Sabtu, 07 Mei 2022

Dosa itu apa ?

 




Sebenarnya dalam kisah para Nabi, ada pembalajaran tentang persepsi dosa dan hukum kausalitas, yang begitu saja di jungkir balikan Tuhan. Kalau pahami kisah ini, siapapun anda berdiri dengan lantang atas nama keadilan dan kebenaran. Pasti pada waktu bersamaan anda sedang mentertawakan diri anda sendiri di hadapan Tuhan.  Apa kisah itu? Kisah tetang Musa yang diminta Tuhan berguru kepada Khaidir. Maklum diantara para Nabi, Musa dikenal paling pintar dan berani menyuarakan kebenaran. Bayangin aja, Fir’aun aja dia lawan.


“ Pergilah temui Khaidir” Kata Tuhan kepada Musa. “ Belajarlah dengan dia, untuk tahu apakah kamu pantas berbangga diri dengan keimanan dan pengetahuan kamu” Kira kira begitu titah Tuhan.

Singkat cerita Musa bertemu dengan Khaidir “ Saya diminta Tuhan berguru dengan kamu. Apakah boleh ? Tanya Musa.


“ Boleh asalkan syaratnya kamu patuhi.”


“ Apa syaratnya?


“ Kamu engga boleh bertanya atau pertanyakan sikap dan perbuatan saya”


“ Siap” Kata Musa.


Konon katanya Musa berguru kepada Khaidir selama 5 tahun. Jadi engga sebentar. Cara belajarnya, tidak lewat kata kata. Tetapi lewat pergaulanan dan pengalaman. Satu waktu Musa dan Khaidir berencana menyeberang ke suatu tempat. Sebelum kapal berangkat. Khaidir lubangi perahu. Ya kapal itu masuk air. Batalah berangkat. “ Kenapa kamu lubangi perahu itu.? Gimana kita bisa berangkat ? kamu telah mengecewakan banyak orang yang berniat pergi. Ada apa sih kamu? Kata Musa kepada Khaidir kesal.


“ Kan sudah saya ingatkan. Engga boleh pertanyakan sikap saya? Kata khaidir. Musa ingat. Dia diam saja


Satu waktu Musa dan Khaidir masuk ke dalam kampung. Di kampung itu ada anak kecil sedang asik bermain. Khaidir lihat, tanpa banyak tanya. Anak kecil itu dibunuhhnya. “ Hei…. “ teriak Musa. “ Apa apaan sih kamu. Kenapa harus membunuh anak kecil tidak berdosa. Kamu tahu dosa menghilangkan nyawa manusia? Kata Musa.


“ Kan sudah ingatkan. Jangan pertanyakan sikap saya” Kata Khaidir. Musa terdiam.


Satu waktu, Musa dan Khaidir masuk sampailah ke perkampungan. Kehadiran mereka tidak diterima oleh penduduk kampung. Musa kesal “ Kita pegi ajalah dari kampung ini” Kata Musa.


“ Ya. tetapi sebelum kita pergi, Kita perbaiki dulu rumah itu” Kata Khaidir menunjuk rumah yang hampir rubuh. “ Aneh kamu ini. Sudah jelas mereka tidak menerima kehadiran kita. Kok kamu malah perbaiki rumah penduduk. Udahlah, kita pergi aja” Kata Musa.


“ Kan sudah aku ingatkan. Jangan pertanyakan sikap saya” Kata Khaidir. “ nah karena udah tiga kali kamu bertanya. Kamu tidak lulus jadi murid saya. Pergilah dari hadapan saya” Kata Khaidir.


“ Sebelum berpisah, “ Kata Musa’ Cobalah jelaskan mengapa tiga tindakan itu kamu lakukan.”


“ Mengapa ? tanya balik Khaidir.


“ Karena itu jelas tidak sesuai dengan ajaran Tuhan dan hukum alam.”


“ Baik saya jelaskan kepada kamu. “ Kata Khaidir. “ Pertama. Saya bolongi kapal itu, itu karena diseberang ada raja zalim yang siap membunuh mereka yang ada di kapal itu. Saya lubangi kapal itu agar mereka terhindar dari kekejaman raja itu. Kedua, saya bunuh anak kecil itu, karena kelak dewasa anak itu akan jadi anak durhaka kepada kedua orang tuanya. Lebih baik dia mati sebelum jadi sumber fitnah.  Ketiga, saya perbaiki rumah yang penduduknya tidak suka sama kita, karena itu rumah anak yatim, Menelantarkan anak yatim, akan menghilangkan berkah Tuhan kepada penduduk kampung.” Kata khaidir. Musa terhenyak.


“ Mengapa kamu tahu yang belum terjadi ? Tanya Musa.


“ Karena itulah ilmu yang Allah berikan kepadaku. Saya mengetahui masa depan “Kata Khaidir.


***

Apa yang kita bisa ambil hikmah dari kisah Musa tersebut ?


Pertama, ilmu manusia itu terbatas. Dia hanya bisa belajar dari masa lalu untuk hari ini agar di masa depan lebih baik. Yang jadi  masalah adalah masa lalu dalam bentuk literasi, definisi, hukum, dan lain sebagainya itu tidak apa adanya sesuai realita. Sudah berbaur dengan hipotesa, teori atau dalil, yang bisa saja bias. Nah apa jadinya atas dasar pengetahun semacam itu kita merasa pintar tahu segala galanya? kan bego amat. Makanya orang bijak, semakin tahu semakin merasa bodoh. Semakin banyak tahu itu akan membunuhmu. To much know will kill you.


Kedua. Jangan pernah remehkan orang yang punya mimpi. Walau terkesan tidak masuk akal. Apalagi dia lakukan itu dengan effort besar tanpa takut gagal. Usia 40 tahun saya merantau ke China. Pada usia itu saya belum sukses dalam arti sesungguhnya. Saya tahu semua orang terdekat saya meragukan saya dan mungkin anggap saya menggantang asap. Tetapi apa peduli saya. Toh gagal, luka dan terjatuh, saya sendiri rasakan, Di remehkan, biarlah. Impian saya tidak akan padam karena itu semua.


Sekali saya sampai di orbit impian saya. Itu melesat tanpa terbendung. Saya hanya butuh 5 tahun di China membalik logika yang katanya sukses bisnis harus punya modal, harus sarjana, harus punya koneksi politik atau apalah. Saya bisa patahkan semua itu. Saya dapatkan semua yang katanya tidak mungkin. That is nothing to Impossible. Itu juga jadi slogan Olimpiade Beijing 2008. Karena 30 tahun lalu, negara barat dan AS anggap tidak mungkin china jadi negara maju, tetapi faktanya membalik itu semua.


Mengapa ? orang yang punya dream dan effort, dia duduk bersama Tuhan. Hanya ada antara dia dan Tuhan saja. Makanya dia dobrak roadblock yang jadi standar orang berilmu. Orang anggap dia melangkah dalam kegelapan. Sebenarnya dia berjalan di tempat terang. Dia bisa melihat dibalik Tabir, Itulah sebabnya passion nya sangat besar, Berkali kali gagal dia tetap tangguh berdiri tanpa mengeluh. Dia menciptakan fenoma untuk jadi fenomenal karena mampu mentransformasi diri.


Orang yang udah sampai duduk bersama Tuhan saja, dia pasti rendah hati. Dia tidak perlu pengakuan orang banyak siapa dia. Hidupnya tidak lagi dibalut dengan indentitas dan aksesoris. Dia sudah jadi kapten atas jiwanya. Semua hal disikapinya biasa saja. Mudah mengakui kesalahannya dan tahu berterimakasih, serta tidak sungkan minta maaf atau memaafkan. Mengapa? karena dia udah punya persepsi sendiri tentang dirinya dan Tuhah. Saat itu dia engga butuh apa apa lagi. Dia sudah selesai dengan dirinya sendiri.


Ketiga. Orang yang sombong dengan pengetahuannya itu adalah kebodohan yang sangat terbelakang. Mengapa ? saat dia sombong , saat itu juga dia membakar pontesi dirinya. Dia akan cepat puas atas apa yang dia punya. Dia akan malas terus belajar. Padahal manusia itu harus terus belajar sampai ke liang kubur. Dengan belajar terus, dia tidak akan sombong. Semakin banyak dia belajar dia akan merasa terus bodoh. Bijaklah hidupnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Dosa itu apa ?

  Sebenarnya dalam kisah para Nabi, ada pembalajaran tentang persepsi dosa dan hukum kausalitas, yang begitu saja di jungkir balikan Tuhan. ...