Senin, 23 Mei 2022

Srilanka default.




Krisis ekonomi berdampak kepada krisis politik sedang melanda Srilanka. Negara pulau di Asia Selatan berpenduduk 22 juta. Itu dipicu oleh ditolaknya LC dari bank di Srinlanka untuk impor MIGAS. Bank international for settlement, mengharuskan semua bank di dunia tidak menerima LC dari Srilanka tanpa accepted dari bank correspondent sebagai penjamin pembayaran. Itu karena devisa bank central Srilanka kosong. Terjadilah antrian orang beli BBM tapi BBM tidak tersedia. Amuk massa tidak bisa dihindari. Yang disalahkan pemerintah.


Apa penyebabnya krisis sampai begitu parahnya? ya teori klasik aja. Pengeluaran besar tetapi pemasukan rendah. Itu dipaksakan terus lewat skema hutang. Ratio hutang terhadap PDB diatas 100%. Rasio penerimaan devisa atas angsuran hutang semakin tinggi dan akhirnya semua devisa yang diterima tahunan tidak cukup lagi bayar bunga dan cicilan. Ya dampaknya terpaksa surrender. Lempar handuk putih. Default tidak bisa dihindari.


Nah dalam dunia keuangan. Ketika negara default bayar utang. Maka itu dampaknya sistemik sekali. Yang pasti cross settlement antara bank central udah engga bisa. Sehingga praktis perdagangan international tidak bisa dilayani negara. LC engga laku. Mata uang Rupee ( LKR) engga laku lagi. Sementara di dalam negeri, inflasi menggila. Dalam situasi ekonomi ambruk, oposisi memprovokasi rakyat untuk menjatuhkan pemerintah.


Akibatnya proses negosiasi dengan IMF, negara kreditur seperti CHina dan India kandas. Padahal tadinya IMF sudah mau masuk memberikan bantuan. China sudah setuju merestruktur utang Srilanka lewat SWAP aset 50% dari hutang. 50% lagi engga usah bayar. China juga akan memberikan bantuan lunak agar Srilanka bisa memulihkan ekonominya. India akan memberikan pinjaman baru untuk refinancing utang lama Srilanka.


Akibat Chaos ini, ya semua negara donor dan lembaga multilateral, terpaksa  wait and see aja. Tunggu babak akhir dari drama politik di Srilanka. Kalau sampai presiden jatuh, maka harus ada pemilu lagi. Uruslah pemilu. Setelah selesai pemilu, mari bicara lagi soal penyelesaian utang. Tetapi presiden Srilanka sekarang didukung militer. Jadi engga mudah menjatuhkannya. Bangsa Srilanka butuh kearifan melihat masa kini dan masa depan. Mereka harus berdamai atas situasi dan para elite harus duduk bersama membahas masalah masa depan. Itu aja


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

How Democracies Die.

Saya membaca buku How Democracies Die. Itu saya baca tahun lalu. Buku itu biasa saja. Mengapa? Karena ditulis sebagai tesis atas fenomenan k...