Selasa, 04 Oktober 2022

Sikap dan mental yang salah.

 



Orang indonesia ini suka sekali meremehkan hal yang substansi. Engga apa apa makan gula. Kan seikit. Apa sih artinya. Padahal dia diabetes. Ya lambat laun bukannya makin membaik diabetesnya tapi malah tambah parah. Ada kendaraan tua. Penumpang overload. “ Engga apa apa. Sekali kali jalan jalan”. Kendaraan jatuhn ke kejurang. “ Sukur selamat 10 orang. “ padahal 2/3 penumpang tewas semua. Yang disalahkan, rem lah, jalan licinlah, apa lah. Padahal kendaraan sudah tua dan overload. 


Orang Indonesia itu suka anggap remeh data dan informasi, dan lebih utamakan perasaan. Ada laporan intelijen. Bahwa pertandingan bola itu berpotensi akan chaos. Polisi minta jam pertandingan diubah. Tapi setelah ada pertemuan antara panita penyelenggara dan polisi. Semua sepakat acara tetap lanjut tanpa ubah jadwal. Ketika terjadi keributan. Menewaskan ratusan orang. Semua ngeles. Semua saling menyalahkan. Padahal sudah tahu akan ribut. Masih juga diadakan acara.


Terus kita orang Indonesia suka membahas yang tidak substansi. Sesuatu yang hanya berdasarkan opini yang bisa saja bias atau ambigu, tapi dibahas sampai berlarut larut. Padahal sepele. Itu data survey, engga mungkin bisa mencapai elektabilitas dua digit.  Wong mencapai 5% aja sulit. Tapi terus aja ribut dan mikir pantas jadi capres. Apakah resesi atau tidak terus dibahas atas dasar asumsi. Akhirnya bingung sendiri. Harga kok terus naik.  Kok rupiah terus melemah. Fakta kalau inflasi diatas 5%, itu pasar real sudah dua digit.


Orang indonesia itu suka sekali mengeluhkan di luar dirinya. Sikaya mengeluhkan yang miskin karen malas. Yang miskin keluhkan yang kaya karena rakus dan pelit. Pemerintah keluhkan rakyat. Rakyat keluhkan pemerintah. Padahal kaya miskin itu soal pilihan sikap, atau soal mental. Pemerintah hebat itu bukan jago ngeles, tetapi karena bersih dari korupsi dan amanah. Kalau engga, itu namanya gerombolan ganster. Rakyat itu bukan hanya patuh Pancasila dan UUD 45, tetapi menjadi mesin ekonomi untuk pertumbuhan. Mandiri dalam arti luas. Kalau engga, itu sama dengan sampah.


Karena sikap dan mental kita yang begitu. Jangan kaget walau populasi kita nomor 4 di dunia, dan pengekspor gas alam terbesar di dunia, penghasil Batu bara Terbesar Ketiga di Dunia, penghasil Emas Terbesar Ke-9 di Dunia,  kita masih masuk dalam daftar 100 negara miskin di dunia. Dan tahun 2020, kita menjadi negara terkorup nomor tiga di ASIA, keren ya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

How Democracies Die.

Saya membaca buku How Democracies Die. Itu saya baca tahun lalu. Buku itu biasa saja. Mengapa? Karena ditulis sebagai tesis atas fenomenan k...