Senin, 09 Oktober 2023

Serangan Hamas ke Israel

 




Serangan yang dilakukan Hamas memang sudah direncanakan dua tahun lamanya. Serangan mendadak akhir pekan yang menewaskan lebih dari 900 orang di Israel, termasuk sedikitnya 260 orang di sebuah festival musik yang ramai. Pembantaian warga sipil terburuk di negara ini. Serangan Hamas pada tanggal 7 Oktober di Israel merupakan kekalahan besar bagi Israel serta mandulnya upaya normalisasi dan perdamaian di wilayah tersebut. Bagi Israel, serangan ini disebabkan oleh buruknya intelijen dan kurangnya kesiapan militer. Yang lebih penting lagi, reputasi negara yang tak terkalahkan dalam bidang militer telah hancur.


Pemerintah Israel berjanji untuk memburu pejuang Hamas dan menghukum Jalur Gaza. Sehari setelah secara resmi menyatakan perang, militer Israel berupaya menghancurkan pejuang Hamas yang mungkin masih tinggal di kota-kota selatan dan mengintensifkan pemboman di Gaza, di mana hampir 500 orang tewas sejak serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun masih jauh dari efektif, bahkan jika Gaza dihancurkan dan diduduki kembali.


Selain itu, sulit untuk melihat bagaimana Perdana Menteri Benjamin Netanyahu akan bertahan secara politik mengingat hilangnya nyawa warga sipil Israel dan banyaknya sandera Israel yang kini berada di tangan Hamas . Tentu saja, Palestina juga merupakan pihak yang dirugikan karena serangan ini tidak akan membuat mereka semakin dekat untuk mendirikan negaranya atau mengarah pada kehancuran Israel, yang merupakan tujuan Hamas. Yang akan terjadi adalah penderitaan dan kekerasan akan menimpa rakyat Palestina sebagai balasan dari Israel. 


Oleh karena itu, lingkaran kekerasan terus berlanjut dan semakin ganas di Timur Tengah tanpa adanya pemenang dari pihak mana pun. Namun mengapa serangan ini terjadi sekarang dan apa tujuan serangan tersebut?


Ada dua alasan langsung mengapa serangan ini terjadi. Pertama, Persaingan antara Hamas dengan Otoritas Palestina (PA) untuk mendapatkan kepemimpinan dalam perjuangan Palestina. Terlebih lagi, Otoritas Palestina penuh dengan korupsi, dan  terlalu lemah di hadapan Israel. Karenanya telah kehilangan banyak legitimasinya. Apapun nasib Hamas di Gaza, tidak diragukan lagi bahwa Hamas memimpin upaya pembebasan dan penentuan nasib sendiri Palestina. Nah  keberhasilan serangan-serangan ini adalah salah satu cara untuk mendepak pengaruh PA. PA adalah pemerintahan resmi Palestina yang menandatangani Perjanjian Damai Oslo dengan Israel, yang tidak pernah menghasilkan negara Palestina yang dijanjikan.  Alasan kedua adalah upaya Hamas, sepenuhnya dapat dukungan dari Iran. Jadi ada agenda Iran dibalik serangan ini. Mengapa ?


Baru-baru ini, Presiden Joe Biden, Saudi dan Israel dalam proses merundingkan perjanjian perdamaian. Jika hal ini tercapai, hal ini akan menciptakan aliansi baru antara negara-negara Teluk dan Israel melawan “poros perlawanan” Iran terhadap Israel dan kekuatan Amerika di wilayah tersebut.  Dengan adanya serangan-serangan ini, dan adanya pembalasan dahsyat yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina, kecil kemungkinannya bahwa perjanjian perdamaian dapat dicapai dalam waktu dekat. Pemerintah Saudi akan merasa sangat sulit untuk berdamai dengan negara yang sedang memukuli penduduk Arab yang secara luas dipandang oleh sesama orang Arab sebagai negara yang tidak mendapatkan hak-haknya dan hidup di bawah pendudukan brutal Israel.


Apa yang terjadi tak lebih persaingan visi mencapai kemenangan. Satu sisi visi perlawanan kekerasan Iran dan Hamas . Di sisi lain visi Saudi dan Uni Emirat Arab, yang menekankan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran. Namun, kedua visi tersebut memiliki kelemahan karena keduanya tidak melihat kenyataan yang ada di lapangan. 


Apabila tujuan Iran dan Hamas, yaitu menghancurkan negara Israel, tidak akan pernah tercapai hanya karena alasan sederhana bahwa Israel terlalu kuat dan didukung oleh semua negara Barat, terutama Amerika Serikat. Perhatikan dukungan tanpa syarat yang diberikan Amerika dalam menanggapi serangan tersebut. Di sisi lain, pendekatan Teluk Arab belum cukup signifikan, mencapai pembentukan negara Palestina yang layak sebagai syarat penting bagi perdamaian abadi. Selama rakyat Palestina masih hidup dan menderita di bawah pendudukan Israel dan tidak diberikan hak untuk menentukan nasib sendiri, maka perdamaian tidak akan terwujud. Akan ada spoiler, seperti Iran dan Hamas, yang akan memastikan hal ini, seperti yang kita saksikan sekarang.


Terlepas dari masalah politik atas serangan itu, setidaknya serangan ini membuat harga BBM terkerek naik lagi.  Minyak mentah Brent, patokan internasional, naik $2,25 per barel menjadi $86,83. Ya wajarlah. Pasar kawatir   konflik Timur Tengah ini akan mengganggu produksi minyak. Yang pasti untung besar ya AS sebagai net Eksportir minyak, termasuk negara teluk, juga Iran. Dan kita sebagai negara pengimpor minyak akan suffering akibat kurs yang terus melemah dan semakin besar subsidi BBM yang harus dikuras dari APBN. Nasip memang.


***


Apa dampaknya secara ekonomi dan keuangan atas konflik Hamas dan Israel, tanya teman kemarin. Kalau melihat pergerakan pasar terutama di Wallstreet, keliatannya ada sentimen positif dari adanya konflik regional itu. Indeks Dow Jones menguat 0,59% ataU 197,07 poin ke posisi 33.604,65. Indeks Nasdaq menanjak 0,39% atau 52,9 poin ke posisi 13.484,24 sementara indeks S&P 500 melonjak 0,63% atau 27,16 poin ke posisi 4.335,66. Terutama ditopang oleh emiten energi dan mineral. Maklum perang itu membuat harga komoditas energi naik dan tentu ongkos logistik juga naik. 


Di Indonesia kemarin penguatan IHSG  terjadi pada sektor sektor energi 2,88%, infrastruktur 2,46%, dan industri bahan dasar 1,04%. Lihat aja chart kenaikan saham emiten AMMN sebanyak 5,14 poin dan PT MDKA  sebesar 4,86 poin. Karena indonesia net importir minyak. Kenaikan harga minyak itu tentu semakin memberatkan Uang Garuda. Mengancam kenaikan belanja impor untuk migas, kesehatan, konsumsi non siklikal. Maklum, untuk pharmasi dan konsumsi siklikal kita masih bergantung supply chain dari luar negeri. Belum bisa mandiri. 


Selama oktober ini memang terjadi capital outflow. Cadev sudah menyusut. Apalagi bila konflik timur tengah terus berlanjut. Konflik itu dapat memicu volatilitas lebih lanjut di pasar yang membuat pelaku pasar khawatir akan inflasi yang terus berlanjut dan bukan tidak mungkin kembali memancing the fed lakukan hawkish. Kekawatiran ini memicu kenaikan index USD mencapai 106. Rupiah tak mampu bertahan dari semakin menguatkan index USD itu. Data Chart Refinitiv, rupiah ditutup kemarin melemah 0,5%. Posisi ini merupakan yang terlemah sejak 28 Desember 2022.


Pasar keuangan obligasi semakin keras bereaksi terahadap kebijakan suku bunga the fed. Imbas nya kepada SBN. Yield terbang 94 bps sepanjang Oktober. Yield  SBN tenor 10 tahun juga masih bergerak di level tertingginya dalam 7 bulan atau sejak 9 Maret 2023. Itu artinya dimata investor SBN beresiko untuk instrument investasi. Semakin tinggi Yield semakin tinggi aksi jual SBN dan semkin rendah Yield semakin banyak aksi beli. Ini akan memicu terjadinya capital outflow. Ya selisih suku bunga Indonesia dan AS semakin tipis menjadi 0-0,25 basis poin. Kalau BI tidak naikan suku bunga atau mengantisipasi ini. Bisa terjadi aksi jual besar besaran terhadap SBN. Bisa collapse kita.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Defisit Ganda Neraca.?

  Bank Indonesia (BI) telah merilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada Senin (20/5/2024) untuk periode kuartal I-2024. Tercatat nil...