Senin, 17 April 2023

Salah mindset membangun.

 


Tadi siang saya diskusi dengan teman. “ Mengapa pembangunan jalan tol dan jalur kereta tidak berdampak kepada terbangunnya pusat ekonomi baru. Sumatera hampir terhubung semua dengan jalan Tol. Jawa sudah koneksi semua. Tapi itu hanya bisnis tol dan kereta, sementara perencanaan pusat ekonomi baru tidak ada. Makanya sebagian ruas toll merugi. Proyek kereta cepat pasti rugi, Ada apa  ? Kata teman. 


Saya senyum aja. Mengapa? karena apa yang dipertanyakan teman ini sudah dipelajari di kampus. Jadi jawabannya sudah ada. Tapi memang antara pengatahuan dan praktek lapangan tidak nyambung. 


“ Begini ya. “ Kata saya. “ Mindset kita ini sudah salah dari awal. Persepsi kita jalan tol itu jalan publik atau jalan utama. Padahal itu hanya business.  Makanya Tol itu bukan prestasi pemerintah. Yang jadi prestasi pemerintah itu ya jalan umum yang diongkosi dari pajak rakyat. Jalan tol itu dimanapun dibangun sebagai jalan alternatif karena adanya perencanaan tata ruang untuk pengembangan wilayah. Begitu juga jalur kereta cepat. Itu juga jalan alternatif dan khusus koneksitas antar TOD. Nah karena sifatnya jalan alternatif maka proyek sebenarnya bukan jalan tol atau  high speed train tetapi pusat ekonomi baru. Jalan toll dan High speed train hanya Complementary. Tidak berbisnis dari jalan tol atau kereta tapi value TOD. 



Contoh China bangun Beijing -Tianjin. Tujuanya adalah membangun pusat ekonomi baru Tianjin. Design sebagai financial center dunia. Saat jalan tol dibangun, pada waktu bersamaan Tianjin juga dibangun. Yang ditawarkan kepada publik adalah Tianjin yang dilengkapi infrastruktur ekonomi modern. Tahun 1993 Jalan tol pertama dibangun adalah Jalan Tol Jingtang. Dibangun tiga ring. 


Tahun 2003, BUMN spint off jalan toll itu ke swasta. Terjual dengan nilai 10 kali dari nilai buku. Mengapa? karena Pembangunan Tianjin berkembang pesat. Jarak tempuh jalan toll Beijing -Tianjin hanya 1 jam saja. Terjadi relokasi industri dan korporat yang ada di Beijing dan Hebei. Beijing sebagai Ibu kota berkurang bebannya akibat adanya tianjin.  Maklum dekat dengan pelabuhan sekitar 60 KM dari Tianjin yang terhubung dengan jalan toll. 


Dari kota yang berkembang ini terbentuklah beberapa kota satelit yang jauh dari pusat kota. Nah ini jadi pusat ekonomi baru. Dibangun dengan konsep TOD terintegrasi dengan high speed train. Jarak tempuh Tianjin- Beijing hanya 15 menit saja. Jadi dengan alat transportasi modern antara Bejing dan Tianjin sudah satu. 


Nah model jalan toll dan jalur kereta cepat yang ada diseluruh china meniru konsep dari Tianjin. Tahun 2019 panjang ruas jalan toll China sudah 200.000 Km. (Bandingkan dengan kita hanya 2000 Km). Artinya  sepanjang 200,000 KM itulah berdiri pusat ekonomi baru yang saling berlomba satu sama lain. 


Makanya jalan toll itu menjadi sumber income bagi BUMN China. Karena setelah selesai  dibangun, mereka jual ke swasta dengan harga tinggi. Itu karena konsep toll terintegrasi dengan pusat ekonomi baru. Nah kalau kita, BUMN jual ruas tol dengan harga merugi sekedar untuk bayar utang ke bank dan kini semua BUMN karya yang dapat penugasan bangun infrastruktur ekonomi terjebak kredit macet. Itu karena mindset nya bukan developer tapi kontraktor. Ya rente.


“ Jadi gimana seharusnya membangun infrastruktur jalan dan kereta itu  agar tidak membebani APBN.”


“ Ya harus ada perencanaan komprehensif. Di mulai dari  studi wilayah di sepanjang Jalur jalan toll atau kereta cepat. Dari sana bisa dibuat skema untuk meningkatkan pengembangan transportasi sejalan dengan strategi TOD. Kemudian mengembangkan bisnis model transportasi, dengan berbagai opsi campuran penggunaan  sumber daya. Ini udah gabungan antara sosial engineering dan financial engineering. “


“ Wah social engineering aja udah sulit apalagi financial engineering.  Terlalu jauh untuk kita jangkau. Mengapa ?


“ Ya karena sistem pendidikan kita tidak mendidik orang cerdas, kecuali mindset kacung. Mental kuli. Kerja kalau ada uang ditangan walau duit orang sekalipun.. Mana mengerti mereka social engineering untuk trigger financial engineering. Lack knowledge and bad attitude. “ Kata saya tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Di balik tataniaga Timah.

  Direktur Utama PT Timah Tbk (TINS) Ahmad Dani Virsal mengatakan bahwa Indonesia kini merupakan produsen timah terbesar kedua di dunia. Dia...