Sabtu, 17 Maret 2018

Resensi Buku "Untaian Lara, buat Yuni"



Melodrama akhirnya digunakan dalam berbagai opera  opere, musikal, program televisi dan radio serta film. Menjelang tidur, Deng mengatakan kepada istrinya Jiang Qing, bahwa bersabarlah. Ada saatnya nanti kita akan malawan. Jiang Qing tahu bahwa perintah revolusi sudah dimulai dari balik kelambu. Tetapi bagaimana memulainya? Jiang Qiang tidak mungkin mengerahkan kekuatannya yang hanya seorang istri Mao untuk melawan musuh dalam selimut Mao. Bagi lawannya Jiang Qing bukanlah ancaman serius. Tetapi orang lupa. Bahwa JIang Qing adalah seorang artis teater. Melalui kegiatan panggung melodrama itulah dia membangun emosi rakyat. Bahwa komunisme masih punya kutu dalam selimut. Ada rakyat yang tertindas dan ada kaum feodal yang menindas. Ada yang baik dan ada yang jahat. Karena itu pahlamawan di perlukan.

Melodrama dibangun oleh ”monopati”. Monopathy adalah ”kesatuan perasaan yang membuat seseorang merasakan diri utuh”. Tokoh-tokoh dalam sebuah melodrama ”tak punya konflik yang mendasar dalam dirinya”.  Melodrama adalah konflik manusia dengan manusia lain. Maka melodrama bergantung pada permusuhan dengan sesuatu yang di luar sana—si jahat atau bakhil, ideologi yang memusuhi atau kekuasaan yang akan menindas, alam yang destruktif, dan lain-lain. Dalam melodrama, dunia hanya hitam atau putih. Namun hitam putih itu hal yang subjective sesuai fantasi sutradara dan penulis cerita. Maka sebetulnya melodrama adalah bahasa lain cara mengartikulasikan pesan politik yang jitu diabad 12 sampai dengan abad ke 19. Yang terbukti bisa membangkitkan jutaan rakyat jelata China menguasai kota dan desa dalam revolusi kebudayaan. 

Buku novel, “Untaian Lara, buat Yuni”, yang saya tulis bukanlah melodrama. Ia sebuah tragedi. Yuni seorang wanita miskin yang walau punya kelebihan dan nasip baik dipermukan dengan pria yang menolongnya  menjadi pengusaha namun tidak menjadikan dia seperior dihadapan pria pria yang dia cintai. Yuni tidak mendapatkan episode “menang” dalam kisah kehidupannya. Walau untuk itu dia harus terus berkorban untuk orang yang dia cintai. Tidak ada happy ending dari kisah “ Untaian lara buat Yuni”. Setiap episode tentang “Yuni, berputar putar tentang tokoh yang melahirkan tragedi, baik tentang diri Yuni maupun mereka yang dekat dengannya.

Entah apakah Novel “ Untaian Lara, buat Yuni” bisa dipahami mereka yang sudah terbiasa dalam fantasi melodrama. Karena melodrama selalu tersimpan dalam sebuah masyarakat. Hidup terkadang terlalu penuh warna abu-abu hingga orang menginginkan gambar yang tegas dan sederhana. Yang tragis menakutkan. Kita pun suka sekali kisah seperti Ramayana dengan akhir yang jelas dan bahagia: Sita kembali mendampingi suaminya setelah Dasamuka yang jahat itu mati. Tak ada dalam cerita kita bahwa Sita harus dibakar untuk membuktikan dirinya ”suci” setelah bertahun-tahun hidup di bawah kuasa lelaki lain.

Melodrama, dalam pentas dan fantasi, memang mengasyikkan, dengan atau tanpa air mata. Tapi memandang hidup dengan sikap pengarang sinetron akan cenderung menampik kesadaran akan yang tragis dalam sejarah—dan kita hanya akan jadi anak yang abai dan manja. “ Untaian Lara, but Yuni, menyampaikan kisah agar semua kita bisa melihat kenyataan dan berdamai karenanya. Bahwa hidup bukanlah apa yang kita dapat tetapi apa yang kita beri, bukan apa yang kita pelajari tetapi apa yang kita ajarkan, bukan apa yang kita pikirkan tetapi apa yang kita kerjakan. Yakinlah, hidup tak bergerak dengan monopati. Hidup bergerak karena peristiwa tragis. Termasuk cinta melahirkan benci dan akhirnya rindu dan tak terpisahkan tanpa berhap apapun kecuali menerima kenyataan dalam bersahaja…

***
Buku tersedia melalui pesanan online WA 081212199662


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Islam : Ranah privat dan politik

  Waktu Kekhalifah Islam di Turki yang kekuasaanya membentang dari Barat ke Timur selama 6 abad. Waktu zaman Kekhalifahan Abassiah juga sama...