Rabu, 09 November 2022

Ilusi uang




Everything you know about the Great Recession is wrong. It wasn’t caused by greedy bankers or by deregulation, not by a housing bubble, and not even by the Federal Reserve’s easy money policy, which wasn’t easy.  Itu yang tersirat pada buku Scott Sumner yang berjudul The Money Illusion: Market Monetarism, the Great Recession, and the Future of Monetary Policy.


Dia mengklaim bahwa sistem pasar aset ( saham dan obligasi ) yang ada sekarang sudah established dan efisien. So, crash pasar saham tidak menyebabkan resesi; gelembung perumahan di tahun 2000-an bukanlah gelembung perumahan. Wajar saja kalau Summer tidak punya teman banyak. Umumnya ekonom juga berpikir politis, dan selalu ada excuse terhadap setiap krisis. Dari tulisannya saya perhatikan bahwa dia penganut mahzab hukum demand and supply.


Tapi yang jelas dia bukan Keynesian yang berhaluan kiri secara eksklusif dengan fokus pada gov spending, atau seorang penganut supply uang yang condong ke kanan yang berfokus pada crowding out atau disinsentif pemerintah untuk bekerja. Tepatnya dia penganut Keynesian Baru dan hipotesis pasar yang efisien (Chicago School) dan secara pragmatis membangun teorinya dengan kedua komponen tersebut.


Skandal Lehman berdampak luas terjadinya krisis financial. Perbankan terseret gagal bayar utang. Negara juga terancam gagal bayar utang. Solusinya ? negara memompa uang berbungan murah ke pasar lewat kebjakan QE. Apa yang terjadi? pasar modal yang bubble. Uang mengalir ke sektor moneter lewat pasar uang dan modal. Justru paradox terhadap pertumbuhan itu sendiri. Mengapa ? pelonggaran moneter bukan solusi. Akar masalahnya ada pada imbalance economy, ketimpangan antar sektor real dan moneter. Jadi solusinya ? reformasi lembaga non bank dan perbankan.


Para ekonom sepakat bahwa untuk memerangi inflasi adalah dengan kenaikan suku bunga. Itu cara efektik menarik uang beredar agar tercapai keseimbangan baru. Faktanya apa yang terjadi dengan kebijakan itu ? Orang males investasi dan konsumsi karena suku bunga tinggi. Yang punya uang mending deposito aja. Yang mau utang bank, nanti saja. Paradox terhada pertumbuhan !Mengapa ? Penyebabnya adalah kegagalan mendistribusikan uang untuk terjadinya proses produksi dan jasa secara adil. Jadi solusinya adalah reformasi sektor produksi dan jasa agar lebih adil dan massive. 


Sebenarnya semua teori ekonomi baik yang klasik maupun modern, tidak ada yang salah. Sama halnya tidak ada agama yang salah. Lantas apanya yang salah? Ya salah adalah pelaksana teori itu. Dari perspektif saya pedagang sempak, Summer sebenarnya ingin mengatakan secara vulgar “ Uang itu ilusi. Yang fakta adalah produksi dan setelah itu berbagilah lewat sistem ekonomi dengan . semangat sinergi dan kolaborasi. Persepsi semacam itulah yang ingin disampaikan summer dalam bukunya.


Entah butuh beberapa dekade bagi ekonomi untuk belajar dari masa lalu, dari kehancuran pasar saham dan kegagalan bank,  merosotnya PDB akibat resesi. Bahwa akar malasah dari semua hal tentang ekonomi, rakus ! Solusinya berhentilah rakus.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

How Democracies Die.

Saya membaca buku How Democracies Die. Itu saya baca tahun lalu. Buku itu biasa saja. Mengapa? Karena ditulis sebagai tesis atas fenomenan k...