunga dipatok sangat rendah. 
Dengan demikian maka orang kaya harus terus mengembangkan dananya melalui kegiatan riil yang melibatkan angkatan kerja. Tugas pemerintah sebagai titik sentral kekuasaan bertugas mendorong semua potensi melalui penyediaan infrastruktur dan suprastruktur di segala bidang. Demi terjaminnya distribusi keadilan di bidang ekonomi. Tanpa adanya perbedaan antara pemodal kakap dengan rakyat biasa. 
Selama ini, pemodal cukup dengan memainkan modal uang yang dia miliki. Tanpa berproduksi pun,  dia bisa bertambah kaya. Sementara rakyat biasa yang tidak punya akses modal dan pasar, akan terus sengsara. Kerja keras dan kerja cerdasnya tidak pernah bisa dibayar pasar dengan semestinya. Karena adanya ketimpangan sistem yang lebih menguntungkan pemodal, tak peduli walau tanpa menghasilkan produk atau jasa sekalipun.
Lantas bagaimana membangkitkan kembali umat Islam dari tidur panjangnya di Republik ini? Aku kembali berpikir. Tentu harus ada satu gerakan yang terorganisir dengan baik agar komunitas mayoritas di Indonesia ini bisa menjadi kekuatan real. Khususnya dalam memerangi kemiskinan. Ditanamkan kepada semua umat Islam bahwa agama harus dimaknai sebagai spirit dalam hidup keseharian. Dan dalam spirit agama, orang miskin adalah korban ketidak adilan sistem dan dosa sosial yang harus dilawan. 
Hmm… ya… ya… ya…, gumamku sekali lagi.
Relasi agama dengan materi dalam pergulatan hidup keseharian tidak berarti mengadopsi pendekatan fungsional atau mereduksi agama hanya pada fungsi ekonomi belaka. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk simbolik. Maka untuk bertahan hidup dan melawan kemiskinan tak cukup dengan ekonomi atau fisik, tetapi juga budaya. Ini membutuhkan tidak hanya artefak, bentuk atau materi budaya. Tetapi juga motivasi dan makna. Sebagai sumber makna, peran agama amat fundamental dalam kehidupan sehari-hari. Pengaruh agama dalam melawan kemiskinan juga melibatkan dimensi lain seperti simbolik, motivasi,  kognitif  dan normatif. Agama berkata, adat memakai. Begitu seharusnya! Pekikku dalam hati.
Benar bahwa Islam harus ditempatkan sebagai dogma dan ajaran, tapi juga harus dengan pola pikir yang realistis dan dinamis. Harus! Islam bersifat melangit, suci dan tidak bisa diubah seenaknya dalam tataran konsep, tetapi juga selalu membumi dalam terapan ide-idenya. Itulah yang disebut berdialog dengan zaman dan realita. Berijtihad.  Ijtihad dalam Islam adalah sebuah jembatan, antara agama dengan fenomena dan realitas manusia. Dalam Islam keselarasan antara akal atau rasionalitas yang berpuncak pada sains, selalu dijaga keseimbangannya dengan suara hati yang merupakan manifestasi dari iman. Pun tidak menimbulkan atheisme karena akal yang mengingkari iman. Kitab Suci selalu menekankan keseimbangan antara keduanya: antara iman dan akal. Banyak nash-nash  yang menunjukkan hal itu.
Aku begitu bersemangat. Di dalam pikiranku, berlarian segala ide-ide yang selama ini kupendam, kini membuncah. Aku gelisah hingga akhirnya terlontar rentetan rencana seperti senapan otomatis. Kritikan dan kegalauanku belum berhenti ketika saat itu pula, aku sedikit tersenyum. Atau mungkin geram. Ah, entahlah! Yang jelas aku sedikit berekspresi, entah perwajahan apa. Lalu terdiam dan kembali larut dalam kemelut gagasan-gagasan. Kutarik napas dalam-dalam untuk melepas sedikit gemuruh di dadaku sebelum aku melanjutkan perenungan.
Kemudian, agar tak disebut puritan  karena mengusung Islam sebagai konsep membangun peradaban, harus diluruskan dan ditegaskan bahwa Islam bukanlah budaya mundur. Justru sejarah telah mencatat dengan tinta emas, kunggulan peradaban yang telah Islam bangun di masa lalu. Dan itu bukan sebuah kebetulan karena apa yang dibawa oleh Islam adalah budaya, gaya hidup dan energi positif masyarakat madani. Sebuah masyarakat beradab yang dibangun di atas pondasi ilmu dan akhlak yang mulia.
Aku kembali mengenang sejarah peradaban masa lalu. Tak satu pun menyangkal bahwa peradaban Islam di Bagdad dan Andalusia adalah alasan pertama bagi kebangkitan bangsa Eropa. Lewat para ilmuwan muslim ketika itu, masyarakat Eropa mulai mengenal apa itu ilmu pengetahuan. Bahkan lebih mendasar, mereka belajar bagaimana sih, berpikir itu? Mereka buta akal dan tidak terbiasa menggunakan logika. Tak lain karena sebelumnya, dicekoki habis-habisan oleh doktrin gereja. Termasuk ancaman inkuisisi  bila menentang doktrin. Dari Andalusia mereka di ajari, khususnya oleh Ibn Rusyd, bahwa jalan lain untuk mendapat kebenaran adalah dengan berpikir ilmiah dan logis. Mempergunakan akal. Tidak semata hanya dengan doktrin agama atau peraturan Paus, sebagaimana keyakinan mereka tentang ‘kebenaran’ Gereja.
Peradaban muslim ketika itu berhasil menjembatani dan menjadi filter dari peradaban Yunani ke masa Romawi di Eropa. Bahkan berlanjut hingga peradaban Barat saat ini. Eropa pada abad pertengahan berada dalam masa kegelapan. Sebuah masa ketika ilmu pengetahuan dan berpikir logis adalah perbuatan melanggar hukum. Yaitu pada masa skolastik Kristen berkuasa. Di mana dominasi dogma mengalahkan akal. 
Di belahan dunia lain, justru saat itulah Baghdad berada dalam puncak kejayaannya. Menjadi pusat pengetahuan di dunia, tempat singgah dan transfer ilmu pengetahuan ke Eropa secara besar-besaran. Zaman emas kekhalifahan Islam ini dipelopori oleh kaum Mu'tazilah.  Sekelompok kaum yang menggunakan mazhab atau aliran berfikir logis-dialektis. Dari merekalah, khazanah keilmuan Islam semakin kaya dengan penjabaran mereka terkait konsep ketuhanan yang diselaraskan dengan rasio. Dengan alasan utama, untuk melawan kaum ahli kitab dari Yahudi dan Nasrani, yang mengajak berdebat logika.
Dunia ini harus di ubah. Hanya lewat evolusi peradaban, semua itu bisa terjadi. Sebuah peradaban yang di bangun di atas pondasi ilmu pengetahuan dan akhlak yang mulia. Demi masa depan dunia yang lebih adil dan menentramkan. Pungkasku mengakhiri selancar impian.
Aku tergeragap. Sekonyong-konyong aku bangkit dari dunia mimpi yang begitu indah. Ku lihat benda-benda nyata di sekitar. Aku tersadar, dan dunia impianku pun hilang tak berbekas di telan realita.  Aku menelan ludah getir. Inilah dunia real yang harus ku hadapi, masih sama seperti sebelum aku bermimpi. Aku menghela napas panjang, lalu keluar  kamar dan mencoba menghirup dalam-dalam udara pagi. 
Budiman sudah menanti di ruang makan. “Kelihatannya kamu tidur lelap sekali?” sapa Budiman sambil menyeruput kopi panasnya.
“Mereka sangat miskin, Man,” kataku pelan. Tak menghiraukan sapaan Budiman sebelumnya. 
“Iya. Sistem yang membuat mereka miskin.” Budiman tahu yang kumaksud dengan mereka, yaitu para kuli yang bekerja di perkebunannya dan orang-orang di desa sekitar.
”Lihatlah keadaan kita sekarang. Terjebak dalam situasi yang salah gara-gara kebijakan publik pemerintah yang tidak membumi,” keluh Budiman mengawali cerita.
“Banyak di antara kami yang terpaksa merumahkan karyawan. Dan tidak tahu lagi bagaimana nasib mereka setelah kehilangan pekerjaan. Terseok-seoknya dunia usaha tidak hanya dialami oleh kami yang tergolong besar di sektor agrobisnis.  Tapi juga usaha manufaktur  besar di sektor pakaian jadi. Pengusaha sepatu nasional pun mengeluhkan kesulitan yang harus mereka hadapi sejak tahun 2001 untuk sekedar bertahan hidup. Serbuan sepatu impor (ilegal) dari Cina dijadikan ‘terdakwa’ atas keterpurukan industri sepatu dalam negeri. Kapasitas produksi industri yang masih bertahan tinggal 75 persen. Nilai ekspor dari sektor manufaktur dari tahun ke tahun semakin menurun.” Budiman menghela napas, mencoba menahan emosi yang mulai menyulitkan susunan kata-katanya.
“Industri tekstil, pakaian jadi, sepatu, elektronik, dan beberapa industri manufaktur lainnya perlahan tapi pasti terus meredup. Ini bukan tiba-tiba terjadi, tetapi lewat sebuah rangkaian perjalanan yang tidak cepat di antisipasi. Kelemahan pada industri di Indonesia bukan hanya pada basis industrinya, tetapi juga pada struktur industri yang dibangun.” Seru Budiman mengakhiri cerita. Dia begitu menggebu mengungkapkan kekesalannya. Kesal karena sistem yang menjebaknya. Dan lebih kesal lagi karena tak dapat berbuat apa-apa.
Memang kusadari, bahwa Negeri ini membangun industrinya hanya pada industri berteknologi rendah dan jenis perakitan. Tidak pernah bergerak menuju teknologi menengah apalagi tinggi. Industri yang dikembangkan pemerintah Indonesia lebih berkonsentrasi pada sektor-sektor yang semakin kurang signifikan dengan pasar yang terbatas. 
Ekspor Indonesia misalnya, hanya  konsentrasi di sejumlah sektor saja. Hampir separuh dari ekspor manufaktur hanya di isi lima jenis komoditas, yaitu: kayu lapis, tekstil, pakaian jadi, elektronik, dan alas kaki. 
Padahal untuk tekstil, pakaian jadi dan alas kaki persaingannya sangat ketat. Banyak negara menjadi produsen barang-barang itu karena serapan tenaga kerjanya yang sangat tinggi. Cina, Vietnam, Thailand, dan India, berlomba menguasai pasar. 
Sedang industri kayu lapis juga tak lepas dari masalah produksi, karena kesulitan bahan baku seiring dengan semakin rusaknya hutan alam Indonesia. Begitu pula tekstil dan produknya. Hampir 99 persen kapas yang merupakan bahan baku produksinya, adalah barang impor dengan nilai mendekati 1 miliar dollar AS. 
Proporsi penggunaan input impor pada industri nasional sangat tinggi. Tekstil misalnya, proporsi input yang berasal dari impor mencapai 32%. Sedangkan produk elektronika dan mesin mencapai 65%. Ketergantungan pada input yang berasal dari impor ini tidak berkurang meskipun teknologi yang dipakai beranjak maju.
Aku pun menghela napas, mencoba berhenti sejenak dan menahan luapan kekesalan. Meski tetap aku tak bisa berhenti membayangkan nasib industri lainnya di negeri tercinta. Kali ini tentang industri kecil.
UKM yang mempekerjakan dua pertiga tenaga kerja di sektor manufaktur juga tidak memberi kontribusi yang memadai dari total nilai industri manufaktur nasional. UKM terkonsentrasi pada manufaktur padat karya, bukan penyediaan input intermediate  bagi industri besar. Belum lagi sempitnya akses modal untuk UKM  dari perbankan. 
Sementara industri besar seperti mesin, sepeda motor dan elektronik, 90 persen komponennya malah membeli dari luar negeri. Maka tak heran bila di lihat secara keseluruhan, sumbangan netto FDI terhadap neraca pembayaran selalu negatif. Itu karena laba yang dihasilkan dari investasinya dikirim kembali ke negara asal. Dari pengamatan The United Nations Support Facility for Indonesian Recovery tidak ada bukti kuat yang menyatakan FDI berpengaruh positif terhadap perkembangan ekonomi negara yang menjadi tempat investasinya. Well, pernyataan tersebut kian memperjelas fakta yang ada.
Ranah tenaga kerja juga tak luput dari tumpahan kekesalan. Aku tak kalah geram. Faktor tenaga kerja yang selama ini menjadi keunggulan industri Indonesia tidak lagi dapat dipertahankan. Rating produktifitas tenaga kerja Indonesia relatif lebih buruk dibanding dengan Malaysia dan Thailand. Ini akibat kurangnya perhatian negeri ini terhadap dunia pendidikan dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia. Akibatnya, sumber daya manusia Indonesia semakin sulit bersaing di tengah gencarnya serbuan tenaga kerja asing. Perusahaan-perusahaan sulit mencari pekerja yang memiliki keterampilan memadai. Sementara untuk penelitian, pengembangan, pelatihan dan anggaran yang di bikin pemerintah sangat kecil dibandingkan dengan PDB.
 “Seharusnya pemerintah kembali menyadari bahwa membangun itu tidak usah melihat ke luar tapi lihatlah ke dalam. Data geografis menyebutkan bahwa 40,7 % lahan yang layak di tanami di planet bumi ini ada di Indonesia. Sebuah kenyataan yang tidak bisa disangkal, bahwa sesungguhnya Tuhan telah memberikan kita segala-galanya untuk menjadi bangsa pemasok kebutuhan pangan dan produk turunannya bagi umat manusia sedunia.” Timpal Budiman sedih.
“Mengapa ini tidak dijadikan keunggulan kita untuk bersaing? Mengapa masih enggan melakukan transformasi menjadi Negara yang kuat dan cerdas memanfaatkan sumber daya alam yang diberi? Hanya dengan cara inilah pemerintah bisa membantu rakyatnya, yang mayoritas adalah petani, nelayan dan pengrajin menjadi kekuatan raksasa menghadapi era globalisasi pasar,” keluh Budiman menahan rasa kesal yang sama. “Kita ini negeri yang tidak pandai bersyukur, plus tidak amanah!” tambahnya. Aku melihat kekecewaan di mata sahabatku itu. Betapa dia telah memendam kegalauanya atas negeri yang gemah ripah loh jinawi ini.
Kami bedua terdiam dan memandang keluar hamparan tanah yang begitu luas. Budiman telah membuat uraian fakta betapa salahnya kebijakan yang tidak membumi. Hamparan hijau ini dilupakan oleh pengambil kebijakan. Tapi apa hendak dikata, apa yang telah terjadi, maka terjadilah. Meski itu kecut dan bahkan melukai hati nurani. Melihat manusia menjadi budak oleh system. Sitem dimana kami berdua berada di dalamnya.
Para pemimpin terang-terangan memberi ruang lebar terjadinya perbudakan antara pemodal dengan rakyat jelata. Ya, perbudakan! Proses pembangunan saat ini telah melahirkan perbedaan kelas. Yang kuat menekan yang lemah. Yang punya modal memeras mereka yang tak punya dana. 
“Ja,” panggil Budiman lembut. Sorot matanya pasrah dan tak berdaya. “Bantulah aku sebisamu. Usahaku terancam di lelang negara bila tidak dapat melunasi hutang. Bagiku tidak masalah bila usahaku ini diambil alih. Tapi yang aku khawatirkan adalah bila usaha ini di kuasai asing. Ini akan membuat kita tidak jauh beda dengan situasi zaman penjajahan dulu,” pinta Budiman penuh harap. 
“Aku akan berusaha sebisaku. Ada teman yang sekarang bekerja di lembaga keuangan raksasa di Hong Kong. Mungkin ia dapat membantu mencarikan solusi pendanaan untuk mengatasi masalahmu,” kataku coba menenangkan. Betapa aku mencintai Budiman, sahabatku. 
“Terimakasih, Ja.” Budiman tersenyum penuh arti, “apapun hasilnya, kita berserah diri kepada Tuhan.” 
“Ya, kita memang harus mengakui bahwa Tuhan-lah pemilik segala kehidupan.” Kata Jaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Fenomena Buzzer.

  Waktu revolusi kebudayaan di China, semua simbol pemikiran dokrin terhadap feodalisme dihancurkan oleh rakyat jelata. Tempat ibadah yang m...