Kamis, 10 November 2022

Gemar Membaca

 



Sejak remaja saya sudah gemar membaca. Mentor saya membaca adalah ibu saya sendiri. Saya termasuk anak yang lemah otak. Berkat kesabaran ibu saya, saya bisa mengerti pentingnya membaca dan yang lebih penting lagi, ibu saya bisa memotifasi saya untuk gemar membaca. Caranya gimana ?


Pertama, waktu anak anak saya diberi ibu saya buku komik dari kumpulan cerita andersen. Awalnya suka lihat gambarnya dan akhirnya suka membaca. Dari hobi baca komik ini, masuk ABG saya mulai tertarik baca novel remaja. Saya mulai  suka baca cerita bersambung di koran. Itu setiap hari saya tunggu. Dengan itu saya jadi biasa dan gemar membaca.


Kedua, nah ketika SMA saya sudah mulai gemar membaca novel fiksi. Tetapi saya sulit memahami. Usai baca novel saya tidak punya kesan apapun. Ibu saya nasehati saya “ novel fiksi sains  itu diambil dari ilmu pengetahuan. Kamu harus pahami prinsip dasar pengetahuan itu. Misal soal kehidupan ruang angkasa. Kamu harus pahami apa itu luar angkasa, apa itu energi,  apa itu ruang dan apa itu waktu. Itu aja.  Caranya? Baca buku fisika dasar. Disitu kamu paham prinsip ilmu itu untuk menghidupkan suasana emosi kamu saat membaca novel fiksi sains. Cobalah. Pasti asik. Benar. Ternyata dengan saya tahu prinsip sains nya, membaca novel fiksi jadi lebih bergairah. Nah prinsip ini membuat saya sadar bahwa sesuatu itu menarik minat karena kita punya dasar pengetahuan. Kalau engga, buku tebal jadi membosankan. Samahalnya, walau semua orang suka uang tapi kan tidak semua orang punya dasar pengetahuan tentang uang. Makanya wajar kalau tulisan tentang ekonomi dan bisnis saya kurang diminati nitizen.


Ketiga, saat SMA saya suka baca buku agama koleksi punya ibu saya. Tetapi saya bingung memahaminya. Disamping sebagian besar tulisan Arab gundul, dan penyampaiannya sangat rumit. Ibu saya mencerahkan saya. Kalau kamu ingin tahu sumber ilmu, kamu harus kuasai bahasa asal sumber ilmu itu. Bahasa adalah obor kamu berjalan ditempat gelap. Nah kalau kamu paham bahasa maka prinsip membaca harus dipahami. Kamu harus tahu kerangka berpikir. Semua penulis mengikuti prinsip itu. Apa itu ? Ya kamu harus bisa bedakan apa itu ajaran tauhid dan apa itu dalil atau teologi. Agama apapun punya prinsip seperti itu. Kalau kamu tidak bisa bedakan apa itu tauhid dan teologi. Kamu akan terjebak dalam kebingungan. Tauhid itu berdasarkan wahyu. Itu tidak bisa didebat. Di debat ya iman rusak. Tapi dalil? Itu adalah teori atau tafsir. Itu belum tentu benar. Karena bagaimanapun, dalil tetaplah opini manusia yang bisa saja salah. Dan opini berkembang karena waktu dan zaman. Jadi engga perlu diimani tapi cukup dipahami saja untuk memperkuat iman.


Nah atas dasar tiga hal tersebut  membaca menjadi hal yang mengasikan.  Saya tercerahkan. Dari pemahaman sederhana tentang definisi uang, saya bisa kuasi ilmu financial engineering. Dari definisi hukum permintaan penawaran, membuat saya mudah memahami makro ekonomi. Dari pengetahuan dasar sosiologi, saya bisa memahami ilmu politik dan rekayasa sosial. Dari pemahaman dasar agama, saya bisa cerdas belajar ilmu beragama.  Dari pemahaman ilmu filsafat, semua ilmu mudah saya cerna. Sedikitnya setiap minggu saya tamat membaca satu buku


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

How Democracies Die.

Saya membaca buku How Democracies Die. Itu saya baca tahun lalu. Buku itu biasa saja. Mengapa? Karena ditulis sebagai tesis atas fenomenan k...