Selasa, 10 Agustus 2021

Hegemoni modal




Sebelum pulang ke Hongkong dalam business trip ke Zurich, saya sempatkan makan malam dengan chaty. Dia investment banker. Ada yang membuat saya termenung. Dia berkata. “ Selagi pelanggaran etika menjadi bisnis yang dilegitimasi negara, maka demokrasi akan tersandera dan yang tampil adalah para pecudang. Sementara ultimate power adalah oligarki bisnis semacam itu. Bagaimana mengatasi mereka itu? Ya tidak mudah. Yang lebih rumit lagi adalah dari bisnis semacam itu lewat akuisisi  mereka masuk ke bisnis yang berhubungan hajat orang banyak. 


Cotoh sederhana mafia itu mengumpulkan harta lewat aksi amoral. Menjadi sumber daya keuangan para pejabat dan politisi korup. Posisi mafia dibawah. Tetapi setelah besar, dan punya uang banyak, dia mulai masuk ke serikat buruh,  memprovokasi mogok  untuk mendapatkan bargain politik. Kemudian  terlibat dalam aksi LBO, akuisisi perusahaan dan divestasi saham pemerintah. Itu juga sebagai cara cuci uang hindari pajak. Lambat laun perusahaan bertambah banyak. Kemudian dia masuk lewat donasi Pemilu. Kalau menang, dia sudah mengendalikan politik secara tidak langsug. 


Walau sudah berada di lingkaran kekuasaan dan tidak lagi beroperasi mafia, namun mindset mafia tidak hilang. Justru semaki besar kreatifitas mereka. Gimana caranya ? Ya mereka menjadi agent dari kekuatan global melakukan perubahan untuk kegiatan investasi yang bisa menguasai sumber daya. Membayar anggota  parlemen untuk menghasilkan UU yang berpihak kepada mereka. Karena itu negara semakin tergantung kepada korporat. 


Kalau sudah diatas 60% ketergantungan negara kepada korporat maka politik sudah menjadi sumber daya bisnis, bukan lagi sumber daya kesejahteraan bagi semua. Di AS dana SJSN sudah memenggal 12% pendapatan gaji. Awalnya hanya 2%. Itu karena dana SJSN dirampok oleh korporat lewat surat utang. Dan banyak di recycle, yang sebetulnya kata lain dari default. Bayangkan. Dana kesejahteraan yang dikumpulkan dari gaji pekerja juga dirampok. Sepertinya tidak ada celah yang terlewatkan. Apapun dirampok. Mengakibatkan rasio GINI semakin melebar. 


Di negara berkembang, mafia yang dilegitimasi bukan yang menjual narkoba tetapi mereka yang menjarah sumber daya alam dan sumber daya publik lewat bisnis rente. Seperti rente perdagangan pangan, energy , senjata dan parmasi. Rente penguasaan lahan dan property. Rente penguasaan tambang. Dari bisnis rente ini berkembang menjadi penguasaan bisnis dari hulu ke hilir mencakup semua sektor. Walau reformasi  ekonomi dilakukan dan mereka yang terlibat rente dibatasi namun mereka sudah sangat besar. Ibarat sel kanker sudah menjangkau semua organ. Apalagi aset sudah terstruktur lewat saham dan proxy. Menyentuh itu akan berdampak sistemik terhadap ekonomi nasional.”


Saya termenung. Usai makan malam saya antar dia pulang ke apartement. Sampai di apartemennya “ Mengapa kamu tidak mampir dan kita minum kopi.” Katanya. Saya menjawab dengan tersenyum. 


“ kini negara modern entah itu Eropa, AS, Asia semua sama. Walau sistem dan UU berbeda namun senyatanya negara adalah multinasional corporation. Ini memang tidak adil. Tetapi bukan berarti akhir dari segalanya. Penguasaan modal terjadi seperti slow motion. Sebuah proses natural. Bukan untuk dikutuki tetapi bagaiman manusia bisa survival ditengah hegemoni modal itu. Toh pada akhirnja hidup bukan mendapatkan tetapi memberi. “ katanya menyentuh ujung kerah  bajuku. Diluar semakin dingin


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Cebong dan Kampret

  Dulu di  Yunani orang yang dikenai hukuman, budak, pengkhianat, di cap dengan tato pada dada dan punggungnya. Cap itu akan melekat selaman...