Kamis, 31 Desember 2020

Melompat ke masa lalu.


Bayangkanlah, apabila anda bisa pergi ke masa lalu dan ke masa depan. Tentu anda bisa memperbaiki kesalahan masa lalu agar masa kini anda lebih baik atau pergi ke masa lalu agar dimasa kini anda bisa membuat keputusan yang benar. Fantasi itu sering ditampilkan dalam film fiksi yang berkaitan dengan quantum leap atau lompatan quantum. Sebetulnya istilah ini diperkenalkan oleh David Deutsch, ilmuwan asal Inggris. Ia menggabungkan sejumlah teori mengenai perjalanan melintasi waktu.   Gimana pemahaman sederhana teori itu ? 


Elektron ternyata memiliki sifat seperti gelombang, artinya dia bisa mengalami pembelokan. Sebuah elektron dapat berada di kedua celah secara bersamaan karena koherensi kuantum. Artinya sebuah partikel dapat berada di dua tempat secara bersamaan pada waktu yang sama. Hanya saja pergerakan elektron berdasarkan teori kuantum tidak diketahui, sifatnya hanya probabilitas, hanya berdasarkan kemungkinan-kemungkinan. Kemungkinan-kemungkinan itu ada di alam semesta yang berbeda, yang disebut sebagai parallel universe. Ok lah. Saya tidak berpanjangan membahas teori yang masih misteri. Saya hanya melihat sisi lain dari adany teori quantum leap itu. 


Walau secara phisik kita belum bisa pergi ke masa lalu. Tetapi alam pikiran kita bisa pergi ke masa lalu. Caranya? saya bersukur punya kebiasaan menulis buku harian sejak SMP. Tahun 2007, saya perhatikan trend market global seperti ke masa lalu tahun 1998. Saya segera buka buku harian saya tahun 1998. Dari sana saya lihat jurnal tentang kesalahan saya membuat keputusan melakukan pinjaman luar negeri. Aha saya paham. Penyebabnya adalah kelebihan kapasitas disemua sektor yang dipicu oleh kredit mudah.  Langsung saya buka data riset trend market global. Benggo! Percis sama. Ya saya langsung buat program investasi dengan mengubah portfolio secara bertahap.  Ketika wallstreet tumbang tahun 2008, saya aman saja. Bahkan untung besar.


Jadi walau saya secara phisik tidak bisa kembali ke masa lalu namun lewat buku harian saya bisa terbang ke masa lalu. Andaikan di masa lalu saya mengalami kegagalan. Saya tahu penyebabnya secara detail. Sehingga kalau ada peristiwa yang mirip di masa kini, saya bisa perbaiki agar di masa kini tidak mengalami kegagalan seperti masa lalu. Itu sangat mungkin. Karena perjalanan hidup ini adalah rangkaian peristiwa pengulangan dari waktu ke waktu. Cerita sama. Hanya waktu dan ruang yang berbeda. 


Masalahnya kita sering mengutuki masa lalu, padahal itu ilmu yang maha agung dari Tuhan agar kita bisa lebih baik di masa kini dan masa depan. Contoh  negara kita pernah jaya akan SDA Minyak dan Gas di saat harga tinggi. Tetapi kita gagal jadi negara makmur. Apa penyebabnya ? karena kita tidak membangun downstream MIGAS. Nah di era Jokowi, ketika nikel booming, harga melambung. Dia buat kebijakan agar kegagalan migas dimasa lalu tidak terulang lagi. Stop ekspor bijih nikel. Harus diolah dalam negeri termasuk downstreamnya. Ya, setidaknya kita bisa  bertambah bijak karena waktu. Paham ya sayang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...