Senin, 20 Juli 2020

Pencalonan Gibran?



Dengan adanya amandemen UUD45 sampai ke empat kali, maka ada hal yang prinsip berubah. Apa itu? kekuasaan bukan lagi hal yang sakral. Kemudian dari amandemen UUD 45 itu lahirlah  UU KPK, dan berbagai lembaga independent pengawas fungsi lembaga peradilan dan kebijakan publik seperti Mahkamah Yudisial, dan Ombudsmen.  Produk DPR dan Presiden pun bisa digugat lewat MK. Singkatnya, tidak ada satupun lembaga yang terlalu kuat dan tidak tersentuh fungsi pengawasan. Karenanya kekuasaan itu seperti duduk diatas bara. Kalau ada orang ngotot jadi kepala daerah atau anggota DPR, sebetulnya karena dua alasan: pertama karena ingin mengabdi, kedua , karena ingin aktualisasi diri. Karena memang jadi bagian penguasa walau tidak kaya, jelas tidak kere. Kalau ingin cepat kaya, hanya masalah waktu pasti masuk bui.

Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Jokowi telah mendapatkan karpet merah dari PDI Perjuangan untuk maju pada Pilkada Solo 2020. Walau awalnya Gibran tidak tertarik ke politik, namun belakangan dia tertarik juga. Menurut saya, ini tidak datang dari Jokowi atau Ibu Iriana. Karena kalau datang dari kedua orang tuanya, jelas berbeda.  Tetapi datang dari situasi dan lingkungan yang bisa saja pengaruh terbesar dari nenek atau ibu Jokowi. Karena kedekatan cucu dengan nenek sangat besar sekali pengaruhnya. Apalagi  peran Ibu Jokowi secara moral sangat besar mengantar karir Jokowi sampai jadi Presiden. Itu dijadikan inspirasi oleh Gibran. 

Mengapa saya katakan begitu? Awalnya Megawati tidak mendukung Gibran. Tahun 2019 bulan oktober, Megawati menjawab secara halus kehendak Gibran maju dalam Pilkada Solo “ Beliau suruh (Gibran) belajar dulu jadi anggota partai, anggota DPRD, itu yang disampaikan kepada saya. Saya tidak nambahi dan tidak mengurangi” Demikian kata Ketua DPC PDIP Surakarta FX Hadi Rudyatmo mengutip pesan dari Megawati. Terbukti Gibran sendiri datang ke kediaman ibu Mega, di jawab seperti itu. Tetapi Gibran memang cerdas. Dia belajar dari perjalanan karir Jokowi yang memang tidak mudah mendapatkan dukungan dari Partai. Dia terus bekerja keras, blusukan kesemua tempat di Solo agar rating elektabilitasnya naik. Dia tahu, bahwa partai itu bekerja secara profesional dan hanya akan mengusung calon yang punya elektabilitas tinggi. 

Apa hasil? Lembaga Survei Solo Raya Polling memaparkan tingkat elektabilitas Gibran Rakabuming Raka dalam Pilkada Solo 2020 terus meningkat. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan calon yang diusung DPC PDIP Solo Achmad Purnomo yang menurun. Berdasar survei yang digelar Lembaga Survei Solo Raya Polling pada Juni 2020, elektabilitas Gibran telah mencapai 55 persen atau meningkat sekitar 14,6 persen dibandingkan survei Januari 2020. Saat itu, elektabilitasnya masih di angka 40,4 persen. Sedangkan tingkat elektabilitas Achmad Purnomo pada survei Juni 2020 sebesar 36 persen, melorot 10 persen lebih dari survei Januari 2020 yang mencapai 46,6 persen. Dengan situasi ini, PDIP dalam posisi tidak ada pilihan kecuali harus menerima kenyataan atau Gibran diambil oleh partai lain.

Apa yang bisa kita ambil hikmah dari kasus Gibran ini?  Benar dia putra presiden. Tetapi dia naik bukan karena  privilege Jokowi. Bukan karena kemudahan sistem PDIP. Tetapi dia kerja keras merebut hati rakyat. Karena dia tahu penguasa sesungguhnya adalah rakyat. Partai hanya kendaraan. Jokowi hanya ayah. Salahnya dimana?  Siapapun anda ingin  berkuasa, jangan sibuk berpolemik, tapi sibuklah mendekati rakyat. Menanglah secara sistem, bukan dengan retorika, apalagi bawa bawa agama. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Papua, bukan KKB tapi Teroris.

Nama Papua berasal dari kata Papa-U. Nama Papua ini diberikan oleh kerajaan Tidore. Yang artinya dalam bahasa Tidore berarti tidak bergabun...