Rabu, 01 Mei 2019

Slow motion



Hari jumat saya ketemu teman. Teman ini pernah jadi mentor dari SU. Dia kini berbisnis investment banker yang bermitra dengan private equity group dari Eropa. Menurutnya hasil Pemilu sementara membuktikan elektabiltas Jokowi terus dikejar oleh Prabowo. Walau jaraknya masih terpaut dua digit namun progress nya terus naik. Beda dengan Jokowi yang terkesan tidak naik terlalu tinggi. Keliatanya swing voter dari kelompok islam mengarahkan pilihan ke Prabowo, terutama pendukung PKS , Demokrat dan PAN. Ini memang dampak dari ijtima ulama. Sehingga jurkam Prabowo punya alasan religius kuat memprovokasi akar rumput untuk memilih Prabowo. Namun terlepas soal pemilu siapa yang pantas menang. Yang perlu dicermati adalah atmospir bisnis di era Jokowi banyak membuat elite politik yang punya koneksi ke pengusaha merasa susah bernafas.
'
Anda kan tahu , pada akhirnya kalau bicara politik pastilah ujungnya kekuasaan. Setiap kekuasaan ujungnya soal harta dan uang. Tapi paradigma ini tidak ada pada Jokowi. Mungkin 100 politisi hanya 10% saja yang punya attitude seperti Jokowi. Itulah yang kadang membuat elite politik merasa sulit menerima kenyataan seorang Jokowi terus berkuasa. Lima tahun terlalu lama untuk puasa pesta. katanya. Saya hanya tersenyum. Itu sebabnya para lawan Jokowi tidak bicara program. Tetapi bicara tentang utopia yang pernah ada di zaman Soeharto. Itu dari kelompok Orbaisme. Jargon orbaisme ini juga disambut oleh kelompok Islam yang masih memimpikan negara utopia, negara islam. Baik orbaisme maupun kelompok islam ini bertaut dalam semangat yang sama bahwa semua harus dikuasai negara.

Orbaisme menolak pajak progressive dan lebih focus kepada penguasaan asset oleh negara untuk keadilan. Politisasi islam inginkan kekuasaan seperti khilafah yang titah khalifah adalah hukum. Semua sumber daya dikuasai negara untuk dibagi bagikan langsung kepada rakyat. Tetapi faktanya mereka hanya bicara. China adalah laboratorium politik yang menjadi contoh nyata dalam membangun peradaban. Di era Dinasti, hanya memanjakan para bangsawan. Rakyat dikorbankan. Ketika lepas dari Dinasti, China dikuasai oleh partai nasionalis ( Kuomintang ). Hasilnya adalah KKN yang massive. Rakyat dikorbankan. Kemudian, lahir kekuasaan komunis dibawah Maosedong. Semua sumber daya dikuasai negara. Hasilnya kelaparan dan pembunuhan. Artinya semua politik melahirkan tirani.

Apaka salah ? tidak juga. Kehadiran politik karena slow motion sejarah. Terjadi karena proses zaman. Dengxioping ketika terpilih sebagai presiden China, dia tidak menolak komunis. Dia juga tidak menolak kapitalis. Dia juga tidak menolak demokrasi. Baginya apapun itu, selagi orang punya kebebasan berproduksi dan memakmurkan diri sendiri maka itulah yang benar. Kalau memang negara harus kuasai sumber daya ya negara harus kuasai. Tetapi harus pastikan itu menghasilkan produktifitas untuk kemakmuran. Kalau hanya menghasilkan KKN untuk apa dipertahankan. Kalau pasar atau SWASTA dapat beproduksi dengan efisien, kenapa harus dihalangi. Kalau swasta dan negara dapat berkerjasama untuk kemakmuran , itulah yang labih baik agar saling bersinergi mencapai kemakmuran.

Deng seorang insinyur kimia dan penganut konghucu yang taat. Dia sadar betul akan hukum alam senyawa kimia. Garam laut (NaCL) atau natrium clorida. Terdiri dari dua unsur Natrium dan Clorida. Bila dua unsur ini dipisahkan maka Natrium dan clor akan menjadi gas yang berbahaya bagi manusia. Tapi bila mereka bergabung maka tidak nikmat makanan tanpa garam. Seandainya beton itu tidak bercampur pasir, semen , batu, kerikil , besi maka tidak akan bernama beton. Tidak akan mungkin menjadi sesuatu yang kokoh menopang beban berat dan menjadi penyangga bangunan. Artinya ketika orang inginkan kekuasaan absolut dia akan melahirkan tiran. Kalau orang membuka diri atas perbedaan, maka kekuasaan itu melahirkan cinta dan kebersamaan untuk bersinergi dalam semangat kolaborasi. Demikianlah kebijakan Jokowi selama memimpin. Kekuasaan membawa rahmat. Bukan tirani. Dan karena itu tidak disukai oleh orbaisme dan politisasi agama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Papua, bukan KKB tapi Teroris.

Nama Papua berasal dari kata Papa-U. Nama Papua ini diberikan oleh kerajaan Tidore. Yang artinya dalam bahasa Tidore berarti tidak bergabun...