Minggu, 11 September 2022

Pemilu 2024

 




Saya pernah menulis  bahwa menjelang Pemilu ini terjadi perang yang sangat brutal antar elite politik. Disinyalir beberapa kasus seperti kasus Sambo ini meledak tidak dengan sendirinya. Ditangkapnya Surya Dhamadi, bukan sekedar kasus alih fungsi lahan dengan gugatan negara sebesar Rp. 70 triliun lebih. Bocor nya data intelijen dan infomrasi kelas A di puncak kekuasaan oleh hacker juga bukan sekedar hecker.   Pergantian  Ketua Umum PPP,  Suharso Monoarfa kepada Muhammad Mardiono, yang juga wantimpres.


“ Kisruh Politk itu terjadi karena PPP mencalonkan Sandi sebagai Capres. Ada kekuatan yang tidak inginkan itu.”  Kata teman. “ Elite tidak mau kasus Sambo melebar ke Satgasus yang dipimpin Sambo. Karena bisa jadi masalah politik terhadap kekuasaan. Focus aja ke pembunuhan. Kasus Surya itu dipaksakan soal kerugian negara. Karena kalau itu jadi bahan pertimbangan hakim memvonis maka itu akan jadi yurisprudensi. Akan banyak pengusaha yang kena pidana atas dasar kerugian negara. Akan banyak elite partai kena masalah. Kehilangan sumber income.” Lanju teman berprasangka


Dibalik kasus akan mengubah posisi dimana berdiri dan bagaimana menyerang.  Ada tiga kemungkinan


Pertama. Kasus Sambo dan Surya terkait dengan putaran uang besar dan sudah berlangsung lama dilakukan pembiaran. Dibalik kasus itu ada Partai yang secara tidak langsung ikut bermain. Dengan adanya kasus ini terjadi sumbatan pemasukan dan tentu akan juga mengurangi kekuatan capital untuk menghidupkan mesin partai. Ini berdampak juga terhadap strategi koalisi dan capres.


Kedua, kasus bocornya informasi BIN dan Presiden oleh hacker walau sudah dibantah oleh pihak terkait, namun ini sudah mengancam jantung kekuasaan. Maklum informasi ini akan jadi santapan media massa sebagai kekuatan keempat dalam sistem demokrasi. Kalau tidak ada kata kompromi diantara elite, pastilah akan bertambah ribut dengan informasi yang bisa memancing chaos politik. Tentu tidak ada satupun pihak inginkan ini.


Ketiga, ada pihak yang ingin menggucang negeri ini dengan memperbesar masalah BBM dan lainnya, sebenarnya pihak ini hanya show of force extra parlementer. Ya minta diajak bicara “ Ajak ajak kamilah membicarakan masalah bangsa ini. Dengar juga permintaan kami. Dengar juga aspirasi kami. Kalau engga ya rusuh dah.” Kira kira begitu.


Era SBY, setelah periode pertama, politik gaduh karena kasus Century gate, Hambalang, EKTP. Terus digoreng dan digiring ke ranah politik. Satu demi satu kader dan elitenya masuk bui. Tapi SBY melihat persoalan itu dengan jernih. Dia sadar tidak ada gunanya terus ribut. Dia sudah gagal. Ini sudah saatnya oposisi bangkit,. Ya dia melebarkan jalan bagi oposisi untuk memenangkan pertarungan politik. “ Silahkan berkuasa. Uruslah negeri ini. Saya mundur aja.” Ya sama seperti kejatuhan Pak Harto dan Gus Dur. Bisakah proses politik memungkinkan Jokowi soft landing…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Capres dari Jokowi?

  Suka tidak suka, Jokowi berusaha lead dalam proses suksesi presiden mendatang. Tentu bermaksud agar presiden berikutnya punya visi sama de...