Minggu, 08 Oktober 2023

Solusi memperbaiki fundamental ekonomi

 



Sebenarnya permintaan global akan komoditas tidak sebanyak yang ada di pasar. Sebagian besar pembelinya adalah pedagang ( bukan end user) , dengan motive investasi pada persediaan. Itu terjadi pada komoditas pertanian maupun tambang dan mineral. Skema ini dimungkinkan berkembangnya bursa komoditi di bursa utama di dunia. Harga volatile terjadi. Pengurasan sumber daya alam terus terjadi diatas demand market real. Namun yang jadi masalah adalah skema trading komoditas ini mengakibatkan resource trap bagi negara berkembang yang menggantungkan ekonominya dari SDA.


Mengapa ? Ketergantungan pada komoditas sering kali gagal menghasilkan pembangunan karena harga internasional yang tidak stabil dapat menyebabkan ketidakstabilan makroekonomi dan politik. Konsentrasi kekayaan SDA dapat mendorong perburuan rente dan korupsi. Memobilisasi sumber daya dari komoditas primer dapat memperlambat proses transformasi ke industrialisasi. Ya moral hazard. Sehingga terus bergantung kepada SDA. 


Indonesia walau kaya akan SDA Migas namun kita sudah bukan lagi negara eksportir MIGAS. Tetapi net importir MIGAS. Walau kita negara Pertanian namun kita importir gula, jagung, kedelai, daging, pakan ternak dan tentu beras. Hidup bergantung kepada eksportir Nickel, tembaga, emas, batubara, almunium, yang harganya selalu volatile memang beresiko terhadap stabilitas kurs. Keruntuhan harga komoditas muncul sebelum kejatuhan mata uang. Sebaliknya, mengingat bahwa nilai tukar adalah variabel yang bergerak ke depan sebagai respons terhadap variasi yang diharapkan dalam fundamental,  maka kejatuhan harga komoditas dapat terjadi setelah kejatuhan dari nilai tukar. Ini yang terjadi sekarang pada Indonesia.


Jadi apa solusinya ?


Pertama. Hilirisasi dengan dukungan kemandirian tekhnologi. Dana riset harus diperbesar. Bila perlu BUMN lakukan aksi mengakuisisi perusahaan dimanapun yang punya tekhnologi untuk di merger dan kemudian lead dalam investasi dan produksi. Jadi tidak bisa lagi pendekatan menyediakan lahan tapi proses produksi dikuasai asing. Negara hanya ambil pajak dan buruh.


Kedua. Untuk melaksanakan yang pertama, negara harus menciptakan penyangga ekonomi makro dalam bentuk Sovereign Wealth Fund (SWF) berbasis SDA untuk memungkinkan kebijakan fiskal yang bersifat countercyclical dan mengurangi tekanan ke atas pada nilai tukar riil. Jadi pengelola SWF harus creatif mendapatkan financial resource global untuk investasi dan produksi tanpa harus menguras APBN.


Ketiga, melakukan kebijakan diversifikasi yang sebagian didasarkan pada investasi publik dan kebijakan industri yang dipimpin negara, dan mengembangkan keuangan Inklusif untuk mengarahkan pendapatan sumber daya alam ke produktif di luar sektor sumber daya alam. Misal,  pemerintah harus mengotimalkan SWF mengelola pendapatan dari SDA itu untuk melakukan diversifikasi industri diluar SDA.


Pertanyaannya adalah bagaimana "solusi" ini akan berhasil meletakkan dasar untuk pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan dan menghindari masalah jangka pendek yang terkait dengan ekspor komoditas. Analisis empiris menemukan bahwa kebijakan ekonomi yang sukses bergantung pada institusi yang kuat.  Kita masih lemah sekali soal ini. 


Misal kita sudah punya Sovereign Wealth Fund (SWF)  atau INA. INA seharusnya mengelola dirinya secara profesional dan tetap bebas dari pengaruh politik. Namun faktanya tidak profesional.  INA  malah diperintahkan oleh pemerintah merestruktur utang BUMN karya. Padahal BUMN karya itu semua dengan leverage tinggi dan tidak ada kaitannya langsung dengan industrialisasi. INA dipaksa membeli tiga ruas jalan tol Waskita Karya untuk membantu pengurangan utang lebih lanjut.


Skema pembelian aset BUMN karya itu didapat INA dari suntikan PMN lewat saham BUMN perbankan. Itu sama saja menukar saham yang berkinerja buruk dengan saham berkinerja bagus. Kan bego. Skema investasi semacam itu dapat mengurangi keuntungan pemerintah. Tidak ada alasan untuk berpikir bahwa pemerintah dapat mengalokasikan modal lebih efisien dibandingkan pasar. Kinerja INA yang katanya moncer itu hanya permainan akuntantasi alias window dressing.


Dengan menurunnya pendapatan pajak dan terbatasnya disiplin fiskal, BUMN telah menjadi kendaraan utama Jokowi untuk mencapai tujuan investasi infrastruktur dan subsidi energi. APBN telah menyuntikkan modal sekitar US$24 miliar ke BUMN karena penerbitan obligasi korporasi tidak lagi menjadi pilihan yang layak. Jokowi mempunyai waktu kurang dua tahun untuk meninggalkan warisan yang patut dikenang – INA bisa menjadi pilihan terakhir bagi agenda kapitalis negara ketika pilihannya semakin sempit.  Kalau gagal, maka PR presiden berikutnya adalah memperbaiki institusi, terutama institusi demokrasi seperti presiden, DPR, MA, BPK, dan BI. Agar law enforcement jalan. Inilah tantangan utama bagi Indonesia kini dan besok.


***


Kemarin saya ketemu dengan teman di Golf PIM. Teman saya ini Investment banker. Saya didampingi Lina dan cucu saya yang laki laki. “ kenapa kurs rupiah sekarang unpredictable dan sangat volatile “ Tanya teman. Saya senyum aja. Engga mau bahas soal tekhnis. Umumnya investment banker lebih pragmatis melihat pasar uang. Saya pemain. Saya tidak pernah terjebak dengan pragmatisme. Kalau saya tidak kuasai akar masalah, saya tidak akan masuk. Karena dari akar masalah itu saya bisa petakan lapangan. Sehingga saya bisa tentukan dimana saya harus berdiri.

“ Dan itu terjadi bukan hanya pada rupiah tetapi juga mata uang negara berkembang lainnya. “ Katanya.


“ Dulu era tahun 90an sampai tahun 2007, yang ditakuti adalah volatile kurs. Sudah banyak makan korban akibat kurs melemah. Bukan hanya korporat yang collapse tapi juga presiden yang sudah berkuasa lama juga tumbang. Tapi setelah krisis lehman tahun 2008, kurs bukan lagi resiko yang harus dimitigasi. Yang paling beresiko adalah meningkatnya resiko surat utang. “


“ Kan rasio utang kita terhadap PDB 38%. Itu masih sangat aman. Apalagi investor asing pada SBN hanya sekitar 15% dari total SBN yang diterbitkan”


“ Ya aman secara makroanalisa. Namun SBN itu kan variablenya bukan hanya soal makro tetapi juga soal sentimen negatif. Terutama berkaitan soal trust. Nah kalau terjadi gelombang aksi jual SBN oleh asing di market, itu cepat sekali membuat negara bangkrut. Karena yang diserang adalah jantung dari sistem moneter sebagai mesin mata uang. Yaitu TRUST. ”kata saya.


“ Apa ada indikasi kesana terhadap rupiah?


“ Aksi jual SBN oleh asing yang berdampak kepada capital outflow sudah terjadi sejak bulan september. “ Kata saya.


“ Tapi kemarin Menkeu jual SBN masih diserap pasar.”


“ Itu sebagian besar yang beli bank, terutama Bank BUMN. Ya motive rente menghadap spread bunga DPK dengan SBN. Hanya pindah dari kantong kanan ke kiri. Itu tidak berdampak terhadap kekuatan moneter.


“ Oh i see. Apa dampaknya terhadap APBN ?


“ ya dengan naiknya suku bunga acuan BI dan tingginya yield SBN membuat beban pembayaran bunga semakin besar. Dari Januari- Agustus saja sudah menembus Rp 275 triliun atau 62,3% dari pagu. Apalagi dengan keaedaan sekarang naiknya yield, itu akan membuat APBN bleeding sekali.”


‘ Terus dampak bagi korporat gimana?


“ Yang jelas untuk dapatkan uang di pasar obligasi sudah sangat sulit. Kalaupun ada peluang tetapi harus kompit dengan pemerintah yang juga cari uang di pasar yang sama. Yang saya tahu, semua teman teman sekarang memilih wait and see aja. “


“ Tapi kan itu semua karena ulah the fed menaikan suku bunga dan semakin menguatnya index USD. Sehingga uang tersedot ke AS. “


“ Benar. Tapi jangan pula dijadikan kambing hitam. Karena sumber masalah sebenarnya bukan faktor eksternal tetapi lebih karena fundamental ekonomi kita lemah. Sejak era Soeharto ekonomi kita tidak berubah sama sekali. Tidak terjadi transformasi ekonomi. Tetap hidup dari SDA. Ya seperti gorila. Mindset pragmatisme. Kalau manusia kan seharusnya by design dan visioner.” kata saya. Teman tertawa.


“ Wah bisa jelaskan?


“ Prinsip hubungan ekonomi antara makro dan mikro itu di formulasikan dengan formula N = Px/Pm. N, merupakan term of trade. Itu sama dengan Px, indeks harga ekspor berbanding terbalik dengan Pm, indeks harga impor. Dengan rumus itu artinya kenaikan N, karena perubahan harga ekspor yang lebih besar relatif terhadap harga impor. Indonesia, ekspor kita didominasi SDA, memiliki volatilitas term of trade yang 3 kali lebih volatil dibandingkan negara-negara yang mengekspor barang manufaktur. Selain itu, volatilitas ini juga mempengaruhi nilai tukar riil suatu negara.


Jadi melemahnya rupiah itu karena ekspor menurun akibat harga jatuh dipasar dunia. Diperkirakan akhir tahun ini APBN akan defisit. Terpaksa makan dari Sisa anggaran tahun lalu. Nah negara lain yang berbasis manufaktur volatile kurs tidak significant mempengaruhi trust terhadap ekonomi. Nilai tambah ekspornya tinggi sekali. Punya kelenturan menghadapi tekanan eksternal dan cepat sekali recovery” kata saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Di balik tataniaga Timah.

  Direktur Utama PT Timah Tbk (TINS) Ahmad Dani Virsal mengatakan bahwa Indonesia kini merupakan produsen timah terbesar kedua di dunia. Dia...