Sabtu, 30 November 2019

Kemandirian Pharmasi


Tahukah anda bahwa hampir setiap obat sintetis yang dapat dibeli di dunia ini secara legal atau ilegal , mulai dari katarsin hingga obat steroid sampai obat jantung yang diresepkan dokter, berasal dari China dan India. Bahkan melalui situs web china, anda bisa memesan fentanil sejenis obat aditif penyebab kematian bila overdosis. Disamping China dan India, Iran juga termasuk negara yang mandiri dalam hal pharmasi. Lembaga riset Iran termasuk yang paling maju dalam meneliti sel punca. Itu bisa dimaklumi karena Iran diembargo secara ekonomi atas prakarsa AS. TNC bidang Pharmasi salah satu yang solid berada dibelaka negara AS dan Eropa yang merupakan pemilik paten obat. Jadi karena diembargo itulah, Iran dalam posisi harus mandiri soal obat.

India dan China sangat paham pentingnya kemandirian dibidang pharmasi. Maklum, kalaulah kedua negara ini pharmasi nya tergantung asing, dengan penduduk diatas 1 miliar maka bisa bangkrut mereka oleh kapitalis pharmasi. Itu sebabnya industri kimia bahan baku obat di china dan India sangat longgar regulasi nya dan pabrikan mendapat subsidi dari pemerintah agar industri pharmasi bisa menghasilkan produk yang efisien. Tapi yang membuat industri pharmasi itu tumbuh karena memang political Will pemerintah besar sekali. Tidak ada kebijakan yang menghambat tumbuhnya industri pharmasi. Bahkan terkesan sangat longgar dan pemerintah memberikan kemudahan agar obat tradisional bisa masuk ke prime market.

Ketika pabrik Jamu Nyonya Meneer dinyatakan pailit oleh pengadilan niaga karena gagal bayar hutang, saya sudah menduga bahwa ini akan terjadi. Hanya masalah waktu saja. Sebelumnya sudah banyak industri jamu baik sekala modern maupun rumahan yang gulung tikar. Apa penyebabnya ? Sejak ada obat generik, minat orang untuk menjadikan jamu sebagai alternatif berkurang. Karena apabila sakit biaya obat tidak begitu mahal. Jadi tidak diperlukan jamu untuk menjaga kesehatan dan juga tidak di perlukan jamu sebagai obat alternatif.

Puncaknya ketika berlakunya SJSN dimana berobat gratis asalkan ikut BPJS dan orang miskin ditanggung preminya , jamu semakin tidak mendapat tempat sebagai obat alternatif. SOP BPJS mengharamkan obat tradisional sebagai alternatif obat modern. Kalaulah bukan karena pengaruh lobi TNC bidang pharmasi engga mungkin sampai SOP BPJS seperti itu. Padahal sistem jaminan kesehatan nasional seperti BPJS adalah pasar besar dan captive bagi pemicu lahirnya industri pharmasi seperti di China dan India. Tapi entah mengapa pemerintah tidak melihat potensi BPJS untuk memacu kemandirian dibidang pharmasi.

Menurut teman saya yang bisnis pharmasi, dana sponsor dari industri pharmasi itu mengalir sampai ke DPR yang merancang UU kesehatan dan BPJS. Itu triliunan rupiah uang ditebar untuk para elite politik. Makanya sangat sulit membabat mafia pharmasi ini. Mainnya halus dan kejam. Setiap upaya kemandirian industri pharmasi lokal pasti hanya masalah waktu akan tumbang karena kebijakan pemerintah. Pailitnya Jamu Nyonya Meneer adalah puncak dari gagalnya produk lokal bersaing dengan produk import, yang merupakan bukti bahwa pemerintah bagian dari ketidak mandirian bidang pharmasi.

Jatuhnya industri herbal bukan hanya di Indonesia tapi juga di AS. Walau pengobatan herbal digandrungi oleh sebagian besar rakyat AS yang tidak terjangkau system layanan kesehatan. Namun , kecaman dari NGO yang berafiliasi Industri Pharmasi sangat gencar. Mereka berusaha melobi pemerintah untuk melarang kegiatan pemasaran herbal dan bahkan industry obat tradisional sengaja dihalangi lewat kebijakan ketat dari FDA. Terjadi pro dan kotra dimasyarakat soal ini. Sampai kini terus berlangsung ditengah kebingungan pemerintah memberikan solusi comprehensive ditengah ketidakberdayaan anggaran kesehatan. Ya, Indonesia sama dangan AS yang sudah dalam cengkraman mafia pharmasi dan sulit untun bisa lepas kecuali ada political Will. Mampukah Jokowi memberantas mafia pharmasi ini?

***
Presiden Jokowi meminta agar komponen bahan baku obat-obatan diupayakan lebih besar dari dalam negeri. Selama ini, bahan baku pembuatan obat diketahui hampir 100 persen berasal dari luar atau impor. "Laporan yang saya terima, 95 persen bahan baku obat masih tergantung impor, ini sudah tidak boleh lagi dibiarkan berlama-lama," kata Jokowi dalam rapat kabinet terbatas mengenai kesehatan, di kantornya, Jakarta, Kamis 21 November 2019.

Tahukah anda bahwa Indonesia merupakan pasar obat obatan terbesar di Asia Tenggara. Perbulan total penjualan obat sebesar USD 3,43 milliar atau setara dengan Rp. 28 triliun. Sebagian besar atau 90 % obat obatan itu adalah produk import. Kalaupun ada industrinya didalam negeri maka tak ubahnya hanya memindahkan pabrik dari negeri asal ke Indonesia. Namun tidak akan berdampak apapun untuk menekan harga menjadi murah. Mengapa ? Karena 95% bahan baku impor. Dan lagi bisnis obat obatan di Negara manapun sudah menjadi jaringan yang saling ketergantungan untuk sepakat agar harga tidak turun. Semua pihak yang terlibat saling membutuhkan untuk mendulang uang dari bisnis obat ini.

Kekuatan tangan pemerintah semakin melemah seiring semakin luasnya ketergantungan rakyat terhadap obat obatan modern. Bahkan ada teman yang mengatakan bahwa penjualan obat yang berkompetisi itu telah melahirkan konspirasi ala mafia yang berujung memeras konsumen. Kita sangat jauh tertinggal dalam riset pharmasi. Tetapi kita punya keunggulan yang tidak kalah hebat. Apa itu? obat tradisional. Itu sudah terbukti turun temurun dalam kehidupan kita. Mengapa industri obat tradisional tidak gerakan secara luas untuk menggantikan obat modern? Apa mungkin ?

Di China pengobatan tradisional dilegitimasi oleh Negara dan dilaksanakan secara sistematis. Pendidikan dokter di berbagai universitas mengajarkan secara utuh pengobatan tradisional ini. Seperti Guangzhou University of Chinese Medicine (GZUCM) yang merupakan universitas terbaik di China yang menyediakan program dokter dan specialis khusus pengobatan cara tradisional. Mereka juga memberikan materi pelajaran mengkombinasikan cara Barat dan China, yang made in China. Kini ada 113 negara didunia mengirim mahasiswa kedokterannya belajar di berbagai universitas di China. Dunia international mengakui kehebatan china menjadikan kekuatan akar budaya sebagai sebuah system kemandirian khususnya dibidang kesehatan.

Untuk memperluas variasi obat obat yang berstandar Lab , pemerintah menyediakan pusat riset terbaik dibidang herbal dan memberikan dukungan dana riset kepada universitas. Dengan demikian China memiliki standard klinis modern untuk menjadikan herbal sebagai obat modern berstandar FDA, sehingga obat herbal China bisa masuk prime market seperti Apotik dan toko obat terakreditasi internatiobal, dan bersaing dengan obat obatan dari industry Pharmasi berkelas TNC. Mungkin bagi anda yang American or western minded akan mengatakan herbal atau jamu adalah keterbelakangan. Tapi tahukah anda, pasien Rumah Sakit Herbal di bawah Guangzhou University of Chinese Medicine (GZUCM) banyak didatangi pasien dari luar negeri china.

Sebetulnya keadaan China tidak jauh beda dengan ndonesia. Bahwa Indonesia sangat kaya akan keaneka ragaman obat obatan tradisional dan telah pula diyakini oleh rakyat sejak ratusan tahun sebagai pengobatan yang efektif. Namun, selama berpuluh tahun industri jamu tidak didukung berkembang sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Tidak ada program by design dari pemerintah menjadikan obat tradisonal mampu bersaing dengan obat dari TNC. Di Indonesia tidak ada Universitas mengajarkan mata kuliah Jamu. Tidak ada pusat riset pemerintah dibidang jamu untuk melegitimasi jamu sebagai obat resmi berstandard SOP Rumah Sakit. ? Tidak ada jamu yang bisa masuk obat pasar first grade? Apakah ada Rumah Sakit merekomendasikan kepada dokter agar menulis jamu dalam resep.? Tentu tidak mungkin.

Mengapa ? Karena bukan rahasia umum lagi, dibalik kebijakan pelayanan kesehatan terdapat agenda konspirasi antara Pemerintah , Indusri Pharmasi ( TNC), Rumah Sakit, Perusahaan Asuransi, untuk mengeruk keuntungan dari sisakit. Ya sebuah bisnis yang melibatkan triliunan rupiah , dan tentu hanya memperkaya segelintir orang, dan potensi besar pengobatan tradisional Indonesia harus menerima fakta kalah di lindas zaman. Jamu Nyonya meneer adalah bagian dari saksi bisu bahwa dalam banyak hal kita kalah. Saatnya pemerintah Jokowi memikirkan solusi bagaimana agar jamu atau pengobatan tradisional dapat dikembangkan seperti yang ada di China, atau Thailand, atau Iran. Mereka mandiri dari segi kesehatan karena mereka lebih tahu bagaimana seharus mengobati sakit rakyatnya.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...