Sabtu, 30 Mei 2020

Geostrategis Jokowi.



Kadang orang mencampur adukan antara Geopolitik dan Geostrategis.  Kadang mereka bicara geopolitik tetapi yang dibahasnya geostrategis. Jadi kacau. Walau memang antara geopolitik dan geostrategis punya kesamaan dalam hal Hubungan kekuasaan negara dengan potensi alam yang tersedia. Hubungan kebijaksanaan suatu pemerintahan dengan situasi dan kondisi alam yang ada. Penentuan bentuk dan corak politik luar dan dalam negeri suatu negara. Penentuan garis pokok-pokok haluan negara. Usaha untuk meningkatkan posisi dan kedudukan suatu negara berdasarkan teori “Negara sebagai organisme”. Namun esensinya berbeda. Kalau geopolitik itu berkaitan dengan grand design politik, sementara geostrategi berkaitan dengan langkah besar atau stragegis untuk mencapai tujuan dari Geopolitik.

Contoh kebijakan luar negeri kita adalah bebas aktif. Itu geopolitik. Dan diterapkan dengan geostrategis melalui program B2B. Kita menolak kerjasama atau bantuan yang memaksa politik luar negeri kita berpihak kepada salah satu negara. Kita focus kepada business to business. Negara manapun bisa bekerja sama dengan kita dengan prinsip saling menguntungkan. Geopolitik kita bahwa SDA dikuasai oleh negara.  Diterjemahkan dalam geostrategis bahwa  hak negara mengendalikan SDA lewat konsesi bisnis bagi siapa saja yang patuh kepada UU. Tidak boleh melepas SDA dan hak publik  kepada asing kecuali konsesi bisis dalam kurun waktu tertentu, setelah itu kembali ke negara.

Teman saya konsultan geostrategis global bilang bahwa China dan AS dibuat bingung oleh Jokowi. Bahkan beberapa kementrian yang terlibat dengan kebijakan pelayaran utama ( selat Malaka ) dan Alur Laut Kepulauaan Indonesia (ALKI) melalui Lombok, Kalimantan, dan Sulawesi juga bingung menterjemahkan kebijakan Jokowi . Dalam pertemuan APEC di Beijing Jokowi dengan tegas akan memberikan ruang ALKI kepada AS. Dengan demikian tidak berdesakan dengan China di Malaka. Untuk itu Jokowi akan membangun pelabuhan check point di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi. Waktu itu baik China dan AS setuju untuk mengakhiri konflik laut china selatan.

Atas kesepakatan itu China merasa aman dengan program OBOR untuk menghubungkan china ASEAN. Pembangunan kereta logistik digelar dari Guangxie melalui Vietnam, Thailand, Malaysia Singapore dan rencana dengan jembatan laut Malaka akan terhubung dengan Indonesia ( Dumai ). Saat sekarang jalur kereta sudah sampai di Malaysia. Dan sedang membangun tunel ke Singapore. Sementara AS sedang memperkuat investasi explorasi gas di blok santa fee dan marsela ( laut arapuru- Maluku ) dan Mahakam, kalimantan timur. Tetapi dalam perjalanannya Jokowi tidak pernah komit dengan kesepakatan APEC itu.

Jokowi tidak menanggapi proposal jembatan Selat Malaka yang menghubungkan Dumai dengan Malaka. Program Toll laut Jokowi bukannya mendukung OBOR malah bersaing dengan OBOR. China pusing. Bagaimana dengan AS? Blok Mahakam di take over oleh Pertamina dan Blok marsela di bangun di darat dan sekarang justru Jokowi akan membangun pangkalan militer di Kepulauan arapuru. AS tambah pusing. Bahkan Jokowi mengizinkan China buat pelabuhan di Sulawesi. Ini jelas keluar dari kesepakatan pembagian geostrategis antara China dan AS. " Bagaimana mau kerjasama kalau tidak ada yang komit. Jokowi seenaknya mengabaikan komitment yang dibuatnya.” Kata teman konsultan Geostrategis kepada saya.

Saya hanya tersenyum. Saya katakan kepada teman bahwa OBOR tidak akan dapat peluang menyentuh Malaka sebelum Sumatera terkoneksi dengan toll laut maupun toll darat. Jokowi tidak mau mengorbankan Geostrategisnya untuk kepentingan asing. Janji china akan menggelontorkan dana USD 30 miliar untuk jalan toll Sumatera dan toll laut , nyatanya hanya 10% saja cair. Mau komit gimana? Amerika juga sama, engga ada niat mengamankan soal Papua di forum PBB. Mau komit gimana ? Saya rasa ini hanya pertimbangan fairly. Kalau mau bersinergi , China dan AS harus tunjukan itikad baik. Sekarang Indonesia, ada atau tidak ada china , AS,  pembangunan jalan terus sesuai agenda. Prinsipnya hanya B2B. Engga ada lagi G2G. 

Agenda Jokowi untuk Indonesia. Kata saya. “ jadi apa usul kamu ? Kata teman sambil mengerutkan kening. Menurut saya, china selesaikan aja komitment membiayai jalan toll Sumatera dan toll laut, dalam kuridor B2B. Kemudian AS gunakan Jepang dan Eropa bangun koneksitas Kalimatan dan Sulawesi. Selesaikan soal Papua. Nah kalau itu semua udah selesai, Jokowi akan komit. Mengapa ? Karena kalau infrastruktur terbangun, Indonesia juga siap bersaing atas program OBOR dan grand PAcific nya Amerika. Kan engga mungkin Indonesia hanya jadi penonton.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Fenomena Buzzer.

  Waktu revolusi kebudayaan di China, semua simbol pemikiran dokrin terhadap feodalisme dihancurkan oleh rakyat jelata. Tempat ibadah yang m...