Jumat, 04 November 2022

Misteri modal

 




Adalah buku karya dari Hernando de Soto. Ia Ekonom Peru. Tulisannya dipengaruhi oleh  kapitalisme dan neoliberal dari Milton Friedman, Friedrich Haye, Bruno Leoni. Dia sebenarnya mencoba membela kapitalisme secara sosialisme. Tak hendak mencela kapitalisme tapi mengajak orang memahami kapitalisme sebagai sebuah value demokrasi terhadap keadilan bagi semua. Itu sebabnya dia mendirikan the Institute for Liberty and Democracy.


Saya tidak terpelajar namun De Soto bisa memberikan cahaya kepada saya yang hanya tamatan SMA tentang misteri “ kok ada perbedaan kaya dan miskin” Dia membantu saya menyibak rahasia tentang modal. Dan dia menjadikan saya bisa memahami bagaimana harus survival dan berhenti mengeluh atas keadaan saya yang miskin dan orang lain yang kaya. Buku Mystery of capital ini seakan menjadi cahaya terang melewati lorong sunyi. 


Oh ternyata, modal dalam dimensi kapitalisme, bukan sekedar kepemilikan atau property tetapi value. Value itu di create oleh Negara lewat legitimasi. Dari legitimasi inilah harta akan beranak pinak berkembang tanpa batas. Sehingga siapa yang bisa menguasai legitimasi negara atas modal maka dia semakin cepat berkembang. Siapa yang tidak memahami peran legitimasi negara, maka dia akan tersingkir dan terlupapakan oleh modal.


Dahulu kala harta adalah sebidang tanah dan kumpulan ternak. Dari harta itu orang hidup menghidupi dirinya. Namun belakangan karena manusia semakin bertambah dan kebutuhan semakin meningkat maka kompetisi terbentuk. Harta tidak lagi diartikan ujud phisiknya. Tapi harta telah berubah menjadi selembar document yang dilegitimasi oleh negara. Selembar dokumen itu berkembang menjadi derivative asset bila dilampirkan dengan seperangkat izin ini dan itu.


Kemudian bila dokumen itu dilampirkan dalam project feasibility study maka jadilah ia akses meraih modal. Bukan dijual tapi digadaikan. Uang itu berputar untuk kegiatan ekonomi dan menghasilkan laba untuk kemudian digunakan membeli harta lagi. Ini disebut dengan nilai reproduksi capital atau project derivative value. Harta tidak lagi berdasarkan harga perolehan tapi nilainya menjadi imajiner tergantung future dari financial analysis.


Maka jadilah Harta dalam lembaran dokumen bernama Saham ( stock). Negara semakin memberikan akses kepada harta itu untuk berkembang tak ternilai melalui pasar modal. Bukan hanya di lantai bursa, tapi juga dipasar uang. Dokument Saham dijual sebagian dan sebagian lagi digadaikan dalam bentuk REPO maupun penerbitan obligasi. Disamping itu akses permodalan conventional lewat bank terus digali agar harta terus berlipat lewat penguasaan kegiatan ekonomi dari hulu sampai ke hilir.


Kapital dapat mereproduksi dirinya sendiri. Bahwa harta bukanlah ujudnya tapi apa yang tertulis. Dan lebih dalam lagi adalah harta adalah value. Itu hanya mungkin dapat dicapai apabila dalam bentuk dokumen perizinan ini dan itu. Inilah akar masalah kenapa terjadi perbedaan antara negara modern dan negara terbelakang. Perbedaan antara orang kaya dan orang miskin. Adalah perbedaan mendapatkan akses perizinan. Mind corruption, menjadikan perizinan untuk memperkaya diri. Akses hanya bisa didapat oleh mereka yang mampu menyuap? Itulah sumber dari ketidak adilan terhadap sumber daya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

How Democracies Die.

Saya membaca buku How Democracies Die. Itu saya baca tahun lalu. Buku itu biasa saja. Mengapa? Karena ditulis sebagai tesis atas fenomenan k...