Kamis, 20 Oktober 2022

Memahami Negara China.

 




Kalau ingin tahu secara vulgar negara yang menerapkan oligarki selain monarki absolut adalah China. Elite China tidak lebih 5000. Namun yang menentukan Bandul politik ada 9+ 16 atau 25 orang saja. Bayangkan, 25 orang berkuasa atas 1,8 miliar orang. Banyak orang mencoba menganalisa China dari sudut pengetahuan barat. Pasti salah. Apalagi menilai China dari sudut intelijent. Udah pasti ngawur. Lantas bagaimana sebenarnya negara itu dikelola.Pertanyaan ini terus menggayut pikiran saya sekian tahun. Tapi diatas 5 tahun di China, saya baru tercerahkan.  Apa itu?


Pertama. Benar yang berkuasa itu adalah elite super elite. Tetapi para elite itu tidak terlibat dalam business secara tidak langsung. Mereka menjauh kedekatan personal dengan pengusaha.  Namun mereka menciptakan banyak BUMN masuk 500 Top Fortune. Mereka  mengendalikan konglomerat dan miliarder di China. Karena sumber daya negara mereka kuasai, maka mereka bisa atur buka tutup kanal distribusi kekayaan. Sehingga kalau ada penumpukan kekayaan, bisa arahkan kembali sesuai dengan design pembangunan ala sosialisme.


Kedua, China benar beridiogi komunisme. Tapi tidak menerapkan mindset komunisme. Komunisme hanya dipakai sebagai metodelogi politik persatuan dan kesatuan berdasarkan gotong royong, lingkaran persahabatan dan persaudaraan dengan semua etnis China, bukan hanya di dalam negeri tapi juga di luar negeri. Mereka paham bentul mengelola SDM yang besar untuk menghela visi besar lompatan jauh ke depan.


Ketiga. Benar bahwa China menerapkan ekonomi pasar dan kapitalisme. Tapi itu hanya metodelogi mencapai tujuan sosialisme. Bukan menerapkan cara berpikir kapitalisme. Makanya mereka enak saja kalau sekelas Jack Ma harus dibonsai.  Banyak orang kaya karena selebritis dibonsai. Itu karena tidak sesuai dengan tujuan sosialisme, yang bertumpu kepada ekonomi tradable. Itu sebab mata uang dikendalikan negara, bukan oleh pasar. Demokrasi bukan sekedar kebebasan berbicara tetapi substansinya adalah kebebasan mendapatkan hak ekonomi dan sosial lewat produksi. Jangan kaget bila Korupsi, narkoba, human trafficking, terorisme, dianggap kejahatan terhadap idiologi dan harus dihukum mati.


Keempat. Benar bahwa China anti agama. Tapi itu dalam konteks bernegara. Dalam konteks private, bagi China, Agama itu dianggap sama dengan kebudayaan. Justru harus dijaga dan dilestarikan dalam bentuk perbuatan. Mengapa ? karena politik China menerapkan falsafah Confucius. Yang bertumpu kepada hukum alam. Utamakan hubungan yang ideal antar sesama manusia. Sederhananya, setiap manusia harus punya budi pekerti, rasa kemanusiaan, dan kebaikan di dalam diri; berkaitan dengan kepatuhan dan semua perbuatan yang benar, keserasian antara ibadah, tingkah laku, adat istiadat, sopan santun, dan tata krama.


Kelima, China bukan negara terdepan dalam hal inovasi. Tetapi negara terhebat dalam hal meniru dan memodifikasinya jadi lebih baik, memproduksinya jauh lebih banyak dari negara manapun. China adalah kekuatan ekonomi dunia. 10 orang terkaya di dunia, tidak ada yang berasal dari China. Namun China memiliki penduduk kelas menengah yang jumlahnya lebih besar dari seluruh penduduk Amerika dan Eropa. China adalah satu satunya negara yang sukses mengangkat 800 juta rakyat dari kubangan kemiskinan.


Nah dengan lima hal itu, saya rasa cukup untuk memahami China. Bahwa negara yang dibangun atas dasar kebudayaan, tidak akan terkalahkan. Ukuran agama dan budaya bagi negara, kemiskinan rakyat adalah aib, sesuatu yang memalukan. Sementara bagi rakyat, kepatuhan  dan kesetiaan kepada negara adalah kehormatan. Karena itu baik pemerintah maupun  rakyat saling tahu diri atas dasar rasa hormat dan malu. Makanya antar mereka ogah bertengkar, lebih utamakan kebersamaan. Dan karenanya mereka  ogah membahas yang tidak substansial. Itu omong kosong. Focus kerja daripada beropini dan beretorika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

How Democracies Die.

Saya membaca buku How Democracies Die. Itu saya baca tahun lalu. Buku itu biasa saja. Mengapa? Karena ditulis sebagai tesis atas fenomenan k...