Minggu, 16 Oktober 2022

Budaya...

 



Di musin panas di China. Saya melihat wanita yang menggedong balitanya, dia menarik kereta dorongnya. Saya sedih. Tapi saya terkejut ketika berpapasan dengannya. Dia tersenyum. Tidak ada kesan dia harus dikasihani. “ Itulah semangat sosialis komunis. Di punggungnya Balita, sang sosialis yang bertumbuh. Gerobak barang itu kapitalis. Dia melangkah kedepan. Itu masa depan yang tidak harap BLT, tetapi peluang memakmurkan diri sendiri sedang ditapaki.” kata Wenny Poh.


Saya datang ke restoran. Kami makan bersama orang miskin, yang dengan malu malu menikmati kemewahan. Ada juga orang kaya yang datang membayar menue dan memasukan tip dalam kotak tertutup. Dia tersenyum dan malu ketika mendapat bingkisan bunga dari pelayan restoran. Walau di depan ada tertulis “ orang miskin free” tapi tak banyak orang miskin yang antri makan gratis. Walau restoran itu kapitalis, dibangun dengan semangat sosialis komunis namun budaya mengalahkan idiologi.


“ Gunung tetap ditempatnya walau cuaca datang dan pergi seiring berubahnya musim. Idiologi bisa apa saja, tetapi budaya tidak akan tergantikan oleh apapun. Kami tidak hidup dan berharap akan sebuah idiologi. Tidak bersemangat karena narasi. Kami hidup dengan budaya. Dari itu kami tahu arti berterima kasih, kerja keras dan malu meminta dan berbuat salah.” Kata Wenny Poh.


Malam hari kami pulang ke apartement di cuaca winter yang menggigit. Di pojok jalan ada Polisi rakyat yang sedang berdiri dengan posisi sempurna. Dia tetap dengan pandangan kedepan saat kami tersenyum kepadanya. “ Polisi itu hanya sekedar mengingatkan kami akan hukum dan aturan yang harus ditegakan. Rasa hormat kami bukan karena polisi yang bengis, tapi karena hukum tegak kepada siapapun. Dan kehidupan para aparat yang bersehaja. “ kata Wenny Poh.


Banyak hal yang tak sudah kita bahas. Banyak hal kita pertengkarkan soal salah dan benar. Banyak hal kita nyinyirkan soal kebijakan negara. Banyak hal membuat kita tidak nyaman. Sementara Pejabat merasa bangga dengan kekayaan diatas gajinya. Orang kaya tanpa pabrik dan bisnis tradable, bangga dengan kekayaannya. Itu dipertontonkan secara vulgar. Tangan dibawah menjadi profesi atas nama agama dan politik. Nafsu kebencian, kerakusan sosial dan psikis menjadi wabah yang merusak rasa malu. Tanpa rasa malu, apalagi yang kita perjuangkan. Rasa hormat itu tidak ada la


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

How Democracies Die.

Saya membaca buku How Democracies Die. Itu saya baca tahun lalu. Buku itu biasa saja. Mengapa? Karena ditulis sebagai tesis atas fenomenan k...