Sabtu, 30 November 2019

FPI dan dinamika politik

Saya termasuk orang yang tidak pernah terpancing untuk berpolemik soal FPI yang oposisi terhadap pemerintah. Mengapa? Saya tahu sejarah FPI dan saya kenal dengan beberapa pendirinya. Bahwa apabila FPI dianggap ancaman terhadap NKRI, saya tidak sependapat. Apakah FPI itu hal yang serius dan penting, juga engga. Bagi saya FPI hanya ormas yang bisa jadi kendaraan bagi oposisi dan juga bagi pemerintah. Namun yang namanya Ormas, FPI juga aktif dalam kegiatan sosial. Selama ini FPI juga mendapatkan dana Bansos dari Pemerintah. Para petinggi FPI, bukanlah orang seperti Mahatma Gandhi atau Nelson Mandela yang hidup bersehaja.

Ada banyak pihak bertanya mengapa FPI begitu beraninya melalukan aksi. Apakah FPI berafiliasi dengan NU atau Muhammdiah? ataukah FPI berafiliasi dengan Partai atau berafiliasi dengan Islam radikal ? Saya jawab bahwa FPI bukan itu semua. FPI secara organisasi di design tidak di mana mana namun bisa ada di mana mana. Tergantung kemana arah yang di inginkan oleh creator. Nah siapakan Creator FPI ? TNI dan Polri. Namun digerakan secara intelijen. Ya , kira kira sama dengan ISIS yang di create oleh AS namun secara resmi selalu dibantah oleh AS.

Tapi kita tahu semua bahwa sejarah awalnya adalah PAMSWASKARSA yang di create oleh TNI secara resmi di era Reformasi sebagai cara bagi Pemerintah untuk membuat keseimbangan aksi yang dilakukan oleh Mahasiswa ketika tahun 1998-1999. Namun setelah reformasi berhasil memilih pemimpin secara demokratis, Pamswakarsa berubah jadi FPI dan terus dipertahankan dengan menempatkan HRS sebagai motornya dan anggotanya banyak juga yang berasal dari Ormas bentukan Golkar seperti Pemuda Pancasila dll.

Kalau ingin tahu kemana arah TNI bersikap terhadap Pemerintah? Maka liatlah sikap FPI terhadap Gus Dur. Liatlah sikap FPI terhadap SBY. Anda kan tahu aksi 411, aksi 212, saaat itu Pak Gatot sebagai Panglima TNI. Belakangan pak Gatot ada bersama PS dalam Pemilu 2019. Tentu TNI punya alasan mengapa ada di seberang pemerintah secara politik. Itu engga perlu dibahas. Terlalu rumit memahaminya. Lantas untuk apa ? Tujuannya sebagai penyeimbang kekuatan sipil yang ada di pemeritahan. TNI engga nyaman bila kekuatan sipil terlalu dominan dalam sistem kekuasaan.

FPI itu nothing bila dibandingkan dengan NU dan Muhammadiah. Tetapi TNI bisa membuat yang nothing itu jadi something berkat kekuatan intelijen. Mengapa harus menggunakan FPI ? Orang bijak berkata " kalau ingin menangkap kuda ya harus pakai kuda. Kalau ingin jinakan kuda ya pakai kuda. " Islam adalah kekuatan real di Indonesia dan siapapun bisa menjadikan kekuatan islam itu sebagai jalan mencapai kemenangan politik, tapi bisa juga digunakan sebagai pengrusak demi tujuan politik. TNI dan POLRI nampaknya tidak ingin Islam terjebak dalam politik praktis secara apocalipse. Islam harus jadi benteng terakhir ketika sistem demokrasi tidak bisa membendung ancaman disintegrasi.

FPI bertugas sebagai kuda troya menarik massa islam yang tidur dan kemudian di bangunkan untuk bergerak , dan kemudian setelah tujuan tercapai, di suruh tidur lagi. Makanya, Menteri Agama, yang mantan Jenderal dengan santai bilang “ FPI sudah menyetujui syarat mengakui dan patuh Pancasila, dan NKRI. “ artinya itu sinyal bahwa izin perpanjangan FPI akan diberikan. Mendagri di bawah pak Tito mantan Kapolri, akan menjadikan rekomendasi menteri Agama itu sebagai dasar mengeluarkan izin perpanjangan FPI.

Bagaimana dengan HRS? Kemungkinan akan dipulangkan ke Indonesia. Kalaulah anda tahu siapa yang biayai HRS d Arab dan siapa yang mengirimnya ke Arab, mungkin anda akan shock. Ya, keliatannya FPI masih diperlukan sebagai kuda. Inilah politik, yang nampak di publik tidak bisa dipersepsikan hitam putih. Itulah politik yang penuh dengan diinamika. Sikapi politik dengan akal sehat agar engga kejebak baper akut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...